
" Uhuk...uhuk..."
Suara batuk itu terdengar nyaring ditengah suasana hening.
Terkejut, pasti. Bahkan mereka semua tersentak dengan suara itu. Semua pasang mata menoleh tertuju pada sumber suara tersebut yang berasal dari bawah.
Uhuk...ukhuk....
Mumtaz terbatuk-batuk kemudian menarik lalu melepaskan napasnya. mencoba membuat ritme napasnya stabil setelah mendapat syok kejut dari sambaran pelu-ru.
Para sahabat masih bergeming dengan tatapan mendung meski telah ada pergerakan dari orang dikelilingi mereka.
" Sampai kapan kalian lihatin gue? Gak ada yang mau nolong apa? Ini sesak banget." Lirih Mumtaz mengendurkan kerah kaosnya.
Semua orang di lantai sembilan masih betah dengan posisi melongo tidak percaya, di satu sisi lain Alfred Navarro terperangah gi.la-gi.laan.
Lantas ia menatap bertanya pada Matunda yang mengatur penyediaan pistol untuknya.
" Sejauh ini kau mengkhianatiku?" Desisnya dengan rahang bergemeletuk, meski tersirat ada luka di sana.
Setelah pengkianatan Mateo yang menurutnya dramatis kini ia kembali dikejutkan dengan pengkhianatan ornag yang paling banyak menolong untuk mewujudkan mimpinya.
" Pelu-ru pistol mu sungguhan Navarro, kau yang payah menggunakannya." Ucap Mumtaz terduduk dibantu Alfaska yang masih menatapnya lekat.
" Dan aku bukan pengkhianat karena sedari awal aku tidak pernah menjadi anak buah mu." Tambah Matunda.
Navarro terdiam mengulas kembali sejarah pertemuan dan kebersamaan mereka dalam ingatannya.
" Navarro, soal interpol atau yang lain bukan hal sulit bagiku menghindari mereka, maksud ku memang tidak mudah mengelabui mereka namun tidak mengharuskan kau menjadi penyelamatku."
" Sebelum bertemu dengan mu, aku sudah menjadi buron, Navarro."
" Tapi aku yang menampung dari jalanan."
" Navarro, dari aki pembo-bolan ku aku menghasilkan banyak uang, dan keluarga ku tidak benar-benar membuangku, adikku mengirimiku uang, aku sejahtera, Navarro."
" Lantas kenapa kau mengikutiku?"
" Sama dengan alasan Mateo mengikutimu."
" Kau tidak pernah berurusan dengan ku."
" Bukan aku, tapi tuan ku yang sesungguhnya, tuan Mumtaz dan tuan Ibnu." jawab Matunda santai tanpa merasa berdarah.
" APA?" kecuali empat sahabat itu semua orang terkejut, terlebih Navarro.
" Dia tuanku. dia yang menyelamatkan ku dari kejaran interpol dan Intel. bukan kau." papar Matunda.
Navarro bagai dipukul Godam yang besar, dia tidak mengira s jauh ini dai lalai.
" KAU MEMATAI-MATAIKU UNTUKNYA?" Bentak Navarro meradang. Matunda menggeleng
" Pikir olehmu, Darimana aku dengan cepat mengetahui rencana mu?" Tutur Mumtaz yang hendak berdiri namun dicegah Ibnu yang memeluknya erat.
Tubuhnya terguncang, Mumtaz dapat merasakan lewat kaosnya yang basah bahwa sahabatnya menangis.
Navarro terlihat bingung terfokus pada Matunda. " Darimu?" Tega sekali...kau...."
" Bukan, Navarro. Saya baru bergabung dengan anda tiga tahun terakhir." Potong Matunda
Navarro kembali bingung, dia kesal dirinya dipermainkan.
Mumtaz mencoba menenangkan Ibnu yang menangis pilu, ia memeluk kembali Ibnu dari sisi dengan satu tangannya.
" It's okay, Nu. I am fine." Bisik Mumtaz.
" Jangan...jangan... lagi...lagi...kau satu-satunya peganganku." Lirih Ibnu tubuhnya gemataran dahsyat.
" Dan aku selalu mendukungmu." ucap Mumtaz menenangakan
__ADS_1
Ibnu melepas pelukannya, ia lalu berdiri, kemudian melangkah lebar menghampiri Navarro seraya berujar," ku habisi kau, tua Bangka."
Ibnu menarik kerah jaket Navarro lalu mencekiknya sampai perban di bagian lehernya berubah berwarna merah darah segar.
Navarro tergagap, pernapasannya tersumbat, Ibnu memaksanya untuk memandangi netranya. Alfred dapat melihat tatapan sorort dingin di sana.
