Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
241


__ADS_3

Zayin berjalan bolak balik di depan ruang operasi yang dipimpin Zahra yang tadi langsung mengambil alih tubuh mungil Adelia yang bersimbah darah.


Adelia dibawa ke ruang darurat sebelum operasi untuk diperiksa intensif, tidak lama dirinya segera dialirkan ke ruang operasi untuk segera diambil tindakan setelah beberapa alat vitalnya tidak berfungsi baik dia ditangani oleh beberapa ahli yang langsung ditelpon oleh Hito sebelum memberitahukan pada Eidelweis tentang putri cantiknya.


Tak..tak..tak..


langkah kaki dari beberapa orang mengalihkan kecemasan Zayin, ia menoleh mendapati Eidelweis yang berjalan terburu-buru dalam dekapan Heru yang terlihat kusut.


" Ayin, katakan dia baik-baik saja." lirih Eidelweis dengan airmata berderai sambil mengulurkan tangan pada Zayin.


Zayin terdiam sejenak memandangi wajah nelangsa Eidelweis." maaf, maafkan Ayin yang gagal melindunginya." hanya itu kalimat. yang mampu Zayin ucapkan.


" Maaf,..maafkan Ayin, ku mohon maafkan aku....huhuhu...hiks....Zayin menumbuk-numbhk dadanya yang terasa sesak.


" Kakak bisa membvnvhku jika itu bisa membayar kesalahanku."


" Husssh,...jangan bicara sembarangan. kita lebih baik berdo'a daripada menyalahkan diri." hibur Aznan menepuk punggungnya.


" Tapi dia ada di dalam sana karena aku, untuk melindungi ku. seharusnya aku yang melindunginya....huaaaaa..." pekik Zayin sampai berlutut merintih kesakitan dari dasar hatinya.


Adgar membawanya kedalam pelukannya, " sepupu gue kuat. pasti dia bisa selamat, dia tidak akan menyerah sampai cita-citanya tercapai, yaitu menjadi istri Lo, Lo yang harus kuat saat dia tersadar nanti." ucap Adgar memeluknya erat.


Ini kali pertama mereka melihat Zayin yang begitu merana, bahkan disaat mamanya tertembak dan meninggal dia hanya marah dalam ketenangan namun dalam waktu singkat kembali baik.


" Maafkan aku. ini terlalu menyakitkan untukku, aku belum siap berpisah darinya, kak." lirih Zayin, Adgar hanya mengangguk.


Terus terang baginya kejadian ini pun sangat mengagetkan tidak ada yang menyangka ini akan terjadi.




" Menurutmu? Kau tentara, bukankah tentara tahu semuanya melebihi sipil? kau selalu merasa tentara lebih hebat dari sipil?. " Sarkas Mumtaz jengah.



" Kau berani bermain-main dengan ku?"



" Tidak, tapi kau harus membuktikan bahwa militer lebih baik dari sipil sesuai omong besar mu itu."



Bilah layar yang menampilkan video empat bocah versi Navarro muncul di layar, kini dua video yang menampilkan empat bocil itu muncul bersamaan saling bersisian dengan berbeda kondisi dan situasi.



 Mata Navarro membelalak lebar lalu umpatan dan cacian kasar terlontar kasar dari mulut navarro saat wajah para bocil itu mengelupas yang menampilkan wajah lelaki berpostur kurus dan dekil dari anak buahnya yang ditangkap TNI yang berwajah khas negara tetangga, pun dengan Matunda. itu kedok.



" Ba..bagaimana bisa....kau....kalian...." Maniknya bergoyang tidak pasti melihat ke antara mereka berempat.



" *Prank*..." Sahut Alfaska terkesan memberi kejutan.



" Bagaimana rasanya dipecundangi dua kali?" Tanya Daniel.



" Berani...beraninya kalian..."



" Beranilah...masa enggak.cuma si tua Bangka stres macam Lo gitu doang lmah ..gampil...kerenkan hasil karya gue." Ejek Alfaska.



" Gue sebut face off, ini best seller untuk penyamaran. Memang sedikit ngeropotin anak buah gue sih mengingat banyaknya muka yang harus kita bikin. Tapi ya..mau gimana lagi, demi Lo kita rela direpotin." Sindir Alfaska mencemooh.



" Sok sokan mau mendirikan negara perkara gini aja Lo kagak bisa membedakan mana muka yang asli mana yang *fake*. Makan tuh mimpi gi-la lo." Alfaska semakin jadi mengejek Navarro, baginya Navarro hanya bocah yang terperangkap di tubuh tua.



" KALIAAANNNN...."



" *Stop*, Alfred. Jangan marah-marah nanti cepat tua." potong Alfaska.



" Dia udah keriputan, Fa. *Please*... ups, dia kan gak punya kulit." timpal Daniel turut meledek.



" Sudah saya katakan, bertahun-tahun saya mengamatimu tak ada jalan keluar untuk mu, Navarro." Ucap Mumtaz.



" Kalian tidak bisa melakukan ini padaku."



" Kami sudah melakukannya." Sahut Daniel.



