Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 148. Hadiah Untuk Atma Madina


__ADS_3

Dua kubu itu saling menilai dengan beda rasa.


" Maura....gue habisi Lo..."


Yang pertama sadar dari keterkejutan para pelaku adalah Tamara, ia berlari menerjang kaca, dia memukul-mukul kaca tebal itu, matanya membidik bengis kepada Maura yang bersembunyi ketakutan di punggung Rendy Irawan yang menatapnya dingin.


" Lo pencuri, pengkhianat. Bara pukul dia...dia yang merampok aku."


Amukan Tamara hanya ditonton datar oleh yang lain.


" Tamara, diamlah." Suara dingin Mumtaz mampu membuat Tamara bungkam duduk di lantai depan kaca.


Bara mendekati kaca," Hari ini, hasil kerja keras kalian di atas penderitaan mereka akan beralih kepada mereka." Tunjuknya kepada keluarga Aloya dan para korban 


" Benda-benda berharga keluarga Aloya berupa tanah, saham, emas batangan, dan uang di beberapa rekening, deposito, dan Reksadana akan beralih dibagi kepada Wilson, Pramono, Alexander, dan Alatas sesuai yang telah ditentukan.


" Tidak bisa, itu semua punya saya." Protes lantang Miranda.


" Dan kau menikmati hasil di perusahaan  mereka yang dicuri oleh Rudi dan Victor."


" Pramono dan Alexander juga bersalah di sini."


" Terserah pada kami bagaimana kami mengambil keputusan." Jawaban yang penuh kearogansian dari Bara menyulut amarah Miranda, namun dia tidak Berani protes lebih lanjut.


" Untuk kekayaan Brotosedjo, semuanya menjadi milik Rendy dan nyonya Riska Irawan."


" TIDAKK..." Tolak Brotosedjo tegas.


" Siapa kau mengatur yang berhak atas hartaku? Dia hanya mantanku, aku punya istri yang ku cintai yang berhak atas semua yang ku miliki."


Saking marahnya Rendy menerjang kaca ingin memukuli Brotosedjo, refleks Naura mundur bersembunyi di belakang punggung suaminya.


Wajah petinggi RaHasiYa berubah marah mendengar omongan Brotosedjo.


" Apa kamu ingin memukulnya?" Tawar alfaska.


" Aku ingin membvnvhnya." Desis rendy


" Dengan tanganmu?" 


" Tentu."


" Silakan."


Penjaga mengawal Rendy ke ruangan Brotosedjo.


Dibawah pengawasan ketat penjaga, Rendy memukuli Brotosedjo habis-habisan, setiap Brotosedjo hendak membalas pengawal memeganginya untuk memudahkan Rendy.


Para wanita menjerit ketakutan melihat Rendy terus memukul, menendang Brotosedjo dari segala arah, sampai dia puas yang diakhiri dengan tendangan keras di ulu hatinya.


Brotosedjo tumbang terngkurap di atas lantai, ia menatap nyalang Rendy," kau...anak..."


" Aku bukan anakmu, Selama pernikahan, kau curi harta ibuku untuk menghidupi ****** itu. Sekarang semuanya akan kami ambil kembali, kau dan dia hanya sampah." Desis rendy sembari tersenyum smirk.


Matanya beralih kepada Naura, " kini giliran putri kalian yang akan menderita seperti kalian mempermainkan ibuku."


" Jangan, jangan kau alihkan karma kami pada putriku." Naura menangis sambil bersimpuh di kaki Rendy.


" Siapa kau mengatur diriku?" Balas Rendy telak menepis tangan Naura dari kakinya.


Maura yang tidak tega kedua orang tua nya dihina Rendy hanya bisa mematung, ia lempar tatapan memohon pertolongan kepada Bara agar menolong mereka.


Bara yang melihat permintaan itu berucap," jangan banyak mau, kau di sini bukan untuk berpendapat, tetapi hanya pion pembalasan atas kelakuan kedua orang tuamu."


Raut Maura berubah pilu, Riska yang menatapnya benci membuatnya tertunduk dalam, ia sungguh tidak memahami apa yang sedang terjadi.


" Puas?" Tanya Daniel begitu Rendy kembali ke ruangan.


" Lumayan. urusan Maura, selanjutnya biar menjadi urusan ku."


" Terserah, dia tidak penting bagi kami, bagaimana, Bar?" Sindir Alfaska.


" Apa?"


