Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 70. Mendung, Tapi Bukan Awan.


__ADS_3

Mami masih menangis dalam pelukan bunda Hanna yang datang bersama ayunda, dan ayah teddy karena panggilan dari Daniel yang mengabarkan perginya Alfa dan dimintai tolong untuk menemani mami yang sedang terpuruk.


" Han, kenapa Afa gak pernah bilang kalau dia menderita? " Ucap mami disela tangisnya.


" Aku benar-benar ibu yang buruk, setiap hari Afa mencoba membuktikan kalau Aloya bukan keluarga baik-baik, tapi selalu aku abaikan." Mami mengurai pelukan bunda.


" Beritahu aku apa yang tidak aku ketahui!" Pintanya sarat permohonan, bunda hanya bisa memandangi mami dengan prihatin dan ragu.


" Aku kasih tahu, tapi setelahnya jangan menyesal ya." Bujuk bunda, mami mengangguk.


Bunda mengambil sebuah kamera video dan membuka file bernama ALDAN ( Alfa dan Daniel ), menyodorkannya ke mami yang menerima kamera itu dengan bingung.


" Isinya tentang mereka pasca penculikan." Ujar bunda.


Mami langsung fokus ke isi video tersebut.


*******


Pukul dua dini hari tadi Daniel dikejutkan dengan menghilangnya Jimmy, dia terkecoh dengan siluet bayangan orang duduk di sofa yang dia kira Jimmy yang sedang sibuk dengan laptopnya seperti biasa selama masa tahanan oleh maminya.


Seusai shalat malam dia baru menyadari jika itu hanya bayangan manusia hologram ciptaan mereka.


Dengan panik dia membangunkan Mumtaz dan Ibnu, dan membawa mereka ke RaHasiYa meski nyawa mereka baru terkumpul setengah.


" Setelah berhasil menciptakan manusia hologram, gue dan Jimmy  membuat bayangan manusia hologram, guna memanipulasi penjahat."


" Ya, sampe Lo sendiri juga tertipu." Sarkastik Ibnu.


" Sayangnya iya." Daniel menyesali.


" Lanjut, bisa?" Tanya Mumtaz.


" Tepatnya bayangan hologram dari manusia nyata, sini Nu." Daniel menjadikan Ibnu objek penjelasannya.


" Lo berdiri di tengah, robot ini akan memindai seluruh tubuh Lo dari atas sampe bawah, depan sampe belakang." Seru Daniel menunjuk pada robot berukuran kecil yang berjalan mengelilingi tubuh Ibnu.


Setelah memindai, robot itu menempatkan diri mencari ruang gelap, Daniel menurunkan pencahayaan ruangan hingga temaram.


Dan muncullah 'bayangan' seluruh tubuh Ibnu secara sempurna. Ketika pencahayaan ruangan di kembalikan ke normal, bayangan itu menghilang secara perlahan.


" Bayangan yang gue maksud hanya  untuk cahaya temaram, jika cahaya ditinggikan,maka bayangan tersebut hilang. Ini semua kan karena pada umumnya penjahat bertindak di kegelapan."


" Emang kayak gini ada yang minat?" Ibnu meragu.


" Banyak, gue baru pasarin ke ranah konglomerat timur tengah, Eropa, dan Amerika."


" Serius?" Selidik Mumtaz sangsi.


" Mungkin sekilas ini gak guna, tapi robot ini pemeran utamanya, para penjahat biasanya jika menemukan Terget akan melakukan tindakan agresif, maka robot ini akan berperan sebagai penembak jitu."


Untuk sesaat Ibnu dan Mumtaz menganga kaget.


" Apa tidak dipermasalahkan oleh militer?"


" Justru beberapa menteri pertahanan negara maju sudah pesan."


" Oke kita paham, kita fokus ke jimmy. Lo udah periksa jam tangan dan ponsel jimmy?" Tanya Ibnu 


" Udah, alarm jam hanya memberi respon ketika suhu tubuh meningkat,dan menegang karena dibawah ancaman, dan kecepatan denyut nadi, kala denyut nadi melemah atau suhu tubuh menurun jam tidak mengeluarkan alarm." Terang Daniel.


Cuaca mendung membawa hawa dingin mempersulit pencarian Jimmy yang masih bergantung kepada sinyal cahaya matahari, suhu tubuh, ketegangan tubuh, dan udara.


Hanya lewat udara harapan mereka dan semua hilang karena hujan yang menghilangkan jejak  tubuh.