Sementara mumtaz berdiri membuka kancing kemejanya, maka terlihatlah rompi pelu-ru yang dia kenakan, di bagain dadanya terdapat bekasan tancapan pe-luru.
Alfaska memaksa Mumtaz untuk selalu mengenakan rompi anti pe-luru keluaran terbaru Birawa tekno semenjak serbuan Alfred ke gedung RaHasiYa.
" Rompinya lumayan efektif, Niel. thank."
" Anytime, Muy." jawab Daniel haru.
" Ke gue..enggak, Muy." Alfaska pun ingin diberi ucapan.
" Enggak, sumbangsih Lo apa?"
" Lo..." protes Alfaska terpotong
" Kau,..." Navarro sebenarnya bingung mengapa lelaki pendiam dan dinilai pasif menyerangnya.
BUGh...
Ibnu menon-jok sambil mendorong tepat di tulang pipi Navarro hingga lawannya terpental cukup jauh namun cukup dekat dengan sesuatu yang harus dijauhkan darinya.
Saat benda itu berhasil dia raih, segera dia menyembunyikannya.
Kekuatan besar dari tubuh yang terlihat kurus itu cukup mengagetkan Alfred.
" Siapa kau begitu ingin memusuhiku? Aku tidak mengenalmu, kita tidak punya urusan, bocah tengik...cuih..." Navarro meludah yang keluar berwarna merah.
" Kau tidak mengenalku? Kau bilang kau ahli strategi, tapi untuk mengenali musuh saja kau tidak becus. Cuih..." Ibnu balas ludahi Navarro.
Alfred dengan kesusahan bangun dari baringannya, lalu mengesot ke arah benda yang dia butuhkan itu, " Menyingkir kalian, ini permasalahan aku dengan dia, Ibnu." Jari telunjuknya menjurus pada Mumtaz.
" Hahahhahahah... HAHAHAHA...pengen heran, tapi ini Indo-nesia...semua yang mustahil bagi negaramu menjadi mungkin di negara ini..." Cibir Alfaska dengan tampang culas.
" LO YANG DIEM. Mulut, mulut gue. Negara, negara gue. Gedung, gedung gue. Lo yang mingkem." Sentak Alfaska geram.
" Fa..." tegur Daniel malas.
" Dia duluan, lagian dia be-go banget percaya laporan si Toni."
" Atma Madina, apa maksudmu?" Alfred menyerobot bertanya.
" Kau pasti punya riwayat hidup petinggi RaHasiYa, hanya dengan beberapa lembar Lo bertindak konyol."
" Jangan bertele-tele."
" Siapa juga bertele-tele, kenyataannya Lo gob-lok banget itu memang nyata. Alfaska pastilah Atma Madina. Daniel, pastinya Birawa. Mumtaz, pastinya Romli. Dan Ibnu, pastinya...Mahmud." Papar Alfaska jumawa sekaligus menantang dramatis di akhir kata.
Bola mata Navarro membola besar, tatapannya berkali-kali melihat bergantian antara Mumtaz dan Ibnu yang berkahir pada Ibnu.
Navarro menggeleng cepat menolak menerima kenyataan atas kesalahannya.
" Ba....bagaimana bisa..."
" Alfred, saat itu ada dua anak remaja, bukan hanya satu. Kau terlalu terfokus melenyapkan orang tuaku hingga tidak mengingat satu sosok yang berupaya melawanmu saat itu." tutur Ibnu tenang.
Sementara Alfred menerawang ke masa 10 tahun lalu
BUGh....
Begitu santainya Ibnu menendang rahang Navarro, Ibnu membungkuk condong pada Navarro yang berbaring." Kini aku bukan bocah cilik lagi, kini aku siap mengulitimu perlahan-lahan tapi pasti."
" I...ini...tidak mungkin...ini...pasti prank kalian..." Navarro kalut, sebagi tentara pasukan khusus adlah merupakan hal yang memalukan jika urusan mudah dan sepele ini dia keliru.
" Heh, Lo pikir kita lagi bikin konten pake acara prank? Udik bener pikiran Lo." Alfaska marah.
__ADS_1
" ...."
" Hahaha, terima saja sih kalau Lo ternyata gak sekeren yang Lo pikir udah bau tanah juga."
" Fa, biar Inu yang ngurus." Tegur Daniel memijit pelipisnya.
" Mana bisa si Ibnu julid, dia mah sama kayak si Mumuy cuma bisa action, tapi julid kagak becus."
" Laki emang harusnya begitu, Alfaska." Daniel gregetan.
" Tapi....ini....masih tidak mungkin...." Navarro menolak percaya.
