
" hallo selamat pagi semua!" Sapa Zahra secara formal memasuki ruangan Hito didampingi suster dan empat calon dokter spesialis, dua perempuan dua lelaki.
" Pagi dokter." Sapa balik Heru, dan Eidelweis.
" Sebelum pulang saya periksa tuan Hito-nya ya, hanya menyempurnakan diagnosa." Zahra berjalan ke brankar dimana Hito yang menatapnya intens.
" Silakan, langsung suntik rabies juga tidak mengapa supaya otaknya kembali ke tempat semula." Seloroh Eidelweis yang disambut tawa garing bagi sekitarnya.
" Receh banget ya, dok." Ketus Eidelweis.
" Hahaha..." Tak ayal Zahra tertawa geli.
Zahra menunjuk satu perempuan calon dokter spesialis yang sejak tadi mesem-mesem malu tak jelas menatap Hito," kamu, silakan periksa dan beri analisanya." Wajah datar Zahra menyadarkannya, ia langsung tergagap.
" Ba...baik prof." Perempuan bernama tag Windy itu dengan semangat mengulurkan tangan hendak memeriksanya.
" Tidak mau. Yang boleh periksa aku hanya kamu." Tolak Hito melototi Windy.
" Eh,..." Windy cengo, dia kaget ada pasien menolak mengikuti arahan Zahra.
" Tidak apa, saya juga memantaunya."
" Tidak, aku tidak mau dipegang oleh perempuan yang tertarik pada aku atau perempuan manapun selain kamu." Telak Hito, menatap sinis pada Windy.
Windy gelagapan, ia ketahuan.
" Mohon kerjasamanya." Ucap Zahra mendramatisir.
Hito menarik lembut tangan Zahra lalu menempatkannya nya didada," kalau begitu kamu yang periksa." Seru Hito dengan tatapan lembutnya.
Tindakan Hito membuat orang sekitarnya speechless, mereka menunduk karena merasa tidak sopan melihat adegan itu, sedangkan Zahra menahan marah dan malu.
" Baiklah, jangan modus." Zahra melepas genggaman Hito pada tangannya
" Tidak mengapa modus pada calon istri sendiri." Perkataan yang membuat para suster dan para dokter pelatihan itu termesem-mesem saling melirik.
Zahra mulai jengkel, meski begitu ia memeriksa Hito dengan telaten dibantu para suster.
" Yap, anda siap untuk pulang. Selamat ya, jangan terlalu banyak pikiran." Basa-basi Zahra yang sudah malas menghadapi tingkah Hito.
" Tidak, saya hanya memikirkan satu hal saja."
" Apa?" Celetuk Eidelweis yang tahu kakaknya ingin diumpani.
" Mikirin apa prof. Zahra mau makan malam denganku?"
" Baiklah saya permisi, saya harap keluarga memastikan tuan Hito menjaga pola makannya." mengabaikan Hito Zahra berbalik hendak pergi yang diurungkannya karena Hito menarik lembut tangannya, cukup membuat Zahra terdorong padanya hingga posisi tubuhnya sedikit membungkuk pada Hito. Ia terkejut, sedangkan yang yang lain membolakan matanya.
" Makan malam?" Ucapnya pelan dengan lemah lembut.
" Tidak, meski Anda boleh pulang, tetapi anda masih harus istirahat." Zahra memperbaiki posisi, setengah mati memepertahankan roman mukanya normal padahal malu dan jengkel.
" Heh, masih belum memaafkan aku ya." Hito mencium punggung tangan yang masih dipeganginya dengan khidmat.
" Love you." Ucapnya lembut membauta para staf peremouan tersenyum meleleh.Tanpa menjawab Hito Zahra berbalik meninggalkan ruangan.
Dalam hati Zahra merutuki tingkah Hito yang pastinya akan menjadi bahan gibahan staf rumah sakit dibelakangnya.
" Terus aja ambil kesempatan!" Dengkus Eidelweis.
" Namanya juga usaha."timpal Heru.
*****
Raul dan Dominiaz bertemu di kamar hotel Darma, hotel bintang dua untuk menghindari pengintaian yang lain.
" Ini semua bukti hasil lab BPOM atas penyalah gunaan ganja oleh Gonza restaurant di seluruh cabanganya. Kalian yang pertama mendapatkannya." Raul meletakan beberapa berkas ke atas meja bulat.
