Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 62. Skandal


__ADS_3

Beberapa jam Mumtaz menerima surat pemanggilan dari kepolisian berita mengenainya mendominasi berita di televisi, radio bahkan berita online, saat ini ada dua kubu satu kubu bersimpati pada Riana dan satu kubu memihak kepada Mumtaz.


Para sahabat, keluarga Pradapta, Birawa, dan Atma Madina, pihak RT, dan RW plus Hito beserta tim kuasa hukum dari Atma Madina dan Birawa berkumpul di rumah Eidelweis karena rumah Mumtaz diserbu para pencari berita.


Mereka sedang menyaksikan rekaman cctv kampus kronologis penganiayaan terhadap Riana di layar proyektor yang dibawa Ibnu.


" Kesimpulannya Mumtaz menyakiti Riana karena untuk melindungi Sisilia." Ujar Dominiaz seusai menyaksikan rekaman tersebut.


" Siapa Riana ini?" Tanya ayah Teddy.


" Riana putri dari Raihan Husain, adik dari Hazam Husain, dari Husain group. Sejak lama dia suka Mumtaz sebelum sislia berkuliah di UAM, tetapi selalu tidak direspon oleh Mumtaz bahkan saya ragu Mumtaz mengetahuinya." Ujar Ibnu.


Mereka menatap Mumtaz yang menggelengkan kepala.


" Puncaknya seperti terlihat di rekaman Mumtaz menolak Riana, Riana tidak menerima lantas dia memfitnah Sisilia yang notabene pacarnya, Riana berharap citra Sisilia jelek di mata orang lain, tapi gagal." lanjut Ibnu.


" Iya, kak. Riana dan temannya menyebarkan rumor kalau aku pelakor, puncaknya ya itu tadi." Jelas Sisilia sambil menangis kesal.


Mumtaz mengelus punggung tangan Sisilia menenangkan.


" Nu, Lo udah cari para saksi juga?" Tanya Daniel.


" Anak satu kampus yang melihat kejadian itu siap jadi saksi, bahkan mereka menulis pernyataan kesediaannya di group 'saksi mulia' singkatan dari Mumtaz sisilia yang dibuat Raja." terang Ibnu.


" Mbak, kok kelihatannya tenang-tenang aja." Ujar mommy Elena.


" Saya sudah berpengalaman dipanggil polisi, Mumtaz masih mending dipanggil polisi untuk melindungi orang yang memang harus dilindungi. Dulu lebih parah, saya dipanggil polisi karena Zayin ikut tawuran bareng sama teman-temannya." Ucap santai mama.


" Serius? mbak gak marah?"


" Iya marah lah. Tapi setelah saya mendengar alasan Zayin ikut tawuran saya tarik kemarahan saya, saya traktir dia makan pizza."


" Iya, setelah ditahan seminggu dikantor polisi, dijewer, diceramahi, baru ditanya alasannya apa. Kebalik enggak sih?" Sambung Zayin.


" Ya udah sih, mama udah minta maaf ditambah pizza dua loyang besar juga." Mama melempar bantal sofa ke muka Zayin.


" Dih, marah lagi, kuping Ayin sampe mau copot loh dijewer mama." Zayin mendramatisir. Mereka yang mendengar hanya menggelengkan kepala.


" Baru mau, belum copot beneran." Celetuk mama.


" Yang ini serius loh mbak, kemungkinan Mumtaz bisa dipenjara." Mommy masih penasaran tanggapan mama karena ini menyangkut anak gadisnya juga.


" Kalau dipenjara ya itu resikonya, sebagai lelaki sudah tugasnya Mumtaz melindungi kehormatan Sisilia dari ancaman apapun. Saya justru bakal marahin Mumtaz kalau dia diam saja sementara Sisilia difitnah dan disakiti." Ujar mama.


Mommy Elena hanya manggut-manggut aja.


" Nu, apa semua rekaman cctv yang terkait Riana, mumtaz, dan Sisilia udah terkumpul?" Tanya Daniel.


" Beres, tinggal diputar di kantor polisi."


" Rekaman apa?" Tanya Daddy Gama gusar, pasalnya dia tidak tahu menahu bagaimana sisilia menjalani masa kuliahnya di kampus.


