Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
baba 51. cerita cinta


__ADS_3

Tiga laki-laki dan tiga perempuan duduk berhadapan seperti kencan buta ala mahasiswa di meja panjang.


Satu pasangan yang official, satu pasangan masih tahap tarik ulur, satu pasangan saling menatap jengah.


" Pak, apa bapak tidak merasa terlalu tua ikut acara kayak begini." tanya Zivara


" Kamu pikir saya mau hadir di acara jones begini, dan saya tidak setua yang kamu pikir." ucap prof. Farhan


" Cih, puber ke tujuh. Usia 45 tahun belum tua, katanya."


" KTP saya di kamu, lihat tahun saya lahir."


Zivara mengeluarkan dompet dari dalam tasnya, dari tahun lahir di KTP terhitung usia prof. Farhan berusia 43 tahu."


" Dua bulan lagi saya baru 44 tahun."


" Cih beda tipis doang, tetap saja depannya angka empat."


Prof. Farhan membuang nafas lelah, " tua begini kamu cinta, kan." Zivara terdiam dengan ucapan yang nohok itu


Zahra, Hito dan Zahira tertawa tertahan mendengar perdebatan yang akhirnya dimenangkan oleh prof. Farhan.


" Hira, Lo kenapa ngelihatin pasangan Lo kayak ngelihat musuh." Tanya Zivara mengalihkan pembicaraan, prof. Farhan hanya tersenyum geli.


Zahira memutar bola mata jengah menjadi tumbal Zivara. " Dia mantan tunangan gue."


" HAH, sumpah Lo!?" Teriak Zahra dan Zivara. Mengundang beberapa pasang mata menatap mereka


" Heh, tu lambe dijaga tatakramanya dokter padahal."omel Zahira.


" Jadi ini orang yang waktu itu Lo cerita. Ck, Dasar labil. Mending kak Hito. Kak, kita jadiin aja yuk perjodohan kita."Celetuk Zivara.


" Heh, jangan ngadi-ngadi pecah perang dunia ketiga mau tanggung jawab." Sembur Zahra.


" Cih, bucin." Ledek Zivara 


Hito terkekeh senang mendengar keposesifan Zahra.


" Senang Lo di bucinin." Ledek teman Hito.


Hito mengangguk " banget."


" Tapi kayaknya gue gak asing muka mantan Lo itu." Zahra mengalihkan pembicaraan, karena malu. Hito terkekeh gemas melihat tingkah kekasihnya


" Dia Samudra, tetangga gue."


" Ya ampun, yang rumahnya tepat di depan rumah Lo yang guede banget itu."Zahira mengangguk.


" Kalau gue tahu teman yang di maksud kak Hito dia, males gue ikut."


" Kamu pikir aku mau ikut acara beginian. Lagian kamu kan tahu Hito itu teman aku."


"  Gak tahu, mungkin cewek yang kamu maksud mantan kamu yang tukang selingkuh itu."


Samudra melirik Hito meminta kepastian, Hito mengangguk. Samudra membuang nafas gusar dia mengusap wajahnya kasar.


" Maaf, oke. Dan aku gak selingkuh."


" Coba bisa ada yang jelaskan apa namanya berhubungan dengan mantan ketika kamu punya tunangan bahkan sampai peluk dan cium."


Zahra dan Zivara terbelelak " itu sih brengsek banget." Sahut Zivara.


" pecat aja dari warga RW Lo." oceh Zahra.


" Iya, lebih brengsek dari Kak Hito yang jalan bareng Lo." Ceplos Zahira.


" Heh." Panik Zivara. Sedangkan Zahra diam


" Lo biasa saja, apa Lo tahu mereka jalan bareng ke rumah sakit?" Zahra mengangguk


" Hebat sih Lo, kalau gue udah gue benyek si Ziva."


" Gue udah bilang itu paksaan nenek." Zivara melirik Zahra yang mendadak bungkam seribu bahasa.


Hito yang sepanjang perdebatan para sahabat Zahra sedari mereka masuk asik memainkan lengan baju  Zahra karena tidak tertarik pembahasannya refleks memegang tangan Zahra.


" Biasa saja, mau bagaimana lagi." Zahra pasrah, Hito tidak menyukai itu.


" Lo pasti juga tahu kan kalau mereka sering pergi berdua, maksudnya mereka sudah pergi lebih dari sekali."


