Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 84. Luka Tak Nampak


__ADS_3

Dua orang dipasung dengan terlentang di kedua tangan dan kakinya, yang satu seorang pria bugil, dan satunya seorang wanita berpakaian bathrobe dengan latar belakang kobaran api yang membakar hangus villa tempat mereka menginap di sebuah pulau pribadi.


Tiga jam sudah Brotosedjo berusaha melepas ikatan tali ditangan kirinya dengan menarik-narik menghentak berharap kayu patokan tercabut dari tanah, namun belum juga berhasil tenaganya sudah terkuras, lidahnya terjulur menyecap bibirnya yang kering karena dehidrasi ia tergoda akan dua botol berukuran sedang yang terisi penuh air mineral.


" Akhirnya." Ucapnya lemah kala patokan itu berhasil tertarik, ia menjatuhkan kepalanya ke pasir karena kelelahan.


Setelah melepas semua ikatan talinya mereka bersegera menenggak habis air mineral tersebut.


" Gotcha." Ujar Alfaska tersenyum miring melihat tingkah mereka dari iPadnya.


****


" Kakak..." Jerit Ayunda sumringah sambil merentangkan tangan berlari ingin memeluk Zahra kala memasuki ruang inap di susul para sahabatnya Dilla, dan si bule campuran Indonesia-Amerika, Caitlyn.


Para keluarga sahabat dari para adiknya mengernyitkan dahi heran.


" Sejak kapan kakak akrab sama Ayu?" tanya Tia.


" Sejak lama, kenapa emang? Gak suka? Tanya balik Ayunda sewot.


" Biasa aja dong, kalau bukan adiknya kak Daniel gue sleding Lo." 


"Dih, apaan sok jagoan. Ditinggal bang Afa langsung nangis."


" Ini anak..." Ucap Tia gemas.


" Tia, sudah. Sini calon adik ipar kakak." Tangannya mengulur ke Caitlyn yang meringis risih.


Serempak mereka terbengong.


Sejak tiga hari yang lalu Zahra meminta Caitlyn untuk berpura-pura menjadi gebetan Mumtaz jika di depan Sisilia.


" Dia pacar Ayin?" tanya Tia tak yakin.


" Emang kembaran kamu mulai melirik cewek?" Tia menggeleng.


" Ya udah berarti bukan punya-nya Ayin."


" Jangan bilang Aa Mumuy." Kaget Tia.


" Retoris banget ucapan Lo, dek." 


Semua orang minus Sisilia semuanya terkejut, Sisilia menunduk sedih menyembunyikan air matanya yang sudah ingin keluar.


" Kenapa emang? Kan Mumuy juga lagi jomblo, Sisilia gak apa-apa kan Mumuy punya gebetan baru? Kan kamu yang udah putusin dia?" Sarkas Zahra.


" Eeh, i...iya kak. Its okey." Lirihnya lemah.


Dominiaz yang duduk bersampingan dengan Hito memandang adiknya prihatin, dia tahu pasti luka hati adiknya itu yang masih sangat mencintai Mumtaz, sang mantan.


Elena, dan Gama pun menatap putri semata wayangnya pilu. Sejak menyatakan putus dengan Mumtaz putrinya ini semakin jauh dari mereka, tidak ada lagi Sisilia yang manja, galak, periang, curhat tak kenal waktu. Kini Sisilia menjadi pribadi penyendiri, pendiam, tatapannya sering kosong, makannya tak teratur, menghabiskan waktu dengan melamun dan menangis.


" Tuh dengar Ya."


" Tapi kakak gak bisa seenaknya begitu, kakak tahu pasti Aa Mumuy sangat mencintai Lia!" protes Tia sewot.


" Terus kamu mau Mumuy ngegalau mulu, wong Lia-nya juga udah gak mau sama Mumuy."


" Ishh, tapi kan masih bisa balikan."


" Jangan maksain orang lain, udah jangan halangi orang yang sedang PDKT."


" Ishh kakak gak usah sibuk ngurusin asmara orang, urusin percintaan sendiri aja belum becus." Ujaraan Tia itu berhasil membuat yang lain terperangah.


" TIA." Tegur Zayin.


Perkataan yang terkesan menghujat itu membuat Zahra bungkam sesaat, lantas dia nyengir penuh tantangan.


