
" Mumtaz... Mumtaz...maaf... Mumtaz..." Teriak Ibnu dalam ketidaksadarannya.
Para sahabat dan semua orang yang berada di ruangan itu sangat cemas karena Ibnu tidak kunjung benar-benar sadar, ia mengigau menyebut nama Mumtaz dengan gelisah sampai berkeringat dingin dan berakhir dengan tangisan, terus berulang-ulang.
" Mumtaz... Tidak...jangan..." Tangan Ibnu menggapai-gapai ingin meraih sesuatu Daniel yang duduk di samping Brankar untuk mengelap keringat Ibnu melepas handuk kecil yang dia pegang berganti menggenggam tangan Ibnu yang diremas kuat olehnya. Mata Daniel menatap nanar Ibnu yang menangis pilu.
Setelah tenang, kembali dia menyeka keringat dingin Ibnu menggunakan handuk kecil dengan air hangat, matanya tidak lepas dari Ibnu.
Bara sibuk dengan pikirannya, " mengapa dia memanggil nama Mumtaz bukannya Mumuy?"Gumamnya yang terdengar oleh Akbar yang duduk di sampingnya.
Akbar menoleh padanya." Kenapa?" Tanya Akbar.
" Hah?"
" Kenapa? Apa yang Lo pikirkan?"
" Enggak ada."
" Di sini gak ada Rizal atau Ubay, Lo bisa ke gue."
" Kenapa Ibnu memanggil nama Mumtaz bukannya Mumuy."
" Emang kenapa?"
" Selama gue kenal mereka, Ibnu selalu manggil Mumtaz dengan Mumuy. Kecuali memang saat itu mereka belum dekat." Analisanya.
" Berarti peristiwa itu terjadi jauh sebelum kalian kenal." Akbar menganalisa.
" Katanya demikian."
" Berarti mereka terlalu kecil untuk merasakan penderitaan ini, dan ini sudah berlangsung lama, pantas jika Ibnu begitu traumatik."
" Ya Tuhan berasa tidak berguna gue." kesal Bara terhadap diri sendiri.
" Jangan begitu, bahkan kembar Siam saja selalu ada yang dirahasiakan."
" ini Ibnu dan Mumtaz, Bar. gue gak bisa menganggap sepele apa yang gue lihat tentang mereka ini."
" Gue paham, tapi dengan Lo kayak gini aja gak membantu mereka, Lo lihat Daniel dia sama tersiksanya dengan Lo. yang bisa kit lakukan sekarang hanya tenang, dan memperhatikan agar hal yang tidak diinginkan terjadi." tukas Akbar kalem.
" Niel, gantian bunda yang yang ngelap. Kalian makan dulu, dari siang kalian belum makan."
Daniel menggeleng," bunda aja yang makan, Aniel tahu bunda juga belum makan."
" Niel,..." Panggil Teddy..
" Aniel gak bisa ninggalin Inu, yah. Inu butuh Aniel." Mata Daniel berair kemudian setetes air mata membasahi pipinya semakin lama semakin deras, ia dengan cepat menyekanya, " mereka tidak pernah ninggalin kami sewaktu setiap kami butuh mereka, apapun kesibukan mereka."
" Pernah Aniel menelpon Inu sewaktu mereka sedang bertanding karate, masih tingkat antar sekolahnya sih, tapi mereka meninggalkan pertandingan itu dan mereka didiskulaifikasi." Paraunya mengenang masa lalunya
" Sewaktu Lo merasa bersalah, si Mumuy cuma komentar, level gue bukan di SMP, tapi univ. Songong emang tu orang sekali ngeb4cot." Kekeh Alfaska kontras dengan air matanya yang berderai tidak peduli akan adanya kehadiran rekan kerjanya.
Para orang tua diam mendengarkan dengan khidmat, satu hal yang menjadi inspirasi bagi mereka.
Alfaska menghentak kesal dan marah-marah karena Mumtaz tidak bisa dihubungi, semua orang yang ada sudah berusaha menghubungi dua bersaudara tersebut, tetapi tidak ada yang menjawab.
" Gue coba telpon Juan, siap tahu dia tahu di mana mereka." Ucap Adgar, itu sebenarnya alibi agar dirinya bisa keluar ruangan, dia sudah tidak bisa menahan air matanya mendengar perjalanan persahabatan mereka.
