Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
209. Duka Janu


__ADS_3

Flasback on.


Kini petinggi RaHasiYa plus Bara yang ditemani Budi berkumpul di lantai tujuh atas inisiatif Dewa dan Dimas.


" Para hacker masih berusaha menembus sistem d'lima, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dewa.


" Kau hubungi bang Domin, kita akan mematikan sistem kamera kita, biarkan yang bersiaga adalah sistem dari peme-rintah." ucap Alfaska.


" Bos, kalau rapat ini menyebar bahkan menjadi streaming akan bikin suasana makin kacau." Dewa berkeberatan.


" Lakukan saja, stabilitas kota bukan kewenangan kita. saat ini kita harus mengambil sikap ofensif yang brutal agar otak karatan mereka paham kalau kita tidak bisa dianggap sepele."


" Baiklah." jawab Dewa pelan.


Mereka membicarakan hal lainnya, Ibnu mencekal lengan Bara, ia menengadahkan tangannya.


" Apa?" tanya Bara bingung.


" DVD yang dikasih Mumuy. gue mau nonton." seketika gestur Abra gusar, matanya melirik Mumtaz yang melihat kearah mereka, tanpa kentara Mumtaz mengangguk.


" Ck, kalau udah nonton, janji Lo gak bakal pingsan dan baper." ucap Bara serius.


" Ck, lama. tinggal kasih." terpaksa Bara memberikan DVD tersebut padanya.


Fashback off


" Pak sekretaris. Panggilkan kepala BIN untuk berkumpul di istana sekarang juga.


Sepertinya petinggi RaHasiYa, para pejabat masih berkumpul di dalam ruangan atas arah kepala keamanan karena suasana di luar yang tidak kondusif.


" Pak Kapolri, anda pun turut serta saya ingin mendengar langsung dari kalian bagaimana rapat ini berhasil diretas." Seru pak presid3n.


" Apa setidakberdaya itu keamanan negeri ini dari para hacker?" gumamnya merenung.


" Pak..."


" Apa semua sistem pemerintahan berhasil mereka hack?" Potong presid3n saat sekretaris negara ingin angkat bicara.


" Sistem TNI, Lapan, dan pertahanan yang masih aman, mereka belum berhasil menembusnya." Tutur sekretaris kabinet sedikit berbangga.


" Atau kita tidak tahu jika mereka pernah menembusnya. bukankah kepolisian sudah mengklarifikasi kalau mereka tidak memiliki rekaman atas peristiwa pak Ergi tetapi lihatlah mereka memilikinya dengan komplit dan jelas." penuturan presid3n menyimpan seribu kemarahan. Semuanya bungkam seribu bahasa.


****


Brikade puluhan polisi diterjunkan oleh mab3s menjaga kemanan area cafe saat Toni bertindak bo+doh menyerang presid3n guna menghadang ratusan massa yang dalam sekejap waktu memenuhi jalan area cafe, mereka berteriak menghujat Toni.


Saat petugas membuka pintu cafe, blitz kamera menyerang wajah Toni yang dikawal Berto dan Timothy keluar dari cafe dengan tangan terborgol di belakang.


" Whoooo.... pengkhianat..." Teriak massa.


" Ma_ti aja Lo, tua bangka, gue keruk kuburan Lo." 


" Demi lo, gue rela kasih ongkir gratis peti jenazah Lo ke liang lahat Lo...


" Ular tanah sama cacing udah nunggu santap daging liat Lo, pria tuir..."


" Gak perlu tumpukan pasir buat got mampet, lempar saja dia ke got, supaya Jakarta ban-jir."


Pluk..ptas....prak....


Butiran demi butiran telur mentah nan busuk dilempar kearahnya beberapa mengenai kepala Toni dari arah massa ditengah hujatan mereka.


Berto dan Timothy segera melindungi Toni dari amukan massa membawanya masuk ke dalam mobil patroli.


Lautan manusia memenuhi jalan menyulitkan mobil patroli melewati massa, lemparan telur terus mengalir, brikade polisi membelah membuka jalan melawan melawan teriakan tidak puas bercampur amarah.


Membutuhkan banyak waktu akhirnya mobil itu bisa menerobos kumpulan massa yang terus berdatangan sambil berteriak marah ke arah mobil itu


Presid3n dan rombongan melewati petinggi RaHasiYa yang masih betah di cafe menonton adegan Toni, refleks mereka berbaris hormat pada sang pemimpin negara.


