
" Hiks...huhuhu...hiks..." Airmata Adelia sudah membanjiri wajahnya setelah hampir satu jam Zayin mengomelinya
Adelia meringkuk memeluk Heru dengan kedua tangannya yang gempal.
" Adel, dengar Aa gak?"
" I..ya..dengel. dalitadi cuara Aa tuh belisik."
" Kalau denger apa yang Aa omongin tadi, coba ulangi."
" Huhuhu...ayaaaahhh.... Aa Ayin galak." Rengeknya semakin meringsek ke ketek Heru.
" Gak ada ayah, ayahan. Jangan mulai menghindar." Zayin mengambil Adelia dari pangkuan hangat Heru dan mendudukkannya tegak di ruang kosong di samping Heru.
" Adel, Aa udah bilang tinggal anteng di rumah, kenapa kamu ke Jakarta?"
" Lumah Adel di Jakalta, A." jawab Adelia ngeyel.
Zayin memejam mata menahan gregetannya pada itik satu yang selalu punya jawaban atas setiap omelannya.
" Aa bilang apa sebelum pergi?"
Adelia diam menunduk, airmatanya masih terus mengaliri wajah bulatnya.
" Adelia Putriana Hermawan." Adelia terjengkit memeluk lengan ayahnya ketakutan mendengar suara tegas Zayin.
Zayin memang tidak meninggikan suaranya, bahkan terkesan lembut, namun tetap saja tatapannya yang menajam menyeramkan bagi Adelia yang terbuasa disuguhkan tatapan lembut dari pria tampan berkualitas premium tersebut.
Dipanggil dengan nama lengkapnya Adelia kini paham jika lelaki idamannya sangat marah padanya.
" Adel, tatap Aa." Suara tegasnya memaksa Adelia dengan takut-takut menatap Zayin.
" Ini terakhir Aa bertanya, gak pake ngeles, gak pake menghindar atau Aa gak mau ngomong lagi sama Adel, paham!" Adelia mengangguk pelan, ia saat ini sungguh sangat ingin kabur ke kamarnya, hal yang selalu dia lakukan jika Zayin memarahinya.
" Siapa yang nyuruh Adel ke Jakarta?"
Diam, Adelia bungkam seribu bahasa hanya matanya melirik ayah dan ibunya yang dia tahu tidak bisa menolongnya. Lagi airmatanya yang semula sudah berhenti mulai kembali menetes.
"Huhuhu....huaaaa....hiks...ma..maaf....i...ini keinginan Adel sendili...hiks.." Lirih adleia dibuat sedemikian menyedihkan mungkin
Zayin menghembuskan napas berlebihan." Kenapa? Aa udah bilang kan untuk diam di rumah jaga mama sama Dede bayi, kenapa Adel pengen ke Jakarta, itu nyusahin Aa, tahu?" Ungkapan bernada marah itu cukup membuat kedua orangtua Adelia merasa tidak nyaman melihat putrinya dimarahi.
Heru hendak memangku Adelia yang ketakutan menawarkan perlindungan, namun Adelia menolaknya, mata bulat itu menatap sendu Zayin.
" Iya, Adel memang nyusahin Aa telus, Adel juga gak mau, tapi Adel khawatilin Aa. Adel juga gak tahu kenapa ngehkawatilin Aa. Adel tahu cuma Adel yang punya pelasaan cama Aa, Adel cuka cama Aa kalena itu Adel cemas mikilin Aa. Adel tahu Aa gak cuka Adel, makanya Aa gak pelnah mikilin pelasaan Adel maunya malah-malah telus, cakit A, cakiiittt...banget tiap dimalahain Aa. Adel benci Aa..hiks..." Bentak Adelia sebelum turun dari sofa dan berlari dengan kaki pendeknya meninggalkan kamar mereka sambil membawa tangisannya.
Mereka bertiga syok dengan bentakan Adelia, Zayin menatap bergantian Eidelweis dan Heru yang menatapnya dalam diam, Zayin menunduk malu.
Kalau Adelia saja sakit hati karena dirinya sering merasa khawatir yang diungkapkan dengan kemarahan meski tidak dengan bentakan apalagi mereka berdua yang melahirkan dan menyayanginya.
