Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 21 berakhir sebelum memulai


__ADS_3

sekolah SMA sedang liburan semester ganjil, Maka tak heran pukul 06.:30 WIB keluarga mama Aida masih bersantai depan tv.


selepas sarapan keluarga mama Aida menonton tv yang ternyata sedang menayangkan berita selebritis.


diberitakan bahwa tuan muda Hartadraja sedang menjalin asmara dengan seorang pelayan cafe' D'lima yang berinisial 'Z'.


meski di tv wajah perempuan di blur, tetapi tentu keluarga tahu siap perempuan itu.


semuanya memandang kak Zahra. orang dipandangi menggeleng lemah


di tv menampilkan adegan saat kak Zahra mengaku sebagai kekasih om Hito.


" itu tidak seperti yang kalian pikirkan." lirih kak Zahra.


" kak Ala pacaran sama Hito Hartadraja?" tanya mama Aida


membuang nafas berat kak Ala menggeleng kepala lemah lagi.


" seharusnya aku tahu bakal begini. ceroboh sekali aku." bathin kak Ala.


" ma. hari ini Aa belum bisa bantu mama anter barang di butik ya. Aa ada meeting sama Hartadraja corp." ujar Mumtaz beranjak dan pergi ke arah kamar


tatapan menilai Mumtaz tidak lepas dari kak Zahra. " kak, ke kampus bareng Aa." kata Mumtaz yang diangguki oleh kak Zahra.


*****


di kampus Atma Madina


berjalan dari gerbang kampus sampai depan gedung fakultas hampir semua pandangan mahasiswa kampus mengarah padanya.


di kampus nama Zahra memang banyak di kenal mahasiswa lainnya karena mereka sering nongkrong di cafe' d'lima tetapi juga karena prestasi akademisnya khusus mahasiswa fakultas kedokteran.


membuang nafas lelah di pagi hari sungguh kalau bukan karena janji dengan profesornya Zahra malas datang ke kampus. toh dia tidak ada mata kuliah pagi.


" hai, Zahra," panggil seseorang dibelakangnya membuat Zahra berhenti melangkah dan menoleh. ternyata sahabatnya Zivara yang memanggilnya.


" ape?" Zahra sedang dalam bad mood on


" santai tu muka. masih pagi juga. tadi dicari prof Farhan."


" iya ini juga mau ke ruangan beliau."


" ada apa emang?"


menaikan sejenak bahunya " au. maybe beliau udah sadar pesona gw, jadi mau nembak gw." jawab asal Zahra.


tuk...


pukulan kecil dikepalanya dari arah belakangnya. Zahra menoleh siapa yang berani memukulnya


" masih aja ngasal kalo lagi males jawab pertanyaan orang." ucap seorang pria tampan dan gagah di usianya yang ke 40 tahun.


memandang dengan pandangan memuja " prof, makin hari damage prof makin cetar."


" otak Einstein, body model majalah dewasa, wajah satu kaum sama nabi Yusuf, status single. most wanted kampus andai kata ada, cuma remehan biskuit layu didepan prof." gombal Zahra sepeti biasa jika bertemu profesor idamannya itu.


prof. Farhan yang terbiasa mendapat gombalan remeh dari mahasiswi trio " Z ( Zahra, Zivara, Zahira ) hanya bisa terkekeh.


" haish kamu itu. ayo ikut saya ke mall. kita bicara di mall." ajak prof. Farhan melangkah menuju parkiran mobil.


" hah. serius kita ke mall prof?" yang diangguki profesor


" buat nembak saya?" prof bergeming tidak meladeni lanjut ke absurd an mahasiswinya itu.


" berdua aja kita prof?"


" ajak Zivara juga."


menghela nafas keberatan " heh. alamat hilang halu saya kalo begini." lagi, prof Farhan hanya terkekeh.


" naik mobil saya aja semuanya. saya juga bakal balik kampus lagi entar." prof. Farhan membuka pintu kemudi mobil.


" siap. "


" oke Bosque." jawab serempak Zahra dan Zivara.


