
Mumtaz selepas kuliah langsung menuju gedung RaHasiYa karena mendapat laporan dari Jarud bahwa ia menemukan pergerakan militer asing di tempat yang tidak ada dalam peta yang ditunjukan Mumtaz.
Sesampainya di gedung ia langsung sibuk dengan komputernya, ia bersama Ibnu sedang berkomunikasi dengan Matunda sambil sesekali mengamati pergerakan Jarud dan kawan-kawan yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, dari satu hutan ke hutan yang lain.
Satu bulan telah lewat sejak kejadian dia cafe, Mumtaz dan Ibnu berprilaku biasa pada Daniel dan Alfaska selama itu berkaitan dengan RaHasiYa.
Perbedaan yang mencolok adalah tidak ada lagi informasi mengenai Navarro maupun yang lain yang tidak ada kaitannya dengan mereka berdua. Mumtaz dan Ibnu benar-benar tutup mulut.
Untuk tahu perkembangan kasus keduanya memantau langsung pembuatan beberapa face off pesanan dari dua sahabatnya itu yang proyeknya dipimpin oleh Adgar dan Alex.
Mumtaz menolak tegas saat Alfaska mengajukan diri memimpin proyek ini.
" Puas Lo sekarang kita enggak dianggap?" Oceh Alfaska.
Kini keduanya berkumpul di ruang kerja Daniel di lantai enam dengan mata tertuju pada layar lebar melihat pergerakan Jarud dan tim gabungan TNI-Polri.
" Ck, sampai akan Lo nyalahin gue?"
" Emang ada yang harus gue salahin selain elo?"
" Gak ada, semuanya salah gue." pasrah Daniel sambil cemberut.
Tring....
Notifikasi pesan di ponsel Mumtaz yang ternyata dari Zayin. Ia meminta Mumtaz mengawasi wilayah rapat karena ia melihat orang yang tidak dikenal disekitaran lokasi.
20 menit waktu yang dibutuhkan untuk menemukan hal yang janggal, ia mengirim gambar ke ponsel Zayin.
" Nu, cari identitas tiga orang berperawakan Asia yang gue kirim ke email Lo, gue udah cari di database TNI semua Angkatan, mereka tidak termasuk di ketiganya." Seru Mumtaz dari meja kerja kebesarannya.
" Siap, sahut Ibnu yang duduk di sofa.
" Muy, ini terlalu beresiko. ada presid3n dan pejabat lain." ucap Ibnu saat melihat lh perintah Mumtaz pada Matunda.
" Ini kesempatan baik, bala bantuan Navarro terlatih."
" Mereka pemberontak dari Fili-pina yang tengah melawan kebijakan presid3n yang bersikap agresif terhadap pelaku penyebaran narkoba dan ilegal logging.
" Gue akan arahkan mereka ke markas, dan meminta Zayin dan temannya untuk bersiaga.
\*\*\*\*
Sementara di seberang Matunda melakukan sesuai perintah Mumtaz.
" Tuan, R1 1 terdeteksi rapat di markas salah satu pasukan elit. tempatnya lumayan terbuka. sekitarnya perairan hal yang menjadi unggulan teman kita." ujar Matunda.
" Ini kesempatan kita, kirim pasukan ke sana."
" Tuan, sebaiknya jangan. pasukan ini lebih unggul dari mereka."
" Mungkin, tapi mereka tidak siaga, kita bisa memukvl mundur dengan segera. kita kuasai daerah darat di sekitarannya hingga mereka tidak bisa lari. laksanakan."
" Siap."
" Untuk pertama kalinya Valentino melakukan hal yang sesuai keinginanku."
" Tuan, mereka sedang mencari posisi anda."
" Jangan sampai mereka menemukannya, biarkan kita yang akan mengejutkan mereka. tidak lama lagi." gumam Navarro menyeringai.
\*\*\*\*\*\*
Rapat kali ini dilaksanakan di markas salah satu pasukan elit angkatan laut yang dekat dengan perairan bagian timur Jakarta.
