
" Ini agu terakhir dari kita untuk malam ini, lagu ini saya persembahkan teruntuk para orang tua, keluarga, sahabat, teman, dan kekasih hatiku." ucap Mumtaz lembut Diiringi senyuman yang terlihat manis terarah pada Sisilia, namun dipandangan kaum hawa yang lain mengarah kepada mereka yang seketika memekik geer.
" Sejatinya tiada makhluk yang sempurna, karena kesempurnaan itu milik sang khalik, tetapi saling memahami dan menerima diantara kita menjadikan kita bahagia, yang menjadi alasan aku untuk bertahan untuk mu, kau yang menarikku kala aku jatuh, kau yang memelukku saat aku terpuruk, memiliki kalian menjadikan aku sempurna. Dari Andra n the backbone-sempurna."
" Kyaaaaa..." Pekikan Mayang dan Amanda atas performa Mumtaz yang tidak biasanya malam ini.
" Anjay, menyugar rambutnya aja kelihatan ganteng banget." Amanda heboh.
" Sil,...lihat, kak Mumtaz natap Lo. sweet banget sih..." Ujar Mayang.
"Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah..." Mumtaz melepas mic dari tongkatnya, tatapan matanya fokus pada Sisilia, kemudian dia turun dari panggung, berjalan lurus ke tempat Sisilia berdiri.
" Jangan bilang, dia mau kemari. Memang sih malam ini laki Lo keren abis." cerocos Amanda, para tiga bocil merespon malas duo alay itu.
" Disetiap langkahku kukan slalu memikirkan dirimu,.." langkahnya yang semula tertuju pada Sisilia berbelok ke arah kanan dimana para ibu yang semeja panjang dengan para ayah. Ia menggenggam tangan Hanna, menatap kedalam netra Hanna lantas," tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa cintamu..." Ia mengecup tangan Hanna, Teddy terbeliak lebar sambil menggerutu.
Para ayah terkekeh geli melihat Teddy yang cemburu pada Mumtaz.
" Kalau bukan anak, udah gue sleding ni bocah." rutuk Teddy.
Hana berderai, walau ia tersenyum karena terenyuh," iseng banget, sih. Lia-nya entar marah.
" Aku mencintainya, tetapi bunda yang pertama memahamiku, Lia-ku pasti mengerti itu " liriknya kepada Tia.
" Aaah, romantis banget sih Dad, calon mantu mu." bisik Elena pada Gama.
" Yaah, dia belok, Lo diselingkuhin, Sil." Bisik Mayang.
" Aku mencintainya karena dia sangat menyayangi ibu, jadi aku gak keberatan selama aku hanya dibawah mama Aida, mommy, bunda, mama Sherly, dan kak Ala." Balas bisik Sisilia menatap bangga pada kekasihnya yang sedang memeluk para ayah.
Terlihat para ayah menahan tangis, terutama Aryan. Jelas nyata beliau sangat menyayangi Mumtaz.
" Kau adalah darahku..." Kini Mumtaz kembali berjalan ke arah Sisilia.
" Dia kemari, Sil.." heboh Amanda.
" Kalian pada kenapa dah pecicilan begitu?" Jengah Dista.
" Gimana kita gak heboh, ini kali pertama gue lihat kak Mumtaz romantis gitu."
" Iya juga sih."
" Kau genggam tanganku saat diriku lemah dan terjatuh ..."
" Dia semakin mendekat...." Bisik Cassandra.
" Kenapa gue yang panas dingin ya." Celetuk Dista.
" Fix sih, dia mau nyamperin Lo, Sil." Seru Mayang.
" Tapi gak mungkin, ini Mumtaz bukan Daniel." gumam Tia, Dista mendelikan matanya kepada Tia yang direspon santai olehnya.
" Tapi mata dan kakinya kesini." Suara Cassandra bergetar.
" Kenapa Lo yang nervous?" Tanya Tia heran.
" Gak tahu, tapi gue deg-degan."
" Lo mati kalau gak deg-degan." Celetuk Dista, Cassandra berdecak sebal pada calon adik iparnya ini.
Mumtaz semakin mendekat dengan senandung lyric-nya, hingga kini ia berdiri tepat di depan Sisilia.
Sisilia gugup karena Mumtaz menatapnya begitu lembut. Pasti Mumtaz dapat merasakan dingin tangannya yang digenggam erat namun lembut olehnya.
" Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh sayangku, kau begitu sempurna...sempurna..."
