
Sejak kasus plagiat ini mencuat, dan mendapat perhatian media suasana rumah sakit terasa menegangkan, karena banyaknya para ahli dari organisasi pengetahuan dan medis menaruh perhatian terhadap uji coba penelitian transplantasi kulit luka bakar yang akui oleh dua nama yaitu Zahra dan Ratih.
Pasien pasca operasi berada dalam pengawasan ketat selama 24 jam, setiap jamnya dilakukan pengecekan menyeluruh.
" Dok, pasien tim B mengalami pendarahan, tekanan darahnya tinggi." lapor Suster jaga kepada tim ahli.
Setelah Para ahli termasuk dua pesaing melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan, yaitu harus melakukan operasi ulang.
Operasi itu dipimpin oleh prof. Jensen, dan Zahra, oleh karena pasien merupakan pasien dari rumah sakit Atma Madina, dan Zahra sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, maka operasi itu dapat teratasi.
Operasi kali ini mendapat pengawasan langsung selain dari pihak rumah sakit, maupun universitas juga turut dihadiri perwakilan dari IDI, dan juga LIPI.
Mereka mengamatinya dari sebuah ruaang berdinding kaca yang terdapat di lantai dua ruang operasi yang dapat melihat langsung proses operasi.
Transplantasi kulit dari hewan untuk manusia memang bukan kali pertama namun selama ini hanya dilakukan pada kulit permukaan (epidermis) saja dan bersifat sementara. Kali ini Zahra menggunakan kulit hewan secara penuh, dan untuk permanen.
Sepanjang operasi berlangsung Ratih mengamatinya dengan seksama, meski enggan mengakui tapi dia harus fair jika Zahra memang lah seorang peneliti hebat meski usianya masih muda. Sekarang dia paham mengapa para ahli berebut bekerjasama dengannya.
Setalah sembilan jam melakukan operasi dan istirahat selama dua jam, maka saatnya wawancara pertanggung jawaban operasi.
" Dokter Zahra bisa anda mendiagnosa apa yang terjadi dengan pasien tim B?" Ucap salah satu dokter ahli, dan juga dokter pengawas penelitian.
" Efek itu disebabkan Pasien mengalami penolakan terhadap kulit baru yang ditanam, hal ini memicu reaksi secara besar-besaran pada organ tubuh seperti ginjal, dan jantung.
" Dokter Ratih, mengapa pasien bisa menolak pencangkokan ini?" Tanya dokter ahli lain.
Ratih diam, Sesungguhnya dia bingung hendak menjawab apa. Transplantasi kulit bukanlah keahliannya, proses operasi yang dia lakukan hanya berdasarkan disertasinya yang diambil dari tulisan setiap laporan kegiatan penelitian Zahra dulu. Bahkan saat ini bahan tulisan yang dia ambil dari laptop milik Zahra yang dia simpan di komputernya raib entah kemana, bahkan sebenarnya dia belum memiliki pengalaman sama sekali berkaitan dengan kasus medis kulit.
" Anda mengklaim penelitian ini milik anda, tapi hal sederhana ini saja anda tidak bisa menjawab." Ucap prof. Jensen.
" Bagaimana menurut anda, dokter Zahra?" Tanya ahli dari LIPI.
" Penolakan itu terjadi karena beberapa sel jaringan kulit baru sudah mati, ditambah belum adanya penyesuain interaksi antar sel kulit baru dengan sel kulit si penerima melalui darah.
Tubuh Ratih seketika kaku, bayangan karir di masa depannya gelap.
Pukul 21.30 WIB Zahra berjalan gontai menuju lobby rumah sakit karena kelelahan, meski kasus plagiatnya telah selesai dengan keputusan bahwa penelitian itu merupakan miliknya, dan Ratih dicopot gelar Doktoralnya oleh pihak universitas, bahkan ijin praktiknya dicabut atas dasar melakukan malpraktek.
Hito menghampiri Zahra yang berdiri menunggu jemputan. Berdiri di sebelahnya sambil menatapnya penuh rindu.
" Belum datang juga jemputannya!?" Hito buka suara setelah lima menit memperhatikan Zahra yang menunduk sambil memejamkan mata.
Mengangkat, dan menolehkan menghadap Hito kepala sedikit Zahra menggeleng.
" Aku antar pulang yuk, udah malam banget." Saat hendak menjawab ponselnya berdering
Kring...kring...!!!
