Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
199. Penyelamatan Para Bocil


__ADS_3

Setelah 10 menit layar MacBook-nya menggelap, Alfred masih mematung kaku atas serangan mendadak terhadapnya secara online oleh orang yang tidak dia kenal, tapi dia tahu bahwa orang yang mencacinya tadi adalah salah satu petinggi RaHasiYa.


Seseorang yang tidak terlalu menonjol dibanding dua rekan lainnya yaitu Alfaska dan Daniel, mata membara yang ingin membvnvhnya itu yang masih membuat Alfred syok.


Ditengah kamar dengan pencahayaan minim terkesan gelap, di sana Alfred berbaring setelah duduk tanpa bisa lepas dari peralatan medisnya.


" Tuan, turunkan emosi anda. Suhu tubuh anda meningkat. Anda sendiri yang akan merasakan kesakitan." Ujar seseorang dibalik ruang gelap di dipojok samping Alfred.


Kini Alfred dapat merasakan tubuhnya yang sudah panas, akibat pengelupasan epidermis-nya, tubuh Alfred dilarang keras untuk panas. jika suhu tubuhnya memanas maka ia akan mengalami kesakitan seperti terbakar diseluruh tubuh dari kepala sampai ujung kaki.


Seperti beberapa hari lalu saat ia melihat apa yang terjadi kepada keluarganya, ketika itu dia sangat marah yang memicu suhu tubuhnya meningkat hingga mata dan beberapa anggota tubuhnya memerah dan mengeluarkan darah.


Hal inilah yang selalu membuat alfred tidak berdaya terbaring di dalam kamar, cuaca Indonesia yang lembab saat suhu dingin, dan panas saat kemarau sangat tidak baik untuk tubuhnya.


" Matunda." Panggil Alfred pada asistennya yang sangat dirahasiakan olehnya dari siapapun, termasuk dari Mateo. Orang kepercayaannya.


Darinya, dia tahu pengkhianatan Mateo padanya. Darinya, dia tahu jika Mumtaz dibalik semua apa yang menimpa pada keluarganya.


" Siap, tuan."


" Kau cari nama orang yang tadi marah padaku."


Dari kegelapan itu tanpa disadari Alfred mata Matunda menyorot tajam.


" Matunda, kau dengan segala kemampuanmu satu-satunya yang mampu menyaingi peretasan RaHasiYa, aku percaya kau mampu mencari lebih dalam mengenai orang itu."


" Saya hanya bisa berusaha, tuan."


" Heuuhh.." dari helaan nafas Alfred tersirat kekecewaan mendengar ucapan Matunda yang tidak yakin.


****


Ibnu duduk menyender ke jendela mobil sambil berpangku dagu terdiam dengan tatapan kosong menghadap jalan dibalik kaca mobilnya, ia masih bingung akan sikap agresifnya di apartemen Mateo yang bertindak lugas dan tegas menyuruh Mumtaz membvnvh Alfred, padahal dia tidak pernah merasa berhubungan dengan pria tersebut.


Mumtaz melirik Ibnu yang duduk di sampingnya, di kursi penumpang bagian tengah." Nu___, apa Lo udah inget semuanya?" Tanya Mumtaz hati-hati.


Zayin yang duduk di bagian belakang mengangkat kepala dari ponselnya yang sedang berkomunikasi dengan para rekannya di Banten.


Ibnu menoleh memandangi Mumtaz, lalu menggeleng " gue juga masih bingung kenapa bisa ngomong demikian. Itu..dari dalam diri gue kayak ada lahar gunung kemarahan yang harus disemburkan saat melihat dia tertawa. Gue benci tawa itu." Ucap Ibnu datar seraya memijit pelipisnya.


" Jangan memaksakan diri."


" Enggak, cuma___gue benar-benar terganggu sama dia. Muy, memang dia siapa?"


" Alfred Navarro, Mafia Italia. Mantan pasukan elit Italia yang diberhentikan secara tidak terhormat karena mengkhianati negaranya."


" Memang bisa?"


" Ya__bisa lah. Lo jadi cewek aja bisa, apalagi cuma membelot. Banyak cerita." jawab Mumtaz ngasal yang langsung mendapat delikan kesal dari sobatnya.


" Maksud gue, kalau dia sudah level elit pasti idealisnya tinggi "


Lantas keduanya menoleh ke belakang, Zayin mengangkat alisnya bertanya." Apa?"