"Udah berasa di atas angin Lo karena udah baikan sama mertua Lo, hingga berhak ngomentarin gue!" Suara datar nan dingin itu menaikan tensi ruangan menjadi menegang.


Tia menunduk takut, ia menyesal. Memang kepekaan Tia hanya berlaku untuk Alfaska.


" kalian pergi, tinggalkan ruangan ini." Ia lantas berbaring dengan selimut yang menutupi sampai kepala.


Hanya tersisa Hito saja di ruangan itu, dia tak bisa meninggalkan kekasihnya dalam keadaan tak baik-baik saja.


" Kenapa Lo masih di sini?" Zahra beranjak ke kamar mandi yang ada di ruangannya.


" Apa kamu harus begitu dingin mengomentari ucapan Tia?" Tanya Hito kala Zahra keluar dari kamar mandi.


..... 


Zahra tak menjawab pertanyaan Hito, ia akui memang sikap impulsifnya berlebihan tapi dia punya ego yang harus dipertahankan.


Cklek!!


Zivara memasuki ruangan Zahra tanpa tahu kalau Hito ada di sana, suasana canggung langsung terasa.


" Lo mau jemput Hito kan!?, bawa aja dia, toh di sini juga cuma buat ceramah unfaedah doang." Sinisnya menatap mereka berdua, Hito menatap Zahra sendu.


" Lain kali gak perlu Lo jemput dia, via telpon bisa kan, mau pamer Lo?"


" Zahra." Tegur Hito, ia tak paham kenapa Zahra bersikap kasar.


" Kenapa? yang ini juga Lo gak suka? Siapa Lo ngelarang gue, HAH! Udah jadi bucin dia Lo. Lo pikir gue gak tahu kalau Lo sering anter dia pulang?" 


Hito terperanjat, darimana Zahra tahu kalau dia pernah mengantar Zivara pulang.


Zivara hanya menghela nafas berat, dia benar-benar salah waktu untuk meminta maaf. Dia pikir waktu di malam hari waktu yang tepat mengingat hanya sedikit orang menungguinya.


" Pergi kalian!" Jangan pernah kembali lagi." bentaknya


 Hito tak lantas pergi seusai Zivara pergi, setelah 20 menit dia mencoba membuka percakapan yang tak ditanggapi oleh Zahra, Hito beranjak melangkah keluar.


" Aku pulang, telpon aku kalau ada perlu." Zahra masih bergeming dengan buku bacaannya, di depan ruangan Hito melihat Ibnu, Daniel, dan Alfaska berbincang.


" Kalian yang jaga malam ini?"


" Iya, maaf ya om. Semua karena Tia." Ucap Alfaska.


" Hmm, saya pulang dulu." Hito meninggalkan rumah sakit dalam keadaan hati gundah.


Sepuluh menit kepergian Hito dan Zivara ponsel Zahra berdering, Mumtaz melakukan VC.


" Assalamualaikum, kak?"


" Wa,alaikumsalam." 


" Gimana kabar kakak hari ini?"


Mumtaz setiap malamnya melakukan sambungan VC pada kakaknya.


" Baik, kamu gimana, A?"


" Alhamdulillah, do,ain semua berjalan lancar ya."


" Amiinnn."


" Kak, aku dengar hari ini kakak marah sama Tia?"


Raut Zahra yang semula bersemangat seketika meredup.


" Kamu telpon kakak cuma mau ngomong ini?" Tanya Zahra sinis.


" E...eeeh bukan, Kak. Cuma apa kita udahan aja berpura-pura gebetan ini?"


" Kenapa?"


" Ya gak apa-apa, aku takut makin sulit buat balikan sama Lia kalau dia salah paham."


" Kamu berubah pikiran karena dapat wejangan dari Tia?" Tuding Zahra tajam


Mumtaz diam bergeming.


Mood Zahra seketika drop," apa susahnya melakukan hal sekecil ini untukku?"


Mumtaz yang menyadari ia berbuat salah, langsung panik," kak, maaf.."


Tut!!!!


Zahra langsung mematikan sambungannya, menonaktifkan ponselnya dan langsung tidur.


****


Begitu mobil berhenti di depan pintu Sisilia langsung turun, selama perjalanan pulang tak ada yang bercakap suasana tegang dalam ruangan Zahra terbawa sampai rumah.


