
Mumtaz keluar dari kamar mandi dengan masih handuk melilit pinggang sambil mengusak rambutnya dengan handuk kecil warna pink pilihan sisilia saat ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja yang terus berdering. Ia menjawab telpon dari Yuda.
" Hallo, Yud."
" Kak Ala ada di gedung bersama Adgar dan pak Hito." Tangan Mumtaz terhenti saat mendengar kalimat itu.
" Hmm." Mumtaz melempar handuk kecil itu ke sembarang tempat di sofa.
Ia bergegas menarik kursi kerjanya dan langsung sibuk mengutak-atik komputernya mencari posisi Zahra.
Setelah dapat, ia membuka tangkapan jalan dari divisi lantas kantor kepolisian terkait.
" Tetap terpasang."
" Adgar sedang paralel, kita gabung ke sana." Ujar Yuda.
" Oke." Mumtaz memasang earphone. Ia khusu dengan apa yang ad Adi laptopnya.
Mumtaz sudah berhasil menangkap gambar Zahra yang mengabaikan panggilan Adgar dan Hito yang berlari mengejarnya.
Terdengar teriakan Adgar pada Zahra yang tidak digubrisnya, Termriakan mereka memancing perhatian pasukan berseragam hitam, mereka mengokang senjata saat melihat Zahra berlari semakin dekat.
" Adgar, tarik kak Ala sekuat tenaga." Perintah Mumtaz. Bertepatan dengan lawan melepaskan peluru datanglah Van putih yang berisi anak Gaunzaga melaju di depan mereka menghalangi serangan peluru itu.
Dari jendela mobil yang terbuka secukupnya, anak Gaunzaga membalas tembakan itu.
Mumtaz mengalihkan saluran earphone ke satu jalur untuk melakukan panggilan, ia menelpon Jeno yang sedang ditugasi di depan kantor Ibnu bersama Bima dan beberapa anak RaHasiYa. Sejak Navarro berhasil menerobos gedung beberapa hari yang lalu penjagaan di depan lantai ruang kerja Ibnu diperketat.
Sejak Navarro berhasil mengaktifkan bom dan menyusupkan senjata, sejak saat itu secara bergilir sebagian besar Anak RaHasiYa telah disiagakan di gedung untuk mempelajari situasi karena mereka tidak tahu kapan pertarungan akan dimulai.
" Hallo." Jeno yang duduk di sofa langsung berdiri siap siaga.
" Lo dan Leo pimpin pasukan untuk menghabisi anak buah Navarro yang berada di lantai lobby dan depan gedung. Langsung bvnvh mereka." Titah Mumtaz dingin.
" Biarkan Adgar memberi perintah apabila itu diperlukan." Lanjut Mumtaz.
" Target angry bird." Tubuh Jeno langsung menegang mendengar kata itu, walau demikian dia tidak bertanya mengapa Zahra bisa ada di Jakarta.
" Siap." Setelah menutup telpon Mumtaz, Jeno langsung berkomunikasi dengan Leo yang berada di lantai sembilan agar dirinya pindah ke lobby dan menyiapkan pasukan.
Mereka mengenakan lift khusus petinggi RaHasiYa yang bebas dari sadapan luar. Selama dalam lift mereka mengatur siasat.
" Bvnvh langsung setiap lawan menghadang." Titah Jeno.
" Siap." Seru anak RaHasiYa.
Begitu pintu lift terbuka, Jeno dan Leo dengan masing-masing pasukan berpencar, dan langsung menyerang agresif begitu pintu lift dibuka
Mereka menyerang lawan dari belakang, namun gerakan mereka cepat diketahui teman lawan yang lain, hingga lawan memanggil bantuan.
Bala bantuan datang berkelompok berjumlah belasan dalam setiap kelompoknya yang tiba jika dipanggil oleh salah satu dari mereka.
Baik Jeno maupun Leo kaget dengan banyaknya lawan yang harus mereka hadapi, maka Jeno meminta bantuan Ragad untuk mempersiapkan pasukan tambahan.
Alih-alih membantu Jeno dan Leo dari dalam lobby, atas perintah Ragad yang sudah mengamati asal kedatangan musuh memilih melawan musuh yang tersebar di bagian pelataran gedung dimana bantuan berdatangan.
