Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
141. Kepulangan Zahra.


__ADS_3

Hujan masih mengguyur deras di atas mereka yang duduk di dalam bak, untuk ventilasi udara mereka melubangi kecil-kecil kayu badan truk.


" Jadi begini cara mereka menyelundupkan barang haram itu." Jarud menjentik-jentikan besi di atas kepalanya yang dijadikan alas bagi tumpukan kayu yang selanjutnya di tutup dengan terpal.


" Namanya juga kerja demi rupiah bukan karena pengabdian, ya..gini..." Sinis ragad.


" Tapi ini konyol, kalau melihat bejibunnya itu barang, pasti semuanya sudah dilakukan beberapa tahun lamanya, iya kali gak ada kecurigaan sama sekali." Sewot Jarud.


" Lah kenapa Lo ngegas ke gue." Ragad tak kalah sewot.


" Kesal gue...gampang banget kita dikelabui sama orang 4sing yang gak pinter sama sekali, Lo tahu kan maksud gue berarti kita apa."


" Timbang bilang 1d1ot, susah amat." Timpal Daniel.


" Kan kalau ngomong langsung kasar." Kilah Jarud, yang mendapat dengkusan dari yang lain.


" Sumpah pegel gue, duduk ngebongkok gini." Keluh Rio.


" Lo baru sebentar, bayangin berapa lama kak Ala duduk begini mengarungi hutan dari Cirebon sampe sini." Semua terdiam mendengar ucapan Ibnu.


" Ee..ugh.." lenguhan Zahra dengan gerakan badan yang gusar mengalihkan perhatian yang lain.


" Hiks...to.. long..lepas... Hiks..." Ringisan disertai isakan merubah wajah mereka menjadi sendu.


Hito yang duduk memangku kepalanya membuka selimut begitu mendapati peluh di wajah kekasihnya.


" Kenapa om?" Tanya Zayin yang duduk di sampingnya.


" Keringat dingin." Ia mengelap peluh di wajah yang sedang tertidur di atas pahanya.


" E..ugh..toloooong..." Pilunya.


" Sayang...hey, bangun sayang." Hito menepuk-nepuk pelan pipinya.


" Tidaaakk.. pergi, tolong..ja..ngan sen...tuh saya...hiks.." nafas Zahra terengah-engah serasa sesak.


Mumtaz langsung mendekat," kak,...kak..." Mumtaz mengelus kepala Zahra.


" TIDAAA..KKKK..." pekiknya, mata Zahra  terbuka lebar, nafasnya memburu, netra matanya bergerak liar mengamati keadaan yang temaram bercahaya dari senter kepala.


Begitu matanya bersirobok dengan mata Mumtaz, ia langsung memeluk Mumtaz erat karena ketakutan.


Dalam pelukannya, ia menangis, " Aa...tolong...dia...nyen..tuh kakak...dia...me...merobek baju Kakak..to.. long..." Isaknya.


Mumtaz membalas tak kalah erat." Shuutt..kakak aman, kakak percaya aku kan."


Zahra menggeleng begitu Mumtaz hendak mengurai pelukannya," nanti dia menarik kakak lagi..."


" Gak akan, para adik kakak ada di sini semua. Bara gak akan biarin dia mendekati kakak."


Beberapa saat kemudian Zahra mengurai pelukannya, memperhatikan sekitarnya berakhir menatap Hito dan Zayin.


Terlihat ketenangan mulai menyentuhnya," kalian ada di sini...jangan tinggalkan kakak...kakak takut.


Mumtaz dan Zayin memejamkan mata menahan emosi akan keadaan Zahra.


Para adik mengepalkan tangan erat sampai memutih, Zahra gadis pemberani berubah menjadi pengecut karena ulah satu orang bi4d4b tersebut.


Mumtaz menidurkan kembali Zahra ke atas paha Hito.


 Bagaimana Guadalupe?" Tanya Mumtaz data setelah duduk kembali di tempatnya.


