
" Zayin, apa Lo harus bertingkah kayak cewek pms begitu sama tu cewek? Tegur William yang mengikuti Zayin ke gedung fakultasnya.
" Apa maksud Lo?"
" Tadi, Lo gak mikir kalau Lo terlalu kasar sama mereka?"
" Enggak, segitu mah belum seberapa, Lo gak pernah lihat sih gimana bang Jimmy kalau udah gak suka sama cewek."
" Ada yang ganggu pikiran Lo?" Tanya Bayu.
" Enggak, kalian udah dapat info tentang pensuplier senjata dan narkoba itu?
Mereka menggeleng " sementara ini target masih perempuan itu." Ucap William.
" Zayin," panggil Adinda mendekat dengan percaya diri sambil tersenyum manis
" Yin, target bergerak." Bisik Bayu
" Kuy lah pergi."
Saat mereka hendak bergerak Adinda mencekal lengan Zayin yang langsung ditepis oleh Zayin
" Zayin, kamu mau kemana?" Adinda memaksa mensejajarkan langkahnya, dan memegang tangan Zayin lagi
" Apa sih, Lo. Pergi, ganggu aja jadi cewek." Zayin menyentak pegangan Adinda, dan meninggalkannya. Adinda terlanjur malu karena ditatap orang-orang sekitarnya
" Zayin," tegur William mensejajarkan langkah Zayin.
" Lo kalau mau tahu kenapa gue benci banget sama tu cewek tanya Bayu." Zayin meneruskan langkahnya mengikuti target
****
" Jadi, saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang sudah mbak kasih ke saya, jika ada salah dan khilaf saya meminta maaf." Ucap mama Aida kepada mami Sandra seusai menyerahkan surat pengunduran diri.
" Kalau ini benar-benar keinginan mbak, say hanya bisa menerimanya meskipun terus terang saya masih butuh bantuan mbak." Ucap mami.
" Tentu, jika ada yang bisa saya bantu, saya dengan senang hati membantunya."
" Mbak, kalau mbak mendadak berhenti seperti ini saya jadi merasa tidak enak." Ujar Tante Sherly
" Apa sih mbak, ini tidak ada hubungannya dengan mbak, ini kebetulan saja." Ucap mama
" Apa rencana mbak setelah keluar dari sini?" Tanya mami
" Di rumah saja dulu, anak-anak ingin saya istirahat menikmati masa tua katanya."
" Ck, masih segar bugar begini." Celetuk mami
" Haha,...bisa saja mbak ini."
***
" Aku langsung pergi aja ya, Jimmy meminta kumpul di kantor." Ucap Mumtaz yang mengantar Sisilia pulang.
" Iya, kamu gak seharusnya kayak tadi. Aku jadi gak enak."
" Kamu juga diam aja, padahal gak suka dengar rumor itu."
Sisilia menunduk " Sisilia, aku mungkin gak selamanya peka seperti ini, jadi aku harap kamu ungkapkan semua apa yang kamu rasa tentang kita."
" Aku gak mau ribut masalah sepele gini."
" Bagi aku, ada yang sepele tentang perasaan kamu. Aku ingin hubungan ini berjalan lama banget, dan itu butuh kerja sama yang baik. Lebih baik ribut, dan kita menyelesaikannya dari pada diam, tapi menahan sakit."
Sisilia mengangguk " ke depannya aku gak bakal sungkan buat ngomong."
" Gitu dong, kan senang dengarnya. ngerasa diperjuangkan gitu, aku nya." Sisilia tersipu malu, Mumtaz tertawa kecil.
" kak,..."
" Hmm?"
" Apa aku boleh meminta sesuatu?"
" Apa?"
" Aku minta kakak gak bonceng perempuan lain di motor ini selain aku."
" Termasuk keluarga aku, dan para sahabat kamu juga gak boleh?"
" Eh, kalau itu boleh. maksud aku..."
" Iya, aku paham.oke, pesan dilaksanakan, kamu cemburuan juga ya."
Sisilia menunduk tak enak hati " maaf, tapi kalau kakak keberatan gak usah di paksakan, ini motor kakak juga, maaf."
" Hei, its okey. aku juga gak suka bonceng cewek lain."
" Aku pergi ya."
" Hati-hati."
" Siap, nyonya." Mumtaz mengusap kepala Sisilia yang menahan malu
" Sok malu-malu, padahal senang. Assalamualaikum."
" Wa, alaikumsalam."
