
Ruangan Mumtaz
Pukul 05.30 WIB
Selepas shalat subuh, dan mengaji Al-Qur'an Mumtaz langsung berkutat dengan laptopnya, dia tidak bisa menunda apa yang harus dia lakukan terhadap orang-orang yang telah melukai orang-orang tercintanya.
Ceklek!!!
Ibnu memasuki ruangan itu masih dengan bersarungan dia mengambil duduk di samping Mumtaz
" Apa Lo udah menemukan sesuatu?"
Mumtaz mengangguk. " Gue udah kirim apa yang harus Lo lakukan ke akun Lo."
" Di tv lagi rame tentang peledakan semalam." Ucap Ibnu yang langsung sibuk dengan laptopnya.
Tidak ada tanggapan dari Mumtaz, Ibnu lanjut berbicara " apa kita tidak terlalu jauh? Ini sudah melibatkan penghancuran skala besar."
" Tidak ada yang terlalu besar untuk mereka. Udah gue urus tentang itu, Mereka tidak akan mendapatkan apapun. Kalau Alex bangun suruh dia menghadap gue."
" Kalau mereka menemukan peledak yang lain?"
" Tidak akan, Peledak itu dirancang menyatu dengan tanah. Partikelnya menyesuaikan diri dengan benda yang di permukaannya. Bahkan kalau kita nanam yang lebih besar sekalipun tidak akan ada jejaknya." Ucap Mumtaz.
" Muy, gue tahu lo marah, tapi gue gak ingin Lo masuk penjara. Gue dan adik gue cuma punya Lo. Bisa Lo berbagi dengan gue?"
Mumtaz menatap Ibnu," gue tahu apa yang gue lakukan, mereka yang harus lenyap. Gue aja yang bangunin Alex."
Mumtaz memberikan laptopnya ke pangkuan Ibnu. " Lo pelajari dan kembangkan apa yang sudah gue temuin." Mumtaz beranjak keluar ruangan itu.
Dari dapur Zahra melihat Mumtaz yang sedang berjalan menuju tangga, dia memanggil Mumtaz.
Mumtaz duduk di kursi depan pantry " jelaskan, Ayin menelpon kakak terus-menerus dia bilang Tia dalam bahaya."
" Sambil makan boleh?" Zahra memberikan setumpuk roti berselai coklat.
" Tia mendapat..." Mumtaz pun bercerita seluruhnya sejauh yang dia tahu.
Zahra termenung mendengar cerita itu." Aku lihat gambar orang-orangnya."
Mumtaz memberikan ponselnya. Selagi Zahra sibuk dengan ponsel Mumtaz. Mumtaz memperhatikan berita itu dengan seksama. Zahra mengamati raut Mumtaz sepanjang berita itu, " apa kamu yang lakukan itu?"
Mumtaz dengan raut biasa mengalihkan pandangannya " Aa Mumuy seorang mahasiswa arsitektur, kak. apa menurut kakak Aa bisa melakukan itu?"
" Kalau kamu mau, kamu bahkan bisa menculik presiden tanpa diketahui Paspampres."
Mumtaz tertawa geli mendengar komentar kak Zahra, Zahra mencondongkan wajahnya ke depan Mumtaz, " kita sedarah, akar hidup kita sama, ikatan kita terlalu dekat untuk tidak mengenal satu sama lain."
Mumtaz menatap Zahra dalam " dan kakak tahu apapun pasti aku lakukan untuk melindungi kalian, karena itu hak aku." Tegasnya tak terbantahkan.
Zahra menjauhkan wajahnya dari Mumtaz tanpa memutus tatapannya "kami bisa melindungi diri kami sendiri."
" Aku tidak meragukan itu, setelah melihat Tia pingsan, dan wajah putus asa Tia menghadapi perempuan itu, aku yakin kau akan melakukan apa yang sedang aku lakukan."
" Beritahu aku."