" Di apartemen yang disediakan bang Raul. Dia sudah dicekal dilarang pergi keluar dari Indonesia." Terang Ibnu.


" Tamara?"


" Masih aman di rumah Tante Julia."


" Kita kesana." Para sahabatnya hanya berdehem mengiyakan. Mereka pun sudah tidak sabar ingin mengeksekusi jal4ng itu.


" Eugh..." Zahra menekukan kaki menekan perutnya.


" Ara, sayang. Sakit? Dimana?" Tanya Hito setelah Zahra mengangguk. 


Zahra menyentuh perutnya, Zayin yang duduk disamping Hito mengusap perutnya.


" Kak,...bangun dulu yuk, isi perutnya."


" Eugh..." hanya lenguhan yang mampu Zahra jawab. Perlahan Hito mendudukan Zahra bersandar pada dadanya.


" Kalian suapin aja, kalau udah di mulut pasti dikunyah." Hito mengecup sayang kepala Zahra.


Zayin menerima roti yang disodorkan oleh Bayu, membasahinya dengan air hangat dari botol termos.


" Kak, buka mulutnya..." Kata Zayin lembut, menempatkan roti itu di depan bibirnya.


Zahra membuka sedikit mulutnya untuk meloloskan roti tersebut, dengan telaten Zayin menyuapinya sedikit demi sedikit.


" Udah...Air..." Hito membantu Zahra minum dari tutup botol yang terbuat dari stainless tersebut.


" Obatnya mana?" Mumtaz memberikan sebuah aspirin kepada Hito


" Tenggak dulu obatnya yuk..." Memaksakan diri Zahra menenggak obat tersebut. Dia tidak ingin merepotkan lebih lama lagi.


Hito kembali menidurkan Zahra masih menempatkan kepalanya di atas kepalanya.


Dielus-elusnya kepala kekasihnya dengan sayang." Kuat sayang, aku cinta kamu." Dikecupnya kening Zahra dengan lembut melupakan para pemuda yang kebanyakan jomblo yang memandanginya dengan iri.


Mumtaz dan Zayin hanya mendengarkan pernyataan itu hanya menunduk, pikiran mereka hanya ingin secepatnya ke Jakarta membalas semua orang yang menempatkan Zahra di posisi seperti ini.


Begitu sampai di pos, Zahra langsung ditangani oleh dokter perusahaan Dosatoru, perusahaan di bidang tambang dan emas milik petinggi Gaunzaga.


Zahra msih terbaring m dengan tangan yang diinfus untuk kantong ke dua.


" Dok, apa kakak saya bisa diterbangkan ke Jakarta,?" Tanya Mumtaz ketika mereka membahas keadaan zahra di teras pos.


" Bisa, saya sudah merekomendasijan untuk pemeriksaan lanjutan semua luka dan lebam yang ada sekujur tubuh pasien, dikhawatirkan ada luka dalam."


Mumtaz dan Zayin mengangguk," baik, terima kasih atas kerja samanya."


Dibawah penjagaan ketat anak buah Derry,  mereka terbang ke Jakarta dengan pesawat pribadi Hartadraja dan Atma Madina.


" Der, thanks atas bantuannya. Tanpa kalian semuanya pasti akan lebih sulit." Ucap Mumtaz tulus menatap satu persatu dari mereka.


" Jangan sungkan, kita satu."


Mumtaz mengangguk, " ini, bagi dengan yang lain." Mumtaz menyerahkan tiga batang besar emas murni."


Derry terkaget menganga, begitupun yang lain termasuk para sahabatnya.


" Mum, gak perlu kita saudara."


" Terima, ini punya kita. Kenapa bukan kita yang menikmatinya, Hmm?"


" Oke, gua terima, thanks."


" Oke kita berangkat."


Zahra di tempatkan di kamar tidur yang ada dalam pesawat dijaga oleh dua adiknya.


Mumtaz keluar ikut nimbrung bersama para sahabatnya yang sedang sibuk dengan rencana mereka.


" Bagaimana?"


" Udah beres, mereka sudah menyebar." Jawab Alfaska.