Mumtaz mengadukan keningnya dengan kening Sisilia," cinta kamu." bisiknya, namun masih terdengar oleh yang lain, karena ada mic.
" Kyaaa..." kaum hawa semakin menggila.
Lidah Sisilia terasa kelu, jadi Sisilia hanya bisa mengangguk. Sesungguhnya saat ini dia sedang syok mental, kekasihnya yang kurang punya waktu untuknya, terkadang Sisilia merasa tidak dicintai, hanya dia yang cinta kakak dari sahabatnya ini.
Namun malam ini, dia seperti terbang ke angkasa, dapat dilihat dari netra Mumtaz rasa penyesalan, memohon pengertian, rasa sayang, dan cinta!
Mumtaz mengecup kening sisilia sebelum menjauhkan diri dari Sisilia menghadap para tamu.
" Wahai lelaki yang single yang sedari tadi mem-flirting gadis cantik ini sekarang tahu ya kalau dia punya saya." aku Mumtaz.
Sepanjang pesta bergulir banyak eksmud dan Anka RaHasiYa dan Gaunzaga yang mendekati para bocil dengan berbagai modus.
Mumtaz yang menyadari itu sangat terganggu, namun tidak bisa langsung menegurnya.
Beberapa lelaki yang tersinggung, karena memang nyatanya mereka mendekati Sisilia tersenyum riskan.
" Yaah...udah punya mah...ups." seorang gadis berusia 20 tahunan putri relasi RaHasiYa menutup mulutnya malu.
Mumtaz tersenyum kecil menyikapinya." Iya, lelaki yang ini udah dimiliki gadis cantik ini." Liriknya kepada Sisilia yang membalas senyumnya. Tangan mereka saling bertaut.
" Tenang masih ada tiga lagi, noh di panggung." Seloroh wanita paruh baya yang disanggul tinggi.
Sontak gema tawa mengisi ruangan.
" Yang itu, yang pake kaos hitam dengan kemeja abu-abu digulung sesiku, dia Daniel Birawa, kalian pasti tahu kalau dia tunangan dari Dista Atma Madina yang memiliki tatapan galak ini" Mumtaz mengacak rambut Dista.
" Iya tahu..." Keluh kaum hawa lesu.
" Tapi masih bisa nyalip kali." Celetuk salah satu tamu.
" NO." Jawab Dista galak, dengan tatapan bengis andalannya mengintimidasi lawan.
Daniel yang melihat tunangannya sewot, hanya terkekeh gemas. Pengen dia kekepin tunangannya itu hanya untuk dia.
" Senang Lo di posesifin sama sepupu gue." Cibir Alfaska.
" Senanglah." ucapnya bangga
" Dan itu yang pake kemeja navy dengan jas hitam yang niat banget ngadain pesta dadakan ini, Alfaska Atma Madina, dia..."
" Single dong..." Celetuk gadis lainnya.
" Sayangnya tidak, dia sudah menikah dengan perempuan manis ini." Mumtaz merangkul sayang Tia, kemudian mengecup pucuk kepalanya.
Para tamu terkaget, " sebelum bergosip, saya konfirmasikan kalau dia adik saya."
" Oohhh..." Suara bersamaan dari para tamu.
" Nah, yang di belakang drum, Ibnu abdillah, dia..."
" DIA MILIKKU." Semuanya menoleh mencari pemilik suara cempreng nan sumbang itu.
Dan mereka melongo, kemudian tertawa lucu pada gadis muda yang berdiri menjulang di atas meja bar dengan kedua tangan bertolak di pinggang.
" Abang Inu itu milikku, Ayunda Birawa. Tidak ada celah diantara kami jadi jangan bermimpi jadi pelakor, kalau berani ni bogeman mentah dariku." Kepalan tangannya terangkat mengancam.
" Mas, anakmu." Bisik Hanna malu.
" Bisa gak amnesia sebentar, pura-pura gak kenal."seloroh Teddy.
Sedangkan para koleganya menertawainya.
" Dan untuk para orang tua yang membujuk anaknya agar menggoda Abang Inu, akan berhadapan dengan bapak yang terhormat Teddy Birawa, tentu kalian tahu apa yang akan terjadi dengan perusahaan kalian." Senyumnya penuh kelicikan.
Ibnu yang melihat tingkah Ayunda menghembuskan nafasnya lelah," apalagi cobaan dalam hidupku ya Allah." bathin Ibnu pasrah.
" Senang Lo dibucinin anak itik?" Sindir Alfaska, Ibnu mendelik kesal.
