
Mumtaz, dan Daniel telah bergabung dengan yang lain di lantai sembilan begitupun para teman lainnya.
Raut tegang belum lepas dari wajah mereka kala melihat Zahra dikepung penyerang.
" No, Lo dimana?" Bentak Alfaska tak sabar.
" Sorry, gue masih di jalan. Anak buah gue dan Gunzaga bentar lagi nyampe." Geram Jeno, seharusnya Alfaska tahu tidak hanya dirinya yang mengkhawatirkan Zahra, tetapi dia juga.
Sebagai anak yang dibuang oleh keluarga kandungnya, dan mendapat sambutan hangat dalam keluarga mama Aida tak jarang mama memeluk dia kala dia rapuh, dia seakan mendapatkan kembali kasih sayang keluarga. Bagaimanapun Zahra sudah dia anggap kakaknya sendiri, sepeninggal mama dia berjanji akan melindungi keluarga Mumtaz.
Setelah mendapat telpon dari para adiknya Zahra meminjam motor Nmax tetangganya untuk menjemput Sandra, ketika dia datang mobil Sandra sudah dikepung oleh para preman, dengan menarik gas Zahra nekat menabrakkan diri pada penyerang hingga penyerang tersebut berhamburan menghindarinya, ia menarik Sandra yang sudah berdiri disamping mobil memintanya naik ke motornya.
Zahra berbalik arah kembali ke rumah dengan kecepatan di atas rata-rata sambil bergerak zig-zag agar para preman tidak mendekatinya. Di depan rumahnya telah banyak para pemuda yang menjaga rumahnya.
Selama perjalanan menuju rumah yang sebenarnya tak jauh, namun terasa panjang Sandra terus menjerit sambil mendekap Zahra.
Para pemuda yang melihat Zahra terkepung para penyerang langsung menstarter motornya guna menghadang para penyerang.
Alhasil Zahra bisa lolos dari pengejaran mereka, begitu sesampainya di rumah tetangganya Zahra langsung menuju tempat Eidelweis bersembunyi, dengan pengawalan para pemuda Zahra membawa Eidelweis dan Sandra ke tempat yang sudah ditentukan.
Sementara diluar ramai baku hantam, dalam ruang kontrol Zahra mencari segala alat yang bisa digunakan untuk melawan mereka.
"Dihh!!Dughh!!!
Mereka terlonjak kaget ketika mendengar gedoran brutal dipintu, Zahra berusaha tenang, Eidelweis sudah mulai panik dengan memeluk erat Adelia, Eidelweis merapat ke lemari besar berniat bersembunyi mengamankan Adelia, Sandra sudah mulai geram dengan gangguan dadakan entah darimana.
Niat Sandra mendatangi rumah Zahra untuk meminta maaf atas segala kesalahannya dulu, tapi semuanya kacau.
" Tante, bisa pegang alat kejut ini? Ini tinggal ditempel ke objek, dan ditekan aja." Zahra menjelaskan dengan cepat karena waktu yang mepet.
Duar!!! Kreshh!! Brak!!
Suara ledakan untuk membuka pintu yang terbuat dari besi, dan tendangan dipintu membuat mereka sontak menoleh, kegelisahan makin nyata kala pintu berhasil terbuka.
Masuklah seorang lelaki berbadan besar bertato dengan senyuman miring menjijikan karena giginya yang kuning disusul beberapa temannya yang juga tersenyum menjijikan.
" Well,well, well,...ayo *ladies* kita bersenang-senang." Ucapnya dengan senyum melecehkan sembari mendekat hendak menggapai Sandra yang langsung dihalangi oleh Zahra dengan menghajar wajahnya hingga berdarah, dan langsung memposisikan Sandra dibelakang tubuhnya.
Orang yang dihajar Zahra tertawa mengerikan sambil mengusap darah dari bibirnya, mereka tertawa senang akan ekspresi ketakutan dari tiga korbannyA, berjalan mendekat dengan mengintimidasi.
tiga perempuan meraih apa saja yang tersentuh tangannya dan melemparnya kepada mereka yang dengan mudah mereka tepis.
Di seberang sana Mumtaz yang melihat alat-alat teknologi berharganya dilempar asal memijat pelipisnya mengusir kegusarannya ia menggeram dalam hati, para sahabat, dan Rio yang paham betapa berartinya barang tersebut meringis prihatin. Semua alat teknologi yang di sana merupakan benda keluaran terbaru perusahaan apel tergigit yang sudah dirakit dan setting ulang guna kepentingan RaHasiYa.
