Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
182. Romantisme ala Cintanya Mumtaz.


__ADS_3

Brak...


Semua orang yang berada di ruangan Bara terkaget karena Zahra membuka pintu dengan keras diikuti Zayin dan sahabatnya Hito, serta Samudera.


Ia mengambil duduk di sofa tunggal menyingkirkan Haikal yang semula duduk di sana, Zahra menatap mereka satu persatu.


" Jelaskan mengapa tidak ada yang memberitahu Kakak apa yang terjadi dengan Mumuy?" tanyanya dengan raut kekecewaan.


Zayin duduk di lengan sofa itu." Kak, jangan salahkan mereka, kakak saja tidak sadarkan diri begitu keluar dari ruang operasi."


" Tapi,..."


" Mintalah penjelasan pada mereka, tapi jangan menuduh. Mereka belum tidur dari kemarin karena ngurusin perkara keluarga kita, setelah itu kita pulang." Zayin menatap Zahra memberi peringatan.


" Om, kita pergi." Zayin beranjak ke arah pintu.


" Kemana?"


" Ke ruangan om lah, kita bicara dengan keluarga om. Ngapain ngintilin Kakak saya terus, ayok."


Dengan berat hati, Hito menuruti kemauan Zayin. Ketika berpapasan dengan Zahra, ia mengelus kepalanya dengan sayang.


" Jangan pegang-pegang, berani nyentuh tapi gak berani nikahi." telaknya sinis, sindiran itu mengundanhg tanya dari para sahabat.


" Saya akan menikahinya." Yakin Hito.


" Ngomong doang ,tapi gak bertindak-bertindak, buat apa? Ayok, sekarang buktikan." desak Zayin.


" Iya, iya." Kesal Hito, di belakanganya Samudera menggeleng heran mengenai perkembangan situasi yang ada. Vibes Zayin itu ternyata savage sekali.


******


Tok..tok...


" Masuk." Ucap Gama dari dalam ruangan.


" Assalamualaykum..." Mumtaz membuka pintu ruangan.


" Wa'alaikumsalam.." jawab serempak semuanya.


Tampak Sisilia sedang sesegukan dalam pelukan Dominiaz, saat melihat Mumtaz berdiri di ambang pintu, segera ia berlari memeluknya.


Dominiaz melihat hal itu dengan cemberut, tidak menerima adik kecilnya mencari sosok lain sebagai tempat ternyamannya.


Tangisannya kembali pecah dengan tubuh yang bergetar, setelah membalas pelukan kekasihnya, ia mendongakkan kepala Sisilia padanya.


" Kenapa masih nangis? Bukannya tadi berani?" Tanyanya lembut sambil menyeka air mata kekasihnya.


" Tadi maksain berani, tapi sekarang baru sadar takutnya. Tadi nakutin banget tahu." Rengeknya manja disela isakannya.


" Mereka gak ngapa-ngapain kamu kan?" Mumtaz memindai seluruh tubuh Sisilia.


" Mereka mau bius aku, tapi aku keburu tahan nafas, kehirup dikit, jadi tadi sempat pingsan bentaran karena syok dech kayaknya."


Dominiaz dan Mumtaz kaget mendengarnya."


" Kamu kok gak bilang ke Kakak kalau kamu pingsan?" Protes Dominiaz, matanya menatap mommy dan daddy-nya.


" Kakak gak nanya."  Jawab Sisilia.


" Tapi tetap saja kamu seharusnya bilang."


" Ini bilang."


" Stop, Domin. Cemburu kamu tahan dulu." Seru Gama saat Dominiaz hendak berkata lagi.


" Kamu, bagaimana keadaannya?" Tanya Gama pada Mumtaz.


" Baik, om." Mumtaz membawa Sisilia ke sofa panjang.


Dominiaz langsung menarik Sisilia ke dalam rangkulannya menyatakan hak atas diri Sisilia yang dia rasa mulai terancam. Namun tangan kiri Sisilia tetap merangkul tangan kanan Mumtaz.


Mumtaz mendudukan Sisilia di sampingnya, ditengah antara dirinya dan Dominiaz.


" Tadi mommy dapat telpon dari uncle Filippo menanyai tentang sisilia. Navarro sudah mengetahui tentang Sisilia, apa menurut kalian mereka juga akan mengincar Sisilia?" Khawatir Elena.


" Kakek kamu akan mengirim orang ke Indonesia untuk menjaga mommy dan Lia." Ucap Gama.


