
Di Markas Besar TNI.
Paraa petinggi setiap staf pasukan khusus angkatan laut berkumpul di ruang meeting sejak beberapa jam lalu atas inisiatif KASAL karena penemuan dari tiga tentara briliannya.
" Berdasarkan laporan ini dapat disimpulkan, evakuasi Nyonya Sandra ini merupakan Sabotase serius yang menjurus pada ancaman keamanan negara, karena senjata yang digunakan sama dengan senjata yang AL dan AD temukan.
Menimbang mereka orang asing yang sudah sudah menguasai medan, dapat diasumsikan mereka sudah berada di negara tercinta ini bukan barang satu atau dua Minggu.
Untuk menjaga hubungan bilateral dua negara, s baiknya kita melakukan konfirmasi pada negara yang bersangkutan.
Jika diurut kebelakang, sepatutnya kita buka kembali kasus pengiriman pasar gelap yang melibatkan Gonzalez, Brotosedjo dan Aloya." Tukas Bayu.
Salah satu kepala staf pasukan khusus berujar." Yang bersinggungan dengan kasus itu kita sudah menangkap beberapa orang bea dan cukai, 50 politisi,..."
" Belum dibagian k3polisi@n." Sela Zayin lancang." Dia sungguh geregetan dengan rapat yang berjalan bertele-tele dari beberapa jam lalu.
Pasca penemuan mereka di lapangan sewaktu tabrakan itu, Zayin dengan berani langsung menelpon Arvan untuk diadakan rapat dadakan disinyalir adanya penemuan awal diduga sebagai tindakan terorisme
" Kita tidak punya bukti konkret tentang hal itu."
" RaHasiYa punya, apakah anda belum melihat video yang viral beberapa menit yang lalu yang melibatkan salah satu wts bernama Devi bersama beberapa pejabat dan konglomerat termasuk petinggi sana?" Zayin menyodorkan tabletnya pada KASAL.
Bayu menayangkan di layar proyektor apa yan. sedang terjadi di sosial media.
" Saya kira ini bukan kebetulan untuk mengalihkan isu terkait tabrakan beruntun itu." Pernyataan Zayin yang menyimpan sarkastik tinggi.
" Kalian pikir, ini ada hubungannya dengan tragedi ini?"
" Iya, beberapa kejadian ini berujung pada Jessica sebagai perundung Ayunda Birawa sebagai putri dari Devi yang memiliki affair dengan Andre yang kebetulan memiliki komunikasi baik dengan Guadalupe dan Valentino Navarro. Dan kita tahu baik sepak terjang klan Navarro."
Di layar tertayang gambar Bagan bukti aliran pengumpulan senjata ilegal yang ditemukan di hutan Kalimantan dan pulau Jawa, Madura.
" Jadi, Zayin. Saya tugaskan kalian bertiga melindungi Birawa, sebagai salah satu pewaris dari Birawa tekno bisa jadi Ayunda akan menjadi target mereka." Titah KASAL pada Zayin, Bayu, dan William.
" Siap, laksanakan." Seru mereka bertiga.
" Rapat sampai sini, setelah ini tim gabungan antar kesatuan yang telah dibentuk akan mulai bekerja senin depan."
" Rapat, bubar."
" Keluar dari kampus, sekarang kita ke sekolah. jangan sampe kita nangkring di PAUD." Bisik William malas.
" Hooh, seenggaknya di SMA bisa cari calon makmum."
William berubah duduk menjadi tegap. " benar juga Lo, siapa tahu calon Mama anak gue ada di sana."
" Nyrah Lo, ngejar Kakaknya Bayu?" ledek Zayin.
" Ooh tentu tidak."
" Dasar fuckboy." Bayu menoyor kepala William sebelum beranjak keluar ruangan.
*******
Sepasang suami istri yang masih mengenakan piyama berlari menuju ruang UGD dengan wajah yang panik penuh kecemasan.
Mereka sangat terkejut saat mendapat telpon dari pegawai cafe yang memberitahukan putrinya dibawa ke rumah sakit Medika karena tidak sadarkan diri.
Brak...
Mereka mendorong kasar pintu ruang inap, Erina memekik terkejut atas putrinya yang sedang tertidur dalam keadaan yang sangat memperihatinkan.
" Bagaimana keadaanya?" Tanya Arya.
Sang dokter memperlihatkan foto rekam medisnya, ia menunjuk bagian leher." Mutia mengalami kekerasan..."
