
" katakan padaku apa yang kau katakan adalah suatu kebohongan!?" Bentak Brotosedjo.
Dia beranjak dari atas Adinda yang protes karena belum terpuaskan, namun diabaikan oleh Bram.
Matanya menyalang, sembari mengancingkan celananya dia melangkah lebar ke hadapan Miranda. Menatapnya murka.
" Aku sudah mengatakan padamu kalau aku hamil anakmu." Miranda mengatakannya dengan tenang menolak diintimidasi oleh Brotosedjo.
" Kau tidak pernah mengatakan itu Adinda?"
" Untuk apa? Aku sudah mempersiapkan dia sebagai alat balas dendam ku atas penolakan mu untuk menikahiku."
" Kau hanya pel4cvr ku."
" Begitu juga istri tercinta mu, aku terima penolakan mu jika yang kau cintai wanita terhormat, tetapi kau menolakku hanya untuk j4l4nk lain, itu ku jadikan penghinaan." Miranda menekankan retorikanya.
" Aku menikahi Riska Irawan."
" Miranda tertawa sinis," hanya untuk bisnis, dan memenuhi kehidupan mewah j4l4ng itu, walau pada akhirnya dia membuang mu begitu tahu kamu mencuranginya." Matanya melirik kepada Naura yang terdiam kaget.
Brotosedjo terdiam, dia merenung." apa kamu yang memberitahunya mengenai Naura?"
Miranda tertawa penuh kemenangan." Tentu, aku tidak rela melihatmu hidup senang setelah kamu membuatku terluka."
" Kamu tidak bisa memaksakan cinta." kesal Bram.
" Tentu bisa, aku bisa memaksakan keadaan Rudi Aloya untuk meninggalkan Amara yang notabene kakak dari Naura yang sedang hamil untuk menikahiku dengan alibi hamil anaknya."
" Apa dia akhirnya mencintaimu'?" sarkas Brotosedjo.
" Seharusnya, jika saja suvnd4l itu tidak kembali, dan menggodanya. Kami sudah hidup bahagia." Ucapnya sedih.
" Tapi kenyataannya, Rudi selalu bertekuk lutut dihadapan Amara."
" Dan kamu yang membawa kehadapannya." Hardik Miranda meradang.
" Demi membalas sakit hatiku, aku mencekoki putrimu yang berusia 4 tahun dengan f1lm p*rn0 dan memaksanya untuk memperaktekannya bersama Samuel saat berusia 13 tahun dihadapan ku, itu dilakukan secara rutin, sehingga menghasilkan dia yang hipers3ks, sama sepertimu."
Brotosedjo memejamkan mata menahan emosi, tangannya mengepal kuat-kuat.
" Di hari pertama kamu menggaulinya, sebagai hadiah bisnis kesepakatan kamu dengan Aloya, itu hari kebahagiaanku. Kamu sungguh menidvri anakmu sendiri. Bagaimana rasanya? Nikmat?" Ejek Miranda.
Brotosedjo mengutuk dirinya yang tidak bisa menahan h4sratnya setiap kali bersentuhan dengan Adinda.
" Kau j4h4n4m." Bentak Brotosedjo frustasi.
Naura menatap pertengkaran mereka dengan bingung.
" Mas, apa benar kamu selingkuh dibelakang ku?"
Brotosedjo terdiam, sebelum ia menganggukan kepala dengan lemah.
" Naura, jangan bertingkah menjadi pihak korban, kamu sendiri selingkuhan dia dari nyonya Riska." cibir Miranda.
Naura terdiam,
" Hidup mewah mu disokong oleh Irawan corp, begitu dia tahu suaminya menyimpanl seorang gvnd1k, sang nyonya mencabut semua fasilitas dia." Miranda menjeda sesaat agar otak kecil Naura meresapinya.
" Cintabutanya padamu mendorong dia ke bisnis gelap bekerjasama dengan Gonzalez mengajak Aloya yang serakah melebarkan sayap lebih luas dari casino dan pelayanannya."
Miranda menunjuk lurus ke muka Brotosedjo, " dia yang menjadikan Surga Duniawi menjadi pusat perdagangan ilegal dari segala bentuk ilegal yang mengantarkan kita semua berada di sini."
" Tetapi Gonzalez tidka di sini..." bingung Naura.
" Dia ditempatkan di tempat lain..." ucap Tamara pelan.
