Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 17. cinta atau dendam


__ADS_3

setelah absen beberapa hari karena insiden penyayatan itu. kini Zahra aktif kembali bekerja.


" selamat sore menjelang petang semua." salam ceria Zahra yang memasuki cafe' lewat pintu belakang atau dapur.


" eh neng Zahra kumaha ntos sae?" tanya kang Didit, asisten senior koki


" Alhamdulillah, kang. baik. saya langsung ganti seragam dulu ya" Zahra pamit kepada orang-orang bagian dapur.


" hai Selly, gimana keadaan cafe' aman kan?" Zahra menepuk pelan pundak rekan kerjanya


" Lo Ra. udah gawe aja Lo. aman. si vara juga masih ada. gak ngerti gw kenapa bos masih pertahanin dia setelah tragedi itu."


Zahra menganggukan kepala " udahlah biarin aja. toh gw juga udah oke." Zahra berdiri disamping Selly dekat kasir.


" lukanya udah sembuh Lo Ra?" tanya Monik ikut nimbrung


" gak apa-apa. cuma ke gores aja." Zahra mencoba menenangkan para rekannya.


tatapan Zahra tertuju kepada meja yang dekat pintu masuk yang sedang diisi oleh dua orang beda gender.


" itu pak Hito sama siapa?" tanya Zahra penasaran.


" gw denger itu mantannya Ra. udah tiga kali mereka ketemuan disini. dengar-dengar mantannya pengen balikan lagi setelah meninggalkan pak Hito dengan luka yang terdalam" jawab sok puitis Selly.


" maksudnya apa?"


" tu cewek ninggalin pak Hito pake alasan belajar di luar. tau nya dia ninggalin pak Hito karena punya yang lebih kaya. terus sekarang balik ke indo, pengen balikan lagi sama pak Hito." jelas Selly.


" tau dari mana lo?" tanya Monik


" dari pak Erwin sendiri."


" kok gw gak pernah liat " Zahra penasaran


" mereka datangnya sebelum Lo masuk sift."


" namanya siapa?" Zahra merasa tidak nyaman


" emm. Sivia Agustin."


mendengar nama itu Zahra mulai resah dan marah. nama itu tak akan dia lupakan. nama itu yang tertera dalam laporan yang dimiliki Mumtaz sebagai penyebab tragedi tabrakan yang mengakibatkan ayahnya meninggal


setelah perbuatan Hito membuat dia dan saudaranya yatim dan mama nya menjadi janda hanya karena galau putus cinta dengan seorang Sivia. tentu Zahra tidak akan membiarkan Hito mendapatkan kebahagian dengan kembali kepada Sivia. dengan aura menakutkan Zahra menghampiri meja pak Hito.


berdiri dengan raut menyedihkan


" sayang, kamu keterlaluan biarin aku nunggu kamu dirumah buat nunggu kamu jemput aku. eh kamu nya disini berduaan sama cewek lain" Zahra memukul pelan lengan Hito yang terperangah kaget.


Hito terkejut mendapati Zahra yang ngambek seolah-olah mereka punya hubungan khusus.


rencananya hari ini Hito akan membuat keputusan besar dalam hidupnya dengan menerima kembali Sivia. melupakan kesalahan di masa lalu. dia tidak bisa membohongi diri, jika dirinya masih mencintai Sivia. wanita yang telah memberi luka dihatinya.


setelah hampir sebulan ini Sivia terus mengejar maaf dari nya dan meyakinkan Hito jika dia telah menyesal. dia ingin menebus semua kesalahannya dengan menjadi kekasih yang baik bagi Hito.


" maaf, anda siapa?" tanya Sivia setelah sadar dari keterkejutannya


Zahra menoleh sedikit ke arah Sivia


" saya Zahra. kekasihnya Hito." ucapan meyakinkan Zahra.


baik Hito dan Sivia membulatkan mata kaget mendengar perkataan itu.


dengan tangan dilipat diatas perut Zahra menghadap Sivia


" jadi anda yang sering mengganggu kekasih saya. sampai Hito frustasi tidak tahu lagi bagaimana cara menolak wanita tidak tau malu ini" sarkas Zahra.


Sivia emosi " anda jangan mengaku - ngaku pacarnya Hito ya. dia gak ngomong apa-apa tentang kamu." tantang Sivia.


" ngapain dia ngomong sama kamu tentang saya. toh kamu orang yang gak penting bagi Hito."


mendengar dirinya tidak penting dalam hidup Hito, Sivia marah. dia berdiri


" atau kamu yang sedang halu pacaran dengan Hito. berhenti berkhayal girl." ejek Sivia menunjuk Zahra dengan telunjuknya di area dada atas

__ADS_1


menghentakkan jari Sivia di dadanya Zahra mencondongkan diri.