" Lo kan mantan dia."


" Ck, cinta monyet. Terserah Lo, gak ada urusan sama gue." Abai Bara.


Maura yang mendengar Bara tidak menganggapnya penting merasakan sakit di hatinya.


" Okey, mari kita lanjutkan." Interupsi Ibnu.


" Untuk benda atas nama Tamara/Tanura beralih kepada Maura."


" Tidaakkk..." Tamara berdiri, kembali mengamuk.


" Aku ahli waris Aloya, Brotosedjo. Dia hanya wanita brengsek. Dia..." tunjuknya kepada Maura, " hanya perampok ******."


" Fa, Lo masih kesal, gak?" Tanya Ibnu.


" Banget."


" Hajar mereka, gih."


" Males, gak elit." Alfaska malah menikmati makanan ringan yang tersaji.


" Melihat mereka, gue merasa bersyukur."


" Setidaknya Lo terhibur di ulang thaun Lo ini."


" Kalian harus adil, berikan kepada kami sesuatu." Miranda mengotot.


" Sepanjang kesejahteraan hidup kalian berdiri diatas luka dan kesedihan Wilson, Alatas, dan Irawan, dan kau masih ingin meminta sesuatu? Akan ku berikan."


Miranda sudah tersenyum senang." Nyawa kalianlah hadiahnya." Desis Bara tajam.


" Itu ulah Aloya, kami tidak tahu apapun. Dimana dia sekarang?"


" Kalian ingin tahu dimana mereka?"


Mereka semua mengangguk.


turunlah layar proyektor dari kaca tersebut, lampu diremangkan.


di layar muncul video Aloya dan Rafael yang terkvbvr dengan wajah tirus dengan tonjolan tulang wajah yang teramat sangat menonjol dan dibantu selang untuk asupannya.


Kecuali Wilson, dan petinggi RaHasiYa, dan Bara. semuanya terhentak kaget.


" PAPA..." Jerit Adinda dan Tamara.


penampilan Rudi dan Victor yang mengiris pilu.


" Kenapa kalian begitu kejam?" hardik Miranda.


" Kejam, lebih kejam mana dengan membakar orang orang Tidka bersalah sampai kehilangan nyawa." balas Bara.


Bara menghela nafas bosan, " kau membawa Aloya kepada kami, mencoba menipu kami, dia membunuh ibuku. Seharusnya kau merasa bersyukur kami tidak melenyapkan mu."


Sorot tajam mata Bara membungkam mulut semuanya.


" Bara, aku tidak bersangkut paut dengan mereka, kenapa kau ambil milikku?" Lirih Tamara dengan tatapan memohon berharap Bara bersimpatik.


" Ingin melenyapkan calon istriku, membenci pelindungku, membodohi keluarga Hartadraja, itu hal yang tidak bisa dimaafkan."


" Jangan banyak drama, kalian wanita murahan, kalian masih bisa bertahan dengan menggunakan tubuh kalian itu." Cemooh Bara merendahkan.


" Kalian sudah ambil semuanya dari kami, biarkan kami bebas." Naura berucap dengan lembut.


" Bebas,... silakan. Kalau kalian bisa keluar dari sini." Tantang Bara dengan tersenyum smirk.


Nathan berkeberatan, ia berkata" Bara, hanya begini? Mereka membunuh orang tuaku, paman Alatas."


Petinggi RaHasiYa menatap klan Wilson dan Alatas," apa yang kalian inginkan?" Tanya Alfaska.


" Habisi mereka." Ujar Nathan dingin.


" Itu mubazir, kalau mereka mati, mereka tidak akan merasakan kesakitan seperti yang kamu rasakan." Imbuh Ibnu.


" Kami punya solusi terbaik bagi mereka."


Semua mata berbinar," benarkah?" Tanya Sofia.


" Sungguh. Buka pintunya." Titah Bara kepada penjaga pintu ruangan mereka


Tamara, Brotosedjo dengan tertatih-tatih, Miranda adalah orang pertama yang berebut keluar.


Lirihan kecil Samuel  yang melarang mereka untuk keluar tidak mereka hiraukan.


" Apa kalian ingin melihat pertunjukan siksaan yang paling menakjubkan?" Tawar Bara.


Bagai terhipnotis, mereka mengangguk.


 Tidak berapa lama terdengar gonggongan dari beberapa anjing herder yang kelaparan, tidak lama jeritan kesakitan terdengar.


