Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 91.


__ADS_3

Seusai insiden sarapan dengan kakaknya di rumah sakit Tia merasa tidak nyaman, dia selalu gusar, terlebih Mumtaz dan Alfaska juga berubah sikap terhadapnya. 


Alfaska irit bicara padanya, Mumtaz tidak lagi menyambut hangat kala dia menjenguknya.


Sebenarnya dirinya pun tidak terlalu suka arhan sikap dari ibu mertuanya, tetapi dia ingin diterima sebagai menantu baik dan membanggakan Mami-nya.


" Mi, Tia sudah bersikap seperti arahan mami, sepertinya keluarga Tia tidak menyukainya." Ucap Tia hati-hati.


" Sabar, mereka hanya belum terbiasa dengan sikap seorang Nyonya muda, kamu sekarang istri seorang konglomerat, jaga wibawa kamu."


Sepulang kuliah Tia memenuhi undangan mertuanya untuk berkunjung ke rumah Atma Madina yang besar tapi sepi. Saat ini mereka sedang mengobrol di ruang tengah


" Kapan kamu bisa menginap di sini? Mami kesepian, Papi kamu belum juga pulang." Keluh Sandra.


" Tia tergantung Aa Alfa."


" Kamu bujuk dia supaya mau menginap sini."


" Udah, tapi Aa tetap menolak. Tia gak berani maksa lagi."


Sandra menghela nafas dalam," ya sudah sekarang waktunya belajar table manner."


Mereka menuju ruang makan.


*****


" Iya, om. Tamara yang akan menghandle ini sekarang, papa dan om Bram entah pada kemana bilangnya mau liburan tapi gak balik-balik. Okey, om kirim aja sampai Indonesia aku langsung tangani. Tentang keamanan gampang itu mah. Aku tutup ya om."


Tamara Barusaja mendapat amanat untuk mengamankan pengiriman narkoba besar-besaran berhubung menjelang akhir tahun.


" Kalau begini terus aku akan memiliki kembali apa yang sudah hilang." Gumamnya percaya diri.


Ting!!! Tong!!!


Tamara membuka pintu rumahnya, saat ia akan menutupnya kembali kaki dari sang tamu mengganjal bagian bawah pintu.


Dua orang berpakaian rapih yang tempo hari datang kembali mendatanginya," anda harus meninggalkan rumah ini, Nona."


" Saya tidak akan meninggalkannya, ini rumah saya."


" Kami tak ingin berbelit-belit, anda bisa mengajukan keberatan melalui jalur hukum." Tamu tersebut mendorong pintu dan memasuki rumah tersebut.


" Kami akan tunggu selama 20 menit untuk anda meninggalkan rumah ini."


" KAU..."


" Nona kami akan melaporkanmu ke polisi jika anda memaksa masih tinggal di sini."


" Kau..." Tamara menunjuk mereka.


" Waktu anda tinggal 16 menit lagi."


Dengan hentakan keras Tamara menuju kamar tidurnya.


Sudah 10 menit Tamara menekan bel penthouse milik the flawless, ia sudah mencoba tiga kali password, tapi pintu tetap tak bisa dibuka.


Ting tong!!


Ia menelpon Erika," hallo, kak. Kok pintu gak bisa dibuka, aku udah lama nunggu di depan penthouse ni." Rutuk Tamara.


" Tam, bos Nathan melarang Lo tinggal di sana lagi, alasannya Lo bukan bagian dari the flawless lagi."


"  Apa maksud lo, kak?"


" Gue juga gak tahu kenapa, Lo disuruh ke kantornya."


Dengan kesal Tamara menutup sambungan telponnya, dan melangkah menuju kantor Nathan.




Tok tok...



" Masuk." Balas ucapan dari dalam ruangan.



Tamara melangkah masuk kantor Nathan dengan langkah percaya diri dan menggoda sampai meja kerja Nathan.



" Om bosshh." Ucapnya setengah mendesah.