" Gue bagi ini ke yang lain dulu. Kalau Gata tv yang pertama menyiarkan bokap Lo bisa curiga." Dominiaz mengambil satu berkas DNA membacanya sekilas.
" Terserah atur saja oleh Lo."
" Lo tahu resiko yang bakal keluarga Lo dapatin dari kasus ini, kan!"
" Iya, dan gue tidak peduli. Gue dapat informasi dari RaHasiYa, bokap mulai mencium keberadaan Mama, gue harap ini bisa mengalihkan atensi dia dari nyokap."
" Anak buah gue masih bisa menghandle itu."
" Gue tahu, tapi gue tidak mau ambil resiko saat pemindahan nyokap."
" RaHasiYa minta waktu Lo buat presentase proses pemindahan nyonya Belina."
" Kapanpun gue siap."
Kring!
" Halo." Salam Dominiaz begitu mendapat telpon dari Alfaska.
" Saya otw." Sambungan telpon langsung ditutup, Dominiaz tanpa buang waktu langsung merapihkan berkas-berkas di atas meja.
" Ada apa?"
" Sepertinya ada yang menguntit Cassandra Hartadraja, pastikan kalian tidak terlibat. Gue cabut." Dominiaz langsung pergi dari kamar hotel.
" Shitt,..." Raul langsung menghubungi Rodrigo untuk menyelidiki berita ini.
*****
Alfaska dan para sahabat serta teman berkumpul dikantin setelah melaksanakan UAS.
"akhirnya selesai,...libur telah tiba...libur telah tiba..." Sumringah Raja.
" Sok mikir lo, ujian nyontek juga." Celetuk Haikal.
" Lo pikir gue kuliah di jurusan Lo yang bisa nyontek kanan-kiri, gue anak sains nyontek dimana?" Sewot Raja.
" Lupa gue, habis tampang playboy kayak Lo mana orang bakal mengira Lo punya otak pinter."
" Ck, biar otak mendekati Habibie, tampang harus tetap Manu Rios." Raja menyugar rambutnya sok ganteng.
" Mami Rios pant.at Lo, jempol gue aja masih mending ketimbang lo." Ejek Dista yang sibuk dengan mie ayamnya.
" Neng Ita, love you." Seru Radit yang mendapat pelototan dari Daniel.
" Daniel,..." Riana menghampiri mereka.
"Apa?"
" Lihat Mumtaz gak?"
" Lagi fitting baju pengantin dengan Sisilia." Bukan Daniel yang menjawab, tetapi Tia.
" Beneran?" Riana terkaget.
" Iya, Lo benar-benar gak punya malu ya masih ngejar padahal usaha ditolak ribuan kali."
" Namanya juga usaha, sahabat Lo aja ditolak ribuan kali akhirnya jadi." Ucapnya menyinggung kisah percintaan Dista.
" Woy, itu mah beda. Kak Daniel-nya yang sok jual mahal, padahal receh habis harganya." Sontak Daniel melototi Tia atas komentarnya yang dibalas pelototan oleh Alfaska.
" Sudah sana pergi." Radit dengan suara lembutnya mengusir Riana.
" Oh sial, gue harus pergi." Tia beranjak ke kursi Alfaska yang dihalangi dua orang, mencium tangan Alfaska.
Setelahnya Alfaska tidak melepas genggaman tangan-nya," mau kemana?"
Tia menunduk, enggan menatap Alfaska," mau kemana?" Alfaska mengeratkan genggamannya.
" Ke arisan Mami." Cicitnya takut.
Alfaska melepas genggamannya, ia menghela nafas dengan gusar, memalingkan wajahnya dari Tia. Tia menatapnya sendu, namun tidak berani mendekatinya.
Dengan perasaan campur aduk Tia meninggalkan mereka.
Radit mengusir Haikal dari kursinya yang berada di samping Alfaska," percaya sama dia, gue sekarang banyak komunikasi dengannya dia sedang melakukan sesuatu untuk kalian semua."
" Hmm, gue sudah tidak berharap nyokap terlalu kuat baginya. Apa gue le..."
