
Alejandro Gurman mendatangi mansion Gonzalez bersama Rodrigo.
" Dimana, tuan kalian?"
Kepala pelayan menunduk," di kamar, tuan. tuan Eric sedang kurang sehat."
" Tunjukan pada kami." mengabaikan informasi dari pelayan. Alejandro bersikukuh bertemu putranya.
" Mari, tuan."
Alejandro dan Rodrigo menatap Eric tanpa emosi.
" Papa..." lirih Eric.
" Eric, Raul memberimu pelajaran jika kau mencari masalah dengan darah Gurman."
" Apa yang terjadi kemarin malam, harus kau bayar dengan nyawa mu, Eric."
Alejandro dan Rodrigo meninggalkan kamar Eric
Ketika berada di tengah anak tangga Alejandro menitah Rodrigo untuk membuat janji bertemu dengan Fatio Hartadraja.
" Petang ini, di lounge the Altair, hotel the Sultan." beritahu Rodrigo.
" Bagus, sekarang kita bertemu Sivia terlebih dahulu.
****
Arvan dan tiga prajurit terus menyisir hutan searah ledakan.
Sedangkan prajurit lain berada di posisi yang lain dengan langkah yang sama mendekati arah ledakan.
Dari depan mereka terdengar suara beberapa langkah kaki saling mengejar.
" Cepat!!" Seru orang itu.
Arvan mengangkat tangan agar pasukannya berhenti, lalu tiarap.
Dari sela rerumputan terlihat dua orang yang dikejar berapa pria besar khas Eropa dan Amerika latin.
Jarud dan Derry terus berlari sesekali menunduk melindungi diri daribtembakan acak para penculik.
Jalan yang sudah mereka buka memudahkan mereka kabur dari kejaran.
Duar!!!
Ledakan di kamp mereka merusak konsentrasi terhadap Jarud dan Derry hingga pengejaran mereka terbagi.
Sebagian kembali ke kamp, mereka duga penyusup berhasil masuk kamp.
Jarud dan Darry bersembunyi dibalik pohon besar.
"Lo ambil motor, gue halau mereka." Jarud mengambil kesempatan dari melambatnya lawan.
" Dengan...?" Derry bertanya bingung
Dengan senyuman miring Jarud mengeluarkan ketapel dari ranselnya
" What?"
" Fokus, Derry." Tegur Jarud, Derry berucap maaf, lalu bersiap kembali lari.
Sedangkan Jarud memasang bola warna perak itu diantara tali ketapel lalu melesatkannya.
DUAR!!!
Beberapa target terpental kena bom.
" Mereka terlihat pro." Ujar salah satu prajurit masih mengintai.
Arvan mengamati lewat teropongnya, ia melihat logo R pada ransel Jarud.
" Gak heran, mereka anak RaHasiYa." Bisik Arvan.
" Mereka terdesak, kita maju?"
Arvan menggeleng," kalian amankan gerak orang bernama Derry, saya ke orang satunya.
Prajurit mengangguk.
" Amankan saya." Arvan mendekati Jarud.
Derry berlari kencang menuju motor, rentetan tembakan menghujani kearahnya, yang tiba-tiba entah darimana ada tembakan balasan pada para penculik, tidak ambil pusing hal itu Derry bergegas membuka penutup penyamaran atas motornya.
" Hai." Jarud terkejut ada seseorang yang mendekatinya dari arah belakangnya, saat ia hendak melayangkan pukulan, tangannya dipelintir.
" T.N.I, Mumtaz." kode Arvan dibalik masker wajahnya.
Jarud mengangguk," ko.pasu.s, hmm? Gue dapat infonya."
Arvan mengangguk," oke, kalian balik."
" Gak bisa, kak Ala dan nyonya Sri ada di sana."
" Apa?"
Jarud mengeluarkan kamera dari ranselnya, lalu memperlihatkan hasil jepretannya.
" Kita yang urus."
" Gak bisa, seperti halnya kalian yang pantang menyerah, kita pun pantang mundur sebelum tugas selesai." Tutur Jarud tegas.
" Pemimpin kalian, dimana?"
" Jeno dan Ragad ada di posisi mereka, entah dimana."