" Nyampe Jakarta kak Ala langsung dipegang prof. Farhan dan para sahabat. Kerahasiaan sudah dijamin, Dewa yang megang kendali cctv rumah sakit." Terang Daniel.


" Jadi kita langsung ke Hartadraja?"


"Iya, bereskan sekarang juga." Gigi Bara sampai bergelemetuk menahan ke-gereget-an hatinya.


" Atur ajalah, gue ngikut." Mumtaz mengusap wajahnya yang lelah dengan kasar.


" Zayin?" Tanya Daniel.


" Terserah dia mau gimana, tapi kalau kalian bisa ngatur dia, silakan bawa dia kemana." Para sahabat angkat tangan.


Begitu tiba di bandara, mereka langsung disambut prof. Farhan dan asistennya.


Mumtaz yang menggendong Zahra ala bridal membaringkan kakaknya di atas brangkar.


" Ayin mau gimana?" Tanya Mumtaz.


" Ikut ke rumah sakit." Zayin ikut masuk ambulance mendampingi Zahra.


*****


BRAK...


Para wanita keluarga Hartadraja, Tamara, dan Sivia yang ada di ruang keluarga terlonjak terkejut, mata mereka membola besar melihat siapa yang masuk.


Pintu dibuka kasar oleh Mumtaz yang masuk beserta para sahabatnya dengan wajah datar dalam balutan seragam serba hitam menambah kesan misterius menakutkan dengan gestur siap menghabisi.


" Mumtaz..." Panggil Fatio pelan, di belakangnya menghentikan langkah Mumtaz tanpa ia menoleh. menarik lembut Sri yang ketakutan ke dalam pelukannya,


Para lelaki Hartadraja langsung mengakhiri kesibukan mereka begitu mendapat kabar dari Akbar bahwa para petinggi RaHasiYa akan mendatangi mansion utama.


Menyadari aura kemarahan dari mereka, para lelaki menempatkan para perempuan di samping mereka.

__ADS_1


Tamara dan Sivia mencoba tenang dibalik kegugupan mereka.


Sivia bergerak mundur dibawah tatapan tajam Mumtaz yang sedang berjalan kearahnya, Tamara tersenyum smirk tipis melihatnya.


Berdiri tepat di hadapan Sivia dalam jarak dekat membuat Sivia dapat melihat dirinya yang ketakutan di manik hitam Mumtaz.


" Apa kau tahu nyonya Sri diculik?" Melalui tatapannya Mumtaz mengintimidasinya.


Sivia menunduk takut, lalu menggeleng ragu.


" Lalu untuk apa kau kemari?" 


" Sa..ya.. Hanya ingin menjenguknya...heks.." Sivia tercekat begitu lehernya dicek1k Mumtaz.


Semua pasang mata terkaget akan tindakan Mumtaz.


" Jangan berani bermain denganku, kau belum lupa kejadian lima tahun lalu yang menimpamu kan!." Desis Mumtaz tajam.


" A..aku...heks.." cek1kan itu semakin mengerat. Bahkan kepalanya sampai menengadah ke atas, tangannya memegangi tangan Mumtaz dilehernya.


" Kau bertele-tele padaku akan ku pastikan semua keluargamu mati di hadapanmu." Mata Sivia membeliak


Semuanya terhenyak akan ancaman Mumtaz.


" Nenek Guadalupe." Cicitnya tertahan.


" Dan..." Pancing Mumtaz.


Dia semakin merasakan pasokan udara menipis, Sivia menarik-narik tangan Mumtaz dari lehernya.


Mata Sivia melirik ke arah Tamara yang berdiri tenang.


Tamara masih bersikap santai, dia yakin Sivia tidak akan berani menyebutkan namanya. Dia terlalu pengecut.


" Dan..." Kata Mumtaz.


" Ta...tamara!...heh..heh...." Sivia menghirup pasokan udara begitu tangan Mumtaz dilepaskan dari lehernya.


