
Mobil Navarro berhenti di pelataran lobby gedung RaHasiYa dengan penjagaan ketat, matanya menelisik sekitar area. Dia takjub akan teknologi mereka gunakan dari gerbang yang terbuka sendiri dengan pemindaian otomatis.
Dirinya duduk di kursi penumpang sedan Rolls-Royce hitam metalik menikmati kemegahan gedung dengan Matunda duduk disampingnya sibuk dengan laptopnya.
Dia terasa hidup diluar peradaban, melihat para robot yang berperan sebagai petugas pengaman yang hilir mudik layaknya manusia tiada bedanya, mereka bahkan berinteraksi diantaranya.
" Tuan, kita sudah bisa turun?" Matunda membuyarkan imajinasinya jika dia bisa menguasai dunia hebat ini.
" Bagaimana dengan para robot itu?" Tunjuk Navarro pada robot yang mendekat.
" Sudah saya bereskan. Mereka akan menyambut kita layaknya majikan mereka."
Mendengar penjelasan sneym terukir dibibirnya." Great job."
Robot itu membukakan pintu untuk Navarro dan memberi hormat layaknya petugas valet.
Navarro berjalan menanggalkan kepala dan dada membusung bangga bagai ia penguasa dunia dengan senyum lebar congkaknya,dia dengan santai melewati detektor meninggalkan Matunda yang sibuk merapihkan peralatannya.
Namun langkah Navarro terhenti saat kedua robot menghadangnya dengan senjata berlaras panjang menodong tepat ke tengah keningnya.
Aksi itu berhasil melahirkan keheranan dalam tatapannya dan kepudaran senyum di bibirnya.
Segera Matunda menarik Navarro kembali mundur keluar dari area detektor tersebut, sedangkan kedua robot penjaga itu masih mengarahkan senjatanya pada Navarro.
" Matunda kau bilang mereka mengenaliku sebagai atasan mereka."
" Tentu, tapi tidak dengan detektor ini, dia memiliki sistem tersendiri. Anda lihat layar di sebelah kanan anda, mereka difasilitasi sensor yang mampu membaca pikiran anda, tuan."
" Saat ini pikiran anda adalah sebagai penguasa RaHasiYa sedangkan dalam sistem mereka penguasa mereka hanya keempat petinggi RaHasiYa, jadi jika ada orang lain yang mengaku sebagai pemilik gedung, maka dianggap musuh." Terang Matunda dengan kesabaran yang dilebih-lebihkan.
" Lantas apa yang harus dilakukan?"
" Anda harus mengubah pikiran anda dalam waktu 10 menit sejak kita tertangkap tangan, ini sudah berjalan 6 menit tersisa empat menit. Kalau anda gagal melakukannya, tubuh anda akan dipenuhi peluru dari senjata mereka, karena profil Anda sudah masuk pada sistem mereka." Matunda melirik pada dua robot yang masih bersiaga.
Navarro melotot tidak percaya, dan kau baru memberitahu saya?"
" Anda meninggalkan saya dan mengabaikan panggilan saya." Alibi Matunda berbohong.
Navarro yang merasa tidak memiliki waktu tidak menanggapi ucapan menyebalkan dari asisten kurang ajarnya ini.
Ia menarik nafas, mengolah pikiran untuk tenang. Sebagai mantan prajurit pasukan khusus mengubah pikiran bukanlah hal yang sulit, karena tugas di medan perang mengharuskannya menyesuaikan diri.
Pada menit ke sembilan belum ada juga tanda Navarro berhasil dan masuki area detektor, Keuda robot penjaga mulai mengokang senjata karena sinyal bahaya sudah terbaca dari subjek yang sudah dijadikan musuh pihak RaHasiYa.
" Tuan, 30 detik lagi." Bisik Matunda di telinganya seakan si robot akan memahami perkataannya.
" Tuan, 15 detik lagi. Anda harus segera masuk ke area detektor agar anda selamat." Bisik Matunda lagi.