" Bukannya air bisa diolah jadi energi ya, kok kita tidak memanfaatkannya. Masa kita stuck karena hujan." Seru Ibnu lemas sambil mengurut pelipisnya karena pening.


" Selama ini gue dan Jimmy hanya fokus teknologi dan manusia saja, jadi lalai dengan alam sekitar." Ucap Daniel sarat penyesalan.


" Lo yakin semua cara udah Lo coba?" Mumtaz mulai sibuk dengan komputernya.


" Gue juga udah coba dengan DNA, kulit, pori-pori, bentuk tubuh dari kepala sampe kaki beserta gesturnya, semua nihil." Cicit Daniel lesu


" Dimana posisi terakhir? Tanya Ibnu yang turut membuka laptopnya.


" Jam tiga di mesjid Atta,awwun, puncak itu." Ucap Daniel lemah, dia khawatir Jimmy melakukan sesuatu seperti waktu kecil karena depresi.


Merasa ada gelagat yang ganjil, Mumtaz memperhatikan gestur Daniel.


" Ada sesuatu yang pengen Lo omongin?" Tanya Mumtaz hati-hati, Ibnu mengalihkan fokus dari laptopnya.


" Dulu, kalau Jimmy diasingkan oleh mami karena tidak lulus dalam les tata krama dia akan berlari ke lereng gunung dengan tatapan kosong, dan menerjunkan dirinya." Lirih Daniel tercekat.


Mumtaz, dan Ibnu hening terkejut.


" Itu awal gue ketemu dia. Gue lagi liburan di villa bareng keluarga. Gue dan bodyguard jalan-jalan sampai gue melihat anak seumuran gue melangkahkan kaki ke jurang curam, kalau  waktu itu bodyguard gue enggak menarik dia mungkin sekarang Jimmy nggak pernah kita kenal." Ucapnya frustasi menundukkan kepala dengan tangan saling memainkan jari menyembunyikan keresahannya.


" Mami selalu menuntut dia menjadi pangeran muda sempurna Atma Madina, menekan dia sampai diluar batas kemampuannya. Matanya mati, tidak ada cahaya kehidupan. Sampai suatu ketika dia gue ajak ke Birawa corp dan melihat segala macam teknologi buatan Birawa, di sana matanya untuk pertama kali gue lihat berbinar seperti menemukan dunianya." Daniel menumpukan kedua tangan di lutut untuk menyangga kepalanya.


" Dia orang pertama yang bisa jadi teman gue, sebagai putra dari pengusaha besar gue juga kadang kesepian, agak sulit bagi gue nemu teman sejati. Bedanya gue punya orang tua yang masih memberikan kasih sayang meski mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Please, gue mohon temukan dia." Daniel memohon dalam tangisnya.


Mumtaz dan Ibnu tertegun mematung.


Tiba-tiba dua asisten andalan Mumtaz masuk ruangan dengan wajah bantal bangun tidur. Daniel mengusap wajahnya dan menetralkan raut wajahnya.


" Ngapain Lo nyuruh mereka kemari?" Tanya penasaran Ibnu.


" Pukul satu tadi website Hartadraja corp membuka pengumuman melepas saham milik Husain, dan gue daftar menjadi calon pembelinya dengan harga lebih tinggi dari harga jual." Mumtaz berbicara sambil fokus dengan komputernya.


" Tanda tangan jual beli dilaksanakan pukul tujuh nanti , karena kembaran Daniel kabur, jadi gue gak bisa langsung ke sana gue utus mereka." Mumtaz menyerahkan surat kuasa yang sudah ditanda tangani olehnya ke kedua asistennya yang duduk di seberang meja kerjanya.


" Baik-kan gue Lo gak mesti ribet bikin surat kuasa." Sarkas Mumtaz menatap mereka sinis.


" Lo benaran mau habisin Husain, Muy!?" Ucap Ibnu yang masih menatap layar mengamati kehebatan retasan Mumtaz menelusuri dunia cyber.


" Hmm, no debat. Kak Ala juga udah tahu." 


" Lo gak kasih..."


Mumtaz menghentikan kesibukannya," sebelum komentar Lo lihat apa yang terjadi semalam di rumah om Aznan." Mumtaz menyodorkan tabs-nya ke hadapan Ibnu yang langsung mengambil tabs tersebut, Daniel dan yang lain ikut bergabung dengan Ibnu.


" Lo butuh bantuan dana gak?" Tanya kesal Ibnu setelah menonton rekaman cctv yang memperlihatkan apa yang terjadi dengan Zahra.