" Siapa yang berani melakukannya? Pa, kita harus minta pertanggungjawaban rumah sakit Atma Madina, ini terjadi disaat Mutia bertugas di sana?" Potong Erina menggebu.
" Nyonya, kita tidak bisa serta merta menjadikan itu alasan menuduh Atma Madina, mengingat tempat kejadiannya bukan di rumah sakit. Jika memang ini terjadi saat jam Mutia bertugas, maka dapat dilihat Mutia mangkir dari tugasnya, dan ini tidak baik bagi penilaian Mutia." Terang sang direktur sedikit malas.
" Saya tidak peduli, saya pikir ini saatnya kita membalas dendam pada mereka kerena merusak nama baik rumah sakit ini saat kasus plagiat itu." Diliputi kedongkolan Erina keluar dari kamar.
" Pak, saya harap anda bisa menangani istri anda, mengingat point minus yang dimiliki Mutia kini, dan kita berhadapan dengan RaHasiYa. Kita tidak ingin nasib kita seperti Husain atau pasien kita yang di ICU kan!?"
" Tenanglah, Erina itu hanya besar bicara, tapi nihil keberanian, sekarang saya ingin penjelasan secara detil mengenai kesehatan Mutia." Ucap santai Arya
********
Tiga sahabat itu berjalan dengan gaya masing-masing yang mengeluarkan damage yang sangat kuat tidak menghiraukan para staf wanita muda yang mencuri lirikan malu tapi ngiler pada mereka yang sibuk dengan gawai masing-masing.
" Yo, sekarang kita kemana?" Tanya Mumtaz sembari memasukan iPadnya ke dalam ransel.
" Ruang pertemuan."
" Kita ke sana." Seru Mumtaz.
Begitu pintu ia buka, Mumtaz tertegun melihat hadirnya Zayin yang duduk di samping kanan Zahra, kemudian dia keluarkan nafas beratnya.
" Yin, kamu di sini? Tanya Mumtaz.
" Hmm, sebagai keluarga dari profesor Zahra. Saya tahu apa yang terjadi di depan ruang operasi." Menatap lurus keluarga Argadinata-Atma Madina.
Bara dan yang lain memijit pelipis mereka karena lelah, kin harus berhadapan dengan seorang Zayin yang sangat pinta rmerusak mood orang.
Suhu ruangan meningkat tajam, direktur dan dokter ahli berdo'a dalam hati karena cemas.
Di ruang pertemuan itu telah hadir seluruh keluarga Argadinata-Atma Madina, Birawa, para dokter ahli, Hito Arvenio yang duduk di sebelah kiri Zahra, direktur rumah sakit, ditambah Gama Pradapta.
" Muy." Sapa Daniel.
Mumtaz hanya mengangguk tipis mer spon sapaan itu, Teddy, gama mengamati dalam diam, ia langsung duduk di belakang Zahra begitupun dengan Ibnu.
Sikap defensif yang ditunjukan oleh Mumtaz dan yang lain sedikit banyak menimbulkan ketidaknyaman pada perasaan Alfaska, Daniel, dan Bara.
" Kita mulai saja diskusi terkait operasi transplantasi jantung tuan Argadinata, Bagaimana prof. Zahra?"
" Untuk tindakannya akan dipimpin oleh prof. Farhan, saya sudah meminta beberapa rekan di Jerman dan Amerika turut serta secara online dan mereka setuju."
" Prof, Farhan?" Tanya direktur.
" Karena keadaan pasien, kita harus melakukan operasi itu secepatnya mengingat keluarga sudah menyetujui pendonoran jantung Nyonya Sandra, saya kira kita siap."
" Siapa saja yang ikut serta dalam operasi ini?"
" Kita sudah mendiskusikannya dengan para ahli, metode prof. Zahra yang paling direkomendasi."
" Jadi, apakah prof. Zahra juga akan turut serta?"
Zahra menatap semua peserta pertemuan, dengan berat hati dia menggeleng.
" Tidak langsung, saya hanya mengamati..."
" Kenapa?" Sela Alfaska sendu.
" Kita tidak mau mengambil resiko dicurigai adanya kesengajaan tidak menyelamatkan pasien dari pihak keluarga.," Jawab telak Farhan.
Mata Alfaska tertutup erat mendengar alasan itu, ia mengutuk mulutnya yang culas yang sudah berani menyakiti Kakaknya.