" Tanya ke Ibnu, aku banyak tugas." Mumtaz meninggalkan dapur untuk pergi ke lantai dua.
Zahra terus memandangi Mumtaz sampai Mumtaz hilang dari pandangan nya, lalu menatap gambar seorang wanita muda cantik yang ada diponsel Mumtaz tanpa ekspresi.
Ruangan Mumtaz
Mumtaz duduk berhadapan dengan Alex di ruangannya. Dengan tatapan mengintimidasi
Seumur hidup Alex baru ini dia gemetar hanya dengan tatapan
Mumtaz melempar sebundel kertas ke atas meja " Lo sudah melihat terlalu banyak, sampai Lo bocor apapun dari yang Lo lihat, jangankan perusahaan, hidup mama, dan adik Lo pasti gue hancurkan." Aura kejam menyeruak dari Mumtaz.
Alex terbelalak terkejut dengan apa yang dia lihat. " Sejak kapan kalian mengintai kehidupan keluarga gue." Tanya Alex gusar
Ibnu berdecak " emang Lo pikir kita gak ada kerjaan sampe harus mengintai keluarga Lo?!"
" Kita tahu Lo aja baru kemarin di club." Lanjut Ibnu.
Alex menatap dua orang dihadapinya ini dengan bingung, dia mengangguk " apapun yang gue tahu, dan gue lihat hanya gue yang tahu. Gue brengsek, tapi gue bukan orang ingkar janji."
" Soal Dista,..."
" Gue suka beneran sama dia, awalnya gak ada niatan jahat gue ke dia. Itu semua murni ide Samuel." Sela Alex
Mumtaz dan Ibnu terkekeh mencemooh.
" Ambisi lo itu menghancurkan Bara, dan Lo bisa lakuin itu lewat Dista."
Alex menghela nafas " dalam dunia per-geng-an siapa yang tidak ingin menghancurkan Bara!?, Itu ambisi semua ketua geng." Tekan Alex
" Tapi gue bukan idiot, bisa keluar dari bangunan itu aja gue bersyukur banget. Gue berhutang Budi sama kalian atas apa yang udah kalian lakukan untuk gue." Tutur Alex
" Gue pegang perkataan Lo, Lo khianati, gue hancurin seluruh keluarga dan usaha Lo dimanapun Lo berada." Peringatan Mumtaz, Alex mengangguk.
" Mengenai perusahaan,..."
" Kita bantu apapun yang Lo butuhkan." Sela Ibnu.
" Lo punya asisten yang bisa Lo percayai, Lo keluarkan bokap Lo dari perusahaan Lo, atau Lo bangkrut. Saat ini hanya asisten Lo yang bisa nolongin Lo." Tukas Ibnu.
pukul 09.30 WIB
"Assalamualaikum. Maryatul Qibtiah pulang." Teriak Tia.
" Wa, alaikumsalam." Jawab kak Ala
Tia yang melihat kakaknya langsung menghambur kepelukannya kakaknya
" Kak Ala, kapan pulang?" Tia bersalam mencium tangan kakak Ala
" Tadi malam, dijemput Hito." Ucap Kakak Ala menyalami mama Aida
Mama memasuki rumah disusul Dista, Sisilia, dan mama sherly.
" Bukannya dua atau tiga Minggu lagi pulangnya?" Tanya mama
" Seharusnya, tapi Ayin telpon kakak suruh pulang mulu." Sambil bicara, kakak ala melirik Tia.
" Ma, Mumtaz dimana sih? Dari tadi kakak cariin dia gak ketemu." Tanya Zahra.
" Mungkin di belakang."
" Di kecomberan?"
" Heh, di bangunan belakang. Tiga tahun lalu Mumtaz beli rumah pak Hamdan yang di belakang yang mau pindahan, terus temboknya dia bongkar jadiin satu sama pekarangan kita."
Zahra terkaget " udah kaya dia, tanah sini kan termasuk mahal."