__ADS_1
" Kalau lo lepas dia, jangan harap kesempatan kedua buat balik. Adik gue bukan mainan." Potong Zayin menatap tajam Alfaska sambil bersedekap dada.
" Yin,..."
" Kita sudah berembuk, kita bakal mendukung apapun langkah yang Lo ambil selama itu bukan pisah."
" Yin..."
" Kak Ala bilang, sekali kalian pisah, jangankan untuk kembali, melihat Tia saja Lo tidak akan bisa. Pikirkan itu!!" peringat Zayin dengan roman muka serius.
Wajah Alfaska langsung pucat dan tegang, ia menggelengkan kepala akan kegelapan dalam hidupnya tanpa kehadiran Tia.
Triririring!!!
" Hallo." Bara seketika tegang dan rahangnya bergeletuk keras mendengar perkataan orang disebrang saluran.
" Kakak kesana."
Perhatian semaunya kini pada Bara.
" Ada apa?" Ibnu mencegah Bara yang hendak pergi.
" Mumtaz menghajar orang di gedung kedokteran." Semua orang langsung berlari menyusul Bara yang sudah berlari jauh.
****
Cassandra berlari tertatih-tatih peluh di sekujur tubuhnya yang pankk tak dia hiraukan akibat ketakutan yang menghantuinya, ia menabrak semua orang yang menghalangi jalannya dan meminta maaf tanpa menghentikan langkahnya, sesekali dia menoleh ke belakang memastikan orang itu tidak mengikutinya, tetapi ternyata ada. Orang dengan Hoodie bertudung hitam dan bertopeng Joker mengikuti langkahnya.
Selama ia berlari semua wejangan terapi dari Radit dia putar diotaknya bahwa dia wanita kuat, peneror hanya akan menjadi jika ia takut, maka ia harus kuat. ****, ia memang ketakutan.
Dia terus berlari hanya mengikuti nalurinya yang melangkah menuju gedung farmasi, gedung terdekat dengan gedung kedokteran, dimana Sisilia yang feminim namun pemberani dia yakin berada.
Bertahun-tahun bersahabat dengan Tia dan Ita yang bar-bar, Sisilia yang terkesan judes, irit namun berani berhasil mengumpulkan sedikit keberaniannya.
Radit juga mengingatkan bahwa dia harus ditempat ramai, selama dia ditempat ramai dia akan aman.
Karena itu Begitu sampai di gedung farmasi dia langsung menuju lantai dua melalui lift, dia tidak berani lewat tangga darurat yang biasanya sepi.
Begitu kakinya menginjak lantai dua, ****, ia mendapati koridor yang kosong, memang mereka masih mangadakan ujian akhir semester. Cassandra merutuki kekosongan koridor ini yang menambah rasa paniknya.
Tanpa buang waktu ia langsung berlari ke ruang tempat dimana Sisilia melaksanakan ujian. Jika harus dia akan nekad masuk ruangan itu yang terpenting dia bebas dari orang itu.
Ketika dia menoleh ke belakang, orang itu keluar dari tangga darurat lalu turut berlari membuntutinya seringai Joker masih menghiasi wajahnya.
Langkah lebar orang itu mengikis jarak diantara mereka dengan cepat, sedangkan tenaga Cassandra mulai melemah yang juga langkah larinya mulai memendek.
Dapat ia rasakan derap langkah orang itu di belakangnya, seketika wajahnya memucat, aliran darah seakan berhenti mengirim ke otaknya. Do'a- do'a terus dirafalkan.
Matanya berbinar kala diujung sana dia melihat seseorang yang berdiri santai sambil membaca buku dengan setengah wajah tertutup topi hitam. Topi yang dia beri sebagai kado ulang tahun pada sang empu yang sempat membuat Bara dibakar cemburu.
Otak setengah cerdasnya langsung memuat strategi, dia ingin sang penguntit tertangkap. Dia sudah muak dengan drama peneroran ini. Cassandra sengaja tidak langsung teriak meminta tolong, setitik harapan mampu membuatnya bertenaga melajukan kakinya terus berlari kencang.
Sang penguntit panik targetnya menjauh, ia pun melebarkan langkah larinya, ia tidak boleh gagal dalam misinya.
Begitu sejarak tiga meter, Casandra menarik nafas dan menghembuskannya, " KAKAK....KAKAK..." Teriak Cassandra terus berulang dengan sekuat tenaga.