Mumtaz kembali ke saluran parallel, dia bisa mendengar Adgar meminta bantuan Raja dan Juan agar membantu dirinya menghabisi lawan yang tiada ujungnya.
" Yuda, suruh anak bisnis cari siapa pemilik gedung yang menyimpan anak buah Navarro."
" *Saya yang akan menyelidikinya*." Potong Dewa di sebrang saluran lain
Dewa yang berada dilantai tujuh bersama Dimas berupaya cepat mencari profil seluruh perusahaan yang menggunakan seluruh gedung perkantoran berdampingan dengan gedung RaHasiYa.
" Nando, kunci semua jalan keluar dari setiap Geudong yang di *spill* Dewa. Lo awasi gedung itu 24 jam." titah Mumtaz.
" siap." lantas Nando bergegas masuk ke sistem pencarian komputer Dewa. agar dirinya bisa segera melaksanakan perintah atasannya.
Bagi Nando, keamanan keluarga Mumtaz adlah kewajibannya. Dia telah memutuskan untuk setia mengabdi pada Mumtaz setelah dendamnya terbalaskan.
Mumtaz yang mengenakan headset kedap suara tidak mendengar gedoran pintu kamarnya dari arah luar.
Gedoran kencang di pintu kamar Mumtaz yang tidak dijawab membuat Zayin kesal.
Zayin yang marah karena tidak digubris terpaksa menendang pintu yang terkunci tersebut.
BRAK...
Dalam dua kali tendangan pintu berbahan kayu itu terbuka kasar.
Zayin menghela napas jengah saat menyadari kedua telinga Mumtaz yang disumbat headset.
Mumtaz sedikit terjengkit saat bahunya ditepuk pelan Zayin, " kenapa kak Ala terjebak ditengah baku tembak?" Tanya Zayin dengan mata terfokus komputer.
" Karena dia bandel mengabaikan perintah om Hito."
Wajahnya menegang keras dengan rahang bergelemetuk saat Zahra tertangkap dan dipikul kasar di bahu lelaki asing.
Melihat situasi lapangan yang tidak kondusif dan berimbang, zayin mengambil lain komando.
" *Guys*, mundur. Amankan Adgar dan om Hito." Titah Zayin. Ia sadar Medan pernah telah dimenangkan lawan.
Daripada membuang tenaga para rekannya itu lebih baik mundur untuk mengubah strategi.
Jeno, Leo, dan Ragad segera mundur dengan membawa serta para rekan yang terluka dibawah perlindungan desingan peluru dari anak RaHasiYa sebagai pengalih perhatian.
Terkadang kita harus mengalah, dan terkesan kalah untuk mengecoh lawan sebelum kembali beraksi.
" Kalian beristirahat di bunker sampai perintah selanjutnya." Tutup Mumtaz mengakhiri aksi hari ini.
Ketika Mumtaz mengawasi Leo dan kawan-kawan, Raja dan Juan tiba di lokasi kejadian.
mereka memarkir motornya di jejeran ruko yang tidak jauh dari gedung perkantoran sekitar gedung RaHasiYa.
" Lo bawa yang gue minta kan!!??." tanya Raja sambil mengenakan topi hitamnya beserta *sun* glasses-nya.
" Hmm." Juan menyodorkan ransel besar pada Raja.
Raja dan Juan memasang headsetnya yang tengah terhubung dengan Adgar, mereka bertiga melakukan percakapan tersendiri.
" Kita di lokasi, Lo dimana?" tanya Raja
" *Di mobil menuju rumah*." jawab Adgar lesu, matanya terfokus pada tabletnya menunggu laporan Dewa.
" Oke, kita mendekat." sedikit susah bagi mereka untuk mendekat lokasi tanpa dicurigai mengingat lokasi dan sekitaran peristiwa penembakan itu kini sepi lalu lalang orang karena disterilkan polisi.
Raja mengganti dengan earphone saluran group paralel RaHasiYa." bang Yuda, lindungi gue."
Tanpa bertanya untuk apa, Yuda menyanggupinya. di situasi seperti ini, rasa kepercayaan terhadap satu sama lain harus dijaga." Oke."