" Maaf, aku gak bermaksud marahin Adel, tapi situasinya memang tidak baik untuk Adel." Ucap Zayin murung.
Eidelweis mengusap punggung Zayin sesaat." Kami yang minta maaf membuat kamu sering direcoki Adel, ini diawali kesalahan kakak yang selalu mengatakan kamu calon suaminya. Maaf, Kakak janji bakal masitiin Adel gak recokin kamu lagi." Ucap Eidelweis tercekat, dia sebenarnya sangat berat hati mengatakan demikian, baginya Zayin adalah pendamping yang diharapkan untuk Adelia meski usia mereka terpaut sangat jauh, dia tidak mempermasalahkan itu.
Zayin menggeleng lesu, ia meraup sejumput rambutnya untuk dijambak." Aku yang terlalu keras padanya, aku hanya tidak ingin ada hal yang menyakitinya, aku sayang dia,...sebagai adik, tentunya."
Eidelweis mengangguk dengan senyum kecut, si cukup kecewa dengan kata adik yang tersemat dalam ucapan Zayin, putrinya tertolak oleh orang yang maneyayanginya, dia tidak cukup yakin ada orang yang bisa tulus mencintainya dengan latar belakang kelahiran putrinya. sesuatu yang selalu dia sesali.
Heru yang memahami kekecewaan istrinya, menggenggam tangan sang istri dengan senyum meneduhkan.
" Kak..." Ucapan Zayin terpotong karena ponselnya berdering.
" Hallo, A." Jawab Zayin pada Mumtaz diujung saluran.
.....
" Ih, ****. Oke gue ke sana."
" Kakak, jangan keluar ruangan. om, tolong cari Adel pastikan dia tidak keluar dari basement. Maaf aku harus pergi ada situasi mendadak." Zayin berlari tanpa menunggu jawaban dari Heru meninggalkan bunker.
Di lantai dua, ketika pintu lift terbuka dia bertemu dengan Yuda yang bernapas ngos-ngosan.
" Darimana Lo?" tanya Zayin saat Yuda menekan tombol lantai lima.
" Sorry, gue tadi ada urusan sebentar." Jawab Yuda tidak enak hati.Dia tahu kekacauan ini kesalahannya.
Zayin yang terbiasa bekerja tim dengan zero mistake sebenarnya sangat kesal dengan kelalaian sepele ini, namun dia tahan dia harus menurunkan standar eksekusi ketika bekerja sama dengan mereka.
Meski mereka terlatih, tetap saja mereka sipil, Zayin sadar untuk tidak mengharapkan kedisplinan, ketangkasan, keuletan, dan ketegasan ala TNI pada mereka.m.
" Sorry. Gue akan tebus kesalahan gue."
" It's okay, udah terjadi."
Saat pintu lift sampai di lantai lima Zayin sudah bersiap-siap, wajahnya mengeras atas apa yang dia lihat.
******
Memang jangan pernah teledor dan menganggap sepele sesuatu adalah hal yang ditanamkan saat bertugas maka terjadilah kekacauan jika itu terjadi.
Karena kesalahan kecil pasukan pengawal lantai teratas yang berleha-leha saat sarapan tanpa koordinasi komunikasi antar anggota membuat Navarro akhirnya bisa bebas keluar tanpa sepengetahuan mereka yang menganggap bahwa Navarro tidak akan punya nyali keluar dari lantai tersebut.
Navarro tersenyum lebar saat pintu lift sampai di lantai lima, lantai yang selalu dicegah oleh Matunda dengan seribu alasan untuk dirinya berkunjung, tetapi justru itu yang membuat Navarro penasaran.
Dneg santai Navarro keluar dari lift, langkahnya berhenti saat menyadari banyaknya orang yang berjaga di depan pintu sebuah ruang kerja.
Navarro melanjutkan langkahnya," hallo, Budy."
Bima dan yang lain menoleh pada suara berat itu dan langsung memasang kuda-kuda saat mereka melihat siapa yang datang.
__ADS_1
" Siapa di dalam?" Tanya Navarro dengan arogan.
" No body." jawab Bima.
Navarro terkekeh menakutkan," ingin bermain-main dengan ku pemuda? Menyingkirkan atau kau habis."
" Never." Jawab Bima yakin, dia merutuki Jeno yang lama pergi ke kamar mandi.
