Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 59. Pernikahan


__ADS_3

" muy, kamu itu lagi bikin apa sih? Sejak berdiri sampe sekarang tertutup rapat, sok rahasia Lo." Ucap kak Zahra menghampiri Mumtaz yang mengamati dari luar tenda yang tertutup rapat.


" Emang rahasia!"


Mumtaz melirik kak Zahra dan melayang tatapan ke belakang kak Zahra yang ternyata tidak mendapati siapapun.


" Baru pulang, kak? Sendiri?" Tanya Mumtaz, kak Zahra mengangguk lesu.


" Kenapa gak telpon?"


" Kirain bakal dianter pulang, ternyata zonk. Udah nunggu lama padahal, mungkin dia sedang sibuk."


"Hehehehe..." Mumtaz tertawa sinis.


" Aku gak suka ketawa kamu ya, Mumtaz. Kalau mau ngomong sesuatu, ngomong aja." Swot kak Zahra.


" Kemarin siang aku lihat om Hito jalan bareng sama kak Ziva di mall. Buat kakak sibuk, buat teman kakak enggak. Masih mau terus sama dia?" Sarkas Mumtaz yang menatap raut kak Zahra yang terbengong.


" Kata dia kemarin dia makan siang bareng keluarga, makanya batalin janji makan siang bareng kakak." Cicit kak Zahra.


Menghela nafas berat, " kalau gak percaya, cari info langsung ke Akbar." Mumtaz segera melakukan sambungan VC ke Akbar.


" Hallo, tumben Mum. Ada apa? Tanya Akbar di seberang.


" Apa benar kemarin siang ada acara makan siang bareng keluarga?" Tanya Mumtaz langsung.


Akbar mengangkat alis heran dengan ke kepoan Mumtaz " iya," dan matanya berbinar seakan paham maksud pertanyaan Mumtaz yang melihat kode mata dari Mumtaz melirik arah ke sebelahnya yang ternyata ada kak Zahra. " Nebuy maksa ngajak Kak Ziva juga, padahal om gue males banget."


" Awalnya nenek maksa om Hito buat jemput kak Ziva, tapi ditolaknya. Katanya daripada jemput Ziva mending makan siang bareng kak Zahra, daripada om Hito gak balik, terpaksa kak Ziva berangkat sendiri, mungkin mereka bertemu di pintu mall itu." Terang Akbar.


Kak Zahra mengangguk paham " emang om Hito gak ngomong apa-apa?" Tanya Akbar, kak Zahra menggeleng.


Akbar mengusap tengkuknya tak nyaman " mohon dimaafkan om Hito sedang sibuk banget, ada beberapa hal yang harus dilakukan dengan segera. Om Hito mengambil putusan menolak perpanjangan kerja sama dengan Husain group, mungkin ini sikap perlawanan om Hito atas ulah Nebuy Sri." Lanjut Akbar.


" Ya udah, thanks atas infonya. Sekalian bilangin sama om Lo kalau dia gak bisa jemput kakak gue seenggaknya ngasih tahu jangan bikin kakak gue nunggu lama sampe pulang malem." Pungkas Mumtaz.


" Iya, sorry ya." Akbar menutup sambungan telpon berbarengan om Hito masuk ke ruangannya.


" Telponan sama siapa kamu?" Tanya om Hito sembari duduk di sofa single.


Akbar seketika mendelik kesal ke om-nya.


" Dari Mumtaz, katanya kemarin dia lihat om jalan bareng kak Ziva di mall. Tadi juga ada kak Zahra." Ucap Akbar santai.


Gerakan om Hito yang sedang merapikan dasinya terhenti kala mendapat info itu. Dia mematung.


" Udah kamu jelaskan apa yang terjadi?" Tanya harap om Hito, Akbar mengangguk.


" Baik kan aku, Mumtaz juga kirim pesan kalau om gak bisa jemput kak Zahra minimal kasih tahu jangan sampe kak Zahra nunggu lama."


Baru lah raut wajah om Hito berubah was-was dan khawatir, dalam hati dia mengutuki diri sendiri karena lagi dan lagi dia lalai. Hito beranjak ke mejanya dan menyambar kunci mobilnya mengambil langkah besar menuju pintu.


" Om, mau kemana?" Tanya Akbar.