*****
Mumtaz dan Zayin sejak kepulangan dari rumah Sandra mengurungkan diri di dalam kamar Aida. Keduanya duduk bersampingan di atas kasur menatap bingkai foto kedua orang tua mereka.
Tetes demi tetes air mata berasal dari Mumtaz jatuh di atas foto tersebut." Aku... salah, tapi aku tidak menyesalinya. Maafkan aku!" Mumtaz tertunduk dalam merasa kalah.
Zayin mengangkat kepalanya menahan air mata yang ingin keluar.
" Kami menerima mereka, ini bukan salahmu atau salahnya, ini salah dia. Sudah tepat kita memberinya hukuman." Zayin menegaskan.
Mumtaz Menatap Zayin." Kamu... tidak merasa aku membawa duka untuk keluarga kita?"
" Ck, jangan melankolis. Mana ada begitu, mereka kakak aku, itu komitmennya."
" Kalian terlalu terikat emosi, jadi kalau suatu hari Sandra berulah lagi biar aku yang menghadapinya."
" Ayin,..."
" Tidak ada penolakan, Ayin gak meragukan kemampuan Aa untuk membalas dia, tetapi Ayin tahu Aa akan sakit kalau bang Afa sakit, jadi biar Ayin yang menggantikan Aa supaya bathin kita tetap sehat, itu sudah keputusan mutlak." Tegasnya, Mumtaz mengangguk tanpa protes.
Tok..tok...
" Buka." Teriak Zayin yang dipelototi Mumtaz. Zayin hanya mengedikan bahu cuek.
Juan bersama Raja berdiri gelisah di ambang pintu." Sorry, ganggu, tapi kata Adgar bang Ibnu masuk rumah sakit, karena..."
" Awss.." rintih Raja dan Juan yang terjatuh karena tubrukan badan Zayin dan Mumtaz yang berlari keluar rumah sebelum Juan menyelesaikan ucapannya.
******
Ceklek.
Khadafi memasuki ruangan dengan wajah panik, langsung menuju brankar Ibnu yang masih tertidur dengan gelisah.
" Kenapa bang?" Tanyanya kepada Daniel.
" Itu yang ingin Abang tahu, apa dia sering begini?"
" Dulu, sering. Apalagi kalau bulan kematian ibu dan bapak." Ucapnya sedih.
" Tahu darimana kita di sini?" Tanya Hanna.
Khadafi menatap isi ruangan yang dipenuhi orang-orang yang sering nongol di tv.
Ia meringis malu tidak bersalaman," maaf, masuk tidak sopan."
" Dafi telpon rumah mama Aida yang angkat bang Juan." Ucapnya sebelum mencium tangan satu persatu para orang tua yang duduk memenuhi ruang tunggu dan ruang inap dengan pintu penghubung dibuka lebar.
Brak...
Mumtaz dan Zayin berebut masuk ruang rawat Ibnu, mata mereka tertuju pada Ibnu yang meringis seakan kesakitan di alam bawah sadarnya.
" Kenapa?" Tanya Mumtaz tajam pada Daniel.
" Gak tahu, tadi sewaktu kita di rumah paman Gama Inu tiba-tiba pingsan." Jawab Daniel masih sibuk mengelap wajah Ibnu.
" Apa kata dokter?"
Sesaat hening, sebelum Teddy menjawab." Tidak ada yang serius, hanya banyak pikiran."
" Dia nyebut Lo mulu, Lo kemana susah amat diteleponnya." Rutuk Alfaska.
Mumtaz mengambil ponselnya dari saku jaket," mati. Chargerin." Dia melempar santai ponselnya pada Alfaska.
Santoso, Husein, dan Alatas menggeleng kepala atas keberanian Mumtaz menyuruh seorang Atma Madina.
Zayin terpana melihat banyaknya orang, " Kalian sedang apa di sini?" Tanya zayin pada semuanya, kemudian menyalami cium tangan mereka satu persatu, diikuti oleh Mumtaz.
" Tadi waktu paman Teddy menelpon paman Aznan untuk ke rumah paman Gama kami sedang rapat, alhasil setelah mendengar perkataan Aznan kami memutuskan ikut serta ke rumah paman Gama." Jawab Alex Santoso.
" Buat apa?"
" Kami berniat membantu agar Tante Elena tetap merestui hubungan Mumtaz dengan Sisilia." Jawab Rugawa.
Mumtaz menoleh kepada Elena, kemudian menatap lama Sisilia yang membalas tatapan tersebut dengan senyum.