" Kalian masih di sini?" Tanya presid3n menghentikan langkahnya di hadapan mereka.


" Kami sedang menimbang membiarkan massa mengamuk dan menumbalkan anda atau biar kami yang menghadapi untuk meredam mereka." Ucap Alfaska pongah.


" Apa kalian rela pemimpin kalian dihina?" Tanya menteri BUMN.


" Kenapa tidak? Kan beliau yang milih Toni." Jawab Bara acuh tak acuh.


Para pejabat menampakan air muka geram, sementara presid-en menanggapinya tenang


" Kalau saya meminta kalian untuk meredam amarah mereka, apa kalian bersedia?" Tanya presid3n.


" Demi menjaga wibawa anda sebagai kepala negara adalah tugas kami selaku bangsa bermartabat." Tutur Ibnu.


Presid3n menelisik Ibnu seksama, karena  perkataannya yang kontra dengan seorang Bara Atma Madina tidak dianulir baik oleh Atma Madina maupun Birawa, dan Mumtaz.


Ia berpikir pemuda satu ini pasti memiliki peran sama pentingnya dengan petinggi RaHasiYa lainnya, namun mengapa portofolio tenaga dirinya tidak sayang begitu istimewa bahkan terkesan nyaris singkat.


" Saya berterima kasih, saya minta bantuan kalian."


" Baik, bapak pergilah dulu, serahkan mereka pada kami." Tukas Bara.


" Mari, anda lewat jalur belakang." Erwin menuntun presid3n dan rombongan ke jalan rahasia.


Mata petinggi RaHasiYa menyorot sinis sembari tersenyum smirk padanya saat ketua melewati mereka.


Begitu melewati Mumtaz, telinganya mendengar," Kau bersiaplah." Bisikannya cukup membuat ketua ketar ketir sontak tubuhnya kembali gemetar.


" Yud, Lo hadapi mereka dengan identitas bagian dari RaHasiYa." ucap Alfaska berjalan ke arah belakang cafe yang diikuti yang lain.


Setelah menghembuskan nafas Yuda dan seluruh ketua BEM dengan percaya diri menyapa para pencari berita.


Seluruh kejadian di dalam cafe terlihat oleh pandangan panglim4. kepalnya kini menoleh pada Zayin.


" Apa rapat tadi ditonton dunia?" tanya panglim4 gusar.


" Siap, tidak pak. mereka bilang hanya tayang khusus di Indonesia."


" Setidaknya para kakak mu masih punya nilai menghormati atas nama negar4 sehingga pemimpin kita tidak malu dimata dunia." sarkas panglim4 skeptis.


" Tapi di Indonesia banyak bule, pak. dan saya yakin apa netizen akan merepost ulang penangkapan Toni diseluruh sosmed." Ucpa Zayin santai.


panglim4 mengerang gregetan mendengar itu.


Derrt ..drrrt...


ponsel Zayin Bergetar.


" Angkatlah."


" Siap."


" Hallo."


"........"


Tubuh Zayin menegang, rahangnya mengadu.


" Mang, Ayin alihkan panggilannya ke panglim4 ya."


panglima menatap Zayin bingung" Pak, paman saya ada obrolan penting sama bapak." Zayin menyodorkan ponselnya pada panglim4.


" Hallo..."


"........"


" akan saya kirim pasukan ke sana. terima kasih atas informasinya."


klik...


" Zayin, bersiaplah, saya akan mengirim mu ke Tangerang."


" Siap, laksanakan."


******


Dengan terbirit-birit ketu4 berlari menyela para pejabat lainnya, sampai presid3n pun tidak dia hiraukan. Tingkahnya itu membuat yang lain keheranan dan memandang dirinya aneh, pasalnya dari ruangan tadi sikap ketua memang sudah meresahkan.


" Jalan." Ujarnya pada sang sopir begitu dia duduk di bangku penumpang mobilnya.


Ia melonggarkan ikatan dasinya dadanya terasa sesak nafasnya tersengal-sengal. Ia menyeka keringat dingin dari dahinya.


Drrtt...drrtt...


" Hallo." Salam ketua pada asisten pribadinya di sebrang.


" Tuan, akibat viralnya rapat tadi, para fraksi bersepakat untuk mengadakan rapat besar untuk mengadakan pemungutan suara  mencopot anda sebagai pimpinan d3wan."