" Hallo, udah sampe mana?" Zahra menjawab sambungan telpon dari Mumtaz
" *Maaf kak, Aa gak bisa jemput padahal udah otw, tapi ini mau puter balik dapet telpon dari Ibnu Jimmy marah sama Mami*."
" APA? kenapa gak bilang dari tadi sih, ah." Zahra menutup sambungan telpon dengan kesal.
Hito masih memperhatikan Zahra dengan segala perubahan ekspresinya.
" Gak jadi dijemput?" Lagi, Zahra menjawab dengan gerakan tubuh, mengangguk enggan buka suara.
" Aku antar, no diskusi. Ara!" Hito mengambil tangan Zahra, dan menggandengnya.
" Kak Hito." Dari belakang Zivara berlari mengejar Hito yang sedang berjalan menuju mobilnya.
" Sekalian anter aku pulang ya." Ucap Zivara belum menyadari keberadaan Zahra.
" Sejak kapan saya harus nganter kamu pulang? Jaga sikap kamu saya ini termasuk bos kamu, apa menurut kamu pantas jika pegawai meminta bosnya mengantar pulang?" Tanya tajam Hito dengan ekspresi tidak suka, dan meninggalkan Zivara yang masih berdiri di tempat.
Zivara tertegun kaget dengan ucapan menusuk dari Hito, dan lebih terkejut melihat adanya Zahra yang memperhatikannya dengan datar.
" Kamu anter dia aja, aku gak jadi pulang. Aku mau ke rumah Daniel."
" Aku anter kemanapun kamu mau."
" Gak pantes loh seorang pegawai dianter bosnya pulang!" Sindir Zahra.
Hito terkekeh, menoleh ke belakang karena Zahra berjalan di belakangnya seperti terseret-seret.
" Hehehehe...kamu kan calon istri aku bukan pegawai." Zahra mencibir.
Setelah mobil Hito lenyap dari hadapannya Zivara menolehkan kepala ke arah kirinya tak jauh darinya berdiri Farhan yang mengamatinya.
Farhan melengos dan melanjutkan langkahnya ke mobilnya yang terparkir di sebelah mobil Hito, meninggalkan area rumah sakit tanpa menawarkan tumpangan pada Zivara.
Zivara meringis, pengabaian Farhan jauh lebih menyakitkan dari pada penolakan Hito yang tidak Zivara sadari adalah matanya sudah mengeluarkan bulir bening yang jatuh menyentuh punggung tangannya yang sedang meremas bagian luar dadanya karena sakit yang teramat sangat.
\*\*\*\*\*\*
Para sahabat serta para orang tua mengobrol mengenang Aida. Mereka terdiam ketika Sandra memasuki ruangan dan duduk di sebelah Bara yang duduk di sofa tunggal yang terdapat dalam ruang keluarga Birawa
Sandra menatap sendu keponakannya yang terduduk tunduk dengan penampilan lelah.
Sejak Aryan mengundurkan diri dari kepengurusan Atma Madina corp, otomatis hanya dirinya yang memegang kendali kerajaan Atma Madina.
" Bar, apa arti mama Aida bagimu?" Tanya mami Sandra, semua pasang mata menatap Sandra lanjut ke Bara.
Hening sesaat, Bara menatap lurus iris Sandra, " ibu, bodyguard, penolong, dan penghukum sadis." Kekeh Bara diakhir kalimat.
" Ma, Mi, kalau enggak ada mama Aida mungkin kalian sudah melihat sebuah makam yang bernisankan namaku karena overdosis."
Kecuali Ibnu, dan Daniel semua orang tersentak karena terkejut.
" Pasca penculikan itu aku merasa sangat bersalah dengan trauma yang dialami oleh Daniel dan Jimmy, untuk menghilangkan rasa itu aku terlibat salah pergaulan sehingga berakhir di club malam dewasa yang liar yang menyajikan narkoba sebagai salah satu menunya." Lirih Bara mengusap tetesan air mata yang mulai turun.
" Lo inget Nu, Lo, Mumtaz dan mama menerobos masuk dimalam gue nyoba Shabu dan pil?" Ucap Bara menatap Ibnu, Ibnu mengangguk tersenyum mengingat yang membuatnya mual karena harus melihat wanita yang striptis.