Teddy melirik Mumtaz," nanti ayah ganti semuanya." Mumtaz menoleh ke Teddy dan tersenyum kecut.
Sementara Heru diam mengeratkan rahangnya, mata tak lepas dari istri dan anaknya. Kesal karena tak bisa berbuat apa-apa sementara mereka terancam.
Zayin yang baru sampai di lantai sembilan seusai mengamankan Cassandra langsung melotot melihat tiga perempuan yang terperangkap di ruang kontrol dengan situasi tidak menguntungkan,
" Ishhh, kenapa gak bilang kalau kak Ala masih di sana!!" Bentaknya pada semua orang, yang tersentak karena bentakan yang membahana.
Ia memasang earphone setelahnya dia langsung berbalik arah kembali untuk menyusul Zahra.
Dengan kecepatan penuh Zayin mengendarai motornya, ditengah kebutannya dia menghubungi para teman tentaranya meminta pertolongan.
Zayin naik pitam pada siapa saja yang sudah membuat rencana merepotkan ini, meninggalnya Mama cukup membuat dia mempertanyakan kemampuan dia untuk melindungi orang terkasih dan negara, ia tak bisa kehilangan anggota keluarganya lagi.
Zahra menyembunyikan satu tangan di belakang tubuhnya kala mendapat sesuatu yang ia pikir berguna sedangkan satu tangan lagi melindungi Sandra dari para preman yang terus mendekati mereka dengan mimik mesum.
Sementara Sandra terus melempar apa yang bisa dilempar mesti bisa dihalau oleh para preman tersebut, Eidelweis tangannya terus menggapai-gapai apapun yang bisa digunakan untuk melukai orang tersebut, tak sengaja tangannya memegang sebuah benda berbentuk silinder ramping, dan tak sengaja menekannya sesuatu di sana.
Kala para preman hendak mencekal tangan Zahra terdengar suara ledakan dari luar yang ternyata berasal dari remote kontrol yang dipegang Eidelweis.
Duar!!! Kressshhh!!! Blassttt!!! BOOOM!!!!
Mereka sontak terkejut, ledakan demi ledakan membuat para penyerang itu lengah, Zahra mengambil kesempatan itu untuk menendang bagian vital sang ketua.
" Aaaakkhh!!" Jeritnya memegang pusakanya.
Para temannya seketika marah melihat pemimpin mereka dipermalukan.
Tanpa membuang waktu Zahra langsung memukul dan mendorong kesamping dengan tongkat logam yang Zahra hantamkan tepat mengenai rahang sang penyerang lain.
Para penyerang terkejut dengan pukulan itu, marah karena perlawanan Zahra mereka bersama menyerbu Zahra yang ditangkis dengan tendangan lurus, dan hantaman tongkat yang mengenai puncak kepala, leher, dada, tulang rusuk lawan, baku hantam tak terelakan diantara kedua pihak tak seimbang itu, Zahra terus bergerak berputar guna membuka jalan untuk Sandra dan Eidelweis ke arah pintu.
Beberapa preman pingsan karena getaran kejut dari Sandra, tak ingin membuang tenaga Zahra melayangakn pukulan, dan hajaran dengan tongkat, dan tendangan terus diarahkan ke bagian vital tubuh mereka langsung membuat mereka terkapar.
Ternyata orang yang mengepung mereka sangat banyak hingga sampai di depan pintu pun Zahra masih terus bertarung agar mereka bisa melewati halaman antar ruang belakang, dan rumah utama.
Dari jauh Zayin melihat jika para pemuda itu telah kalah di karena banyak dari mereka yang terluka, para preman mengambil kendali situasi di sekitaran rumahnya, dan rumah Eidelweis, ditambah bala bantuan mereka telah berdatangan. Ia memarkirkan motornya agak jauh dari lokasi, ia menoleh ke belakang mendapati Bayu dan William turut memakirkan motor mereka.
" Sorry gue ganggu day off kalian." Ujar Zayin tak enak hati.
__ADS_1
" No problem, gue baru sampe pos komplek begitu Lo telpon gue." Jawab Wiliam sembari mengambil teropong dari dalam tas ranselnya.