" Kalian akan menyesal."


__ADS_1


" Kau yang akan menyesal pernah mengenal kami." tutur Ibnu.



" Ini negeri kami, tanah air kami, ibu Pertiwi kami. Tidak sejengkal pun kami biarkan kau menguasainya." Kini Alfaska berucap tegas nan serius dengan mata menajam.



Aura kepemimpinan dari pria yang sering terlihat culas dan kekanakan sudah tidak ada lagi yang tampak hanya Alfaska pemimpin RaHasiYa.



Seiring perubahan gestur Alfaska suhu ruangan meningkat yang membuat semuanya was-was, pasalnya jika Alfaska marah semuanya menjadi tidak terkendali.



Navarro berdiri di atas kakinya yang cedera, dengan satu tangan memegangi bagian paha belakanganya." Tetapi kalian sudah terlambat, tepat setelah aku membvnvh ayahmu, Ibnu. Sejak saat itu aku memasok senjata canggih untuk pemberontak dan ku latih mereka menjadi pasukan yang tangguh, kini mereka mungkin sudah menyusup ke Jakarta."



" Maksudmu yang ini?" Mumtaz menunjuk Layar menampilkan beberapa orang khas Indonesia timur dalam tahanan markas Brimob.



Alfred tertegun, wajahnya menyiratkan sejuta pertanyaan.



" Heuh, Fred, kesalahan terbesarmu adalah bekerjasama dengan Guadalupe. Alfaska menaruh chip padanya yang mengungkap semua rencana mu, bahkan untuk menangkap mereka tidak memerlukan pasukan elit hanya kesatuan kepolisian."



Wajah Navarro semakin tidak menerima kenyataan ini semua terlihat dari rautnya yang mengeruh.



" Tidak ada lagi orang Indonesia yang bisa kau pecundangi, setelah Mateo dan Matunda tidak lagi bersamamu, kau sendirian, Navarro."



Navarro menyeringai tipis menanggapi ucapan Mumtaz." Tidak, aku tidak sendiri. Kakak mu yang tercinta yang sekarang sedang berada ditengah lautan dalam pengiriman ke Eropa bersamaku."



" Ck,ck...apa Matunda tidak melaporkan padamu jika kak Ala sudah aktif kembali sebagai dokter." Ungkap Daniel melirik Matunda yang berdiri santai.



" Apa?" Lagi, Navarro melihat pada menoleh pada Matunda dengan bertanya.



" Maaf, tuan. Saya belum menerima laporan apapun dari lapangan."




" Kau bohong, merek bukan orang yang mudah dilumpuhkan, mereka orang terlatih."



" tidak lebih terlatih dari anak RaHasiYa, ditambah Zayin, sand dik bungsu turun langsung memba-bat habis anak buah Lo. kita mah nyantai, slebewww.." culas Alfa diakhir kalimat.



" Alfred, kisahmu mungkin akan berubah tidak seperti ini jika kau tidak membvnvh bapak. Bukankah saat itu bapak bersedia membantumu kalau kau membebaskan kami? Tapi keserakahan mu yang menjatuhkan mu dan membawa mu dalam kondisi saat ini." Tutur Mumtaz sendu.



" Kau jadikan saudaraku yatim piatu, hidup dengan cemoohan sebagai anak koruptor hasil dari manipulasi ketua dan Andre, selain menghancurkan hidupmu apalagi yang bis aku lakukan karena itu yang kau lakukan pada saudaraku."



Ibnu menatap khidmat Mumtaz yang terlihat biasa saja tanpa guratan lelah atau jemu, yang terlihat adlah Mumtaz yang segar yang siap melakukan apapun, entah apapun itu.



Ibnu sesungguhnya benar-benar tidak memahami apapun yang terjadi, yang dia tahu saat ini adlah dia harus membalaskan kematian kedua orang tuanya kepada Navarro sebagian pelaku utamanya.



Dreng...



Di Ding kaca sebelah kiri yang bisa dijadikan layar menampilkan sosok ketua,  Andre, dan mulyadi beserta istri yang duduk terikat dalam kubangan cairan keruh dengan penampilan yang menjijikan karena banyaknya luka infeksi yang bernanah di tubuh mereka yang tidak mendapat pengobatan lanjutan selepas keluar dari rumah sakit.



Dreng....



Di sisi lain muncul Guadalupe dalam pembaringannya ditengah sakaratul mautnya bersama Bram brotosejo yang masih menunggu ajalnya ditengah jilatan Labrador yang terikat di atas lukanya yang tersebar di sekujur tubuhnya, seluruh jari tangan dan kakinya sudah lenyap diganti tetesan darah yang jatuh ke lantai.



Dreng...



Tepat dinding kaca di depannya menampilkan keadaan Rudi Aloya dan Victor Rafael dengan badan yang masih terkubur, bernapas dibantu alat oksigen dan wajah yang cekung terdiri dari tulang dan kulit, sangat menyedihkan tidak ada lagi aura penguasa dunia hiburan terbesar di negeri ini.