"Mama yang berjilbab, dan berdaster nekat menerobos masuk club dan menghajar semua yang berada satu meja denganku, bahkan ada diantara mereka patah tulang suasana club menjadi gaduh beliau mengancam balik orang yang mengancam akan melaporkan beliau. Besoknya aku direndam pake air es di bak mandi kecil selama dua jam sambil diputarkan murattal surat Yasin, dan aku dilarang membawa uang jajan selama dua bulan mama mengambil semua kartu aku. Sadis gak tuh." Bara masih terkekeh.
" Tapi itu yang membuat aku jera, bahkan tak berani menyentuh narkoba. Benar-benar damagenya gak nanggung sih." Bara terkekeh geli mengenang kembali saat itu.
Bara menatap Sandra," waktu itu aku gak punya seorang ibu yang akan menegurku, memarahiku, memukulku kecuali beliau bunda terlalu gak tegaan buat mukul aku, namun setiap luka yang aku dapatkan selalu beliau yang mengobatinya meski dengan menekan keras sembari menangis dan meminta maaf." kembali Bara terkekeh geli mengingat kenangannya
__ADS_1
Sherly memeluk Bara," maaf, mama gak ada waktu kamu susah." Lirih Sherly.
Bara menggeleng," enggak, mama sembuh aja suatu keajaiban bagi aku dan Ita." Parahnya memeluk seluruh badan Mama.
" Kenapa kamu tidak berstatus anak mama Aida? Tanya Sandra masih penasaran.
Bara mengurai pelukannya disusul delikan tajam kepada Daniel yang terkekeh santai," dilarang Alfa, dan Daniel. Mereka cemburu."
Hanna tertawa kecil," Daniel sama Alfa kalau lihat Bara datang dengan luka pasti mendelik tajam sambil mulutnya komat-kamit mengatai Bara caper."
" Kamu sering berantem?" Tanya sendu sherly mengusap wajah sang putra.
" Tawuran tepatnya." Ucap Rizal santai, sherly terbelalak kaget.
" Bang,..."
" Aku harus kuat, ma. Sore dimana mereka diculik sebenarnya aku berada di sana, udah mencoba mengejar mobil para penculik itu, ketika aku berhasil masuk mobil mereka dan ingin meyelamatkan mereka berdua yang ada malah aku yang terlempar dari mobil itu, mereka menendang aku dengan begitu mudahnya." Suara Bara memelan.
" Tapi Bara terus mengejar mobil itu meski dia terluka, sampai mobil itu berhenti ditempat sepi, dan mengeroyok Bara sampai babak-belur."
" Lo lihat?" Bara melirik Daniel.
Daniel mengangguk, " gue sama Jimmy mencoba melawan, tapi ya...masih bocil jadi gagal." Ucapnya lesu.
" Aku pikir aku akan mati, salah satu dari mereka udah ngeluarin pisau, tapi pertolongan datang berupa Mumtaz dan Ibnu, mereka menolong aku bahkan mengejar mobil itu." lanjut Bara
" Waktu itu gue sama Mumuy bolos sekolah buat jalan-jalan gabut, pulangnya kita milih jalan random gitu. Kita bertiga goyor ala terong-terongan make motor lu buat ngejar tu culik." Timpal Ibnu.
" Pas kita sadar kalau kita ditengah hutan, mereka berdua yang nyari kalian padahal udah malem. Karena terluka gue dititipin di rumah orang sekitar situ." Bara masih menatap Daniel yang mulai menundukkan kepala dalam.
" Gue kabur kayak pengecut, gue ninggalin Jimmy sama para brengsek itu." Ucap Daniel sambil menyeka air mata yang mulai muncul.
" Itu keputusan yang tepat kalau enggak kalian yang mati berhenti menyesali diri, tapi kenapa di sana cuma ada si Rudi sama Rafael doang?" Tanya Ibnu mengalihkan.
" Yang lain lagi ngelapor sama bosnya, di sana kan gak ada sinyal."
" Lo dengar siapa bos mereka?" Tanya Yuda, Daniel menggelengkan kepala lemah.
" Kalau kisah kalian begitu mengharukan, kenapa sekarang jadi rumit begini?" Kata Radit.
Para orang tua diam membiarkan obrolan itu terus mengalir.
Ultimatum yang di lontarkan Mumtaz dengan gestur tenang namun siaga dan intonasi datar tanpa emosi sanggup memporak-porandakan pertahanan emosi Jimmy.