****
" Dokter Ziva," panggil dokter Anna
" IYa, ada apa, dok?"
" Saya harus berapa kali bilang ke anda jangan dekati prof. farhan. meski kami proses pisah, tapi itu belum final, tolong jaga kelakuan anda."
" Maaf, apa maksud dokter? say dan rekan saya memang harus sering berhubungan dengan prof. Farhan Guan kepentingan penelitian."
" Maaf, dok. Saya pikir anda kurang etis membicarakan persoalan pribadi di rumah sakit apalagi di tempat umum begini." ucap Zahira yang menyadari beberapa orang tidak nyaman dengan suara keras dokter Anna.
" Ayo, Ziva. kita ke ruangan prof. beliau menunggu kita." Zahira menarik tangan Zivara
Pukul enam sore Hito turun dari lantai teratas gedung bagian petinggi rumah sakit, di lobby dia bertemu dengan Ziva dan Zahira
" Kak Hito," Ziva berlari kecil mendekati Hito
" Mau kemana?"
" Mau ke ruangan Zahra."
" Kayaknya dia udah pulang deh, tadi aku baru dari sana."
" Ooh, biar gue cek untuk memastikan."
" Kak, ini udah sore kita pulang yuk. Gue gak bawa mobil kan Lo tadi pagi jemput gue." Hito bergeming ragu
" Ziv, tadi pagi Lo berangkat bareng kak Hito? "
" ini tuh paksaan nenek Sri, jangan marah sama gue."
" Lo gak mikirin perasaan si Ara, Kedengarannya bullshit tahu gak, ini lebih ke Lo yang bakal nikung dia. Kak, ini juga bukan kali pertama buat Lo dipaksa nenek di jodohin sama yang lain, biasanya Lo selalu nolak tegas, tapi kenapa Lo sekarang jalan sama Ziva, Lo suka dia, kak? tuduh Zahira
" Gak begitu, Hira " protes Hito
" Lo juga tahu gimana rasanya di tikung orang, sekarang Lo yang kayak pelakor. gak habis pikir gua sama kalian."
" Lo juga nyebut gue pelakor?"
" tergantung, apa Lo nikung Ara?"
" terserah bagaimana tanggapan Lo tentang gue, yang pasti gue gak nikung dia."
" gue tanya sama Lo berdua, ini kali pertama kalian berangkat bareng atau sebelumnya pernah?"
Hito dan Ziva terdiam tertohok atas pertanyaan Zahira.
Zahira berdecak paham akan keterdiaman mereka " kalian kalau mau selingkuh yang cantik." Zahir melengos pergi meninggalkan mereka.
Hito termangu mendengar perkataan Zahira, dia memang salah.
" Biar gue telpon Ara dulu." Hito mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja.
" Gak percayaan amat dah, barusan aku dari sana ketuk-ketuk pintu ruangan dia, gak ada jawaban. Ayok, langsung pulang aja. Mulai hujan tu, entar jalan keburu macet."
Meski ragu Hito mengiyakan ajakan Ziva yang menarik tangan Hito.
Di ruangannya Zahra menggeliat meregangkan otot tubuhnya sehabis tidur dari selesai memeriksa para pasiennya.
Dia lihat jam di tangannya, pukul delapan.
" Astagfirullah, lama banget gue tidur, kebo banget dah. Apa kak Hito belum pulang, kok gak ada telpon atau pesan."
Zahra memeriksa ponselnya berharap ada panggilan atau pesan dari Hito, namun nihil.
Zahra bergegas merapihkan barang bawaannya dan beranjak pulang. Di lobby dia tidak melihat mobil Hito yang terparkir di tempat yang tadi pagi mobil Hito berada.
Tak mau berpikir buruk Zahra menelpon Hito dengan perasaan dag-dig-dug.
" Assalamualaikum? Kak, kamu dimana?" Salam Zahra
"....."
" Ooh sudah pulang, katanya mau pulang bareng aku." Cicit Zahra mulai gamang.
__ADS_1
"...."
" Aku masih di rumah sakit nungguin kakak, tapi..., Ya sudah aku matiin Ya telponnya." Tidak menunggu jawaban dari seberang, Zahra mematikan sambungan telponnya.
Dia memegang erat dadanya yang terasa sakit.
Sedetik kemudian dia menelpon seseorang lagi.
" Ibnu, tolong periksa cctv bagian lobby sore tadi ketika ada rekaman kak Hito." Ujarnya saat ponselnya tersambung dan langsung menutup sambungan
Tak lama masuk notifikasi video rekaman, Zahra terperangah melihat video itu, di pukul-pukul dadanya menghalau rasa sakit yang tumbuh.