Rapat yang dihadiri presiden, panglima TNI, Kapolri, sekretaris negara, Menkopolhukam, menteri pertahanan, dan tim gabungan TNI-polri telah berjalan selama satu jam. Selama satu jam itu Zayin dengan bosan mendengarkan Arif menjelaskan kronologis dari awal sampai perkembangan terakhir upaya pembvnvhan Ergi, dan pelarian Toni, serta buronnya ketu4, Mulyadi, dan Andre yang mencoreng dua lembaga negara. Belum lagi buronnya Eric Gonzalez dan Bram Brotosedjo menambah tinta hitam instansi Arif.
Rapat ini akan memutuskan langkah politik selanjutnya negara ini dengan Italia.
Gerak-gerik bosan Zayin terpantau oleh presid3n, meski Zayin menunjukan gestur tegap dan siaga. Alih-alih mendengarkan penuturan Arif, Zayin lebih memilih sibuk dengan ponselnya.
Setiap harinya meme dua lembaga ini memenuhi medsos negeri ini, dan selalu menjadi vital. Sungguh mereka bagai badut dalam pakaian formal mereka.
Saat ini Arif tengah menjelaskan akan membuka kasus kebakaran rumah yang disinyalir sengaja dibakar guna menutup mulut sang korban.
" Satu-satunya tersangka yang ada dari sekian tersangka hanya Toni. Mulyadi, Andre, ketu4, Eric Gonzalez, Bram Brotosedjo semuanya masih buron. Hal ini yang memicu amarah rakyat, dan memandang skeptis upaya kami." Terang Arif.
" Yang ingin saya ketahui apa korelasi antara kasus 10 tahun lalu dengan Toni, bukankah dia saat ini statusnya sebagai tersangka pemasok senjata dan narkoba ilegal?" Tanya presid3n.
" Dia terlibat terjadinya pembakaran tersebut." Ujar Zayin tiba-tiba.
Zayin maju, ke papan tulis. Ia membuat Bagan berpusat pada Surga Duniawi terus Aloya, dibawah Aloya membaut dua line, line kiri Brotosedjo, line kanan Eric Gonzalez. Di kedua line itu ditemukan dengan nama Navarro, Toni, Parmadi, ketua. Sejajar dengan Navarro adalah bea-cukai ( internasional). Dibawah Toni ada Andre, dan lain-lain. Sedangkan dibawah ketu4 ada Mulyadi. Pada bea-cvkai ada nama Parmadi, ketu4, dan Toni.
" Secara garis besar Pak Mahmud Ym yang saat itu menjadi petugas bea-cvk4i menolak berkali-kali ekspor-impor Indonesia- Italia Atas nama Navarro. Meski sudah diomongin hadiah, uang berupa dollar. Beliau menolak.
" Singkat cerita Navarro bekerjasama dengan Toni, Ketu4, mendesak pak Parmadi yang saat itu atasan pak Mahmud membungkam pak Mahmud dengan membuat skenario pak Mahmud mendapat sogokan, pelicin, gratifikasi, apapun namanya yang menunjukan beliau korupsi hingga meloloskan impor bumbu dapur, furnitur, otomotif yang ternyata berupa narkoba, senjata ilegal, dan yang lainnya menggunakan tanda tangan palsu beliau.
" Pak Mahmud yang mengetahui skenario tersebut meminta bantuan pada LPSK untuk melaporkan adanya pemalsuan, namun disayang rencana itu terdengar ke telinga ketu4, dan Toni. Minus Parmadi mereka bersama-sama membakar rumah pak mahmud dimana pak Mahmud dan istri di dalamnya." Ucao Zayin dengan menahan emosi amarah.
" Itu garis besarnya, detilnya ada dalam dokumen dihadapan para bapak."
" Setelah pak Mahmud meninggal import-export itu berjalan lancar sampai satu tahun terakhir. Dimana kami angkatan laut dibawah gabung pasukan elit menggagalkan berkali-kali upaya import-export pasokan tersebut. Dalam kurun waktu 10 tahun bisnis mereka merambah ke dunia prostitusi Melalui Surga Duniawi mereka memasok para wanita dan lelaki untuk dijual-belikan di dunia prostitusi tersebut."