" Gue akan melayangkan surat peringatan bagi perusahaan lain agar tidak bekerjasama dengan Husain." Seru Daniel santai, menghubungi Rizal agar melakukan hal tersebut.


Mengabaikan komentar para sahabatnya karena fokus ke komputernya. " Niel, kita udah stuck dengan teknologi turunan itu, kenapa kita gak coba dengan teknologi pusatnya?" Tawar Mumtaz.


" Maksud Lo?"


" Sinyal, gps, komunikasi, semuanya berasal dari apa?"

__ADS_1


" Satelit?!" Jawab Daniel ragu.


" Yap, gak percuma Lo lulus sama sebagai anak IPA." Sindir Mumtaz yang mendapat dengusan dari yang lain.


" Gue beberapa waktu lalu berhasil membuka sandi pusat sistem beberapa satelit baik milik Indonesia maupun negara lain." Mereka mendengarkan perkataan Mumtaz dengan seksama.


Tiba-tiba, " anjir, jangan bilang Lo yang hack rudal si pihak pendudukan di timur tengah sewaktu mau nyerang wilayah pendudukannya!" Teriak Ibnu yang berhasil membuat para sahabat terlonjak kaget.


Mumtaz menganggukan kepala, sedangkan yang lain menatap keduanya bingung dan bertanya.


" Gue yakin si mumuy males buat buka mulut, nanti gue jelasin." Pungkas Ibnu.


"Nu, biasa. lapis gue." yang dimaksud, Mumtaz menerobos pertahanan cyber target, Ibnu yang menghapus jejak Mumtaz.


" Yo, Lo anak komputer yang lagi merintis jadi youtuber dan mencari subscribers mending mulai videoin apa yang bakal gue lakuin, dengan catatan rahasiakan profil gue." seru muntaz.


Rio bergegas mempersiapkan segala peralatan pengambilan video dari berbagai angle.


" Niel, kirim segala bentuk petunjuk Jimmy ke akun gue, dan gue minta sandi pusat sistem Lo."


Daniel pun segera melaksanakan keinginannya.


Di layar terpampang visual luar angkasa yang memfokuskan ke satelit-satelit yang bertebaran itu.


Mumtaz dengan segala konsentrasinya mulai meretas sistem satelit.


Para sahabat terperangah syok kala mendapati gerakan kamera dan radar dari beberapa satelit yang berputar seolah memindai bumi.


Hanya berlangsung selama sepuluh menit, tapi hasilnya mencengangkan cukup membuat kehebohan pada server RaHasiYa karena menerima banyak data base asing yang masuk semuanya dapat dilihat dari dinding kaca ruangan Mumtaz yang berfungsi sebagai layar hologram.


Sedangkan kaca yang terletak di tengah sebagai pembatas antara area kerja dengan ruang tamu terpampang seluruh wilayah Indonesia dari desa terpencil sampai ter metropolitan hasil pencarian kamera satelit.


Masih berkonsentrasi, Mumtaz dengan jari lihai menerobos segala kata sandi. Para sahabat memperhatikan layar dengan sok paham padahal tidak.


Setiap Mumtaz berhasil meretas dan mengambil data, Ibnu langsung menutup jejak Mumtaz.


Tak lama muncul titik merah yang berkedip.


" Niel, lihat titik merah itu ada di daerah mana?" Dengan sigap Daniel menganalisa.


" Daerah pegunungan, Jawa barat." Selesai menyebutkan lokasi tubuh Daniel menegang gemetar. Yuda dan Rio segera memapah Daniel kala tubuhnya oleng.


Mumtaz dengan konsentrasi kembali memutar kamera satelit menarik radar satelit ke titik fokus letak titik kedip merah tersebut.


Di layar tercantum alamat dan nama pegunungan terperinci yang mana Jimmy terdampar.


Mereka terkesiap karena melihat dengan jelas sosok yang mereka kenal tergantung pada dahan besar layaknya pakaian yang dicantol di kastok.


" Cari Jimmy di daerah tersebut, gue udah mencantumkan posisi Jimmy secara detil seharusnya tak lama menemukan dia." Ujar Mumtaz tanpa melihat Daniel, karena sedang sibuk menutup jejak digital peretasannya sebab dibelakang dia terdeteksi beberapa akun resmi pengendali masing-masing satelit menyadari keberadaan dia di wilayahnya.


" Sialan Lo Muy, masuk ke satelit milik militer AS." umpat Ibnu yang turut sibuk menhilangkan jejak Mumtaz, Mumtaz hanya terkekeh mendengar hujatan yang tak henti keluar dari mulut Ibnu.