Zahra berjongkok menumpukan tubuhnya ke lutut menekan rasa sakit itu, tak menyadari bulir bening luruh dari kelopak matanya. Zahra menangis tertahan dengan pilu
Kemudian muncul notifikasi pesan dari Ibnu.
" Kata Mumtaz tunggu di sana Mumtaz sedang dijalan untuk menjemput kakak."
*****
" Assalamualaikum," Hito memasuki rumahnya dengan lesu dan lelah
" wa, alaikumsalam." Jawab mama Dewi.
Hito mencium tangan mama, saat berbalik menuju tangga ponselnya bergetar, ketika melihat Id pemanggilnya bergegas Hito menjawab panggilan itu.
" Wa, alaikumsalamsalam, Zahra. Aku sudah nyampe rumah." Jawab Hito sambil melangkah menuju tangga
"...." Hito berhenti melangkah mendengar jawaban diseberang.
" Kamu dimana?" Tanya resah Hito
"....." Dia tertegun. Lagi, dia tahu dia sudah berbuat salah. Dadanya terasa sesak mendapati perbuatan salahnya.
Ketika sambungan terputus Hito langsung keluar lagi menuju rumah sakit. Tak menggubris panggilan mama dan tidak peduli akan Hujan yang deras. Jarak pandang yang terbatas membuat laju mobil lambat, Hito memukul-mukul stir mobil melampiaskan emosinya
****
Empat sahabat sedang berdiskusi di ruang konferensi.
" Ini, penemuan baru gue " Jimmy membagikan masing-masing satu jam tangan merk rolex keluaran terbaru.
" Tumben, lagi panen duit Lo " sarkas Daniel yang dihiraukan Jimmy.
" Mengingat pekerjaan kita yang beresiko tinggi tentang keamanan, gue merancang jam tangan ini sebagai alarm dikala salah satu dari kita merasa tersudutkan atau terancam, ponsel Lo akan terkirim sinyal berupa lampu merah, dan akan muncul video keadaan teman Lo yang sedang membutuhkan bantuan itu." Terang Jimmy.
" Boleh tahu sumber sinyal dari mana?"
" Dari ketegangan sang suhu tubuh pemakai. Sadar gak Lo, kalau kita dalam keadaan emosi negatif suhu tubuh meninggi dan seluruh otot, khususnya otot badan menegang yang dipicu dari alarm syaraf Lo."
" Gue akan..." Ucapan Jimmy terhenti
Deerrrt.... derrrt....
" Assalamualaikum." Salam Ibnu,
"....."
Seusai menjawab sambungan telpon, Ibnu langsung sibuk dengan laptopnya, setelah mendapatkan hasil pencariannya Ibnu mengirim sesuatu kepada seseorang
" Siapa?" Tanya Daniel
" Kak Zahra, dia nyuruh gue buat meriksa cctv lobby rumah sakit di waktu sore yang ada jejak om Hito."
Ibnu menampilkan hasilnya dilayar, raut wajah Mumtaz menegang
" Lo tampilkan cctv saat ini." Ucap Mumtaz.
Dilayar terpampang Zahra yang berjongkok bagai orang meringkuk sambil menangis.
" Niel, pinjem mobil Lo. Nu bilang ke kak Zahra tunggu di sana gue jemput dia." Daniel melempar kunci mobilnya.
" Gue ingin rekaman cctv rumah sakit berkaitan dengan om Hito seharian ini gue punya feeling ini ada hubungannya dengan Zayin yang bertingkah judes hari ini." Mumtaz pergi meninggalkan gedung.
***
Tin...tin....
" Kak, ayo pulang." Panggil Mumtaz dari dalam mobil kala melihat Zahra yang berdiri melamun di depan lobby.
Zahra membuka pintu penumpang dan langsung memejamkan mata tak bertanya meski tatapannya sesekali memperhatikan raut lelah Zahra.
Tak berapa lama Hito datang di lobby rumah sakit dan langsung turun masuk ke dalam.
" Maaf pak, bapak mencari dokter Zahra ya?" Tanya petugas penjaga rumah sakit
Hito mengangguk " iya, apa bapak lihat beliau?"
" Baru saja beliau dijemput, sekitar lima menit yang lalu."
Petugas menggeleng " tidak begitu jelas, lelaki itu tidak turun hanya memanggil dokter Zahra."