" Jemput Zahra!" Hito menjawab sambil menelpon Zahra berulangkali yang tetap tidak mendapat jawaban dari seberang.


" Gak dengar? Tadi aku bilang kata Mumtaz, berarti kak Zahra sudah nyampe rumah." Ucap Akbar. Hito berhenti di depan pintu dengan satu tangan memegang kenop pintu.


Hito menutup matanya rapat, dia membentur-benturkan pelan kepalanya ke pintu.


Dengan perasaan kesal sekaligus sesal Hito kembali ke sofa tempat ia duduk semula, Hito memijit-mijit pelipisnya dan memukul tangan sofa keras melampiaskan kemarahan kepada dirinya sendiri.


" Kenapa bisa lupa? Habis anter kak Ziva pulang?" Tanya sarkas Akbar.


Hito mendelik tajam," kalau om punya waktu lebih buat orang, itu pasti buat Zahra." Bentakan kesal Hito layangkan untuk Akbar yang terlihat santai.


****


Rudi mengetuk-ngetukkan sebuah undangan di atas mejanya sambil berpikir " jadi yang akan menikah ini Alfaska Atma Madina yang akan kamu jodohkan dengan Dinda?" Tanya Rudi Kepada Celine, isterinya.


Rudi mendapat undangan itu dari Celine atas pemberian dari mami Sandra.


" Iya, aku gak bisa mundur lagi. Mereka menghina ku dengan mengusir kami keluar dari rumah mereka dengan kasar." Ketus Celine.


" Hehhehe...." Rudi tertawa mencemooh " kamu itu emang bodoh, ambisi boleh punya tapi juga harus tahu diri. Apapun yang sudah kamu sepakati dengan Sandra Atma Madina batalkan atau kita mati." Tukasnya.


Celine terlihat berang dengan suaminya karena selalu tidak mendukung keinginannya " aku tidak akan membatalkannya, sekarang kamu boleh menyangsikannya suatu hari kamu akan mengakui kehebatan aku kalau aku sudah menguasai Atma Madina." Pongah Celine.


" Itu tidak akan terjadi, tapi aku akan turut serta mengikuti permainanmu karena ketika kamu kalah, aku akan menertawakanmu." Sinisnya


Celine mengepalkan kedua tangannya geram " selalu, selalu saja kamu sinis dengan aku. Aku sudah melakukan segalanya untukmu tidakkah kau bisa mencintaiku meski sedikit?"


" Ck, drama. Aku sudah menikahimu, dan setia padamu seperti yang kamu inginkan apalagi yang belum aku lakukan?"


" Lupakan dia, jadikan aku ratu di hatimu!"


" Terlalu berlebihan, kalau bukan karena kesepakatan itu, demi tuhan aku pasti sudah meninggalkanmu. Keluar kau!" Hardik Rudi.


 Celine dengan tubuh bergetar dan wajah memerah meninggalkan ruang kerja Rudi. Rudi masih menatap undangan itu mengolah memori dalam otaknya, matanya membesar dan berbinar kala mengingat sesuatu.


" Jadi itu kau bocah tengil!" Gumamnya " tentu aku akan menghadiri pernikahan ini, sangat mendebarkan." Rudi menekan tombol di sebelah kanan bawah meja dan terbukalah dinding di belakangnya kemudian menyimpan undangan itu di lemari besi yang terdapat di balik tembok tersebut


Semua gerakan Rudi tertonton oleh seorang pemuda yang berdiri di depan layar besar di ruang konferensi.


" Got you!" Pemuda itu menelpon rekannya " Niel, bawa drone ke Surga Duniawi beserta para robot komplit. Bilang sama mama malam ini gue gak pulang." Dia menutup sambungan telponnya.


" Muy, ayo kita pergi." Ujar Ibnu yang sudah bersiap dengan pakaian serba hitam dan wajah yang di poles dengan pewarna hitam juga.

__ADS_1


Mumtaz membalikan tubuhnya menghampiri Ibnu " malam ini kita tuntaskan urusan tentang mereka." Ibnu mengangguk tanpa protes.


Kala para sahabatnya sibuk dengan persiapan pernikahan Jimmy dengan Tia, sejak kedatangan Celine dan Adinda ke rumah Atma madina Ibnu dan Mumtaz tanpa sepengetahuan mereka menyempurnakan penyelidikan menyeluruh tentang Aloya, dan malam ini malam terakhir mereka eksekusi di lapangan.