Alis Zayin terangkat bertanya tidak percaya," serius? Kalian kurang kerjaan atau gimana?"
Para orang tua terkekeh" itu karena Aryan dan Teddy yang cemas banget tadi, terkesan berlebihan sih." Terang Aznan.
" Kamu gak lihat sih tadi paniknya Afa pas lihat maminya mengirim video tersebut ke Tante Elena." Teddy membela diri.
Zayin menghembuskan nafas berlebihan," terus kalian menyerbu rumah om Gama gitu? Wow impresif." Sarkasnya geli.
" Kalian tahu darimana saya bermasalah? video apa?" Tanya Mumtaz menyelidik.
Mereka saling pandang tidak nyaman, hingga Fatih yang mewakilinya." Kami lihat dari sosmed apa yang terjadi di rumah nyonya Sandra.
Para sahabat, Mumtaz dan Zayin terdiam tidak paham.
__ADS_1
" apa yang terjadi dengan kamu dan Tante Sandra menyebar di internet, saya dapat kiriman dari teman, tepatnya." Ucap Ibrahim Alatas.
Para sahabat membuka platform sosmed, Mumtaz merebut ponsel Alfaska saat dia hendak menekan salah satu akun Twitter teman kampus yang mengiriminya sebuah video dengan foto Mumtaz.
" Lo jangan lihat, kalau lihat gue colok mata Lo " peringat Mumtaz setegas mungkin, Alfaska terdiam.
Kemudian dia dan Zayin melihat video dengan adegan yang sama dengan video yang dikirim pada Elena di semua platform sosial media.
Mimik Mumtaz terlihat biasa saja dari pandangan mereka semua, " apa kalian butuh penjelasan?"
Mereka menggeleng, " Tante Elena sudah memperlihatkan kepada kami video nyonya Sandra di rumah sakit, dan kami memakluminya." Jawab Ari Santoso.
" Terima kasih, atas kepercayaan kalian." Ucapnya ta"dzim.
" Apa kami perlu menyebar video nyonya Sandra untuk mengklarifikasi video kamu?" Tanya Ibrahim Husein.
Mumtaz menggeleng," tidak perlu, saya memanfaatkan ini untuk mengetahui siapa yang tidak menyukai saya, tapi terima kasih atas tawarannya." Ucapnya tenang terkesan santai.
" Kalau kamu, Yin?" Tanya Damian.
" Saya?" Zayin menunjuk diri sendiri yang diangguki Damian.
" Aa Mumuy-nya aja anteng, kenapa saya harus marah, tidak ada alasan untuk itu."
BUGH...BUGH...
Alfaska menyerang Zayin dengan banyak pukulan yang tidak dilawan oleh Zayin, namun gerakan cepat itu mengagetkan semuanya.
Para wanita menjerit tertahan, para suami langsung menutup mata mereka, kemudian menarik mereka ke dalam pelukan.
" Balas gue, bangs4t. BALAS. PUKUL GUE!" Pekik Alfaska kesal, dia tidak mau mereka berbaik hati padanya. Alfaska mengambil tangan Zayin lalu dipukvlkan ke wajahnya yang tentu tidak bertenaga.
" Lepas." Zayin menarik tangannya, mendorong Alfaska hingga terjungkal untuk membebaskan diri pendudukan Alfaska di perutnya, lalu berdiri merapikan jaketnya.
" Gue ini tentara, tugas gue menjadi seorang pelindung. Lagian gue alergi mukul orang sipil." Jawabnya sombong.
Semuanya terbengong mendengar perkataan Zayin yang terdengar guyonan di situasi yang menegangkan begini.
" Benaran saya tuh gak masalah, atau marah." Tegasnya menatap Aryan seksama.
Tangannya terulur membantu Alfaska berdiri." Jadi hilangkan mimik merana itu dari wajah mu yang standard itu."
Tiba-tiba Zayin memeluk Alfaska erat, dia harus meyakinkan Mumtaz bahwa keberadaan para sahabatnya bukan suatu kesialan." kamu masih abangku, dan tetap menjadi Abang rasa adik ipar selamanya." Ucapnya disusul cengiran menghibur.
Alfaska mengangguk, karena tidak ada kata yang bisa mewakili rasa syukurnya.
" Jadi ini sudah menyebar luas?" Renung Mumtaz, tatapannya tertuju kepada Elena dan Gama.