" Tuan lima..." Belum juga Matunda menyelesaikan bisikannya Navarro sudah melangkah lebar ke area detektor.
Tring...
Lampu berubah hijau, Navarro memandang layar besar di dinding. Tertulis bacaan tujuannya ke gedung.
" Bersahabat dengan petinggi RaHasiYa!!!!"
Ketika dua robot mengokang kembali dan menurunkan senjata, kemudian mundur kembali ke tempatnya. Navarro menyeringai smirk.
" Cuma segitu kecanggihan teknologi kalian." Gumamnya meremehkan kontras dengan tadi yang cemas.
" Kalau sudah melawati ini apalagi?" Tantang Navarro pongah.
Matunda berjalan melewati detektor tersebut begitupun dengan para pengawalnya.
" Tidak ada tuan, anda sudah bisa masuk lewat pintu itu." Tunjuk Matunda ke pintu geser utama.
" Ooh."
Mata Navarro kembali disuguhi interior yang amazing perpaduan teknologi masa depan dan seni.dimana ia bisa melihat semua penjaga adalah berupa robot.
Saat berjalan menuju reception, ia mulai melihat kejanggalan, maka Navara pun berlari keluar dari lobby.
" Tuan, ada apa?" Matunda terkaget.
" Kemana para manusia? Mustahil ada perusahaan yang tidak memiliki pegawai manusia." Selidik Matunda curiga.
" Tuan benar, tapi masalahnya para pegawai RaHasiYa adalah para mahasiswa, dan sekarang adlah jam kuliah mereka." Jawab Matunda diplomasi yang ternyata bisa meyakinkan bagi Navarro.
Maka Navarro kembali masuk ke lama lobby dan menyelesaikan administrasi kunjungan.
Mereka dipandu ke tempat tujuan oelh masing-masing satu robot yang berjalan di depan mereka seperti tamu lainnya.
" Matunda, antarkan saya pada ruang kerja petinggi RaHasiYa.." mendengar permintaan Navarro Matunda berhenti begitupun dengan robot guide-nya.
Navarro juga menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.
" Tuan, sistem pengaman mereka berubah-ubah setiap setengah jam sekali. Kita butuh waktu bertahun-tahun agar bisa masuk ke sini, dan saya yakin lantai yang kita susupi kemarin sandi pengamanannya juga sudah berubah.
" Untuk misi hari ini saya hanya bisa membuka lobby dan lantai tujuan anda, dan itu butuh tiga bulan, jadi kalau anda serakah ingin ke ruang petinggi RaHasiYa yang saya yakin pengamanannya tingkat maksimum sebaiknya kita Kemabli pulang, dan tunda misi kita hari ini." Matunda merasa lelah menerangkan segala hal pada Navarro yang sudah nyata daya pikirnya mulai lemot, entah karena apa.
" Jadi apa pilihan anda, kembali pulang, atau meneruskan dengan seadanya?"
" Teruskan." Navarro tidak sudi menunggu bertahun-tahun lagi untuk kemari.
" Good decision, sir. Tekan dulu keserakahan anda, atau kita semua mati." Sindir Matunda.
Mereka menunggu di depan lift yang mengantarkan mereka ke lantai teratas.
Lantai yang Navarro tahu adalah lantai penguasaan, dan tentu saja Matunda yang memberi informasi tersebut.
******
Mumtaz bersandar ke sandaran kursi kerjanya melihat keluguan Navarro dari monitor komputernya, kemudian melirik ke laptop disamping komputer yang menayangkan ruangan kerja Ibnu.
" Sebentar lagi kita membalaskan dendam mu, Inu. Aku Kakak mu yang bertanggungjawab kan." Ucapnya lembut nan sendu.
Tok..tok...
Ketukan pintu dari luar mengembalikan ia pada pusarnya masa lalu yang menyeramkan itu. Mumtaz menekan keluar dari laman RaHasiYa pada yang lain
" Masuk."
Cklek,...