Yuda meminta orang yang mengawasi cctv area sekitar gedung memanipulasi data video.
Maka, dengan sedikit improvisasi langkah, mereka melipir dari satu pelataran gedung ke gedung yang lain hingga berhasil bersembunyi di badan mobil Van hitam yang berjejer tersebut. Raja dan Juan saling pandang sebelum menyeringai smirk.
__ADS_1
" *Let's play, dude*." ajak Raja.
" *Oo..h..yeah. I am ready*." timpal Juan mengangguk.
Daniel dan Alfaska memasuki kamar Mumtaz, langkah mereka terhenti saat kedua saudara itu memperbesar tangkapan gambar dimana Zahra ditangkap lawan dan lenyap masuk ke dalam gedung tetangga.
" Dewa sudah mengirim nama pemilik gedung?" Ujar Daniel.
" Mereka dan siapapun yang kini berada di dalam gedung tersebut tidak akan bisa keluar dari sana sebelum izin dari gue." Ucap Mumtaz seraya beranjak ke lemari mengambil pakaian untuknya.
" Kita keluarkan warga sipil tidak bersalah, kita tidak harus menyandera mereka." Ujar Alfaska.
" Tidak akan ada yang keluar sebelum mereka membebaskan Kak Ala."
" Muy, persoalan akan menjadi lebih serius dan melebar jika kita mengurung mereka. Kita akan berurusan dengan polisi bahkan mungkin tentara. Lo mengunci enam gedung di jam kantor, Muy." Bujuk Alfaska.
Prang...
Mumtaz melempar handuk yang menjatuhkan lampu tidur di nakas setelah ia mengenakan jeans navy-nya.
" Kalau begitu mari kita berperang, kebetulan gue sudah bosan bersikap lembut pada para pengkhianat." Ujar Mumtaz dingin dengan mata menatap tajam.
" Ini saatnya merak tahu sebesar apa kekuasaan dan kekuatan kita." desisnya datar.
" Muy, *calm down*. kita pasti menghancurkan mereka, tapi tidak dengan mengorbankan orang tidak bersalah. Akan banyak anak yang yatim jika kita bertindak gegabah." ucap Alfaska tenang.
" Kita tahu tidak menyenangkannya tanpa sosok orang tua, dan kita gak mau ada yang mengalaminya."
Semau terdiam saling menatap, saling menyalurkan permohonan pengertian.
Tring...
Drrt...drrt....
Printer Mumtaz mencetak hasil penelusuran Dewa.
Zayin membacanya, ia menyerahkannya pada Mumtaz.
" Dewa, suruh Adgar dan seluruh klan Hartadraja, Dirgantara, dan Pradapta berkumpul di Romli corp. Sepertinya kita tidak bisa meminta bantuan pada Birawa dan Atma Madina." Sindir Mumtaz Menatap bergantian Alfaska dan Daniel.
Baik Alfaska maupun Daniel bergeming di tempat, mereka mengumpati diri sendiri yang mencoba mencari solusi damai ditengah amarah Mumtaz.
" Nando, saya tidak menerima kesalahan. Tidak ada perintah selain dariku." Mumtaz memperjelas posisi masing-masing.
Suhu ruangan meningkat tajam seiring ketegangan diantara ketiga petinggi yang belakangan sering bergesekan memercikan api perselisihan.
Di tengah panasnya suhu ruangan tiba tiba dari komputer satunya yang masih menayangkan sekitaran gedung terdengar suara menggelegar dahsyat.
DHUAR....DHUAR....DHUAR...
Seluruh mobil Van musuh berterbangan diantara ledakan dan kobaran api yang berasal dari bom bawah mobil.
" Bang, *Rugawa join in the club*." Ucap Raja di ujung saluran, pelaku pengeboman tersebut.
" Begitupun Juan." Timpal Juan yan tidak menyebutkan nama keluarga yang menurutnya tidak seberapa dibandingkan yang lain.
" *Thanks bro*." Ucap Zayin.
" *Anytime, big bro*." Jawab keduanya.