Sri menarik nafas terkejut, Mumtaz melangkah mendekatinya, Tamara mengubah diri menjadi berdiri siaga, wajahnya gugup.


Tamara melangkah mundur sampai kakinya membentur bangku kayu.


" Bo.. bohong...dia..,ber..bo..hong, nek." Gagapnya.


Tangannya terulur mencegah Mumtaz mendekatinya. Sungguh ini pertama kalinya dia merasa takut pada seseorang.


" Kenapa?" Tanya Mumtaz.


" Jangan percaya padanya, dia seorang Gonzalez. Musuh terbesar kalian." Paniknya, mengalihkan pembicaraan."


" Kenapa?" Lagi, Mumtaz bertanya dengan suara dingin.


" Hentikan bertindak arogan, tidak ada bukti aku menculik nenek Sri."


" Dia dan nenek pernah memaksaku untuk turut serta dalam skenario penculikan nenek, yang tentu saja aku tolak." Ucap Sivia cepat.


Sri menatap tidak percaya kepada Tamara.


" Nek, jangan percaya padanya, aku menyayangimu, nek."


" Bagaimana dengan ini..." Bara memutar rekaman Eduardo.


"... nyonya, kami berhasil menculik nyonya besar Hartadraja..."


" Bagus, bawa dia ke tempat persembunyian..."


"...tapi dia bersama seorang gadis lainnya..."


Guadalupe: " Siapa?" 


Penculik: " dia tidak mau mengatakan namanya, dia seorang dokter."


Tamara ( merebut ponsel Guadalupe), apakah dia memakai penutup kepala?"


" Iya,...nyo..."


" Nona Tamara." (Suaranya terdengar angkuh).


Tamara menutup matanya kesal, merutuki kebodohannya sendiri.


" Bagus, habisi dia...bahkan kau bisa memakannya sebelum menghabisinya, jangan lupa untuk memvideokannya, akan ku kirim pada saudara dan calon suaminya... hahahaha."


Geraham Hito menggeretak, semua keluarga Hartadraja menatapnya dengan kebencian.


Seketika wajah Tamara memelas," nek,...aku...aku minta maaf. Aku...khilaf."


Plak....brakkh....prang...


Para perempuan merapat ketakutan pada para lelaki.


Mata Mumtaz menggelap, menghunus langsung pada Tamara yang meringis kesakitan, dari kepalanya mengalir d4r4h.


" Kenapa?" Mumtaz menarik kerah dres floralnya agar dia berdiri.


Kini Tamara memelas kasih kepada Bara yang hanya berdiri di belakang Mumtaz menonton mreka tanpa berniat menghentikan perbuatan Mumtaz.


" Bara...heks." Cicitnya  karena cekikan erat Mumtaz.


" Bara...to.. long... aku....uhuks." seraknya.


Bara bergeming dengan air muka muak.


" KENAPA?" bentaknya memenuhi ruangan yang luas ini.


" Aku membencinya..." Jawab Tamara.


" Berkali-kali dia menggagalkan rencanaku menghabisi Cassandra, dia yang selalu mengganggu kencan ku dengan Bara dengan segala rengekan minta jemput padahal dia sudah punya calon suami."


" Bara hanya milikku,  kalau dia tidak ada, saat ini Bara sudah menjadi milikku. Dia j4l4nk sesungguhnya yang bercosplay menjadi dokter." Desis Tamara penuh kebencian.


Brak....


" Aaaa...." Teriak para wanita Hartadraja.


Dengan entengnya Mumtaz melempar kuat tubuh Tamara ke tembok beberapa tulang terdengar patah


" Crat..." Darah segar memuncrat dari mulutnya.


" Apa yang akan lo lakukan? Membvnvh gue? Ayo bvnvh gue...atau memenjarakan gue? Penjarakan gue, gue tidak takut." Tantangnya.


" Gue gak akan membvnvh Lo, karena Lo hanya sebongkah b4ngk4i bu-suk. Memenjarkan Lo, hanya buang-buang duit negara untuk s4mpah kayak Lo."


