Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
251. Kondisi Sesungguhnya Mumtaz.


__ADS_3

" Prof..prof..." seorang staff administrasi berlari mengejar Zahra yang tengah berjalan ke arah parkiran bersama Hito.


" Peof...prof..zahra..." Staff tersebut berlari sekencang mungkin saat Zahra hendak membuka pintu mobil Hito dia berbalik pada staff yang bernapas ngos-ngosan.


" Ya, kenapa?"


" Maaf, mengganggu anda tapi ada panggilan darurat dari prof Farhan mengenai tuan Mumtaz.


" Maaf, kamu pulang duluan.," ucap Zahra pada Hito yang langsung berbalik berlari masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Dia segera memasuki lift yang sudah disediakan untuknya yang ditunggui oleh seorang keamanan di belakanganya Hito membuntuti.


" Kok gak pulang?" kaget Zahra mendapati Hito masih berada di sana.


" Mana bisa aku pulang dalam keadaan Mumtaz begini." mata Hito meliirk pada tangan Zahra yang saling mentaut.


Hito mengambil satu tangan, ia genggam dan ia elus." Tenang, di sana pasti juga ada Zahira."


Zahra mengangguk, " ia aku tahu mereka pasti melakukan yang terbaik, tapi tetap saja ini berbeda jika yang terjadi dengan pasien adalah keluarga." gugup Zahra.


Melirik pada petugas sesaat, Hito menarik Zahra dalam pelukannya, petugas tersebut langsung berpaling dan menunduk," Relax, kita berusaha tapi tuhan yang menakdirkan. Usaha tidak mengkhianati hasil."


Zahra memasuki kamar ICU setelah berganti pakaian, di depan sana telah banyak orang berkumpul mencemaskan Zahra.


" Kak, tadi Mumuy tiba-tiba demam tinggi terus pingsan." ucap Ibnu dengan suara bergetar, airmatanya sudah banyak membasahi wajahnya gurat cemas tercetak jelas di sana, Ibnu dalam keadaan memprihatinkan.


" Relax, Nu. biar kakak periksa. kalian istirahat dahulu toh tidak ada yang bisa kalian lakukan." ujar Zahra pada orang-orang yang berkumpul, namun hanya ditanggapi diam.


" Kakak, masuk dulu setiap detik waktu berharga untuk pasien." Radit yang membaca kode Zahra tergesa-gesa membawa Ibnu menjauh untuk menenangkannya.


Di dalam sudah ada Farhan, Zahira dan beberapa dokter lain yang tengah memeriksa Mumtaz satu diantaranya adalah psikiater yang selama ini Zahra tugasi untuk memperbaiki kejiwaan Mumtaz tanpa sepengetahuan mereka, mereka menoleh ketika Zahra memasuki ruangan dengan raut cemas yang coba dia tutupi.


Zahra melihat beberapa alat di sekeliling Mumtaz, ia merutuk keadaan yang kembali membuatnya khawatir berkelanjutan.


" Semuanya sudah stabil, masa bahayanya lewat, dia kembali tidur." ucap Farhan.


Bukaan tidak mempercayai diagnosis Farhan dan dokter sejawat namun Zahra kembali memeriksa detil Mumtaz.


" Ra, kita ke ruangan kepala rumah sakit sekarang. kita harus menentukan langkah selanjutnya." Zahira menepuk pundak Zahra yang bergetar di balik pakaiannya.


Zahra terduduk lemas di samping brankar, di sana ia menangis, tidka bersuara namun tampak dari tubuhnya yang bergetar.


Para dokter keluar menyisakan Farhan dan Zahira." Ra, bisa berjalan?" tanya Farhan.


Zahra mengangguk, ia mengusap pipinya menghilangkan bekas airmatanya saat mereka keluar dokter lain tengah menerangkan pada semuanya yang menunggu. Sedangkan Zahra langsung melangkah ke lift menuju ruang kerja kepal rumah sakit.


Di sana ada Bara, Hito, dan Gama selaku pemilik rumah sakit bersama dokter yang tadi memeriksa Mumtaz.