Para sahabat menatap Mumtaz heran, pasalnya di tengah suasana tegang Mumtaz masih bisa tertawa. walau mereka tak paham ,tapi suasana tegang terasa dengan hanya melihat cepatnya perkembangan gerakan sandi yang ada di layar hologram.


Tak lama keluar kertas yang berisi skema peta dari jarak luas sampai terkecil secara rinci dengan segala keterangan daerah pegunungan tempat Jimmy terdeteksi.


Setelah selesai memberesi urusan peretasan Mumtaz dan Ibnu mematikan monitor komputer dan laptop, mencabut sambungan listriknya juga.


" Gue hubungi Jeno, dan Basarnas. Kalau mereka tahu siapa yang hilang pasti langsung gercep." Inisiatif Rio melakukan sambungan


Ting...Ting...! Kode merah dari lampu besar yang terletak di pojok bagian belakang ruang kerja Mumtaz yang berasal dari rumah mama membuat para sahabat berlari panik dari ruangan kerja Mumtaz.


******


" A, Tia enggak..."


Hap!!!


Zahra menyuap paksa uduk ke dalam mulut Tia yang terbuka.


" Jangan bilang enggak lapar, dari semalam kamu belum makan apa-apa. Sekarang  makan sendiri atau dipaksa makan!" Zahra menatap Tia dengan pandangan mengintimidasi.


Sadar kakaknya dalam mode bossy on Tia dengan terpaksa menuruti perintah kakaknya meski menelan makanannya dengan susah payah.


" Habiskan, kalau tidak kamu tahu apa yang terjadi." Ancam Zahra.


Tia tambah susah menelan makanannya, ya dia tahu apa yang terjadi jika dia tidak menghabiskan makanannya. Dia akan dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dalam waktu seharian.


Bagi Zahra, jika ada orang yang susah untuk disuruh makan, maka berarti orang tersebut lebih menyukai bekerja daripada makan, dan Zahra dengan senang hati akan mengabulkannya.


Entah atas dasar apa pemikiran itu.


Ceklek!!!!


" Nah, gitu dong. Makan!!!" Kata mama berdiri diambang pintu sambil memegang tuas pintu.


" Kamu harus makan teratur, perempuan itu kalau sudah berumah tangga harus pintar jaga kesehatan karena ada orang yang harus diperhatikan. Apalagi kalau sudah punya anak kita sakit, keadaan rumah udah kayak diterjang tsunami." ucap mama santai..


" Ma,...maaf." cicit Tia yang masih bisa terdengar.


" Maaf karena apa?"


" Andai Tia enggak menikah dengan Aa Jimmy, mama gak akan dihina."


" Jangan suka menampik takdir Allah, mama enggak sakit hati kok. Bagaimanapun mami Sandra lah yang menolong kita kala kita sedang kesusahan uang, kalau mami enggak menawari mama pekerjaan mungkin kita tidak akan sempai seperti ini." Bujuk mama merujuk pada keadaan dimana Mumtaz pergi dan meninggalkan keluarga yang sedang terhimpit kesulitan karena harus bayar uang sekolah para anaknya. Sandra lah yang meminjami mereka uang dan mengijinkan mama bekerja di butiknya agar bisa melunasi pinjaman tersebut.


" Jangan hanya karena satu kesalahannya kita lupa akan kebaikannya, bagi mama baik Atma Madina maupun Hartadraja masih keluarga yang harus dihormati dan disayangi." Tukas mama melirik Zahra.


" Assalamu'alaikum." Ucapan salam keras dari bawah mengundang tanda tanya mama dan para anak.


Berbarengan mereka menuruni tangga melihat siapa orang yang bertamu.


Mereka saling pandang kaget kala melihat di depan pintu telah berdiri keluarga Atma Madina yang tidak bisa masuk karena di halangi Raja dan Juan.


Melihat lebih dekat semakin terkejut karena di depan pintu pagar terdapat keluarga Aloya yang menatap mereka dengan marah yang dijaga Rizal, Jeno dan ubay.


" Ini ada apa ya?" Tanya Zayin waspada yang berdiri paling depan melindungi para wanita tepat di belakangnya Zahra yang melindungi Tia dan mama, tepat dibelakangnya Tia yang berdiri melindungi mamanya.


" Apa Alfa ada di sini?" Tanya Bara hati-hati tak ingin Zayin merasa tersinggung, bagaimanapun Bara memaklumi sikap waspada keluarga Mumtaz terhadap keluarganya.