Gestur tegap Mumtaz dengan aura siap meluluhlantakan lawan sampai akar-akarnya.


Tubuh Tamara gemetaran, saat menyadari malaikat maut menghampirinya.


" Kini saatnya lo bergabung dengan keluarga lo, Tanura Aloya."


Para perempuan Hartadraja terkejut, terlebih Sri.


Mata Tamara terbelalak kaget," Lo tahu siapa gue?"


Pasalnya selain dirinya dan orang tuanya tidak ada yang tahu identitas ayah kandungnya.Termasuk Miranda, istri sah Rudi Aloya. pikirnya.


" Tanura?" Kaget Julia menoleh pada suaminya yang mengangguk.


" Nanti aku jelaskan." Bisik Damian.


Pun demikian dengan Nadya, ia mematung, tangan-nya terasa dingin, ia sangat syok. Damar hanya bisa memeluk menenangkannya.


" Kenapa kamu begitu membenci Hartadraja? Selama menjadi putri kami, kami memberi mu kasih sayang." Tanya Nadya tidak habis pikir.


" Tapi tetap kalian mengacuhkan ku jika ada Cassandra, aku hanya anak pel4cvr. Saat Cassandra berhubungan dengan Bara, itu puncak kebencian ku, dia mengambil semua yang aku inginkan." Hardik Tamara lantang.


" Aku benci kalian." 


" Dan kau memang anak seorang j4l4nk. Semua ini membuktikannya." Ucap Sri.


" Nenek keriput, kau bahkan jatuh cinta padaku sehingga ingin menjadikan ku cucu mantumu." Ejek Tamara sambil tersenyum smirk.


Sri bungkam tertohok, ia melirik Akbar yang duduk anteng di depannya.


" Cucumu sudah menyukaiku, nikmati kesengsaraan melihat dia frustasi."


" Siapa yang Lo maksud? Yang pasti bukan gue." Tanya Adgar.


" Apalagi gue, ji-jik." Celetuk Akbar.


Akbar beranjak berjalan ke hadapannya berdiri dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku.


" Ayolah Akbar, sebagai orang yang pernah tinggal bersama mu, kamu orang yang paling tidak memperdulikan orang lain kecuali kamu menyayanginya. Kamu bawa aku kemari, berarti kamu mencintaiku." Percaya dirinya.


Akbar terkekeh menyepelekan," Lo salah, gue gak peduli sama lo, apa yang gue lakuin ke Lo, itu skenario mereka." Tunjuknya pada petinggi RaHasiYa.


" Untuk mengelabui Lo. Untuk menjauhkan Lo dari Cassandra kita, pada akhirnya semuanya untuk Cassandra-nya Bara." 


Wajah Tamara memerah, tangannya mengepal.


Bara merungguh di depan Tamara memberinya tatapan ji-jik, ia menarik rantai yang melingkar di leher Tamara, Tamara memeganginya kuat, menggeleng memohon.

__ADS_1


Bara memutuskannya," gue melirik Lo aja ogah, apalagi jalan sama Lo. Menyukai Lo, itu mustahil. Apalagi tunangan sama Lo."


Bara membuka gandul tersebut yang ternyata benar, berisi fotonya di satu sisi, dan foto Tamara di sisi lainnya. Lalu melemparnya ke lantai.


Bara beranjak berdiri, menginjak kemudian menekan dan memutarinya sampai terdengar suara patah dari bandul tersebut.


" TIDAKKK..." Tamara menangisi sumber kehidupannya.


Matanya nyalang memandangi Bara yang melihatnya dengan pandangan merendahkan.


" Cassy, selalu menjadi pilihan gue. Jika alam tidak menjodohkan gue dengannya, maka tidak ada satupun yang bisa memilikinya."


" Kamu...hanya milikku. Hanya aku yang pantas untukmu, lelaki sempurna hanya untuk wanita sempurna sepertiku."


" Cassandra hanya wanita penuh lemak yang beruntung dengan kekayaan yang berlimpah. Jika dia tidak kaya, aku yakin dia hanya seonggok tumpukan lemak." hinanya tajam.