Ketika mereka hendak keluar ruangan lampu sirine dibagikan DPO menyala menandakan pencarian identitas telah berhasil, Mumtaz dan Ibnu mendekat untuk melihat hasil pencarian mereka selama ini.


Mata mereka membulat sempurna, mereka saling pandang, dan kemudian tersenyum smirk.


" PERFECTO !!!" Ucap mereka berdua.


*****


Mami Sandra berdiri dipinggir jendela melihat kemeriahan dan kesibukan rumah bude Sherly yang terletak persis di seberangnya.


Terkadang matanya melirik papi yang sedang merapikan diri di depan cermin besar memeriksa kembali seragam kokoh dan sarung lipat selutut di atas celana bahannya berwarna gading yang sudah rapih, memperbaiki letak kopiahnya, terakhir papi menyambar kunci mobil yang berada di atas nakas pergi keluar dari kamar tanpa bertanya atau menawarkan mami akan ikut iringan pengantin atau tidak.


Mami menghela nafas kasar terbesit rasa kesal dan sesal dalam waktu bersamaan di hatinya, kala tidak turut serta dalam kesibukan mempersiapkan pernikahan anak semata wayang. Dia mulai ragu, apa keputusannya menentang pernikahan Alfa dengan Tia itu sudah benar?.


Mami menjatuhkan tubuhnya di atas kasur menatap langit-langit atap mengenang masa-masa lalu dia dengan Alfa.


Alfa kecil yang selalu mengekornya bahkan sampai memaksa masuk kamar mandi jika mami ada kebutuhan di kamar mandi, menangis kala mami harus operasi usus buntu, sampai tragedi penculikan itu terjadi. Mami tertegun tegang matanya melebar kala menyadari tak memiliki kisah emosi dengan anaknya setelah penculikan itu.


Dia sibuk dengan rintisan butiknya yang dalam waktu singkat ternyata mengalami perkembangan yang baik sehingga berhasil membangun cabang butik di beberapa propinsi di Indonesia.


Pernyataan Zahra bahwa ada sayur yang ditakuti oleh Alfa mengusik bathinnya sebagai ibu, pasalnya selama ini mami tidak tahu jika ada sesuatu yang ditakuti Alfa apalagi kepada sayur.


Mami merubah posisi tidurnya menyamping memeluk guling, memaksa memori dalam otaknya mengulik kehidupan hangatnya keluarga setelah penculikan itu, tapi nihil, yang muncul hanya interaksi basa-basi saling menyapa, dan menanyakan kabar setelahnya mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Sedangkan di rumah seberang Jimmy dan para lelaki duduk manis di sofa menunggu para wanita yang masih heboh.


Beberapa hari lalu telah diputuskan bude Sherly akan dibantu bunda Hanna, karena keluarga Birawa, Rugawa, dan para sahabat Bara akan datang sebagai bagian dari keluarga pengantin laki-laki.


Sedangkan mommy Elena akan membantu mama Aida yang juga dibantu para tetangganya.


" Bude, seriusan ini belum juga selesai? Udah jam 8 loh." Omel Jimmy 


" Iya, ini dikit lagi."


" Apalagi? Kan dari kemarin bude udah meriksa itu berapa kali, sekarang tinggal bawa aja kali." Dumel Jimmy.


" Ini bedak aku udah luntur ni, dandan Dari subuh jam segini belum berangkat juga kalau telat, bude yang aku tuntut." Rutuk Jimmy kesal, Bara menjitak keras kepala Jimmy dengan sebal.  Dirinya juga sudah kesal karena sedari tadi mamanya hanya terlihat bolak-balik saja tanpa bawa apa-apa.


" Udah kamu hafalin saja ijab-qabulnya, salah malu-maluin Atma Madina." Ujar Bude Sherly jutek.


Di sinilah dia, di mesjid sedang berjabat tangan dengan Mumtaz selaku wali Tia yang sedang mengucapkan kalimat ijab.


" Saya terima nikah dan kawinnya Maryatul Qibtiah binti Alm. Zein dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Qabul Jimmy dengan suara lantang.