Saat mata itu terbuka, pancaran penyesalan terasa." Tentang hal itu, saya..."
" Bukan itu, tetapi memang saat ini ada dokter yang lebih mengumpuni untuk melakukannya." Potong Zahra.
" Alasan konyol, mengingat metode yang dilakukan adalah cara anda, prof." Ucap Zayin sinis, Zahra mendelik tajam pada Zayin yang ditanggapi cuek oleh adiknya.
Dia benci ketika kakaknya merasa tidak enak hati.
" Benar tidaknya ada malpraktek di rumah sakit ini, kita hanya bisa buktikan bahwa kita memiliki tenaga ahli yang profesional, saya tugaskan anda untuk turut serta dalam operasi ini." Tegas sang direktur.
Dengan tidak semangat Zahra mengangguk lemah.
" Rapat selesai, dalam 30 menit kedepan akan diadakan pertemuan pra operasi." Tukas direktur.
Para peserta membubarkan diri, kecuali Argadinata-Atma Madina, Birawa, Pradapta. Mereka masih ditempat karena ucapan yang tidak menyenangkan dari Zayin.
Zayin menatap langsung netra Alfaska yang satu." Alfa, apa kau harus mengatakan hal serendah dan semenyakitkan itu tentang Kakak ku?" Suara Zayin menggambarkan kemarahannya.
" Ayin, sungguh aku tidak bermaksud demikian." Elak Alfaska.
" Tapi kau sudah mengatakannya."
" Seharusnya aku pun mengatakan hal serupa sewaktu ibuku meninggal demi menyelamatkan ibumu, hmm?" Zayin tersenyum smirk secara ironis.
Semua tersentak akan ucapan menyakitkan itu.
" ZAYIN." tegur Zahra.
" Tapi tidak kami lakukan, karena kami paham kalau itu takdir, karena kami sangat menyayangimu, karena aku berpikir kalau kau keluarga kami. Tetapi sepertinya kau tidak merasa demikian tentang kita.
Terima kasih kau sudah memberitahu kami dengan cara kejam kalau kami hanya orang asing tidak peduli berapa banyak kisah yang kita lalui, berapa banyak pengorbanan yang kami berikan padamu..." Sindir Zayin.
" Zayin." Lirih Zahra.
" Muy, say something?" Mohon Zahra.
Semua terdiam mendengarkan perkataan Zayin,. Alfaska menunduk, ia sangat lelah, kini semua pasang mata menatap Mumtaz.
Mumtaz hanya mengedikan bahu tidak mau tahu." Ini lebih baik, kita harus tahu posisi kita masing-masing." Ucapannya sangat menusuk bagi Alfaska dan Daniel membangun dinding diantara mereka.
Saking perihnya perasaan mereka tanpa sadar bulir bening keluar dari pelupuk mata mereka. Hanna dan Sherly menangis dalam diam mereka.
" Tidak ada yang namanya posisi, kalian keluargaku, aku yang salah. kalian bisa menyalahkan ku." Alfaska memukuli dadanya.
" Apa untungnya bagi kami menyalahkan mu?TI-DA-K ADA!" tegas Zayin.
__ADS_1
Alfaska beranjak ketengah are kosong di tengah meja bundar meeting. Ia membungkuk sempurna, memohon ampunan.
" Maaf, maafkan aku. daripada kalian membatasi diri denganku, lebih baik kalian bvnvh aku.
kau tahu pasti aku tidak bisa tanpa kalian, aku sudah menjadi mayat sejak lama jika tanpa kalian. ku mohon hukum aku." isaknya ditengah tangis yang tersedu-sedu.
Zahra sudah menangis melihat adiknya itu, ia menggeleng lemah.
" Afa, bangunlah. kakak sudah memaafkan mu."
" Tidak sebelum Zayin dan Mumuy memaafkan ku."
" Kalau begitu tetaplah membungkuk, karena aku tidak peduli. aku muak dengan drama kekeluargaan ini. Mari kita pergi." Ucap Zayin sembari menarik tangan Zahra yang tidak mau dibantah oleh kakaknya.
Saat di ambang pintu, Zayin berbalik," om Teddy, saya memberitahu pada anda, kalau saya ditugaskan untuk menjaga Ayu. Saya jamin, Ayu aman bersama saya."
Panggilan 'om' pada dirinya merobek hati Teddy. Secepat itu jurang memisahkan ikatan mereka.