" Maaf, om. Begini, teknologi keamanan kampus Atma Madina berada dibawah pengelolaan RaHasiYa, jika kita mengetik beberapa kunci kata tanpa terpisah, maka komputer akan secara sistematik mengumpulkan hal yang hanya terkait kunci kata tersebut saja, ini saya tunjukan."


Ibnu membuka beberapa rekaman Riana baik sendiri maupun bersama yang mengusik Sisilia terkait dia sebagai pacar mumtaz.


" Mereka melakukan itu cuma karena laki-laki?" Mommy Elena geram bukan main.


" Apa masih ada lagi?" Tanya Dominiaz


" Ada, ini buat diputar di polisi." Ucap Ibnu.


" Kak, kalau kakak dipenjara, gimana?" Tanya Sisilia khawatir.


" Ya, tinggal masuk ke penjara." Jawab enteng Mumtaz.


Sisilia menggeplak sebal lengan Mumtaz," maksudnya bagaimana dengan masa depan kakak, banyak orang yang masa depannya suram gara-gara jadi mantan narapidana loh."


" Lia, Lo ngomong apaan sih. Kak Mumtaz kan punya RaHasiYa, karir apalagi yang dikhawatirkan, kalau untuk dunia arsiteknya, dia bisa gabung dengan Atma Madina atau Pradapta." Oceh Dista.


****


Kediaman keluarga Husain saat makan malam terasa menegangkan pasalnya Hazam marah besar atas langkah hukum yang diambil adiknya atas penganiayaan terhadap putrinya.


" Kenapa kau gegabah melaporkan Mumtaz ke polisi, Raihan?"


" Tentu itu harus aku lakukan, kakak lihat sendiri betapa parah luka yang didapat oleh Riana."

__ADS_1


" Apa paman tahu penyebab kenapa kak Mumtaz mendorong kak Riana?" Tanya Jasmine.


" Apapun alasannya seorang laki-laki tidak pantas berbuat kasar terhadap perempuan." segah Raihan.


" Bagaimana jika perempuannya menyebalkan seperti kak Riana?"


" Apa maksud kamu? tanya papa Hazam.


" Kak Riana beberapa kali sudah diperingati oleh yang lain agar tidak mengganggu Mumtaz dan Sisilia, tetapi dia ngeyel, lagian kak Mumtaz mendorong kak Riana karena karena kak Riana akan mencelakai Sisilia, pacarnya Kak Mumtaz." Terang Jasmine.


" Apa kau tahu siapa Mumtaz itu?" Tanya Hazam.


" Mahasiswa UAM fakultas arsitektur, aku sudah cari tahu tentang dia. Dia hanya anak seorang janda dari keluarga biasa, dengan ini kita akan mendapat simpati, nilai saham kita akan naik, kakak tenang saja perusahaan kita akan membaik." Raihan berasumsi.


" Kau melupakan sesuatu yang terpenting."


" Dia seorang petinggi RaHasiYa!" tekan Hazam.


Raihan terdiam terkejut.


Brak!!!


Hazam memukul meja makan keras " Sebagai dewan direksi, apa yang kau lakukan jika tentang ini saja kau tidak tahu. Sekarang aku paham kenapa RaHasiYa menolak tawaran kerjasama kita."


" Kita masih bercokol di top 5 karena kita masih bekerja sama dengan Pradapta, Birawa, Hartadraja, dan Atma Madina. Karena kasus ini aku yakin mereka akan memutuskan kerjasama kita."


" Apa hubungan Mumtaz dengan mereka?" Tanya Raihan.


" Ya Salammm." Hazam mengusap wajahnya gusar.


" Daniel Birawa, Alfaska Atma Madina, mereka sesama petinggi RaHasiYa..."


" Sedangkan Pradapta, mereka keluarga Sisilia Pradapta, kekasih Mumtaz. Orang yang diganggu kak Riana." Potong Jasmine.


Riana yang sejak tadi diam dan menunduk mengangkat kepalanya terkejut.