" APA? bagaimana bisa?"


" Pak Agung dan pak Juna  memiliki bukti bahwa anda dekat dengan pak Toni yang disinyalir anda juga memiliki keterlibatan atas  perencanaan pembvnvhan terhadap pak Ergi."


Klik____


Saking kesalnya ketua memutus sambungan telpon.


" Agung...si tengik itu tidak pernah membiarkan ku tenang."


" Pak, kita ke rumah Agung." Titahnya pada sang sopir.


" Baik, tuan."


Tin..tin...


Ketua menekan klakson mobilnya sekeras mungkin di depan pagar gerbang rumah Agung, dia tidak sabar menghabisi rival abadinya dikancah politik.


Dari depan arah sebaliknya, satu motor baru tiba, terlihat Brian yang turun dari motor untuk menghampirinya.


" Itu anaknya bukan?"


" Maaf, tuan."  sopir bertanya balik.


" Dia, yang berjalan ke mobil kita itu anak dari Agung, bukan?" tanya ketu4.


" Benar, tuan."


Senyuman devil tersungging di bibirnya, tangannya terulur membuka kotak diantara kursi depan.


Ia mengambil pistol, semakin dekat Brian ke mobilnya, ketua menurunkan kaca jendelanya.


Dengan seringai culas itu mengeluarkan pistol lalu menembaknya.


Dor...dor....


Brian terkejut melihat pistol yang diarahkan kepadanya, langkahnya terhenti, namun sayang dia belum sempat menghindar.


" Aaaawss..." Ringisnya tersentak kaget memegang pinggangnya, sesaat kemudian ia melihat telapak tangannya berdarah 


Sang sopir yang mendengar suara tembakan dari kursi belakangnya terlonjak bukan main,  matanya membulat besar.


" Pergi, cepat gas mobilnya." Seru ketu4 menutup kaca jendelanya.


" Ba...baik, tu..tuan." sopir melakukan kencang mobil tersebut.


Terlihat Brian tersungkur dengan tangan masih di pinggangnya, dua satpam membuka pintu gerbang bergegas berlari saat melihat tuan mudanya membungkuk di atas aspal." Tuan muda." Jerit dua satpam itu.


" Saya..tidak.. apa-apa...cuma keserempet..." Nafasnya ngos-ngosan.


" Tuan, anda tertembak. Saya akan panggilkan ambulance." Satu satpam berlari kembali ke dalam pos jaganya.


Satu satpam menambal tangan Brian yang menutup pinggangnya dengan handuk kecilnya. Dia menyangga tubuh Brian yang semakin melemah.


Menggunakan satu tangannya yang bebas, Brian mengambil ponselnya dari saku celananya.


" Hallo, pah."


" Ada apa nak? Kamu kenapa?" Tanya Agung khawatir, suara anaknya terdengar beda.


" Its okay, tadi ketua menembakku, tapi meleset, aku cuma keserempet pelurunya aja." Bohong Brian santai, seakan kejadian ini bukan hal besar.


" APA? Sekarang kamu dimana? Bagaimana..." Agung berdiri dari kursinya.


" Pah, don't worry. Aku gak bisa buang waktu, aku sekarang justru mengkhawatirkan papa dan om Janu. Ketua sedang menggi-la, aku khawatir dia menuju tempat om Janu. Papa kasih tahu beliau. Aku tutup telponnya, pah." Ucap Brian dalam satu tarikan nafas wajahnya sudah dipenuhi keringat yang sesekali disela oleh satpam.


" Shesshhhh, aaaws.." lukanya sungguh ngilu bercampur sakit.

__ADS_1


" Tuan muda. Beristirahatlah. Anda jangan banyak bergerak." Tutur satpam yang menjadi tempat bersandar Brian.


" Nanti, saya harus menelpon seorang lagi." Satpam itu khawatir karena suara tuan mudanya semakin memelan.


" Halo." Salam Mumtaz.


Mumtaz menghentikan gerakannya yang hendak menarik kepala kursi.


Ia berjalan ke arah Dewa yang duduk di pojok  kiri pintu bersama Dimas. Memberi kode untuk melacak panggilan telpon ke ponselnya.


" Gue...ditembak...ketua..." ucap Brian dengan suara lemah.