Terbayang lagi wajah Tia yang menangis tersedu-sedu di belakang tubuh Mumtaz sambil meremas kencang kaos Mumtaz, dan enggan menatapnya.
" Aaarrrrgghhh. Sial, emang hidup gue itu cuma kesialan!" Teriak Jimmy di dalam kamar tidurnya yang sudah berantakan tak karuan karena semua benda rusak dan pecah.
Perlahan ia menampakan dirinya," sekarang aku yang bertanya, kenapa mami begitu membenci keluarga mama?"
Semua orang terlonjak kaget dengan kedatangan Jimmy.
Sandra menatap sendu putranya, dan menunduk karena malu, dia menyadari rasa iri yang menyerangnya begitu picik.
" Karena kamu selalu lebih mencintai mama Aida ketimbang Mami."ucapnya sesak.
Jimmy tegang mematung mendengar alasan konyol itu, ia mengusap wajahnya kasar.
" Ya Allah, hanya karena iri mami rela menghancurkan hidupku? Berapa kali aku bilang aku akan pulang ke rumah kalau mami bersedia memasak makanan untukku, aku serius tentang itu. Itu bukan hanya makanan mi, tapi bentuk kasih sayang dan kepedulian mami padaku dibanding para butik itu, tapi mami sendiri yang tidak sanggup melakukannya. Mengapa aku harus menggantikan mama yang selalu ada untukku dengan mami? Ingat seorang ibu tak cukup hanya melahirkan, tapi dia yang mengurus, menyayangi, dan merawat anaknya. Setidaknya seorang ibu seperti itu yang aku butuhkan." Jimmy melampiaskan segala unek-uneknya.
" Sejak penculikan itu bunda berhenti bekerja dan mengabdikan dirinya menjadi seorang ibu yang baik untuk Daniel, tapi aku, aku malah kehilangan seorang ibu dengan dasar agar kau tidak larut dalam kesedihanmu."
" Tapi mami kerja untukmu, Fa." bela Mami
" Bullshit, kalau bicara uang, uang dari papi cukup untukku, coba mami sempatkan waktu apa pernah aku menarik dana dari kartu yang sudah mami berikan padaku? TIDAK, MI. TIDAK!!! Bahkan terakhir kali aku menggunakan uang papi itu empat tahun lalu, setelah produk yang aku buat diminati negara-negara maju aku sudah mapan secara ekonomi. Kau pasti tidak tahu tentang hal kecil itu." Sarkastik Jimmy.
" Kenapa bukan Mami yang mati, kenapa harus Mama? yang aku butuhkan mama bukan mami." Teriaknya.
Semua orang tersentak kaget dengan umpatan Jimmy, Sandra meremas dadanya ucapan itu begitu menyayat hati, sebagai seorang ibu dia merasa gagal .
BUGH!! BUGH!!!
pukulan keras menghantam wajah, dan perut Jimmy, karena Mumtaz memegang kerah kaos setelah satu pukulan dilepaskan, maka pukulan selanjutnya diluncurkan.
Mumtaz sudah tiba di rumah Birawa sejak Jimmy protes kepada Mami.
Jimmy yang tidak siap akan serangan mendadak tersebut terhuyung dan hanya menerima, meski selanjutnya dia melawan serangan Mumtaz, dan terjadilah perkelahian hebat antar dua sahabat itu.
Dua orang ahli beberapa bela diri bergulat tanpa lelah setelah 10 menit berlangsung, sebenarnya Mumtaz dapat melumpuhkan Jimmy dengan mudah, tapi dia enggan melepas Jimmy dalam waktu singkat setelah kata-kata kasarnya kepada Mami.
Para ibu, Ayunda, dan Dista menjerit ketakutan dan panik, sedangkan para ayah dan sahabat hanya menonton.
" Tarik ucapan Lo." Bentak Mumtaz.
Enggan mengabulkan permintaan sahabatnya itu Jimmy lebih memilih melanjutkan perkelahian.
" TARIK..." teriak Mumtaz mencengkram kerah kaos Jimmy.
" Kenapa? Lo pikir gue segitu cintanya sama nyokap gue, KAGAK!!. Karena dia Lo bilang nyokap Lo, Lo gak tahu kata-kata itu nyakitin gue. Nyatanya gue lebih sudi dia enggak ada dari pada kehilangan kalian." Jimmy membalas bentakannya.
