
Perkataan Adgar sontak membuat Zahra dan Hito tercengang tidak percaya.
Zahra mencengkeram kemeja flanel Adgar," apa maksudmu, Adgar?" tanya Zahra menuntut.
Adgar gelagapan, karena cengkeraman Zahra begitu kuat." kak, lepas dulu. kita bicara baik-baik.
Prang...
Suara beling pecah mengagetkan semuanya, mereka menoleh ke arah suara, tubuh ketiganya menegang karena khawatir. begitupun dengan Akbar yang berdiri tegang di ujung anak tangga yang membawa segelas susu untuk Tia.
Akbar tidak sengaja mencuri dengar ucapan Adgar, maka ia langsung menelpon Bara kembali menuruni anak tangga.
Adgar, Zahra dan Hito mendapati Tia yang berdiri kaku di bang pintu dengan raut terkejut," Adgar, benarkah itu?"
" Benarkah yang Lo bicarakan itu?" tanya Tia dengan suara bergetar.
Ia hendak melangkah mendekati Adgar, namun dicegah Zahra.
" Tia, diam di tempat banyak pecahan beling." tahan Zahra mengulurkan tangannya
Tia pun mengurungkan niatnya, ia menatap Adgar menuntut jawaban, namun Adgar bungkam seribu kata. ia tidak tahu harus menjawab apa.
" Aaws...," rintih Tia saat merasakan perutnya sakit karena kram.
" Aaaaaarrggggkkh..." pekik Tia tidak tahan karena sakitnya semakin kuat.
Tia sedikit membungkuk memegang perutnya yang sakitnya semakin lama semakin menjadi, Zahra dengan sigap berlari menghampirinya menghindari beberapa pecahan beling meminta bantuan Hito dan Adgar agar membawa membawa Tia ke dalam kamarnya.
Teriakan Tia lah yang membuat seisi rumah kelimpungan. Hito menitah Adgar untuk membersihan pecahan beling, dan Orang-orang yang berada di lantai bawah bergegas berlarian ke lantai dua berdiri di d papan kamar Tia karena Adgar yang lelet membersihkan pecahan itu sendiri.
" Ini gak ad ayang mau bantu?" tanya Adgar, mereka serempak menggeleng.
" Ck, aku CEO lho."
" so..." celetuk Dista.
" Ya masa CEO perusahaan besar ngebersihin beling." dumel Adgar.
Di dalam kamar tia, aura rintihan bercampur teriakan kesakitan semakin keras.
" Adgar, cepetan. malah ngedumel." omel Sri.
" Gar, mantu papi lagi kesakitan itu, cepatan bersihinnya." desai Aryan.
" Silakan, ratu galak." tidak berapa lama Adgar menyelesaikan tugasnya.
" Kyaa..... sakit..." erang Tia.
Semuanya menyingkirkan Adgar hingga ke jatuh dari hadapan mereka, mereka berlari kecil masuk ke kamar Tia.
" Memang tidak peduli setinggi apa kedudukan Lo, di d pan keluarga Lo gak ada harga dirinya sama sekali, gue stop transferan ke rekening mereka, nanti nangeeesss." gerutu Adgar.
Saking banyaknya orang yang datang sampai beberapa orang berdiri diluar kamar.
" Pa..Pi..." Rintih Tia memanggil Aryan.
Aryan yang hendak menghampiri, mengurungkan niatnya saat mendengar suara Zahra.
" Ya, tarik lalu buang napas dulu. Kita urus perut kamu yang kram dulu baru manggil papi." Anjur Zahra yang ditolak Tia dengan menggeleng.
" Pa..Pi...." Tia memegang perutnya yang sakit.
" Tia, ikuti kakak. Tarik lalu buang napas pelan-pelan. Relax." Ucapnya lembut.
" Pa..Pi..." Tia masih kekeuh.