" Memang bisa?" Tanya Ibnu sekali lagi.


" Banyak."


" Biasanya karena apa?" 


" Salah pergaulan dengan atasan atau rekan tim. Mindset komando yang dipegang teguh militer memudahkan atasan mempengaruhi bawahan. Solidaritas karena rekan seperjuangan membuat mereka merasa saling sepenanggungan.


" Bisa juga berhenti pindah haluan jadi tentara bayaran. Kalau kasus ini biasanya difaktori soal uang.


" Tapi tadi si Aa bilang dia dipecat tidak hormat, jadi dia melakukan kejahatan semasa masih aktif dalam militer." Zayin menerangkan semudah mungkin.


" Jadi Lo juga kemungkinan bisa membelot?" tanya Ibnu.


" Selama negara ini lurus berideologi Pancasila, gue pastiin gak akan terjadi atau mama bangun gentayangin gue" Zayin menjawabnya dengan ketus sambil bergidik ngeri.


" Bagaimana jika negara yang mengkhianati Lo?" Tanya Mumtaz.


Zayin mengangguk-angguk." Banyak cerita juga tentang ini, tapi gue punya para Abang yang super hebat, gue cuma laporin ke kalian selanjutnya terserah kalian, do kemarin bukti kalau kalian bisa diandalkan. Lewat jalur militer, biar urusan gue." jawab Zayin seenak jidat


Mumtaz berdecak, lalu melempar kulit jeruk di tangannya pada adiknya itu. " Enak di Lo, beban di kita."


" Hei, kewajiban menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara ini kewajiban semua warganegara." Dalih Zayin.


" Ck, kalau ada proyek, korupsi, gak ngajak-ngajak seluruh warganegara." Cibir Samudera lemes.


" Anjir, mulutnya si om...itu diluar jangkauan gue. Gue mah anak mama baik-baik. Catatan di polisi gue cuma terlibat tawuran itupun diajak si Adgar, ceo-nya Hartadraja corp. Gue pengen tahu siapa yang berani membahas soal itu." Sarkas Zayin menantang.


" Bang, tolong turunin aku di McD depan aja. Aku gak ikut ke Lebak." Ujar Ibnu pada Damian yang bertugas mengemudi.


" Kenapa?" Tanya Mumtaz merasa janggal.


" Gak ada apa-apa. Sedikit meriang aja." Ibnu beralibi.


" Gimana, Muy?" Tanya Dominiaz melirik Mumtaz lewat spion tengah.


" Ikutin aja maunya dia. Lo, Yin?"


" Ngikut gue mah."


Mereka berhenti tepat di depan McD yang buka 24 jam." Lo pulang dijemput siapa?"" tanya Mumtaz.


" Ck, berhenti bertingkah kayak emak-emak Lo, Muy."


" gue cuma nanya. kalau ada yang renggut keperjakaan Lo gimana? masih gelap ini."


" Diam Lo, gue udah telpon orang rumah."


brak...


Ibnu menutup keras pintu mobil.


" Eh, busyet. perjaka marah." seloroh Zayin.


Kaca pintu diturunkan Mumtaz." kita tunggu Lo dulu, atau gimana?"


Bila mata Ibnu berputar malas. " Muy, please. pergi sana."


" Tapi..."


" A, kita pergi. Aa ini terlalu tuir untuk dikhawatirkan keperjakaannya. lagian dia juga gak cakep-cakep banget."


" Heh, gue gak bisa seneng dengar omongan Lo, tapi berhubung yang ngomong Lo, orang ganteng berkualitas premium sekaligus culas gue makasih aja." sindir Ibnu.


" Berangkat, om." pinta Zayin ke Dominiaz yang langsung dipatuhi.


Di mobil Mumtaz mengirim pesan ke Romli untuk mengawasi Ibnu.


" A, posesif Lo turunin dikit, kita udah tua, A." seru Zayin.


" jangan banyak omong Lo, lihat Adel sepuluh tahun mendatang, masih berubah gak posesif Lo sama dia." tuding Mumtaz..


" Lha, kapan gue posesifin si itik, yang ada dia ngintilin gue mulu."


" Ya kalau calon suaminya kayak kamu, siapapun pasti ngintilin kamu." celetuk Samudera.


pletak...


" Heh .." hardik Samudera mengudoankepalanya yang dijitak Zayin.