Zahra tersentak kaget, dia menggeleng " enggak, gue gak tahu kalau yang itu. Gue baru lihat kemarin dan gue pikir itu yang pertama." Jawab Zahra dengan suara kecil menahan sakit


Pegangan Hito semakin erat di tangannya, Hito menatap Zahra intens berharap Zahra menatap dia balik, tapi itu tak terjadi. Zahra memilih menatap ke sembarang arah selain ke Hito.


" Maaf, melihat situasinya pertemuan ini harus diakhiri dini. Farhan, saya minta kamu antar Ziva pulang."


" Gue bawa..."


" Kalau kamu mengkhawatirkan Ziva, kenapa gak nganter dia sendiri." Sindir Zahra.


Hito mengutuk dirinya sendiri atas kesalahan bicara


" Bukan khawatir, aku cuma..."


" Prof, apa prof tahu mereka sering jalan bareng?" Zahra menyela Hito


Farhan melirik Zivara " Sesekali saya melihat mereka di lobby rumah sakit." Zivara yang sejak pembahasan ini diulas menunduk sontak mengangkat kepala menatap nanar ke prof. Farhan.


" Tapi saya sadar diri, dan tidak punya hak untuk melarang mereka. Saya hanya berharap Zivara mampu menemukan kebahagiaannya tanpa menyakiti orang lain."


Zivara berdiri, dia menarik tangan prof. Farhan. " Ayok, kita pergi dari sini." Prof. Farhan tanpa kata mengikuti kepergian Zivara yang terus menggenggam tangannya.


" Kamu enggak apa-apa ditinggal Ziva?" sarkas Zahra.


Hito menatap sesal kepada Zahra yang tidak Zahra tanggapi.


" Hira, Lo kalau mau ke prof. Farhan juga berdiri di belakang gue. Karena gue duluan yang suka beliau ketimbang Lo."


" ZAHRA." sentak Hito.


 Zahra cuek, " hanya cadangan, jodoh siapa yang tahu." Hito benar-benar tidak suka mendengarnya. Hito menarik tangan Zahra dengan lembut namun tegas.


Tinggal Samudera dan Zahira yang masih bertahan di cafe itu.


" Kamu senang?" sarkas Samudera.


" Enggak, tapi ini lebih baik daripada berlarut-larut. Orang selalu berpikir Zahra itu baik-baik saja dengan situasi tidak menyenangkan, tapi mereka tidak tahu Zahra itu pendendam. Aku gak mau Ziva merasakan dendam Zahra.


" Memang apa yang bisa dia lakukan?"


" Zahra tak perlu melakukan apapun, dia punya dua saudara lelaki yang dengan sukarela melakukan pembalasan untuknya yang gak akan kamu fikirkan, dalam situasi yang tidak di duga, namun menyakitkan. Bagi mereka mata harus dibayar mata."


Samudera diam merenungi pembicaraan ini.


" Kayak kamu, kamu marah sih enggak mendapati aku dekat dengan mantan, tapi kamu langsung copot cincin pertunangan kita dan menjaga jarak diantara kita." Ucap Samudera menohok.



" Ngomong dong, Ra." Sudah lima belas menit mereka di dalam mobil tanpa bicara apapun, Hito tidak nyaman dengan situasi ini.



" Ngomong apa?"



" Aku gak jalan sama dia nenek yang maksa aku minta anter ke rumah dia, dan maksa aku nganter dia. Sumpah, terus begitu berulang kali."



" Mulai sekarang aku benar-benar akan egois, tadinya aku pikir bakal menyusahkan kamu kalau kamu antar jemput aku, tapi ternyata kamu masih sempat antar jemput Ziva."



" Aku janji gak bakal begitu lagi apapun kata nenek."



" Emang gak akan ada lain kali, mulai besok kakak antar jemput aku apapun yang terjadi." Zahra menatap Hito, Hito tersenyum mengangguk mantap.



" Bapak lihat kami? Dan gak ngomong apapun? Bapak suka saya enggak sih, jangan PHP in saya lagi loh, pak." Zivara jengkel.


Farhan menatap Zivara " saya mau negur kamu, tapi lihat kamu tertawa jika bersama dia saya bisa apa. Saya udah banyak bikin kamu sakit hati dan menangis. Bagi saya cukup lihat kamu bahagia, saya bahagia juga." 


" Tapi saya mau bahagianya sama bapak, paham gak sih." Cicit Zivara


Farhan menatap Zivara syahdu. " Aku dengar, kamu sering ditegur oleh Anna?"