" Bilang gak perlu, itu cuma bikin Navarro besar kepala." Tolak Dominiaz.


" Sudah Daddy bilang, tapi kakek kamu maksa."


" Ya Daddy juga maksa lagi buat nolak."


" Ck, ingat Daddy cuma menantu, kamu aja yang bilang. Kamu cucunya, Daddy gak bisa nolak."


" Huh, payah. Gak gantle." ledeknya, meski demikian Dominiaz melakukan sambungan pada kakeknya menggunakan teflon kantor Gama.


" Mumtaz, menurut kamu bagaimana?" Tanya Gama, enggan menanggapi ledekan putranya.


" Untuk saat ini jangan dulu, om. Saya khawatir keberadaan mereka dimanfaatkan oleh Navarro. Dia dibekingi oleh pejabat publik." Sambil menjawab, Mumtaz mengusap tangan Sisilia yang betah bertengger dilengannya.


" Begitu, apa Navarro memberi ancaman besar bagi kita?"


" TNI, dan polri sedang menyelidiki dia, tidak lama lagi sosoknya terungkap oleh mereka."


Mereka semua terkejut, Mumtaz mengangguk yakin.


Melihat obrolan semakin serius, Elena berinisiatif mengajak pulang untuk beristirahat.


" Mom, aku di sini saja ya? Kasihan Tia."


" Ya, kamu istirahat dulu, oke? Besok kamu baru temani dia." Pinta Mumtaz.


" Tapi,.."


" Aku gak mau kamu sakit, yang bikin konsentrasi aku terbagi ke kamu nantinya, dan itu tidak baik bagi kerjaan aku." Potong Mumtaz.


" Tapi kamu anter."


" Lia, Daddy yakin Mumtaz sibuk. Kamu pulang bareng kami ya?!"


" Memang kapan kak Mumuy gak sibuk, aku cuma minta anter saja." dengkus Sisilia.


" Iya aku anter kamu, maaf, bikin kamu merasa tersisihkan." Sesal Mumtaz mengusap kepala Sisilia.


" Bukan begitu, aku hanya ingin lebih lama sama kamu." Sesal Sisilia, dia merasa egois.


" Jangan merasa bersalah, kamu berhak atas waktu aku, aku yang salah belum bisa bagi waktu buat kamu. Maaf ya." Ucapnya tulus, Sisilia menggeleng.


Tatapan sayang dari sorot mata Mumtaz membuat keluarga Sisilia terenyuh, Gama dan Elena bersyukur Sisilia memiliki orang sebaik Mumtaz untuk mencintai putrinya. Pun dengan Dominiaz, peristiwa tadi menunjukan dia bisa mempercayai Mumtaz menjaga adiknya.


Kemarahan dalam wajah tenang, menghukum lawan dengan berat tanpa rasa sungkan menunjukan betapa berarti adiknya bagi seorang Mumtaz.


Elena menatap sayu Mumtaz." Tante, tidak memahami pikiran jahat orang yang menuduhmu sebagai penjahat sosial." Renung Elena.


" Tante tidak percaya segala tuduhan itu, kan?" Khawatir Mumtaz.


Merasakan kecemasan orang yang sudah dia putuskan sebagai calon menantunya, Elena memberinya senyuman menenangkan.


" Tentu tidak, Tante percaya kamu orang terbaik untuk putri Tante dengan segala kebaikan yang kamu miliki."


Wajah Mumtaz kontan sumringah." Terima kasih Tante atas kepercayaannya, meski aku tidak sebaik yang Tante kira, tapi aku akan buktikan tuduhan itu tidak benar adanya."


" Tante, boleh aku meminta bantuan Tante?"

__ADS_1


" Apa?"


" Besok, tolong temani mama Sherly, Bara pasti sibuk. Kepergian Tante Sandra pasti mengguncang hatinya. Mengingat mereka belum lama kembali bersama setelah koma panjang mama Sherly."


Riak haru menyertai tatapan Elena pada Mumtaz, lihatlah betapa pekanya pemuda satu ini akan perasaan seorang ibu, bagaimana bisa mereka menuduh pemuda sebaik ini sebagai kepala preman?, Bathinnya.


" Tentu, jangan cemaskan tentang beliau. Tante dan bunda akan menemaninya."


Rasa syukur tercetak dalam senyuman lebar Mumtaz, " Terima kasih, Tante."


Sepanjang perjalanan, Sisilia memeluk erat pinggang Mumtaz, ia menghirup banyak-banyak bau kekasihnya. Ia sungguh merindukan kebersamaan mereka.