" Gak sorry, om. refleks. itu mulut dijaga ya, mana ada yang begituan. jangan samain aku sama kalian yaa..." Zayin berucap sewot.


" Adel masih itik, jangan diomongin jodoh dulu. biar dia jadi orang hebat gue yang nyariin jodoh buat dia."


" Kenapa kamu?" tanya Hito.


" terus siapa? kak Edel yang centil itu? yang gak bisa lihat orang ganteng dikit langsung meleyot? kagak bisa, bisa-bisa dapetnya zonk. bisa abis tu cowok di tangan aku."


" Dan kamu bilang kamu gak posesifin dia, Yin? sindir Dominiaz turut nimbrung menyerang Zayin.


Terdengar kekehan meledek dari Mumtaz." Ck, ini ceritanya aku diserang kalian?" dumel Zayin.


" Ini tidak hanya berlaku untuk Adel, tapi semuanya, si bocil juga. mereka cewek baik-baik udah disayang mati-matian sama kedua orang tuanya, khususnya Adel.


Seketika raut Zayin muram." Untuk seumuran dia, dia udah banyak merasakan sakit karena situasi dan kondisinya, aku masih inget waktu nyonya tua itu bilang Adel bukan cucunya dan menolak pelukan Adel yang udah berlari padanya sewaktu si tua Sri menginap di rumah kak Edel, sedangkan ke Ical, nenek sihir itu sangat lembut. Dia nangis di kamar aku seharian, matanya sampe bengkak. Belum lagi omongan orang yang gak bertanggung jawab yang sampai ke telinga dia yang ngomong dia anak haram itu " perkataan itu diucapkan dibalut aura kemarahan dari Zayin. suaranya menyiratkan kebencian.


Semua orang terdiam mendengarkan, khususnya Hito. Hatinya merasa tersentil, dia sama sekali tidak tahu jika keponakannya pernah mengalami sikap tidak baik dari neneknya.


" Terus seenak udel ada cowok yang gantengnya gak seberapa itu berani nyakitin dia? wow, punya nyawa berapa tu cowok. bilang aja mau ditusuk dimana?" suara Zayin semakin ketus.


" Kalau Hito menyakiti Zahra?" pancing Dominiaz yang seketika mendapat tatapan tajam dari Mumtaz dan Zayin."


" Kebiri orang seru kali ya!? dan ini berlaku untuk kak Hira." ucap Zayin yang berhasil membuat Samudera menelan sulivanya.


" Om, kalau suatu hari om sudah gak mau sama Kak Ala, balikin ke kita baik-baik. Apapun yang terjadi diantara kalian, kami gak akan balas. itu saja masukan dari saya." sahut Mumtaz.


" Bagi om mungkin kak Ala hanya sekedar orang yang tercinta, bagi kami dia dan Tia segalanya, jika mereka tersakiti, lantas gunanya aku jadi cowok untuk apa?" renung Zayin yin dengan suara berat menahan sedih.


" Kalian tenang saja, aku gak akan menyia-nyiakannya." sahut Hito tegas.


" Aku pegang janjimu, kau mengingkari, aku gak akan kasih ampun, om. Om tahukan seberapa jauh aku bisa bertindak!" balas Mumtaz tidak kalah tegas.


" Hmm..." jawabnya, Dominiaz melirik Hito.


Sementara di restoran itu, sambil menunggu jemputan Ibnu membuka laptopnya, ditemani dua porsi large kentang dan chiken bites serta ice coffe float ia berselancar membuka file dari Mumtaz.


******


Beberapa pria dengan penampilan biasa layaknya warga baik-baik memeriksa satu persatu setiap kendaraan yang masuk maupun keluar ke daerah Lebak, Pandeglang, Banten lama, Banten baru, dan serang. Mereka dibagi atas perintah Haidar.


Di Banten, nama Ardani Romli dan keturunannya bukanlah nama sembarangan. Nama itu bisa dijadikan pintu akses kemanapun tanpa halangan, baik masuk ke jajaran pemerintahan, kerajaan Banten, maupun strata sosial di Banten.


Penjagaan terbilang ketat. Mobil dengan ciri-ciri yang tertera di ponsel masing-masing diberhentikan kemudian diperiksa secara seksama, namun dua jam pemeriksaan mereka belum juga menemukannya.

__ADS_1


 Tiga tentara berpakaian sipil beserta beberapa anak buah Haidar telah menunggu mereka di muka jalan menuju Lebak, tepatnya menuju hutan tidak jauh dari pemukiman Baduy dalam. 