" Kenapa ini ada di dokumen TNI, bukankah seharusnya ini tugas bagian kepo-lisi4n?" Sindir presid3n.
Zayin menatap malas presid3n, panglim4 yang melihat mimik itu, tersenyum kecil.
" Serius bapak nanya hal yang gak penting itu? Akan aneh kalau laporan itu dari sekretaris negara. Ini kita masih berkesinambungan loh pak.apa bapak mencoba mengalihkan pembahasan karena anggota partai andalah yang paling banyak tertangkap sebagai pelanggan Surga Duniawi, dan pencicip para perempuan itu sebelum diekspor." Tuding Zayin langsung.
" Pak Zayin." Tegur sekretaris.
" Berhenti menegur saya, dan berhenti bersikap konyol. Kita tidak punya banyak waktu, negara ini terancam, dan anda meributkan di dokumen siapa laporan itu tercantum? Di keduanya dengan versi masing-masing." Tekan Zayin.
Ruang rapat sunyi kala nada tinggi Zayin memenuhi ruangan.
__ADS_1
" KAU..." sang sekretaris berdiri marah yang langsung dicegah presid3n.
" Apa kau berani berkata demikian karena kau adik dari petinggi RaHasiYa?" Presid3n langsung mengenai titik vital emosi Zayin.
Beliau menyandarkan tubuhnya ke sandaran, sambil satu tangan mengetuk-ngetuk meja, mengamati raut Zayin yang terkenal sulit dipancing emosinya jika sedang dalam mode prajurit.
Zayin manggut-manggut." Kalian sudah tahu hal itu, baguslah. Itu berarti di atas meja anda sudah ada riwayat hidup dan karir saya."
Mata Zayin berubah tajam, gestur culas menghiasi seringai bibir tipisnya." apa anda pikir prestasi yang saya dapatkan karena saya adik petinggi RaHasiYa? Kemampuan TNI, bukan dinamika politik, dimana cukup menjadi putra presid3n sang anak yang semula pebisnis biasa yang tidak minat pada dunia politik menjadi pol1tis1 dan memegang jabatan." Serang balik Zayin penuh kesinisan.
Wajah santai presid3n berubah menjadi tegang, Zayin masa bodo. Ia lempar spidol ke tengah meja rapat. Cukup membuat kaget seluruh peserta rapat, kecuali panglim4.
" Polri dan TNI bekerja siang dan malam mengumpulkan bukti, kalian hanya perlu membaca, dan menerima karena kami menyertakan bukti-bukti yang konkrit dan valid. Bukan untuk disanggah, karena kalian tidak terlalu pintar untuk itu." Oceh Zayin menatap langsung presid3n.
Menopang kedua tangannya ke atas meja dengan tubuh sedikit maju." Saya bukan tidak mau meladeni cara *childish* kalian, tapi satu hal yang lolos dari pengamatan kalian, Navarro seorang mantan prajurit terlatih, apapun bisa terjadi melebihi pemikiran kalian." Ucap Zayin malas.
" Dimana dia berada?" Tanya presid3n.
" Di negeri ini. Tidak ada yang tahu tepatnya dimana. Pak, mending baca dulu laporan kami baru kita adakan rapat kembali. Anda punya banyak staf, sedangkan kami terbatas. Kalau kami harus menerangkan apa yang kami ketik, sumpah. kerja double gaji satu. Males." Lagi, tingkah Zayin membuat semuanya yang hadir melongo mendengar ucapan Zayin yang tidak ada tatakramanya sama sekali. Kecuali panglim4.
" Apa kau tidak menyukai ku?" Tanya persid3n.
Zayin menghampiri presid3n, Paspampr3s langsung bereaksi mendekat yang menurut Zayin berlebihan. Presid3n dapat melihat seringai meng0lok dari Zayin, lewat matanya presid3n memberi kode untuk mereka menjauh, Paspampr3s pun mundur menjauh.