" Zayin, please..." Dengan tidak sopannya Zayin meninggalkan ruangan itu sebelum Teddy menyelesaikan kalimatnya.
Meninggalkan Alfaska yang menangis tersedu-sedu.
" Yin, apa kamu harus mengatakan itu?" Tanya Zahra begitu mereka memasuki ruang kerjanya.
" Harus, kakak ingin kami diam dan bersikap sopan oada mereka yang pada akhirnya kira akan saling menjauh karena saling menyimpan terluka."
" Bagaimana dengan Tia?"
" Kalau bang Afa mengembalikan Tia pada kita, memang itu takdir pahitnya. Kalau tidak mengembalikan, kita tetap akan baik padanya.
Sudah, jangan Khawatirkan tentang itu, kami cukup dewasa untuk diurusi oleh kakak. Ayin sudah beli makan, Ayin harus pergi, ngurus satu lagi bidadari cerewet."
Zahra terkekeh mendengarnya, ia memukul manja dada bidang sang adik.
" Konsentrasi, ingat apapun kata mereka, bagi kami, para adik, kakak masih yang terbaik. Kami selalu bangga padamu." Zayin mengecup kening Zahra dengan lembut dan lama.
" Om, titip jaga kakak." Pinta Zayin.
" Pasti." Jawab Hito seraya mendekati Zahra.
" Kak, kenapa menjadi begini rumit?"
" Ini lebih baik, daripada bersikap seakan baik-baik saja padahal tidak." Hito mengelus lengan zahra lembut.
" Sudahlah, kita makan. Kamu akan butuh energi untuk operasi ini." Hito membawa Zahra ke sofa yang di atas meja sudah pol tersedia banyak makanan
Diluar ruangan, sudah ada Tia yang menangis dan para sahabatnya yang masih setia menemaninya. Ia menatap Zayin penuh penyesalan.
" Maaf, Iya selalu membawa kesusahan buat kalian." Isaknya.
Zayin merengkuh Tia ke dalam pelukannya.
" Shuut... everything gonna be okey. Temani banga Afa, jadi istrinya yang yang baik, hmm?" Ujar Zayin sembari mengecupi kepala Tia, lalu mengusap mata Tia yang masih berair deras.
" Maaf, maaf." Lirih Tia kembali masuk dalam pelukan kembarannya.
" Kalian, jagalah para pria kalian. Jangan membuntuti Tia melulu, mereka membutuhkan kalian."
" Dimana mereka?" Tanya Cassandra.
" Mana gue tahu, kamu yang pacarnya."
" Ishh, bantu cari tahu Napa."
" Ogah, Lo pikir gue gabut, gue sibuk pake banget."
" Aku pergi dulu, ya. Jangan jauh-jauh dari bang Afa." Tia mengangguk, Zayin mengecup kening Tia sebelum meninggalkan mereka menuju rumah Birawa.
Tanpa mereka sadari tidak jauh dari sana Alfaska dan Radit mendengar obrolan itu.
" Dit, Bagaimana gue bisa bicara yang menyakiti mereka."lirihnya.
" Tenanglah, hubungan kalian tidak sedangkal itu yang bisa mudah rusak karena salah paham ini." ucap Radit yang sebenarnya ia ragukan.
*******
Mumtaz dan Ibnu berdiri menenangkan diri di atas rooftop.
" Muy, apa Lo gak kasihan pada Afa?"
" Kalau Lo mencemaskan dia, kenapa Lo ada di sini? pergi sana."
" Bukan itu poinnya, kit sudah lama bareng...
" Dan tidak pantas bagi dia mengatakan itu."
" Dia sedang berkabung. terkadang orang lepas kontrol."
" MUY..."
" gue mulai muak dengan masalah yang selalu berputar di situ-situ saja, berapa kali dia mengecewakan keluarga gue, berapa kali kami memaafkan dia? banyak Nu. mungkin ini akhirnya."
" Ya Tuhanku. Muy, Lo gak bisa begini."
Mumtaz mencengkram kerah kemeja Ibnu," Kenap tidak bisa, gue bukan budak dia. terserah gue mau melangkah seperti apa. sebagai lelaki tertua di keluarga, gue bertanggung jawab soal martabat mereka."
" Bagaimana dengan Tia?"
" Terserah si Alfa mau bagaimana dengan Tia, bukan urusan gue."
" Muy." panggil Bara di belakang mereka bersama Daniel.
Sekilas Mumtaz menoleh, lalu ia menyalakan rokoknya."