" Gampang emang lambe Lo ngomong begitu, karena Lo ga tahu gimana rasanya orang tua Lo MENINGGAL. Butuh berbulan-bulan bagi keluarga gue menata diri sepeninggal ayah, Lo pikir butuh berapa lama bagi kita sepeninggal mama?" Mumtaz menghentakan kerah kaos Jimmy.
__ADS_1
" Mama gak bakal mati kalau nyonya Atma Madina itu gak pernah rencanakan pernikahan tolol ini. Dia yang bunuh Mama." Hardik Jimmy, menunjuk Mami.
" Heh, lucu." Zayin mendengus, dia memasuki ruangan menatap Jimmy tajam masih dengan pakaian serba hitamnya.
" Punya kebaikan seberapa banyak Lo kepada keluarga gue bisa ngomong begitu? Lo tahu ucapan mama terakhir tentang mami sebelum si Aloya itu bertingkah!?" Zayin mengangkat kedua alisnya menantang Jimmy.
Zayin memutar tubuhnya menghadap Jimmy, " Mami, sahabat mama, Mama sayang Mami. Lo masih ingatkan sewaktu Aa ninggalin kita karena cewek? Kita lagi butuh duit, dan dia ninggalin kita cuma mami yang bisa beri pekerjaan kepada mama. Sebuah bantuan yang tidak menjadikan kita pengemis."
Sandra menangis tersedu-sedu, Zayin dan Mumtaz menatap Sandra penuh penyesalan.
" Tentu kalian menawarkan bantuan kepada kami, berupa uang yang membuat mama sungkan menolaknya karena dikhawatirkan menghilangkan keikhlasan diantara kita." lanjut Mumtaz
" Lo, yang menghabiskan hidupnya lebih banyak dengan mama seharusnya Lo tahu sebaik apa Mama, kita anak kandungnya dilarang membenci Mami. Satu kejelekan jangan sampai melunturkan kebaikan orang, itu nasihat terakhir Mama." tukas Zayin, dalam suaranya tersirat getaran pilu.
" Kami yang tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua, sebegitu menyesakkan, hingga kami gak ini kalian merasakannya setidaknya tidak sekarang." Mumtaz menghela nafas berat.
Mumtaz mendekati Jimmy hingga berdiri tepat dihadapan mukanya " Dengan Lo kabur, perkara pernikahan itu selesai, Mama meninggal itu takdir, kalau Lo memang mencari kambing hitamnya si Aloya tumbalnya. Jadi kalau Lo ingin balas dendam lampiaskan kepada Aloya, BERANI ENGGAK LO!" Ucapan yang menyimpan seribu makna. Mumtaz memutar tubuhnya menghadap bunda.
"Bun, pengen makan dua Minggu aku belum makan!" Mumtaz asal bicara, dan pergi meninggalkan ruangan menuju ruang makan.
Meski sebelumnya dia memeluk Jimmy lama," kita masih keluarga!." Bisiknya.
Jimmy membalas pelukan Mumtaz erat, dan mengangguk.
Zayin mendatangi para orang tua mencium tangan mereka, kala dihadapan bunda," Bun, ada makanan gak, Ayin laper. Si Raja nelpon Ayin pas Ayin mau mampir ke warteg jadi gagal deh." Ucap Zayin mendelik kesal ke Raja yang nyengir kuda.
Bunda terkekeh geli." Ayo kita makan tengah malam, kalian nginep di sini kan!?" Ucap bunda.
" Peace, gue takut lihat mereka berantem." Raja mengangkat dua jarinya membentuk tanda V.
"Yu, Ta, kenapa muka Lo bengkak gitu, muka lumayan kalian jadi jelek banget jadinya." Komentar Zayin sebelum meninggalkan ruangan, para gadis itu mencibirkan mulut pada Zayin yang direspon cuek olehnya.
Namun sbelumnya dia memeluk erat Jimmy memberi dukungan padanya.
Zahra dan Hito yang berdiri di ruang tamu bersebelahan dengan ruang keluarga mendengar ucapan para adiknya menunduk menutup mulut menahan suara tangisnya, Hito menatap pilu kekasihnya ingin dia memeluk Zahra, namun belum bisa alhasil hanya bisa menggenggam erat tangan Zahra yang langsung dicengkeram oleh Zahra.
Setelah tenang dia memasuki ruang keluarga, dan menghampiri Jimmy yang masih mematung.