" Gue yakin, nyokap lagi hamil dia ngidam jalan terbalik. Kenapa sifatnya tidak tahu malu begitu." dumel Daniel.
" Gue yakin bang Ibnu saat ini pengen tenggelam ke dasar tanah." Ucap Raja mengasihani
" Selalu ada produk yang gagal memang." Celetuk Adgar.
" Gini ini nih yang bikin gue malas dekat cewek." Timpal Zayin misuh-misuh.
" Daebak, anaknya ayah Teddy, besok bakal viral pastinya." Ucap Rio yang sedang bikin konten.
" intinya mereka sudah official." celetuk Yuda.
" Mau bilang kasihan, tepuninu menghibur, ada bahan Bullyan buat Abang Inu." provokasi Haikal dan masih banyak lagi komentar yang kebanyakan mengasihani Ibnu.
Mumtaz terkekeh, ia berbisik pada Sisilia," kamu Berani gak kayak gitu?"
Sisilia mendengkus," cinta sih, tapi gak harus malu-maluin juga."
Mumtaz menyetujui, ia membawa Sisilia pergi menjauhi dari kelompoknya.
" Muy, ini kita sudah selesai?" Tanya Alfaska.
" Sudahlah, gue udah turun panggung. Kalian ngapain masih di sana." Jawab Mumtaz ngasal, para sahabatnya seketika misuh-misuh tidak jelas, lalu serempak menyerang Mumtaz dari belakang.
" Kyaa..." jerit Sisilia kaget, Mumtaz yang ingin melindungi kekasihnya menjauhkan Sisilia dari para sahabatnya.
Alfaska memiting kepala Mumtaz di ketiaknya, mereka membawa pergi Mumtaz keluar dari pesta.
Para tamu terbengong melihat tingkah konyol petinggi RaHasiYa yang biasanya berwibawa.
" Bagaimanpun mereka hanya pemuda biasa." oceh Erwin yang diangguki oleh yang lain.
" Tuan, nyonya, dan nona. Pesta kembali dilanjutkan, abaikan ketiadaan mereka." seru Bara.
Para tamu pun kembali berbaur untuk bersenang-senang.
Diluar gedung, Sandra duduk di kursi belakang terdiam selama Berjam-jam.
Sewaktu masuk gedung hendak menghadiri pesta, dirinya dilarang masuk oleh robot penjaga yang biasa menerima tamu.
" Beraninya mereka menjadikanku bagian *black list* mereka." Geramnya, mengepal tangan-nya.
Marah, tentu saja, terhina, apalagi, tapi dia tidak tahu kepada siapa melampiaskannya.
Satu persatu tamu keluar dari gedung dengan aura sumringah, hal yang membuat Sandra lebih merasa tersinggung.
" Pulang, kita urus mereka nanti." Ucapannya mengandung seribu makna.
\*\*\*\*\*
Mumtaz selepas mengantar Sisilia pulang, menepi ke taman kota yang baru sja diresmikan oleh Pemda menunggu orang.
" Bos." Nando dan Jeno duduk disamping Mumtaz, datang dari arah belakangnya.
" Lama."
" Ya maaf, si Ayu berulah. Bang Ibnu pulang bareng cewek."
Mumtaz menoleh padanya sambil mengernyitkan kening.
" Mela Pratiwi, teman sekolah abang, putri dari Zadan Permana. Profil keseluruhan tentang mereka sudah gue kirim ke email Lo. Untuk sementara tidak ada yang meresahkan.
" Ya sudah endapkan sementara, terus gimana dengan dia?""
" Diagnosanya, kerusakan fisik permanen diseluruh tubuh, tapi tidak ada luka dalam."
" hebat juga Leon melakukannya."
" Itu spesialis dia sewaktu masih sesat." kata Jeno yang menyesap benda nikotinnya.
" Apa Lo sanggup kalau gue minta awasi dia 24/7 hari?"
" Gampanglah itu mah." jawab Nando.
__ADS_1
" Urusan si politisi?
" Si Andre, Wak4polri. *Wanna do something* dengan wakil ketua dewan agar skandal ini tidak menjadi sorotan lagi.
" Harapan Lo?"
" Si botak, Endut itu m4ti."
" *Done*."
Nando menghadap cepat kepada Mumtaz," Lo jangan jadi pembunuh."
Mumtaz mendengkus" gak dia juga orangnya. Orang serakah kayak mereka akan m4ti jika hidupnya tidak sesuai dengan keinginan mereka."
" Lo, No. apa yang gue mau, sudah Lo lakukan?"