Sisilia tidak menyadari perbuatannya diperhatikan oleh orang-orang yang mengikutinya, ia pun tidak sadar jika sesekali mata kekasihnya memerhatikan ke belakang melalui spion.


Sesekali satu tangan Mumtaz membelai punggung tangan lembut yang melingkari pinggangnya.


" Mau mampir dulu gak?" Ucap Mumtaz di balik helmnya.


Sisilia mendekatkan wajahnya pada Mumtaz.


" Beli martabak dulu ya!?"


Mumtaz mengangguk, tidak lama mereka berhenti di tempat martabak langganan mereka.


" Mau yang mana?" Mumtaz membawa daftar menu-nya ke Sisilia yang menunggui di atas motor atas sarannya.


Dari ekor matanya ia bisa melihat beberapa orang dalam dua kendaraan motor dan satu mobil asing yang memiliki gerak gerik mencurigakan.


" Dua  martabak brownis Nutella, dan satu martabak telor super spesial."


" Habis enggak?" Tanya Mumtaz.


" Habis, aku malas rebutan mulu sama bang Domin." Cemberutnya.


Mumtaz tergelak mendengarnya." Martabak telornya satu saja?" Meski ragu Sisilia mengangguk.


" Aku pesan dulu, ya."


" Aku ikut, mau bayar." Sisilia turun dari motor.


Mumtaz menggenggam tangan Sisilia erat seakan takut dirinya menghilang.


" Aku traktir kamu, aku baru gajian, mau nyogok bang Domin supaya gak cemburuan mulu. Nanti kamu promosiin aku di depan beliau ya."


Sisilia tertawa terbahak-bahak," kalian itu terkesan akur, tapi ternyata punya insting rival yang tajam ya."


" Bang, martabak brownis Nutella jumbo lima, martabak telor bebek daging super spesial enam."


" Banyak sekali."


" Buat anak-anak di rumah. Pulang kalau gak bawa makanan cemberutnya melebihi kamu kalau lagi kesal." Selorohnya.


Sisilia yang malu memukul lengan Mumtaz yang ditarik oleh Mumtaz untuk dia genggam.


" Apasih, aku gak gitu ya." Cemberutnya. Mumtaz terkekeh, gak gitu, tapi sekarang cemberut, untung sayang!! Pikirnya.


Selagi menunggu pesanan, Mumtaz sibuk dengan ponselnya. membalas beberapa pesan yang masuk. Meski mulutnya menjawab ucapan Sisilia, atau ia tetap merespon ketika kekasihnya ingin perhatiannya.


Mereka tiba di rumah Sisilia pada waktu Maghrib," Mum, kamu shalat Maghrib di sini saja." Ucap Elena.


" Iya, Tan. maaf merepotkan."


" Apa sih, jangan sungkan begitu, Tante gak suka. Sekalian makan malam ya. Makasih atas martabaknya."


" Iya."


Dominiaz menarik Mumtaz saat menuju mushala yang berada di rumahnya.


" Kak Domin, pinjami kak Mumuy baju ya, habis shalat, kakak harus mandi." Kata Sisilia di anak tangga teratas.


" Mengenai pesan kamu, itu beneran?" bisik Dominiaz.


" Iya, Mereka ada di depan sekarang. Aku sudah minta Daniel untuk menurunkan robot pengintai untuk mengetahui identitas mereka. Dan menempatkan beberapa kamera di beberapa lokasi. Abang jangan keluar lagi."


" Hmm, urusan dengan om Damian?"


" Aku dan Daniel yang mengurusnya, toh ini perkara Birawa, bukan kita. Om Damian hanya menunjukan dukungan Hartadraja atas diriku."


" Hehehe, sekarang kamu paham mengenai bekingan, hmm?"


" Hanya tidak ingin banyak drama saja sih."


" Ck, ini tuh drama banget malah. Menunjukan eksistensi kekuasaan gitu." Decak Dominiaz.


" Kalau tidak bisa menandingi, mereka harusnya mundur atau kalah menjadi abu." Senyum tipisnya bagi Dominiaz terasa mencurigakan.


Tok..tok...


Sisilia membuka pintu kamarnya yang diketuk Mumtaz. Melihat penampilan Mumtaz yang terbilang segar, ia pun menceletuk.


" Udah wangi, berarti udah mandi?" 


Mumtaz mengangguk," hmm. Aku masuk ya."


" Mau ngapain, tumbenan. Kamar aku lagi berantakan."