" Well, sayang sekali kau harus mati sekarang."
Navarro melangkah maju, dan mereka langsung saling menyerang, mantan pasukan khusus tersebut bukanlah tandingan orang sipil meski terlatih, dia tahu mana titik yang harus diserang dan langsung melumpuhkan.
Terdengar jeritan kesakitan dari pihak RaHasiYa, saat Navarro dengan santai menekan ulu hati Bima." Siapa di dalam?"
" bvnvh saya." lirih Bima.
Karena mereka dilatih ala militer oleh komandan pasukan khusus, mereka hafal dengan gaya taktis Navarro, gerakan Navarro bisa mereka baca meski kewalahan dan akhirnya harus mengakui kehebatan sang mantan komandan pasukan khusus tersebut.
" Sekali lagi saya tanya baik-baik, siapa di dalam?"
" Maut mu. Cuih." Balas Bima diakhir meludahi Navarro.
Navarro menatap tajam Bima, kakinya terus menekan, hingga Uma meringis kesakitan.
Navarro mengaku salut akan kesetiaan pasukan RaHasiYa, ia mengangkat kepalany, matanya membaca papan nama di tembok" Ibnu Faris Mahmud, pemimpin RaHasiYa."
" Gotcha, akhirnya ku temukan kau bocah." Senyum smirk terlukis di sudut bibirnya.
Bima yang menyadari Navarro lengah, menonjok tulang keringnya lalu menjatuhkannya.
Alfred yang oleng sempat tersungkur namun gerakan cepatnya membuatnya Kemabli ada posisinya.
" Ku akui ku cukup bernyali, tapi itu keputusan bo-doh." ucapnya.
Sikap menantang dari Bima itu berhasil memancing Navarro, ia berpindah posisi kakinya, lantas menekan kuat beberapa rusuk Bima.
" Kyaaaaa...." Bima merasa napasnya sesak, dia tahu beberapa tukang rusuknya akan patah berkeping-keping jika Navarro terus menginjaknya.
Kretek,...kretek..
" Aaaaa....KH..." Teriak Bima tertahan karena dadanya yang ngilu dan sakit.
" Kau bukan tandingan ku, pemuda."
Navarro meninggalkan begitu aja Bima yang sedang sekarat berusaha mengambil napas.
Ia melangkah ke depan ke pintu ruang kerja itu, ia keluarkan ponsel dari jaketnya menyambungkannya ke alat mesin akses masuk, hatinya mulai panas karena ia tidak kunjung berhasil memasukan sandi yang tepat, dia tahu ada seseorang yang tengah melawannya untuk membuka sandi tersebut.
Ini terbukti dari kata sandi yang terus berubah-ubah setiap detik dia berhasil menemukan sandi tersebut.
BUGh...BUGh....
" Kau to-lol bertindak bo-doh di sini." Desis Zayin mence-kik laher Navarro untuk ditarik berdiri.
Yuda dan Jeno sudah berdiri di belakangnya, dengan raut datar.
" Well, well, well. Apakah TNI gegabah dengan mengirim mu di sini? Ku pastikan karir mu hancur setelah ini." Ucap tertahan Navarro melawan rasa sakit dilehernya yang tertusuk tangan Zayin.
" Soal itu, terlalu jauh untuk Lo." Zayin bagai membawa sekarang sampah saat menarik Navarro ke lift dengan tangan menekan kuat leher Navarro dibawah tatapan Jeno dan Yuda yang diam.
Kalau korbannya sipil, bisa jadi orang itu sudah meninggal, tetapi tidak untuk Navarro yang tahu bagai mana harus menahan napas panjang.
Brukh ..
Zayin melempar dia ke dinding lift, segera Navarro mengambil napas meski sakit.
" Jadi ini yang kalian sembunyikan dengan terus mengubah sandi lift, kau pasti terkejut bagaimana saya bisa kesini." Zayin diam, difase ini dia paham betul jika lawan sedang mengadu mental, siapa diantara mereka yang down.
Zayin bersedekap dada dengan berdiri bersandar pada dinding sambil memperhatikan Alfred dengan tatapan menyepelekan, Jang lupakan raut culas mencemooh darinya.