Begitu sampai di ruang tengah, Dominiaz tak tahan lagi untuk bertanya," Dek, apa kamu baik-baik saja?" 


Sisilia membalikan badannya menghadap pada orang tua, dan kakaknya.


" Sejak mommy menolak dimintai tolong oleh kak Mumtaz aku gak pernah baik, kak." Jawabnya tenang.

__ADS_1


" Lantas kenapa kamu minta putus dari dia?"


" Apa kakak pikir aku masih punya muka untuk bersikap biasa saja setelah mommy berpikiran negatif tentangnya? Aku malu, Kak."


"Dek,..."


" Kak Mumtaz itu baik banget, sejak SMP banyak yang gak suka Lia karena look Lia, bahkan sampai sekarang kak Mumtaz gak pernah biarkan orang lain usik Lia, dia cinta pertama Lia, dan dengan seenaknya Mommy menolak kak Mumtaz hanya karena kasus tidak bermutu, sekarang mommy senang Lia gak bisa miliki Kak Mumtaz lagi!" Teriak Sisilia penuh dengan luka dan kecewa.


Dengan derai air mata Sisilia berlari ke lantai dua dimana kamarnya berada, namun di tengah tangga langkahnya memelan, hingga tubuhnya terkulai jatuh.


" LIA...." jerit mereka berbarengan.


Dominiaz dengan gesit menjangkau Sisilia yang hendak menyentuh lantai.


Mommy terus menangis dalam pelukan Daddy.


"Dad, apa yang harus mommy lakukan agar dapat mengembalikan Mumtaz padanya?" Lirihnya pilu.


selama perjalanan menuju rumah sakit Gama hanya bisa memeluk dan mengusap menenangkan punggung istrinya


****


Ceklek!!!


Zahra menatap Setiap orang yang berkumpul di ruangannya,


" Well...well...well... alibinya menjenguk orang sakit ternyata kalian arisan. " Ucap sarkas Zahra Ia berdiri bersedekap menyandar di ambang pintu antar ruangan.


" Semua mata memandanginya terkejut," kamu darimana?" Hito yang duduk di sofa yang paling terdekat dengan pintu beranjak menghampirinya bersikap tak pernah terjadi perselisihan.


" ngecek pasien."


" kamu sendiri masih sakit loh."


" itu karena kalian lebay."


" bukan lebay, hanya memastikan." Hito memperhatikan lebam-lebam yang mulai pudar.


Zahra risih akan sikap Hito yang perhatian padanya selama ini ia hanya meladeni pertanyaan dari setiap orang, sikap yang membuat orang tidak tahu apakah Zahra masih marah atau tidak.


" kak, katanya Lia masuk rumah sakit, gimana keadaanya?" tanya Zahra pada Dominiaz.


" Secara keseluruhan baik, hanya lemah saja karena makan tidak teratur."


" Aku kapan bisa pulangnya ya? ini aku sudah 15 hari di sini semuanya sudah fit cuma bekasnya doang yang belum hilang sepenuhnya."


" No, cinta. sampai semuanya seperti sedia kala kamu tetap di sini!" Tegas Hito.


Zahra mendelik sinis," supaya kamu ada alasan buat ketemuan sama selingkuhan kamu itu ya."


Hito menggeleng," enggak, kita cuma kebetulan bertemu dia langsung masuk mobil aku minta dianter pulang udah malem juga jadi aku sekalian aja. aku gak pernah selingkuh!" Terang Hito sabar.


Hito menyesal tempo hari dia membiarkan Zivara masuk ke mobilnya, dan mengantarnya pulang meski tidak sampai rumahnya yang berakhir kesalahpahaman lebih lanjut.


" Wow, baik sekali anda. Aku dapat kabar pacar anda sering pulang malam sendiri, mungkinkah anda berpaling? Tapi gak mau ngaku, karena anda ingin dua-duanya?" Sindir Zahra pedas.


Hito memejamkan mata menahan rasa sesal," maaf...gak akan terulang lagi."


" Sudahlah itu sudah masa lalu, Toh sudah berakhir."


" Gak ada akhir ya, dan gak bakal ada akhir." Tegas Hito.


Cklek...