Ziva mengangguk " dia menyebutku pelakor, dan disuruh jauhin bapak. Kapan juga kita dekat, ya pak? Bagaimana sebenarnya status kalian, dokter Anna tuh kalau negur urusan pribadi gak lihat tempat deh, saya jadi risih."


" Saya dengan dia sudah pisah, kita sedang urus masalah administrasinya saja. Sudah ketok palu hakim juga."


" Jadi, bapak duda ya,"


" Duda rasa perjaka."


" Hah? Maksudnya apa?"


" Saya menikah dengannya, tapi kita belum pernah tidur bareng cuma nyampe peluk, dan cium doang."


" Kenapa? Gak pengen?"


" Saya lelaki normal tentu rasa ingin ada, tapi saya gak bisa. Setiap kali mau deketin dia saya selalu kebayang wajah sedih kamu jadi,.. entahlah itu membuat saya gak bisa bertindak jauh."


Ziva tertegun. " Ziva, entah ada rasa atau tidak antara kamu dan Hito, tapi perbuatan kalian yang membuat orang salah paham. Kamu harus lebih peka terhadap Zahra tadi saya lihat mata dia terluka mendengar kalian sering jalan bareng."


" Kami sudah bersahabat lama, Zahra tahu pasti kalau saya tidak akan mengkhianati dia, jadi dia tidak mungkin mikir yang tidak-tidak tentang saya dan Hito."


" Syukurlah kalau begitu, tapi saya hanya mengingatkan saja. Kadang kala kita tidak mengenal mereka seperti yang kita pikir. Jaga sikap saja itu lebih baik."


Zivara mengangguk, Farhan mengusap kepala Zivara " saya sayang kamu." Zivara terkaget mendengarnya


****


Sekelompok pemuda kumpul di basecamp mereka di gudang kampus.


Hari ini mereka memutuskan teman mereka sebagai asisten mereka.


" Kal, Lo mau jadi asisten gue di RaHasiYa gak? Setelah menikah, selama libur semester gue banyak keluar, Lo handle di dalam." Ujar Jimmy.


" Di bayar?"


" Ini pro."


" Berapa?"


" Heh, belagu. Lo kerja di RaHasiYa aja itu udah prestisius banget bagi orang awam kayak Lo. Udah gue japri berapanya, Lo nawar gue tutup semua akses kerja Lo dan keluarga Lo." Jimmy meledak.


" Haikal memeriksa ponselnya, " serius segini? Gue emang belum gabung sama RaHasiYa, tapi dari beberapa kali kita kerja sama kerjaannya gak gampang."


" Lo ambil atau jadi pengangguran selamanya." 


" Ck, iya gue ambil." Haikal merengut.


" Gitu dong ikhlas." Jimmy nyengir lima jari. Haikal menimpuk wajah Jimmy dengan gorengan berminyak


" Heh,..."

__ADS_1


" Gue belum resmi jadi asisten Lo, jadi masih bisa ngelunjak sama Lo." Rutuk Haikal.


" Zal, gue butuh Lo jadi asisten gue." ucap Daniel. Sebagai asisten Lo bakal sering komunikasi dengan Wahyu asisten gue di Birawa."


Rizal mengangguk antusias, dia gak akan seperti Haikal yang sok coba nego faktanya dia sangat butuh pekerjaan ini untuk keluarganya.


Satu notifikasi masuk ke ponselnya, Rizal terbelalak melihat jumlah nominal gaji dia.


" Gaji Lo gue japri, Lo lihat udah cocok, belum?" Rizal mengangguk cepat


" Thanx, nyokap gue gak mesti bangun tengah malem lagi buat bikin nasi uduk."


" Nyokap Lo jualan nasi uduk?" Tanya Jeno."


" Iya."


" Enak, enggak?" Tanya jimmy


" Kapan gue bisa mulai kerja?" Tanya Rizal tak menjawab pertanyaan Jimmy.


" Kalau bisa besok, sekalian tanda tangan surat kesepakatannya."


" Besok gue bawa nasi uduk nyokap gue, Jim. itung-itung selamatan gue dapat kerja." Sumringah Rizal.


" Sorry, bisa gue minta honor di muka?"


" Hah?" Daniel terkaget


" Bapak sakit, buat periksa ke dokter." Ucap Rizal sungkan.