" Saya tidak tahu apa masalah anda dengan saya, tapi kalau anda berani menghadapi saya *one by one*. Lepaskan pin jabatan anda, dan saya lepas seragam saya." Tantang Zayin.
" Kau tinggal jawab, jangan banyak tingkah." Sela sekretaris.
" Ulangi pertanyaannya."
" Apa kau tidak menyukai saya?"
" Sebagai apa?"
" Entahlah."
" Secara pribadi, saya tidak peduli bentukan anda seperti apa. Sebagai presid3n, dan saya tentara. Saya kecewa. Mengingat kasus ini telah berlangsung selama 10 tahun, sedangkan anda sudah dua periode terhitung delapan tahun. Berarti Navarro dan kawan-kawan bertindak pidana bersama rekan di dalam negeri ini sudah hampir selama anda menjabat. Selaku NO 1 di negeri ini, anda gagal." Ucapnya menekan tajam.
" 10 tahun yang lalu ketu4 hanya politis biasa, Mulyadi politisi junior. Mereka berdua dari partai anda. Hampir mustahil kalau anda tidak pernah mendengar *treck record* mereka berdua, bukankah politik itu *team work*?"
" Apa kau menuduh saya?"
" Apa hipotesa saya tepat?"
Zayin dan presid3n saling tatap menguji nyali mental emosi lawan.
" Anda pasti paham selaku no1 otomatis saya panglima besar TN1, saya bisa saja memecat anda."
" Karena? Saya hanya menjawab pertanyaan anda. Sebagai warganegara saya punya hak jawab. Sebagai tentara, anda tahu saya *clean*, Bersih. Sebersih cucian menggunakan pemutih."
" Dan hanya itu modal kalian mengurus negeri ini. Sedangkan saya, baik dengan lencana atau tidak, saya akan tetap mengatakan apa yang barusan saya ucapkan.
" kapan saya tidak memenuhi tugas saya selaku bawahan beliau. Saya yang benci rapat ala kalian yang lambat kayak bebek saja saya hadiri, karena profesionalisme saya."
" Anda..."
" *To the point*, kemana ujung pembicaraan ini, apa anda ingin menyingkirkan saya? Sebagai apa? Tim dalam kasus ini? Karena detilnya kami membuat laporan?.
" Sebagai tent4ra, karena berani mengutarakan pendapat? Dipecat karena ucapan saya tepat, ingat TN1 selalu bersama rakyat, pun sebaliknya. Nada memecat saya yang banyak penggemar hanya karena kelugasan saya berpendapat. asli pake Shad. anda akan menjadi bulanan metizen selanjutnya."
Oresid3n melirik panglim4 yang mengangguk pelan.
" Sebagai warganegara yang mencintai negara ini, tapi si4lnya negara ini diurus oleh orang tidak terlalu mencintainya sesuai ideologinya. Jelas anda tidak bisa melakukan itu."
" Sebagai apa anda menggertak memecat saya? Apa telihat di mata saya, saya takut dicopot? Tidak bukan? Karena memang saya tidak takut." Ucapnya tegas.
" Karena kau adiknya petinggi RaHasiYa?" Tuding sekret4ris kesal.
" Hahahaha,..kalau saya adiknya petinggi RaHasiYa memang kenapa? Kalian takut sama mereka? Atau kalian takut sama saya?" Balik serang Zayin meremehkan.
" Sadar kalau negara ini bukan milik kalian? tingkah sangat khas masyarakat negeri ini, kalah debat, kembali ke persoalan pertama.
" Kalah argumen, kembali ke persoalan pertama.
" Saya menyandang sarjana matematika, kalian selaku politikvs pasti mengambil ilmu sosial, tapi kalah telak dengan orang yang eksakta. Satu setengah jam kita rapat, hasilnya apa? *None* itu semua karena kalian yang bolak balik pertanyaan yang sama. Mending kita melakukan tugas sesuai *desk* *job* masing-masing. Kami melakukan tugas kami mengamankan negara, kalian pastikan negara ini berjalan sesuai ideologinya."