" Mas, Kenapa kau selingkuh? Aku sudah melakukan yang terbaik untukmu, kehidupan mewah itu bukan keinginan ku."
" Kau terlalu lemah untuk b1r4hiku yang tinggi. Aku tidak tega memaksakan kehendakku atas dirimu."
" Mas,...Kenapa dengan kakak ku?"
" Dia haus b3lai4n dari pria, Damar Hartadraja tidak pernah menyentuhnya."
Seketika tawa membahana." Hahahaha, kasihan sekali dia. Susah payah menjebak sang milyuner agar anaknya menyandang namanya, tetapi dia disia-siakan." Tawa Miranda memenuhi seluruh ruangan.
" Dan berakhir mengenaskan dipinggir jalan beserta anaknya bagaikan gembel." Cemooh Miranda.
" Om,...kemarih...aku..belum...keluar..." rengek Adinda minta dipu4skan.
" S14l..s14l..." Bahkan disaat seperti ini hasratnya masih saja liar, dia mengutuk penyakit hipers3ksvalnya.
" Kau ingin melihat aku mengg4vli anakku bukan? Kau akan lihat, toh sebentar lagi hidup kita akan tamat." Geram Brotosedjo.
Tidak dapat menahan lagi, dia buka kembali kancing celananya, melangkah menuju Adinda yang masih meng4ngk4ng siap dima-sukkan.
" MAS, JANGANNN...DIA ANAKMU." Teriak Naura.
Tidak mengacuhkan jeritan istrinya dia mengambil posisi ke atas tubuh Tamara lalu menggen-jotnya dengan menggila sambil menatap Miranda dengan kepuasan yang memperhatikan mereka penuh kebencian.
Suara erangan terpuaskan menggelegar seisi ruangan, Naura menutup telinganya, menangisi nasibnya, dia merasa jijik.
" Jangan sok suci Naura!" Kata Miranda culas.
" Mbak, aku enggak tahu kalau mbak punya hubungan dengannya. Aku minta maaf kalau sudah begitu menyakiti mbak."
" Apa ada bedanya kalau aku mengatakan aku hamil anaknya?"
" Tentu, aku tidak akan jatuh cinta dan menikahinya."
" Pembual, kamu lupa kalau kamu begitu tergila-gila padanya dan uangnya."
" Tidak dengan menyakiti mbak yang sudah menolongku." Naura bersungguh-sunggguh.
" Dia tidak hanya tidur dengan Amara, tetapi juga dengan keponakanmu."
Naura membuka matanya menoleh kepada Tamara yang terkulai lemah.
" Tamara, benarkah itu?" Lirihnya tidak percaya.
Tamara hanya mengangguk, "...bahkan dengan para sahabat mu juga, Tante." Suaranya semakin melemah.
" Ya Tuhanku..."
******
Para petinggi RaHasiYa melepas earpiecenya karena muak mendengar drama keluarga Brotosedjo-Aloya.
" Apa Akbar harus tahu?" Daniel menimbang-nimbang.
" Tentu. Kita terjebak dengan mereka tidak sepenuhnya karena Afa, tetapi karena Hartadraja juga." Jawab Ibnu.
" Gue suruh Rio untuk kirim rekamannya ke Akbar." Ujar Daniel yang mengirim pesan kepada Rio.
" Pantesan mereka pada d0ng0, bibit mereka pada menyimpang." Sinis Alfaska.
Untuk melepas ketegangan,m selepas memberi pembukaan kepada Gonzalez cs, mereka menuju bukit tidak jauh dari hutan pribadi Bara, berdiri memperhatikan malam yang diterangi cahaya lampu dari bangunan pencakar langit.
Dominiaz yang berdiri agak kebelakang memperhatikan punggung Mumtaz yang terasa penuh beban.
" Muy, apa malam ini kamu tidak merasa diluar batasan mu?" Tanya Bara berdiri disamping Mumtaz yang sedang menyesap benda nikotinnya.
" Semuanya selalu ada pengecualian, termasuk malam ini." Kata yang diucapkan dingin oleh Mumtaz.
" Bagaimana dengan Ibnu?"
Ibnu menoleh menatap bingung kepada Bara.