" Dari kesimpulan tadi maka kami memutuskan akan mengisolasi pasien, hanya para dokter yang bisa masuk ke kamar pasien sampai pasien dinyatakan sembuh." ucap Farhan.


" Hal ini didukung selain dari hasil medis tetapi juga dari pemeriksaan psikologi. dari segi psikologisnya lah yang mengkhawatirkan yang akhirnya berdampak pada penurunan kestabilan kesehatan pasien." lanjut kepala rumah sakit.


" Apa pasien akan tetap di ICU?" tanya Bara.


" Tidak, kami akan memindahkan beliau begitu kondisi membaik, tatapi tetap saja pengunjung dibatasi jumlah dan waktunya." jawab Farhan.


Mereka mengangguk, " Terim kasih atas kesigapan kalian dalam mengatasi masalah ini." ucap Gama.


" Sudah tugas kami, kau begitu kami permisi."


Mereka berempat kini berada dir uang kerja Bara yang dipenuhi anak RaHasiYa dan keluarga.


"Secara umum, kondisi Mumtaz saat ini stabil, namun sewaktu-waktu bisa berubah. hal ini tergantung pada psikis Mumtaz."


" Psikis? maksud kakak?" tanya Alfaska cemas.


" Ada satu hal yang kalian tidak tahu, jika selama ini perawatan Mumtaz dibarengi dengan psikiater." Ucap Zahra.


Mereka terperangah kaget, gura was-was menghantui mereka.


" Dia sadar demi Ibnu, dia ingin memastikan segalanya berjalan lancar, namun raganya tidak mampu bertahan bagaimana pind ia baru melewati operasi panjang dan langsung disuguhi permalasahan serius itu bukan keadaan yang ideal baginya."


" Bisa Zahra rasakan rasa bersalah dari mereka semua terutama Ibnu yang merasa lain.


" Kalian jangan menyalahkan diri, itu tidak berguna, kesalahan terbesar di Mumtaz sendiri yang memaksakan sendiri yang terlalu memporsir dirinya."


" Nu, kamu pasti tahu sampai detik terakhir sebelum kejadian yang dipikirkannya hanya memastikan kamu baik-baik saja, hal ini terlihat dari obrolan pengunjung terakhir yaitu bapak Agung dan bapak Janu.


" Kita pasti bisa melakukan ini dengan cepat, agar Mumtaz tidak memiliki kecemasan berlarut-larut."


" Sejak kapan Mumtaz diawasi psikiater?" tanya Teddy.


" Sejak dia menangani Navarro, aku melihat gelagat Mumtaz yang berbeda persis dulu saat dia memutuskan akan membalas dendam pada orang-orang yang menyakiti kalian." ucap Zahra melihat bergantian Daniel, Alfaska, Bara, dan Ibnu.


" Maksudnya?" daniel dan yang lain bingung, mereka sama sekali tidak memahami keadaan.


" Kalian cermati pembalasan terhadap mereka jelas dilakuan secara taktis dan terarah. dimulai dari Rudi Aloya..."


" Itu murni insiden Tia, Mumtaz sendiri terlihat terguncang saat itu."


" Mengenai tragedi Tia memang dia tidak tahu sama sekali, Zayin dan Tia jelas pandia menyembunyikannya." sindir Zahra pada kedua adik kembarnya.


" ... tetapi target selanjutnya, dari Bram brotosejo, Pramono, Alexander dan yang lain. menghabisi mereka secara menyeluruh dalam kurun waktu satu tahun, itu terkesan mustahil, mereka jelas bukan orang sembarangan maksud kakak, mereka memiliki circle penguasa, tapi lihatlah dimana ketua dan Andre?"


" Mereka terlalu mudah ditaklukkan, para politisi negeri ini tidak akan diam jika diberi waktu dan ruang untuk melawan mereka terlalu jahat hingga tidak memiliki rasa malu untuk merasa bersalah."


" Tapi mereka memang terlalu nyata untuk berkelit." tutur Bara.


" Dan sejak akan mereka tidak punya alasan sebagai pembenarannya?" sinis Zahra.