Derry sudah menaiki motornya,
" Jar, c'mon. Bro.!" Seru Derry.
" Kalian cari teman kalian, dalam 30 menit mendatang kita kumpul di pos yang sudah ditandai." Seru Arvan.
" No, kalian harus memberesi mereka sebelum mereka bergerak, setelahnya kita kumpul di pos yang kalian tunjuk." ujar Jarud
Arvan mengangguk, Jarud berlari ke tempat Derry dibawah keamanan TN.I yang menembaki para penculik.
Setelah Jarud dan Derry menunggangi motor mereka, para prajurit mendekati target yang sudah mundur.
Dari teropongnya Arvan dapat melihat beberapa orang yang bolak balik dibalik pagar kawat yang mana terdapat beberapa truk dan banyak pria mengakut senjata pada truk-truk.
Para prajurit berpencar, sambil menyamar pepohonan mereka bergerak secara perlahan mendekati kamp.
Dari ujung lain Arvan dapat melihat dua rekannya berhasil melumpuhkan beberapa penjaga hingga berhasil masuk ke salah satu tenda.
lima menit berselang dua rekan tersebut berpindah ke tenda lain.
Di sisi lain dua orang lagi dari atas pohon melempar belati pada penjaga yang berdiri tak jauh dari tenda yang dicurigai tempat menyimpan senjata, lalu mereka turun dari pohon kemudian menyeret dan menyembunyikan mayat penjaga tersebut ditutupi penyamaran rumput.
Mereka menyelinap ke dalam tenda yang ternyata terdapat enam pria kekar yang sedang mengangkut peti.
Sebelum enam pria tersebut meminta bantuan dua prajurit tersebut melempar belati yang mengenai tepat leher penculik lalu bergerak cepat mematahkan leher yang lain dan menghunuskan belati lainnya ke jantung yang lain sambil membungkam mulutnya.
Semua itu hanya butuh waktu empat menit bagi mereka, kemudian keluar bagian belakang tenda memberi kode yang lain bahwa situasi aman.
Di sisi lain, dua prajurit berhasil menyelinap ke bawah truk memanfaatkan ketergesaan mereka mengangkut barang-barang mereka sehingga mereka tidak waspada dan teliti akan keadaan sekitar.
Dibawah truk, mereka membolongi tanki BBM truk, mempereteli kabel mesin truk.
Sementara tentara yang menyamar pepohonan secara perlahan melumpuhkan satu persatu penjaga yang berkeliling di area kamp.
Arvan memanjat pohon guna mencari sinyal mengirim penemuan tim-nya akan gudang senjata di tengah hutan kepada sang komandan.
****
Di markas besar TNI, pang.lima dan ka.polri membuka memory card pemberian Mumtaz.
Di memory tersebut memuat jadwal kedatangan barang atas nama Gonzalez corp lengkap tempat penyimpanannya.
Ka.po.lri langsung memerintah bawahannya untuk memeriksa alamat yang tersebar di lima propinsi tersebut di kartu.
" Apa ini?"
" Kemungkinan besar ini terkait peredaran nar.koba yang melibatkan beberapa po.litisi aktif di pusat dan daerah." ucap ka.po.lri.
" Anda mendapat daftar mereka?" pang.lima bertanya menelisik.
Ka.po.lri mengangguk," rencananya besok ke.poli.sian mengadakan konferensi pers terkait hal ini."
Dengan hati-hati ka.po.lri mengungkapkan," kami sudah membocorkan berita ini pada media, saat ini bawahan saya sedang melakukan tes urine kepada para po.liti.si."
" Ini bukan ranah T.N.I"
" Mereka juga kemungkinan menjual senjata pada pemberontak."
kring!! kring!!
Pang.lima menangangkat sambungan telpon dari telpon kantor di atas meja kerjanya.
" Suruh masuk."
Sang komandan memberi hormat pada pang.lima.
" Ada apa? apa pasukan mu sudah menemukan prof. Zahra?"
" Belum, pang.lima. tetapi mereka menemukan kamp penyimpanan senjata di hutan A." lapor komandan.
" Senjata yang ditemukan sama dengan type senjata yang ditemukan di Cirebon, dan di mansion Gonzalez pada saat peledakan beberapa saat lalu."