Para tamu yang terkaget karena penasaran menuju m ruang tamu mengintip dari jendela, di sana bola mata mereka membulat lebar, mulut menganga, raut wajah berubah ngeri.


Bahkan Rendy harus memeluk ibunya yang sudah menangis takut.


Dalam pelukan Luke, Dania melihat tanpa kasihan kaki Miranda yang dikoyak herder hingga tulangnya tertampak.



Menjelang eksekusi, Bara sengaja tidak memberi makan para anjing , mereka disiagakan penuh, begitu mereka keluar dari rumah, para pawang melepas tali ikatannya

__ADS_1



Anjing itu langsung berlari begitu melihat mangsa yang keluar dari rumah, mereka dengan beringas menyerang target.



" Kya.....aaakkhhh...." Rintihan Tamara, Miranda, Adinda, dan Brotosedjo secara bersamaan karena terk4m4n para anjing, membatalkan niat Naura, dan Sofia untuk keluar, Mereka berbalik kembali ke dalam rumah lalu mengunci pintu itu.



Wajah mereka syok berat, nafas terengah-engah. Mereka saling lempar pandang, kemudian menatap Bara yang memandangi mereka sambil tersenyum devil.



Para anjing itu men4nc4pkan giginya pada tubuh yang mereka terkam, lalu menariknya sampai terlihat tulang memakan daging itu layaknya steak dari chief terkenal.



Serangan itu hanya berlangsung lima menit, namun mampu menghabiskan apa yang mereka targetkan.



Para pawang kembali memasukan para anjing dengan pancingan sebongkah daging segar.



Tinggallah empat korban yang terkapar tidak berdaya di tanah dengan tubuh yang rusak dengan d4r4h segar mengalir.



Anak buah Bara mendatangi mereka, menyiram luka mereka dengan alkohol. Adinda, Miranda sudah tidak sadarkan diri tidak bereaksi. Sementara Tamara dan Brotosedjo diantara sadar dan tidak sadar menjerit kuat karena Tidka tahan akan sakitnya.



Dibawah pimpinan Jeno, korban diobati seadanya, mereka membawa para korban entah kemana hanya Bara yang tahu.



Wajah Pramono, alexander, terkejut syok, sedangkan Wilson, dan Alatas bersaudara menyikapinya biasa saja.



" Apa ada diantara kalian yang belum puas?"



" Mereka tidak mati." Gumam Ibrahim.



" Tidak, cacat permanen dari g1g1tan anjing akan membuat mereka hanya seonggok nyawa yang tidak berguna."



" Bagaimana dengan mereka berdua?" Rendy menunjuk Naura dan Sofia.



" Tuan, ku mohon ampuni ibuku." Lirih Maura.



" Tidak akan pernah." Jawab Riska.



" Akibat ulah mereka yang menyalahgunakan uang perusahaan, perusahaanku hampir bangkrut. Kalau bukan kebaikan para kolegaku, kami sudah menjadi miskin." Ucap Riska penuh amarah.



" Mengenai mereka berdua, kami akan mengirim mereka ke pulau terluar tidak berpenghuni tanpa bekal." tutur Bara.



" Saya pikir itu yang terbaik, kita bukan mereka yan tidak memiliki belas kasih. Kita sudahi pembalasan sampai sini." Ujar Luke Wilson yang disetujui oleh yang lain.



" Selain Maura, kami undang kalian ke gedung RaHasiYa. Kita akan mengadakan pesta untuk kalian." Seru Daniel.



" Sebaiknya kita pulang sekarang." Ujar Ibnu.



Arvan dan tim penyelidik kasus Gonzalez terdiam sambil melihat Tamara, Miranda, Adinda, dan Brotosedjo yang ditarik ke arah belakang rumah.


" Sebaiknya kita laporkan Brotosedjo, dan Tamara meninggal." Seru Zayin.


" Tidak, tentu saja tidak."


*****


Dalam perjalanan, Bara meminta laporan reaksi pasar atas penawaran sahamnya.


" Beberapa perusahaan memborong saham dengan harga memuaskan." Jawab Haikal.


Mendengar itu, raut Bara dan Alfaska berubah sendu, yang Bara rasakan lega sekaligus sedih.


Jerih payahnya selama ini akhirnya lepas begitu saja dari tangan mereka karena keegoisan satu orang.