" Saya tidak punya alasan untuk takut pada kalian, selama kalian saat meninggalkan nanti dikafankan atau di petikan, ditandu dalam keranda oleh orang-orang ke lokasi kuburan, diangkut oleh orang lain ke liang lahat. Bagi saya kalian B saja.
" Kecuali kalian meninggal, kalian mengkafankan diri sendiri, jalan sendiri ke kuburan, turun sendiri ke liang lahat, mengurug sendiri tanah kuburan kalian baru saya menciut dihadapan kalian. Jadi jangan banyak laga di depan kami. Kita sama-sama digaji dari hasil keringat rakyat. Saling *respect, down to earth. Its better for us*." Oceh Zayin panjang lebar membalikan perkataan sekret4ris.
" Catat ini, jika anda tidak ingin gugur terlebih dahulu di ujung masa jabatan anda, posisi saya yang satu baris dengan anda adalah yang terbaik, anda pasti tahu RaHasiYa bisa sangat agresif, kelembutan mereka dalam bertindak saat ini karena ada saya. Ingat itu." Tukasnya pada semua audiens.
" Apa rapat ini masih berlanjut?" Sarkasnya santai.
"Selesai." Ucap presid3n.
" Kalau begitu permisi, saya sibuk." Zayin melenggang santai keluar tadi ruangan.
Saat pintu ditutup Zayin mendapat pesan dari kakaknya. berdasarkan pesan tersebut. dia mendapat identitas 15 orang yang tersebar di depan markas dan 5 orang menyamar berhasil masuk.
Tabletnya berhasil menemukan posisi mereka semuanya, bersembunyi di salah satu ruangan yang tidak jauh dari ruang rapat, melalui nomor khusus Zayin menghubungi pasukan beserta detil informasi lawan.
" *Show time baby face*." ujar lawan bicara.
__ADS_1
" Siap." seru Zayin.
" *Tunggu tujuh personil ke tempat kamu*." lanjutnya.
" Siap."
Tidak lama enam pria berseragam dan satu pria berpakaian kemeja putih celana bahan hitam mendekati tempat persembunyiannya.
" *Diluar*, clear. para tersangka berhasil diringkus. thanks bro atas infonya." Seru sang pemimpin pasukan.
" traktirkan cimolnya boleh lah." Zayin terkekeh mencairkan suasana.
" Kau yang mimpin di dalam." seru pemimpin pasukan pada Zayin, yang diangguki Zayin. Dengan aba-aba pria tadi, pasukan bertopeng tengkorak masuk ruang rapat.
Kini seluruh mata menatap panglim4, dan KSAL.
" Dia satu-satunya prajurit rebutan pasukan elit AL. Di tahun kelimanya di angkatan dipastikan dia lolos seleksi peserta pelatihan anggota yontaifibi. IQ, diatas 185. dua kakaknya lebih tinggi dari itu. Dibesarkan dengan ayah seorang guru agama, ibu seorang putri dari keluarga kiyai besar di Banten yang berpendidikan S1 hukum. Debat bukan hal baru baginya. Setiap anak dikeluarga itu diwajibkan memiliki kemampuan membaca kitab kuning atau salafi. Selanjutnya baca sendiri di resumenya." ucap panglim4 yang disetujui KSAL.
" Pantesan tidak gentar pada jabatan, dia senagja titisan ulama dan jawara. perpaduan sempurna menjadi sosok percaya diri dan teguh pendirian." Gumam menteri pertahanan.
Brak....
Pintu dibuka paksa, mereka terkaget Zayin kembali masuk dengan raut tegang dengan langkah lebar menghampiri presid3n.
Ia melepas jas dan dasi presid3n, lalu satu orang berperawakan seperti presid3n dan beberapa orang berseragam pasukan elit masuk.
Paspampr3s langsung mengelilingi presid3n dan menutup akses presid3n dengan pagar manusia.
" Ada apa?" Tanya menteri Menkopolhukam khawatir.