Tanpa menarik perhatian Daniel dan Bara saling mengkode


" Bawa aja ke rumah sakit Atma Madina, setiap pegawai dan keluargnya RaHasiYa dapat asuransi kesehatan di rumah sakit itu." Ujar Daniel.


" Serius? gue memang dapat rekomen ke sana, tapi belum bisa karena belum ada biaya."


" Besok Lo bawa ke sana. Begitu Lo tanda tangan langsung aktif."


" Oke, terima kasih banget."


" Dibalas dengan kerja yang terbaik."


" Siap, bos."


" Rio, Yuda. Kita beberapa kali kerja sama dan gue rasa kita cocok, jadi gue harap Lo jadi asisten nya Ibnu." Ujar Mumtaz sungkan kalau melabeli mereka sebagai asisten dia.


Ibnu melongo menunjuk diri sendiri dengan bertanya " asisten gue?"


" Rio, gue butuh skill dia  merakit komputer, dan gue butuh Yuda entah untuk apa, tapi feeling gue, gue butuh dia." Mumtaz enggan bicara panjang lebar


" Sip, dengan senang hati. Gua gak bakal belagu kayak Haikal yang sok nolak padahal butuh. S karang dapat kerja susah." Cerocos Rio.


" Gue siap kapan saja." Ucap Yuda.


" Gue butuh Radit sebagai wakil gue di rumah sakit. Entah bagaimana feeling gue dia cocok di sana." Ujar Jimmy.


" Kita  butuh Jeno buat melengkapi sistem RaHasiYa. Gw pikir kita perlu membentuk organisasi menjaga keamanan dilapangan dan itu dikepalai oleh Jeno." Ujar Mumtaz.


" Gue sih, oke aja Mum. Tapi untuk jadi ketua mereka kayaknya sedikit keberatan, terus terang kita menyatu bukan karena gue  tapi karena Bara, jadi gue pikir mending Bara yang mengepalai mereka."


" Gue gak punya waktu kalau harus ngurus mereka secara intens mengingat beberapa bulan ke depan Atma Madina akan melakukan beberapa invansi ke beberapa bidang bisnis."


" Secara strukturalnya saja Bar, gue yang handle dikalangan." Ujar Jeno.


" Mending Lo, Muy. Toh awal bergabungnya kita juga gara-gara elo." Ucap Bara.


" Menurut kalian?" Tanya Mumtaz ke yang lain.


" Angkat tangan yang setuju dengan Bara." Ucap Radit. Mereka semua yang hadir mengangkat tangan.


" Baiklah. Besok kumpulin mereka, Jen." Mumtaz melempar kartu debit ke Jeno.


" Asik. Dimana?"


" Terserah, Kalau bisa malam aja siang jadwal gue padat."


" Btw, Jim. Ada nama Adinda Aloya di daftar orang-orang yang menjadi sukarelawan buat Pema." Ucap Yuda.


" Baguslah, itu yang gue mau." Tanggapan Jimmy.


" Lo lagi rencanain apa, Jim." Tanya Daniel khawatir.


" Gak ada. Gue cuma pengen dia ada dalam pengawasan kita." 


" Terserah Lo, tapi pastikan dia jauh dari Tia." Ujar Bara.


" Yud, gue udah koordinir team gue, kayaknya team gue mulai hari ini periksa lapangannya takut besok-besok gue gak sempat." Ucap Mumtaz.


" Bagus itu, inisiatif sendiri gak perlu di Arahin mulu seperti yang lain." Sindir Yuda.


" Nyindir kita, Lo?" Jimmy menyolot


" Kesindir Lo?" 


" Dih, Kebem nyebelin."


" Kayak cewek Lo, Jim. Kita juga hari ini aja mulainya." Ujar Daniel.


Ibnu membagikan dua bundel kertas berisi retasan dan penyelidikan RaHasiYa selama ini tentang sepak terjang pergerakan bisnis Aloya dan materi pertemuan dengan top 5


" Gue bagi laporan ini untuk kalian pelajari, karena kita akan mengadakan pertemuan dengan top 5 perusahaan di Indonesia." Ujar Ibnu.