Mumtaz mengenakan jaket, ia bersama Zayin berjalan keluar kamar, namun Alfaska mencekal lengan tangannya.
" Muy, Lo tahu bukan itu maksud kita." Alfaska menahan rasa hatinya.
" Lo *join*, mingkem mulut Lo. Lo *abstain*, gue gak maksa tapi sejengkal kalian berani merecoki gue, gue habisi kalian." Ancaman dingin Mumtaz membekukan tubuh Alfaska dan Daniel.
Mumtaz menghempaskan cekalan Alfaska. Kedua saudara itu berjalan kaki dengan tubuh tegak siap.
Radit sudah duduk dibalik kemudi Fortuner hitam saat keduanya sampai di teras rumah.
" Kenapa Lo?" Tanya Zayin.
" Gue disuruh Daniel, kalian dalam mode senggol tebas. Ya gue cuma mau cari aman buat kemaslahatan dunia aja sih." Jawab Radit hiperbola.
" Terserah, jangan Bernai bujuk gue." Mumtaz memasuki kursi penumpang depan.
Saat Zayin hendak memasuki mobil, ponselnya berdering.
" Halo."
" Melapor ke markas, baby face." seru suara berat nan berwibawa di sana."
" Siap." Zayin menutup pintu belakang.
" A, gue ke markas. titah sang jenderal."
" Oke, Lo tahu apa yang harus Lo lakukan, kan. Dek."
" Siap, *don't worry. I am with you*. selalu bersama Lo, kita kalahkan dia." tegas Zayin penuh tekad.
Panglima menatap Zayin penuh perhitungan," Yin, mengapa situasi bisa membahayakan masyarakat?" .
" Mereka yang membahayakan, bukan kami. kita bersyukur RaHasiYa segera melampu merahkan jalan raya sebelum baku tem-bak, kalau tidak mungkin sudah ada korban jiwa."jawab Zayin lugas dan meyakinkan.
" Apa situasinya menjurus membahayakan negara?" tanya KASAL.
" Tidak, tidak sama sekali. jender4l."
__ADS_1
" Kau yakin? Kakak mau disandera mereka dan Kakak lelakimu menyandera orang sipil tidak bersalah, dan Kakak lelakimu pasti dalam keadaan marah."
" Jendral, dan Laksamana.izinkan saya yang menjadi jaminan kakak saya, jika ada hal diluar kendali, timpakan sua kesalahan pada pundak saya."
Saat mengatakan demikian netra Zayin melihat lurus pada sang panglim4.
" Hanya pada saya, tidak ada nama yang lain. Dengan kemampuan saya, kalian pasti tahu saya bisa melakukan semua yang terjadi hari ini." lanjutnya tegas tidak gentar.
Panglima dan KASAL mengangguk, " baiklah, kami tidak punya jalan lain, harus ada yang dikorbankan, kan." tutup sang panglim4.
Ponsel zayin berdering yang ternyata dari Mumtaz, segera ia menjawab telpon itu meluapkan dia atasan di depannya yang diam memperhatikannya.
" Siap, izin. jika kalian tidak ingin kakak saya mengacau di dalam negeri, izinkan saya untuk pergi saat ini juga."
" Yaaa, pergilah." titah panglim4 malas.
" Siap.". Zayin berlari setelah memberikan hormat pada keduanya.
\*\*\*\*\*
Zahra menendang-nendang bagasi mobil yang melaju bersama kendaraan lain yang keluar dari area perkantoran tepat sebelum polisi mensterilkan lokasi dan sekitarnya.
Ia disekap dengan mulut dilakban dengan kedua tangan dan kaki diikat kaki. dia disembunyikan dalam bagasi mobil berjenis sedan BMW hitam metalik yang membawanya ke pelabuhan Tanjung Priok.
Namun mereka melakukan satu kesalahan yang terkesan sepele yang ternyata fatal, mereka menempatkan kedua tangan Zahra ayang terikat tali dengan sampul rumit tersebut di depan tubuhnya.
\*\*\*\*\*
Para pengusaha Top 5 telah berkumpul dia ruang kerja Mumtaz, bukan hanya para tetua namun generasi muda mereka pun turut hadir termasuk Bara.