" Gak juga. Mumtaz dapet diskon karena udah bantu usaha pak Hamdan. Tadinya malah mau digratiskan, tapi Mumtaz menolak." Terang mama Aida.
" Hallo gadis cantik Aa Adit, apa kabarnya pagi ini?" Tiba-tiba Radit nongol dibalik belakang kakak Ala.
" Huh, gombalan usang. Kakak Ala pulang, kakak lupa aku. Aku dari tadi nunggu kak Adit loh." Omel Tia.
" Maaf cinta, Aa sibuk. Kalau tentang kak Zahra, Aa angkat tangan, saingannya Hito Hartadraja, neng." Radit mengerling sebelah matanya
Tia tertawa terbahak " K,O. Sebelum perang. Cuih, gak elit banget."
" Senang ya melihat kakaknda menderita, Ayo saatnya kita kencan di belakang aja ya." Radit dan Tia meninggalkan mereka dengan cueknya.
" Kak, aku sama Lia ke atas dulu ya." Ucap Dista mengajak Lia.
" Hai, mbak. Kok gak bilang mau kesini." Ujar hangat mama ke bunda dari arah dapur
" Astagfirullah, kak ini rumah berubah jadi tempat penampungan tunawisma? Gak ada tempat kosong. Rengek Ita dari atas.
" Di sini aja, depan tv." Tia menggelar sofa menjadi tempat tidur. Tia dan Lia menurut tanpa protes.
***
Rumah Eidelweis Hartadraja.
__ADS_1
Rumah besar yang biasa sepi karena hanya diisi tiga orang dan beberapa asisten sekarang menjadi ramai dengan kedatangan mendadak Adgar dan para temannya, akbar beserta Hito.
Edel dengan senang hati menyiapkan sarapan untuk mereka, Edel selalu bermimpi rumahnya menjadi tempat berkumpul para pemuda itu layaknya rumah mama Aida.
" Bar, sekali-kali kamu ajak mereka kumpul di sini, jangan di tetangga aja." Ujar Tante Edel ke ke Akbar.
" Tante, tinggal Tante suruh Mumtaz bawa mereka kesini." Ucap Adgar yang menikmati sarapan nasi gorengnya.
" Udah, tapi gak mempan. Katanya sungkan, teman-temannya tidak sebaik imejnya. Apa benar begitu, Bar?"
" Kurang tahu, tapi kalau lihat rumah Tante Aida selalu rusuh, kayaknya iya."
" Kamu, kak. Tumbenan bareng mereka!?"
" Aku semalam jemput Zahra di bandara, mau pulang keburu mereka datang, alhasil di sini." Jawab Hito
" Assalamualaikum." Salam Zahra dari luar
Ketika Edel hendak menyambut, Hito menyelanya.
Hito membuka pintu utama " wa,alaikumsalam."
" Aku kesini disuruh mama panggil kalian buat sarapan bareng."
" Masuk dulu." Hito menarik lengan Zahra.
Edel melihat Zahra yang ditarik Hito " ya Allah, Ra. Kamu cantik banget pulang dari Jerman." Seru Edel.
Zahra tertawa menyalami cium tangan kak Edel dan om Heru " makasih, kak. Lumayan kecipratan bule di sana."
" Duduk sini." Kak Edel menarik Zahra ke ruang makan menarik kursi, namun Zahra keburu di tarik Hito untuk duduk di sampingnya mengusir Adgar yang semula duduk di sampingnya.
" Ya Allah, kak. Segitunya amat, Aku cuma mau tanya-tanya aja kok." Omel Edel.
" Lain kali kan bisa, Kalian tetanggaan masih banyak waktu. Aku masih kangen." Edel dan yang lain ternganga mendengar kalimat terakhir Hito.
Zahra yang risih memukul pelan lengan atas Hito." Maklumin, kak. Masa puber ke sepuluh." Ucap asal Zahra. Hito biasa saja.