Alfaska menatap keluar jendela mobil," Maaf, suatu hari nanti gue akan tebus semaunya sama Lo." Ucapnya pelan.


" Its okay, kita pasti akan bisa mendapatkan kembali apa yang kita lepas hari ini." Optimis Bara.


Para sahabat hanya mendengarkan kepiluan dua sepupu tersebut sembari menutup mata mereka.


*******


Navarro mengacak-acak semua ruangan di kamar hotelnya, saham yang dia tawarkan tidak mendapat reaksi apapun dari pasar.


Saham itu diam di posisi yang paling buncit dengan nilai terkecil sepanjang sejarah BEI sampai waktu transaksi ditutup.


" Sial, sialan semuanya. Siapa yang berani mempermainkan saya."


Marco yang melihat itu di pinggiran ruangan tersenyum tipis, sangat tipis, namun membahagiakan.


" Marco, cari siapa dalang dibalik kejadian ini."


" Tuan, Alfaska Argadinata merupakan merupakan petinggi RaHasiYa, tuan Mumtaz dan Ibnu tidak akan membiarkan saham Atma Madina lepas dengan mudah."


" Sebelum mereka melempar balasan kepada kita, saya sarankan kita mengembalikan saham tersebut, dan kita kembali ke Italia."


Navarro yang memilki harga diri yang tinggi menolak usulan asistennya.


" Tuan, sampai saat ini nona Nia belum diketahui keberadaannya."


Navarro bergeming di tempatnya," bukankah dia sudah kembali ke Italia?"


" Seharusnya, tetapi pesawat itu tidak membawa nona Nia. Tidak ada satupun orang yang tahu kemana dia pergi."


" Kenapa hal yang sederhana ini menjadi rumit." Gumamnya.


*****


menjelang senja mereka memasuki lobby gedung yang didekorasi serba warna pink.


lima sahabat dan para asistennya mengernyit bingung.


Mereka terus melangkah hingga sampai di lantai dua, lantai ruang kerja Mumtaz.


Di sana dekorasi lebih membuat mata perih, warna cerah perpaduan pink, merah, dan ungu cerah mendominasi hiasan ruangan.


Toet...tolelot tet....


" TARA.... SELAMAT ULANG TAHUN  ALFASKA..."


Semua anak RaHasiYa, klan Hartadraja, Birawa, Rugawa, Pradapta, Argadinata, dan rekan bisnis lainnya termasuk tmau dari the Baraz berkumpul di sana.


Alfaska, dan Bara terlonjak terkejut mendapat sambutan dari banyak orang yang memenuhi ruang kerja Mumtaz dan lantai dua.


Tiupan terompet serta saweran kertas warna warni menumpahi rambut Alfaska dan Bara dari atas pintu.


Mereka berdua seketika mematung, dan tersadar begitu Dista menubruk tubuh mereka.


" Abang, baik-baik selalu, kita pasti bisa melewati situasi ini." Lirih Dista sedih menahan tangis.


Bara yang pertama sadar membawa Dista ke dalam pelukannya, mencium keningnya sayang.


" Kamu pasti sedih gak bisa belanja lagi." selorohnya, Dista menggeleng.


" Masih ada Cassy, Lia yang bisa diporotin, jadi santai aja " selorohnya.


Alfaska menjitak kepala Dista cukup keras," sini, peluk Abang. Yang ulang tahun Abang."


Dista tersenyum beralih memeluk Kakak sepupunya itu.


Dak...


Alfaska terdorong karena mendapat tendangan di bokongnya dari arah belakang, beruntung dia masih bisa menjaga keseimbangan hingga Dista tidak terjatuh.


" Awas, halangin jalan." Omel Mumtaz, sang pelaku.

__ADS_1


" Bisa minta dengan baik-baik kan?" Dengkus Alfaska 


" Enggak, lama." Para sahabatnya memasuki ruangan dengan santai di sambut peluk cium dari semuanya, mereka membalas sambutan itu dengan senyum.


" Kakek...paman..." rengek Alfaska menghampiri keluarga dari ayahnya.


Senyuman itu memudar saat mereka melihat Zahra yang menatap mereka dengan marah.


Daniel langsung berbalik untuk menarik Alfaska dan Bara.


" Sudah, healingnya?" Suara rendah, namun datar Zahra membuat mereka ketar-ketir.


 " Su...sudah." jawab Alfaska menelan salivanya.


Mereka yang biasanya berdiri tegap nan gagah kini tertunduk takut di depan Zahra.