*****


mall Grand Green


meski bukan weekend mall yang dikenal langganan masyarakat konglomerat ini ramai pengunjung.dalam mall ini berjejeran etalase dari brand-brand ternama dunia yang pasti harganya bagi kaum Zahra membuat asma kumat.


duduk di sebuah resto mewah Zivara, Zahra sudah 15 menit membolak-balik buku menu, tapi belum ada yang dipesan satu pun. belum ada harga yang cocok dikantong.


" mau pesan apa? kalian dari tadi liatin doang. gak mesen-mesen" prof Farhan berucap sembari sibuk memainkan ponselnya.


" harganya membunuh jiwa pak. bapak kalo ngajak disesuaikan kantong kita dong pak." rungut Zahra tak jaga image


" saya teraktir kalian."


" bilang dong dari tadi.kan enak harga diri kita ya gak Ziv." Zivara hanya mengangguk dan langsung memesan.


mendengar pesanan mereka prof Farhan geleng kepala. mereka sungguh cerdas memanfaatkan situasi. mereka memesan makanan yang terbilang mahal harganya.


" terimakasih pak. semoga Allah menambah rezeki bapak." ucap tulus mereka.


" diaminin aja sama saya." profesor meletak ponselnya diatas meja


" saya bawa kalian kesini ingin minta bantuan kalian dalam penelitian saya."


" Zahra selama ini kamu selalu tertarik masalah organ dalam manusia. saya harap kamu ambil bagian di penelitian ini."


" iya sih pak. tapi bentar lagi saya koas pak. saya lagi fokus sama target saya pak."


" emang skripsi kamu udah kelar?"


" saya tinggal nunggu sidang pak. saya pengen fokus ke koas pak. kejar target."


" buru-buru banget. usia kamu masih muda, 22 tahun kan!"


" 21. pengen cepat jadi dokter. terus lanjut ambil spesialis."


" ooh begitu. kalau kamu gak bisa gabung full, gabung part juga gak jadi masalah. toh udah ada Ziva dan Hira didalamnya saya butuh analisa kalian bertiga."


" pak. penelitian bapak kan selevel spesialis, masa ajak kita yang S1 aja belum kelar."


" hihshh jangan merendah. usia kalian masih terlalu muda untuk duduk di semester akhir. dan saya juga tahu kalian ngajarin les senior kalian." jelasnya sembari menatap mereka berdua.


" maaf pak saya permisi sebentar." ucap Ziva berdiri


" mau kemana kamu. mau menghindar dari obrolan ini." sarkas prof Farhan


" kagak pak. makanannya juga belum ada. iya masa saya menghindar. saya mau ke toilet, kebelet."


" beneran?" ragu prof Farhan


" sumpah pak. saya sama Hira oke aja. apa sih yang gak buat bapak. kita bertiga bucinnya bapak."


" itu Zahra gak bucin." dagunya bergerak menunjuk Zahra.


" alah dia mah sok jual mahal. aslinya diskon plus pak. saya ke toilet dulu." Ziva bergegas berangkat lari celingak-celinguk bingung mencari toilet.


prof. Farhan terkekeh melihat kebingungan Zivara.


" kalian emang gitu ya. gak Jaim gitu?"


mengedikan bahu " gak guna jaim kalo masalah toilet." jawab enteng Zahra


" iya sih. tapi tu toilet disamping resto ini ada." tunjuk prof Farhan ke arah penunjuk toilet.


Zahra yang melihat tanda itu hanya menepuk jidatnya saja.


Zivara belum juga kembali dari toilet sedangkan pesanan sudah datang. tak mau repot-repot menunggu Ziva, Zahra dan prof Farhan memakan langsung pesanan mereka


tring...


notifikasi masuk ke ponsel Zahra yang langsung dibuka oleh Zahra.


ternyata Ziva mengirimkan photo ke ponselnya. Zahra membulatkan mata lebar melihat photo yang dikirim Ziva. raut wajahnya seketika berubah datar.


photo yang dikirim Ziva adalah photo om Hito yang sedang bergandeng tangan dengan Sivia. dengan posisi tubuh sangat dekat bahkan jika tidak di teliti mereka seakan menempel satu sama lain.


tring...pesan masuk


" **ini gw ambil pas mereka masuk ke toko tas brand "C". mereka mesra banget gw juga punya videonya."