Nathan mengangkat kepalanya dari berkas dan mengubah duduknya bersandar pada punggung kursi dengan tangan saling bertaut yang bertumpu pada lengan kursi.



" Ada apa Tamara?" Tanya Nathan dengan aura yang cukup mengintimidasi Tamara, namun ia tekan.



" Kenapa akses saya ke *penthouse* ditutup?"



Tanpa membuang kata Nathan melempar foto Tamara yang sedang memberikan 'pelayanan' pada kliennya diluar jam club ke atas meja.



Tamara mengambilnya dan terkejut,



" Kau telah melanggar kontrak eksklusif mu, kau dipecat." tandasnya tanpa basa-basi



Tamara bergerak gusar," om boss maafin Tamara, Tamara lakukan itu karena beberapa hari ini om boss gak ngasih job buat Tamara."



" Kau lakukan itu sudah lama, lihat tanggal dalam foto tersebut. Biar gak ada job Flawless tetap gaji kamu kan, jadi tidak ada alasan untuk kamu melanggar kontrak." tekannya.



Tamara bergerak mendekati Nathan yang ditolak Nathan dengan mengangkat tangannya, Tamara berhenti.



" Keluar, ini pesangon kamu." Nathan melempar segepok uang ke hadapan Tamara.



" Tapi om bos, saya pulang kemana? Saya gak punya rumah." ucapnya seraya mengambil amplop berisi uang tersebut.



" Bukan urusan saya."



" Om, saya Mega bintang di sini. Apa om boss tidak menyesal memecat saya."



Nathan berdecak," posisi kamu sudah diganti oleh orang lain, klien lebih suka dia daripada kamu."



Mata Tamara terbelalak tak menyangka." Om, please saya minta maaf."



" Keluar."



Tamara bergeming, dia kekeuh berdiri di hadapan Nathan, tak mau ambil pusing Nathan menekan interkom pada sekretarisnya untuk memanggil sekurity.



Tak lama dua sekurity memasuki ruangan Nathan," seret dia. Pastikan dia benar-benar meninggalkan gedung ini." Matanya melirik Tamara.



Tamara berontak ketika tangan dua sekurity tersebut menariknya keras kedua tangannya," om boss, kau tidak bisa melakukan ini padaku." Sahutnya.



selepas tanda pergi," Panggilkan Gaby." Pintanya pada sekretarisnya.



Gaby memasuki ruangan Nathan menunduk dengan perasaan galau, Nathan menatap Gaby intens.



" Kak..." Cicitnya.



" Mulai malam.ini kau layani tamu the flawless menggantikan Tamara." ucapnya tanpa emosi.



Gaby menegakkan kepalanya, ia menggeleng," Kak, aku gak mau. Kau bilang akan menikahiku, tapi kenapa kau jual aku." Isaknya.



" Heh, menikahimu? Tak Sudi."



Gaby terperangah, " Kak, bukannya kau mencintaiku?"



" Tidak."



Gaby terkejut, pasalnya dulu Nathan memaksa membawanya kabur dari asrama dengan dalih ingin menghabiskan waktu sebelum menikahinya, karena rasa cintanya dia percaya perkataan Nathan sehingga dia rela memberikan kesuciannya pada Nathan, lelaki yang dia cintai.



" Aku mencintaimu."



" Saya tidak peduli, dan mulai sekarang hilangkan rasa itu."



Gaby tercengang, bulir bening turun tak dapat ditahan," kenapa? Kenapa kau berubah."



" Saya tidak berubah, sejak awal niat saya hanya ingin menjadikan kau pelacur."



Lagi, mata Gaby membulat menerima kejutan ini," kenapa?"



Mata tajam Nathan menatap lurus maniknya," karena kau putri Victor Rafael, lelaki yang sudah membunuh kedua orang tuaku." Suara datar penuh kebencian mampu membuat Gaby terjatuh lemas.



" Kakak bohong." Lirihnya dengan pandangan kosong.