" Tidak ada, bukankah nyonya itu melarang bang Jimmy kemari?" Tunjuk Zayin ke Sandra dengan dagunya. Sandra hanya bisa menunduk tak nyaman.


" Hei, kau Mumtaz. Keluar kau, jangan kau sembunyikan Alfa, calon suami anak saya." Teriak Rudi membahana mengundang perhatian tetangga.


Zayin menatap nyalang mereka, dan dengan santai menghampiri mereka.


Para sahabat membuka jalan untuk Zayin berdiri paling depan dan para sahabat mendorong keluarga Aloya mundur agar menjauh dari pekarangan rumah kala berhadapan langsung dengan kelurga Aloya yang dipimpin oleh Rudi.


Mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak beberapa meter.

__ADS_1


Matanya menatap mengitari mengamati orang-orang bawaan Aloya yang berjumlah banyak yang mengepung area rumah mereka, dan beberapa wartawan yang pasti datang atas undangan Aloya.


" Apa tujuan mu kemari?" Tanya lantang Zayin.


" Ingin mengambil calon pengantin pria anakku." 


" Dia tidak ada di sini, kenapa tidak kau cari di rumah Atma Madina."


" Bohong! Dengar, kau serahkan Alfa, kami tinggalkan rumah ini. Kalau tidak, akan kami geledah rumah mu." Ucap Rudi dengan raut wajah merendahkan.


" ADA APA INI?"  Ucap Mumtaz dari arah belakang yang keluar dari dalam rumah.


Semua orang memandang Mumtaz dan para sahabat yang dengan tenang dan mengintimidasi melangkah menghampiri mereka


" Alfa, kami mencari dia. Dia tidak datang pada pernikahannya itu mempermalukan kami, lihat Anak saya menangis merasa dikhianati calon mempelainya." Rudi merangkul Adinda yang menunduk dalam balutan pakaian pengantin.


" Kami menyesal, tapi dia tidak ada di sini." Mumtaz berdiri disamping Zayin menatap langsung Rudi dan para rombongannya dengan kedua tangan dimasukan ke saku celana jeans-nya


" Bullshit, jangan berulah. Kami bawa pasukan untuk menghancurkan kalian karena menghina kami."


" Ck..ck...jadi ini tujuan utama mu, mempermalukan kami bukan untuk mencari pengantin prianya." Telak Mumtaz, keluarga Aloya seketika gugup meski sesaat.


" Kak, kalau Alfa tidak ada, kalian harus mengggantinya dengan Zayin." Ucapan Adinda berhasil membuat orang yang hadir melongo terlebih keluarganya.


Adinda yang takut dengan Mumtaz dan tak ingin mencari Masalah dengannya, tapi tak bisa menampik ketertarikannya akan Zayin yang disukainya sejak kecil, maka saat ini dia akan mengambil kesempatan memiliki Zayin.


" Hah, Lo. Pelacur murahan pengen nikah sama gue? Cuih amit-amit. Mending gue nunggu si Adel yang masih balita gede daripada nikah sama Lo, *****. Jijik gue!" Sadis, ucapan sadis dari Zayin berhasil membuat keluarga Aloya meradang naik pitam.


Adinda menangis, Rudi memerah wajahnya, rahangnya mengatup keras.


" Kau, berani menghina putriku." Rudi melayangkan tangan untuk menonjok Zayin yang langsung ditangkap di udara tepat di muka Rudi oleh tangan Zayin.


" Butuh seribu tahun lagi kau bisa menyentuhku." Zayin memelintingkan tangan Rudi dengan mudah.


AAARRGHH!!! Jerit kesakitan Rudi meraung-raung membuat orang yang melihatnya meringis ngilu.


" Pergi!!" Ucap pelan Zayin dengan aura dingin.


" Tidak akan!" Bukan Rudi yang menjawab, tetapi Celine.


" Sandra, apa ini maksud dan tujuanmu mengajak Adinda menikah untuk menjebak mempermalukan kami!" Ucap propaganda Celine.


" Jaga ucapanmu, kau yang menipuku. Kau bilang anak gadismu anak baik-baik, ternyata perempuan penjual diri." Balas Sandra yang tak rela dipersalahkan.


" KAU..." Celine hendak menyerang Sandra yang kadung ditahan Mumtaz dengan menggeser tubuhnya menghalangi tubuh Celine untuk lebih maju.


" Satu langkah kau lakukan untuk mendekatinya, ku patahkan kaki mu!"