" Gue baru mau muter handle pintu rumah begitu nerima sambungan lo, pake bunuh mereka gak?" Tanya Bayu mempersiapkan senjata pertahanannya.
" Kalau terpaksa, dalam satu gerakan ya." Titah Zayin.
" Siap." Jawab keduanya.
" Situasi?" Tanya William, sembari mengamati keadaan lewat teropongnya.
Zayin membuka tabsnya, mereka bertiga seksama mencermati kiriman gambar dari Ibnu yang merekam situasi dengan drone.
" Jumlah mereka sekitar 100 orang tersebar di seluruh area rumah, Zahra, kak Edel, dan Tante Sandra terkunci dalam ruang kontrol Aa Mumuy di rumah belakang." Terang Zayin
" Bay, Lo lewat samping barat, Wil, Lo lewat selatan. Gue lewat utara." Instruksi Zayin tegas.
" Yin, Lo punya dendam apa sama gue sampe nempatin gue di depan yang banyak penunggunya." Gerutu William.
" No debat, laksanakan." Zayin mengabaikan gerutuan William.
" Siap." Jawab serentak mereka.
Ekspresi mereka seketika serius, tanpa kata yang terucap mereka bergerak seirama seakan sudah memahami harus melakukan apa.
Dengan mudah bagi Bayu dan Zayin melompati tembok pembatas setinggi tujuh meter tanpa alat bantu.
Begitu kaki Zayin menapaki rumput tengah antara rumah belakang dengan rumah utama terdengar suara ledakan bom bertenaga kecil dan merusak rerumputan di atasnya, ledakan itu susul menyusul merembet di dalam tanah bawah rumput.
Duar!!! Kressshhh!!! Blassttt!!! Boom!!
Zayin bergegas berlari ke rumah belakang menghajar para penyerang yang menghadangnya, bukan sesuatu yang sulit baginya yang sudah terlatih dalam melumpuhkan musuh dalam satu gerakan mematikan.
Bayu pun demikian dengan gerakan luwes dia men T.K.O lawan dalam seketika, sesudahnya melangkah ke arah rumah belakang.
Terlihat oleh mereka berdua Zahra yang terus melawan seorang diri bermodalkan tongkat sambil melindungi Sandra dan Eidelweis, meski terkadang harus menerima pukulan dan tendangan juga terlihat gerakan Zahra mulai lemah dan tidak terfokus karena tenaga yang sudah terforsir.
Satu diantara penyerang menendang tangan Zahra hingga tongkat itu terlepas dari genggamannya, mereka tertawa mencemooh, satu diantara mereka yang bergigi emas palsu menghajar keras tepat wajah Zahra hingga Zahra oleng hilang keseimbangan.
Di lantai sembilan para pria yang melihat itu menggeram marah, terlebih Hito dan Mumtaz dan para sahabat, mereka menandai orang tersebut.
Zayin yang melihat itu dengan amarah memuncak langsung menyerang mereka yang hendak secara bersamaan menyerbu Zahra yang sudah memeluk penuh Eidelweis dan Sandra dengan badannya melindungi mereka dari serangan penyerang tanpa memperdulikan denyutan luka di pipinya.
BUGH!!!BUGH!!! BUGGHH!!!
Terdengar hajaran, dan pukulan, tetapi Zahra tidak merasakan apapun, dia mengangkat kepalanya mengintip apa yang terjadi, yang dilihatnya Bayu, dan Zayin yang sedang menghabisi mereka tanpa ampun.
Zayin dan Bayu dengan membabi-buta menghajar mereka, dan tak dikasih waktu barang sejenak untuk melakukan perlawanan dari serangan mereka.
Melihat rekannya dibagian belakang kepayahan meski hanya melawan dua orang, preman yang berada dalam rumah utama berlari membantu rekannya.
Gerakan terfokus yang mematikan dan terlatih membuat mereka dengan mudah mengalahkan lawan yang berjumlah puluhan.
Tak jauh dari mereka terdengar erangan keaskitan dari banyak orang, perkelahian yang terjadi di luar rumah Aida tambah sengit karena bala bantuan sudah berdatangan.
William yang menadapat bantuan dari Gaunzaga dan RaHasiYa tak membutuhkan waktu lama untuk mengalahkan para penyerang.