Nathan melempar foto dimana Victor dan rudi menodongkan kepala pada Edward. Gaby menatap kaget foto itu, dia menggelengkan kepala tanda tak percaya.



" Ayah dan pamanmu mencuri seluruh bisnis ayahku, dan membunuh kedua orang tuaku hidup-hidup dalam kebakaran mobil yang disengaja oleh mereka, karena hal itu pamanku harus ke psikiater."



" Kak,...maaf."



" Heh, saya akan membebaskan mu ketika ayahmu berhenti bernafas."



Gaby mengangkat kepalanya dari foto," Kakak tahu dimana kedua orang tuaku?



"Tentu, tapi kau tidak akan melihatnya, selama mereka bernafas kau menjadi pelacurku." 



Gaby menatap pilu Nathan, airmatanya tak kunjung berhenti, meski sekeras hati ia menahan tangis.



Dengan gugup karena aura dingin dari Nathan ia mendekatinya menaruh foto tersebut ke atas meja.



Menghirup oksigen untuk dadanya yang terasa sesak, Gaby menunduk," baiklah, lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Setelahnya jangan pernah menyimpan dendam lagi, kau harus bahagia." Dengan sisa keberaniannya Gaby menatap iris mata Nathan.



" Setidaknya aku pernah merasakan kau menyayangiku." Ia menyeka air matanya," aku...aku...mencintaimu." lirihnya. Gaby langsung meninggalkan ruangan yang terasa menyesakan.

__ADS_1



Tangan Nathan mengepal sampai memutih, wajahnya menegang lalu ia menutup matanya erat, menghalau segala bayangan wajah polos, sendu, dan pasrah Gaby.



" Shitt, seharusnya gue tak pernah melindunginya. Seharusnya gue biarrkan dia tidur dengan Pramono, dan lainnya dan tidak menariknya dalam kehidupan gue." Gumamnya kesal pada dirinya sendiri.



\*\*\*\*



Empat petinggi RaHasiYa menatap layar laptop mereka yang menampilkan raut wajah resah Nathan.



" Menurut Lo apa cinta bisa datang dalam kebencian?" Tanya Daniel mengasihi Nathan.



" Gak paham gue, tapi Kata orang cinta dan benci terhalang benang setipis benang sutera terbaik." Timpal Ibnu.



" Muy, salah si Gaby cuma karena dia anaknya Rafael, tu anak baik banget kayaknya. Apa lo gak nyoba buat bebasin dia." Alfaska mencoba merayu Mumtaz.



" Itu terserah Lo, Wilson dan Hartadraja, kan kalian yang dihabisi. Gue cuma ngingetin Rafael bantu Rudi buat ngelecehin Lo." Pungkas Mumtaz.



" Tapi kalau bang Nath memilih memaafkan dia dan mencintainya, apa Lo bisa terima?" Renung Daniel.



" Apa Lo dan Afa sudah baik-baik saja? Terlalu banyak dosa mereka."



" Kita gak bebasin mereka, hanya Gaby, gadis yang gue yakini gak tahu apa-apa." Kekeuh Daniel.



" Jangan terowdaya wajah polos, Lo pikir psikopat berwajah garang?!, dalam tubuh dia ada darah Rafael, orang yang memegangi Afa sewaktu dilecehkan Rudi. Hal yang membuat Lo selama ini merasa bersalah pada Afa. inget karakter seseorang bisa menurun melalui genetik." Mumtaz menatap Alfaska dan Daniel memastikan bahwa sahabatnya itu sudah berdamai dengan masa lalunya.



Dua sahabat itu terdiam, merenung. Ibnu hanya mengamati Mumtaz, dia terusik pada omongan Zayin ketika dia mendengar insiden sarapan dari Raja tentang kakaknya yang menyuruh Alfaska segera mendidik Tia sebelum Mumtaz yang bertindak.



Mumtaz memang tenang seakan tidak mempermasalahkannya, tapi siratan kebenciannya kala menyinggung Aloya dan kroninya dia paham kebenciannya pada Aloya tidak hanya tentang kasus penculikan dua sahabatnya itu, tapi juga kematian mama Aida.