" Navarro, aku mampu menyabotase, dan membakar mansionmu di Italia, menculik putrimu tepat dia menginjakan kaki di sini, menjadikan cucu wanitamu pel-cvr bagi Raul padahal aku ada di sini..."
Brang.....
Kubah yang semula bercahayakan terang berubah redup, disusul video dari dinding kaca yang menampilkan Ivanka yang tengah disetu-bvhi paksa oleh Raul.
Perempuan muda cantik itu terlihat menyedihkan dengan wajah tirus dan tidak terurus.
" Yang belum nikah palingkan wajah." Peringatan Alfaska langsung dipatuhi anak RaHasiYa yang melihat itu.
" Tentu memanipulasi hal seperti ini bukan hal sulit bagiku, terlebih aku sudah menargetkan anda dari delapan tahun lalu." Papar Mumtaz dingin.
.
Alfred tertegun, tidak tahu harus bagaimana menanggapi hal yang tidak pernah dia pikirkan.
" Wow, amazing. Ku akui kehebatan kalian. Tapi sayangnya semuanya akan percuma karena sebentar lagi kita semua akan hancur... hahahhahahaha..." Gelak Alfred sombong.
" Dia, kenapa? Stress? Karena habis ditendang Inu?" Memang Alfaska itu bakat alami julidnya terasah baik.
Mendengar ledakan Alfaska, kemarahan Navarro meninggi.
Dengan satu tangan bertumpu pada dinding kaca, dan satu lagi menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya Alfred berdiri.
" Atma Madina, tertawalah...tertawa congaklah kau selagi masih bisa, kerena setelah apa yang ku ungkapkan kau hanya bisa memohon pembebasanmu padaku." Desis Navarro mengancam.
" Lo yang nyuruh gue ketawa, kok gue jadi males ketawa ya. Gak ada yang lucu juga lagi." Alfaska berhasil memancing emosi Navarro menanjak tajam.
" Ledek saya, cemooh saya, karena sebentar lagi negara ini menjadi milikku. HAHHAHAHAHA...."
Hampir seluruh dinding kaca kini menampilkan markas persenjataan rudalnya yang semuanya berjumlah 15 dilima belas provinsi besar Indonesia yang menghadap pada Kalimantan dan Jakarta.
" Bagaimana jika ku lepaskan rudal itu dan meledak di dua tempat itu? Nama Indo-nesia akan punah, dan berganti kekaisaran Romawi,...hahahhaha..."
" Apa-apaan ini?" Semua orang yang di lantai sembilan bertanya marah.
" Khehehhehe..." kekehan Mumtaz kini mengalihkan perhatian mereka padanya.
" Kau merasa hebat hanya karena ini? perhatikan siapa yang menguasai persenjataan milikmu.
Gambar itu diperbesar, dan terfokus. orang yang berdiri di depan mesin peluncuran rudal bukanlah orang asing, tetapi orang-orang khas negeri 62 ini. tidak hanya dalam satu markas, tetapi di seluruh markas penyimpanan sen-jatanya.
Navarro kembali terpukul kenyataan, ia menatap dengan sorot lain ada Mumtaz.
" KAU...lagi-lagi kau menyabotaseku...bagaimana bisa? tidak mungkin Mateo atau Matunda...."
" Kau benar, bukan keduanya. Navarro, aku mengetahui tentangmu tujuh tahun yang lalu, sejak saat itu aku memerhatikan mu, mempelajari tentang mu, mengikutimu, mencari celah m jalan mendekati mu, namun tidak berhasil sampai kau menjadikan Sivia wanita kesayangan mu."
Kali ini hentikan napas Navarro sangat kentara, berbarneagn dengan tatapan semua orang yang di lantai sembilan pada Sivia yang berdiri di di samping Diego yang ketakutan.
" Demi tuhan, saya tidak tahu apapun...dia hanya teman baik papa Eric, saya tidak tahu menahu tentang rencana apa Alfred." cicit Sivia mengkerut di rangkulan ayahnya.
" Kapan? dimana?" Navarro penasaran.
" Lima tahun yang lalu setelah dia gagal merayu om Hito agr kembali padanya. sebelum dia berangkat ke Italia dan tinggal di mansion mu, Alfaska menaruh chip di kepalanya.
Sivia terhenyak," jadi itu penyebab aku sering sakit kepalanya."
__ADS_1
" Ditambah nyonya Guadalupe yang sering berkomunikasi dengan mu menggunakan jalan yang sama, Alfaska menanam chip dalam tubuhnya."
Informasi ini mempu memukul mental Alfred," Alfred, segala kelemahan dan kelebihanmu telah ku ketahui. kau tidak ada jalan keluar untuk lolos. negri baru impianmu tinggal khayalan...."