Mumtaz mendorong pintu sedikit memaksa." Gak apa-apa, cuma mau masang ini." Tunjuknya pada benda persegi panjang yang menyerupai jam digital.


" Aku udah punya jam dinding." Ucap Sisilia berjalan di belakang Mumtaz yang berdiri tepat di tengah kamar tidur Sisilia yang bercat biru muda.


 Mumtaz mencari angle pas untuk menaruh benda itu menangkap seisi ruangan." Aku tahu, ini alat sensor inframerah, untuk menjaga kamu dari kejadian yang serupa di rumah sakit.


Aku yakin mereka gak akan berhenti sampai di situ, jadi aku pasang ini." Mumtaz menempel benda itu di tembok sedikit atas meja belajar Sisilia yang terletak di depan ranjangnya.


Meski jantungnya berdebar kencang karena rasa takut yang menyerangnya tiba-tiba, Sisilia berusaha menampilkan wajah tenang seperti biasa.


"Bagaimana cara menggunakannya?"


" Cukup melakukan perlawanan, dari gerakan itu, alat ini akan segera merespon suhu tubuh kamu yang meningkat, getaran suara, dan gerakan kamu yang dibawah ancaman." Ucapnya santai sambil berdiri dari posisi membungkuk sewaktu memasang alat itu.


" Apa yang akan terjadi?" Tanya sisilia sewaktu Mumtaz melangkah mendekat padanya.


" Sistem alat ini terhubung langsung ke gedung RaHasiYa, Gaunzaga, Pradapta, Atma Madina, Prakasa security dan Alatas dimana aku berkantor. Pihak keamanan pasti akan langsung bertindak.


" Apa ini gak berlebihan?"


" Enggak, aku memasang ini di kamar kak Ala, dan Tia, Bara memasang di kamar Cassandra, dan Daniel memasang di kamar Ita.


" Aku yakin aku bisa menjaga diri."


Mumtaz memegangi kedua lengan Sisilia, mengusapnya lembut.


" Aku juga yakin itu, tapi ini untuk ketenangan aku. Kamu tahu hari ini kamu selamat karena aku memasang alat pelacak di gelang ini." Tangan Mumtaz menyentuh pergelangan Zahra dimana gelang lumba-lumba itu melingkar.


" Kalau gelang ini kamu gak pake, aku gak tahu bagaimana nasib kamu saat ini, ditambah kejadian Ayu yang hampir diculik dari rumahnya sebelum Zayin melumpuhkan para penguntit itu menambah kecemasan aku pada kamu."


Tiba-tiba Mumtaz merengkuh seluruh tubuh Sisilia." Ya Tuhan, aku gak bisa memaafkan diriku jika kamu terluka, membayangkannya saja dada aku sesak. Sesayang itu aku sama kamu." ucapnya penuh perasaan.


Ia mengurai pelukannya, masih memegangi kedua lengan Sisilia, mereka saling bertatap pandang dalam jarak dekat. 


Mata sayu itu menawarkan semilyar rasa cinta." Secinta itu aku sama kamu, posisi kamu di hati aku sama kuatnya dengan perasaan aku ke kak Ala dan Tia. Aku gak bisa kehilangan kamu. Sangat..banget...cintanya...Bahkan kata-kata itu tidak cukup menggambarkan perasaan yang aku rasakan untuk kamu."


" Setiap mandangin kamu, hati aku membuncah dengan perasaan yang warna pink, kalau menurut Adelia, bahkan meluber." Selorohnya yang menyimpan keseriusan.


Sisilia terkekeh m mendengar cara pengungkapan rasa dari kekasihnya.

__ADS_1


" Sedalam itu?" Sisilia mengalungkan tangannya pada pinggang Mumtaz.


" Lebih." jawabnya lembut.


" Tapi kenapa kamu gak pernah mau cium aku, padahal aku gak pernah keberatan. Terkadang aku mikir kamu gak suka aku kerena kamu gak pernah bertindak jauh selain cium kening." Terlihat rasa kesal dari ucapan itu.


Tangan Mumtaz mengelus pelan ujung bibir bawah kekasihnya.


Matanya menatap intens benda kenyal itu." Bukan gak mau, tapi menahan agar tidak terjadi, dan itu gak mudah." Tangan panjang itu masih mengelus sekitar bibir bawah itu yang kini mengapit dagunya.


" Kenapa?"