Navarro kesal, tapi menahan emosi bukan hal sulit baginya, makanya mimik wajahnya tidak kalah menyebalkan khas Eropa." Ternyata kehebatan RaHasiYa tidak sehebat yang digaungkan."
" Kemampuan pasukannya, tidak sekuat yang dibicarakan."
Kesal tidak ada respon, Navarro terus mengibarkan perang." Kau tidak bisa selamanya melindungi Ibnu. Saya akan menghabisinya tidak lama lagi."
Alih-alih merasa terusik akan perkataan itu, Zayin memberi senyum smirk meremehkan pada lawan." Apa kau tuli? sewaktu ku bilang kau to-lol. Ada di sini ini saja kau mengundang maut mu."
" Kau seorang mantan kopassus butuh setengah jam lebih untuk mengalahkan sipil, memalukan, bahkan tidak ada satupun dari mereka yang ma-ti, payah! kalau gue cukup lima menit semua mati." tutur Zayin.
Rahang Navarro bergemeletuk menegang, tatapannya menajam." Aku tahu siapa dia, dan kau tidak akan selamanya di sini."
" Tentu kau tahu siapa dia, dan seharusnya kau menjauh darinya."
" Never, setelah aku menemukan siapa yang ku cari."
" Dan hanya sampai itu yang akan kau dapatkan."
Ting...
Terjadi perlawan dari Navarro saat Zayin akan meraihnya, namun Zayin yang dalam kondisi bugar bukan hal yang bisa ditaklukkan Navarro, Zayin berhasil kembali mence-kiknya.
" Sebaiknya kau bvnvh aku, atau ku bvnvh dia." Desis Navarro tercekat.
" Kau sudah menjadi abu sedari lima hari yang lalu jika mengikuti keinginanku, tetapi takdirmu bukan ditanganku."
Zayin dengan aura dingin yang menyelimutinya menggeret Navarro dengan leher menggantung oleh tangannya, ia menekan sedikit keras, Navarro bagai terinjak beton beratz ia sulit bernapas.
Zayin mengabaikan kondisi lemah Navarro, ia mencopot earphone yang berisi titah Mumtaz untuk melepaskannya.
__ADS_1
Brugh...
Zayin sekali lagi dengan entengnya melempar keras tubuh Alfred melewati setengah ruangan luas itu hingga membentur dinding lalu merosot di bawahnya, ia terkapar.
Segera Matunda menghampirinya, ia memeriksanya secara seksama, Navarro harus dalam keadaan baik sampai waktunya tiba. itu keinginan tuannya.
Zayin terus berjalan mendekat, ia sedikit menekan tulang keringnya.
" Kyaaa...." Teriak Navarro.
" Tuan, ku mohon tahan. Anda tidak boleh melakukan ini." Matunda segera memeriksa kaki Alfred yang dilepas Zayin.
" Dari mana kau? Saya benci kelalaian."
Ucapan Zayin menohok anak RaHasiYa yang lalai dalam tugasnya, meski mereka lelah tidak seharusnya mereka meninggalkan tempat tugasnya.
Mereka terdiam memperhatikan dalam cemas akan gestur mengancam dari Zayin.
Di sisi lain setelah mengirim Bima dan para rekannya ke rumah sakit, Jeno memanggil Leo untuk segera ke lobby setelah mendapat telpon dari mumtaz bahwa dirinya dan rombongan sedang menuju ke gedung.
*****
Mumtaz mengumpat kasar yang mendapat perhatian penuh dari Dominiaz yang duduk bangku penumpang disampingnya, tidak biasa dia mendengarnya. Dominiaz tahu di situasi begini bisanya Mumtaz akan lebih tenang, tapi kini calon adik iparnya itu terus menggerutu.
" Fa, panggil seluruh keluarga Gurman untuk hadir di RaHasiYa." Pinta Mumtaz sambil mengutak-atik ponselnya.
" Lo serius dengan ini?" Alfaska sendiri bingung akan ide Mumtaz yang ingin mengundang Gurman-Gonzalez saat mengeksekusi Navarro.
" Definitely, gue sama mereka kedepannya bakal kerjasama, mau ngasih tahu aja sih apa konsekuensi kalau mengkhianati gue."
" Muy, mereka mungkin mafia, tapi kita tahu kalau mereka tidak akan mengkhianati koleganya." Timpal Daniel dengan matanya fokus pada jalanan dibalik kemudi.