" Sudah. Angelica di balsem, mungkin sekarang sedang di udara sana, gue penasaran bagaimana reaksi saudara laki-lakinya."
Nando berdecak," nyari penyakit saja, kalian ini."
" Siapa suruh berulah di depan mata gue." desis Mumtaz dingin.
" Do, Lo awasi pak Ergi dan media, khususnya yang pro penguasa."
" Oke."
" Berita lain?"
" Kak Ala menolak pulang ke rumah sakit, Bara, paman Gama dan om Hito tidak berdaya selain menyetujuinya."
" Nyonya Sandra ditolak masuk pesta, bang Alfa menjadikan beliau masuk peserta hitam RaHasiYa."
" Bang, apa ini tidak akan menjadi masalah lagi buat Lo?"
" Gak usah ikut campur, biar jadi urusan Afa."
" Tapi keluarga Lo yang selalu menjadi korban."
" Kita lihat upaya Afa sekarang."
" Bang Alfa terlalu lembek sama nyokapnya."
" Memang itu seharusnya, ege." Jeno menampol greget kepala Nando.
" Tapi..."
" Lo mau apa kalau Lo diposisi Afa? Hajar dia? Ngasarin dia?" kata Mumtaz.
" Lo bisa kasar sama perempuan yang brutal kalau memang itu harus, tetapi tidak kepada orang yang sudah melahirkan Lo. Perjuangan melahirkan itu tidak sesantai yang kita kira, tidak menyukainya, dimaklumi, tetapi tidak untuk membencinya. Itu hukum alamnya."
Nando terdiam, jadi itu alasan mengapa Mumtaz tidak bersikap agresif kepada Sandra." Untung dia bukan nyokap gue, bang."
"Hmm, lanjut."
" Bang Ibnu, malam ini mengawasi Lo, memandang Lo seperti orang baru. Begitupun dengan petinggi RaHasiYa lainnya." Mumtaz mengangguk.
" Gue juga, malam ini Lo beda, ada alasannya?" tanya Jeno.
" Gak ada, hanya ingin menikmati hidup saja." jawaban Mumtaz tidak memuaskan dua anak buahnya.
Nando menatap punggung Mumtaz yang duduk dengan kedua tangan menumpu pada kedua pahanya.
" Bang, yang mana karakter Lo, malam ini, atau yang selama Lo perlihatkan?"
Untuk sesaat Mumtaz tertegun sebelum dia menjawab," semuanya adalah gue."
Nando dan Jeno meringis," diusahakan."
" Istirahat, tentang si tua bangk4 itu, anggap telah terjadi." Tekan Mumtaz.
" Baiklah. Malam."
" Hmm."
Selepas Nando dan Jeno pergi, Mumtaz kembali duduk di bangku taman, dia membuka iPad-nya,membuka cctv ruang perawatan steril terdapat satu pria yang terbujur dengan perban membungkus diseluruh tubuhnya.
" Kau ternyata bertahan hidup, tidak heran kau mendapat julukan pria dengan seribu nyawa, tapi setelah ini aku pastikan kau setengah mati, melihat mu menyesali hidup adalah harapanku." Gumamnya kepada pria yang dikelilingi alat medis.
Dua dokter jaga memeriksa pasien terbaru yang masuk ruang steril khusus pasien dengan kondisi level A\+.
" Menurut profilnya dia pensiunan kesatuan elit angkatan darat." Ujar dokter lelaki.
" Pantes bisa bertahan, kalau orang biasa sudah KO." ujar dokter perempuan.
" Luka sayatan tanpa kulit permukaan bagai ayam botak, kuku tercabut semua. Jaringan otot tangan dan kaki rusak yang diperkirakan akan mengalami disfungsi, luka wajah yang dipastikan tidak bisa kembali kecuali melakukan prosedur operasi plastik, itupun butuh berkali-kali kalau jaringan sel kulitnya tidak rusak." Ungkap dokter wanita.
" Prof Zahra dari rumah sakit Atma Madina sudah menemukan metode baru untuk menyembuhkan kondisi dia, masalahnya beliau tidak mudah menerima pasien dengan luka khusus itu. Pihak rumah sakit sudah mengajukan proposal operasi kepada beliau" Tukas dokter lelaki.
Tidak ingin kecolongan kakaknya mengobati orang itu, Mumtaz mengirim email terkait profil pasien tersebut kepada Zahra.
Kemudian dia beranjak meninggalkan taman yang masih ramai Walau sudah dinihari.