Zahra yang sedang dalam mood yang jelek habis kesabaran,
" TIA....IKUTI KAKAK, BUKAN WAKTUNYA NGEYEL ATAU KERAS KEPALA. KAMU MAU KEHILANGAN ANAK KAMU?" Bentak Zahra marah. Tidak hanya Tia yang cemas namun dia juga sedang mencemaskan kedua saudaranya.
Bentakan Zahra mengagetkan semuanya yang hadir menyebabkan Crystal dan Adelia menangis ketakutan.
Eidelweis dan Nadya segera membawa keduanya keluar, dia takut Zahra kembali marah.
Tubuh Tia gemetaran ketakutan, namun Zahra tidak menurunkan mimik wajahnya menjadi melembut.
Akhirnya Sri maju dan duduk disamping ranjang memegang tangan Tia, Ya ia yang merasakan ada genggaman dari tangan hangat itu langsung membalas pegangannya mencari kenyamanan bagi dirinya.
Satu tangan yang lain mengusap lembut " Ya, ikuti dulu kakak kamu atau kamu ditelan hidup-hidup olehnya. Kamu tahu kan gimana galaknya kakak kamu?" Seru Sri lembut seraya mengusap punggung tangan Tia.
Zahra melanjutkan usahanya." Sekarang dengar, perut kamu kram, gak baik buat anak kamu. Turuti kakak, paham!?" Tegas Zahra mengintimidasi.
Tia hanya bisa mengangguk lemah, ia mengikuti instruksi Zahra.
" Ayo tarik, lalu buang napasnya secara perlahan-lahan." Ucap Zahra menghembuskan napasnya berirama lembut.
" Tarik....buang....tarik....buang ....tarik.... Buang...." Saking fokusnya mereka terhadap Tia semua orang yang mendengar Zahra mengikuti instruksinya terus berulang kali sampai akhirnya Tia dan perutnya tenang kembali.
Zahra mengusap sayang perut Tia sebelum meninggalkan kamarnya. Saat melewati Adgar dia langsung menarik tangannya.
" Jelaskan apa yang kamu bicarakan tadi."
__ADS_1
Aryan bergegas ke samping Tia, mengusap-usap keningnya." Pa..Pi.." Aa Afa...Pi..." Rengek Tia.
" Sayang kamu tenang saja, Afa pasti baik-baik saja."
" Pengen telpon.... Aa Afa...."
" Iya kita telpon Afa." Aryan mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya.
Dista dan Sisilia mengelus Tia penuh iba." y
Ya, Lo harus kuat." ucap Dista.
Sesampainya mereka berdua di lantai satu yang ternyata di ruang tamu Adelia masih menangis dalam pangkuan Heru, sedangkan Crystal sudah tenang dan sedang minum susu.
" Ayah,...aku mau ketemu Aa Ayin... hiks..." rengek Adelia.
Rengekan ini hampir setiap hari mereka dengar sejak kepergian Zayin.
" Del, belum bisa. nanti kita ketemu kalau Adel jadi anak baik." bujuk Heru.
Heru yang menggendong Adelia melihat banyak orang yang turun, lantas ia pun beranjak memilih keluar dari sana atau Adelia akan manfaatkan situasi itu dengan cari perhatian dengan menangis lebih histeris yang merupakan buah keahliannya.
" Telpon Ayin aja om kalau Adel-nya gak mau berhenti nangis." Ujar Zahra sambil membawa Adgar ke ruang tamu, mendudukkannya di sofa panjang, tapi ternyata bukan hanya mereka berdua yang turun, namun semuanya.
Heru yang berjalan sampai di ambang pintu berhenti sejenak, " takut ganggu."
" Gak bakal. Tahu sendiri Ayin gak bisa nolak Adel daripada dia nangis sepanjang hari. Kasihan suaranya udah serak banget itu."
" Ya udah, saya telpon di dulu.
Maka di sinilah Adgar dikelilingi orang-orang yang penasaran.
Adgar menghela napas berat," aku sendiri belum tahu pasti apa yang terjadi, tadi raja menelpon dan memberitahuku kalau gedung RaHasiYa dikuasai Navarro. Hanya sampai situ, gak ada yang lain jadi kalau ada yang mau bertanya pending dulu."