" Sah?" Tanya penghulu kepada saksi


" Sah." Ujar para saksi. Dri pihak Jimmy, adalah papi Aryan, dan dari pihak Tia adalah ayah Teddy.


" Alhamdulillahirabbil a,Al-Amin."


Tak lama didatangkannya Tia diantar oleh mama dan kak Zahra duduk di sebelah Jimmy, dan melakukan segala proses pernikahan, dari khutbah nikah sampai sungkeman yang membuat para hadirin yang hadir menangis haru.


Di depan Mumtaz Jimmy bertekad mencintai dan melindungi Tia sepanjang hayatnya yang dibalas Mumtaz dengan tenang.


" Kami sekeluarga percaya padamu bahwa kau bisa menjaga dan melindungi Tia segenap jiwa mu, karena itu kami menyerahkan Tia untuk kau bahagiakan dimanapun kau berada, jangan tinggalkan dia sendiri, jika tidak lagi sanggup melindunginya kembalikan Tia kepada kami baik-baik sebagaimana kau meminta dia secara baik-baik." Ucap Mumtaz yang diangguki Jimmy dengan tegas.


Selanjutnya ke mama Aida, Jimmy bersimpuh luruh di depan mama


" Maaf, dan terimakasih masih mau menjadi mama Alfa dan menyerahkan Tia ke pelukan Alfa setelah apa yang mama dapatkan dari ibu kandung Alfa." Jimmy menangis pecah  dan menaruh kepalanya di atas pangkuan mama.


" Kamu pasti merasakannya mama mencintaimu seperti mama mencintai putera  mama sendiri, kau tumbuh dan berkembang dalam kehidupan kami tak ada orang yang mampu melindungi dan memahami Tia seperti kamu memahaminya. Tolong jaga rumah tanggamu sesuai dengan syariah Allah, jaga kehormatan isteri mu, mulianya Tia kemuliaan mu sebagai kepala keluarga." Pesan mama Aida


Selanjutnya sungkem ke papi.


" Pi, sebagai anak, Alfa belum bisa membuat mu bangga, tapi yakinlah satu-satunya impian Alfa adalah membuatmu bangga di suatu hari nanti. Sebagai pria, kau berhasil menjadi ayah, dan teman bagiku karena papi aku masih di sini dan diterima oleh yang lain, aku tahu aku tidak akan bisa membalas semua yang papi lakukan, maaf selalu mengecewakanmu, dan masih membuatmu susah diusia dewasa Alfa."


Papi menggelengkan kepala tanda tak menyetujui pendapat Jimmy dengan air mata yang sudah keluar dari kelopak matanya


" Kamu selalu jadi anak kebanggan papi meski andai papi punya segudang anak, jangan berpikir kamu menyusahkan, apa yang papi lakukan itu karena papi sayang padamu, dan bangga diusia muda ini berani mengemban tanggung jawab besar yaitu sebagai kepala rumah tangga. Papi yakin kamu bisa membawa rumah tanggamu ke jalan yang lebih baik daripada papi." Ucap papi penuh kjidmat.


Setelah sungkeman Tia dan Jimmy dibawa ke tenda yang sudah dua Minggu ini terlarang untuk dimasuki.


Tia yang pertama kali melihat apa yang didepannya terperangah terkejut sampai bola matanya melebar penuh dan mulutnya menganga lebar sekali.


Ternyata Mumtaz mewujudkan impian pernikahannya ala kerajaan Disneyland dengan dominasi warna biru langit dan navy blue


Tia segera berlari ke pelaminan dengan tawa riang bak anak kecil " kak Jimmy, ayo sini, kita selfie!" Teriak Tia senang.


Meski keki, dengan tersenyum Jimmy mendekati Tia, dan ber-selfie dengan berbagai pose.


Fotografer profesional mengambil alih memotret mereka setelah selesai, para keluarga dan tamu mulai memasuki tempat resepsi yang menatap takjub dekorasi resepsi yang mewah dan megah.


Pernikahan ini sengaja diselenggarakan meriah oleh Mumtaz dan Zayin yang menolak mengalah terhadap kesombongan mami Sandra.


Jeno, selaku kepala keamanan fokus menyebar anak buahnya ke seluruh area resepsi dan jalan masuk sekitaran rumah mama.