Mumtaz menghela nafas berat." Karena aku gak mau mencampurkan perasaan aku dengan nafsuku, aku tahu mencium ini gerbang dari perselancaran syahwat aku, dan aku gak yakin aku bisa menahannya. Yang pasti aku pasti menyesalinya karena merusak kamu." Matanya menatap iris hijau Sisilia.


" Ya, aku sadar, aku tidak takut akan apapun dan siapapun kalau aku menginginkan sesuatu. Rasa berani ku itu yang membuatku takut terhadap diriku sendiri. Aku punya rasa ke kamu amat besar, sekali aku melewati batas, kita akan masuk jurang kekotoran. Dan yang aku pahami bukan begitu cara mencintai wanita, aku ingin menjadikan kamu wanita yang berharga baik dimata aku maupun dimata orang lain."


hati sisilia menghangat," Tapi kamu pernah mencium kak Bella."


" Mana ada, tidak pernah. Apalagi itu masih SMA, gak sampai ke sana mikir pacarannya."


" Kak Bella kok yang ngomong, di depan kita, sewaktu di kantin selagi istirahat."


" Berarti dia bohong, atau bukan aku pelakunya."


" Benarkah?" Lingkaran tangan Sisilia di pinggang Mumtaz mengerat.


 Mumtaz mengangguk." Hmm."


" Aakhh.. seneng dech dengarnya, Awas saja kamu kak Bella berani bohongin aku." Ucapnya sinis.


Cup....


Satu kecupan mendarat di pipi Mumtaz yang berhasil mengagetkan sang empunya.


" Kalau kakak gak bisa, aku yang melakukannya." Cengirnya.


Mumtaz menggeleng." No, gak kamu, enggak aku. Tolong kerjasamanya, sayang. Jangan kotori perasaan kita." mohonnya


" Tapi aku iri sama Tia, Ita, dan Cassy yang sering cerita keromantisan mereka yang lebih dari sekedar pegangan tangan, kecupan di kening." Cemberutnya.


" Tia sudah halal, kalau soal Ita, dan Cassy..aku salut pasangan mereka punya daya tahan yang hebat. Aku gak yakin aku mampu menahan libido aku.


Kita akan melakukannya dengan benar di waktu dan tempat yang tepat. Jangan iri soal itu, lagian ngapain sih kalian gibah soal privasi gitu?" Tanya Mumtaz tidak menyangka para adiknya segitu tidak polosnya.


" Si Manda sama si Mayang yang mulai cerita 1821 mereka..."


" Ck, kalian memang harus dijauhkan dari duo centil itu." Decak Mumtaz.


" Jangan ih, kalau gak ada mereka gak ada yang bisa melawan para cabe yang deketin kalian. Aura sexy mereka selalu berhasil menghalau para pelakor."


" Mana ada, kitanya aja yang memang gak minat sama wanita yang kalian sebut cabe itu ." Ungkap Mumtaz.


" Intinya, aku bukannya gak mau melakukan hal yang kamu sebut romantis itu, tapi belum saatnya. Ini cara aku mencintai kamu."


Mumtaz melihat jam dinding Sisilia yang sudah menunjuk pukul 19.00, sednagakn dia punya janji dengan orang penting pukul 21.00.


" Kita turun, aku harus segera pergi." Satu kecupan mendarat di kening Sisilia sebelum menarik sang pemilik kamar ke ruang makan.


Mendengar dua langkah menuju pintu, Elena segera menarik Dominiaz dan Gama yang mengintip adegan romantis kedua sejoli itu masuk ke kamar Dominiaz yang terletak diseberangnya sesudah menutup pintu kamar Sisilia.


Pintu itu tertutup bertepatan dengan dibukanya pintu kamar Sisilia. Di dalam kamar Dominiaz, Elena menjerit jejengkitan mengingat kejadian tadi.


" Aa.. manisnya sikap Mumtaz, kita memang gak salah merestui mereka ya, Dad." Ucapnya yang diangguki Gama yang masih merasa terenyuh akan sikap pemuda itu terhadap putrinya.


Walau ia kaget Sisilia bisa seberani itu mencium kekasihnya.


" Kalau Domin yang di posisi Mumtaz, mommy yakin anak gadis orang sudah tidak gadis." Cibirnya pada putranya yang terkenal playboy.


" Mungkin perempuan itu sudah hamil." Tambah Gama.


Dominiaz berdecak sebal," itu karena si cupu itu belum tahu nikmatnya nafsu, coba kalau dia tahu...beuh..aws." Dominiaz memegangi bibirnya yang dipukul Elena.