" Gue berniat akan buka kembali Surga Duniawi, bagaimanapun di sana lah salah satu perputaran ekonomi terbesar mereka." Ucap Mumtaz


" Gue dan Ibnu sudah masuk ke server masing-masing perusahaan terkait Aloya, dan menemukan mereka memiliki  server yang dijadikan pusat database bisnis-bisnis mereka yang berada di naungan Surga Duniawi. Artinya jika kita ingin melumpuhkan mereka tidak hanya membatasi pergerakan bisnis mereka, tapi kita arahkan mereka menumpuk semua bisnisnya di Surga Duniawi, dan setelah terkumpul hancur ratakan dengan tanah." Ucap tegas Mumtaz.


" Jen, kita ajukan proposal latihan bareng bersama TNI alasannya menumpas premanisme. kita jadikan mereka terlatih secara terorganisir, jika ada serangan fisik di lapangan kita sudah siap."


" Siap, bos." Ucap Jeno.



Enam gadis heboh karena adu argumen barang yang harus dibeli.



" Ta, ini tu nikahan gue, kenapa Lo yang ribet. barang yang di list tu pilihan Lo semua, Lo minta sana sama kak Daniel buat nikahin Lo." Omel Tia.



" Kalau gue berani, udah gue lamar juga dia."



" Apa maksud dari omongan si Ita, Ya?" Tanya Mayang.



" Mereka jadian karena si Ita nembak duluan kak Daniel waktu dia mabok." Jawab Tia.



" Sejak kapan Lo mulai mabok?"



" Ish, itu yang pertama dan terakhir, kapok gue."



" Untung Lo diterima coba kalau ditolak, mau mendem di got Lo." Ujar Amanda mendapat cebikan dari Dista.



Pembicaraan mereka didengar oleh dua orang gadis yang duduk tak jauh dari mereka dengan tersenyum licik yang beranjak pergi karena melihat para sahabat lelaki datang



" Ini kenapa pada heboh." Ucap Radit yang mendatangi mereka disusul para sahabat lelaki.



" Ini Dari tadi mereka berantem mulu. Mana perut laper." Dumel Cassandra



Bara yang duduk di sampingnya mengeluarkan sekotak cemilan risoles



" Ini makan, cuekin mereka." Bara merapikan rambut Cassandra yang tertiup angin.



Risoles itu langsung diserbu para sahabatnya. yang mendapat protes dari Bara, namun tak digubris.



" Udah kalian gak usah ribut mulu, sekarang gue sebutin satu-satu. Kalau ada yang Lo gak suka kita coret " ujar Sisilia sambil makan risoles.



Ketika selesai menyebutkan barang-barang yang dibutuhkan



Prak!!!!



Sislia memukul kepala Tia dengan kertas yang dipegangnya para sahabat melongo, pasalnya baru ini mereka melihat Sisilia berbuat kekerasan.



" Kenapa Lo mukul gue." Sewot Tia.



" Lo dari tadi berantem sama Dista karena masalah list barang, tapi semua yang dicatat Dista Lo setuju. stres Lo?" Sisilia gregetan. Mumtaz mengusap tangan Sisilia menenangkan.



" Emang?" Tanya polos Tia.



" Apa gue bilang." Dista berjumawa.



" Ta, Lo kalau mau juga itu barang tinggal beli dua setiap itemnya." Ucap enteng Cassandra.



" Heh, itu lambe ringan banget ngomongnya. Lo pikir ini beli cilok yang di depan." Sewot Dista



" emang berapa?" Tanya jimmy.

__ADS_1



" Ini. Tinggal dikali dua kalau Lo mau beliin buat Ita juga, kak." Sisilia menyerahkan kertasnya yang tertera jumlah total harga belanjaan Tia.



" Ujubuneng, ini mah habis nikah numpang dirumah mertua selama seabad." Sarkas Jimmy.



" Kan katanya mau resepsi yang mewah." Bela Tia



" Ya..., Tapi gak gini juga, yank." Para sahabat melihat harganya dan geleng kepala.



" Udah sih Jim turutin aja. Sekalian Ita juga Lo beliin." Ucap Daniel.



" Iya Jim, kadonya Lo minta bangunin rumah di lahan kosong depan rumah Mumtaz ke Daniel." Ucap Bara.



" gue yang rancang rumahnya." Mumtaz menimpali.



" Oke, gue setuju." 



" Lo gak malu sebagai kepala keluarga rumah aja dibangunin sama gue " 



" Enggak, itu rezeki pasangan Soleh dan Solehah." Daniel mencibir.



" Udah ah. Aku mau ke kantin entar ada jam kuliah." Sisilia beranjak pergi



" Aku antar." Mumtaz menggandeng tangan Sisilia.