Jeno memeriksa tabsnya kala mendapat kabar ada gerakan mencurigakan dari seseorang wanita dari jarak tak jauh dari tempat resepsi


Jeno mengerutkan keningnya, ketika mengenalinya jeno melapor kepada Mumtaz dan para sahabat yang memutuskan membiarkan wanita itu.


Mami Sandra memperhatikan proses pernikahan anaknya sedari ijab-qabul sampai resepsi ini. Bulir bening tak bisa menolak untuk turun dari matanya, sakit hatinya tidak bersama puteranya sewaktu memasuki gerbang pernikahan.


Resepsi pernikahan itu terbilang sukses banyak para tamu yang datang menikmati hidangan mereka dan ber-selfie karena banyak spot instagramable di tempat ini.

__ADS_1


" Keren banget dekorasinya mum, siapa sangka cuma dibangun dalam waktu yang tidak lama." Ucap kak Dominiaz.


" Makasih bro, udah nyanggupin permintaan gue." Ucap Mumtaz ke Fatih.


" Ck, kayak siapa aja, ini tuh gak seberapa dibanding apa yang udah Lo lakuin ke gue."


" Jadi karena ini kamu gak pulang-pulang? Gak percuma sih jadi anak arsitek." Ucap Ibrahim.


" Oh iya, Husain mau lepas saham mereka di Alatas kontraktor. Hartadraja udah mendekat ni." Ujar Ibrahim.


" Wah boleh juga tuh, Gunzaga ikut ya." 


" Maaf, bro. Tutup, udah ada penawaran dari Mumtaz sejak lama." Info Ibrahim.


Dominiaz mengangkat alisnya kaget sekaligus heran


" RaHasiYa terjun ke kontraktor?" Tanya Dominiaz.


" Enggak, itu aku pribadi. Lagi ada dana aja ini." Sewaktu bicara tatapan Mumtaz mengarah ke dua orang tamu yang tak diundang secara resmi memasuki tempat resepsi.


Matanya langsung mencari para sahabat yang ternyata sudah berdiri mengelilingi pasangan pengantin di pelaminan, dia memasanh earphonenya guna mendengar perbincangan yang terjadi.


" Maaf bang, aku permisi sebentar." Mumtaz meninggalkan mereka yang terheran karena pamit dadakan.


Jimmy yang menyadari para sahabatnya berkumpul di pelaminan dengan obrolan tak penting mengernyit bingung, tak lama dia paham kala melihat Rudi dan Victor berjalan santai menuju pelaminan.


Papi dan mama menyadari perubahan aura menjadi tegang di pelaminan dan mencoba biasa saja ketika menyadari kehadiran tamu itu.


Rudi tertawa mencoba sok akrab " saya baru tahu Atma Madina seorang pengkhianat, bukannya isteri anda akan menjodohkan putera anda dengan Puteri saya, saya tidak menerima penghinaan ini."


Semua orang yang mendengar tegang dengan serangan langsung dari Rudi, kecuali papi yang bersikap santai atau berusaha santai.


" Mereka bilang kau seorang pengusaha, kalau memang iya, anda pasti tahu hanya keputusan yang memegang kendali tampuk kepemimpinan lah yang harus dipegang, dan saya tidak pernah mengatakan demikian. Bagi saya calon mantu saya adalah orang yang diinginkan oleh putera saya." Tukas papi.


Rudi dan Victor seketika geram, dengan senyum yang masih terpatri mereka mendekati pasangan pengantin. Rudi mengulurkan tangannya ke Jimmy dengan tatapan dalam.


" Jadi, anda bocah tengik yang sepuluh tahun yang lalu gagal saya nikmati!" Serang Rudi dengan tawa mesum.


papi memerah mendengar hal cabul itu.


Tubuh Jimmy sekilas bergetar yang langsung ditenangkan oleh genggaman tangan Tia dan Radit yang dari belakang menyentuh pundaknya bentuk solidaritas.


Uluran tangannya tidak dijabat oleh Jimmy melainkan oleh Radit, " sekarang kami paham darimana bakat binal Adinda, dan seorang pelacur jalanan seperti dia tidak pantas bahkan hanya untuk sekedar menjadi pembantu di rumah tuan saya." Radit sungguh sudah melupakan dirinya sebagai mahasiswa psikologi.