Tiga remaja dengan memakai kecamata dan topi ala Sherlock Holmes memasuki ruangan dengan tangan berbentuk pistol dan melangkah waspada seakan hendak melakukan penangkapan terhadap penjahat.


Zahra berbalik dan mengamati mereka dengan geli, sepertinya mereka terlalu menghayati peran mereka.


" Lapor, mbak. Hari ini aman, target tidak bertemu dengan PHO. Anta pulang PHO hanya terjadi tiga kali itu saja." Ucap sang remaja bule campuran Indonesia-Amerika, Caitlyn.


Zahra sudah mulai berdiri resah, ia memberi kode lewat matanya agar mereka tidak melanjutkan laporan mereka.


" Target seharian ini meeting dengan rekannya Samudera Dirgantara di kediaman Dirgantara, itu rumah akyu." Ucapan bernada centil dari sahabat Ayunda, Aida.


Oke sepertinya mereka tak bisa menangkap kode yang dilempar zahra matanya.


" Rute om Hito apartemen, kantor, rumah sakit. Rumah sakit pun tidak bertemu dengan dr. Zivara terduga selingkuhan, tetapi langsung ke ruangan ini. BT sekali hidupnya, tidak ada skandal tuan muda Hartadraja." Keluh Ayunda mendramatisir.


Zahra memejamkan mata gusar, ia menggeram kesal dalam hati.


Hito yang merasa namanya disebut menjulurkan wajahnya di belakang tubuh Zahra.


" Ada apa dengan saya?"


" Berhenti di tempat." Perintah Hito menarik kerah belakang seragam Ayunda.


Tiga remaja itu berhenti bergerak seketika.


" Balik badan."


Dengan sepelan mungkin mereka balik badan sambil nyengir.


Hito merampas note kecil dari tangan Ayunda, membaca isi dari note tersebut yang ternyata berupa gerak gerik keseharian dirinya.


Hito mengulum senyum geli, dia memandangi mereka dengan tatapan sok mengintimidasi, matanya melirik bergiliran antara mereka dan Zahra yang sudah memalingkan wajahnya sok polos.


" Sudah berapa lama kalian mengikuti saya?" Wajah datarnya membuat tiga remaja itu menciut.


" Ba...baru sembilan hari." Cicit Ayunda.


" Sumbernya dari mana?"


" Asisten om, bang Samudera, bang Inu."


Semua pasang mata menatap Ibnu.


" Maaf terpaksa dari pada saya difitnah lagi dan mendapat Omelan bunda lagi terpaksa saya turutin."


Bunda Hanna meringis kikuk, pasalnya delapan hari yang lalu dia memarahi Ibnu yang kata Ayunda dirinya dibentak oleh Ibnu hanya karena minta tolong, tetapi dia tidak menyebutkan pertolongan apa yang dimaksud, meski semuanya telah damai.


" Untuk apa?"


Zahra gelagapan," sudah-sudah semuanya bubar sudah sore pada pulang sana. Ala mau istirahat." Usir Zahra membuatkan orang-orang yang sedang memperhatikan tiga remaja itu, tapi tak direspon oleh mereka.


" Untuk siapa laporan itu?"


Tiga remaja itu melirik takut kak Zahra yang duduk di brankar sambil melototi mereka.


Semua orang yang melihat itu tersenyum geli, ternyata sikap sinis Zahra pada Hito yang selama ini ditunjukannya Hanya kamuflase belaka.


Tak kunjung mendapat jawaban Hito melepas tiga remaja tersebut," baiklah kalian bubar. Lain kali kalau ingin tahu tentang saya tanya langsung aja sama saya, saya bakal jawab jujur. Paman Teddy tahu nomor saya, Ayunda." Meski berkata pada tiga remaja, tetapi lirikannya menuju Zahra.


Zahra yang melihat itu mendengkus sebal bercampur malu, ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


" Kak, jangan tidur, masih sore gak baik." Seru Adgar penuh ledekan.


" Berisik." Bentak Zahra yang dibalas kekehan geli dari semuanya.


*****


" Bagaimana?" Tanya Nathan pada seseorang yang duduk di sofa di ruang kerjanya.


" Dia sudah mendarat di Soetta, persis seperti arahan Rendra." Ucap Panji, sang asisten Brotosedjo.