" Lo hanya harus memastikan dia tidak pernah sendiri malam ini, bertahun-tahun gue jaga kewarasan mentalnya, kita tidak bisa membiarkannya lepas kendali hanya karena mengetahui kaki tangan sang pelaku." Ucap Mumtaz seakan menganggap Ibnu tidak ada di sana
Ibnu menunduk, ia memainkan kakinya dengan tanah.
Bara menghela nafas dengan gusar.
" Lo tahu, Lo bisa andalkan gue untuk sesuatu yang tidak perlu Lo lakukan. Kita harus tetap seperti ini, gue yang kotor, Lo dan Ibnu yang bersih."
Mumtaz menatap tidak suka kepada Bara, Bara membalas tatapan Mumtaz dengan tegas.
" Ini yang bisa kami lakukan untuk mama Aida, sebagai bentuk takdzim kami pada kedua orang tua Lo."
" Ck, apasih, gak mutu banget. Jangan berlebihan, kita keluarga."
" Dan kini gue yang lindungi Lo sebagai saudara. Ini kali terakhir Lo berbuat jauh, selanjutnya biarkan Jeno bermanfaat untuk kalian."
" Oh, c'mon Bar. apa yang gue lakuin itu gak segitu berartinya. Maksud gue memang itu yang mesti dilakukan saudara, bukan hal besar."
Bara tertawa ironi, " Muy, entah kebaikan apa yang keluarga gue lakukan di masa lalu sehingga mendapat kalian sebagai guardian Angel kami."
Bara menghela nafas dengan kasar.
" Muy, biarkan gue, Jeno, Daniel, dan Afa merasa berguna untuk kalian. Bagi-bagi pahala kebaikanlah."
" Terserah, tetapi biarkan Ibnu yang menentukan akhir perjalanan sang pelaku utama."
" Jadi ini semua karena gue? Bagaimana kalau gue bilang kita hentikan sampai sini?"
" Tidak bisa, kita sudah dekat dengan tujuan kita." Jawab Mumtaz cepat.
" Tapi..."
Mumtaz memandang Ibnu tajam," Lo pikir gue gak pernah ingin berhenti? Ribuan kali gue coba berhenti, tapi ingatan Lo dan Khadafi dibully sebagai anak koruptor yang buat gue bertahan maju, sekarang tinggal sedikit lagi untuk mencapai akhir."
__ADS_1
Hening, memang Bara, Daniel, dan Alfaska tidak begitu tahu apa yang terjadi dengan masalah keluarga Ibnu.
" Muy, gue gak bisa bikin Lo menjadi monster, gue lihat bagaimana Lo malam ini, dan gue gak suka."
" Oke, Lo gak bakalan lihat gue kayak tadi, kita serahkan semua eksekusi kepada mereka, dan penentunya Lo." ujar Mumtaz menunjuk trio Konglomerat muda itu.
" Fine, gue pegang janji Lo. sekali Lo ingkar, gue sendiri akan pergi dari Lo."
" kalau Lo bisa, ingat, gue seorang Mumtaz. kasus 10 tahun yang lalu saja bisa gue telusuri, apalagi cuma Lo."
Bara dan yang lain mengangguk setuju akan perkataan Mumtaz." udah Nu, terima nasib diposesifin sama Mumuy."
" Apa komentar bang Domin atas ulah Lo malam ini?"
Dominiaz berdiri tegap namanya disebut-sebut.
Mumtaz mengedikan bahu, Bara mengerang kesal," c'mon dude, berbagilah. Kita saudara, remember!?" Sindir Daniel.
" Gue gak tahu, kenapa gak Lo tanya sama dia?" Ada keresahan dalam suara Mumtaz.
" Bagaimana jika bang Domin memisahkan Lo dengan Lia?" Alfaska menelisik air muka Mumtaz.
" Apa gue mesti bawa lari Lia dan menikahinya agar mereka tidak bisa memisahkan kami?" Renungnya.
Lima sahabat itu terdiam," gue bantu nyulik Lia." Celetuk Ibnu.
" Gue siapain kendaraan." timpal Daniel.
" Gue penghulunya." tutur Alfaska.
" Gue nyulik walinya." tukas Bara.
Dominiaz memutar bola matanya malas.
" Kita balik, besok kita tuntaskan masalah mereka. kak Ala sendirian." Alfaska berbalik badan sekilas melirik Dominiaz yang tersenyum tipis kepada mereka.
Tinggal Mumtaz yang masih belum beranjak ditempat, matanya masih menatap ke depan. ia menyalakan r\*kok yang hanya dia konsumsi dikala hatinya sedang gundah. Dominiaz mengambil posisi disampingnya.
" Lepaskan semua beban kamu."
Mumtaz terlonjak kaget dari lamunannya.
" Apa maksud Abang?" Ia menormalkan mimiknya.
" Saya pernah berada di posisi kamu, bertahan agar semuanya baik-baik saja, padahal itu sangat menyakitkan."
Terpancar keraguan dari mata Mumtaz, namun ia memilih bertahan dalam keputusannya.
" Kalau kamu mengkhawatirkan hubunganmu dengan Lia, kami sekeluarga sudah memutuskan akan percaya kepadamu apapun yang terjadi dikemudian hari."
Kini Mumtaz mulai goyah," jika RaHasiYa tidak lagi memiliki posisi negosiasi, mereka akan memutar balikan fakta, dan menuduh kami sebagai pengkhianat Indonesia."
Dominiaz tersenyum tipis, ia menyesap nikotinnya untuk menghangatkan diri dari dinginnya malam.
" Kalian memang terlalu nekat menyentuh s3n4y4n, dan 1stan4, tetapi Indonesia memang harus di *restart* ulang. Dan para orang tua sudah menciptakan perisai pelindung itu buat kalian."
Mumtaz menatap Dominiaz bingung.
" Lewat pak Agung, dan bang Janu, Hartadraja dan Birawa mengawasi pergerakan politik semua lembaga. Atau Gaunzaga yang menghancurkan semuanya yang mungkin kali ini akan tercipta revolusi."
" Kita berbicara sebagai lelaki, bukan calon ipar, jadi gak perlu jaim." Dominiaz tersenyum miring.
" Ck, terlalu terlambat bagi aku untuk jaim sama kamu, bang."
" Jadi, cerita."
Sesaat Mumtaz menimbang sebelum ia menarik dan menghembuskan nafasnya dengan berat.
" Aku gak bisa mundur, sudah ada mama yang menjadi korban. Tragedi Alfaska, Daniel, dan Bara terus menjadi mimpi buruk ku. Tangisan kesepian Ibnu masih membuatku sesak, sekarang mereka menyentuh kak Ala, pilihan bagiku hanya maju sampai berhadapan langsung dengan sang tokoh utama." Suara dinginnya pada kalimat terakhir membuat Dominiaz terkaget.
" Mereka merusak orang-orang yang ku lindungi. sial, kenapa aku bisa sesayang itu kepada mereka!?." Rutuk Mumtaz dengan bulir bening dipelupuk matanya. Merujuk kepada para sahabatnya.
" Bahkan aku tidak bisa membenci Afa yang sudah memporak porandakan keluargaki sehingga kami menjadi yatim piatu."
Mumtaz menngangkat kepalanya agar air matanya tidak jatuh.
" Andai Tante Sandra bukan ibu Afa...seandainya aku bisa sedikit tidak menyukai Afa...aaarrgghh." pekiknya kesal pada udara malam
" Dia benar-benar mempermainkan keluarga ku." Lirihnya sendu dan penuh emosi.
" Semua kebencian ku padanya terhalang oleh luka Afa."
" Aku gak tahu mana yang lebih baik menjadi yatim piatu atau berorangtua tapi terasa tidak ada."
" Mama selalu menegaskan padaku untuk mengawasi Bara, selalu bersama Afa, Aniel, dan Inu..."
" Tanpa tante sadari kamu juga butuh sandaran dari seseorang yang tidak kamu dapatkan." sela Dominiaz.
Mumtaz hanya diam, membiarkan Dominiaz berspekulasi sendiri.
" Sekarang pasti sulit menjadi sahabat, sekaligus kepala keluarga?"
Mumtaz mengedikan bahu," lakoni aja, semuanya ada tempat dan waktunya."
" Apa kamu sudah punya rencana kapan sang pelakon utama hadir?"
" Belum, biarkan skenario tuhan bermain."
" Dengan Aloya?"
" Mereka semua menjadi urusan Bara."
__ADS_1
" Termasuk Gonzalez?"
" Itu tergantung Ibnu."
" Kamu kerjanya apa?" Sarkas Dominiaz.
" Ngelihatin mereka, aku kan cuma remehan biskuit 20 tahun yang nyelip di pojokan kursi."