Romli memasuki kamar Mumtaz, ia melirik pada komputer yang menyala jika melihat dari tangkapan monitornya seperti tengah melacak sesuatu.
" Lho, gue kira pada ngumpul di sini, makanya gue bawa ke sini semua." Romli menaruh nampan berisi beberapa sandwich dan susu ke atas meja yang terletak disisi jendela..
" Emang Daniel tadi ngomongnya gimana?" Mumtaz beranjak ke sofa.
" Bawa ke kamar."
" Bawa ke kamar masing-masing, Mi." Koreksi Mumtaz membantu Romli mengambil makanan jatahnya.
Cklek...
"Muy, gue masuk ya." Ucap Alfaska ketika dia sendiri sudah melenggang jalan di tengah kamar.
" Hmm." Mumtaz menjawabnya malas-malasan.
" Fa, punya Lo di sini atau dianter ke kamar lo?" tanya Romli.
" Di sini aja, Lo bukan pembantu." Mumtaz menyerobot menjawab sambil mendelik tajam pada Alfaska.
" Gue gak ngerasa pembantu, kalian itu kenapa sih selalu ngomong begitu?" Romli sebenarnya sudah kesal dengan perkataan itu.
" Ya Lo kenapa mau ngelakuin ini-itu layaknya mbak-mbak sewaan rumah tangganya."
__ADS_1
" Muy, gue hanya ingin bermanfaat, seperti kalian sangat bermanfaat buat gue. Gue ngomong makasih aja, si Zayin marah, padahal gue sungguh-sungguh. Siapa yang gak terharu dan terenyuh ketika operasi nyokap Lo dibiayain mana mahal lagi." Cerocos Romli.
" Ya enggak dengan ngelayanin kita juga."
" Gue gak merasa melayani kalian, ini tuh...kepekaan gue aja kalau kalian terlalu lelah ngurusin rumah sedangkan gue nganggur."
" Bukan karena alasan konyol Lo yang katanya hutang budi kan?" Sindir Alfaska.
" Buka, kapok gue ngerasa begitu. Terakhir kali gue ngomong begitu Zayin nye-kek Gue hampir gue mati." Romli bergidik ngeri.
" Baguslah kalau pesannya tersampaikan meski harus menggunakan kekerasan." Ucap Mumtaz tanpa merasa bersalah.
Romli berdecak habis kesabaran." Ya udah gue anter ke yang lain dulu." Romli beranjak dengan membawa nampan.
" Sekalian tolong bikinin susu coklat buat Ayin, gue rasa dia bakal tidur pas nyentuh kasur." Ujar Mumtaz.
Romli tersenyum senang, induk semangnya tidak lagi sungkan meminta bantuan padanya." Siap."
Blam...
Alfaska melirik Mumtaz yang tengah menikmati sandwich-nya.
" Gimana keadaan Tia?" Tanya Mumtaz ditengah kunyahannya
" Nangis histeris padahal udah gue jelasin kita baik-baik saja. Ucapnya mengingat obrolannya dengan Tia yang menangis terus sewaktu mereka Video call.
Flash back...
" Aa beneran gak bohongin aku kan kalau kalian baik-baik saja,..hiks....hiks.?" Tia mengusap pipinya yang sudah banjir airmata.
Dibelakangnya Dista dan Sisilia yang ikut baringan di kasur besar itu meledeknya.
" Enggak, sayang. Aku beneran baik Emang kenapa kamu nangisin aku gak kayak biasanya."
" Aku gak tahu, aku juga pengennya biasa aja. Capek tahu nangis mulu." Rengek Tia yang semakin membuat Dista dan Sisilia mendengkus berlebihan.
" Hormon hamil kah?"
" Iya, karena ditinggal mulu sama Lo." Dista menyerobot menjawab yang berbarengan Daniel memasuki kamar.
Daniel tertegun mendengar suara yang sangat ia rindukan itu.suara yang terakhir dia dengar penuh kelukaan, dan itu karenanya.