" Hmm. Gimana keadaan Lo?"  Mumtaz memperhatikan Dewa yang bekerja cepat di atas keyboard komputernya


Melalui nomor panggil, Dewa berhasil menemukan posisi Brian. Layar lebar memunculkan peta kompleks kediaman Brian daerah blok M. Semakin akan titik itu semakin jelas hingga memunculkan wajah Brian yang meringis.


Di bilah layar satunya Dimas mencari posisi ketua.


" Ketu4 sialan, pinggang gue kena." Brian melirik tangannya yang sudah dibanjiri darah.


" Mau Lo? Sekarang dia pergi ke arah Kuningan. " Mumtaz melihat titik merah di layar bagian bilah bagian ketu4.


" Itu yang gue takuti, itu area kediaman om Janu. Selamatkan beliau. Apapun keadaannya lumpuhkan dia."


" Oke, gue tutup telpon Lo. Ambulance udah di depan perumahan Lo."


" Hmm."


" Wa, tugasi Leo dan Bisma untuk menuju apartemen. pak Janu."


" Siap."


Klik....


" Fokus ke ketua, rekam semua pergerakannya." Titah Mumtaz.


Sedangkan paraa sahabatnya menunggu dan turut memperhatikan.


Seiring putusnya sambungan itu, mata Brian perlahan mulai sayu.


" Tuan, buka matanya." Satpam menepuk-nepuk pipinya.


" Sa...ya....ingin istirahat..."


" Enggak, tuan. Nanti saja istirahatnya." Satpam itu memegangi kelopak mata Brian memaksa agar tetap terbuka.


" Mang, ambulance nya mana? Lama amat." Teriak satpam muda itu.




Di dalam mobil, ketua mengusap kasar wajahnya yang ketakutan. Ia masih tidak menyangka ia bisa melepaskan tembakan.



dituangnua *handsinetizer* banyak ke telapak tangannya, kemudian ia mencuci tangannya kuat-kuat seakan bisa menghilangkan diri dari dosanya. lantas dia menelpon seseorang.



" *Hallo*."



" Kau harus menyelamatkan ku." Ucap ketua cepat.



" *Apa maksudmu*?" Ujar sok tidak mengerti dari lawan bicaranya.



" Jangan bermain-main dengan ku, Toni sudah tertangkap."



"  *Saya sungguh tidak paham apa yang kau katakan*. 



" Keluarkan saya dari negeri, bede-bah." Bentak ketua.



" *Hahaha, apa kau gila? Ini negerimu, kau yang punya kekuasaan di sini saya hanya orang asing yang tidak punya kekuatan apapun*."



" Navarro, kau tidak bisa membuangku begitu saja setelah apa yang sudah saya lakukan untukmu."



" *Saya sudah membayar jasa anda dengan harga mahal, Ketu4*." ucap sinis Navarro di seberang sana.



" Akan saya kembalikan asal kau bisa mengeluarkan saya dari sini."



" *Saya tidak berminat, anda sudah tidak saya butuhkan lagi*."



" Navarro, kalau saya tertangkap, kau pun habis." 



" *Apa kau tahu dimana saya? Kau saja tahu apalagi mereka*."



" Kau pasti sudah melihat rapat tadi kalau mereka saja bisa menembus pertahanan keamanan *cyber* negara apalagi denga sistem keamanan mu." Sanggah ketua.




Dibaliknya, bibir matunda menyeringai meremehkan atas ucapan Navarro.



" *Kau*..."



Klik\_\_\_\_



Navarro menutup sambungan telpon, kemudian dia menekan kontak seseorang.



" *Hallo, tuan*."



" Bagaimana keadaan empat gadis itu?"



" Aman, tuan."



" Apa kau sudah memastikan RaHasiYa tidak mencium keberadaan kalian?"



" *Saya sudah pastikan. mereka say tinggalkan di desa Baduy dalam yang terbebas dari teknologi, tuan*."



" Lantas bagaimana kau bisa menjawab teleponku?"



" *Eh, ...itu..tuan..saya sedang di ujung kulon memeriksa persiapan terakhir seblum anda memerintah kami*."



" Baguslah, apa mereka sudah siap?"



" *Kami tinggal menunggu perintah dari anda untuk meluncurkannya* "



" Bagus. say luas kinerja kamu."



klik....



" Bagus, seperti biasanya." ucap Damian di depan muka penculik yang duduk di lantai lembab gudang.



" Sekarang m, katakan apa rencana bule gi-la itu."



Sang penculik yang wajahnya sudah tidak karuan diam tidak merespon.