" Lo yang berhenti berkhayal bisa balikan dengan Hito. udah ditolak tapi masih aja ngejar. gak tau malu. pake modus penebusan dosa segala." balas Zahra


Sivia mengangkat tangan hendak menampar Zahra, namun dicegah oleh Hito. Hito memegang lengan Zahra dan membawa Zahra pergi dari tempat itu.


kantor CEO Cafe' D'lima


brak...pintu dibuka dengan kasar


setelah memastikan pintu tertutup rapat Hito melepas pegangannya di lengan Zahra. dia menghadap lurus ke wajah Zahra dengan menahan emosi. Hito mengusap wajahnya berharap dapat mengusir kegusarannya.


" Zahra, kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan?" bentak Hito. dia kesal momen yang seharusnya bahagia hancur karena ulah Zahra.


diam sesaat mendapat bentakan dari Hito " saya melakukan apa yang harus saya lakukan." jawab terkendali Zahra. meski dia juga ingin melampiaskan amarahnya.


" tepatnya apa?" tantang Hito.


" mencegah kebahagiaan anda. dengan kembali berhubungan dengan wanita itu."


Hito terdiam sesaat " apa kamu tahu siapa dia?" tanya Hito hati-hati


" tentu. dia wanita yang membuat anda frustasi dan menabrak ayah saya. sehingga ayah saya meninggal." teriak Zahra.


" setelah anda membuat keluarga saya sedih berkepanjangan. anda pikir saya akan membiarkan Anda bahagia dengan dia?" Zahra menggeleng kepala


" jangan harap."


tubuh Hito luruh terduduk dilantai. dia terdiam dengan fakta yang ada. bahwa Zahra tahu perihal penyebab dia mengendarai mobil tidak terkendali.


menundukkan kepala dengan tangis tertahan kedua tangan diatas lutut yang bersimpuh


" maaf.. maaf..."


Zahra pun menangis, rasa sakit itu datang lagi rasa sakit karena kehilangan orang terkasihnya yang selama ini coba dia singkirkan.


meremas kain baju di bagian hati, karena rasa sakit yang teramat


" apapun yang terjadi, bagi anda dia hanya masa lalu yang harus anda singkirkan." setelah mengatakan itu Zahra meninggalkan kantor.


meninggalkan Hito yang masih duduk bersimpuh dilantai dengan tangis penyesalannya.


" Aaarrgghhh." Hito mencoba meluapkan segalanya yang dia rasakan.


****


memasang raut muka cerah Zahra kembali bertugas.


" hey Lo berani banget ganggu si bos?" Monik langsung gabung.


" kenapa enggak" Zahra menjawab dengan sok jumawa.


dari arah pintu utama dengan tiba-tiba jilbab belakang Zahra di jambak oleh Sivia. secara refleks Zahra memelintir tangan yang mencekal jilbabnya kebelakang tubuh sang empunya.


" aw..aawww. awww. aaaa... sakit lepas." Sivia meronta.


bibir Zahra disamping telinga Sivia,


" Lo yang memulai *****." tanpa peduli dia akan dipotong gaji nya atau dipecat Zahra mengunci pergelangan tangan Sivia dengan erat dan itu sangat menyakitkan.


Sivia mencoba melawan dengan satu tangan yang masih bebas dengan memukul menggunakan tas selempang nya ke arah Zahra yang berdiri dibelakangnya. dengan mudah Zahra kembali memelintir tangan satu nya lagi.


"aaaa....aaa..lepas ampun."


entah mengapa Zahra sangat membenci wanita ini. dengan satu tangan Zahra mengunci dua tangan Sivia. dan satu tangannya menjambak rambut Sivia keras sehingga kepala Sivia ikut tertarik menengadah.


jeritan Sivia terdengar oleh Hito yang hendak turun dan bergegas kembali ke lantai bawah dan pak Erwin yang baru masuk membolakan mata kaget melihat adegan yang ada didepannya.


aksi Zahra dan Sivia menjadi tontonan seru para pengunjung cafe', banyak dari mereka merekamnya lewat ponsel mereka.


" Zahra ya Allah. lepas Zahra" teriak pak Erwin panik


" gak bisa. kalo saya lepas nanti yang ada jilbab saya dijambak pak "

__ADS_1


dengan masih menjambak, Zahra mencoba membawa Sivia keluar dari cafe' yang ditolak oleh Sivia.


" Erwin karyawan apaan dia berani Jambak aku. pecat dia." teriak Sivia.


Hito yang melihat itu hanya bisa diam.