" kalo makanannya Dateng. jatah gw jangan Lo embat. gw lagi ngikutin mereka**"


melihat perubahan raut Zahra prof Farhan khawatir.


" kenapa? ada apa Zahra, semua baik-baik saja?" tanya cemas prof Farhan.


terkaget dengan pertanyaan prof Farhan Zahra menggeleng " maaf prof. gak ada apa-apa hanya pesan dari Ziva jangan menghabisi makanannya."


" oh iya prof kalau dari yang saya baca di modul ini penelitian prof kayanya memakan dana banyak."


" saya udah ngajuin proposal ke pihak kampus dan mereka meng ACC nya."


" serius? kayaknya bapak prosesor kesayangan mereka deh. ini butuh dana besar loh."

__ADS_1


prof Farhan terkekeh mendengar itu " jadi kalau kamu bersedia gabung saya bantu kamu koas di rumah sakit Atma Madina."


dengan semangat 45 dan tersenyum lima jari Zahra mencondongkan kepalanya" cius? oke deh kalau begitu. seperti yang Ziva bilang, apa sih yang enggak buat bapak. kita mah bucinnya bapak." Zahra terkekeh atas gombalannya sendiri


tring....


Zahra membaca pesan masuk dari Ziva.


" **mereka ke arah Lo."


" liat ke arah jam 2** "


sesuai instruksi Ziva, Zahra melihat ke depan. dilihatnya dua orang layaknya sepasang kekasih saling memberi tawa kebahagiaan satu sama lain.


melipat tangan menahan pedih, rasa dikhianati hadir dalam hati Zahra.


" jam satu nanti saya akan ketemuan dengan salah satu donatur penting bagi penelitian ini. saya harap kamu ikut hadir disana. gimana Zahra kamu bisa hadir kan.?" pinta prof Farhan


" Zahra, ....Zahra...kamu kenapa?" prof mengetuk-ngetuk meja bagian depan Zahra. melihat Zahra tak fokus pada pembicaraannya.


Zahra terlonjak kaget." iya pak. apa?"


" ada apa? ada yang mengganggu pikiran kamu?"


" gak apa-apa. tadi bapak bilang apa?"


" saya minta kamu ikut hadir ketemuan sama donatur penelitian ini jam satu nanti. bisa?"


" bisa pak. tapi gak bisa lama. saya harus kerja di cafe' "


" iya gak apa-apa. terimakasih mau gabung."


" kembali kasih bapak." ucap Zahra genit


" maaf saya baru selesai pak." ucap Ziva mengambil tempat duduk.


" lama sekali anda di toilet. sepertinya anda berncana mempersilahkan saya berkencan berdua dengan Zahra, Ziva." canda prof. Farhan.


menggeleng " oohh tentu tidak bapak. saya dan Zahra bersaing secara sehat dan ketat mendapatkan hati bapak. saya tidak mungkin membiarkan Zahra mendapatkan bapak dengan mudah. NO WAY." seru Ziva dengan telunjuk tangan di goyang ke kiri dan ke kanan.


prof. Farhan terkekeh mendengarnya. " terus kenapa kamu lama?"


" perhatian saya teralihkan." Ziva berbicara sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.


" sama pria lebih keren daripada saya?"


" emang ada pria lebih keren dari prof idaman kita ini Ra?" tanya Ziva menoleh ke Zahra menyodorkan hpnya ke arah Zahra.


" gak ada. prof terkeren." balas Zahra dengan mengangkat dua jempolnya


prof Farhan tertawa menepuk jidatnya pelan. gak tau gimana balas gombalan dari duo Z ini. untung gak ada Zahira.


" saya harus pergi sekarang. kalau kalian mau disini lebih lama silahkan aja. ini saya tinggal kartu debit saya" prof Farhan meletak kartu debit di depan Ziva.


memang trio "Z" biasa makan diluar bareng prof Farhan. biasanya karena ada suatu kasus medis. prof Farhan akan meminta analisa mereka terkait kasus itu.