" Bagaimana kabar kalian?"


" Ba...baik." jawab Mereka serempak, semua yang melihat ketakutan mereka berlima menahan tawa.


Dengan wajah garang Zahra mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi hendak m3n4mpar Alfaska dan Bara.


Alfaska yang tahu kemampuan bela diri Zahra menutup mata, dan mengkerutkan tubuhnya takut.


Sherly yang melihat itupun menutup mata, dia tidak tega keponakan dan anaknya akan dipukul oleh Zahra.


Begitu tangan sampai di pipi Alfaska, bukan tamparan yang dia terima, melainkan tepukan dan belaian sayang di kedua pipinya.


Perlahan Alfaska dan Bara membuka kedua matanya, membalas tatapan Zahra yang sudah mengalir air matanya yang deras.


" Jangan menghindari ku hanya agar aku tidak susah, kalian adikku, kalau bukan aku kakak kalian tempat kalian bersandar kepada siapa lagi kalian berkeluh kesah!? Apa bagi kalian kakak, orang asing?" Lirihnya.


Alfaska dan Bara menggeleng cepat." Maaf, maaf!..." Alfaska dan Bara berbarengan memeluk erat Zahra.


Cukup lama mereka menenggelamkan Zahra diantara tubuh mereka yang besar dan tinggi, sampai zahra harus menepuk-nepuk punggung mereka agar dirinya dilepas, namun mereka tak kunjung melepasnya


Mumtaz dan Ibnu sambil mengomel menarik dua badan besar itu dari Zahra, bahkan Mumtaz menggeplak punggung Alfaska keras.


" Punya gue ini." Sungutnya.


" Gue..." Ibnu tidak mau kalah.


" Gue..."


" Gue..."


Semuanya menjadi bingung kenapa ini berakhir dengan perebutan Zahra diantara Mumtaz dan Ibnu.


" Stopp..." Pekik Zahra.


" Gak perlu berebut, wanita cantik nan baik ini bisa mencintai kalian semua." Ucapnya centil.


Mumtaz, Ibnu, Alfaska, Bara berbalik seolah enggan kepada Zahra dengan wajah malas.


" Ishh...kalian itu..." Rungut Zahra.


" Tenang, kak. Masih ada Aniel." Daniel merangkul Zahra.


" Emang cuma kamu yang gantle..."Zahra tersenyum manis padanya.


Membuat empat sahabatnya mendelik sengit padanya.


Alfaska: " Dasar caper."


Mumtaz: " pengkhianat."


Ibnu: " buaya rawa."


Bara: " jangan dikasih lolipop kalau dia minta."


Rutukan para sahabat hanya ditanggapi santai oleh Daniel yang mendapat perlakuan manja dari Zahra.


Mereka menikmati pesta itu dengan santai dan meriah.


Sejak para tamu membaur tatapan Alfaska tidak pernah lepas dari Tia yang bercengkrama dengan yang lain, namun terasa menarik diri.


Tring... tring...


Alfaska mengadu garpu dengan gelas.


" Mohon perhatiannya," semua atensi menghadap pada Alfaska yang berdiri di tengah ruangan.


Tiba-tiba Alfaska melangkah ke arah Tia berdiri, lalu menariknya ke tengah ruangan.


Tia yang terkejut hanya menurut Ditarik oleh mantan suaminya.


Hatinya berdetak cepat. Kala Alfaska menggenggam kedua tangannya.


" Maryatul Qibtiah Hasanah, kekasih hatiku. Aku sudah pernah mengecewakan kamu dengan menjadi pengecut kala melepasmu yang ku kira adalah hal yang terbaik yang bisa ku lakukan untukmu."


" Semoga kamu bisa memaafkan ku, hari ini dengan kesadaran dan tekad ku yang kuat menjadi imam bagimu, aku ingin kembali kepadamu. Menjadikan kamu istri, tanggung jawab ku dalam segala situasi keadaan, aku tidak akan melepas genggaman tangan ini lagi. Dengan janjiku kepada Allaj, aku ruju' dengan mu. Aku harap kamu menerimanya."


ungkapan pengharapan dari Alfaska sebagai bentuk dia menghormati keinginan Tia.


Genggaman tangan Alfaska mengerat kuat di tangan Tia, Tia menangangkat wajahnya, terlihat raut tegang di wajah suaminya.


" Iya, Tia mau kembali menjadi istri Aa Afa."