Semua orang bungkam menelan kembali pertanyaan yang siap mereka layangkan.
" Sebagai bagian dari RaHasiYa, aku mau ke Jakarta bergabung dengan yang lain." Ucap Adgar.
" Aku juga." Sahut Zahra yang mendapat sambutan penolakan dari para lelaki, khususnya Hito.
" Sayang...."
" No debat. Aku, kakak mereka tidak peduli mereka tidak suka, aku harus melihat mereka." Zahra beranjak ke kamarnya.
Di bawah tangga, dia berhenti dan melihat Adgar." Tunggu kakak, atau ku potong burung mu." Ancam Zahra yang berhasil membuat Adgar menelan sulivanya sambil memegang selang-kangannya.
******
Ceklek....
Petinggi RaHasiYa, Jeno, Bara, Leo, dan Zayin yang tengah terlibat pembahasan serius tengah berdiri mengelilingi meja besar.
Arah pandangan mereka semua tertuju pada siapa yang masuk begitu Mateo menampakkan diri, dengan langkahnya yang besar Zayin langsung menghampirinya, ia mence-kik leher Mateo mengabaikan wajah lebamnya Zayin langsung menghajar wajah itu tepat di hidung dalam satu pukulan.
" Aaaaaaarrggggkkh..." pekik Mateo yang memegang hidungnya yang mengaitkan darah. ia mimisan.
Namun teriakan itu tidak menghalangi niat Zayin yang ingin menghajar Mateo, ia begitu murka saat mengetahui.ateo membantu Navarro menerobos keamanan gedung.
Terbiasa dengan gerakan taktisnya tanpa banyak gerak Mateo berhasil mengerang kesakitan dilantai dengan memegang perutnya yang tak henti ditendang Zayin.
Sedangkan yang lain menyambut Rodrigo dan Diego, mereka duduk di sofa mewah nan elegan.
Dengan posisi dimana Daniel dan Bara duduk saling berjauhan dengan satu, bergestur marah, dan satunya lagi bergestur tenang namun terasa menjarak.
Mereka enggan melerai mereka berdua, Zayin dalam kondisi tebas labas.
" Saya hubungi rumah sakit dulu." Ucap Mumtaz yang berdiri lalu berjalan ke arah meja kerjanya.
" Terima kasih." Timpal Rodrigo.
" Maafkan adik saya yang sedang dalam kondisi membantai."
" Tidak masalah, dengan syarat semuanya terselesaikan."
" Saya tidak pernah mempermasalahkannya." Ucap Mumtaz kalem.
" Karena Navarro got nothing at all." Ucap Alfaska sambil mengambil ponselnya yang bergetar dari kantong celananya.
Rodrigo dan Diego diam, mencerna perkataan Alfaska.
" Permisi, papi menelpon saya." Alfaska pergi ke ujung ruangan.
" Please....forgive me." Titih Mateo.
" **** you, man. Lo pikir sehebat apa Navarro hingga Lo mikir kalau kita agak tahu mereka memasuki gedung RaHasiYa." Umpat Zayin.
Zayin menginj4k dada Mateo yang sedang mencoba menarik napas bagian orang yang sekarat setelah ulu hatinya dihajar habis-habisan olehnya.
Krek....
__ADS_1
" Aaaaaaaaa.,.." jerit Mateo tertahan mengiba.
Satu tulang rusuknya dengan mudah dipatahkan dengan manenagis mudah oleh Zayin.
Mata Zayin menajam menatap Mateo yang sudah tidak berdaya.
" Kau 1diot." Tukasnya meninggalkan Mateo yang tergeletak di lantai.
" Yin, telpon dari om Heru. beliau nelpon Lo katanya hp Lo gak aktif." seru Bara mengulurkan ponselnya.
" Ada apa?" Zayin menerima ponsel Bara.
" Adel gak berhenti nangis. om Heru udah frustasi menghadapi amukan Adel."