Ia menjilat bibir bawahnya sebelum berucap," saya memaklumi dan akan menerima jika kalian meragukan kebaikan saya, dan memisahkan kami."
Saat Gama buka mulut, Zayin menyela.
" Tapi saya pastika kalian akan menyesal kehilangan calon mantu berkualitas premium sekelas Aa."
" Dia memang bukan makhluk lembut, bahkan mampu menyakiti wanita, tetapi dia juga lelaki yang bisa menjaga dan melindungi kehormatan wanita di tempat yang tertinggi."
" Jiwa dan raga saya jaminannya, jadi sebelum memutuskan pikirkan baik dan buruknya demi Sisilia. Sekali mereka berpisah, saya pastikan sisilia tidak kan menikah sebelum Aa Mumuy menikah." Ancamnya dengan aura mengintimidasi.
Dalam hati Dominiaz, dia mengagumi keberanian Zayin ini.
Elena beranjak dari sofa menghampiri Zayin, menepuk pelan pipinya.
" Kamu itu sedang membujuk, atau mengancam. Kalau kamu mau Tante merestui mereka panggil Tante mommy seperti Lia."
Mata Zayin membola, lalu menggeleng." Maaf Tante, itu belum saatnya. Takut nanti mereka putus keadaan akan canggung. Tapi peran Tante sama pentingnya dengan bunda." Ungkap Zayin.
" Ooh, manisnya..." Ujar elena gemas sambil menjepit pipi Zayin. Yang lain terkekeh geli.
" Ini direstui enggak ni?" Zayin menjauhkan tangan Elena dari pipinya karena risih dilihat para lelaki dewasa lainnya.
" Hari ini Tante terharu, sejak datang kemari para lelaki itu sangat mempromosikan Mumtaz, padahal itu tidak perlu. Bagi Tante Mumtaz masih calon mantu unggulan." Ucapnya sesekali melihat Mumtaz.
" Alhamdulillah." Ucap yang lain.
" Lagian yang rugi Lia kalau mereka putus, memang siapa lagi yang tahan akan sikap manjanya si bule itu kalau bukan kakak saya, awwss...." Ucap sombong Zayin yang mendapat geplakan di kepalanya dari Daniel.
" Kami pamit pulang." Pamit Hazam.
****
Setelah mereka pulang, Mumtaz menelpon Dewa untuk dimintai keterangan akan kelalaian mereka.
Kini di ruang tunggu tinggal ada klan Hartadraja, Birawa dan Pradapta yang membuat Dewa dan Dimas gugup setengah mati. Sementara Zayin keluar dengan alasan mencari makan ditemani Adgar yang lebih dahulu menginterogasi Nando tanpa sepengetahuan petinggi RaHasiYa.
" Kenapa Lo gak bisa mencegah penyebaran video itu?" Tanya Zayin santai namun tersimpan peringatan.
" Sorry bang. Hari ini gue ditugasi jaga Ayu karena skandal bang Ibnu kemarin."
" Bukannya itu udah selesai? Videonya juga sudah hilang."
" Tidak dengan mulut mereka, tadi di sekolah saja Ayu ditertawakan oleh hampir satu sekolah walau Genk BIBA bisa mengatasinya."
" Info terbaru terkait berita itu?"
" sudah gue serahin di meja bang Mumtaz.
" Ke gue belum, ngomong sekarang."
" Mela ternyata salah satu staf di sekolah BIBA, dan setelah ditelusuri akun penyebarnya merupakan salah satu sahabat Mela yang mendapat video tersebut dari Mela yang diperoleh dari sopir yang menungguinya."
" Bukannya dia pulang bareng bang Inu?, Kenapa sopirnya masih berada di sana, dan memvideokan mereka?" Tanya Zayin yang diangguki Adgar dan Nando yang sudah memahami keadaan.
" Kalau bukan untuk sengaja membuat berita ini..." Seru Adgar.
" Tapi apa modusnya?" Sambung Nando.
" Terserahlah apa modus dia, sekarang Lo awasi lalulintas cyber dia." Perintah Zayin yang diangguki Nando, dia tidak berani membantah satu orang ini, orang yang sudah menyelamatkan kehormatan ibunya saat dihina masyarakat setempat.
" Sekarang perihal Aa Mumuy..." Ucap Zayin.
" Itu sudah di atasi bang Dewa."
" Siapa akun penyebarnya?"
Nando menghela nafasnya dengan berat." Sandra Atma Madina."