Dominiaz terkekeh geli mendengarnya." Enak ya jadi juragan, anak buah yang gerak."
Mumtaz terbahak-bahak," keren ya anak buahnya Birawa, dan Atma Madina."
" Hmm, jangan lupakan Hartadraja."
" Wah, kalau itu gak berani nyenggol, masih ada kak Ala. Sensitif euy."
Obrolan antara Dominiaz dan Mumtaz didengar oleh para sahabatnya yang berdiri beberapa langkah dibelakang mereka yang termenung, mereka balik kembali ke bukit karena tidak mendapati Mumtaz diantara mereka yang menuju parkiran.
" *Its oke*. Mumuy masih sayang kita itu udah cukup, kalian tahu kan Mumuy itu orang yang jujur. Dan Lo, Fa. Jangan merasa bersalah karena Lo gak bisa mendikte tingkah nyokap lo." Celoteh Ibnu yang hafal raut muram trio konglomerat muda itu.
" Kita begitu membebaninya." lirih Alfaska.
" Lo gak merasa menjadi beban Mumuy?" tanya Daniel kepada Ibnu.
Ibnu menggeleng," kenapa?"
" Karena kita bersaudara, Mumuy yang menginginkan itu. Cukup bersama dia, kita bisa mengurangi bebannya." kata Ibnu diresapi oleh tiga sahabat itu.
\*\*\*\*\*
" Kalian belum pulang?" Mumtaz menghampiri para sahabatnya yang menungguinya di depan masing-masing mobilnya.
" Belumlah, lo gak ada." kata Alfaska yang menatapnya dalam.
" Lo ngapain ngeliatin gue segitunya, belok Lo? cukup ya Tia yang Lo jadiin janda." tersirat kekecewaan dalam ucapan itu.
" Lo pasti kecewa banget sama gue."
Mumtaz mencoba mencairkan suasana dengan bersikap santai.
.
" Takdir mana ada yang tahu, siapa tahu Tia mendapatkan jodoh yang lebih tajir."
" Enggak ada ya jodoh Tia selain gue."sewot Alfaska.
" Kapan mau ruju' sama dia?"
" Kapan-kapan."
Mumtaz menatap tajam Alfaska, " Lo jangan serakah, dia sama yang lain gak boleh, tetapi ruju' juga enggan."
" Lo udah gak mau gue jadi ipar Lo?" suara sedih dari Alfaska menghentikan langkah Mumtaz membuka pintu mobil Ibnu.
" Apa gue masih bisa nawar nasib ke Allah jika itu berkaitan dengan lo? enggak!"
" Yang mau gue tegasin ke Lo, kalau Lo balik ke
Tia, bersikap tegas mana merah, mana hijau untuk kebahagian Tia jangan sungkan kepada nyokap Lo, gue, Ayin atau kak Ala. fokus Lo cuma pastikan Tia bahagia. bisa Lo lakukan itu?"
Ingin Alfaska berkata "bisa" tapi tidka sanggup, ia masih tidak tahu harus bagaimana membuat ibunya jera.
Alhasil Alfaska hanya mengepalkan tangannya sebagai pertahanan emosinya.
" Nu, Lo mau jadi kandidat Tia?"
" Gue sedari tadi mingkem ya, Muy. jangan bawa-bawa gue."
Mumtaz menoleh kepada Bara.
" Empat tahun tersiksa karena dicueki Cassy, menyadarkan gue kalau gue cinta mati sama dia."
Selanjutnya Daniel, Daniel mengangkat tangan yang tersemat cincin ikatannya dengan Dista," gue udah tunangan, dan gue bahagia."
" Kalian bertiga menolak Tia, sedangkan gue hanya bisa mempercayakan kebahagian Tia kepada salah satu dari kalian berempat."
Selepas berkata demikian. Mumtaz memasuki mobil dimana Ibnu yang mengendarainya.
" Bahkan tidak kepada saya." celetuk Dominiaz.
" Gak waras aja si Mumuy nya kalau mempercayakan adiknya kepada sang playboy." celoteh Daniel sebelum melakukan mobilnya.
Maaf lama update, super aku tuh ngblank banget, berkali-kali bongkar pasang untuk part ini ...
makasih buat yang masih nungguin...
percayalah kau tuh inginnya secepatnya mungkin update...
__ADS_1