Ia menepuk pundak Jimmy yang langsung terlonjak kaget, " Gue juga gak suka nyokap Lo, tapi sumpah orang tua yang sulit dihadapi masih jauh lebih baik dari pada gak ada orang tua. Gak enak jadi yatim-piatu, maka BERSABARLAH!" Bagaimanapun mereka ladang pahala buat Lo." Zahra memeluk erat Jimmy.
Malu sekaligus terharu itu lah yang dirasakan Jimmy.
Saat ini di ruangan tersisa Daniel, Bara, Jimmy, Mami, dan Papi. Tidak ada yang memulai bicara Sampai papi berucap,
Untuk pertama kali sejak kepulangannya Jimmy menatap mami-nya.
" Mam,..." Sandra menegakkan kepalanya membalas tatapan Jimmy.
" Aku memang anakmu untuk itu aku gak punya pilihan, tapi sudah terlambat bagi Mami untuk mengaturku termasuk dengan siapa aku menikah. Mau mami terima atau tidak faktanya aku sudah menikah, Tia orang yang aku cinta dan aku butuhkan." tegas Jimmy.
Jimmy mendekati mami yang duduk di sofa tunggal, dan berjongkok di depannya. menggenggam kedua tangan Mami.
Menatap dalam langsung ke netra hitam Mami," maafkan apa yang tadi Afa katakan, maaf! Afa mohon maafkan Afa!!" Di tengah Isak tangisnya mencium kedua tangan Mami.
Mami menggigit bibir bawahnya ditengah Isak tangisnya sambil menggelengkan kepalanya," maafkan mami juga yang sudah menyakiti Afa." Ia mencium kedua tangan Afa.
Afa menggelengkan kepala," Mami maafin Afa kan!"
Mami menganggukan kepala," tentu , sayang. Maafin mami juga ya, udah bikin mama kamu meninggal! Hiks...huhu...hiks..." Tangisan mami pecah karena tak kuasa menahan emosi lagi.
Jimmy menegakan tubuhnya dengan menumpukan kedua lututnya memeluk seluruh badan Mama yang masih tersedu-sedu.
Daniel, Bara, dan Papi hanya bisa diam menahan rasa haru.
Setelah tenang, Mami mengurai pelukan, menatap Daniel yang sedari tadi diam menunduk.
" Aniel,..." Panggil mami parau, Daniel mengangkat kepalanya menatap Mami.
" Terima kasih sudah menjadi saudara bagi Afa."
" Gak masalah Mi, udah takdir mau gimana lagi. Kalau bukan Aniel gak akan ada yang mau, Afa kan udah cinta mati sama Aniel." Balas Daniel narsis.
BUK!!!
Kepala Daniel terdorong ke belakang akibat lemparan keras bantal sofa.
" Asal Lo tahu ya kuda Niel gue masih berteman sama Lo karena Lo yang *sadboy*, kalau bukan gue yang jadi temen lo siapa yang mau nyelamatin Lo dari kematrean para cabe, HAH!" emosi Jimmy membeludak, dia mengapit kepala Daniel di keteknya.
" Apa sih, gak ada ya gue begitu." Daniel meronta menggeplak-geplak tangan Jimmy.
" Lo udah lupa kasus si Indah, kalau bukan gue yang neror dia duit Lo gak bakal balik."
" Iye...iye...ah itu mulu yang dibahas, lagian tu duit juga gak masuk kantong gue, tapi kalian makan." Daniel menjauhkan tubuhnya begitu dia terbebas dari Jimmy, dan menendang kesal bokong Jimmy.
" Ketek Lo bau. Lo kan belum mandi tiga hari ini." Dumel Daniel meninggalkan ruangan.
" Aaa...Aa Aniel tunggu akoh." Jimmy berlari gimmick mengejar Daniel yang mengencangkan langkah kakinya, disusul Bara yang menghela nafas berat.
Tinggallah berdua saja hanya Sandra dan Aryan yang semenjak drama pernikahan ini tidak tegur sapa, dan sudah pisah kamar.
"Pi,..."
" Aku senang kamu sudah memahami Afa meski harus mengorbankan satu nyawa akibat keegoisan kamu." Sela Aryan beranjak meninggalkan ruangan, bergabung dengan yang lain di ruang makan.
__ADS_1
Sandra menghela nafas lelah, ia mengeratkan simpulan kedua tangannya...