" Ita ih, lagi ngobrol juga." Omel Tia yang ponselnya direbut Dista.
"Lha Lo gak ada akhlak uwu di depan kita." Dumel Dista mengembalikan ponselnya.
Alfaska menghela napas malas menonton keributan random mereka.
" Makanya jangan sok putus-putusin anak orang, jomblo ngenes kan Lo." Ledek Tia.
" Mending jomblo daripada punya pacar perhatiannya sama yang lain. Siapa yang dipacarin siapa yang disayang, cuih banget tu orang." Dista sepertinya memang sudah sangat membenci Daniel.
Alfaska melihat Daniel berdiri terdiam kaku wajahnya mengeras.
" Sil, bolehlah kak Mumuy bagi bareng gue? Tu orang sweet banget."Dista makin menjadi.
Tangan Daniel mengepal kuat mendengar itu, dia tahu itu hanya bercanda tapi rasa cemburu tidak bisa dia elakan.
" Boleh, apasih yang gak buat teman gue yang error." Jawab Sisilia malas.
" Kenapa harus Aa Mumuy, kan ada Aa Ayin yang lebih keren dan gak kalah gantle." Tanya Tia.
" Sama kak Mumuy aja jarang ketemu apalagi sama kembaran Lo yang kayak jelangkung, gue masih Inget ya ditinggal di pasar malam sendirian untung Raja datang. Gak ah, makasih, mending gue jomblo."
" Tapi kan lebih baik daripada mantan Lo yang pergi ke bioskop sama cewek lain sementara lo nungguin dia tiga jam di bioskop." Ledek Tia.
Raut Daniel seketika muram, ia berjongkok menyembunyikan mimik menyesal, ia menjambak rambutnya. Setitik air mata jatuh dibalik tangan itu.
" Itu cowok memang pantas di kasih predikat jaha-nam." Dista memukul-mukul bantal.
" Maaf sayang gak gitu. Kapan kamu pulang? Aku cemas banget sama kamu?"
" Kenapa? tumbenan kamu cemas begini."
" Gimana aku gak cemas kalau denger si Navarro itu udah menguasai gedung RaHasiYa." Ucap Tia sedikit meninggi.
Daniel mengangkat wajahnya dengan cepat mereka saling lirik karena kaget mereka mengetahuinya.
" Dapat info darimana sayang?"
" Dari Adgar, sekarang dia lagi diinterogasi sama kak Ala. Jadi itu beneran? Terus kalian gimana?"
" Gak menguasai, cuma bisa masuk doang." Alfaska mencoba mengecilkan situasi terkini.
" Untuk seukuran gedung berteknologi canggih Setara NASA atau Pentagon atau apalah itu, Adgar, Raja, Juan kalau lagi nyombongin RaHasiYa suka diluar nalar terus ngomongnya kayak rapper. Jadi aku gak begitu ngerti." rungut Tia.
Alfaska dan Daniel menggeram kesal atas mulut besar para juniornya itu.
" Sayang, kamu meragukan kami?" Tanya Alfaska yang dijawab gelengan.
" Kalau begitu percaya kalau kami baik-baik saja " ucap Alfaska yang lembut.
" A, tolong jaga Aa, Aa aku. Kami hanya tinggal berempat." Ucapnya sendu.
" Pasti sayang, mereka keluarga ku juga. Udah ya jangan nangis terus do'akan kami di sini. Kalian di sana sehat selalu."
" Iya, love you."
" Love you."
Flash back off.
" Kalau yang lain?" Tanyanya merujuk pada yang lainnya yang tinggal di Tangerang.
" Seharusnya baik." Jawab Alfaska lesu.
" Napa Lo?"
" Mereka sudah tahu kalau Navarro berhasil masuk gedung."
Mumtaz menghentikan gigitan di sandwich-nya." Dari siapa?"
" Adgar."
Mumtaz mengangguk-angguk, sedikit heran mengapa kakaknya belum menelponnya.