" Si itik satu ini, kenapa makin rewel. biasanya tenaga kalau ditinggal. gue pergi dulu, kalian teruskan pembicaraannya."
Zayin pergi ke ruangan sebelah yang merupakan ruang rapat internal.
Sepasang Zayin pergi, tidak lama ponsel keempat petinggi RaHasiYa membunyikan alarm bahaya. setelah diperiksa alarm tersebut dari Geudong RaHasiYa.
Mereka saling lirik, Alfaska mendekati sofa," Jeno, Leo. kalian pergilah, amankan lantai ruang kerja Ibnu."
Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi raut tenang waspada yang dilancarkan Alfaska dan petinggi RaHasiYa lainnya membuat mereka paham ada sesuatu bahaya yang akan terjadi.
" Siap." Jeno dan Leo pergi tanpa bertanya.
Di saat seperti ini bukan waktu mereka bertanya, mereka hanya diharuskan mematuhi setiap perintah tanpa protes.
Rodrigo dan Diega yang sudah biasa malang melintang di dunia ketegangan, melihat raut waspada dari petinggi RaHasiYa tahu sesuatu telah terjadi.
" Tuan Rodrigo, tuan Diego. kami mengundang kalian ke gedung RaHasiYa." ucap Mumtaz dengan senyum tulus diwajahnya.
" Dengan senang hati kami akan datang." sahut Rodrigo.
" Maaf ,kami tidak bisa menjamin kalian lebih lama, karena kami ahrus segera pulang.." ucap Daniel yang diiyakan oleh Mumtaz, membuat bara bingung.
" Kalian bisa datang ke gedung RaHasiYa pukul 12 Siang besok." seru Mumtaz.
" Tentu." jawab Rodrigo.
******
Mereka tiba disaat Romli tengah melakukan sesi konsultasi dneg Radit. saat mendengar suara banyak kendaraan yang berhenti di teras mereka menyudahinya.
Kedua berjalan membuka pintu belum diketuk." Akhirnya kalian pulang setelah tiga hari kalian pergi tanpa kabar" sambut Romli.
" Sorry." jawab Mumtaz
" Mi, kalau tidak keberatan, tolong bahkan kami sandwich. bawa langsung ke ke rumah belakang ya." pinta Alfaska.
" Tidak sama sekali. sandwich otw." sahut Romli sumringah, ia berjalan ke dapur.
" Baimana keadaannya?" tanya Mumtaz.
" Lebih baik, dia hanya syok saja kerena apa yang ia lihat terlalu brutal." jawab Radit.
" Thanks selalu menemani dia."
" Jangan sungkan, Lo tahu gue peduli."
" Gue ke kamar dulu."
" Gue bantu Romli di dapur."
Radit tidak melihat para sahabatnya yang lain yang beberapa hari ini selalu mengintili mereka. dia pahamsesuatu terjadi.
" Rom, nginep di rumah gue yuk."
" Kenapa?"
" Nginap aja. Lo gak bosen tiap hari kuliah-pulang,pulang -kuliah."
" Gak, ini cara gue berteriak berterima kasih pada mereka." jawab Romli hari.
Di dalam kamar, mereka bukan beristirahat melainkan sibuk memberi titah dengan para bawahan mereka.
******
Setelah mengalami gonjlakan mental, Navarro berjalan menuruni undakan tangga dengan tawa sumringah.
Setelah Matunda mengobatinya doa dibawa ke kamar tidurnya dibantu para pengawalnya.
Matunda yang melihatnya mengerti heran.
" Matunda, Kita pergi, siapkan amunisi sebanyak mungkin."
" kemana kita akan pergi?"
" Gedung RaHasiYa. mumpung mereka sibuk dengan pencarian mereka terhadap para wanitanya."
Matunda mengangkat alisnya heran mendengar perkataan Navarro," tapi tuan, belum semua lantai diisi b0m." ucap Matunda.
__ADS_1
" Itu mudah. kumpulkan seluruh pasukan, sebentar lagi Dunia akan tahu siapa yang paling berkuasa."ucapnya menyeringai culas...