" Kalu untuk memberangus Navarro, sosoknya yang berpengaruh di Eropa dan Amerika bukan hal sulit baginya menghancurkan Navarro ketika Gaunzaga dan pemerintah Italia siap membantu, tapi dia memilih memutar dan bermanuver. selain perkara Tante Sandra, nyonya Sri dan penculikan kakak semua target jatuh sesuai keinginannya, bahkan termasuk Maura, dia sudah mengantisipasinya." Zahra menatap Bara yang tertegun kaget.


Tapi dia tetaplah remaja dengan mental yang tidak kuat melihat fakta mengerikan di depannya, dia tumbuh dengan pemikiran diluar kewajaran usianya yang lamanya lain akan merusak jiwanya, untuk itulah mengapa kakak selalu tidak bisa menjauh darinya Bahakan ketika kakak di Jerman, kakak selalu mengirim Zahira dan Zivara untuk mengawasinya yang hasil observasi mereka dilaporkan pada dokter yang kakak tugasi."


" Bagaimana kakak mengetahui semuanya?" tanya Jeno.


"Kalian memberi akses penuh kakak untuk masuk RaHasiYa, dari situ kakak tahu. jangan tanya siap orang yang kakak tugasi, kakak tidak akan menjawabnya." potong Zahra saat Alfaska akan membuka mulut.


" Sekarang tubuh kurus itu ternyata sudah diambang batas kemampuannya bertahan, makanya dia drop. satu-satunya obat yang mujarab baginya adalah Ibnu berdiri tegak maju demi mendapatkan haknya. sebagai kakak Mumtaz ingin kalian para adiknya percaya diri jika kalian itu kuat dan merasa dicintai. bisakah kalian lakukan itu untuknya sebagaimana dia melakukan itu untuk kalian selama ini?"


Semuanya diam menunduk, dalam kepala mereka masing-masing berputar kisah mereka dan Mumtaz.


Diantara mereka Ibnu lah yang paling syok, dia bahkan tertunduk dengan menjumput rambutnya.


Di ruang kerja Mumtaz, petinggi RaHasiYa beserta para sahabat menonton rekaman cctv pertemuan Mumtaz dengan Agung dan Janu.


" Khas Mumtaz, bekerja tak kasat mata, namun hasilnya sangat terlihat. begitu totalitas bukan?" sayu Alfaska.


Ibnu dalam diamnya mengepalkan tangan hingga memutih, ekor matanya melirik Zayin yang menyaksikan tanpa ekspresi.


" Yin, kalau Lo mau marah ke kita keluarkan, kita paham di sini Lo yang paling terluka." Seru Bara.


Memang kalian bisa menahan ton-jokan gue? pengennya saat ini gue ke mabes Brimob dimana Toni ditahan, tapi gue sadar harus bang Inu yang menuntaskannya, kalau kalian tidak mampu, biar cara gue yang bicara itu pun kalau kalian tidak memperdulikan gue dan hidup gue." sindir Zayin tajam menatap Ibnu terang-terangan.

__ADS_1


Sisilia tengah mengelus kening Mumtaz dalam damainya," kak, coba kakak berbagi beban padaku sedikit saja, kak. sedikiiittt saja. buat aku jadi berguna untuk kakak.


"Terkadang kita harus punya mulut bocor untuk meringankan beban pikiran, kak. percaya deh. di sini kakak pasti sakit. tapi bukan karena tembakan." tunjuk Sisilia pada dada Mumtaz.


"Di sini juga pasti mumet bukan karena kecentilan Adel,...yuk diistirahatkan dulu otaknya atau aku marah, aku gak mau kakak tidur lama lagi bener-bener gak mauuu...hiks." Sisilia mengelus kepala Mumtaz seraya membubuhi kecupan lembut di keningnya.


" Aku masih pengen dimanjain kakak...bangun yuk, kak. mainnya sama aku aja ya nanti..Zayin tadi kelihatan marah banget tahu, kak. aku takut...tapi aku juga tahu Zayin juga menderita melihat kakak...bangun yuk." bisiknya parau di telinga Mumtaz.