Pria itu menoleh, ia sempat terkejut melihat dua orang lawan jenis berlarian di koridor sepi.
Begitu melihat siapa yang dikejar, Pria itu langsung mendekatinya, membuka pintu kelas dan menarik Cassandra ke dalam kelas.
sang penguntit terkejut ada orang lain selain dirinya di sana, ia memutar tubuh dan berlari kabur, namun naas pria itu langsung melempar ransel yang cukup berat tepat mengenai sisi kepala yang membuat penguntit sempat sempoyongan, tak membuang kesempatan pria itu menendang keras punggung sang penguntit hingga tersungkur tajam.
Setelahnya ia dibalik dan perutnya diduduki kemudian dihajar habis-habisan oleh Mumtaz, sang pria bertopi.
Cassandra berdiri di depan puluhan mahasiswa yang menatapnya melongo, raut ketakutan Cassandra membuat Sisilia menghampirinya.
" Kenapa? Ada apa?" Tanya Sisilia khawatir, sang dosen pun turut menghampirinya.
" Ada apa?" Tanya sang dosen, yang mengundang perhatian para mahasiswa.
Tak sanggup bicara saking panik, Cassandra hanya menunjuk keluar.
Dosen dan Sisilia segera keluar kelas, tak jauh dari sana terlihat Mumtaz yang masih memukuli penguntit. Segera mereka mendekatinya kedua mata Mereke terbeliak mendapati sang korban sudah tidak berdaya, namun Mumtaz terus memukulinya.
" Kak,..." Panggil Sisilia ketakutan melihat raut wajah dingin Mumtaz.
" Telpon Bara dan yang lain, dan temani Cassy!" Ujar Mumtaz dengan suara datar yang langsung dilakukan oleh Sisilia meski tangannya gemetar.
Sang dosen berlari ke kelasnya meminta bantuan, dibantu beberapa mahasiswa akhirnya Mumtaz terlepas dari korban yang sudah tak sadarkan diri.
Butuh enam pria memegangi Mumtaz yang terus berontak karena masih bernafsu untuk menghajarnya, sementara sang dosen dan beberapa mahasiswa lainnya memeriksa korban.
Bara, dan para sahabat serta anak RaHasiYa segera menghampiri Mumtaz dan sebagian mengawasi proses pemerikasaan sang korban.
" Kak Bara." Panggil Sisilia diambang pintu.
Bara menoleh dan mendekati Sisilia yang masih panik," Cassy di dalam, badannya masih gemetaran." Terangnya.
Bara langsung ke Cassandra yang masih duduk memeluk kedua lutut, ia berjongkok hendak memeluk Cassandra yang langsung ditepis panik oleh Cassandra," shuutt, sayang. Ini aku." Tutur Bara lembut.
" Kak..." Lirih Cassandra langsung menerjang ke dalam pelukan Bara tanpa peduli tatapan iri dari mahasiswi yang ada di kelas tersebut.
" Shuuttt, aku gendong kamu ya!" Cassandra mengangguk. Bara beranjak meninggalkan kelas dengan cassandra bersandar di dadanya.
Ketika berpapasan dengan Jeno, ia berhenti," bawa ke klinik setelah dia sadar bawa langsung ke markas the aneh.
Jeno mengangguk," siap."
" Cassy." Adgar dan Akbar berlari mendekati mereka, mengambil alih Cassandra dari Bara.
" Kamu, oke?" Adgar begitu khawatir, Cassandra mengangguk. Meski kedua tangannya memeluk leher Adgar begitu erat dan menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Adgar.
" Kita pulang." Ajak Adgar dengan lembut.
" Bawa dulu ke markas, sesudah tenang baru bawa pulang." Ujar Bara yang diangguki oleh Adgar yang langsung belalu bersama Raja dan Juan.
Ditengah kegaduhan itu, tak jauh dari sana seorang wanita mengepalkan tangannya karena lagi-lagi gagal mencelakai Cassandra.
****
Markas the aneh.
Semua orang telah berkumpul dari geng BIBA, para sahabat, sampai anak RaHasiYa. Mereka bingung dikumpulkan dalam satu pertemuan.
Biasanya mereka dikumpulkan sesuai komunitas mereka meski membahas Masalah yang sama.