" Kalian sedang sarapan, padahal aku ke sini disuruh mama buat ajak kalian sarapan." Ujar Zahra.
" Ini cuma ngemil kok, kak. Habis ini kita kesana." Ucap Raja.
" Terserah sih. Aku balik dulu." Ketika Zahra hendak beranjak pergi, Hito menahan tangan Zahra.
" Mereka aja yang pergi, kamu jangan. Sini aku suapain." Lagi, mereka melongo dengan perbuatan Hito.
" Perasaan ini rumah gue, kenapa gue yang berasa diusir ya." Monolog Edel.
" Sabar, Yang. Inget lagi puber ke sepuluh." Ledek Heru.
" Awas, kalau kamu kayak gitu!"
" Enggak lah. Aku kan udah nikah, beda sama si bos. Masih menunggu." Sindir Heru.
" Ru, Lo mau gue kirim ke Eropa buat setengah tahun? Kebetulan gue lagi nyari orang mewakili Hartadraja di cabang eropa., Kayaknya Lo cocok deh." Ancam Hito.
" Ayo semua kita pergi ke tetangga, gak baik buat mereka menunggu." Edel bergegas mengajak yang lain ke rumah mama Aida.
" Tapi, Tan, ini belum habis." Protes Juan.
" Bawa aja, Cepat. Lelet amat." Mereka bergegas bergerak. Takut kak Edel mengeluarkan taringnya.
Zahra tertawa " kamu jahat amat."
" Enggak apa-apa." Hito menyuapi Zahra.
" Apa rencana kamu hari ini?"
" Kamu mau di sini, atau ke rumah aku?" Tanya Zahra.
" Di sini dulu, entar ke rumah kamu."
Tak terasa makanan mereka habis.
Hito duduk menyamping menghadap Zahra dengan tatapan serius.
Zahra tercengang kaget dengan ungkapan Hito secara mendadak tanpa basa-basi.
" Sebenarnya waktu kamu bilang mau ke Jerman, aku mau ungkapkan perasaan aku, tapi aku tahan. Aku gak mau kamu terbebani."
Hito menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya. Hito mengeluarkan kotak kecil yang berisi dua cincin yang satu bermata berlian putih kecil, sedang yang satunya polos.
" Sekarang kamu udah balik, aku gak mau buang waktu lagi. Aulia Zahratul Kamilah, maukah kamu menikah denganku?"
Zahra menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya luruh. Dia sungguh terkejut akan lamaran dadakan ini.
Untuk pertama kalinya dengan sadar Zahra memegang tangan Hito yang bertumpu di atas pangkuannya.
Menangis haru, Zahra menunduk " maaf, bukan maksud menolak kamu, tapi aku harus minta ijin mama terlebih dahulu. Perkenalan kita diawali dengan kesedihan mama, aku butuh keikhlasan mama untuk menjadikan kamu bagian dari masa depan aku."
Hito diam tertegun, dia ingat tragedi itu.
" Maaf, bukan maksud mengungkit atau kami tidak memaafkan, tapi aku..."
" Iya, aku paham." Ucap pelan Hito.
" Boleh aku perjuangkan hubungan ini?" Tanya Hito berharap
" Boleh kita berjuang bersama-sama untuk hubungan ini? Tanya Zahra hati-hati.
Senyum Hito mengembang, bagaikan anak kecil mendapat hadiah Hito mengangguk bersemangat.
" Tentu, boleh aku cium tangan kamu?"
" Boleh aku jedotin kepala kamu ke tembok?" Jawab Zahra gemas, hilang lah moments haru
Hito tertawa canggung atas reaksi Zahra.
" Ara..., Aku Cinta kamu." Ucap Hito mantap.
" Terima kasih, jawaban aku tunggu ijab-Qabulnya ya."
Meski tidak dijawab pasti oleh Zahra Hito cukup senang, Dia tahu pasti apa yang Zahra rasakan seperti apa yang dia rasa.