PLAKK...BUGH...


Julia menye-rang gesit Tamara tanpa ampun, dan tidak ada yang berniat menghentikannya, meski Tamara sudah babak belur.


Akhirnya Damian yang menghentikan keg4n4san Julia.


" Sayang...hentikan...dia sudah payah." Damian memeluknya, mengusap punggungnya menenangkan.


" Dia berani menghina putri kesayanganku." Ucapnya kesal.


" Kesayangan kita." Koreksi Damian.


" Ba...Ra...to... long...aku..." Cicitnya terkapar.


" Hukum dia Bara, hukum dia dimana seumur hidupnya dia hanya menangisi kehidupannya." 


Alfaska mengode Rio untuk membawa Tamara pergi, yang diangguki olehnya.


" Akan kami laksanakan." Jawab Rio,


 Ia menarik kerah belakang dress Tamara, lalu menye-retnya meninggalkan jejak d4r4h sepanjang jalan yang dilewati oleh Tamara.


Petinggi RaHasiYa pun turut meninggalkan mansion tersebut diikuti Hito dan Damian.


Sementara Akbar, Adgar, Damar, Aznan, Heru dan Fatio menenangkan para wanita.


" Bagaimana bisa Tamara menjadi Tanura?" Eidelweis bingung.


" Oplas." Celetuk Adgar.


Terus obrolan seputar Tamara bergulir, sepanjang obrolan itu Sri hanya bisa termangu. Banyak sekali kesalahan yang dia perbuat kepada keluarganya.


" Jadi Nebuy, mulai sekarang jangan pernah mencoba menjodoh-jodohkan lagi keturunanmu, karena selera Nebuy begitu jelek." Tukas Adgar sebelum pulang ke rumahnya.


Sivia terduduk lesu menyaksikan kekerasan yang dia saksikan tadi.


****


" Mateo..." Teriak Guadalupe sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sejak beberapa hari ini.


" Iya, nyonya..."


" Carikan aku Obat, obat yang kau berikan tidak ampuh sakit kepala saya semakin menjadi."


Mateo menghela nafasnya lelah," baik, nyonya."


 


Mateo meninggalkan kamar Guadalupe, ia menelpon Raul.


" Hallo."


" Sampai kapan gue ngelayanin nenek Lo?"


" Kenapa Lo ngegas."


" Capek gue."


" Kalau Lo bertahan sampai kasus ini kelar, gue kasih bonus buat Lo."


" Apa?"


" Terserah Lo."


" Oke, gue pegang janji Lo. Lo ingkar, gue amuk kantor Lo."


" Iye-iye, bawel Lo kayak emak-emak." Tuut...


Mateo menggerutu di depan ponselnya.


****


" Maaf, saya terlambat." Tutur Dominiaz, mengambil duduk di salah satu kursi yang melingkari meja bundar.


Setibanya ke apartemen, Dominiaz langsung membuat janji temu dengan keluarga Gurman agar semaunya cepat selesai.


" Tidak mengapa, kami memakluminya. Saya dengar kamu baru pulang dari Kalimantan."


" Iya, dan nyonya Guadalupe melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya."


Rodrigo, Alejandro, dan Raul mengerutkan kening bingung.


" Waiters,.." seorang pelayan mendatangi meja mereka atas panggilan Dominiaz.


" Apa kalian keberatan jika saya memesan makanan?" 


" Tidak, pesan saja."


Dominiaz menyebutkan pesanannya," Apa yang kau maksud, Gaunzaga?" Tanya Alejandro.


" Mereka membiarkan anak buah Anda mele-cehk4n saudara perempuan Mumtaz."


Sumpahan kotor dari tiga pria Gurman memenuhi lounge Al-Tair.


Erros menghela nafas gusar mendengar kata-kata kotor tersebut, dirinya selalu merasa deg-degan jika pihak yang bersinggungan dengan RaHasiYa menjadikan tempatnya sebagai tempat pertemuan.