" Sepertinya dokter Zahra kurang sehat, tadi saya melihat beliau menangis sambil berjongkok."
Informasi dari petugas mampu membuat dada Hito berkali-kali sesak dari yang tadi, dia lepas dua kancing kemeja teratas berharap dapat menghirup banyak oksigen.
Hito berjalan lunglai menuju mobilnya, di dalam mobil dia termangu menyesali perbuatannya, andai dia tidak mendengarkan Zivara mungkin saat ini mereka masih bersama karena dia bisa menginap di rumah Edelweis.
Hito menggusar rambutnya kesal
*****
" Tumben Lo jam segini udah balik." Tanya Bara menghampiri Jimmy yang duduk santai di beranda samping rumah Bara.
" Hemm"
" Fa, Lo masih gak mau ngambil alih sedikit urusan Atma Madina!? Terus terang gue keteteran."
" Gue cukup sibuk ngurus RaHasiYa."
" Ya Lo ambil asisten lah."
" Gue ambil sedikit Atma Madina, tapi pake asisten Lo ya.
" Ck, ogah. Gak mau gue pake orang baru."
" Kenapa Lo gak seriusin manajamen RaHasiYa, perusahaan Lo udah gede banget Lo. Kenapa gak nyoba Rizal buat jadi asisten Lo "
Jimmy menatap Bara, " dia temen Lo, kenapa gak Lo aja yang jadiin dia asisten?"
" Itu dia masalahnya, gue gak mau temen gue jadi bawahan gue, Tapi dia butuh kerjaan bokapnya udah pensiun dan masih ada dua adiknya yang masih butuh biaya pendidikan. dia nolak bantuan gue."
" Gini aja, Lo benar gue harus seriusin tentang RaHasiYa. Kita kumpul di RaHasiYa, gue mau pamer kantin cantik RaHasiYa sama Lo "
" Okey,besok sore ya."
Oke."
" Kalian belum tidur? " Papi bergabung dengan Jimmy dan Bara di dapur yang sedang makan mie instan.
" Laper, Pi. Papi mau?"
Papi menggeleng " tumben kamu nginep, Bar."
" Ini bantu dia buat list nikahannya." Jawab Bara.
" Oh iya, mengenai pesanan Zahra papi udah urus ke perusahaan terkait minta yang limited edition, permintaan Mumtaz juga udah di urus."
" Serius, Pi? Thanks banget. Yang di mau Mumtaz tu produk Apple yang lengkap dan terbaru loh, Pi."
" Iya, semua item produk terbaru Apple udah papi pesan."
" Lagian ipar Lo aji mumpung banget."
" Gak percuma mereka jenius, apalagi permintaan Zayin sumpah andai Lo tahu harganya."
" Berapa, emang?"
" Itu alat tercanggih yang jadi rebutan militer di dunia, Lo pikir sendiri harga terendah alutsista militer terbaru, berapa?"
" Yang pasti harus jual sawah." Jimmy menjitak kepala Bara.
" TNI, udah punya?" Tanya papi.
"Pastinya, mereka tahu robot itu ketika TNI tugas dalam misi perdamaian konflik senjata di timur tengah. Robot itu mampu mengelak serangan lawan bahkan menyerang balik lawan tanpa mematikan."
" Promosi yang efektif, efisien, dan tepat sasaran." ucap Bara
" Papi jadi penasaran lihat robot itu. oh iya besok ditentukan rapat top 5 dan RaHasiYa terkait Aloya."
" Rapat di gedung RaHasiYa aja, Pi. Supaya isi pembahasan tidak bocor. Sekalian mau promosiin kantin cantik RaHasiYa."
" Oke."
" Gue penasaran secantik apa kantin kebanggan Lo."
****
Pagi ini Zahra bangun dengan tidak semangat, ingin dia membatalkan kencan tiga pasangan, tapi itu terkesan kekanak-kanakan.
" Ma, kakak pergi dulu, ada janjian." Zahra mencium tangan mama.
" masih pagi banget ini, kak. gak sarapan dulu?"
__ADS_1
" di luar aja. mumpung libur cari suasana baru."
" Mau Ayin anter, kak?"
" Enggak, terima kasih. mau naik motor aja."
Zahra mencium tangan mama sedangkan para adik mencium tangan kak Zahra.
Saat Zahra mengeluarkan motornya
" Ara." Zahra sontak menengok untuk memastikan si pemanggil yang suaranya cukup familiar baginya.