******
Tebakan Mumtaz yang zayin langsung tidur salah besar, nyatanya si bujang idaman itu masih sibuk dengan ponselnya yang menampilkan wajah Adelia untuk kesekian kalinya dengan ingus yang sudah meler kemana-mana.
" Aa, pulaaaanggghh...hiks." rengekan yang cukup membosankan sebenarnya baginya. kalau yang merengek bukan Adelia Zayin pasti sudah marah dan memutuskan telponnya.
Raut Zayin berubah serius menatap ponselnya.
" Adel, lihat Aa."
menyadari suara dan raut Zayin yang berubah serius, Adelia merapat pada Heru yang sabar meladeni kemanjaannya, Heru pun sedikit tidak enak hati.
" Adel, katanya kangen Aa, sekarang lihat Aa."
" Gak mauuu...hiks." rengeknya pelan menyembunyikan wajahnya di dada bidang ayahnya.
" Kalu gak mau, Aa tutup video callnya."
" Jangannn...." jawab ya cepat.
" Kalau gitu angkat mukanya dan lihat Aa."
__ADS_1
Terpaksa Adelia menurutinya meski dengan wajah ditekuk.
" Apa?"
" Adel, minta maaf." terdengar teguran dari Heru.
" Iya, minta maaf. ada apa?"
" Lha Adel yang nelpon Aa, ad apa? dari tadi nangis doang." ucap Zayin lembut.
Mendapat tanggapan lembut begitu wajah Adelia memerah malu," Adel, mukanya jarang merah gitu, ayah jadi malu. masa diomongin gitu udah meleyot." goda Heru yang mengundang kekehan dari Zayin.
" Kebanyakan makan zat berkimia, om." seluruh Zayin.
" Ayah sama Aa apaan sih berkomplot godain Adel, Adel gak kelen." Adelia berlagak marah.
" Tapi kamu suka kan sama Aa.." Zayin yang semakin menggodanya.
" Iya emang, macalah buat Aa?"
Zayin mengangguk," Aa gak ucah jawab, pokoknya I love you."
klik...
Ponsel itu layarnya hitam karena diputus sepihak.
" Ya Tuhan ku, kak Edel ini, gak kapok juga." gerutu Zayin mengusap wajahnya kasar. dia tidak suka Adelia bertingkah tidak sesuai usianya, sangat tidak suka.
Tok...tok...
" Yin, ini makanan Lo." seru Romli dari luar kamar.
Zayin membuka pintu kamarnya, ia menatap tidak suka pada Romli yang membawakannya sandwich dan segelas susu coklat dan air mineral.
" Bayarnya udah ya lewat e-money." sindir Zayin ketus.
Romli yang berdiri setelah menaruh nampan tersebut mengehla napas untuk mengumpulkan kesabarannya.
" Yin, gue bukan pelayan cafe'."
" Sadar juga." Zayin menutup pintu.
" Bukan juga karena hutang budi."
" Ooh.. kalau begitu karena..." Zayin menunggu Romli untuk melanjutkan kalimatnya yang menggantung.
" Karena gue pengen jadi keluarga Lo."
" Udah kebanyakan. tutup lowongan ".
Romli mengumpat dalam hati, akan sikap tidak berkerjasama adik kecil nan gagah ini.
" Yin, Lo yang nutupin biaya operasi mata nyokap?"
" Iya, Lo mau balas pake apa? ginjal Lo, atau jantung Lo? gak cukup gue nye-kek Lo?"" Zayin mulai bersikap memusuhi.
" Izinkan gue menjadi orang bermanfaat, Lo gak bisa megang semau urusan dengan kedua tangan Lo."
Zayin menatap intens Romli, Romli gugup setengah mati sorot mata tajam itu.
" Bikinin gue ayam crispy ala Korea itu sama salad ala HokBen, dan cappucino ala Dunkin'. gak ada negosiasi, dan gak boleh nolak. kalau gak sanggup paksa diri Lo untuk ngilangin mental balas budi itu. itu menyala rusak. diluaran sana banyak orang yang akan memanfaatkan perasaan naif Lo itu untuk jalan yang sesat." tukas Zayin.