" Bagus,  berarti pengadilan sudah mengeluarkan putusan cerai Tante Riska, kan!?" 


" Hmm. Sekarang dia sedang menuju kediaman Brotosedjo setelah menurunkan Naura di gedung apartemen mereka." Seru Panji melihat gerakan GPS dari mobil yang ditumpangi Brotosedjo.


" Bukan urusan kita."


" Apa semua akta pemindahan nama hotel Paradise sudah rampung?" 


" Sudah, selama Ibra masih di Swiss gue yang menangani hotel."


" Gue gak bisa bayangin bagaimana reaksi si Bram ketika dia tahu aset-asetnya sudah menjadi milik orang lain."


" Apa yang kau tanam itu yang kau tuai."Nathan tersenyum devil membayangkan kehancuran Bram.


*****


Raut wajah Bram begitu memerah dengan nafas memburu ia melangkah memasuki gedung Irawan.


Ia sangat naik pitam kala terlintas kembali ucapan dari ayahnya yang membenarkan ucapan Rendra terkait ayah kandungnya, dan pernikahannya, dan  pengakuan kakaknya yang memberikan semua akta asetnya yang kepada Mumtaz dan Ibnu.


Dia ingin menghabisi Riska, dan Rendra, ia tak peduli jika harus dipenjara asalkan wanita itu habis.


Brotosedjo Menghajar pihak keamanan gedung yang mencoba menghalaunya sampai akhirnya resepsionis menelpon sekretaris Riska, dan Rendra untuk memberitahukan bahwa Brotosedjo sedang menuju kesana.


Di lobby Brotosedjo dihadang oleh dua orang berpakaian casual, Brotosedjo yang menolak dicegat melayangkan tonjokan yang langsung ditangkis, dan tangannya dipelintir ke belakang punggungnya dan dijatuhkannya secara telungkup di lantai. Ia terus meronta, namun nihil, kuncian di tangannya begitu rapat, bahkan pengawal tersebut menduduki punggung Brotosedjo.


Sumpah serapah terlontar dari mulutnya dengan teriakan mengundang orang-orang memperhatikannya, Rendra mendatangi pria tua itu, berdiri bersedekap sambil tertawa kecil meremehkan.

__ADS_1


" Sialan kamu, Rendra. Anak durhaka, kamu! Pyuh." Ucapan kasar yang diakhiri meludah tak dihiraukan Rendra toh tidak mengenainya.


" Siapa anak Lo? Papah gue Ariv, dan Lo gak diterima di sini."


" Anj*ng, gue bales Lo ya!"


" Terserah, Dari pada Lo ribut di sini mending sekarang Lo cari pelacur Lo secara apartemen yang Lo akuin bukan milik Lo lagi. Lepaskan!"


Pengawal melepaskan kungkungannya dan menjauh dari sana, Brotosedjo merapihkan pakaiannya, dia malu ditonton oleh banyak karyawan.


" Tunggu pembalasan gue." Ia berbalik badan.


" Tunggu, Lo ketinggalan ini." Rendra menekan map besar lumayan tebal di dada Brotosedjo.


" Thanks atas harta pemberian Lo." Rendra tersenyum miring, dia meninggalkan Brotosedjo di lobby dengan pengawasan dua pengawal tersebut.


Brotosedjo membuka map besar tersebut, dan kembali sumpah serapah itu terlontar kala melihat isinya, yaitu berupa akta cerai, dan akta perpindahan semua properti dan aset atas namanya dan Naura kepada Riska dan Rendra. Dia keluar gedung dengan gestur siap perang.


****


Hotel Paradise


" Bram menuju kesini." Ujar Panji ke Nathan.


" Biarkan."


" Ini kantor saya, apa maksud kamu saya dilarang masuk ke sini?" Terdengar keributan dari luar.


Brak!!!


Mata Bram melotot pada orang yang duduk di kursi kebesarannya.


" KELUAR!!"


" Siapa yang memberi kalian ijin memasuki ruangan ini!" Bentaknya lantang.


Nathan mengangkat satu alisnya mengejek," Saya gak perlu ijin orang untuk masuk ke ruangan saya sendiri mengingat hotel ini milik saya dan rekan saya."


" Sampah, Wilson sudah hancur sama halnya Alatas!"