" Menurut gue jangan tergesa-gesa, lihat dulu perkembangannya, toh ini Maslah bang Nathan." Ibnu menimpali.



Cklek!!



Zahra memasuki ruangan yang terkesan suram dan tegang.



" Ada apa dengan kalian?" Tanya Zahra memberi sekantong makanan dan minuman pada Ibnu.



" Gak apa-apa." jawab Alfaska berusaha menormalkan wajahnya, Zahra menjitak kepala Alfaska yang meringis.



" Jangan dibiasakan bohong, yang lain mana?"



" Kuliah."



" Kalian enggak?"



" Online."



" Maksud kalian meretas cctv ruang kuliah?" Sarkas Zahra.



Empat pemuda itu nyengir lebar, Zahra mendekati Mumtaz untuk memeriksanya.



" Kamu udah bisa balik, dan harus balik." Tekan Zahra saat melihat Alfaska akan memprotes, Alfaska mendengkus.



Ceklek!!!



Akbar dan Bara memasuki ruangan, membuat mata Zahra membulat terpesona.



Dua pemuda berbadan tinggi dan tegap tanpa lemak kalau bajunya dibuka 99% roti sobek enam tersaji, berkulit bersih, berwajah tampan dengan hidung mancung, bibir tipis nan tegas. rambut hitam legam dengan model *undercut*. Fix damage mereka menggugah halusinasi pangeran ala Zahra.



Menghampiri dan memegang kedua tangan mereka dengan semangat.



" Kayaknya aku bakal resign jadi dokter, aku mau mewujudkan mimpi aku jadi desainer fashion kalian mau ya jadi model aku, damage kalian gak ketulungan."



Akbar dan Bara mengernyit bingung, lalu menggeleng.



" Tak perlu persetujuan kalian, fix kalian jadi model aku. Nu, ke bagian administrasi urus pembayaran Mumuy." Setelahnya melenggang pergi.




" Alay-nya baru lahir kali." Timpal Alfaska.



" Tapi gue gak nolak kalau kak Ala suka gue." Sahut Akbar.



"Idem." Timpal mereka semua kecuali Mumtaz yang merotasikan mata.



" Kalian tumben datang bareng, Cassy mana?" Mata Daniel tak melihat buntut Bara.



" Di bawah lagi beli makanan dan minuman." Bara duduk di sofa disusul Akbar.



" Tamara sudah memasuki wilayah Hartadraja sebagai teman Sivia." Sahut Bara.



" Nebuy berniat jodohin gue sama dia." Timpal Akbar. Kini mereka semua duduk di sofa ruang tamu.



" Wajar sih dia sudah bangkrut."



" Dari sini kita kumpulin mereka semua, gue pengen urusan peralihan hak lahan rampung dan fokus ke tindakan selanjutnya."Ucap Daniel.



" Sekarang dia tinggal dimana?"



mereka mengedikan bahu.



" Apa mereka dekat?" Tanya Alfaska.



" Enggak, Sivia terkesan tidak suka padanya."



" Perlu kita retas ponselnya?"



" Jangan, inget kita harus waspada pada Dewa." Mumtaz berjalan gabung.



" Justru kita harus pake Dewa, kita lihat dia di posisi siapa."



" Nu, suruh Nando awasi Dewa, dan lapis sistem kita." seru Mumtaz



" Mereka tahu tentang kita, jadi Nando pilihannya." Jelas Mumtaz.



" Ooh, gitu." Ibnu langsung melaksanakan permintaan Mumtaz.



Cklek!!



" Kak Bara, dimana?"



" Ruang tunggu, sayang." Jawab Bara.



Muncullah empat gadis dan segerombol pemuda memenuhi ruang tunggu.



" Gue ke bagian administrasi dulu." Ibnu beranjak meninggalkan mereka.



" Kak Mumuy udah boleh pulang?" Tanya Dista sembari makan.