Di depan mereka sudah ada list nama-nama pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan navarro.
" Mareka semua kenalan Toni, dan ketu4." terang Dewa yang dititah Mumtaz. melalui pertemuan daring.
" Ayah akan menghancurkan mereka." ucap Teddy.
" Setelah kami keluar dari ruang kerjamu persoalan mereka sudah beres." ucap Fatio.
" Terima kasih atas bantuan kalian." ucap Mumtaz sungkan yang duduk bersama Rio di sampingnya.
" Mumtaz, bukankah kita keluarga?" tanya Gama."
Mumtaz mengangguk tidak yakin menimbang pasang surut dalam hubungan persahabatan dirinya dengan para sahabatnya.
" Kalau begitu, jangan berterima kasih." Mumtaz mengangguk
" Kalian akan berhubungan dengan Rio untuk selanjutnya."
" Tuan, tidak seluruhnya dari mereka melakukannya karena ikatan dengan Toni, atau ketua, tetapi karena mereka membutuhkan suntikan dana yang telah dijanjikan Navarro." kemudian Rio menjelaskan kemampuan finansial perusahaan-perusahaan tersebut.
Dari saku jaketnya ponselnya bergetar, saat ia memeriksanya wajahnya dicoba sedemikian tenang meski tangannya sudah sibuk dengan ponselnya.
Petinggi RaHasiYa yang telah hafal gerak-geriknya turut sibuk dengan ponselnya memanggil para anak buahnya.
\*\*\*\*\*\*
" Tuan, mereka berhasil menangkap prof. Zahra." Matunda melapor kejadian hari ini pada Navarro yang tengah berkeliling mengagumi hasil karya memukau berteknologi tinggi para pemuda ini.
" Benarkah? Wah..wah...wah...hebat fantastis! Teriak Navarro senang dan bersemangat.
" Menurut saya ini celaka, sebaiknya kita bercermin dari kejadian nyonya Guadalupe saat menculik nyonya besar Hartadraja dan prof. Zahra. Sampai sekarang kita belum tahu beliau dimana, dan jangan lupakan kondisi terkahir beliau yang sangat memprihatinkan." Matunda berucap menyiratkan ultimatum yang ternyata ditanggapi sepele oleh Navarro.
" Matunda, kita sudah menguasai gedung ini. Apalagi yang harus kita khawatirkan!?"
" Tuan, kita menguasai fisiknya, tapi tidak teknologinya."
" Tentu kau bisa mengatasi segala rahasia gedung ini, kan Matunda?"
" Tuan, anda sudah berjanji kalau saya bebas setelah misi kita ini."
Navarro menoleh ke Matund ayang mengikutinya di belakang." Benarkah? Kapan? Say tidak ingat kita pernah melakukan deal dengan mu perihal ini."
Matunda menatap berani Navarro yang menyeringai meremehkan padanya.
" Kalau begitu, saya memberitahu anda, bukan meminta izin." Ucap Matunda dingin.
" Dan kau..dor..." Navarro memperagakan penembakan dengan jari telunjuknya." Mati. Inget, interpol mengejarmu."
" *Whatever*. Saya sudah memperingati anda akan akibat mengusik petinggi RaHasiYa." Matunda berbalik badan menjauh dari navarro yang meneruskan langkahnya mengamati ruangan berkubah serba putih itu tanpa menyadari beberapa mata mengawasinya.
Ia menengadah melihat langit berwarna mendung sejuk, pas untuk dirinya yang peka terhadap panas. namun ia
" Selamat datang di penghancuran, mister." Gumam Seseorang.
\*\*\*\*\*
Sedan BMW itu telah terparkir mobil dalam peti kemas yang akan dikirim ke Mexico, di sana sudah ada orang yang akan menangani Zahra. begitu akta Navarro.
Setelah mobil terparkir, sang pengemudi mobil membual pintu bagasi, saat rekannya membukanya matanya membeliak lebar dengan apa yang baru saja dia lihat.
" Yoi, ada apa?" tanya pengemudi. sang rekan menjawab cepat.
" One."
" Two.
" three."
__ADS_1
" Aaaaaa...." teriak nyaring seseorang yang memegangi wajahnya.