" Ke rumah yuk." Ajak Zahra.
" Masih kangen."
" Masih banyak waktu."
" emang kamu gak bakal pergi lagi?"
" Insya Allah enggak, aku gak mau dipecat dari KK."
" Terima kasih, ya Allah." Hiperbola Hito sambil menengadahkan tangan
" Jangan lebay,"
" enggak, ini sewajarnya."
" Segitunya kamu tuh sama aku." Ledek Zahra.
" Iya, segitunya aku tuh sama kamu." Ucap lembut Hito.
Setelah seminggu peledakan tempat penyimpanan minuman beralkohol berkualitas tinggi dengan berbagai merek dan penyimpanan alat-alat hubungan intim terjadi, Gata tv masih gencar memberitakan kejadian itu dengan pengembangan berita bahwa tempat itu merupakan tempat prostitusi ilegal terbesar se Asia tenggara membuat masyarakat resah.
Mengundang berbagai lembaga masyarakat beraksi sehingga stasiun-stasiun TV lain turut kembali memberitakannya. berakibat Surga Duniawi tutup beroperasi untuk sementara, sedangkan hotel yang terletak di kawasan itu pun turut tutup beroperasi guna penyelidikan polisi.
Surga Duniawi
Keluarga Aloya berkumpul dengan raut marah, " polisi sampai sekarang belum menemukan jejak apapun, itu terdengar konyol bukan." Marah Victor
" Kalian sudah benar-benar meneliti cctv?" Mereka mengangguk
" Kita sudah berulang kali memeriksa cctv, tapi tidak ada yang mencurigakan." Terang Alice.
__ADS_1
" Apa kita tak bisa menekan para politisi untuk menstop siaran itu?" Tanya Adinda
" Sudah, tapi tidak berhasil. Gata tv masih berani memberitakannya." ucap Rudi..
" Sial, aku gak punya klien yang berhubungan dengan orang Gata tv." Ucap Adinda
Tak lama " tapi aku punya target baru yang bisa menekan Gata tv."
" Siapa?" Tanya Rudi
" Janu Januar, sang politisi sekaligus pembawa acara talk show di Gata tv." Adinda tersenyum licik
*****
Kediaman Janu Januar
" Saya ingin anda membereskan pemberitaan bisnis saya dengan segara." Pongah Rudi.
" Kenapa harus saya? Saya tidak ada sangkut pautnya dengan anda."
" Benarkah? Bukankah beberapa Minggu lalu anda menghabiskan malam anda dengan Adinda Aloya?" Rudi tertawa sinis.
Hati Janu berdetak kencang, meski Birawa muda menjamin bahwa dia aman, namun perkataan percaya diri Rudi tetap membuatnya resah.
" Ada bukti?"
Rudi mengeluarkan flashdisk berukuran kecil " di sini semuanya terekam, dan tentu pesan dan telponan pemesanan anda pun ada."
" Siarkan."
Rudi menyuruh anak buahnya untuk membuka isi dari flashdisk tersebut
Di layar laptop tertayang adegan ranjang Adinda pada malam itu namun bukan dengan Janu, sang dewan, tetapi dengan seorang pria lain yang tidak dikenal.
Rudi terperanjat kaget dengan kenyataan tayangan di laptop
Janu tertawa mengejek." Maaf, saya kira itu bukan saya. Anda sebaiknya cari mangsa lain."
Dengan amarah Rudi meninggalkan rumah Janu. Janu terduduk bersandar meregangkan ototnya yang tegang, dia bernafas lega.
" Sayang, gimana?" Tanya sang isteri khawatir.
Janu menarik isterinya untuk duduk disampingnya dan memeluknya erat. " Alhamdulillah lancar. Birawa muda menepati omongannya."
****
Surga Duniawi
Adinda dan Rudi sedang di ruang kerja Rudi membahas bisnis mereka yang tidak beroperasi.