\*\*\*\*\*\*\*
Biasanya Ibnu akan pulang ke rumah Aida seusai menghadiri acara, dia tidak mau kesepian dalam kesendiriannya.
Kini dia berbaringan di atas kasur rumahnya, memikirkan ekspresi sedih dari Ayunda, dan keanehan sikap Mumtaz.
" Si4l, kenapa kejanggalan dia mengambil alih otak gue, berasa gue ditipu gitu." Ibnu mulai berbicara pada dirinya sendiri.
" Kenapa dia harus aneh sih, kenapa gue kangen sisi itu dari mumtaz? seperti gue tahu sisi itu sebelumnya, tapi kapan?"
Ibnu \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* rambutnya kesal." Iya kali gue amnesia?"
Ibnu beranjak duduk, melalui ponselnya, dia membuka google mencari tahu penyebab amnesia.
" Luka bathin yang berat?" Bisiknya membaca isi google.
" Saat gue memakamkan ibu dan ayah." Ucapnya pelan menghalau rasa duka yang kembali menyeruak.
Dia terus membaca artikel.
" Gue inget saat terburuk dalam hidup gue, yaitu *bonyok* meninggal. Jadi gue tidak termasuk amnesia." Gumamnya setelah membaca salah satu point di google.
Kembali dia berbaring," Mumtaz, Mumtaz,...awal gue bertegur sapa, saat kita pulang sekolah karena melewati jalan yang sama..."
" ...terus, kalau istirahat berbagi bekal, padahal menunya gak jauh beda, gak jauh-jauh dari tahu-tempe..."
Tiba-tiba tubuhnya menegang, saat ingatannya berkelebatan di hari terang, namun hujan sepulang dia sekolah, pintu rumah terkunci, dan...akkhh." Kepalanya sakit, dipaksa mengingat yang...kosong.
Ibnu terbangun dengan nafas terengah-engah, ia mengusap wajahnya yang berkeringat dingin secara kasar.
" \*\*1\*, ada apa di hari itu?"
Ibnu terus memaksa database file otaknya terus bergulir mencari kisah persahabatannya dengan Mumtaz.
__ADS_1
Sakit di kepalanya semakin jadi, namun ia tidak mau menyerah, sampai terdengar bunyi dengung berkepanjangan di kepalanya, dan ia jatuh ke atas kasur, tidak sadarkaan diri. Ibnu pingsan!
\*\*\*\*\*\*
" Euungghh.... tidak... Inu,...maaf...TIDAAAKKK..." Nafas Mumtaz memburu, matanya terbuka lebar dengan bulir bening meluruh dikedua matanya.
" MUMUY..." Jerit Zahra panik.
Ia sedari tadi menepuk-nepuk pipi Mumtaz yang tertidur di atas sofa dengan terus bergerak gelisah.
Mumtaz duduk dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya, secara lembut Zahra menyeka keringat di sekitaran wajah adiknya sambil mengis.
Zayin dan para sahabat yang menginap berlarian ke ruang tamu dimana mereka berada.
" Ada apa, kak?" Zayin berjongkok di samping Zahra melihat Mumtaz masih dengan tatapan kosong.
" Inu, mana?" Tanya Mumtaz pelan.
" Gak pulang, mungkin balik ke rumahnya." Yuda yang menjawab.
" S14l, gue musti kesana."
Saat Mumtaz hendak beranjak, dia dicegah Zahra.
Tanpa disadari oleh semua orang, Zayin melangkah ke kamarnya, hendak pergi ke rumah Ibnu. Dia khawatir apa yang dia cemaskan terjadi.
" Jangan konyol, kamu saja kelihatan kayak orang linglung begini. Ada apa dengan Inu?" Tanya Zahra khawatir.
" Tapi kak, firasat ku dia tidak baik-baik saja."
" Kirim teman mu untuk kesana."
" Ayin aja yang kesana." Seru Zayin menuruni anak tangga secepat mungkin.
Para sahabat dibuat oleh sikap ganjil kakak beradik ini.
Derrt...
Zahra menjawab sambungan masuk dari ponsel Mumtaz yang tergeletak di atas meja.
" Assalamualaikum."
" *Kak, Aa Inu pingsan*,..."
" VC ya." Zahra merubah panggilan ke *video* *call*. Setelah mengamati kondisi Ibnu, Zahra melanjutkan percakapan," Sekarang ikuti instruksi Kakak." Zahra dengan tenang menuntun Khadafi untuk melakukan pertolongan pertama.
" Kakak kesana." Zahra mematikan sambungannya.