Ia dan para ketua langsung menuju rumah belakang yang ternyata Zayin dan Bayu tengah sibuk menghabisi lawan.
" Jaga para wanita, bawa ke RaHasiYa." Titah tajam Zayin masih terus beraksi.
Jeno, dan Leo, sang ketua Gaunzaga bergegas mengambil alih penjagaan terhadap para wanita, sementara anak buah mereka melawan para penyerang, mereka berdua dijaga William membawa para wanita menuju mobil Zahra.
Di pertengahan jalan menuju garasi Zahra menyambar kunci mobil yang tergantung di tembok dekat pintu.
Dikemudikan oleh William, mobil membawa mereka menuju RaHasiYa dengan pengawalan ketat dari Gaunzaga maupun RaHasiYa.
Sesampainya mer ia di gedung RaHasiYa Jeno berucap," CLEAR."
" Kumpulkan mereka di gudang biasa." Titah Bara datar nan tegas kepada para ketua geng.
Para ayah dan om takjub melihat kinerja RaHasiYa, termasuk Dominiaz yang sebenarnya sudah Terbiasa dengan organisasi bawah tanah.
Untuk memastikan keselamatan para target para petinggi RaHasiYa mengumpulkan para target di sebuah bunker bawah tanah gedung RaHasiYa.
Bungker tersebut dibuat memang untuk keadaan darurat dengan interior nyaman layaknya rumah asri dengan fasilitas berteknologi canggih dan komplit.
Para pria mendatangi pasangannya masing-masing, Heru memeluk Eidelweis dan Adelia dengan syahdu, bayangan kejadian tadi sangat mengerikan baginya.
Zayin dan Mumtaz memeriksa dalam merawat luka Zahra di beberapa tempat dalam diam dengan segala pikiran untuk membalas dendam pada mereka, Hito menatap tiga saudara itu dengan takzim, tatapannya tak lepas dari Zahra yang terluka.
Alfaska memeluk istri dan ibunya erat, memeriksa sang ibu dengan seksama.
" Kak, makasih udah melindungi Mami." Seru Alfaska sepenuh hati pada Zahra.
" Hmm." Zahra hanya bisa mengumam karena denyutan di sekujur tubuhnya mulai terasa.
"Bar, cutinya diperpanjang ya!? Lirih Zahra.
" Ambil sebebas kakak." Ujar Bara mengamati luka Zahra sambil merangkul Cassandra.
Sandra dengan berurai air mata mendekati Zahra dan memeluknya mengucap ribuan permintaan maaf, Zahra meringis kesakitan karenanya.
" Tan, maaf bukan tak memaafkan, tapi bisa tidak lepaskan pelukannya badan aku sakit banget." Lirih Zahra meringis.
" Maaf, maaf." Sandra melepas pelukannya sambil meringis.
*****
Dua jam kemudian Zayin, William dan Bayu bergabung dengan mereka yang sedang menyantap makanan di kantin, tanpa permisi mereka memakan segala makanan yang terhidang di lantai empat yang sengaja ditutup bagi umum.
Mereka meringis melihat tiga orang yang beringas menyantap makanan seperti tidak makan selama tiga purnama.
__ADS_1
" Laper banget, Yin?" Sela Adgar sambil menyodorkan soto ke hadapan Zayin.
" Banget, tiga hari gue kurang asupan." Ucap Zayin ditengah kunyahannya.
Ditengah kelegaan karena sudah mengamankan yang harus dilindungi, ponsel para petinggi RaHasiYa menyala kode merah, mereka bergegas membuka ponsel mereka, mata mereka terperangah mendapati papi Aryan berhasil disergap di apartemennya oleh para penyerang.
Sandra menangis histeris kala mengetahui lelaki yang masih menjadi suaminya ditangkap para penculik, Alfaska memeluk menenangkan ibunya.
"Mi, udah jangan nangis, tenang dong. Gimana Afa bisa nyari papi kalau mami nangis mulu." omel Alfaska pada maminya.
" Fa,...cari Papi." pinta Sandra penuh permohonan.
" Bund tolong jaga Mami, Afa mau pergi."
" Iya, kamu konsentrasi aja nemuin Papi kamu "
*****
Sementara para wanita beristirahat di bungker, para pria kembali ke lantai sembilan, saking sibuknya dengan keselamatan yang lain mereka lengah terhadap keberadaan Aryan.