" Mumtaz kenapa jadi bucin begini." Ucap Rio



" Udah gede dia." Celetuk Radit.



" Si kalem mulai bertingkah kasmaran." Seloroh Ubay.



" Terus aja di omongin gue mah ikhlas, apa sih yang enggak buat neng Sisilia." Ucap Mumtaz menjauh.



" Hueeeek." Para sahabat bergidik ngeri. Aneh dengan sikap Mumtaz.



Ibnu tertawa kecil melihatnya.



" Lo tahu sesuatu yang kita gak tahu, Nu?" curiga Jimmy.



Ibnu menggeleng " enggak ada apa-apa, dia hanya sedang jatuh cinta."



" Malu kan, kamu kenapa aneh banget." omel Sisilia sambil mengaduk baksonya. sementara Mumtaz makan nasi capcay.


" Gak tahu, bosen aja tanggapan mereka kalau lihat aku sama kamu."


" Kamu cukup hanya makan bakso?"


" Iya, mau?"


" Enggak, aku gak terlalu suka bakso. udah makan nasi?"


" Hari ini belum, Sukanya apa?"


" Kamu."


" Apa sih receh banget, kamu lagi cosplay jadi siapa?"


" Geli ya, aku aja yang ngomong geli. Kok orang pada betah ngomong kayak gitu." Sisilia tertawa.


Melihat Sisilia tertawa Mumtaz suka, menurutnya tawa Sisilia salah satu hal terindah yang Tuhan ciptakan.


" Jangan lihatin aku kayak gitu."


" Kayak gimana." Mumtaz sesekali menyuapi Sisilia nasi Capcaynya.


" Tau ah."


" Maaf kalau kamu terganggu, tapi sejak dulu aku suka melihat kamu tertawa." Ucap Mumtaz lembut. Sisilia salah tingkah.


" Oh iya, maaf. hari ini aku gak bisa nganter kamu pulang, team aku hari ini mulai inspeksi lapangan buat Pema. Kemungkinan pulang malem."


Sisilia mengangguk meski dia kecewa. Dia jarang menghabiskan waktu bersama Mumtaz, jadi momen antar pulang dijadikan Sisilia sebagai quality time mereka.


" Kamu gak apa-apa kan?" Khawatir Mumtaz.


" Ya mau gimana lagi. Kamu sekelompok sama kak Riana ya?"


Mumtaz menghela nafas " Iya, dengar. aku gak bisa larang kamu buat gak cemburu, aku cuma pengen kamu tahu aku gak tertarik sama sekali padanya. Aku cuma mau kamu." Ucap tegas Mumtaz.


" Iya, maaf. Ini bukan karena aku gak percaya kamu, hanya saja..."


" Cemburu boleh, tapi jangan negatif thinking ya." Sisilia mengangguk.




" Mum, bisa pulang bareng?" Riana mendekati Mumtaz yang sedang memakai helm.



" Rumah Lo, dimana?"



" Kali bata."



" Jauh, enggak searah sama gue."



" Woy, ada yang arah kali bata enggak?" Tanya Mumtaz ke teman-teman yang lain. Mereka menggeleng.



" Rom, tuker motor." Ucap Mumtaz ke Romli yang bawa motor Scoopy.



" Serius, Lo?"



" Iya, bawel. Ini." Mumtaz melempar kunci motornya.



" Gue anter Lo sampe mall yang terdekat ya. Selanjutnya terserah Lo."



Riana mengangguk semangat, tak apa tak diantar sampai rumah yang penting dia dibonceng Mumtaz walau sebentar.



" Woy, Mum, inget bini di rumah." Ledek Romli.



" Lo anter dia atuh."



" Jauh."



" Lo pikir gue enggak."



" Lah, kenapa Lao mau anter dia?"



" Karena gak ada yang mau nganter dia."



" Ayo cepat naik, gue buru-buru."



Mereka meninggalkan kampus dibuntuti oleh satu kendaraan lain yang memotret mereka dengan senyum miring licik, dan mengirim foto itu ke seseorang.



Nyatanya cemburu itu akar keresahan Sisilia yang berpikir negatif kala mendapat satu notifikasi yang mengirimkan foto Mumtaz berboncengan dengan Riana...



jangan plagiat ya,. menulis itu lebih sulit dari pada membacanya.



^^^Sabtu, 28, Agustus, 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2