" Berurusan dengan RaHasiYa saja cukup mengerikan bagi Husain group, sekarang kita akan berurusan dengan tiga perusahaan besar di tengah kondisi perusahaan hampir kolaps." Ucap Hazam.


" Kita masih punya Hartadraja, kita sudah berteman lama dengan mereka, Hartadraja tidak akan meninggalkan kita." Raihan mencari alasan.


" Kita hanya bisa berdo,a Sisilia tidak melapor balik kak Riana." Celetuk Jasmine.


" Bisa kamu ceritakan dari awal kenapa skandal ini terjadi?" Tanya penasaran Hazam.


****


Pukul 08.00 wib Mumtaz dan para sahabat mendatangi kantor kepolisian sesuai surat pemanggilan


Para wartawan telah berkumpul di depan pintu masuk, Jeno telah mengarahkan keamanan untuk Mumtaz dan para sahabat.


Sebelum Mumtaz turun, pihak keamanan telah siaga menjaga mereka dari para wartawan yang langsung menyerbu mobil mereka.


Begitu terlihat Mumtaz turun dari mobil para wartawan langsung mengajukan berbagai pertanyaan.


" Bagaimana dengan perusahaan RaHasiYa dengan adanya kasus ini?" Tanya satu wartawan.


" Tidak ada pengaruh kepada RaHasiYa kami bekerja sebagaimana mestinya, kami yakin klien kami tidak perlu khawatir akan hal ini, saya jaminannya." ujar Daniel Birawa.


Membutuhkan waktu enam jam bagi penyelidik melakukan interogasi terhadap Mumtaz.


Ketika Mumtaz dan para sahabat keluar dari kantor polisi para wartawan masih berkumpul.


Mumtaz kali ini tidak menghindari wartawan, dia memberi sedikit waktu untuk memberi informasi kepada wartawan.


" Untuk kasus ini kalian bisa menanyakannya kepada tim kuasa hukum saya dan pihak kepolisian, tadi saya sudah kooperatif bekerja sama agar kasus ini dapat diselesaikan dengan baik dan adil, Terima kasih." Ucap tenang mumtaz


Mumtaz dan para sahabat langsung menuju mobilnya meninggalkan kantor polisi.


*****


Nenek Sri memasuki kediaman papa Aznan dengan tergesa-gesa diikuti oleh kakek Fatio, Hito menghembuskan nafas lelah di pagi hari kala melihat nenek Sri.


Dengan kesombongan ala konglomerat nenek Sri menyalakan tv, dan memperbesar volumenya.


Di tv sedang memberitakan tentang kasus Mumtaz yang menampilkan sosok Raihan Husain dan Riana yang sedang melakukan wawancara.


" Lihat, ini yang nenek khawatirkan kalau kamu menikahi Zahra, tidak peduli sebaik apa mereka orang yang berasal dari kasta rendah akan tetap bertingkah rendahan. Sorang lelaki menganiaya seorang perempuan tak berdaya seperti riana sungguh menghinakan. Kau Hito harus cepat mengambil langkah untuk memperpanjang kerjasama dengan Husain, saham perusahaan mereka saat ini sedang merangkak ke arah positif." Komentar nenek Sri sambil melempar remote tv ke sofa.

__ADS_1


Tak ada yang menanggapi nenek, para anggota keluarga langsung menuju ruang makan.


" Hito, Mumtaz pasti punya alasan mengapa dia melakukan itu kan?" Tanya mama Dewi.


Hito mengangguk," iya, dia melakukan itu untuk melindungi pacarnya yang sering diganggu oleh Riana."


" Siapa nama nama pacarnya?" Mama masih penasaran.


" Sisilia Pradapta." Jawab Edel.


Papa dan mama terkejut, " kalau begitu sikap Hartadraja pasif di tempat." Ujar papa.


" Bagaimana bisa kau meminta Hartadraja pasif, Husain teman lama kita, kita tak bisa meninggalkan mereka sendiri." Desak nenek.


" Pradapta juga teman lama kita, masih beruntung bagi Husain kita tidak memutus kontrak sekarang seperti yang lain lakukan." Ujar papa tenang.


" Hah, aku berharap Zayin tidak berubah pikiran untuk memperistri Adel dengan adanya berita ini." Keluh Edel.