Celine mundur perlahan karena takut akan tatapan tajam Mumtaz, walau perkataanya diucapkan dengan pelan, namun kesungguhan ucapan itu yang menakutkan.


" Pergi!!" Sekarang Mumtaz yang mengatakannya.


Tak terima keluarganya dihina, Rudi memberi instruksi kepada anak buahnya.


" SERAAAAANGGGG!!!"


Hening....


" SERAAAAANGGGG!!!" Lagi,...


Senyap


Tak melihat pergerakan ank buahnya Rudi membalikan badannya ke belakang, matanya terbelalak terkejut akan apa yang dilihatnya.


Semua anak buahnya terkapar tak sadarkan diri, tanpa suara mereka diserbu oleh pasukan Jeno dari belakang dengan satu gerakan. Melumpuhkan dengan strategi one by one.


Sekarang mereka dikepung oleh pasukan RaHasiYa dibawah pimpinan Jeno dengan pakaian serba hitam dan wajah di hias tinta hitam menutup seluruh wajah menambah aura menyeramkan.


Para wartawan berdiri kaku tak ada yang berani bergerak bebas.


Suasana menjadi menegangkan, " kau pikir karena kau biasa menghancurkan orang kau akan dengan mudah menghancurkan ku?" Sindiran yang menyimpan tantangan dari Mumtaz kepada Rudi.


Victor yang melihat seluruh perhatian tertuju kepada Rudi, melakukan tindakan gegabah dengan menyerang pukulan yang langsung ditolak dengan tendangan lurus oleh Mumtaz langsung menuju ulu hati.


Aaaaakkkhhh!!!! Rintihan kesakitan tak terelakan keluar dari mulutnya.


Para wanita menjerit panik, Adinda dengan bodohnya mendekati Zayin dan memegang tangan Zayin memohon.


" Zayin, tolong berhenti! Aku minta maaf, pernikahan ini bukan kemauanku. Sejak lama aku mencintaimu, ku mohon sudahi pergulatan ini dengan menikahiku!!!" Sungguh tak tahu diri dan kondisi Adinda ini.


" Kyaaa,...angan entuh Aa Ayin tu..." Secara tiba-tiba dari arah belakang Adelia kecil menyerang Adinda dengan tubuh mungilnya


Terkejut dengan teriakan dan serangan Adelia tak ada orang yang sempat menahan Adelia, sehingga tubuhnya yang menarik-narik kain pengantin Adinda diangkat oleh Adinda dan dibanting keras ke tanah.


Untungnya berkat latihan keras dan terbiasa waspada setiap waktu Zayin langsung merespon cepat dengan mudah menangkap tubuh Adelia sebelum menyentuh tanah.


Tatapannya tajam menusuk Adinda yang jatuh karena terbawa gerakan Zayin.


" Berani sekali kau melukai calon istriku!" Ucapnya tenang, namun mengancam.


Tak ingin Adelia melihat tindakan kasar, Zayin memposisikan Adelia agak ke belakang dan menjauh berdiri bersampingan dengan Sandra di sebelah kanan belakangnya.


Zayin langsung menginjak telapak tangan Adinda yang berada di atas tanah karena posisinya yang masih terduduk bersimpuh miring


" Aaaakhhh!!! Zayin lepas! Sakiiittt." Lirihnya.


Melihat perhatian semua orang tertuju pada tindakan Zayin secara perlahan Rudi mengeluarkan pistol dari belakang pinggangnya dan mengarahkannya kepada Sandra yang berdiri tanpa penjagaan ketat dari pandangannya.


Mama Aida yang melihat pergerakan itu refleks menjerit


" AWAAAASSS!" Aida mendorong tubuh Adelia dan juga tubuh Sandra.


DOOOORRR!!!  Karena tangan yang digunakan menembak adalah tangan kiri yang tidak biasa terlatih, maka tembakan pertama yang seharusnya mengenai Sandra malah mengenai lengan atas Adelia.


DOOORRRR!!! Tembakan kedua mengenai bagian depan tengah mama Aida yang menjadi pengganti Sandra atau Adelia


" AAAAaaaaakh." Jerit Aida semakin memelan seiring ambruknya tubuh Aida ke tanah yang langsung di peluk Zayin.


" MAMAAA...."


" MAMAAA..."


" ADELIA..."


" Tante..."


" ADEL...."


Jeritan berbarengan dari orang-orang yang melihat peristiwa yang terjadi dengan cepat...

__ADS_1


__ADS_2