Sisilia mengecup kening dan pipi Mumtaz sebelum pamit keluar karena para dokter harus memeriksanya.


Sementara Zahra menyembunyikan dirinya di ruang kerjanya, di san, dalam pelukan Hito ia menangis sejadi-jadinya.


Hito yang mampu mengusap lembut punggung lemah itu.


Zahra menyeka airmatanya," Aku malam ini gak pulang, kakak pulang saja ya, kakak pasti capek."


Hito membingkai wajah Zahra, mengelus pipinya. " Sayang, pulang dengan memikirkan kamu di sini aku gak tenang. Kita sama-sama butuh istirahat."


" Kalau begitu aku pulang bareng anak-anak, kakak agak perlu anter aku, kejauhan."


" aku nginep di rumah eidel, tadi udah nelpon dia."


Hito berdiri mengulurkan tangan pada Zahra, dengan ragu Zahra menyambutnya. ia tahu Hito akan terus memaksanya, makanya dia hanya menurut saja.




Rio termangu di kamarnya, melalui cctv ia menyaksikan kondisi Mumtaz yang kembali terbaring menutup mata, selama ini mereka lah mata-mata Zahra, tugas mereka mengawasi setiap ekspresi dan kondisi Mumtaz, lalu melaporkannya pada psikiater.



Selain menjalani tugas dari Zahra, atas inisiatifnya dia bersama Radit mengawasi Mumtaz, dari arahan radit lah dia tahu bagaimana harus bertindak di sekitaran Mumtaz, dia rela menjadi bayangan tidak terlihat bagi Mumtaz.



Di mata petinggi RaHasiYa dan anak RaHasiYa dirinya hanya partner Mumtaz dalam perakitan perangkat keras komputer, memang itu *basic* keahliannya, tanpa mereka tahu Mumtaz mengajarinya peretasan yang mudah dia ikuti, ini yang tidak banyak diketahui mereka.



^^^^^^^



Hari ini adalah persidangan rencana pembvnvhan terhadap Mahmud digelar atas tersangka Toni dengan agenda pembuktian.



Jaksa penuntut umum menghadirkan Ibnu sebagai saksi kunci didampingi Ruben sebagai kuasa hukumnya.



Toni berteriak histeris saat Ibnu memasuki ruangan sidang, "Tidak... tidak...jangan..saya minta ampun...jangan..dekati saya...." para kuasa hukumnya seketika panik, dan ruang sidang yang dipenuhi pengunjung yang mayoritas anak RaHasiYa heboh seketika. banyak diantara mereka merekam wajah ketakutan Toni, mereka sangat menikmatinya, sang jend-ral terlihat ciut bagai tikus yang terperangkap jebakan.



Tok..tok...



hakim ketua memukul palu," Para audiens diharap tenang."



tok...tok...




"Yang mulia, klien kami tidak siap menjalani persidangan ini, kami memohon penundaan sidang."



Ibnu tersenyum smirk tipis hampir tidak kentara, namun mata atau Toni bisa melihatnya." Yang mulia, dia..dia meledek saya." tunjuk Toni marah.



Para hakim menatap Ibnu yang menyapa balik dengan raut tenang.



" Sepertinya klien anda bisa mengikuti persidangan, dia sudah bisa marah sidang kita lanjutkan."



tok...tok...



" Dengan ini sidang dibuka. saksi, keterangan anda diucapkan dibawah sumpah."



" Siap yang mulia." jawab Ibnu lantang.



Seorang berdiri di samping Ibnu di Elang Ibnu dengan membawa kitab suci untuk pengambilan sumpah.



Setelah menjalani sidang panjang yang terjadi adu argumen antar Ibnu dan Toni berserta kuasa hukumnya, Toni dibawa kembali ke markas Brim-ob.



Atas perintah kapolr1 Toni dijaga oleh Timothy dan Berto, saat melihat Ibnu, Jeno, Rio, dan Leo mereka berdua menyingkir dari pos jaga, di meja pos Rio mematikan mematikan seluruh cctv yang ada.