Ziva menggeleng " saya udah diperingati kakak saya prof. kalo saya di jajanin sama prof lagi, kakak saya bakal bilang ke papi saya buat nikahin saya sama prof."


" jadi kamu gak mau ni kartunya." sewaktu prof Farhan mau mengambil kembali kartunya, Ziva langsung menyambarnya.


" mau lah. bahkan saya mau photo terus dikirim ke kakak saya. terus kita nikah deh. uhuy." Ziva tertawa senang dengan hayalannya.


beranjak berdiri berdiri prof Farhan menyentil pelan kening Ziva sebelum pergi meninggalkan mereka.


" prof...." panggil Ziva keras. beberapa pelanggan menengok ke arahnya.


prof Farhan berhenti melangkah dan menoleh ke arah Ziva


" finger love full buat bapak." cengir Ziva dengan mengangkat kedua tangan memberi tanda love dengan jari telunjuk dan jari tengah. prof. Farhan tertawa dan melanjutkan langkahnya.


Zahra yang melihat interaksi kedua orang ini melongo tak percaya.


" Lo utang cerita ke gw tentang Lo dan prof Farhan. jelek." kesal Zahra merasa ketinggalan berita.


" apa sih gak ada cerita gw yang ada Lo yang utang cerita tentang Lo sama tuan muda Hartadraja." sewot Ziva.


" Lo tau? "


" ya sekarang berita Lo tuh lagi viral gila. gw yakin Hartadraja kaget dengernye. wah jadi dia sekarang lagi selingkuh dong."


" ishh ya enggak lah. berita itu gak bener. menurut lo?"


" gak juga sih. habis cewek yang lagi jalan sama dia bohay abis. Lo mah remehannya doang." hina Ziva enteng.


" gw kirim video ini ke hp Lo." Ziva memainkan ponselnya


****


setiba Ziva dan Zahra di kampus langsung ditodong oleh Zahira.


" why Lo Ra kagak bilang-bilang Lo ada hubungan sama tuan muda Hartadraja. cerita Lo." todong Hira.


" apa sih kagak gw kagak ada cerita gw sama tu orang."


" terus kenapa tu berita muncul?"


" ya tanya sama yang bikin berita lah Sono kenapa gw yang susah dah." sewot Zahra.


" kenapa Lo ngegas banget dari tadi kalo ngomongin dia." tanya heran Ziva.


" dari tadi?" bingung Hira.


" heeh. kita dari mall."


" kagak ngajak Lo berdua." sengit Hira.


" di teraktir prof Farhan."


" gw calon makmumnya gak diajak."


" cuih."


" amit-amit." tolak Ziva dan Zahra.


" kita diajak gabung dalam penelitian prof. ini DP nya." jelas Zahra cepat dan asal. yang diangguki paham oleh Hira.


" Ra, cerita tentang tuan muda itu. apapun versi Lo." paksa Hira.


membuang nafas berat. " oke. dikelas aja ya. kita cari kelas kosong." Zahra melangkah gontai ke dalam kampus.


***


kantor kepala bagian penelitian fakultas kedokteran.


telah hadir dalam ruang Kabid penelitian. pak Leo selaku Kabid penelitian, prof. Farhan kepala pelaksana penelitian, Zahra, Zivara, dan Zahira, selaku anggota penelitian, dan Hito Hartadraja sebagai donatur penelitian.


prof. Farhan sedang menjelaskan keikutsertaan trio " Z " didepan KABID penelitian dan donatur. Hito duduk tenang di sofa single terarah kepada Zahra. meski disana juga ada Zivara, dan Zahira.


ketika prof Farhan sibuk menjelaskan, Zahra sibuk mengamati donatur yang duduk dihadapannya dengan sinis.


" pakaian yang sama dengan yang tadi dipakai di mall, kemeja warna biru Benhur dan celana panjang bahan biru tua memberi kesan manly. habis menghamburkan duit langsung cari duit. ck..ck.. tipikal pria menyebalkan." bathin Zahra.


ditatap sinis oleh Zahra membuat resah om Hito. dia tak ingin ada dinding pembatas lagi dengan Zahra.