" Pang.lima dan Ka.po.lri saling mengangguk," kirim pasukan guna mengamankan barang tersebut."
" Pang.lima... terdapat beberapa transaksi ke rekening petinggi par.tai dari Navarro." seru ahli IT T.N.I."
" Siapa Navarro?"
" Pengusaha kuliner dari luar, di sini mereka bersaing dengan H restaurant, perusahaan lokal yang menyajikan makanan Italia." tutur ka.po.lri.
" Hmm, menarik." gumam pang.lima.
******
Hari semakin sore, Zahra masij melakukan perlawanan dalam gendongan pundak pria bertatto yang dipanggil Armando, sementara Sri hanya bisa pasrah.
Zahra menyadari ada tembakan dua arah dibelakang mereka, berarti ada pihak lain selain pihak penculik.
Nekat, Zahra menggigit bahu Armando keras.
" Aaawwsss," pekik Armando menurunkan Zahra dengan kasar, ia memegangi bahunya yang berdarah.
__ADS_1
Zahra meludah-ludah merasakan Asam dari darah segar Armando.
Zahra mendekati Sri," nek, lari..."
" Kamu.."
" Lari." Zahra memegangi tangan Sri meninggalkan kawanan penculik yang fokus pada Armando.
" Sial, tangkap mereka." Titah Armando pada anak buahnya.
Tiga orang penculik mengejar Zahra dan Sri yang terus melaju mengabaikan rasa sakit dikaki karena tajamnya duri, dahan dan ranting.
Sri sekuat tenaga tuanya mengimbangi langkah Zahra.
Zahra yang menyadari penculik semakin dekat, tidak ingin mereka tertangkap kembali, dia menginstruksikan Sri untuk terus berlari.
" Nek, terus berlari jangan menoleh ke belakang, di sana ada orang lain selain penculik, minta pertolongan mereka."
Sri hanya mengangguk ia meneruskan langkah meninggalkan Zahra yang memutuskan menghadapi tiga kawanan penculik tersebut.
Zahra melayangkan tendangan di tulang rusuk pada penculik yang hendak menyusul Sri. Penculik itu berteriak sakit.
Kawan satunya membalas dengan memukul Zahra yang bisa Zahra hindari dengan memutar badan lalu memukul lewat sikunya tepat mengenai rahang penculik.
Namun penculik itu menarik kupluk Hoodie Zahra hingga Zahra terdorong ke belakang.
Ketidak seimbangan Zahra dimanfaatkan penculik lain mene.ndang perut Zahra disusul meng.hajar rahang zahra yang langsung membuat Zahra terjatuh dengan menyemburkan darah dari mulutnya sebelum tubuhnya membentur tanah lembab hutan.
Zahra pingsan...
"Hito, Dominiaz, dan Samudera serta anak Gaunzaga bersiap dengan senjata perlengkapan mereka.
" Galang info terbaru."
Galang menyerahkan tabs nya," terjadi ledakan di kamp yang terakhir diamati drone."
Petinggi Gaunzaga saling pandang," anak RaHasiYa bawa bom?"
" Bawa, kami diperbolehkan untuk menghabisi." Mereka mengangguk paham.
" Korban?"
Galang menggelengkan kepala," mereka hanya berempat, kita siaga di sini."
Galang menunjukan sesuatu di tanah pada petinggi Gaunzaga.
" Ada jejak roda mobil mengarah ke sana, anak buah gue sudah memeriksa, ternyata semacam gua, tetapi ada pintunya."
Galang kembali ke tempat semula
" Mereka sudah buka jalan, kalian tinggal mengikutinya saja. Kita jaga di sini."
" Oke, kita cabut. Dam, tugasi orang untuk bantu Galang." Titah Dominiaz.
" Ada Raka." jawab Adam.
" Tunggu... Ada perintah dari pusat." Cegah Galang.
Semuanya menegang menunggu perkataan Galang selanjutnya.
" Ada titik pelacak dari kak Ala yang terdeteksi dari lokasi beberapa kilo meter dari sini. Arah barat."
\*\*\*\*\*
Tok!! Tok!!
" Ada apa?"
" Heks..." Sisilia terjengkit kaget karena suara bass dari arah belakangnya.