Hito berdiri di depan pagar rumah dengan raut letih, rambut berantakan. Di telisiknya Hito dari atas sampai bawah dapat dipastikan bahwa Hito masih memakai pakaian yang kemarin.
Zahra mendekati Hito.
" Kamu ngapain pagi-pagi buta di sini?"
" Berangkat bareng aku."
" Tapi,..." Melihat raut Hito yang tegang Zahra pasrah mengikutinya.
" Ayo." Zahra terlebih dahulu masuk ke mobil Hito
" Kita kemana?" tanya Hito
" Tadinya aku niat sarapan diluar dengan santai dan menghirup udara segar, tapi melihat penampilan kamu yang awut-awutan mending kamu bebersih dulu."
" Ya sudah kita ke tempat aku dulu.".
Sepanjang jalan, pikiran Hito terbelah antara jalan dan Zahra. Beberapa kali dia coba membuka obrolan, tapi dia sungkan hingga sampai di rumahnya.
" Sudah sampai, turun dulu yuk." Ajak Hito
Zahra melihat pemandangan keluar jendela mobil. " Tak bisakah aku menunggu di mobil saja?"
" Aku berharapnya kamu turun."
Zahra mengangguk " oke." Zahra membuka pintu mobil.
" Enggak apa-apa aku di kamar kamu?"
" Enggak."
" Sering ajak teman wanita ke kamar?"
Hito menggeleng " kamu yang pertama."
Faktanya Zahra tidak hanya masuk ke rumah papa Aznan, tetapi juga dipaksa Hito ikut ke kamarnya. Hito takut Zahra pergi.
" Kamu tunggu di sini, aku mandi dulu."
Zahra menunggu Hito duduk di sofa panjang dekat jendela, sebenarnya dia risih berada di kamar pria.
Setelah rapih Hito duduk di lantai di hadapan Zahra di bawah sofa, mereka saling pandang dengan pikiran masing-masing.
Hito menengadah menatap Zahra yang menunduk menatapnya.
" Aku minta maaf, sebelum pulang sebenarnya aku mau ke ruangan kamu, tapi bertemu Ziva di lobby yang mengatakan kalau kamu sudah pulang karena kamu tidak menjawab kala dia ke ruangan kamu. Seharusnya aku mengecek untuk memastikan."
Ziva termangu, lagi-lagi Ziva. Zahra membuang nafas berat.
" Dari kejadian ini aku berpikir kalau suatu saat kamu bisa berubah pikiran tentang perjodohan kalian." Hito menggeleng.
" Sewaktu-waktu perasaan kamu juga bisa berubah." Hito menggeleng cepat
" Jodoh, siapa yang tahu. Jadi menurut aku tidak hanya restu nenek yang menjadi permasalahan kita, tapi perasaan kita juga."
Hito mulai panik kala menyadari alur pembahasan Zahra mengarah ke hal yang dia takutkan
" Memang menyakitkan saat menyadari itu ketika awalnya aku yakin tentang perasaan kita yang kuat dan tidak goyah, Ziva temanku yang memiliki segalanya diatas aku yang bahkan dia mendapat restu nenek, tapi aku mau egois, boleh aku berjuang menjadi kekasih terbaik buat kamu sampai kemampuan terakhir aku untuk bertahan?"
Hito speechless, dia mengangguk " tentu, kita berjuang bersama."
Zahra tersenyum miris mendapati kini dia telah jatuh sejatuh-jatuhnya dalam diri Hito.
" Kita nikah, ya." Ucap Hito
" Iya, jika seluruh fokus kamu sudah hanya ada aku. Terima kasih sudah suka sama aku."
Hito menunduk, dia tahu Zahra sudah kecewa padanya. Yang dapat dia lakukan hanya mencium punggung tangan, dan menjatuhkan kepalanya di atas tangan Zahra.
" Kita baikan ya!?"
" Emang kita berantem?"
" Enggak secara fisik, tapi bathin dan itu sakit banget."
" Syukur deh ngerasain juga sakitnya." Sarkas Zahra.
Hito berdecak," ck, iya maaf."
" Aku juga minta maaf. Udah yuk turun gak enak sama om dan Tante."
" Kenapa sih buru-buru amat."
" Eh, ini masih pagi apa kata dunia seorang gadis cantik pagi-pagi udah ada di kamar lelaki yang bukan mahramnya" Zahra beranjak pergi yang diikuti Hito dengan muka cemberut.
" Tolong itu muka dikondisikan, mas. Entar aku disangka kdrt lagi."