Kini tubuh Alfred benar-benar mematung, matanya meliar mengamati satu persatu kondisi para relasi dan kolega dalam mensukseskan mimpinya.

__ADS_1



Suasana hening mencekam, mata Mumtaz tidak melepas dari perubahan raut wajah Navarro yang silih berganti dari terkejut, sendu, muram, selanjutnya matanya menatap Mumtaz yan kini berada dalam puncak kemarahannya namun ditanggapi santai tanpa ketakutan sedikitpun oleh Mumtaz.



" Kenapa kau sampai sejauh ini, yang ku bvnvh bukan orang tuamu, putranya saja diam menyerah bak pecundang, kenapa kau mesti repot membalas dendam." Matanya melirik meremehkan Ibnu.



Ibnu diam tertohok dengan ucapan itu, sementara dalam saku celananya tangan Mumtaz mengepal kuat meski mimik yang ditampilkan masih tenang dan santai.



" Kenapa kau merusak semua rencanakku? Apa gunanya untukmu?" Bentak Navarro frustasi, ia mencoba memprovokasi bathin diantara keduanya agar terpecah sehingga kekuatan keduanya melemah.



" Kau, yang di tanah Eropa adalah seseorang yang hebat ternyata tidak lebih dari sekedar kacung bagi pecundang itu, menjijikan, rendahan!" Navarro bahkan sampai meludah melampiaskan penhinaannya.



Alfaska dan yang lain yang mendengar kata-kata kasar itu geram bukan main andai Daniel tidak menahan tangannya Alfaska pastikan si tua Bangka itu sudah remuk di tangannya.



" Sudah? Hina saja diriku sepuas mu, itu tidak mengembalikan keadaan menguntungkan untuk mu, seluruh keluargamu sudah habis di tanganku. Penghinaanmu tidak mengurangi kehebatanku bagi mereka maka kita anggap itu hanya gonggongan anjing liar semata yang tidak perlu ku tanggapi." Balas Mumtaz tenang tanpa emosi.



" Ibnu Faris Mahmud, dia tidak perlu repot-repot melakukan apapun untuk membalas kematian kedua orang tuanya karena itu kewajiban ku sebagai kakaknya, yang dia lakukan hanya menghabisimu, *that's it*."



" Dia tidak akan bisa melakukannya, karena dia hanya seorang pecundang."



Mumtaz terkekeh geli mendengarnya, " kau belum tahu wajah aslinya, akan ku tampilan sedikit apa yang bisa dia lakukan, Alfred."



Dreng...



Tampaklah wajah Maura yang menyedihkan terbaring lemah di atas kasur berukuran king size tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya.



Kedua telinga dan mulutnya berbalut perban karena belum sembuh dari insiden yang lalu.



Bara dan seluruh orang di lantai sembilan terhenyak, memang setelah operasi di rumah sakit, keberadaan Maura tidak lagi diketahui oleh Bara, bakan prof. Farhan hanya memberitahu bahwa Maura sudah berada di bawah tanggung jawab RaHasiYa.



Dan setelah mendapat keterangan itu bara memilih diam,berhenti untuk peduli. dia tidak mau mempertaruhkan kehilangan masa depannya dengan Cassandra dan persahabatannya hanya untuk mantannya yang menyusahkan.



" Dia,. adalah wanita terdekat bara Atma Madina, dan itu tidak menghalangi Ibnu untuk menghancurkannya. wanita yang terungkap berkerjasama dengan pada akhirnya berakhir di tengah-tengah pemuas nafsu tanpa memperdulikan kesehatan wanita itu, dan dia berada di bawah kekuasaan Ibnu."



Berita terbaru ini mengusik Navarro, ia melirik lelaki pendiam yang terkesan tenang dan baik hati.



" Jadi, dia lebih dari mampu untuk menghabisimu, Alfred." tukas Mumtaz.



" Ternyata kau biang keladi dari semua kekacauan ini, tanpa kau mereka bukan apa-apa, heuh!? Aku hanya perlu membasmi mu saja.x



Alfred mengeluarkan pistol dari balik pahanya, ia mengarahkan pada Mumtaz lalu mengokangnya siap menem-bak.



Alfaska, Daniel dan Ibnu langsung bergerak mendekati Mumtaz, namun saat di tengah pergerakan mereka, pistol itu berubah arah pada Ibnu dan langsung menembakinya.



Dor...dor..dor....dor....



Matunda berlari gesit menendang dan membuang pistol itu namun terlambat, empat pelu-ru mengarah ke atas tengah, dua kali ke tengah dan satu kali ke bawah.



" Kyaaaaaa....." Semuanya terhenyak di tempat membeku mematung saking syok-nya kejadiannya begitu cepat hingga mereka tidak sempat membaca gerakan itu.



Netra mereka membesar saat tubuh tinggi semampai itu perlahan-lahan jatuh dan membentur lantai, sesaat kemudian darah merah segar segera bersimbah di sekeliling tubuh yang terbaring tidak berdaya itu.



" MUMTAAAZZZZ...."



Teriak penghuni lantai sembilan dan para sahabatnya serempak....

__ADS_1


__ADS_2