Semuanya berdiri begitu Bara, Damian, petinggi Gaunzaga minus Hito, petinggi RaHasiYa memasuki ruang tengah yang luas.
" Radit, bagaimana keadaan Cassy." Tanya Bara kala melihat Radit menuruni anak tangga.
" Lebih baik, dia sudah marah-marah bahkan ingin bertemu dengan sang pelaku." Ucap Radit santai.
Bara mengangguk, " Baik, kita bahas persoalan ini. Nu.."
" Berdasarkan kartu mahasiswa dia bernama Dito Mahendra, mahasiswa fakultas hukum yang kuliah di UAM berkat full beasiswa, berasal dari keluarga sederhana dengan tiga orang adik dan orang tua tunggal seorang ibu ayahnya meninggal. Dia sedang butuh uang untuk mengobati ibunya yang sakit. Dan Ragad sudah mengkonfirmasikan kebenaran informasi itu dengan mendatangi rumahnya dan bertanya pada para tetangga." Ungkap Ibnu.
Akbar melempar satu notes dengan kotak yang terbuka berisi anak tikus putih tanpa kepala dengan darah masih segar. Mereka semua yang hadir terkejut.
" ini gue ambil di loker Cassy sebelum gua gabung bareng kalian."
" Ini sudah terlalu lama, dan kita belum menemukan pelakunya." Timpal Adgar resah.
" Gue kira mereka berkomunikasi dengan cara konvensional, tidak ada jejak digital yang mencurigakan sama sekali terkait Cassy." Ucap Ibnu.
" Kita buat selebaran buron seperti polisi dengan alibi orang hilang aja, Bar." Usul Haikal.
" Disertai imbalan." Timpal Ubay.
Damian dan Bara masih berfikir.
" Bar, ini orang udah sadar." Seru Jeno di ambang pintu antara rumah dan halaman samping.
Kini atensi mereka beralih pada sosok yang berdiri terikat di kedua kaki dan tangannya dengan tali tambang yang tergantung di dua tiang besar.
__ADS_1
" Ekkh....heh...so...sorry." Cicitnya, wajah babak belur dengan dipenuhi lebam, bengkak, dan sobekan memenuhi seluruh wajahnya.
" Nyawa Lo tergantung pada satu nama yang terlontar dari mulut Lo, jangan berbasa-basi." Peringat Bara.
Aura pemmbunuh begitu terasa dalam diri Bara. Pancaran tajam, wajah dingin, tubuh siaga. Semua orang yang hadir bahkan turut mewaspadai keadaan, mereka mengasihani orang yang digantung tersebut.
" Siapa yang menyuruh Lo?"
Diam, banyak hal yang dia pertaruhkan selainnya nyawanya.
" Gue jamin pengobatan nyokap Lo." Sambung Mumtaz.
Dito melirik Mumtaz, hanya itu yang bisa dia lakukan. Lehernya begitu nyeri untuk digerakan.
" Di..dia sakit jantung."
" Gue yang jamin pengobatan nyokap Lo." Lagi, Mumtaz menatap lurus Dito.
" Menghela nafas dengan susah," Tamara!"
" Apa? Ucapkan yang jelas!" Bentak Bara yang menonjok perut Dito.
" Arkkh..." Erangnya kesakitan.
" Tamara." Cicitnya, mulutnya sobek panjang dan beberapa gigi rontok. Hingga ia sulit untuk berkata.
Hening. Mereka masing-masing sibuk dengan pikiran mereka.
" Lo bohong, Lo mati!" ancam Bara.
" Sumpah, buktinya ada di ponsel yang ada di ransel gue." Suaranya begitu pelan karena sakit menggerakkan mulutnya.
" Gue mohon lindungi keluarga gue." Air matanya mengalir di kedua pipinya.
" Bar, ini." Jeno memberikan ponsel Dito. Yang kemudian diserahkan kepada Ibnu.
Segera mereka beralih ke ruang tengah, meninggalkan Mumtaz dan Yuda yang masih memandangi Dito.
" Maaf, bro. Sebaiknya Lo bekerjasama." Ujarnya, Dito mengangguk.
" Bawa dia ke rumah sakit, urus soal biayanya. Sekalian dengan ibunya " Ujarnya yang diangguki oleh Yuda.