Zayin berdecak kesal." Nenek julid itu...apa bang Afa tahu?"
" Sekarang mereka sedang menanyai bang Dewa kayaknya. Tadi gue lihat bang Dewa dan bang Dimas di lobby."
Seketika Zayin beranjak kemudian menjitak kepala Nando dengan gemas.
" Kenapa gak bilang dari tadi." Serunya seraya berlari ke arah lift menuju lantai tiga.
" Ceritakan perkembangan berita yang terbaru." Pinta Mumtaz dengan suara datar.
" Video itu tersebar selama 10 menit, kami bisa menghapusnya di menit ke 9 lewat 55 detik. Saya lalai..."
" Karena?" Sela Mumtaz.
" Mengawasi keadaan rumah tuan Pradapta dan membuka jalan bagi bang Ibnu. Dimas yang menyadari berita itu sudah tersebar."
" Darimana asalnya?"
Mata dewa sekilas melirik Alfaska yang membuat Mumtaz mengusap wajahnya dengan kasar, syukurnya lirikan tersebut lolos dari penglihatan Alfaska yang masih memandang kosong ke depan.
" Semuanya bermula dari akun bernama Sandra Atma Madina." Ungkapnya pelan.
Suara henyakan kaget memenuhi isi ruangan, tidak ada yang bicara semuanya tersimpan dalam hati.
" Jadi ini maksud Sandra mendatangiku pagi kemarin." gumam Sri Terdengar oleh semuanya.
Mendapat tatapan bertanya dari semuanya Sri berujar," nanti Nebuy jelaskan." Ucapnya kepada Mumtaz.
Alfaska memejamkan matanya kuat-kuat, tangannya yang terjatuh di atas pahanya mengepal kuat.
Mumtaz menangkup tangan tersebut yang langsung ditepis Alfaska, ia beranjak menuju pintu ruangan.
__ADS_1
" Fa, mau kemana?" panggil Aryan.
" Ke rumah wanita sialan itu."
" Alfaska." Peringat Aryan.
" Dia memang sialan, Pi. Kita gak bisa diamkan dia lagi berbuat seenak jidatnya. Nama baik sahabat aku taruhannya."
" Duduk." pinta Teddy
" Tidak, aku mesti ngomong sam tu perempuan, ini harus diakhiri, dan aku yang akan mengakhirinya."
Saat dia akan meraih gagang pintu, pintu itu dibuka dari luar oleh Zayin.
" Mau kemana?" Tanya Zayin dengan suara tegas bagai orang dewasa.
" Lo tahu apa yang terjadi dan siapa penyebabnya, dan gue akan kesana ngomong sama tu perempuan supaya mulut dia mingkem." Ucapan kasar Alfaska mengenai ibunya direspon santai oleh Zayin.
" Tidak ada seorangpun yang pergi, masuk dan duduk."
" Yin,..."
Zayin mendorong tubuh Alfaska untuk kembali masuk ruangan dan didudukkan diantara Mumtaz dan Daniel.
" Ini gak mengapa Hartadraja, dan Pradapta mendengar dan melihat aib keluarga Atma Madina?" Zayin bertanya sebelum bertindak.
" Terlalu terlambat untuk jaim." Komentar Bara dengan nada enteng.
" Iya, sih. Bahkan kita tahu aibnya Hartadraja dan juga Pradapta." Seloroh Zayin.
Semuanya terkekeh dengan intermezzonya.
" Zayin,..." Panggil Alfaska jengkel.
" Tidak ada yang pergi kesana tanpa izin dariku."
" Kenapa demikian?" Bara mengernyitkan alisnya.
" Karena itu keputusan ku, kalau kalian ingin ini berakhir meminimalisir saling menyakiti, aku yang akan menghadapinya."
" Kalian tahu kalau dia membenci sifat membangkang ku, dan diantar kalian semua hanya aku yang tidak memperdulikan pandangan dan juga ocehannya."
" Selama dia tidak menghinaku keluargaku, semuanya aman." Tukas Zayin.
" Tapi internet tersebut..."
" Aa Mumuy tidak mempersalahkannya, jadi itu seharusnya tidak ada persoalan, toh nanti juga mereka akan menemukan hal baru yang akan diviralkan."
" Sebenarnya sudah ada." Timpal Dimas sedikit gusar.
" Apa?" Tanya Bara.
" Itu, kejadian di danau kak Ala dan tuan Raul." Dimas menyodorkan ponselnya ke hadapan Mumtaz.