" Papa, apa papa berbuat curang dengan partner bisnis papa? sehingga ada yang dendam?" Tuduh Adinda
" Memang sejak kapan kita main jujur, Din?" Tanya balik Rudi. Adinda berdecak jengkel.
" Kalau begini terus kita bakal jadi gembel pa. Ini lagi Samuel hampir satu bulan ini dia gak nongol-nongol" Amuk Adinda
" Bukan waktunya memikirkan dia. Kamu, kapan kamu bisa menaklukan Atma Madina atau Birawa, atau siapapun anggota keluarga yang masuk top 5." Tagih Rudi.
Adinda termenung mendengar perkataan papanya, dia tersenyum licik." Ini saatnya gue pake Lo, Tia. Besok apapun yang terjadi Lo gak bisa main kucing-kucingan lagi dengan gue, Tia." tekad Adinda
Skandal peledakan Surga Duniawi mampu mengalihkan skandal Bara di dunia maya. Sehingga para sahabat berpendapat mereka tidak perlu mengadakan wawancara di tv, tentu hal itu ditolak mentah-mentah oleh Jimmy.
" Enggak begitu juga. Wawancara harus tetap terjadi. Ini gue udah potong rambut." Protes Jimmy.
" Jim, Lo potong atau enggak itu rambut tampang Lo masih begini aja, Jim. Masih buluk." Ejek Daniel yang disambut tawa para sahabatnya
******
kampus Universitas Atma Madina ( UAM )
Terhitung dua Minggu Adinda mencari celah untuk mendekati Tia, tapi berakhir gagal. Para sahabatnya benar-benar tidak membiarkan Tia sendiri, tanpa menarik kecurigaan mereka berganti giliran menjaga Tia.
Hari ini Tia duduk di taman belakang kantin universitas menunggu Radit yang katanya akan telat karena harus mengumpulkan tugas, sedangkan Raja harus segera masuk kelas karena akan ujian.
BRAGH!!
Tanpa basa-basi Adinda langsung meletak beberapa photo Tia dan Samuel. Tia terperanjat kaget dengan gebrakan meja yang tiba-tiba,
" Hallo Marya sayang, kalau lo pikir gue hanya sekedar menggertak untuk menyebar photo ini, Lo salah. Sekali lagi, gue ingin Lo perkenalkan diri gue ke teman-teman cowok Lo." Adinda bersedekap tangan mencela. Sungguh dia lelah menangani ditutupnya lahan bisnisnya.
Tia memasang wajah datar, meski dalam hati dia resah dan mulai Merasakan kepanikan.
" Kenapa harus lewat gue, gue dengar Lo sering ketemu dengan mereka. Apa tubuh Lo yang sudah terasa bacem dan sering dipake tidak mengikat hasrat mereka?" Tia mencoba melawan.
Adinda mengangguk-anggukan kepala " Lo itu jelek, bayangkan bagaimana reaksi teman-teman Lo menyaksikan kejalangan lo. Lo akan kehilangan semuanya, Tia." Provokasi Adinda
Tia mencondongkan tubuh " Apa yang sedang Lo lakukan, Adinda? Gue, yang lo bilang jelek nyatanya dikellilingi cowokcowok yang Lo gak mampu dekati. Jadi, siapa yang sebenarnya buluk?
Mata Adinda membulat, rahangnya mengeras, giginya beradu, dia menggeram naik pitam.
Tia mengamati perubahan emosi Adinda, sedangkan dia yang berhasil mempertahankan raut tenang di tengah kepanikan, berbangga diri.
" Lo menjemput masa duka Lo." Gertak Adinda.
" Lo menjemput maut Lo." Tegas Tia.
Dari kejauhan Adinda melihat seorang lelaki berlari mendekati mereka, bergerak bersamaan dia dan Tia berebut foto di atas meja, namun Tia gagal mengambilnya. Walau demikian Tia memaksakan tetap memasang raut tenang.