Rudi mencengkram jabatan tangannya mengerat, " lancang sekali kau menghina anak saya, bocah." Radit bergeming dengan eratnya cengkeraman itu, malah dia tertawa miring kecil.


" Jangan pernah berani-berani mengusik pernikahan saya atau bisnismu mati, anda Pasti tahu Atma Madina mampu melakukan itu. Pergi dan nikmati hidangan kami. " ucap tegas Jimmy.


Rudi melihat mereka semua yang berdiri mengelilingi pasangan pengantin itu, dan mendapati Bara di sana yang menatap mereka dengan mengancam.


Mengakui ketidakperdayaannya mereka melanjutkan langkah turun dari pelaminan.


Mumtaz dalam diamnya melangkah memisahkan diri dengan tidak mencolok pergi dari area resepsi dengan mengkode Jeno untuk mengikutinya.


Dari kejauhan dua orang tak punya malu itu diamati oleh keluarga Wilson yang menatap mereka dengan dendam dan mami Sandra yang menatap mereka dengan bingung dan khawatir melihat gestur tubuh Jimmy yang terlihat takut mesti samar.


Resepsi itu berjalan meriah dengan segala hiburan yang menghadirkan beberapa penyanyi papan atas untuk menghibur para konglomerat yang berhasil membungkam mulut pedas nenek Sri yang memaksa ikut kala keluarga besarnya hadir di resepsi itu.


******


Zivara, termangu di meja kerjanya dia sungguh kaget dirinya tak tahu dan tak diundang ke acara pernikahan Tia, adik dari sahabatnya.


Tadi pagi dia bertemu dengan Zahira di ruangannya yang sedang terburu-buru mengambil kado yang ketinggalan di ruang kerjanya. Di sanalah dia tahu bahwa di akan menjadi pagar ayu di pernikahan Tia.


" Mengapa Zahra tidak mengundangnya juga?" Tidak memberitahukannya juga?" Bekali-kali pertanyaan itu diucapkan dalam hatinya, tapi jawabannya selalu sama, jawaban yang membuat dia resah dan tak nyaman saat ini.


" Apa Zahra tahu apa yang terjadi dengannya dan Hito belakangan ini? Apa Zahra tahu kalau dia mulai mendekati Hito?" Bathin zivara.


" Aaargghh.." Zivara mengusak-usak jilbabnya, dia menelungkup kan kepalanya di atas meja kerjanya meringis merasakan sakit di dadanya kala menyadari akan kehilangan persahabatannya dengan Zahra demi keluarganya.


Tuk!!!!


Pukulan ringan di atas kepala dari seseorang yang duduk di depan mejanya.


Zivara mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat siapa orang yang mengganggu waktu galaunya.


Prof. Farhan melihatnya dengan alis terangkat


" Kenapa kusut begitu?"


Zivara menggelengkan kepala " bapak mau ngapain kesini?"


" Ooh, aku mau kondangan ke pernikahan adiknya Zahra, mau ikut?" Ajaknya


Zivara menggelengkan kepala lagi dengan lesu dilanjutkan tangis dengan kepala yang menunduk


Farhan diam tak berkomentar hanya menatapnya dan menggenggam erat tangan Zivara yang terulur di atas mejanya.


****


Dalam perjalanan pulang Rudi dan Victor mengucapkan sumpah serapahnya atas penghinaan mereka, mereka bersumpah atma Madina akan membayar penghinaan ini.


Di tengah perjalanan sepi, dari arah bagian belakang mobil mereka terdengar ledakan dan kobaran api dengan panik mereka berhenti dan keluar dari mobil tak lama mobil mereka meledak besar dan api membakar mobil mereka tak tersisa.


Masih dalam keadaan syok, beberapa orang dengan seragam serba hitam dari ujung kepala sampai kaki mendekati mereka dan memukuli  mereka hingga babak belur tak berdaya selanjutnya ditinggalkan begitu saja dipinggir jalan.


Daniel, di ruang kontrol keamanan rumah mama tertawa senang " siapapun yang melakukanya, terima kasih banyak." Gumamnya...

__ADS_1


^^^...makasih masih mengikuti cerita ini jangan lupa like, komen, dan vote ya...^^^


^^^Selasa, 14, September, 2021.^^^


__ADS_2