" Hito toloooong aku. dia lukai aku.."Sivia mencoba melepaskan diri dengan cara menginjakkan ujung high heelsnya ke kaki Zahra yang langsung ditepis dengan sapuan besetannya sehingga Sivia jatuh ke lantai.


" dengar pelakor. Lo duluan yang mulai. gw cuma ngeladenin Lo."


"cewek kayak Lo tuh harus dimusnahkan."


penampilan Sivia yang semula glamour sekarang berantakan dengan rambut yang melayang hilang kendali. dengan tatapan marah Sivia berdiri meski kesusahan karena sakit di area tungkai kaki nya.


Sivia mencoba mendekati Hito yang langsung ditarik kembali tubuhnya oleh Zahra sehingga Sivia mundur beberapa langkah.


Zahra menggiring Sivia dibawa keluar cafe' diikuti oleh pak Erwin dan Hito. di teras cafe' Zahra menghempaskan tubuh Sivia ke tempat parkir


" Lo sebelum cari gara-gara sama gw harus punya bela diri dulu. supaya gw bisa latihan bela diri gw" tunjuk Zahra ke muka Sivia.


mengabaikan Zahra pandangan Sivia beralih kepada Hito.


" Hito, perempuan ganas ini yang menjadi pengganti aku di hati kamu. aku tahu aku salah. kalo kamu beri aku kesempatan lagi, aku akan memperbaikinya." lirih Sivia memelas


" cuih drama. cuma bisa ginian doang Lo dari amrik. ngabisin waktu sama duit doang." dengan bersidekap perut Zahra meremehkan Sivia.


" diam Lo. gw lagi ngomong sama Hito calon suami gw. liat. ini cincin pertunangan kami" Sivia menunjukan cincin di jari manisnya.


Zahra terdiam sesaat, dengan tenang " gw pikir pertunangan Lo udah batal waktu Lo milih ninggalin Hito demi cowok Lo itu. "


" kecuali Lo jalang yang bisa kencan dengan beberapa pria di waktu bersamaan." ucap sinis Zahra.


perkataan Zahra menyadarkan Hito kemungkinan Sivia berselingkuh sewaktu berhubungan dengannya. mengingat betapa cepatnya Sivia mendapat penggantinya.


Sivia yang sudah jengkel melepas high heelsnya dan melemparkannya ke arah Zahra. Zahra yang melihat lemparan itu menutup mata dan wajah dengan kedua tangannya, tapi dia tidak merasakan lemparan benda keras


menurunkan kedua tangannya Zahra membuka matanya. dihadapannya dalam jarak yang sangat dekat Hito menahan lemparan Sivia.


lemparan itu mengenai punggung Hito. cukup terasa sakitnya mengingat runcingnya ujung hak sendal itu.


kedua tangan Hito memegang masing-masing bahu Zahra


" kamu gak apa-apa?" pertanyaan sorot dengan kekhawatiran. dijawab dengan gelengan kepala oleh Zahra


melihat kepedulian Hito terhadap Zahra membuat Sivia semakin marah


" HITO..."


" pergi Sivia. pergi.. jangan kembali lagi. seperti yang Lo denger kalo gw udah punya pengganti Lo." sela Hito ketika Sivia membuka mulutnya.


Hito lempar balik sendal high heels ke arah Sivia. merasa dipermalukan didepan umum. Sivia pergi menuju mobilnya dengan menjinjing satu high heelsnya dan berjalan pincang karena hanya memakai satu high heelsnya. poor Sivia.


menghentakkan pegangan Hito


" jangan sok perhatian. basi!" Zahra meninggalkan Hito didepan teras cafe'.


sedari tadi pak Erwin memperhatikan drama tiga orang tersebut. dan dia masih bingung dengan apa yang terjadi.


bukannya hari ini Hito akan menerima kembali Sivia, tapi kenapa begini jadinya. membuang nafas berat pak Erwin menepuk pundak Hito yang masih berdiri di teras cafe'. meninggalkan Hito dengan permasalahannya.


sejak Zahra memergoki Hito dengan Sivia di cafe', sejak hari itu hubungan mereka merenggang.


tidak ada lagi panggilan santai menjelang tutup cafe' dari Hito ke Zahra agar Zahra beristirahat sejenak.


tidak ada lagi keluhan manja dari Zahra ke Hito karena capek seharian beraktifitas


tidak ada lagi tawa mereka karena bertukar humor receh mereka


sekarang mereka seperti dua orang asing yang jika bertemu tanpa senyum, tanpa sapa.


Hito tidak menyukai keadaan ini. sangat tidak suka.


dia tidak tahu bagaimana cara memulai berbaikan dengan Zahra. dia ingin dekat dengan Zahra seperti dulu, sebelum kedatangan Sivia.

__ADS_1


__ADS_2