" Mungkin selamanya kau akan merindukan j4l4ng kecilmu, Raul. Mengingat RaHasiYa sudah mengeksekusinya saat ini." Ejek Dominiaz.


" Tak sudi gue pake bekasan bokap." Sangkal Raul yang mendapat kekehan dari Dominiaz.


" Jadi tuan Gurman, sebagai teman lama saya sarankan anda hanya bisa mengikuti keinginan RaHasiYa tanpa menawar atau kalian semua yang lenyap." 


" Zahra merupakan orang yang paling mereka hormati selepas kematian Tante Aida, mama Mumtaz. Dan kesalahan nyonya Guadalupe menyetujui keinginan Tamara untuk menghabisi Zahra."


Obrolan mereka terjeda saat pelayan membawa pesanan Dominiaz.


" Apa mereka tidak menimbang usia lanjut nenek?" Tanya Rodrigo.


Dominiaz menggelengkan kepala." Mereka menerapkan moral-moral umum dalam kehidupannya, tetapi jika kesayangan mereka diusik, semua moral itu tersingkirkan yang ada hanya aturan mereka."


" Saya tadi lihat skandal sena4y4n, itu salah satu contohnya. Mereka tidak akan memperdulikan keributan besar akibat skandal tersebut, yang mereka pikirkan bagaimana menghukum orang-orang yang terlibat dalam menyakiti kesayangan mereka."


" Meski demikian, mereka baik, kebaikan yang langka di jaman ini,. Raul, kau merasakan itu terkait Ibumu. Saya sendiri berhutang nyawa pada mereka."


Ketiga pria Gurman tersebut diam merenungi perkataan Dominiaz.


****


Keempat gadis berlari secepat mungkin mengabaikan keheranan dan kebingungan pengunjung rumah sakit, tujuan mereka hanya segera tiba di lantai zuper VVIP.


Begitu mereka mendapat kabar dari Raja bahwa Zahra selamat dan kini di rumah sakit, mereka bergegas ke rumah sakit tanpa mengganti piyama mereka.


Mereka secara perlahan memasuki ruangan yang dijaga ketat oleh Gaunzaga dan RaHasiYa.


Mata Tia yang sedari jalan sudah membendung tumpahan air, kini tidak lagi bisa menahannya, bulir bening itu turun deras membasahi pipinya.


" Kak..." lirihnya pada wanita terbaring lemah di atas brankar, ia mendekati ranjang tersebut, nafasnya tercekat melihat lebam dan bengkak di wajahnya.


" Kak,..." mengenal panggilan atas namanya, Zahra terbangun dari tidurnya.


" Dek,...maafin Kakak..." suara lemah kakaknya menyayat hati Tia.


Tia menggeleng cepat, " adek yang minta maaf..hiks." isaknya.


" Adek salah, adek tidak termaafkan. adik Kakak yang tidak tahu diri ini sungguh memohon maaf dari kakak!" Tia duduk bersimpuh sempurna di lantai dengan tangis yang tersedu-sedu.


" Maaf!" Cicitnya pilu.


Zayin yang hendak masuk membatalkannya ketika mendengar Isak dan ucapan dari hati adiknya, tetapi daun pintu tidak ditutupnya.


Ia masih memegangi kenop pintu tersebut dengan tangan yang menggenggamnya erat.


Dari ujung matanya ia bisa melihat Sandra dan Sherly berjalan cepat ke arah kamar kakaknya, ia menutup rapat pintu itu, untuk menyambut dua nyonya Atma Madina tersebut.


" Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Zayin datar.


" Kami mendapat kabar Zahra sudah pulang." seru Sandra.


" Urusannya dengan anda?" tanya waspada Zayin dengan suara datarnya.


Sandra diam mematung atas sambutan yang tidak hangat.


" Kalau tidak ada keperluan penting, maaf anda bisa pulang lagi." Sandra terkaget dengan perbuatan tidak sopan dari Zayin tersebut.

__ADS_1


" Zayin..."


 


__ADS_2