Dia menoleh, mendapati Mumtaz yang tersenyum geli padanya.
" Ishh, kamu itu." Sisilia memukul pelan tangan Mumtaz.
" Hehehe, ada apa?"
" Pada makan dulu yuk, yang lain mana?"
" Di ruang sebelah." Tunjuknya pada pintu warna hitam yang tertutup rapat.
" Makan dulu, kalian belum makan sejak pulang dari pagi. Ada Daddy dan Mommy. Bunda dan Ayahnya juga nyariin kak Daniel."
Tangan Sisilia menggapai tangan Mumtaz yang langsung disambut oleh Mumtaz.
" Bawa sini aja ya makanannya, lagi nanggung."
" Muy, posisi kak Ala dari pelacak terbaca." Ibnu menyembulkan kepalanya dari balik pintu antar ruangan.
" Oke. Aku pergi dulu." Mumtaz mengecup kening Sisilia sebelum masuk ke ruangan dimana Ibnu menghilang.
Sisilia hanya mampu menghela nafas berat.
" Dimana?" Mumtaz duduk disamping Ibnu yang sedang fokus pada titik warna merah yang terus bergerak.
" Sebelah barat."
Mumtaz mengirim pergerakan titik itu pada tabs para sahabatnya yang berada di hutan A sana.
" Hanya punya Galang yang membaca."
" Lebih baik daripada tidak sama sekali."
" Muy, kapan kita berangkat?" Tanya Daniel.
" Setelah semua gambar hutan dan wilayah sekitar Kalimantan tengah tertangkap secara detil."
" Apa yang sedang Lo lakukan?" Todong Alfaska.
Mumtaz mengedikan bahunya santai." Hanya mengubah kamera satelit mencari keberadaan kak Ala."
" Apa? Lo gak kapok, yang kamarin aja Rusia masih mencari tahu." Alfaska mengusak rambutnya gemas.
" Kali ini gue izin kok."
__ADS_1
Boal mata para sahabat berotasi malas." Kapan?"
" Entaran kalau Kak Ala udah ketemu." Cicitnya malas
Ting!!!
Komputer di atas meja paling pojok Kanan menyalakan lampu hijau.
" *Done*."
Di layar kaca bening yang bertengger diantar ruangan kontrol dengan meja rapat terpampang area Kalimantan tengah secara detil.
" Sejak kapan?" Daniel mengamati medan lapangan hutan A.
" Kemarin, hujan menghambat pemotretanannya.
" Cara ini yang Lo pakai nyelamatin gue?" Tanya Alfaska menatap takjub rincian gambar itu.
" Kurang lebih. Ini masih area umum. Sepertinya mereka sudah bergerak dari posisi terakhir."
Mumtaz bergabung dengan Daniel dan Alfaska berdiri di depan layar kaca begitupun Ibnu turut bergabung
Mumtaz menzoom tempat terakhir Zahra dan Sri disandera sesuai tanda merah.
" Partikel aura kak Ala masih tertinggal walau sudah menipis, sedangkan nyonya Sri...diujung...tebing." suara Mumtaz melemah seiring tangannya menangkap gambar Sri yang bergelantungan.
Tubuh Empat sahabat tersebut menegang, lantas Mumtaz mengirim gambar itu pada iPad Hito.
" Kita bersiap, hubungi Bara dan Leon. Kita tidak akan pulang sebelum menemukan mereka."
Ibnu menghubungi Bara, Alfaska menelpon bandara Halim agar membuka jalan untuk pesawat pribadinya, sedangkan Daniel menghubungi Alex yang berada di gedung RaHasiYa.
Mumtaz sendiri sibuk dengan komputernya masih menggerakkan kamera satelit militer milik Rus.ia tersebut.
tring!!!
Mumtaz membuka notifikasi pesan dari Rodrigo, memejamkan matanya menahan gejolak emosi.
" Apa?" Ibnu berhasil henti dari kesibukannya.
" Alejandro ingin bertemu kakek Fatio."
" Sebaiknya kita selesaikan dulu urusan mereka." Daniel memberi solusi.
" Gue udah pesan tempat di lounge the Al-Tair pasca maghrib." ujar Alfaska.