Dari kejauhan mereka melihat Van yang sesuai ciri-ciri yang mereka peroleh, saat Van itu terlihat, beberapa dari mereka bersembunyi dibalik pepohonan dan belukar dengan persenjataannya berupa cerulit, golok, dan pedang.


Sedangkan tiga orang menghadang berdiri di tengah jalan, " Target masuk masuk." Seru satu orang yang berdiri memeriksa mobil sesuai ciri-ciri lewat earphone. Sedangkan dua temannya memberhentikan mobil tersebut.


Empat orang yang berada dalam mobil tersebut saling melempar pandang sebelum memutuskan apakah mereka berhenti atau menerobos orang tersebut.


" Mending berhenti, kawan mereka dimana-mana." Seru yang duduk di bangku penumpang depan.


" Mereka cuma tiga orang. Terabas ajalah." Sahut yang di belakang.


" Ck, jangan menyepelekan. Solidaritas mereka tinggi. Lo usik yang di sini, yang di ujung daratan sana udah nargetin Lo langsung tebas."


" Terus mereka?" Ujar yang duduk di bangku tengah melirik empat perempuan yang masih tidak sadarkan diri dengan kedua tangan terikat di depan. Dua orang duduk di tengah, dua orang di dudukan di belakang.


" Tutup aja dulu pake apa kek." Merekapun segera menutup sekujur tubuh keempatnya dengan kain panjang."


Tepat di depan warga, mobil itu berhenti tanpa mematikan mesin, pengemudi menurunkan kaca pintunya.


" Pagi. Ini ada apa ya, kang?" 


" Hanya pemeriksaan rutin, beberapa hari belakangan marak pencurian ternak kambing." Jawab si pemeriksa dengan kepala dicondongkan ke dalam.


Matanya melihat ke bagian penumpang," itu apa yang numpuk gitu."


" Kain buat tenda." Jawab sang pengemudi.


" Buka pintu belakang."


Di sini mereka mulai resah, duduk bergerak gelisah." Kang, kita bisa ngomongin ini pribadi lah.." pengemudi mencari alibi.


" Kenapa sampean keberatan begitu?"


" Bu..bukan keberatan, tapi..oke kita jujur...di belakang, kita bawa hewan yang dilindungi " ucapnya sepelan mungkin.


" Lho..kenapa? Ilegal ya?"


Saking mereka memfokuskan diri pada pemeriksaan, penculik tidak menyadari Cassandra yang ditempatkan di tengah, tepatnya di belakang kursi pengemudi perlahan-lahan mulai menggerakkan tubuhnya.


Dibalik kain itu, Cassandra yang masih menyesuaikan diri akan keadaan, diam mendengarkan. Dia mencoba meresapi apa yang terjadi, dimana dia berada, mengingat peristiwa terakhir kali sebelum dia tidak sadarkan diri.


Saat semuanya sudah terungkap oleh panca inderanya, Cassandra mengambil kesimpulan dia diculik. Tubuhnya seketika gemetar, namun karena bukan kali pertama dia mengalami hal ini, dia langsung menenangkan dirinya.


Di belakanganya Dista pun sadar, dia melakukan hal yang dilakuan Cassandra. berbeda dengan Cassandra, alih-alih takut dia sangat marah.


Dista dengan sudah payah, menyingkirkan sedikit kain di kepalanya mengintip suara bising apa yang terjadi. dia melihat tubuh terkapar di sampingnya yang ternyata Tia yang masih belum sadar.




Menyadari dua orang yang berbicara bukan merupakan rekanan, Cassandra secara tiba-tiba memijakan kakinya langsung berdiri, kemudian mengalungkan kedua tangannya yang terikat kepada leher pengemudi melewati kursinya.



" TOLOONGGG, MEREKA PENCULIK...."



Gerakan mendadak dan teriakan itu membuat kaget sekaligus panik para penculik. Si pengemudi *refleks* menginjakkan gas hingga mobil itu melaju kencang secara asal.



Si penculik yang disampingnya berusaha menjauhkan tubuh Cassandra yang terus memberontak sambil berteriak tidak karuan.



Dari belakang, tiba-tiba Dista menendang rekan penculik, tendangan yang tanpa arah itu terkadang mengenai penculik maupun punggung kursi hingga rekan yang sedang memegangi Casandra sedikit oleh yang akhirnya menubruk Cassandra.



Cassandra yang terdorong semakin menguatkan cekikannya hingga konsentrasi pengemudi hilang mobil yang melaju tidak arah mendapat kejaran dari dua pemotor dengan masing-masing penumpang bersenjata yang mengendarai motor trialnya.



Karena panik penculik membuka kaca pintu lalu melepaskan tembakan dari senjata berlaras panjang pada pengejar yang di belakangnya secara acak dan membabi-buta.



Tembakan mereka yang ngasal meleset, namun mereka mendapat balasan temb4kan dari penumpang motor yang ternyata adalah tentara.



Empat kali menemb4k, dua peluru mengenai lampu mobil, dan satu peluru mengenai ban sebelah kiri. Pengemudi berusaha keras mengendalikan kemudi di tengah cekikan Cassandra. Sebenarnya Cassandra mulai lelah, namun ketakutannya yang membuat dia bertahan.



Dista terus melayangkan tendangan, karena kesal penculik membalas dengan menarik kakinya, mengangkat tubuhnya yangbsudha turun dari bangku hingga dia terduduk kembali kemudian menamp4rnya kencang.




" Kita harus melumpuhkan mereka." ucap sang penembak.



" Dan lihatlah ke depan kita terkepung." Rekannya berkata dengan marah.



Di depan sana sudah ada tiga orang siap memanah mereka. Cassandra yang terus berusaha mengencangkan cekikannya menyulitkan pengemudi mengendalikan mobilnya, tanpa sengaja dia malah semakin menekan gasnya.



Tiga orang pemanah melepas panahnya 



Cleb...



Panah itu berhasil menancap di ban mobil. Mobil itu yang oleng itu semakin melaju keluar bahu jalan, terlonjak undakan batu sebelum terjungkal yang mengakibatkan mobil terguling dan menyeret dengan body samping mobil terus turun ke rawa kemudian membentur pohon besar.



Seluruh penumpang terpental ke arah satu sisi hingga mereka menumpuk, beruntung keempat bocil itu bukanlah berposisi paling bawah.



Cassandra dan Dista berteriak histeris kala mobil terbalik ke samping dan terus menurun ke hutan yang aman laju mobil selain kencang. Mereka sudah berucap istighfar, takbir dan segal pujian atas nama tuhan. mereka pikir mereka akan meninggal sebelum mobil itu akhirnya berhenti karena terhadang pohon besar.



Melihat kepulan asap yang keluar dari mobil, para penolong bergegas meluncur ke bawah, satu diantara merek menelpon rekannya meminta bantuan, mereka memecah kaca pintu, lalu membuka paksa pintunya.



" Hati-hati. Satu diantara mereka keponakan Haidar, kalau gak berhasil menyelamatkan dia bisa kena amuk kita " ucap pria berambut kriting pertengahan empat puluhan sambil memegang pintu mobil.



" Ck, jangan nakutin. Ini lagi orang gak bisa apa cari korban yang lain. Ponakan jawara Lo culik, g0blok." Dumel pria yang masuk mobil dan mencoba mengeluarkan Cassandra yang menindik penculik.



Tidak lama, para rekan mereka datang, mereka bergotong royong mengeluarkan penumpang dari mobil.



" Telponlah ke Haidar kita udah nemuin ponakannya." Serunya sambil sibuk mengangkat dan menarik Cassandra dari mobil.



\*\*\*\*\*



Pukul 04.15 wib. Mumtaz dan rombongan datang.mereka disambut Bara yang datang terlebih dahulu ke TKP tidak lama setelah aksi penyelamatan, lalu membawa para korban ke rumah sakit. Mumtaz menemukan pamannya di lobby rumah sakit.



" Paman..." panggil Mumtaz menghampiri mereka.



" Mumtaz, Zayin.." panggil Haidar penuh keharuan bertemu keponakan yang dia rindukan.



" Assalamualaikum." keduanya mencium tangan Haidar dengan ta'dzim.



" Kenalkan mereka para om dari keluarga korban." Mumtaz mengenalkan pamannya pada Dominiaz dan kawan-kawan.



" Yang ini pacarnya Zahra bukan?" Haidar menunjuk pada Hito.



" Iya, paman. saya Hito Arvenio, tunangan Zahra."


__ADS_1


Haidar terkejut, namun hanya untuk sesaat, ia mencoba menghalau rasa sedih di hatinya " Tunangan..." perkataan yang menyedihkan itu terdengar oleh Hito.



" Belum resmi.."



" Dan harus cepat diresmikan. mereka pernah tidur bareng." timpal Zayin ketus.



Semuanya terkejut bukan main, terlebih Mumtaz. ia memandang Hito intens dengan tatapan tajam." bukan seperti yang kalian pikirkan, kami dalam situasi yang rumit." ucap Hito cepat tidak ingin ada salah paham bisa-bisa dikubur hidup-hidup dia.



" Bagaimana keadaan mereka?" tanya Zayin mengalihkan topik. dia tidak tertarik membahas tentang sepasang kekasih yang sudah mengecewakannya itu.



" Masih di UGD, syukurnya teman Mamang berhasil menyelamatkan mereka." jawab Haidar menunjuk ke segerombol pria paruh baya yang terlihat bagai preman.



" Terima kasih, Paman." sahut Mumtaz.



" Jangan sungkan, Tia ponakan Mamang. mamang akan membenci diri mamang kalau gak bisa menyelamatkan mereka." ucap Haidar dengan suara tercekat.



Pintu UGD di buka menghadirkan seorang dokter dengan beberapa perawat yang menghampiri mereka.



" Kumaha, Gus?" tanya Haidar pada dokter yang merupakan temannya.



" Secara keseluruhan mereka baik, gak ada cedera serius. cuma pasien yang bernama Maryatul Qibtiah harus dirawat intensif.."



" Kunaoan?" potong Haidar.



Alfaska pun telah maju berdiri di depan dokter dengan wajah menegang." Ada apa dengan istri saya?"



" Tenang, bukan hal negatif. pasien tersebut setelah diperiksa ternyata sedang hamil."



" HAH?" Semuanya terkejut, terlebih Alfaska.



" Beneran?" tanya Alfaska tidka percaya sekaligus haru.



" Boleh saya bertemu dengannya?" tanya Alfaska memohon tidka sabar.



" Setelah dipindahkan ke ruang inap ya."



" Apa boleh mereka di bawa ke Tangerang? dirawat di sini kejauhan." tanya Haidar



" Bisa, mau dibawa kemana?"



" Siloam aja ya..." Haidar meminta persetujuan ke semuanya yang langsung mengangguk.



" Baik, saya telpon mereka dulu."



" Bilang atas nama Gaunzaga, Arvenio, Atma Madina, dan Hartadraja " Ucap Bara.



Sang dokter dan perawat ternganga mendengarnya" Beneran, Dar?" tanya Agus memastikan.



" Iya, kali. kalaupun mereka menipu nanti masuk tv."



" Hah?"



Mereka tidak kalah kaget mendengar jawaban Haidar yang terkesan ngawur.



" Baiklah..." petugas pun berlalu dari sana.



" Terus bagaimana dengan para pelakunya?" tanya Haidar.



" Boleh saya menitipkan mereka di paman untuk sementara?" kata Mumtaz.



" Gak bisa, mereka sudah menjadi tersangka \*\*\*\*\*\*\*." Zayin memberi ponselnya pada Mumtaz.



" P4nglima bersama k4polr1 langsung mengeluarkan titah itu berdasarkan bukti-bukti yang sudah mereka temukan." lanjut Zayin.



" Gue yang ngomong ke mereka kalau mereka dititipkan di kita dalam pengawasan TNI." sahut Mumtaz.



" Terserah, mereka lolos, gue jadiin Lo banci." balas Zayin.



" Kalian, sedang terlibat apa?" tanya Haidar.



Keduanya dan yang lain pun menegang, mereka melupakan kehadiran Haidar, dan Fajar.



Mumtaz menghembuskan nafas lelah." nanti Mumtaz jelaskan. sekarang kita menemui mereka dulu."



\*\*\*\*\*



" Matunda,.." panggil Alfred.



" Saya, tuan."



" Saat ini petinggi RaHasiYa pasti sedang sibuk mencari empat bocil itu, kau coba cari celah agar kita bisa masuk ke gedung RaHasiYa."



Matunda terbelalak," tuan, anda hanya mengirimkan nyawa saja jika ke sana."



" Tidak, saya ingin mengalahkan mereka di tempat yang mereka banggakan. dunia akan melihat keempat pemuda itu tidak lebih hanya pecundang saja... Hahahaha... waktu untuk saya menguasai semuanya sebentar lagi!!!...



 



 

__ADS_1


__ADS_2