" Ada apa?" Mumtaz memegang tangan Zahra yang hendak berdiri.
" Inu pingsan, kakak kesana bareng Ayin."
" Aku ikut." Kekeuh Mumtaz.
" Setelah kamu membaik...atau tidak sama sekali. Sekarang shalat tahajud dulu sana." Peringatan zahra berikan dengan tegas.
" Ayo, Yin. Kita berangkat."
Tanpa protes Zayin mengeluarkan motor matic Mumtaz dari halaman rumah.
\*\*\*\*\*\*
Pasca mendapatkan perawatan, dan Ibnu sadar dengan suasana hati langsung ketar-ketir saat melihat Zahra yang duduk di kursi samping ranjangnya dengan raut tenang dan bersedekap tangan dengan mata menatap lurus padanya.
" Biar kakak mu tahu apa yang terjadi, bagaimana kamu menemukan Aa Inu?"
Khadafi yang masih syok berucap pelan." Aku mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban, lantas aku masuk menggunakan kunci cadangan, dan memeriksa kamar Aa yang sudah tidak sadarkan diri."
Suara Khadafi terdengar bergetar," Semula aku kira Aa tidur, namun kerena posisinya yang ganjil, aku membangunkan Aa, Namun tidak kunjung bangun, singkat kata aku menelpon kakak memberitahukan kalau Aa pingsan."
" Kenapa? Dan mengapa?" Suara tegas Zahra memciutkan sisi lelaki Ibnu.
Dia melirik adiknya, dan Zayin yang berdiri di pintu tanpa berniat menolongnya.
" Kak, inu baru sadar loh ini." Ucapnya hati-hati.
" *So*..." Kening Zahra mengernyit bertanya.
Tahu tidak ada jalan keluar yang bisa menyelamatkannya dari sang kakak yang tampak siap mengulitinya.
" Mumuy dalam tidurnya tadi menangis, dan manggil nama kamu. Di sini kamu pingsan. Kalau kalian saling diam, jangan paksa kakak untuk menjauhkan kalian sampai waktu yang tidak ditentukan."
" Kalian tuh pacaran atau temanan, atau kembar siam?" sindir Zayin.
" Aku... hanya terlalu keras memikirkan masa lalu."
" Tentang?" Zahra enggan melepaskan Ibnu.
" Aku dan Mumuy."
" Kenapa?"
" Penasaran kapan kami bersahabat."
" Untuk?"
" Hanya ingin tahu saja, karena di kepala Inu itu gak ada."
" Lupa, kali."
" Iya, tapi..."
" Itu namanya lupa, lupa berarti enggak inget. Aku, Zivara dan Zahira saja lupa kapan kami mulai bersahabat, tapi kami tidak mempersoalkannya, karena yang terpenting kami masih bersama, dan saling memahami."
" Inu, kalau kamu sudah ingat, lantas untuk apa?" Ibnu terdiam, dia hanya merasakan resah karena tidak mengingatnya.
" Mumuy, itu orang penting bagi aku, jadi mustahil aja rasanya aku bakal lupa kisah kami berdua."
" Di sini," Ibnu menunjuk dadanya," sakit, banget, kayak ada yang remas seperti Inu gak sanggup menanggungnya." Lirihnya, tanpa sadar air matanya keluar.
" Kakak, lihat?" Bahkan aku tidak bermaksud nangis, tapi aku menangis, karena hati aku sakit, tapi gak tahu apa penyebabnya."
Zahra menggenggam tangan kanan Ibnu, mengelusnya dengan sayang.
" Kalau kamu memang sangat ingin mengingatnya, lakukan pelan-pelan. Jangan siksa Mumuy. Kamu tahukan dia peduli sekali padamu?!"
Ibnu mengangguk, " maaf, kakak gak benci aku karena sudah menyusahkan Mumuy?"
" Alih-alih benci, kakak lebih mencemaskan kamu, kakak gak menjadi tidak berguna bagi adiknya."
Bunyi gerasak-gerusuk membuat mereka menoleh ke ambang pintu yang ternyata sudah berdiri Mumtaz, Daniel,, dan Alfaska serta para orang tua.
" Bisa Mumuy bicara berdua dengannya?" pinta Mumtaz menatap lurus penuh kesedihan di netranya untuk Ibnu....
Ayok...kasih banyak vote, hadiah, like n komen ya ...see you..again....
Makasih buat yang masih Suak DNA mengikuti cerita ini...salam hangat dari ku author amatir...
__ADS_1