" Gue pikir melabrak Tamara hanya bermodalkan keterangan itu orang bakal percuma. Ini bukan pertama kali dia mencoba menyakiti Cassy, ingat sewaktu SMA dulu. Jadi kita harus ubah strategi menghadapi kelicikannya." Cetus Radit.
" Ini, anak BIBA sedang mengcopy banyak." Ibnu meletakan selebaran orang hilang bernama Estelle Veronika dengan keterangan mendetail mengenai ciri khasnya.
" Kita akan sebar ini di seluruh pelosok Jakarta, website, semua akun pengguna sosmed, televisi, intinya semua alat media. Sebagai orang gila yang berbahaya." Terang Ibnu.
" Saya minta mulai saat ini Cassy selalu dikawal, meskipun dalam ruangan. maaf ini pasti merepotkan kalian." ucap Damian.
" Tidak sama sekali, ini untuk Cassandra kami." jawab Daniel.
" Gaunzaga akan mengambil alih kemanan Cassandra." seru Dominiaz meminta persetujuan yang lain.
" Itu lebih baik, mengingat anak RaHasiYa kebanyakan anak kuliahan yang sedang sibuk UAS." imbuh Daniel.
" Sip. Leo akan segara membagi tugas menjaga empat gadis itu." Imbuh Dominiaz.
" Bar, Lo harus dekati dia." Radit memberi usul.
" Ogah, dengan resiko dijauhi lagi oleh Cassy? NO way!" masih ingat dalam benaknya empat tahun dijauhi Cassandra karena kebodohannya yang belum move on dengan Maura.
" Ck, hanya pura-pura."
" Tidak, yang lain saja."
" Ya minimal Lo respon setiap Tamara mendekati Lo, gue yakin dia bakal lebih agresif."
" Ti..."
" Coba ikuti usul Radit, soal Cassy, Om yang akan bicara." sela Damian, dia pikir tidak ada salahnya menggunakan strategi dari Radit.
" Tapi Om..."
" Benar kata temanmu, kita tidak bisa menunda masalah ini lebih lama." lagi, Damian menyela protes-an Bara.
" Tapi anak om cemburunya lama, saya yang tidak kuat menghadapinya."
" Ini beda masalahnya, Bang. dulu emang Lo yang bego deketin mantan di depan dia." Timpal Adgar.
Bara menutup mulutnya dengan loyo," oke, tapi sebatas merespon tingkahnya, tidak dengan mendekatinya." Dengan berat hati khirnya Bara menyetujuinya.
****
Estel lirik kanan-kiri menunggu seseorang di bawah jembatan jalan tol di jalan kecil wilayah pasar penduduk diantara mobil-mobil truk yang terparkir di sana.
" Lama amat Lo." sungut Estelle pada Tamara yang berjalan ke arahnya.
" Santai." ujarnya sambil memberi serbuk putih yang dinanti Estelle.
" Gak bisa gue, mereka mengintai rumah gue, Bahkan keluarga besar gue." jawabnya sambil berjongkok menghirup serbuk itu lewat hidungnya.
" HAH!" lega terasa olehnya.
" Sialan lo, kenal tidak bilang Lo berurusan dengan orang besar." Estelle marah merasa dijebak.
" Tamara menghisap rokoknya," seharusnya Lo tahu bukan harga murah sebagai imbalan apa yang Lo mau." ucapnya santai, dia meras tidak peduli dengan nasib Estelle.
" Terus gue bagaimana? gue udah ikut nampung di sana, sini."
" Ya Lo pikir sendiri, gue aja masih numpang di orang. jangan Bebani gue dengan kesusahan Lo, inget, gue cuma menyediakan drug yang lo mau." balas Tamara masa bodo.
" Gue balik." Tamara dengan santai berbalik badan dan berlalu meninggalkan Estelle dengan sejuta permasalahan yang timbul karena ulahnya.
" Sial, kenapa gua jadi kejebak di sini, gue gak bisa di giniin. oke, Tamara gue gak mau tenggelam sendiri." Monolognya....
__ADS_1
...**see you di Nex part......
...makasih buat para readers, jangan jadi pembaca diam-diam bae ya..kasih like, komen dan hadiah...♥️♥️♥️**...