" Lo sudah terlalu banyak merokok." Ibnu menarik batang itu, lalu membuangnya sembarang ke bawah.
" Ck. pergi Lo."
" Muy."
" Apa? kalau mau ngomong, cepetan." bentaknya.
Bara menghela nafas dengan gusar.
" Besok, Mami akan dimakamkan."
" So,...Lo mau gue menggali kuburnya, sorry gue terlalu kaya untuk menjadi tukang gali kuburan klan kalian." sinisnya.
" Muy, Lo tahu bukan itu maksud kita." bantah Daniel.
" Gue gak tahu apa maksud kalian ngasih tahu gue, dan gue tidak peduli."
" Muy, please jaga ucapan Lo." mohon Ibnu. dia hanya tidak ingin Alfaska merasakan terpuruk seperti dirinya.
BUGH...BUGH...
" MUMTAZ..."
" MUMUY..."
Mereka terkejut Mumtaz menghajar Ibnu sangat keras
" Pergi Lo, kalau Lo lebih peduli dia, jangan pernah bertemu gue lagi."
Kakinya dipeluk erat Ibnu saat ia akan melangkah meninggalkan rooftop.
" Maaf, maafkan gue. jangan buang gue. Lo tahu gue tidak akan pernah lari dari Lo. gue janji gue tidak akan bicara hal ini lagi. jangan buang gue, gue tidak punya siapa-siapa."
" Lepas." hentakan Mumtaz sangat kasar hingga pegangan itu terlepas.
" MUY,... MUMUY, JANGAN PERGI." dengan tertatih Ibnu beranjak pergi, namun ia tersandung DNA terguyung yang ditangkap oleh Daniel
" Nu..."
" Lepas, jangan pedulikan gue. Mumuy akan benci gue kalau gue berhubungan dengan kalian." Ibnu menjauhkan tangan Daniel dari tubuhnya.
Daniel membiarkan sahabatnya pergi dengan hati yang sudah tidak berbentuk lagi, ia sungguh merasa lelah dan kalah. Bara menepuk pundak Daniel menabahkan dirinya.
*******
Sekolah BIBA pagi ini sangat heboh dengan berbagai gibahan yang sedang jadi viral.
" Suwit...swiit..." Siulan berupa ejekan dan lecehan dari para siswa mengiringi langkah Jessica menuju kelasnya.
Jessica mengeratkanan pegangan tangannya di tas, kalau bukan karena hukumannya dia sungguh tidak sudi masuk sekolah. Moodnya sudah jelek ketika dia gagal menghubungi ibunya sebagai biak kerok dari penderitaan yang akan dia alami selanjutnya.
Dirinya dicegat oleh teman sekelasnya, Ridwan.
" Hai, Jes. Gue paham sekarang kenapa Lo punya goyangan aduhai, wong nyokap Lo yang udah tuir aja goyangannya masih mantap." Ucapnya culas.
" Bisa dong BO, berapa harga Lo, lebih gede mana sama nyokap Lo." Lanjut Riko.
" Apanya yang gede, Ko?" Timpal yang lain.
" Atas apa bawahnya?"
" Ck, sama-sama kendor. Mana enak."
Celaan demi celaan itu hanya bisa Jessica telan, dia sudah tidak punya kekuasaan lagi sejak perusahaan ayahnya diketahui bangkrut.
Wajah Jessica melotot," kalian diam, Lo pikir gue l@cur?"
" Emang." Celetuk Desi.
__ADS_1
" Lah, Lo kan Mami-nya. Ups, salah. Itu kan Nyokap Lo, Lo asistennya."
" Hahahaha..." Satu kelas bergemuruh heboh akan perkataan itu.
" Kalian sekarang berani sama gue?"
" Iyalah, berani. Kepsek sebagai bekingan lo udah tidak berdaya." Ucap Andromeda.
" Andros, kamu juga mencela aku?" Dramanya.
Sebelum ada yang menjawab, tiba-tiba ada yang menyenggol Jessica hingga dia terhuyung menabrak daun pintu. Suara cempreng Ayunda menginterupsi mereka.
" Selamat pagi, bebeb Andros, Iwan, Nando dan semuanya."
" Selamat pagi, cintaku."
" Bidadariku..."
" Calon mama dari anakku."
" Huh, lihat dia yang murahan, semua cowok disapa." Cemooh Jessica.
" Urusan Lo? Ngapain Lo di sini, ini bukan tempat mangkal." Judes Ayunda.