" Fa, please. Lo gak mau gue ngambek lagi kan." Ujar Mumtaz menyeringai smirk.
" Iye...iye...gak ngerti gue punya kakak ipar demen banget berurusan dengan para penjahat." dumel Alfaska.
Saat mobil yang mereka tumpangi memasuki area gedung, banyak orang asing di sana mengelilingi pelataran namun Jeno, Leo beserta anak buahnya pun tak kalah sigap.
Mereka langsung memasang pagar manusia kala Mumtaz dan yang lain turun dari mobil.
" Sorry, gue lalai." Tutur Jeno menyesal saat Mumtaz di depannya.
" It's okay Gak apa-apa. sorry gue yang bebanin kalian." Balas Mumtaz.
Inilah yang selalu membuat mereka merasa bersalah, dua saudara yang terkenal perfeksionis dalam pekerjaannya tidak pernah marah jika rekannya melakukan kesalahan padahal bisa berakibat fatal.
" Kalian bisa menangani mereka?" Dagu Mumtaz mengarah pada pria bercodet di pelipisnya yang berambut cut tidak jauh dari belakang Leo.
" Pasti, dan tidak akan ada kesalahan lagi." Jawab Jeno.
" Kalau begitu gue serahin mereka sama Lo." Mumtaz meneruskan langkahnya
Saat Alfaska lewat, dia berhenti di depan Leo, matanya mengarah pada pria bercodet, ia menyeringai menyebalkan." Kesel kan Lo gak bisa ngapa-ngapain." Ledeknya begitu dia berdiri di depan pria berambut cut.
" Fa..." Panggil Daniel menarik Alfaska sebelum orang satu itu membuat keributan.
" Niel biar gue..."
" Nanti setelah urusan Navarro selesai, terserah Lo mau apain dia."
" Lo masih tahan?, Dia yang ngebius Ita, ooh,...gue lupa Lo udah gak peduli sama dia, Lo kan udah punya si minyak goreng."
Brakh...
Mumtaz mendorong pintu besi besar itu
" Stop Ahmad Muzayyin Hasan, diam di tempat." suaranya menggelegar memenuhi ruangan mengagetkan semuanya yang mendengar.
Zayin, matunda dan Navarro menoleh ke arah pintu dimana Mumtaz berdiri tegak dneg posternya yang tinggi meski tubuhnya tidak sekekar Zayin, namun proporsional.
Bibir Navarro melebar senang," hallo, Ibnu. Akhirnya kau keluar dari sangkar mu." Ujarnya mengintimidasi.
Semua orang yang mendengar termasuk para tetua, senior, keluarga Gurman-Gonzalez, anak RaHasiYa, dan para sahabatnya yang berkumpul di ruang monitor lantai sembilan terheran mendengarnya saling mengernyit dan melempar tatapan.
" Ibnu?" Seru mereka berbarengan karena bingung.
Daniel dan Alfaska saling lihat, " oooh, ****.." mereka berdua lari kencang ke arah lift.
Untuk kesekian kalinya mereka merutuki diri sendiri dan menyebut diri mereka bo-doh, seharusnya mereka tidak menuruti paksaan Mumtaz yang mendesak mereka untuk turut berkumpul di ruang monitor.
" Kenapa dia begitu to-lol selalu menjadikan dirinya target?" Umpat Alfaska dengan raut cemas.
Begitu tiba di depan pintu lantai teratas Daniel segera menekan sandi, namun gagal.
" Damn, dia mengubah sandi masuk."
Alfaska mendorong Daniel, dia yang kini menekan sandi pintu, namun tetap gagal.
" Kalian sedang apa?" Tanya suara berat yang udah lama tidak mereka dengar.
Daniel dan Alfaska berbalik badan, dan mereka terperangah saat mendapati orang yang berdiri di depan lift bersama Rio di belakanganya.
" Mumuy, mana?"
Saat netra hitam itu tidak mendapati sahabatnya, gesturnya menegang cepat,
" Mumuy, mana?" Bentaknya.
Daniel dan Alfaska enggan membuka mulut," MANA MUMTAZ, ALFASKA?" bentakan itu begitu kuat hingga beberapa anak buah Daniel yang lewat terjengkit...
__ADS_1