Gedung apartemen eksklusif bagi para konglomerat tempat tinggal sementara Aryan merupakan gedung milik Hartadraja corp.
Atas ijin Hartadraja Mumtaz dan Ibnu menutup semua akses keluar-masuk bangunan, sementara Zayin dan teman tentaranya menyusup ke unit Aryan yang ternyata telah kosong.
Gedung apartemen dalam seketika telah dijaga oleh tim gabungan RaHasiYa-Gaunzaga.
Melihat rekaman cctv dipastikan jika Aryan belumlah sempat dibawa keluar gedung, maka anak Gaunzaga dan RaHasiYa menyusuri seluruh area gedung, namun nihil.
" Dapatkan Brotosedjo, Santoso, Pramono , dan Alexander berserta seluruh keluarga mereka, mereka pasti tahu dimana Aryan." Ucap papa Aznan.
Mereka dikumpulkan karena sewaktu pembangunan gedung apartemen ini mereka orang-orang yang memiliki saham atasnya
Tak membuang waktu semua langsung bergerak, dan menempatkan mereka di ruang bawah tanah gedung.
Hanya butuh sepuluh menit untuk mengumpulkan orang-orang tersebut, kini para pria berhadapan langsung dengan tiga orang yang sudah berwajah pucat, dan tegang tersebut.
Aznan langsung duduk dihadapan mereka.
" Kalian pasti tahu dimana Aryan disembunyikan, saya tahu Aryan masih di gedung ini, jangan buang waktu dengan mengelak. Mereka..." Liriknya ke arah empat petinggi RaHasiYa " sudah mengamankan keluarga kalian." Tegasnya.
Mereka tersentak, raut wajah mereka semakin gusar dan resah.
" Sumpah, Nan saya gak tahu, ini semua rencana Brotosedjo." Ungkap Pramono tanpa diminta.
Semua orang kecuali petinggi RaHasiYa terkejut dengan keberanian Bram Brotosedjo mengusik RaHasiYa dan kelauarga mereka.
Alex memandang ayahnya dengan tatapan kecewa, lagi.
Hati Ari tentu sakit mendapatkan tatapan itu dari anaknya.
" Gue tahu, Bram tanpa sepengetahuan kalian membuat satu lorong rahasia dibawah sini, awalnya hanya untuk jalan darurat bagi dia kala dia 'bermain' dengan jalangnya agar tidak tersorot cctv." ungkap Santoso tenang.
Bara langsung menarik kerah belakang kemeja Ari tanpa hormat, baginya saat ini bukan saatnya kesopanan diterapkan.
" Tunjukan!!" Titahnya tajam.
Paham tak bisa melawan, dengan tenang Ari membawa mereka ke ruang bawah tanah bagian lain yang terletak paling ujung bangunan, disana terdapat pintu berukuran setengah badan berbentuk kotak yang menuju halaman belakang gedung.
Dipertengahan jalan melintasi ruang bawah tanah menuju lorong, Mumtaz tanpa sepengetahuan lain mentitah Jeno, dan leo 'menjemput' keluarga simpanan, Brotosedjo. Lo
Zayin, dan temannya memasuki lorong tersebut, dan benar saja memang Aryan berserta para penculiknya yang berjumlah empat orang berada di depan mereka, sampai di halaman belakang mereka memaksa masuk Aryan ke dalam mobil Van warna hitam.
Zayin, Bayu, dan William bergerak cepat, tepat dalam senyap, begitu mendekati mereka langsung memiting, dan mematahkan leher para penculik dalam satu gerak, Zayin langsung mengamankan Aryan, william dan Bayu menuntaskan sisanya.
" Done." Ucap Zayin pada orang-orang di seberang saluran earphone. Semuanya itu hanya berlangsung tak lebih dari dua menit saja.
*****
Petinggi RaHasiYa menempatkan para pria di penthouse milik Aryan dengan penjagaan ketat dari RaHasiYa dan Gaunzaga.
Alfaska masih memeluk erat ayahnya yang masih berpakaian piyama.
" Hushhh...cup.. cup..udah, Papi udah aman, tenanglah." Papi menepuk-nepuk punggung Alfaska.
Mumtaz dan Ibnu begitu sampai di penthouse Aryan langsung melakukan pencarian posisi Bram Brotosedjo, meretas semua jejak digital Brotosedjo 2×24 jam terakhir.