Jeno membuka pintu tahanan dan mempersilakan Ibnu untuk masuk, Toni yang merasakan gerakan di belakangnya membalikkan dir dalam baringannya.



Matanya sontak membola lebar saat melihat malaikat kematiannya berdiri di sana dengan senyum smirk yang terpasang.



" Hallo, tuan. saatnya kita berpesta."



" Tolong, lepaskan saya, saya memohon ampun padamu, saya sudah tua, saya tidak sanggup menahan ere-ksi yang berkepanjangan." mohon Toni dengan bibir bergetar ketakutan.

__ADS_1



" Ku ingatkan sekali lagi tanpa bosan, itu yang diminta kedua orang tuaku, tapi kau tuli, bahkan kau mengabaikan tangisan ibuku saat kau menggagahinya."



" Ampuni aku..ku mohon..."



" Tidka sudi."



matanya mengkode Jeno dan Leo untuk memegangi Toni lalu dengan senyum smirk Ibnu menyuntik za-kar Toni dan memaksakannya menelan pil.



Setelahnya dengan santai Ibnu memasukan sarung tangan bekas ke dalam kantong lalu membungkusnya sebelum dimasukan ke dalam saku celananya.



" Sudah?" tanah Berto yang datang dengan segelas cup kopi.



" Sudah, *thank*."



" *Anytime, bro*."



" Gue pergi."



" Hmm."



Ibnu berlaku bersama para asistennya meniggalkan tahanan yang yang Maan terdengar Toni tengah meraung frustasi karena gairah yang membumbung tinggi namun alat vital saya tidak berdiri.



Deertt....drrt...



Berto menjawab sambungan telpon itu," Hallo."



" *Gimana*?"



" Ibnu tadi kemari, dan Toni sendal tersiksa." Berto mengarahkan ponsel pada ruang tahanan Toni.



Orang di seberang puas dengan apa yang dia dengar." Yin, Lo gak perlu mengawasi setiap waktu, kalau Ibnu lupa gue yang akan menggantikannya."



" *itu resiko buat karir dan masa depan Lo*."



" Lo pikir masa depan karir Lo bukan taruhannya?" semprot kesal Berto pada Zayin yang terkekeh di sebrang saluran.



" *Dia kakak gue, bro*."



" Dia penolong gue. kalau panglima tahu habis karir Lo."



" *Lo pikir beliau gak tahu, gue tentara kesayangannya*. *giman kalau pak Erg tahu? gue mah dipecat masih banyak kerjaan yang bisa gue lakukan, duit gue masih buanyak, lha elo*?"



" Songong Lo, terserah. Awas aja gue lebih kaya dari Lo, gue beli otak encer Lo." Berto mematikan telpon dengan Zayin yang masih tertawa terbahak-bahak di sana.



" Masih aja Lo kepancing omongan Zayin." ledek Timothy yang sibuk dengan laptopnya.



" Bodo, gimana berhasil menjegal RaHasiYa?"



Timothy menggeleng," perasaan kemampuan gue melesat pesat dibanding yang lain tapi tetap aja gak bisa menandingi RaHasiYa." ucap Timothy yang mencoba mencari celah mencuri rekaman kejadian Ibnu masuk tadi.



Di tempat lain, Zayin berkumpul dengan William dan Bayu di sebuah cafe tidka jauh dari mabes.



" Gimana? gak jadi masuk lagi ke sana?" tanya William.



Zayin menggeleng, " Aa Inu udah bertindak seperti biasa." ucapnya enteng.



" Panglima meminta laporan perihal ini." ucap Bayu.



" Bilang aja gak ada bukti. emang kita gak punya bukti. balik yok. Will, gue nginep di apart Lo " Zayin mencangkok ranselnya.



"Bini Lo gak nyari?" William mengeluarkan dua lembar uang merah ke atas meja.

__ADS_1



" Paling ngambek, biarinlah, gue lagi butuh ambekan dia buat pengalihan pikiran." Zayin mengenakan helmnya sebelum menyalakan motor, dan tiga motor menjauh dari cafe di tengah hingar bingar canda warga....


__ADS_2