" Ada penyusup. Mereka mengikuti anda lewat pin anda yang ditempeli GPS." ujar Zayin yang memberikan jas dan dasi presid3n pada orang berpakaian formal tersebut yang memperlihatkan alat kecil berbentuk bulat dibalik pin.
Zayin melepas seluruh pakaian seragamnya, dan dikenakan pada presid3n atas bantuan Paspampr3s. " Maaf, ini mepet. Seragam ini saya pastikan aman." Ucap Zayin yang kini hanya mengenakan kaos oblong hitam dan boxer. Bahkan sepatunya pun dipinjamkan pada presid3n.
" Amankan Garuda, bawa lewat jalan rahasia." Ujarnya pada Paspampr3s.
Paspampr3s beserta empat orang pasukan elit mengawal kepergian para pejabat tersebut.
Dua pasukan elit sisa langsung memposisikan diri di masing-masing tempat strategis.
" Zayin." Panggil presid3n diambang pintu belakang.
" Siap. Jendral." Zayin bersikap Tegal
" Terima kasih." Ucapnya haru mengingat hitungan waktu lalu mereka bersitegang.
" Siap, sudah tugas kami." Kemudian presid3n dan pejabat lain menghilang dibalik pintu belakang dibalik rak buku yang ada di ruangan bertepatan dengan pintu yang didobrak dari luar.
" Angkat tangan." titah sang pemimpin mereka yang mengenakan seragam hampir mirip dengan pasukan elit, Bedanya masker hitam mereka polos
Sang lawan bergerak ke dalam ruangan m dengan senjata di tangan mereka yang mengarah pada mereka berdua.
Sang penyamar presid3n yang duduk di kursi dengan posisi memunggungi mereka, dan Zayin yang berdiri disampingnya mengangkat tangan.
" Tangan dibalik kepala, lalu memutarlah."
" Presid3n sedang terluka, beliau butuh bantuan untuk berbalik." Ucap Zayin berteriak.
Suara keras Zayin mengagetkan mereka yang berhasil mengendurkan sikap waspada mereka.
Tidak membuang waktu Zayin berbalik, seiring gerakan berbalik Zayin dengan gerakan cepat ia melorotkan boxernya. tampak *miliknya* yang tertidur dipertontonkan pada mereka yang terperangah mematung tidak menyangka.
Reaksi terkejut mereka dimanfaatkan rekan Zayin yang bersembunyi dibalik pintu untuk menyerang dari belakang, dibantu penyamar presid3n dan Zayin mereka membekuk lawan dalam gerakan taktis cepat.
" Baby, apa tidak ada cara lain." sungut sang pemimpin.
" Supaya cepat aja sih." Abang gak lihat kan, Eneng malu, bang." rengek Zayin yang mendapat reaksi menggeleng dari yang lain.
" *Done*. bawa ke tempat interogasi."
" Siap." seru anak buahnya.
" Baby, pake kembali boxernya."
" Santai sih, yang penting semvak terpasang, jadi 'burung' gak terbang." Seloroh Zayin.
\*\*\*\*\*\*
Di gedung RaHasiYa, Mumtaz dan Ibnu melihat semua aksi itu dengan wajah malas.
" Muy, kayaknya si Ayin kudu mandi air kembang supaya sikap semau dirinya berkurang." ujar Ibnu terkekeh.
" Yang ada kembangnya pura-pura layu ogah dipake."
" Hahahaha... sawan mereka."
\*\*\*\*\*\*
" Tuan, mereka gagal." informasi Matunda disikapi santai oleh Navarro.
" Biarkan saja, saya menumbalkan mereka. selagi mereka sibuk menginterogasi penyusup kita luncurkan satu roket di salah satu kepulauan seribu. hubungkan saya dengan pasukan di pulau itu."
" Siap."
Navarro dengan bersemangat memerintah pasukannya meluncurkan roket. roket tersebut meluncur melewati beberapa pulau dan jatuh dilautan dengan suara dentuman keras.
__ADS_1
BHOOMMM.....