" Kata kak Ala begitu."



" Kita barbequean Kak, yang dulu belum terlaksana." Sahut Juan.



" Terserah." Akbar menaruh kartu ATM di atas meja." Beli bahan tambahannya."



" Kalian langsung ke rumah aja, kita ada meeting dulu." Tukas Alfaska yang diangguki oleh yang lainnya.



" Ajak juga yang bagian lapangan." Ujar Bara.



" Siippp, dilaksanakan."



Tia hanya diam menatap suaminya yang bersikap santai meski sudah dua hari ini mereka tak banyak bicara.



\*\*\*\*\*

__ADS_1



Di Kamar presidensial hotel the Sultan telah berkumpul keluarga Hartadraja, Birawa, Atma Madina, Wilson, Pramono, Alexander, Alatas, Maura, dan Irawan. Ditambah para petinggi RaHasiYa, masing-masing pengacara keluarga, dan notaris.



" Hari ini telah rampung segala berkas pengalihan hak atas benda baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak dari berbagai pihak atas nama yang tersangkut di dalam akta tersebut." Buka Erlangga, memberikan map kepada masing-masing pengacara keluarga.



Para pengacara tersebut memeriksa seluruh berkas yang ada dalam map tersebut,



Butuh 20 menit untuk menyelesaikan semuanya." Bagiamana?"



Seluruh pengacara tersebut mengangguk, dan memberikan map tersebut kepada klien mereka.



Tak ada yang bicara selama Wilson, Alatas, Maura, Pramono, Alexander, serta Irawan mengamati isi map tersebut.



Terpancar bingung dari mata Maura, lega dari Pramono, Alexander, dan Irawan. Haru oleh Wilson dan Alatas.



" Terima kasih atas bantuan kalian. Kalau kalian butuh bantuan kami, hubungi kami." Ucap Riska.



" Sekarang tak ada lagi yang bisa mengancam Rendra, karena Bram sendiri dalam tahanan kami." Bara melirik Maura yang tertunduk.



" Tante, maaf. Saya...saya...sungguh tidak tahu apapun tentang kalian." Lirih Maura."



" Kami akan merubah isi KK kami, apa masih ada sanak saudara kamu?"



" Saya akan mendatangi kakek Brotosedjo." 



" Maaf, kami tidak bisa memasukan nama kamu di dalam KK kami lagi."



" Tentu, saya dapat memahaminya, maaf untuk segalanya."



" Semua sudah lewat, kita buka lembaran baru." Pungkas Rendra yang sejak datang pandangan matanya terarah pada Maura.



" Untuk Putri-putri kalian tidak bisa kami lepaskan begitu saja, karena terkadang mereka masih mengganggu Tante Edel." Ucap Daniel pada Pramono dan Alexander.



Mereka menghela nafas pasrah," tentu."



" Mulai sekarang jauhi kami dan orang-orang di bawah perlindungan Gaunzaga-RaHasiYa." Mereka mengangguk, mereka tidak punya pilihan.



"Terima kasih atas kedatangan kalian."



Sepeninggal Pramono, Alexander, Maura, dan Irawan, para pengacara, dan erlangga pergi. Wilson dan Alatas masih termangu.



" Lo, kenapa bang?" Tanya Ibnu.



Ibrahim mengangkat kepalanya dari map," gue masih gak nyangka, bertahun-tahun gue sama Nathan berupaya mendapatkannya, tapi kalian berhasil dalam hitungan bulan. Gue masih gak percaya kalau kita bisa mengolah mereka kembali." Ucapnya bergetar penuh haru, matanya sudah memerah menahan tangis.



" Lo harus traktir bang Ibra Husein, bang." Celetuk Alfaska.



" Hehehe, iya ya. Gegara gue dia ketiban sial."



" Muy, apa boleh gue ajak gabung om Hazam?" Tanya Fatih pada Mumtaz.