" Heh, kurang update juga bapak tua ini. Lo gak tahu kalau Surga Duniawi dan Rafael travel sudah kembali ke Wilson? So, Wilson is back." Nathan mengangkat kedua kakinya ke atas meja dan kakinya saling menopang satu sama lain.


" Sedangkan hotel ini, kembali pada Alatas." Suara rendahnya penuh drama.


" Bullshit! Atas dasar apa kamu mencurinya?"


" Mencuri? Lo sendiri yang ngasih ke Alatas." Nathan melempar map hitam yang jatuh tepat di kaki Brotosedjo.


Menghela nafas gusar ia memungut map tersebut, lagi, matanya membelalak besar. Ia tak percaya akan apa yang dilihatnya.


" See, Lo ngasih hotel ini secara cuma-cuma kepada Alatas, gimana perasaan Lo yang sekarang ada diposisi paman Adam dulu?" Tanya Nathan sinis.


" Saya akan bawa ini ke pengadilan, atas dasar penipuan?"


" Bawa saja, semuanya sudah berupa akta notaris loh !"


" Look, Bram. Lo udah end, finish, selesai, tamat. Pergi aja Lo jauh-jauh sampai RaHasiYa gak bisa menjangkau Lo."


Brotosedjo mengerutkan dahinya bingung, apa hubungannya RaHasiYa dengan pengambilan aset-asetnya.


" Kan salah Lo sendiri yang nyerang keluarga mereka. Beg*!"


Brotosedjo terbelalak, dia melupakan fakta itu. Tubuhnya oleng, wajahnya pucat hingga dia bertumpu pada sandaran sofa  terdekatnya.


" Tidak..tidak..TIDAAAKKKK...." Teriaknya dengan pandangan yang linglung. 


Seketika tubuhnya berdiri tegap kala menyadari sesuatu, dia bergegas keluar ruangan dengan tergesa-gesa. Langkahnya terhenti kala dua orang berpakaian serba hitam menyergapnya, dan membiusnya hingga tak sadarkan diri.




Mata mengerjap-kerjap seiring kesadarannya mulai kembali, ia telisik ke seluruh area yang terasa asing baginya hingga mendapati Naura dan Maura yang sedang menangis sambil berpelukan.



Matanya menangkap ratusan orang berpakaian ala preman dan geng motor.



" Mas..." Naura mendekati, dan memeluknya.



" Mas, kamu harus cari jalan keluar buat kita dari sini, aku takut." Rengeknya tak peduli bagaimana pusingnya kepala Bram.



" Pah,...hiks .huhu...hiks.. takut." Isak Maura.



Klekk!!



Bara didampingi Jeno dan leo memasuki ruangan yang pengap dan berdebu, khas gudang yang sudah lam tidak terpakai.



Disusul para ketua geng suruhan Brotosedjo yang didorong keamanan RaHasiYa.



" Bara, please bebaskan aku. Sumpah demi apapun aku gak tahu kenapa aku bisa di sini, ini sangat menyeramkan, aku takut." Maura berlari mendekati Bara yang langsung dihempaskan olehnya.



" Tanda tangan." Titah Bara menyodorkan beberapa berkas yang dipegang Yuda.



Hanya aset atas nama Maura yang belum berpindah tangan, untuk itulah Bara menangkap Maura.



" Ini.. apa?"



" Jangan banyak bacot, tanda tangan aja langsung, terus Lo gue bebasin."



" Ja... jangan, jangan tanda tangani apapun." Seru Brotosedjo lemah.



Maura menatap bingung ke ayahnya, Bara, dan berkas yang dihadapannya.



" Gue hitung sampai tiga Lo gak tanda tangan nasib Lo sama kayak mereka, mati di sini." Bara menatap Maura tajam, tatapan yang selalu membuat Maura takut.



" Satu..."



.....



" Dua..."



" Ti..."



" Baiklah, aku tanda tangan." Maura segera menandatangi semua berkas yang disodorkan padanya.



" *Good girl*. Ngapain kamu nurutin dia, toh selama ini dia membohongi Lo."



" Apa maksud ucapan kamu?" Maura sungguh bingung.

__ADS_1



" Lo gak perlu tahu, bawa dia pergi." pintanya pada anak RaHasiYa yang langsung dilaksanakan....


__ADS_2