Adinda tertawa menang, " lihat, hari ini adalah hari terakhir masa kebahagian Lo." Adinda beranjak meninggalkan Tia sendiri yang menghembuskan nafas yang tertahan sedari tadi.
Radit yang dari jauh melihat Adinda Duduk berdua Tia berlari kencang agar dia bisa menangkap Adinda, tapi dia gagal.
Melihat Tia yang pucat pasi, Radit bergegas menepuk pelan pundak Tia, Tia terlonjak ketakutan akan tepukan itu, kala melihat Radit, air matanya luruh.
Radit berjongkok di samping kursi Tia " Tarik nafas, buang nafas. Apa yang Lo lakukan tadi, gue bangga." Ucap tulus Radit.
" Emang kakak tahu apa yang kita bicarakan?"
Radit menggeleng " tapi gue lihat raut marah dia, Lo berhasil mengalahkan ego dia. Itu yang terpenting."
" Aku..., Aku mau ketemu Jimmy." Tia bergegas merapikan buku-bukunya dan meninggalkan Radit.
Radit yang ragu akan kebenaran perkataan Tia langsung menelpon Jimmy.
Begitu sambungan terhubung " Tia menangis, habis ketemuan sama Dinda." Tanpa jawaban sambungan diputus sepihak dari seberang.
" Terima kasih." Ujar Radit jengah ke ponselnya.
Radit lanjut menelpon Mumtaz.
Butuh waktu 25 menit bagi Jimmy mencari Tia, sebelum menemukannya sedang duduk di bangku panjang taman belakang gedung fakultas psikologi.
Dengan nafas terengah-engah dia mendekati Tia dan duduk di sampingnya. menatap lembut Tia dalam diam.
Tia menunduk nutup wajahnya dengan kedua tangannya belum menyadari kehadiran Jimmy.
Selang lima belas menit Tia mengangkat wajahnya dan menghapus sisa jejak air matanya.
Dia terlonjak terkejut mendapati Jimmy yang tersenyum memandanginya.
" Jangan bikin aku merasa tidak berguna menjadi pasangan mu. Kamu berhasil mencabut setengah masa hidupku selama mencari kamu tadi." ujar sendu Jimmy.
Jimmy mengulurkan tangan mengusap-usap kepala Tia " apapun keadaan diri kamu, aku tetap ada buat kamu." Ucap lembut Jimmy.
Tia termangu mendengarnya " aku akan menunggu kamu sampai kamu siap menceritakannya. Seperti kamu yang selalu ada untuk aku."
Tia mengambil tangan Jimmy, menghela nafas berat. Dengan berat hati dan kepasrahan Tia menceritakan semua awal kejadian sewaktu dia melakukan pose itu sampai kejadian tadi.
Sepanjang cerita Jimmy tidak menyela pembicaraan, dia merasakan genggaman tangan Tia semakin erat kala menceritakan Dimana Samuel menyentuh ***********, kala Samuel memegang dadanya. Tia menangis sepanjang dia bercerita.
Tanpa kata Jimmy memeluk Tia yang tersedu-sedu menangis diakhir katanya melepas segala sesak emosi.
Jimmy menepuk-tepuk pundak Tia " aku bangga padamu."
Mengurai pelukan, Jimmy yang melihat kerapuhan Tia tiba-tiba berdiri dan menekuk kakinya di depan Tia. melihat Jimmy berjongkok di depan Tia beberapa mahasiswa yang duduk di sekitar terperangah
Tia memandang Jimmy " aku tahu ini bukan waktu yang menyenangkan, tapi aku pikir ini waktu yang tepat untuk memintamu menjadi bagian hidup aku secara halal. Maryatul Qibtiah binti bapak Zein, maukah kamu menikah denganku?
__ADS_1
Tia terperangah dan orang-orang sekitar taman menjerit tertahan....