" Supertinya siksaan dari kami tidak cukup bagi kalian." Ucpa Damian menatap ke seluruh penculik itu.



" Om, please jangan pukul mereka lagi, saya kesulitan membentuk wajah mereka." keluh Alex.



BUGH....



Satu tonjokan Damian lepaskan tepat mengenai hidungnya yang langsung berdarah.



" UPS, kelepasan, Lex. *sorry*." Damian menutup mulutnya berlagak seperti seorang wanita sok imut.



Alex menatap malas seorang Prakasa satu ini, dia sangat kesusahan meniru wajah dari keenam penculik para bocil yang sedang dicetak. pasalnya seluruh bagian muak itu tidak ada yang utuh. bahkan rahang mereka pun telah bergeser.



" Aaws..." lirih penculik tersebut.



" Katakan apa maksud darinya. kau tahu dia berbahaya untuk neger1 ini, mungkin sekarang kau seorang penjahat, tapi sebagai poli-s1 apakah di hatimu sudah tidak ada rasa patriotisme?" tekan Damien tegas.



Para penculik Tiu tertunduk dalam, mereka sedang bergulat dalam hati.


__ADS_1


" Apapun yang dijanjikannya itu semua omong kosong. kau tahu, bahkan hari ini Toni tertangkap sebagai tersangka pelaku pembu-nvhan. di bule itu dalam posisi lemah, dan bangsa ini meski dipenuhi pengkianat macam kalian masih bukan tandingannya." tukas Damian menyimpan kemarahan yang terpatri dari sorot tatapan tajamnya.



Mereka serempak mengangkat wajahnya terkejut



" Di...dia.. sedang menyiapkan roket guna menghancurkan kompleks kesultanan Banten lama." tutur pelan satu penculik lainnya.



" APA?" Pekik Haidar sangat terkejut dari arah gelap gudang yang tidak jauh dari pintu.



Ia melangkah mendekati mereka. menatap tajam mereka khas jawara.



" Sepertinya kalian sudah lama bertugas di Banten, jadi kalian pasti tahu siapa saya. kalian tidak punya pilihan selain tunjukan dimana saja letak roket itu berada di Banten."



Perlahan kepala mereka mengangguk." sebaiknya Abang hubungi Zayin, walau terlalu ganteng, tetap saja dia seorang tentara." kata Damian



Haidar terkekeh." iya juga ya." Haidar berjalan kembali ke kursi yang semula didudukinya untuk menghubungi keponakannya atas berita yang baru mereka dapatkan.



\*\*\*\*\*\*\*



Juna langsung meninggalkan rapat fraksinya saat mendapat telpon dari Agung, ia mengabaikan panggilan dari para rekannya.



Kakinya terus berlari melewati tangga darurat karena lift yang lama, satu tangannya memegang ponsel yang menempel di telinganya, ia menelpon istrinya berkali-kali namun tetap tidak diangkat.



" Ayolah sayang, angkat telponnya." Ia melihat telpon memastikan saluran telpon tersambung.



Wajahnya sangat tegang menyiratkan ketakutan langkah besarnywalau memacu dia terus berlari wali sesekali dia menabrak orang yang dilewatinya namun tidak dia hiraukan.



Begitu sampai di lobby, mobilnya sudah tersedia. Langsung dia masuk ke bangku penumpang.



" Pak langsung ke apartemen ya."



" Baik, tuan." Jawab sopirnya.



\*\*\*\*\*



Amelia menari-nari kecil lincah di depan kompor yang menyala, ia sedang mengolah sayuran capcay diiringi musik lagu butter milik BTS.



" Moga kamu kayak Jungkook oppa, nak." Guraunya sambil mengelus perut yang sedikit membuncit.



Suara nyaring dari DVD playernya meredam getaran ponselnya yang tergeletak di atas meja makan yang tidak jauh dari dapur yang terus bergetar.



Ting...nong....



Seorang pria meski air mukanya gusar masih sempat merapihkan rambutnya yang agak berminyak, mengencangkan dasinya yang sedikit melonggar. Menanti pintu unit apartemen yang dia tekan dibuka.



Berdecak kesal karena pintu tidak kunjung terbuka, kembali dia menekan bel pintunya.



" Iya, iyaa..tunggu..." Senyumnya terbit saat mendengar  suara lembut dari dalam.



Cklek...