" jadi pak Hito, apa anda tidak keberatan kalau dalam penelitian ini ada mahasiswi S1?" tanya pak Leo, Kabid penelitian.


tatapan om Hito langsung dialihkan kepada pak Leo.


" tentu saya tidak keberatan. saya kira prof. Farhan yang paling tahu siapa yang berkompeten dalam penelitian ini. saya percaya prof. Farhan." ucap om Hito.


" jadi semuanya.."


"saya yang keberatan. maaf prof. saya mundur dari penelitian ini." sela Zahra ketika pak leo hendak bicara.


mendengar ucapan Zahra semua orang kaget.


" kenapa, tadi kamu bersedia gabung?" bingung prof. Farhan.


". tadi anda tidak bilang siapa donaturnya?" balas Zahra.


" ada masalah dengan donaturnya?"


"jelas ada. saya tidak akan terlibat dalam segala kegiatan yang melibatkan Hartadraja." tekad Zahra. menatap tajam om Hito


Zahra berdiri menunduk sejenak kepala dan melangkah pergi dari ruangan.


melihat tatapan menusuk Zahra om Hito bingung. bukankah hubungan mereka sudah mencair seusai peristiwa di rumah Cassandra. tapi mengapa hari ini Zahra kembali membangun benteng terhadapnya lagi.


****


cafe' D'lima


berjalan kearah cafe' dengan santai melewati parkiran mobil


" Zahra." panggilan dari arah parkiran mobil cafe'


menoleh mencari siapa yang memanggil namanya, menghela nafas berat melihat Sivia keluar dari kendaraannya dan berjalan menghampirinya.


menelisik pakaian Sivia, kak Zahra mencibir. pakaian itu Sama dengan pakaian yang dipakai Sivia di mall.

__ADS_1


apa mereka sedang berbagi tugas untuk membuat dia marah.


" masih Lo gawe disini meski gaji Lo dipotong."


membulatkan mata kaget Sivia tahu gajinya dipotong. namun Zahra tetap diam. dia merasa ini bukan urusan Sivia.


" pasti Lo heran kenapa gw bisa tau, ya.. tau lah orang gw yang nyuruh Erwin buat potong gaji Lo. supaya Lo tau diri. kalo Lo orang miskin gak pantes dapetin Hito." ejek Sivia berbangga hati.


memasang raut datar Zahra berbalik melanjutkan langkah masuk cafe'.


diabaikan oleh Zahra membuat Sivia naik pitam dia copot high heelsnya yang berukuran 16 cm


" ZAHRA..." Zahra menoleh


TAK.....


lemparan high heels Sivia mengenai pelipis kanan Zahra, tak ingin membuat Sivia puas dengan tingkahnya. Zahra tatap menampilkan raut datar meski darah mulai keluar dari pelipisnya.


Zahra ambil sepatu high heels itu, dia patahkan haknya, dan dia lempar high heels itu ke arah wajah Sivia kemudian Zahra melanjutkan langkahnya.


meringis sakit akibat lemparan Sivia, dengan menahan emosi marah dia langsung menuju kantor pak Erwin.


BRAK...


pak Erwin menoleh kaget kearah pintu yang dibuka keras.


" apa maksud kamu masuk dengan tidak sopan ke kantor saya Zahra, jaga sikap kamu" bentak pak Erwin


" bapak yang jaga sikap profesinal bapak kepada saya. bapak seenak jidat memotong gaji saya tanpa alasan kuat." tak kalah bentakan Zahra kepada pak Erwin. Zahra berdiri dihadapan pak Erwin yang sedang duduk di meja kerjanya


" berani berulah sekarang kamu."


" bapak duluan yang berulah kepada saya. saya menolak kesewenang-wenangan bapak kepada saya."


" saya bos kamu. hak saya memotong atau menaikan gaji kamu." tak kalah sengit pak Erwin membalas Zahra.


" saya tidak keberatan gaji saya dipotong jika potongan itu berdasarkan kinerja saya. toh awal-awal saya kerja disini juga saya gak digaji dengan baik oleh anda." sarkas Zahra.