" Peduli Jasmine, Lo?" ledek Mumtaz, semua orang tersenyum



Seketika tatapan malas tersorot dari Fatih," gak gitu juga, tapi gue tahu paman Hazam masih ingin berkarya, mereka juga teman dekat papa."



" Terserah sih, asal jangan ajak gabung keluarga Riana."



" Gak bakal. Gue tahu Husein bangkrut bukan karena Kalian, tapi karena om Raihan."



" Ajak jasmine, dia punya insting bisnis yang baik." Imbuh Akbar.



" Fatih mengernyit bertanya," selama ini dia kerja di perusahaan gue." Jelasnya.



" Gak, gue mau nempatin Jasmine di Alatas architecture sebagai sekretaris gue." Timpal Mumtaz.



" Yakin Lo? Dia berisik loh." Fatih hanya ingin memperingatinya, menepis rasa tidak suka mendengar hal itu dari Mumtaz.



" Iya, ini atas rekomendasi dari Akbar." Mumtaz mengamati perubahan mimik wajah Fatih.



" Terserah sih, cuma kalau kuping Lo pengang jangan ngeluh ya."



" Tentu." Mumtaz sungguh menikmati raut tak suka di wajah Fatih yang selalu tenang terkendali.



" Bang, tentang Gaby Rafael, kita serahkan seluruhnya sama Lo." Pinta Daniel yang membuat Nathan sempat tertegun.



" Kenapa?" Tanyanya hati-hati.



" Karena Lo yang paling dirugikan dari perbuatan mereka."



" Apa kalian yakin?" Matanya menyoroti Mumtaz yang diam tenang tapi Nathan menangkap keresahan.



" Gue akan mengawasi dia untuk kalian, dan gue akan melakukan apapun padanya sesuai perintah kalian kecuali kalian membebaskannya, maka gue akan membebaskannya." Pungkas Nathan terlihat rasa lega dari Mumtaz.



Nathan paham keberatan tak terucap dari Mumtaz sebab mamanya meninggal karena ulah Aloya yang berarti Rafael pun terlibat, dan luka itu masih segar.



\*\*\*\*



"A, mami mint Akita menginap." sahut Tia begitu mereka sampai di apartemen mereka.



" Kamu bertemu Mami?"



" iya, tadi sepulang kuliah Mami mengundang aku."



" Sering?" tanya Alfaska penuh selidik.



gugup dibawah tatapan tajam suaminya, Tia mengangguk. " kenapa gak izin?"



" Mami maksa."



" Selama dalam perjalanan bisa chat ke aku kan!?" sarkasnya.



" Kenapa Aa terkesan keberatan kalau aku ketemu Mami?"



" karena aku gak mau kamus berubah seperti Mami. apa semua perubahan sikap kamu itu karena pengaruh Mami?"



" A, aku bisa buka anak kecil yang mudah terpengaruh. Aku bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk."



" Aku harap omonganmu bisa dipegang, kamu juga anak psikolog, kejadian insiden sarapan itu yang terakhir kamu melawan kak Ala."



" Kenapa Aa selalu bela kak Ala?"



" Karena aku setuju dengan pendapatnya."



" berarti aku yang salah?" Tia menunjuk dirinya sendiri.



" menurutmu? kau anak psikologi bukan?"


Alfaska meniggalkan ruang tamu menuju kamar tidurnya.



Tia tertegun, dia termenung dengan ucapan suaminya.



\*\*\*\*\*



Sudah dua jam Tamara mengucapkan sumpah serapahnya karena dia bangkrut. Kini dia tinggal di kamar kos berukuran 3×4 m2. Ruangan yang menurut Tamara seperti kandang tikus.



Mengingat tugas yang diembankan kepadanya dari mexico Tamara menelpon seseorang.



" Hallo, om." Sapanya begitu sambungannya dijawab.



.....



" kita ketemuan aja di hotel, aku punya sesuatu untuk om...see you, Daddy."



Tamara tersenyum smirk, yakinkan rencana...

__ADS_1


__ADS_2