" Hubungi Akbar untuk memberitahu Kakek Fatio." Ibnu menghubungi Akbar dan Adgar.
" Nu, jangan lupa print penyerang dijalanan yang di Semarang yang dikirim om Damian. kita minta jaminan mereka menangkap para keluarganya."
\*\*\*\*
Hito memberhentikan motornya saat iPadnya bergetar, dia membuka isi pesan Mumtaz.
Begitu juga dengan yang lain. Turut memberhentikan motornya.
Matanya terbelalak saat melihat potret Sri yang bergelantungan.
" Dom, arah tebing sana." Tunjuknya pada arah selatan dari posisinya.
Dominiaz melihat isi pesan iPad Hito.
" Dam, kita arah selatan."
Semua Gaunzaga memutar arah ke arah selatan sesuai instruksi Dominiaz.
Sri terus berlari, kakinya yang sudah mulai terasa sakit diabaikan, tubuh tuanya dia paksa terus berlari tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan calon cucu mantunya.
Dia berlari ke arah sinar orange matahari yang terlihat dari hutan agar alat pelacak terdeteksi
Dia harus segera mencari pertolongan agar Zahra bisa diselamatkan.
" TOLONGGGG..." Pekik Sri di tengah hutan.
" TOLONGGGG..." Suara serak Sri tidak lelah meneriakkan pertolongan.
" Kyaaaaa..." Sri tersandung hingga ia tergelincir, medan yang menurun membuat tubuh Sri terguling-guling.
Jeno dan Ragad yang sudah bertemu sedang menapaki hutan mencari Derry dan Jarud sekaligus menghindari dari tembakan penculik terkejut dengan kemunculan tubuh yang menggelinding cepat ke bawah sambil menjerit yang mereka tahu di depan sana adalah tebing.
Mereka berdua pun lekas berlari secepat mungkin mengejar tubuh itu.
" Kyaaaaa..."
Sri menggapai-gapai sembarangan agar tubuhnya berhenti berguling, sungguh ia sudah tidak tahan lagi karena tubuh tuanya bertabrakan dengan bbeatuan dan tanah lembab.
" Kya...haps..hiks.." tubuhnya terasa melayang lalu tubuhnya menabrak tanah di depannya beruntung kedua tangan-nya berhasil menangkap satu akar panjang di ujung tebing.
" To..tolong..." suaranya sudah melemah. Ia hanya bisa bergelantungan berpegangan pada akar.
Pegangannya melemah, ia semakin menurun ke lembah
Saat melihat ke bawah terdapat sungai deras dana curam dengan bebatuan besar.
" To.. long.." tangannya makin meloroti akar, tenaganya sudah habis. Dan akhirnya pegangan itu terlepas.
" Kyaaaa..." Sri memejamkan mata seiring tangannya yang menjauh dari akar dan tubuhnya mulai melayang.
Bebatuan kecil berhamburan ke bawah akibat satu dorongan dari atas."
" Haups..." Tangan Jeno dan Ragad berhasil menangkap masing-masing tangan kanan dan kiri Sri sebelum terlalu jatuh ke lembah.
" Nyonya...bertahanlah." bukan hal sulit bagi mereka menarik tubuh tua Sri.
Mata Sri masih terpejam," nyonya,...bangunlah." Jeno menepuk-nepuk pelan pipi Sri.
" Nyonya..."
" A..apa... aku..sudah..mati..." cicit Sri disela Nafasnya yang terengah-engah.
" Sayangnya belum, nyonya." Seloroh Ragad.
" Nenekkk..." Hito beregegas menghampiri neneknya yang terbaring lemah di depan Ragad dan Jeno.
" Dimana Zahra?" tanya Dominiaz.
" kami tidak melihatnya, hanya ada nyonya Sri, itupun karena beliau jatuh terguling." terang Jeno.
" Nek, dimana Ara?" lirih Hito.
Bukannya menjawab, Sri malah menangis tersedu-sedu.
" Nek,..."
" A..Ara..masih... bersama mereka..." Cicitnya lemah.
Hito terduduk lemas mendengarnya....
yuk mau yuk vote, komen. n hadiah...likenya gampang malah....yuk!!!!
__ADS_1