Telah didapatkan bahwa ia saat ini berada di pulau pribadi milik istrinya dengan Naura Amalia istri tercintanya.
Karena Mumtaz tak punya banyak waktu, maka ia meminta para sahabatnya langsung menuju Irawan corp, perusahaan milik istri sah Bram Brotosedjo.
Di sinilah mereka berada dalam ruangan CEO Riska Irawan.
Ditemani Rendra, putra semata wayangnya Riska menemui petinggi RaHasiYa.
" Maaf, kami mengganggu waktu anda." Ucap Daniel sopan.
" Tak mengapa, kalian pasti ada hal penting yang ingin disampaikan." Jawab Riska.
" Tentu, kami ingin memberikan ini." Ibnu mendorong satu map besar berwana hitam ke hadapan Riska.
Riska dan Rendra membuka map tersebut, membaca dan mencermati isinya.
Mereka mombulatkan mata terkejut kala mendapati isi dari map tersebut.
Isi dari map tersebut adalah salinan resmi akta perjanjian pranikah antara Brotosedjo dan Riska, buku nikah mereka, foto-foto pernikahan Bram dengan Naura, kebersamaan mereka dengan putri semata wayangnya Maura, perselingkuhannya dengan para jalangnya termasuk Tamara, dan Amara. Serta akta kepemilikan beberapa properti dan kendaraan mewah atas nama Bram Brotosedjo, Naura, dan Maura hasil dari penggelapan dana Irawan corp yang selama ini Riska cari.
Bram benar-benar memindahkan kekayaan Irawan kepada keluarga rahasianya.
Riska dan putranya menggeram marah, pernikahan mereka memang terjadi karena paksaan atas permintaan ayahnya Riska.
keluarga Brotosedjo yang mendapat suntikan dana dari Irawan tak bisa menolak, kala ayah Riska meminta Bram untuk menikahi putri semata wayangnya. Bram yang kala itu sedang berhubungan dengan Naura terpaksa harus melepas kekasih hatinya demi keluarganya.
Saat ini Irawan corp tengah berada diambang kebangkrutan karena penggelapan dana yang ternyata dilakukan oleh suaminya sendiri, sedangkan Bram sendiri menuduh direktur audit yang menggelapkan dana.
" Kami dapat membantu perusahaan kalian, Atma Madina, Birawa, dan Hartadraja siap bekerja sama dengan kalian jika kalian membantu kami mendapatkan Brotosedjo." ucap Daniel tegas.
Riska masih bingung, ia syok mendapati kehancuran keluarganya karena ulah suaminya.
" Ma," putranya menggoyangkan lengan Riska.
" Jika kami tidak membantu kalian?" tanya Riska.
" MA!" peringat putranya.
" Dalam 10 jam berikutnya perusahaan anda hancur." ucap Alfaska dingin.
Menghela nafas berat , Riska berujar, " bisakah kalian sekaligus meminta tanda tangan perceraian darinya untuk saya?" pinta Riska meletak surat gugatan cerai ke atas meja.
" Tentu, bahkan kami akan mengembalikan setiap sen milik anda Kembali pada anda." janji Daniel.
" heh, saya sangat berharap itu terjadi, apa yang harus saya lakukan?"
" Memberi akses bebas keluar-masuk pulau pribadi anda, selebihnya biar kami yang menyelesaikan."
" Baiklah, tapi biarkan putra saya ikut serta kalian, karena dialah yang terluka di sini."
" Baiklah."
Riska langsung menghubungi penjaga pulau dan memberi instruksi tanpa harus diketahui Brotosedjo.
" Sudah, kalian bisa langsung kesana."
" Terima kasih, kami berjanji kalian baik-baik saja. Keluarga Brotosedjo takkan berani menyentuh kalian." tukas Mumtaz.
" Kalian tahu?" Riska terkejut.
" Tentang Bram Brotosedjo yang mengancam akan membunuh kalian jika berani melawan?, tentu saja." ucap Alfaska.
" Kami permisi." petinggi RaHasiYa beranjak meninggalkan gedung Irawan diikuti putra Riska....
Gimana nasib Brotosedjo?
__ADS_1
yuk vote, hadiah, like dan komennya...tunggu next part ya..
yuk mau yuk...jadi readers aktif....