" ada apa ini saling berteriak." pak Hito berdiri di pintu dan melangkah masuk ruangan pak Erwin mendekat kearah Zahra.


membulatkan mata lebar melihat pelipis kanan Zahra mengeluarkan darah. om Hito memegang bahu Zahra agar menghadap dirinya.


Zahra menepis keras tangan om Hito. om Hito tetap memaksa dengan kedua tangan memegang bahu Zahra


" hentikan. kalian berdua benar-benar jahat." Zahra menunjuk pak Erwin tanpa segan.


" kau. tanpa konfirmasi padaku memotong gajiku, kau tidak melihat kronologis pertengkaran saya dengan wanita itu." Zahra mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


" hallo. Mumtaz. datang ke cafe' D'lima sekarang." Zahra langsung menutup sambungan telponnya


" saya bersumpah akan membalas perlakuan semena-mena anda. saya menolak dihina oleh anda."


baik pak Erwin dan om Hito kaget dengan luapan amarah Zahra. mencoba menenangkan Zahra om Hito kembali memegang pelan bahu Zahra.


" saya bilang berhenti. jangan pegang-pegang saya. apa anda pikir saya wanita murah yang dapat anda sentuh seperti kau menyentuh jalang itu HAH?" Zahra menatap tajam penuh kemarahan kepada om Hito.


om Hito membuka mulut terkejut. Zahra benar-benar dalam mode senggol bacok on


tok...tok...


masuk kedalam ruangan pak erwin dengan hati hati karena suasana yang mencekam.Daniel, Jimmy, Mumtaz, dan Ibnu.


Mumtaz melangkah cepat mendekat kak Zahra ketika mendapati darah yang terus mengalir dari pelipisnya hingga mengenai bajunya.


tanpa kata, menarik kak Zahra duduk disofa dan membersihkan luka kak Zahra dengan tisu yang ada diatas meja. om Hito menghampiri membawa kotak P3K yang langsung dilempar oleh Zahra.


" aku lebih baik mati daripada mendapat pertolongan seorang Hartadraja." desisnya. mendengar itu hati Hito sakit.


Seusai membersihkan luka kak Zahra untuk sementara. Jimmy melangkah mendekat kak Zahra.


" ada apa kakak memanggil Mumtaz?" tanya pelan Jimmy.


" saya ingin Mumtaz mundur dari bagian penanggung jawab keamanan perusahaan Erwin Gautama." tiga remaja itu membelalakkan mata kaget.


" kenapa?" tanya Ibnu.


" dia memotong gaji saya 30% atas perintah si Sivia. wanita jalang itu, bukan karena buruknya kinerja saya." Zahra menatap berani ke pak Erwin.


" tapi kamu melukai dia." bela pak Erwin.


" bapak sudah liat belum rekaman videonya. kenapa saya lukai dia?" Zahra tetap mengotot.


" kasih liat dia apa yang terjadi waktu itu." Ibnu langsung memeriksa rekaman cctv.


mereka menonton rekaman dalam diam. terdengar helaan nafas dari pak Erwin.


" Zahra...."


" saya tidak peduli apa yang ingin anda katakan. Mumtaz kakak ingin kamu mundur dari proyek ini."


" iya baiklah." jawab tegas Mumtaz. karena dia juga sakit hati atas perilaku atasan kak Zahra.


" well. jika Mumtaz mundur, maka kami pun mundur." ucap Jimmy tegas.


" dengan ini kerjasama RaHasiYa dengan anda dibatalkan." pungkas Daniel.


" kalian tidak bisa begitu." tolak pak Erwin.


" tentu kami bisa."ucap tajam Jimmy. Jimmy melakukan sambungan telpon


" Bara ke cafe' D'lima bawa kontrak kerja sama dengannya. kita batalkan kontrak itu. sekalian bawa mobil tekno. tanpa bantahan." ucap Jimmy menutup sambungan telpon.


pak Erwin yang bingung dengan apa yang terjadi. diam memperhatikan empat remaja mulai memberesi peralatan cctvnya.


Bara memasuki kantor pak dengan bingung. dia langsung mengambil posisi duduk diatas sofa.


" ada apa ini." tanya Bara bingung.