Di ruang makan ternyata sudah ada kak Edel dan keluarga kecilnya, dia kaget melihat Zahra di rumahnya di pagi hari.
" Loh, Zahra kok di sini. Mereka sudah menikah, ma."
" Amiinnn." Ucap Hito, mama, dan papa Aznan
Zahra mencium tangan Edel dan Heru.
" Ini kak, adik kakak lagi ngidam pengen gadis cantik di kamarnya di pagi hari."
" Apa sih jawabannya ngawur banget. Kebanyakan penelitian ya." Dibalas ngawur oleh Kak Edel.
" Kayaknya." Ucap Hito yang mendapat geplakan manja di bahunya dari Zahra. Orang tuanya hanya menggeleng kepala saja.
" Hito, jangan lupa pagi ini kamu harus jemput Zivara Husain di rumahnya." Ucap nenek Sri tanpa basa-basi saat memasuki rumah
" Maaf, nek. Kak Hito pagi ini berangkat bareng aku." Ucap Zahra mencium tangan Nenek Sri.
Sejak memutuskan diri untuk berjuang, dia tidak sungkan lagi bersikap. Baginya tidak ada lagi menahan sikap atau rasa sungkan, sekarang waktunya bertindak sesuai hati agar tidak ada penyesalan.
nenek Sri kaget " Kamu, kenapa ada di sini?"
" Ya wajar, ma. Dia calon mantu saya." Ujar papa Aznan yang mendapat lirikan tajam nenek Sri.
" Dasar gak tahu malu nyamperin laki, perempuan yang baik itu disamperin bukan nyamperin.kayak Zivara Husain." Ucapan tajam nenek Sri berhasil menohok ego Zahra, tapi dia tepis.
" Tadi aku yang samperin Ara, maksa Ara buat ke sini." Ucap Hito
" Buat apa? Kamu sekarang jemput Ziva, dia calon isteri kamu"
" Gak minat, buat kakek Fatio aja. Ayo nek, kita makan, ini masih pagi."
" Gak Sudi nenek makan satu meja bareng dia." Nenek Sri balik badan keluar rumah, sebenarnya beliau takut Hito akan meluapkan amarahnya.
Hito melirik Zahra meneliti raut Zahra akan hinaan nenek.
" Maaf ya, atas perkataan nenek." Ucap mama.
" Gak apa-apa, kalau gak judes bukan nenek kayaknya." Mereka serempak tertawa mendengar perkataan itu.
" Kak, segera nikahi aja Zahra-nya." ucap Edel
" Gak bisa kak, Di rumah lagi sibuk persiapan nikahan Tia."
" Hah, serius kamu? Emang udah direstui sama Tante Sandra?"
" Belum, tapi Jimmy keukeuh tetap ingin menikahi Tia."
" memang hubungan mereka tidak direstui oleh Sandra?" tanya mama
Zahra menggeleng " enggak, Tan."
Edel bertepuk tangan kencang. " Hebat juga Atma Madina absurd yang satu itu teguh pendirian. Kapan nikahnya?"
" Kurang tahu, katanya setelah semesteran, entah kapan semesterannya. Kakak kapan pulang ke rumahnya, punya tetangga dekat satu pergi mulu kayak gak punya Tetangga."
" Ngomong sana sama calon suami kamu, kenapa nugasin bebeb ayang ke luar negeri mulu." Rutuk Edel.
" Buat modal nikah, yank." Ucap asal Hito.
" Yang nikah siapa, yang capek siapa."
" Udah sih, udah pulang ini. Heru aja biasa aja." Omel Hito.
" Pa, boleh gak sih jedotin kakak ipar ke tembok supaya otaknya geser." Jengah Heru.
" Silahkan, dia asuransinya tinggi loh, Zahra cepat kamu nikahi dia supaya dapat uang asuransi jiwanya." Ucap papa.
" Aduh, aku jadi tergoda. Om Heru, silahkan..." Zahra menggeser menjauh sedikit dari Hito."
" Ara, apa-apaan sih kamu." Hito menarik kembali Zahra mendekat padanya.
" Hahahah, takut dia dijedotin beneran." Ledek Edel yang menadapat jitakan keras dari Hito.
__ADS_1
" Aaawws, apa sih main jitak aja." Edel membalas jitakan itu, namun gagal yang membuat edel kesal dan mengejar hito yang berlindung dibalik tubuh mungil Zahra yang berdiri pasrah tubuhnya menjadi tameng bagi keduanya.