" Kak Ala, astagfirullah, kita melupakan dia, di jam segini kita belum menemukannya." Panik Sri yang menular ke yang lain.
" Dia ada di apart Hito." Tutur Heru.
" Ngapain di sana? Di tempat cowok jam segini." Selidik Zayin dengan mata memicing.
" Entahlah, tapi tadi Hito menelpon saya." Bohong Heru.
" Jangan bohong, kalau bohong Adel saya nikahin sekarang juga." Balas Zayin yang sangat paham akan keposesifan Heru terhadap anak gadisnya.
Mata Heru melotot seketika dengan garang, lalu dia menghela nafasnya gusar, maka terlontarlah cerita kedatangan Zahra ke apartemen Hito, tentu tidak secara detil.
" Ish, banyak masalah amat sih. Aku pergi." Pamit Zayin.
" Kemana?" Tnaya Mumtaz.
" Ke apartemen om Hito lah, Aa mau gadis perawan kita ternodai?"
Semaunya semakin semrawut adanya.
******
Hito membuka pintu kamarnya yang saat ini ditempati Zahra.
perlahan-lahan dia mendekati ranjang, Zahra tertidur dengan posisi meringkuk masih berbalut mukena, kemudian berjongkok di depannya.
" Sayang, aku akan berusaha menjaga kehormatan mu, meninggikan derajat mu hingga tidak ada satu orangpun yang memandang rendah dirimu." bisiknya syahdu.
Ting tong...
Suara nyaring bel membuatnya menggerutu, ia mengecup kening Zahra sebelum membuat pintu.
Hito memandang dua pemuda yang berdiri di depan unitnya di jam tengah malam.
" Mana kakakku?"
" Tidur."
Tanpa kata Zayin menerobos masuk apartemen memeriksa kamar satu persatu yang disaksikan oleh dua Hartadraja yang duduk di ruang tamu hingga jelaslah mereka tidak tidur dalam satu kamar. Dia menghela nafas lega sesudahnya.
" Puas?" Sarkas Hito yang diangguki Zayin dengan santai.
" Bagaimana keadaannya saat Datang tadi?" Kini raut Zayin serius.
" Berantakan, andai kalian mengizinkan saya untuk bertindak membalasnya." Hito menatap Zayin mengharap izin tersebut.
" Sorry, gak bisa. Dia masih punya lima saudara laki-laki yang akan melindunginya. Saya jamin ini yang terakhir kakak sedih karena nyonya Sandra."
" Apa yang akan kamu lakukan?"
Zayin mengedikan bahunya," tidak ada, semuanya tergantung iktikad baik dia."
Zayin berdiri, " saya permisi mau tidur dulu." Kakinya melangkah menuju kamar yang ditempati Zahra.
" Kamu mau tidur dimana?" Tanya Hito memastikan.
" Di kamar bareng kakak."
Ada rasa tidak rela dalam hati Hito Zahra tidur berdua dengan lelaki meski itu saudara kandungnya sendiri.
" Kenapa tidak tidur di kamar sebelahnya?" Hito menawarkan kamar yang di depan kamar Zahra.
" Bareng sama om? " Hito mengangguk.
" Ogah."
" Di sofa?"
" Ngapain tidur di tempat sempit kalau ada yang luas dan nyaman." Jawab Zayin ngeyel.
" Tapi kakak kamu perempuan."
" Terus?"
" Kalian sudah dewasa."
" Lantas?"
Hito menggeram kesal dengan sikap Zayin yang tidak paham maksudnya.
" Ya ampun om, omes banget dah, dia itu kakak saya tidak mungkin sayaa ngapa-ngapain dia." Elak Zayin jijik saat menyadari maksud Hito.
" Sudah, selamat malam semuanya." Zayin menutup pintu kamar.
" Kok kamu tahan sih berteman dengan dia, Gar." Hito mengusak rambutnya kasar.
Adgar terkekeh saja.
" Tapi kalian setipe, semaunya sendiri, pantes nyambung." Sontak Adgar tergelak mendengar kekesalan pamannya.
Tawa itu berhenti saat Hito mendapat telpon dari Heru.
" Hallo."
__ADS_1
" Ibnu mengamuk, panggil Zahra suruh ke rumah sakit, sekarang juga." Suara Heru yang sarat kecemasan tak ayal menggerakkan kakinya ke kamar tidur sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang...