
Ego Navarro cukup terpental atas hal yang baru diungkap, Segala strategi yang dia susun semenjak tiga belas tahun lalu dengan mudah diporak-porandakan oleh pemuda sipil, seorang sipil bukan militer. Ini suatu penghinaan.
Matanya menatap nanar layar yang menampilkan markas penyimpanan senjatanya, mesin peluncur rudalnya memang masih tegak siaga, namun tertampak jelas jika markasnya sudah jatuh ke tangan militer Indonesia yang kini tersisa hanya gubugnya saja.
" Sejak kapan kau mengetahuinya?" Tanya Navarro.
" Tahu apa?" Daniel bingung.
" Mimpinya untuk mendirikan negara kekaisaran Romawi return." Jawab Mumtaz enteng.
tangan Navarro mengepal erat mendengar jawaban yang menyimpan ledekan tersebut.
" APA?"
" Fix, no debat. Emang ed-an ini orang."
Dan masih banyak umpatan terlontar dari semua orang untuk beberapa menit yang berhasil membuat gendang telinga Navarro memerah karena marah.
" Dia sangat terobsesi mengembalikan kejayaan pendudukan oleh bangsa Eropa di dataran bumi ini, khususnya mengembalikan Romawi kuno menjadi penguasa belahan bumi ini." Ungkap Mumtaz.
" Tapi kenapa Indonesia? Kita jauh dari Eropa." Protes Alfaska tidak habis pikir.
" Faktor geografis, Indonesia negara besar dan berstrategi. Dia pikir jika dia bisa menguasai negeri ini, hitungannya dia sudah menguasai Asia tenggara. Mengingat sumber daya alam dan manusia Indonesia, dia dengan mudah bisa menguasai dunia.
Semuanya merah padam murka yang diwakilkan Alfaska yang menerjang kesal, ia mberjaln lebar menghampiri Alfred lalu menen-dang-nendang membabi-buta tubuh lemah Navarro." anj1nk, bang-sat. Lo pikir kita cuma menang kuantitas penduduk doang sampai Lo mikir bisa menguasai kita begitu gampangnya. Belajar dari Belanda, teman Lo, oon. Mereka saja tiga setengah abad di sini gak bisa menguasai seluruhnya apalagi Lo yg cuma 13 tahun.
" Lo bisa berkaca pada Jepang yg dalam waktu singkat mampu menduduki Indonesia, itupun cuma mampir sebelum dipecundangi oleh kaum pemuda padahal mereka bisa menaklukan Pearl Harbor kebanggaan Amerika. Indonesia sekarang jangan disamain sama Indonesia dulu. Be-go, an id1ot." hardik Alfaska murka.
Mumtaz menghela napas berat mendekati Alfaska yang mengamuk." Fa, enough. Dia punya-nya Inu, jangan rusak rencana gue." Ucapan tenang dari suara Mumtaz menghentikan kemarahan Alfaska yang tidak pernah dilihat oleh anak buahnya sekalipun.
Alfaska menyugar rambutnya kesal, lalu mengusap wajahnya kasar.
" Lalu...apa hubungannya dengan bvnvh bapak?" Tanya Ibnu merenung.
" Navarro pernah sekali mengikuti pelatihan bersama dibawah komando angkatan darat, dia melihat wilayah Indonesia, dan langsung menyukainya. Diawali mendekati para petinggi negara.
" Melalui pejabat korup itu dia memasok senjata baik untuk dagang maupun membantu para pemberontak, dan barang ilegal lainnya semisal narkoba untuk merusak mental dan otak rakyat menjadi pencandu. Yang pad akhirnya rakyat Indonesia menjadi rakyat sampah tak berdaya."
" Namun semuanya sedikit terhambat ketika bapak menolak meng-acc bujukan para pejabat meski telah diiming-imingi dengan kenaikan jabatan, dan imbalan kemewahan. Tidak ada jalan bagi mereka selain menghabasi bapak kalau rencana mereka ingin berhasil." tangkap Mumtaz yang membuat semua orang tercengang.
Ibnu terpekur lalu mengerang kuat dengan mata memerah bersimbah air mata dengan sorot kesakitan dan kebencian sekaligus. Matanya menatap nyalang Alfred yang masih meringis akibat ulah Alfaska.
Tiba-tiba ada gerakan cepat yang menendang alat vital Alfred diantara selangkangannya.
BUGh...
" KYAAAAAAAAAA..." teriakan Alfred memenuhi ruangan besar itu.
" Euh..."
" Uuuu...."
Ringis anak RaHasiYa memegangi milik mereka.
" Selalu dadakan." Gumam Bara.
" Yang lebih pendiam memang selalu menakutkan." Timpal Dominiaz.
" Semenyeramkan apa kejahatan yang dilakukan Navarro pada kedua orang tua Ibnu?" Mendengar pertanyaan Gama semua bungkam berpikir.
" Lo bvnvh orang tua gue cuma untuk hayalan gila Lo, anjink. Mati ..Lo ....mati.." napas alfred sudah terpotong-potong karena cekikan Ibnu dilehernya belum lagi suhu ruangan yang mulai terasa hangat yang tida baik untuknya.
Mumtaz dan yang lain tidak berniat menghalangi Ibnu yang terus mengeluarkan emosinya.
Kepalanya dia tolehkan dengan susah payah mengarah pada Matunda yang berdiri agak jauh darinya, bola matanya memohon meminta pertolongan. Hatinya merasa sakit kala Matunda bergeming dan menoleh pada Mumtaz meminta izin.
Kala Mumtaz mengangguk, Matunda berjalan mendekat, berisik di belakang Ibnu yang masih membungkuk di atas tubuh Alfred.
" Tuan, maaf. Tenanglah, sebaiknya kita harus memberinya asupan obat agar anda bisa menyiksanya dengan maksimal." Bisik Matunda.
" Berterima kasihlah kau padanya karena menunda maut mu, tapi ku pastikan ini hari terakhirmu, jerk." Ancam Ibnu.
Dengan napas yang masih memburu Ibnu melepaskan leher Alfred dneg kasar.
Matunda segera mengambil alih tubuh Alfred sebelum membentur lantai. Ia bergegas memasukan cairan itu langsung seluruhnya mengingat napas alfred yang sudah minim.
Tidak lama setelah napasnya membaik walau belum stabil Alfred menyeringai malas bercampur meremehkan pada Ibnu, " Kau hanya menggertak, sepintar apapun kalian, kalian hanya sipil yang tidak tahu apapun bagaimana cara kami tentara bekerja." Meski suara alfred pelan namun masih terdengar olah yang lain termasuk Mumtaz.
__ADS_1
Mumtaz mendekatinya, berdiri di samping Ibnu menatap langsung netra Alfred.
" Salah satu keberuntungan dekat dengan Birawa selaku partner penyediaan Alutsista TNI adalah memiliki hak khusus melihat dan bergabung dalam pelatihan-pelatihan TNI yang tidak bisa diketahui umum tentu dengan ketentuan ketat. Salah satu yang ku ambil adalah bagaimana menghasilkan peledak secara canggih. Pelatihan fisik dan mental apa militer telah ku telan habis sampai aku bisa menandingi mu, buktinya setelah aku ikut campur dalam jadwal bisnis kotormu, tidak ada satupun bisnismu berjalan lancar di Indonesia.
" Kau pasti frustasi, setelah upaya lewat udara, darat dan laut telah kau coba tapi semuanya gagal." Jawab Mumtaz dengan seringai smirk yang menyebalkan khasnya.
" Itu mengapa sejak lima tengah tahun yang lalu Lo giat menjalin komunikasi dengan panglim4 TNI?" Tanya Daniel yang diangguki Mumtaz.
Alfred menatap nyalang Mumtaz, marah penuh amarah, dia sudah tidak bisa lagi berkata-kata," kau meneliti semuanya."
" Chip yang ditanam di Sivia dan Guadalupe sangat membantu. Baru tiga negara yang memiliknya, dan itu dalam jumlah terbatas." Kedua tangan Mumtaz dimasukan ke dalam kantong celana, netranya tidak pernah lepas dari Alfred.
" Aku rela mengkhianati negaraku demi ambisi besarku, mereka bahkan memanggil ku gila dengan berpindah haluan dari karir cemerlangku menjadi mafia dan musuh negara. Ku korbankan semua itu tidak untuk gagal."
" Terserah dengan apa yang kau percayai Navarro aku tidak ambil pusing, tapi fakta yang menagtkan demikian. Petinggi RaHasiYa dikenal dengan ketelitian dalam bekerja itulah mengapa negara sekelas rusia dan Amerika berkenan bekerjasama dengan mata kami."
Dibantu Matunda alfred berdiri walau setelahnya tangan kurus itu menepis tangan kekar Matunda. Dengan senang hati Matunda menjauh dari Navarro.
Dalam waktu singkat mereka dneg mata kepalanya sendiri Alfred yang semula tidak berdaya kini berjalan tegak mendekati Mumtaz walau masih menyisakan jarak antar keduanya.
Navarro mendengkus, telunjuknya menunjuk Mumtaz," kau bisa saja membual itu hak mu tapi kenyataanya kau tidak bisa memungkiri ini."
Layar dinding kaca berganti dengan tampilan wajah empat gadis muda yang mereka kenal sebagai para bocil yang kini kedua tangan mereka diikat tali dan mulut disumpal kain dengan penampilan yang menyedihkan.
" HAHAHAHAHHAHA....HAHHAHAHA." bukan Mumtaz atau Ibnu yang tertawa mengejek puas namun Alfaska, dnaiel dan yang lain hanya tersenyum jenaka seakan tengah disuguhkan tontonan komedi.
Alfaska sampai tertawa terbahak-bahak seraya membungkuk memegang perut agar aura mengejeknya sempurna total.
Dan itu berhasil memancing Navarro naik pitam." Kau, buta atau bagaimana? Istrimu dalam tahanan ku.." bentak Navarro kesal.
" Maksudmu ini?" Tanya Alfaska menunjuk layar yang sudah berganti dengan wajah serupa mereka nun berbeda kondisi dan situasi.
Alfred kaget bukan main, sport bingung terparkir jelas di maniknya.
Sisilia, Dista, dan Tia tengah terlihat bersenda gurau di ruang tamu, sedangkan di layar lain Cassandra dneg rambut gelombang indahnya tengah duduk mengobrol santai di sebuah cafe di Eropa bersama Damian dan seorang lelaki tampan.
Raut Bara seketika berubah sayu muram menahan rindu dan sedikit kesal bercampur cemburu pada pria bule yang duduk di samping Cassandra.
Tawa renyah Cassandra dan wajah bahagianya direkam sebaik mungkin dalam memori otaknya. Rasa rindu ini kian membuncah.
" Di suatu tempat yang aman, lebih aman dibanding di sisi mu." Jawaban Teddy menyesakan hati Bara dengan rasa bersalah.
" Apa aku sungguh keterlaluan?"
" Melayani Maura berdasarkan pertemanan sampai mengesampingkan kekasih itu sih sangat konyol. Empat tahun dicueki olehnya tidak membuatmu jera, huh!"
" Aku sangat merindukan dia."
" Kenapa? Karena rasa bersalah? Lupakan, Cassy bilang dia sudah memaafkan kamu."
" Ayah bertemu dengannya?"
" Kau pikir ayah akan berdiam dirinya saja mendengar dia kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya? Kau pikir tanpa bantuan Pama Gama dan Dominiaz Cassandra bisa selamat dari ulah Maura?"
Bara menoleh ada gama dan Dominiaz yang berdiri bersisian setelah Teddy." Kalian semua tahu dimana Cassandra?"
" Tentu." Jawab berbarengan gama dan Dominiaz.
" Kami sudah menganggapnya keluarga seperti yang lain." Tambah Gama.
" Dan pan tidak memberitahu ku?"
" Untuk apa? Seperti kata ayahmu tadi, kau bertindak konyol dengan menyakiti Cassandra dua kali karena perempuan yang sama."
" Cassandra dan yang lain memang terlihat kekanak-kanakan dan manja, tapi dengan bertahan sebagai pasangan kamu dan mereka..." Matanya melirik pada empat sahabat di layar.
" Dengan kisah hidup kalian yang kompleks Ditambah segunung kesibukan kalian tidak semua perempuan seusai kalian bisa bertahan, itu menandakan mereka sangat dewasa, dan kamu menyakitinya hanya untuk wanita kekanakan seperti Maura, itu tidak masuk akal. Maka apa yang kamu harapkan dari saya? Membantu mu? Tidak sudi." Jawab tegas Gama.
" Tidak bisakah kalian lihat aku menderita?"
" Itu sih DL (derita Lo)." Celetuk Dominiaz sengit.
" Baaangggg...." Rengek Bara manja memohon
" Najis gue...Ampe Lo jadi bencong juga gak bakal gue kasih tahu."
" Aku udah menghukum Maura, dan aku tahu kalian pasti sudah tahu bagaimana kondisi Maura sekarang Apalagi yang harus aku buktiin kalau aku secinta itu sama Cassandra!" Bujuk Bara.
__ADS_1
" Gak ada, dan gue gak peduli juga sih." Jawab santai Dominiaz yang membuat Bara geram.
" Bar, Cassy sendiri yang tidak ingin bertemu dengan mu." Timpal Teddy.
" Dan kalian menurutinya?" Mereka semua mengangguk, Bara mendengkus sebal.
" Bar, kalau Lo kesepian, gue punya banyak tmwna wanita seksi. Gue kenalin sama Lo." Ujar Samudera.
Bara mendelik kesal pada Samudera." Dengan senang hati gue kasih tahu Kak Hira soal itu." Ucapnya dibarengi seringai culas.
" Ya elah cuma bercanda, Lo anggap serius." Ralat Samudera, mana sudi dia menolong Bara ra jika hubungannya dengan Zahira taruhannya.
" Ck..ck....bulol banget Lo pada." D cak Dominiaz.
" Karma bicara buat Lo, suatu hari Lo bucin sama satu perempuan, gue yang ngetawain Lo paling gede." Cibir Samudera.
" Gue di belakang Lo, bang." Timpal Bara dengan mata kembali memperhatikan layar.
Suasan lantai sembilan yang berangsur santai, sementara ruangan kubah masih menegang mata alfred menatap layar tidak percaya.
" Apa maksud semuanya ini?" Alfred menatap Matunda bertanya.
" Kalain mengcopy rekaman Maslah lalu kalian kalian ingin mengelabuiku, kan. Itu tidak mempan pemuda." Hardik Navarro.
Alfaska lalu melakukan video call pada Aryan," assalamualaikum, Pi."
Aryan yang duduk tidak jauh dari mereka menjawab video tersebut, mata Alfred terbuka lebar.
" Wa'alykumsalam. Kenapa, Fa? Di sana semuanya baik-baik saja kan?" Aryan bertanya khawatir.
" Situ siapa?, P" tanya Tia di belakang Aryan.
" Suami mu."
" Kenapa? Aa Afa baik-baik saja kan?" Tia duduk di samping Aryan menunjukan wajahnya yang diliput kekhawatiran.
" Hallo sayang." Sapa Alfaska.
" Hallo, A. Aa Mumuy, Aa Inu, kak Aniel
Kalian baik kah?"
" Baik, dek." Jawab Mumtaz meski wajahnya tak nampak.
" Ada apa Aa vidcall?"
" Itu si biang kerok bule pengen bukti kalau kalian yang udah bebas sekedar hoax atau fakta."
" Dia ada di sana?" Alfaska mengangguk.
" Hajar dia, A. Celupin ke air kecomberan sekalian."
Alfaska sampai terkekeh-kekeh geli melihat tuat geram Tia yang menurutnya menggemaskan, hanya menurut Alfaska ya!!
" Ya udah dek, Aa tutup ya. Orangnya juga cuma melongo doang."
" Iya, hati-hati sak bule itu ya."
" Pasti."
Klik...
Alfaska menyeringai culas meremehkan," bagaimana? Masih sangsi?"
" Bagai...bagaimana bisa?"
" Kau tidak percaya karena kau menghabiskan waktu untuk memeriksa mereka dari waktu ke waktu,!?" Tutur Mumtaz.
Navarro kembali melihat Matunda minta penjelasan.
" Jangan mencari jawaban pada Matunda, dia tidak tahu menahu apapun soal ini."
" Lantas mereka siapa?"
" Perempuan yang kau tahan?" Navarro mengangguk.
" menurutmu?"....
__ADS_1