Sesaat Amelia tertegun kaget tangannya yang memegang handel pintu mengerat. Alih-alih mempersilakan sang tamu masuk, Amelia memilih sedikit mengeluarkan tubuhnya dari unitnya, ia menutup pintu di belakangnya.



" Pak ketua, ada apa ya?" Mas Juna di Senayan."



Matanya menatap mesum Amelia, ia menjilat bibir bawahnya yang tampak menjijikan di mata Amelia, namun tidak bisa ia perlihatkan.



" Tidak menawari saya masuk?"



" Maaf, tapi saya tidak bisa menerima tamu jika mas Juna tidak ada."



" Saya mau ketemuan dengan Juna, bisa saya menunggunya di dalam?"



" Bagaimana kalau kita menunggunya di cafe lobby?"



" Tidak bisa, saya terburu-buru."



" Karena itu..."



Ketua mencekal pergelangan tangan Amelia, mengerat ya kuat-kuat." Rupanya kau tidak bisa dibohongi. Buka pintunya."



Amelia menggeleng, ia mengigit tangan ketu4 yang mencekalnya, kemudian berlari menjauh dari pintu meminta pertolongan. 



" Kyaaaa..." pekik marah ketua.



Dia melihat bagaimana Amelia panik ketakutan berteriak meminta tolong. Senyum devil menghabisi tersungging bibirnya.



Tubuh tambunnya berlari menyusul Amelia, dan rahangnya mengeras sambil mengeluarkan pistol saat Amelia menekan tanda Darurat tidak jauh dari lift. Butuh 15 menit sebelum seluruh pintu terkunci otomatis.



Amelia menekan tombol lift, matanya melirik antara lift yang menuju naik dan ketua yang semakin mendekat.



" Please buka..." mohonnya



Matanya melebar saat melihat pistol memoncong padanya.



Dor....dor....dor....dor....dor....



Ketua menembak secara brutal sampai pelurunya habis.



" Kya...."



Pada saat tembakan terakhir dilepas dan mengenai perutnya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.



Ketu4 bergegas pergi meninggalkan lantai lewat tangga darurat, tubuh tambunnya yang dipaksa dikuras tenaga membuat gerakannya melemah karena menuruni gedung dari lantai 24. pada lantai 21 dia keluar dari tangga darurat setelah melempar pistolnya ke tempat sampah yang terletak di depan pintu darurat.



Dia mencoba bersikap santai bersama yang lain berebut tempat keluar dari gedung atas sirine keamanan lewat lift.



Tubuh wanita itu meluruh, matanya membola menatap perutnya yang sedikit buncit tertembus pelu-ru air matanya mengalir lancar memenuhi pipinya, saat mendengar pintu terbuka Amelia menatap pintu itu, matanya bersirobok dengan mata Juna yang terbeliak terkejut dari arah dalam lift bersama Bisma dan yang lain yang juga sama terkejutnya.



 Tepat di depannya Juna melihat tubuh istrinya menurun hendak menubruk lantai, namun keburu dia sanggah, ia pangku tubuh yang melemah itu, matanya mulai tertutup.



" TIDAAAKKKK...." pekik kuat Juna membahana mengisi lorong lantai unitnya.



" Tidaakk....sayang ...bangun, sayangggg...." Juna mengusap lalu menepuk pipi istrinya yang tidak meresponnya.



" TIDAAAKKKK, ku mohon bangun sayang..." Lirihnya.



" Ku mohon,... anak..." Tatapan kosongnya menatap perut istrinya saat menyadari anak dalam kandungan istrinya, dan wajahnya menegang saat limpahan darah keluar dari perutnya yang tertembak.



" Tidak ..tidakkkk...." teriak Janu meraung membahana memenuhi lantai sampai urat lehernya keluar, airmatanya menghujan deras di pipinya yang ditempelkannya di wajah istrinya, ia menangis pilu.



Seseorang yang biasa berjalan tegak dengan tatapan tak takut pada siapapun kini bersimpuh di atas tubuh istrinya, tangannya dipenuhi darah yang terus merembes, dalam hitungan detik tangan itu sudah tertutupi darah segar menyelimuti tubuh yang tidak bertenaga itu., lantai putih sudah ditimpa warna merah yang terus melebar.



Di lantai lobby, ketu4 berhasil keluar beberapa detik sebelum pintu utama tertutup para secara otomatis karena alarm keamanan itu menyisakan para penghuni yang terjebak dalam gedung....

__ADS_1


__ADS_2