*****
Di seberang sana Adelia berlari masuk ke dalam rumah dengan heboh.
" Mamaaaa...." teriaknya.
Eidelweis yang panik berlari dibawah teriakan Dewi dan Sri." Edel, jangan lari itu perut kamu lagi besar."
" Adel, ada apa?" Eidelweis bertanya khawatir.
" Maaf, bikin Mama khawatil. tapi Adel lagi maluuu. Heru menggeleng geli putrinya tersebut.
" Malu, sama siapa?" tanya Sri yang mengambil duduk di sofa panjang. ruang tengah.
" Adel tadi bilang I love you sama Aa Ayin." ucapnya menunduk sambil memilin ujung roknya.
" Bukannya udah biasa? telat buat malunya juga." celtuk Adgar dari bawah anak tangga.
Adelia melirik sinis pada sepupunya yang menyebalkan itu.
Matanya Melihat Zahra yang menuruni tangga dengan rasa besar bersama Hito.
" Kalian mau kemana?" tanya Adelia.
" Ke Jakarta, Adel jadi anak baik ya." kata Hito.
" Adel mau ikut." ucap Adelia tegas memperlihatkan sisi kekeraskepalaan khas seorang Hartadraja.
Semua orang menghela napas berat. " Gak bisa, Del. kita pergi karena ada urusan penting." Zahra mencoba memberi pegertian bocah Lima tahun ini.
" Kakam pasti cemacin Aa Mumuy, cama Aa Ayin. Adel juga cama. adel capek tiap ahli nangis tapi hati Adel selalu khawatil. pleasee..ajak Adel. Adel bica mati penacalan kalau gak ikut." bujuk Adelia tidak masuk akal.
Malas mengukur waktu, Akhirnya Zahra mengiyakan." ayo, tapi gak usah ganti baju, kita pergi sekarang."
" Iya, enggak. pake baju ini aja Adel udah cantik." ucapnya percaya diri sambil mengambil jemari Zahra untuk ia pegangi.
Hito melihat ke Heru." nanti gue nyusul. gue telpon Domin untuk menyediakan beberapa heli untuk angkut kita semua.
" Cepatan, anak Lo resenya minta ampun." Hito menggendong Adelia.
" Dia ponakan Lo."
" Sayangnya iya." jawab Hito malas.
" Om ih, jawabnya jangan gak enakin gitu, halus bangga punya ponakan cantik kayak Adel."
" Terserah Om."
" Ih kayak cewek, gak cik." dumel Adelia membuang muka.
*******
Zayin menggeliat kesal karena ponselnya tidak berhenti berdering.
" Hallo, sebaiknya info Lo penting, Ja. Lo udah ganggu tidur gue." ucap Zayin Serak khas bangun tidur dengan mata yang masih terpejam.
" Gue lihat kak Ala, om Hito, Adgar, dan Adelia masuk gedung RaHasiYa."
Informasi itu serikat mengumpulkan nyawa Zayin yang langsung terduduk tegak, ia langsung mengenakan pakaian komplit yang asal ambil asal dari lemari karena terburu-buru.
Setelah beres mengenakan jaket yang ia kenakan sambil berlari menuju kamar Mumtaz.
" A... Aaaa...." Ketika yang semual pelan semakin keras karena ia tidak ku Jung mendapat jawaban.
" AAAA....AA...AA....AAA...." Kini Zayin menggedor pintu keras-keras hingga Alfaska dan Daniel keluar dari kamarnya.
" Yin, ada apa?" tanya Daniel."
" Aa gak ada. gue udah daritadi manggil dia."
" Emang ada apa?"
" Kakak Ala pergi ke gedung RaHasiYa."
Sontak Alfaska dan Daniel terkejut, mereka kembali masuk ke kamar masing-masing.....
__ADS_1