" Memang seharusnya gak DP, nikahi baru ngegas...gak ngerti mommy cara berpikir kamu. Doyan benar nyicip anak gadis orang."


" Mereka gak gadis kok, mom."


" Bukan itu esensinya..tahu ah males. Ayo Dad, kita pergi, bisa-bisa darah tinggi mommy kumat kalau keterusan ngomong sama buaya darat ini."


*****


Di dalam kamar presidensial, di pojokan kaan ranjang yang berantakan. Devi terduduk meringkuk sambil menangis karena ketakutan melihat aura menyeramkan dari Daniel, Damian, Nathan dan Mumtaz. sedangkan Ernest, si tua keladi, menyeringai dengan mesum padanya.


" Tuan Ernest, kami meminta kerjasama anda untuk meyakinkan para pengusaha yang mendanai para politisi untuk mendukung bapak Janu dan pak Agung yang sedang berusaha melakukan reformasi di badan dewan, dan menuntut transparansi pemeriksaan atas tindak pidana korupsi yang melibatkan 50 politisi itu." ucap Damian.


Ernest menghela nafas berat," itu akan sedikit sulit, saya punya kepentingan dengan Mulyadi dan Andre, dan mereka berdua terlibat dengan 50 politisi itu meski saya heran mengapa dia orang itu bisa selamat mengingat peran mereka sangat strategis di organisasi Hitam itu."


" Saya menjamin, bagian mereka dia proyek pabrik minuman yang dia daerah Indonesia timur sana menjadi bagian anda." ucap Mumtaz.


Ernest kaget Mumtaz mengetahui proyek miras itu, mengingat pembangunan miras itu sangat rahasia mengenai keterlibatan para pejabat didalamnya.


Tapi ini Mumtaz, salah satu petinggi RaHasiYa.


" Sungguh?"


" Iya, mertuanya akan memberikan itu pad anda, bukankah kalian berteman?"


" Tentu, dia pasti marah mengetahui menantunya jauh dari idamannya."


" Sangat. dan kami juga memberi dia untuk mu." matanya melirik pada Devi


" Tu...tuan Birawa, saya mengaku salah, saya akan buat putri saya menjauhi adik anda..."


" Tidak perlu, kami sudah membereskan putri anda. ini sedikit balasan karena kau bekerjasama dengan Andre membVnvh mami ku yang juga bekerjasama dengan Navarro yang berani mencoba mengusik putri dari om Gama Pradapta." terang Daniel panjang lebar.


" Daniel, apa yang kau mau dari saya atas hadiah ini?" ucap Ernest senang. sudah lama dia ingin meniduri Devi, namun selalu kalah dari Daud.


" Tidak ada, selain meminta perlakukan dia layaknya ****** rendahan." ucapnya dengan melecehkan.


" Bahkan akan saya tambah dengan putri dan keponakannya sebelum saya titipkan ke bang Nathan." Daniel menyodorkan foto Jessica dan Mela ke hadapan Ernest.


" Berapa lama kau akan menitipkannya padaku?" tanya Nathan.


" Terserah Abang. dia milik Abang."


" Gratis?"


" Hmm."


Mumtaz menambahi," pastikan setiap dia melayani tamu, Daud dan Andre mengetahuinya. kami akan membagi akunnya padamu."


" Tentu."


" Nat, bisakah kau beri mereka gratis untukku setiap saya butuh mereka?" seloroh Ernest.


" tentu, bebas semau paman." jawab Nathan, seketika mata Ernest melebar senang.


" Ti..tidak .kumohon jangan kembalikan aku pada dunia p3l@cvr@n itu lagi." tolak Devi.


Dia sudah susah payah keluar dari jurang prostitusi dengan menjadi simpanan para pejabat yang menghadiahinya kehidupan sosialita meski hinaan dan cibiran masih menyertai langkahnya, tetapi barang mewah yang melekat di tubuhnya membungkam mulut julid itu.


" Ku mohon...beri aku hukuman apapun, tapi jangan kembali ke dunia itu."


Dunia yang dapat memastikan Daud menjauhinya, dia sudah bekerja keras meyakinkan hati pujaan hatinya itu bahwa dia bukan seorang psk lagi.


Tidak menghiraukan rengekan dan permohonan Devi, mereka meninggalkan kamar hotel itu, meninggalkan Devi dengan Ernest yang sudah membuka jas hitamnya diikuti pakaiannya yang lain....

__ADS_1


Tinggalkan jejak ya...yuk dukung cerita aku...


__ADS_2