" kak Zahra melarang Mumtaz gabung di proyek ini.alasannya sang bos motong gaji kak Zahra karena suruhan Sivia." jelas Jimmy


" bukannya sudah jelas mengatakan perlakukan keluarga Mumtaz seperti memperlakukan Atma Madina. apa anda meremehkan Atma Madina. Erwin Gautama." Bara menekan kalimat terakhir dengan tidak suka.


pak Erwin memejamkan matanya lelah. dia tidak menduga pemotongan gaji Zahra yang dia lakukan berdampak besar.


" Mumtaz juga gak ikut gabung dengan proyek Hartadraja." ucap kak Zahra sembari menatap Mumtaz.


" baiklah." ucap Mumtaz santai. Mumtaz percaya pada keputusan kak Zahra. pasti ada sesuatu yang menyakitkan dibalik keputusan itu.


" berarti RaHaSiYa juga out ." ujar Jimmy diangguki oleh Ibnu dan Daniel.


" tak masalah dengan Hartadraja. toh masih tahap awal negosiasi." ucap Bara menatap dalam om Hito.


om Hito yang semula duduk dengan sedikit menunduk mengangkat kepala duduk tegak.


" kenapa merembet ke proyek Hartadraja?" bingung om Hito.


" saya tidak ingin adik saya membantu orang yang tidak menyesal telah membunuh ayahnya." sarkas kak Zahra menatap langsung manik mata om Hito.


" anda telah mengambil sikap, saya juga mengambil sikap. sepertinya anda memandang remeh peringatan saya." kak Zahra memainkan ponselnya guna mengirim photo dan video dari Ziva kepada om Hito dan pak Erwin.


tring...


dung....


dua notifikasi masuk ke dua ponsel yang berbeda.


diam sejenak setelah melihat isi notifikasi itu. om Hito memejamkan matanya dan memegang ponselnya erat. mengangkat kepala menatap sesal Zahra.


mengharap ampun, meminta diberi kesempatan untuk menjelaskan. menggeleng kepala dimaksudkan bahwa dia tidak mengkhianati Zahra.


" anjir. Lo habis jalan sama Sivia To." teriak pak Erwin. teriakan yang diabaikan Hito.


" shit...dia nipu gw lagi. sialan tu cewek." melihat amarah pak Erwin. Zahra tersenyum smirk. kecurigaannya benar bahwa pak Erwin ada hati ke Sivia.


Hito bingung dengan amarah Erwin. " Lo kenapa sih Win?"


" sial. dia janji sama gw kalo dia mau jadi pacar gw kalo gw potong gaji Zahra." Erwin mengacak rambutnya kesal


Hito membolakan mata tak percaya " sumpah Lo Sivia janji gitu sama Lo?"


" iyalah. dia bilang sejak Lo nolak dia balikan dia gak minat lagi sama Lo. apa untungnya gw bohong." Erwin menyenderkan tubuhnya ke kepala kursi


" baiklah urusan saya selesai dengan cafe' d',lima." kak Zahra beranjak pergi keluar dari ruangan sang mantan bos.


ketika sampai di pintu kak Zahra dicegah Mumtaz.


Mumtaz yang sibuk mempreteli peralatan cctv dilantai bawah. naik dengan nafas memburu.


" kakak kalo mau pulang jangan sekarang. dibawah lagi banyak wartawan cari kak ala sama om Hito."


kak Zahra mematung tertegun mendengar itu. om Hito melangkah menghampiri kak Zahra. menarik lengan kak Zahra ke belakang tubuhnya seakan siap melindungi.


Mumtaz menarik kembali Kak Zahra ke arahnya " saya masih mampu lindungi kakak saya." tolak Mumtaz atas perlindungan yang ditawarkan Hito.


Hito dan mumtaz berdiri saling berhadapan dengan melempar tatap tajam tak ada yang mau mengalah kak Zahra berdiri ditengah antar keduanya....


^^^terimakasih masih membaca novel ini^^^


jangan lupa apresiasi positif atas novel ini

__ADS_1


^^^taufan kamilah, 17, Juni, 2021.^^^


__ADS_2