Diiringi sorakan Alfaska memeluk erat dan menciumi pucuk kepala dalam dan berkali-kali menyesap aroma Tia yang dia rindukan.


" Aku rindu kamu, amat sangat." Bisiknya ditelinga Tia.


" Maafin Iya, udah mengecewakan Aa. Untuk kali ini Iya janji akan menjadi istri Aa yang lebih baik."


" Ada bunda, Tante Elena, mama Sherly  yang selalu bersedia untuk kamu. Mereka juga ibu aku." 


Tidak tahan lagi, Tia pun menangis." Maaf, maafin Iya.."


" Kita bersama-sama menjadi lebih baik lagi."


Ucapan selamat terus diberikan oleh semua yang hadir. Rangkulan Alfaska kepada Tia tidak jua lepas. 


Teddy mendekati Alfaska sambil menarik tangan Bara yang terlihat bingung.


" Afa,..." Alfaska menoleh ke arah Teddy.


" Iya, ayah."


" Ini hadiah untuk kalian berdua dari kami." Teddy memberikan amplop warna coklat kepada Alfaska.


Mata Alfaska  terbelalak, matanya menatap tidak percaya kepada Teddy dan yang lain. Lalau memeluk Teddy erat, menangis tersedu-sedu.


Bara mengambil amplop tersebut, ia membacanya. Seketika amplop tersebut terlepas dari tangannya.


" Kalian..."lirih Bara.


Fatio menepuk-tepuk pundak Bara.


" Jangan berasa tidak enak hati atau sungkan. Terinspirasi dari kalian anak muda yang menolong kami tanpa pamrih. Ini bukan balasan dari kami, tetapi kita sudah lama bersama sewajarnya kita saling tolong."


" Terima kasih, tuan."


" Kebuy, panggil saya kebuy, seperti Akbar atau Adgar memanggil saya."


Bara mengangguk ta'dzim," terima kasih, kebuy." Ucapnya kaku.


" Terima kasih kepada semuanya." Ucap Alfaska lantang kepada para tamu dengan khidmat yang mendapat anggukan dari semuanya dengan haru


" Semuanya pesan di kantin, saya traktir." Seru Alfaska.


" Gak perlu repot, Kak. Kak Ibnu udah mentraktir. Kan kata Ita, kakak sama kak Bara miskin, jadi semua pengeluaran hari ini ditanggung kak Ibnu." Ceplos Cassandra santai tanpa dosa dengan mengangkat kartu hitam ditangan.


Riuh teriakan membahana.


" Ishh...tu orang..." Gerutu Ibnu.


" Ikhlas, Nu? Habis ini kita pindah ke restorannya kak Dennis ni. Kakak udah booking satu lantai." Seru Eidelweis.


" Punya pilihan lain gak?" Mereka menggeleng sambil menahan tawa


" Iya, ikhlas." Suara terpaksa darinya diabaikan oleh yang lain.


" Lo sih, gue kan udah bilang jangan kasih dia kartu." Bisik Mumtaz.


" Kagak elah, gue guruh dia ngambil cash."balik berbisik dengan suara keras terdengar yang lain yang terkikik.


" Bukan Cassy yang ambil, tapi Lia yang ambil kartunya. Katanya mubadzir kartu Kakak Ini nganggur, rebahan mulu." Adu Cassandra enteng.


Ibnu melirik Mumtaz," apa?"


" Bini Lo..." 


" Udah sih sama saudara ipar juga. Biar berkah." Mumtaz meloyor pergi ke tempat Sisilia yang berdiri disamping Dista.


" Pas bininya jadi pelakubngeloyor Lo."


Suasana pesta dadakan berlangsung meriah dengan dual cita, Yuda mengambil amplop coklat yang tergeletak di lantai.


Ia tersenyum haru, ia kembalikan isi amplop tersebut ke dalam amplop, lalu menyimpannya rapih di dalam laci meja Mumtaz.


" Mari kita ke restoran Dennis, makan sepuasnya." Seru Eidelweis yang disambut tepuk tangan meriah oleh anak RaHasiYa.


Daniel merangkul Ibnu yang berwajah sedikit geregetan kepada para bocil yang tertawa senang.

__ADS_1


" Mereka berdua kan gak jadi bangkrut, kenapa gak yang ulang tahun yang bayar."


" Karena kartu lo terlalu lama rebahan." kekehnya...


__ADS_2