" Yang ada Lo yang ngapain di sini, ini kelas gue."
"Ups, iya ya..lupa. habis bebeb Andros minta gue kesini."
" Dia bebeb Lo? Bukannya Nando? Haus belaian Lo." culas Jessica berani melupakan satu fakta lain.
" Ekehm." Zayin menunjukan dirinya di belakang Ayunda.
" Ada yang menolak disebut bebeb oleh Ayu?" tanya Zayin pada para siswa dalam kelas.
Kaum Adam yang ada di dalam kelas menggeleng.
" Yu, sekalian gue napa Yu." Ucap Hilmi.
" Kenapa kamu ingin disebut bebeb, apa karena Ayu murahan?" tanya Zayin.
" Enggaklah bang. Ingat bang, ucapan itu adalah do'a. Kalau gue gak berjodoh sama Ayu seenggaknya gue bisa berjodoh sama selevelan Ayu, bang."
" Level bagaimana menurut Lo?"
" Level the best lah, bang."
" Lo dengar, Jessica. Dan Lo masih berani sama Ayu, yang modelan keset aja lebih baik daripada Lo."
" Nanjeb."
" Sakit."
" Perih."
" Kalau gue mendem aja di gua." celetukan itu menciutkan nyali Jessica.
" Andros."
" Siap, bang." Andromeda yang membawa tas bekal diikuti Nando menghampiri Zayin.
" Ayu sudah menyebut Lo bebbeb, jadi sebagai lelaki bisa Lo lindungi dia."
" Pasti, bang."
" Yu, ini dari mama." Andromeda memberi tas itu.
" Makasih, beb. Kasihan ya kelas ini satu kelas sama yang kemungkinan punya penyakit kelamin akibat s3x bebas."
" Lo ..." Jessica sangat marah akan sindiran itu.
" Apa? Lo pikir gue gak tahu mainan Lo sama om-om tuir itu. Gue selama ini diam, karena gue males ladenin Lo, tapi Lo dengan tidak tahu dirinya melawan seorang Birawa. Sekarang gue tunjukan apa yang akan Lo dan kacung Lo dapatkan kalau ganggu gue." Ayunda mengultimatum.
" Ayo, Nando. Kita pergi." Ayunda menarik tangan Nando, sang empu hanya bisa pasrah.
Zayin tersenyum puas akan kepercayadirian Ayunda akan jati dirinya.
Julia dan Adgar Silih berganti menatap surat permohonan dari angkatan laut. di depan mereka ada tiga lelaki gagah yang menunggu keputusan pihak BIBA.
" Jadi untuk berapa lama di sini?"
" Tidak bisa ditentukan, tergantung kapan kasusnya kelar." jawab Zayin.
" Gar, enggak ada makanan? gue lapar."
" Ck, sopan sekali anda." adgar melempar ponselnya pada Zayin.
" Tante sudah dapat kabar dari om Damian, apa kabarnya Zahra?"
" Sejauh ini baik, beliau sedang mengoperasi Papi. Om Hito selalu mendampinginya, untuk itu saya mengucapkan terima kasih apda keluarga Hartadraja."
" Ck, gue gak suka ucapan Lo, tapi kita terima." ucap Adgar.
" Gar, kamus yang menempatkan mereka di posisi apa."
" Siap, Mam."
\*\*\*\*
Di ruang ICU khusus yang sangat steril Mateo sedang membisikan sesuatu pada Alfred.
" Bagus, jadi kini Valentino sudah melawan RaHasiYa." ucap Alfred pelan.
" Tetapi harga yang harus dibayar, mereka membalasnya dengan mencopot kuku tangan Alfred junior."
" Apa?" erangnya serak, kedua tangan yang berbalut perban mengepal kuat.
" Beraninya mereka..."
" Tuan apa tidak kita hentikan rencana kita? kita sudah kehilangan banyak. simpanan nyonya Guadalupe beserta mandiinnya sekarang dibawah kekuasaan tuan Gurman.
Mata Alfred melebar," Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?"
" Mereka punya Rodrigo yang seorang ahli komputer...
" Perintahkan Valentino menyerang mansion Alejandro selagi dia di sini..."
" Tuan..."
" Laksanakan."
" Siap...." tanpa sepengatahuan Alfred Mateo tersenyum smirk saat keluar dari ruangan.
Rodrigo dan Raul yang di lain tempat mendengar obrolan itu....
__ADS_1