" Memang dia sudah mau meminang Adel?" Sindir mama. Yang memperhatikan cucunya yang sedang di suapi oleh ayahnya


" Masih usaha tapi progresnya baik."


" Baik apaan, anaknya masih enggak menanggapi begitu." Ucap Adgar yang memasuki rumah dengan menggendong Crystal disusul Akbar.


Nenek yang masih geram karena sosoknya yang tidak dianggap " Kau pikir keluarga agamis seperti mereka mau menikahi anaknya dengan anak hasil diluar nikah?" Cemooh nenek.


" Mama."


"Nenek."


" Nebuy."...


Ucap mereka serampak dengan marah.


" Akbar bawa Adel." Ujar papa Aznan ke Akbar yang berdiri di ambang pintu ruang makan.


Adel dan crystal menangis karena kaget dengan teriakan mereka, Akbar mengangkat Adel yang duduk di kursi makan balita, dan membawanya pergi, sebelumnya Akbar memberi tatapan kecewa pada Nebuy Sri.


" Aku bisa lihat nama besar menjadi rendah jika yang menyandangnya orang yang berpikiran rendahan seperti mu, nek." Ucap Akbar, dan berlalu dari ruang makan.


Nenek Sri terperangah dengan keberanian Akbar yang melawannya.


Eidelweis yang selalu merasa sensitif jika masa lalunya diungkit terdiam.


Hito melempar serbet makannya ke atas meja, memberi delikan tajam pada nenek.


" Saya tidak tahu apa yang kau sepakati dengan Husain, tapi sejak ucapan hinaan mu pada keponakanku aku akan membuat Mereka hanya berurusan sacara profesional." Hito beranjak sambil merapikan jasnya.


" Sebelum kau ke kantor jemput dulu Ziva dia sudah menunggumu." keuekuh nenek, yang dihiraukan Hito.


" Heru, apa jadwal ku hari ini?" Tanya Hito sambil berjalan keluar rumah sesudah menyalami dan mencium hangat pelipis Edel memberi dukungan pada adiknya.


" Hari ini kau ada jadwal ke rumah sakit, ada rapat yang dimintai Hazam Husain soal pelepasan sahamnya."


" Ck, kau saja. Aku ada meeting dengan Ibrahim dan Samudera."


" Kau,... Apa serius akan melanjutkan rencana mu itu? Kau tahu nenek Sri tidak akan bisa melengserkan mu dengan mudah dari tampuk kepemimpinan, beliau bercanda."


" Aku akan menganggap semuanya serius jika itu menyangkut Zahra. Apa kau akan menganggap ucapan nenek tadi hanya kemarahan sesaat?" Tanya Hito sambil memegang pintu mobilnya.


Hito menghela nafas gusar, " aku meminta maaf pada mu dan keluargamu karena aku kalian memiliki cacat."


" Lihat, karena komentar nenek kau bahkan memandang Adel sebuah kerusakan, sementara bagi kami dia tetaplah berlian, no debat." Hito memasuki mobil bagian penumpang, dan meninggalkan area rumah.


Heru termenung, tatapannya tak berekspresi kala melihat nenek Sri ditarik kakek Fatio keluar dari rumah.


" Heru, kakek mohon maaf atas perkataan nenek, bagi kakek Adelia tetap berharga." ucap kakek Fatio.


Heru tahu nenek sampai sekarang belum merestui mereka karena latar belakangnya yang hanya orang biasa.


" Saya harap ini terakhir kalinya nyonya berkata kasar tentang keluarga saya."


" heh, orang biasa seperti mu ingin melawan saya juga?" sombong nenek.


" Saya bisa membawa Edel dan Adel pergi hingga nyonya tak akan pernah melihat mereka." Heru membungkuk, dan meninggalkan mereka memasuki rumah kembali.


" Bahkan cucu menantu mu memanggilmu nyonya, seperti orang asing saja. Jangan kesalahan masa lalu ku kau lampiaskan kepada keturunan mu, sayang. Hentikan keculasan mu atau kau diasingkan oleh keluargamu.sarkastik kakek meninggalkan nenek yang tertegun...

__ADS_1


__ADS_2