Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
170. Tidak Perlu Menyimpan Dendam.


__ADS_3

" well, well..well...! perpaduan genetik yang kuat untuk menghasilkan generasi bobrok sekelas Jessica yang harus dibinasakan demi masa depan Indonesia karena dia seorang wanita." Sinis Ibnu, ia melempar sebundel berkas, kemudian  mengambil duduk di sofa tunggal disamping sofa panjang.


" Ka..kalian?" Daud tergagap syok karena tercyduk, ia merapihkan pakaiannya.


" Daniel Birawa, kakak yang adiknya selalu diganggu oleh anak kalian, Jessica." Daniel duduk anteng di sofa seberang sofa Ibnu.


" Bukankah urusan itu sudah selesai?"


Ibnu melempar beberapa gambar potongan saat Jessika menjambak rambut Ayunda ke hadapan Daud.


" Hari ini putrimu kembali merundung adikku, tentu saja kali ini kau yang harus membayarnya." Seru Daniel tenang dengan tatapan menajam.


Rahang Daud seketika mengeras, dia merutuki anak gadisnya itu.


" Dan aku sudah menyetujui keinginan mereka, harus ada yang selamat dari perahu yang akan tenggelam." Ucap Reynan tanpa beban.


Daud terlalu terkejut hingga melupakan keberadaan putranya, mereka mempersilakan Reynan bertindak selaku pemimpin, Reynan duduk di sofa seberang mereka, bersila kaki, dan memandangi mereka dengan ekspresi jijik pada keduanya.


" Huh, di rumah kau bertingkah seakan dunia kiamat, di sini kau menikmati hedonis seakan tidak akan pernah mati." Sarkas Reynan.


" Rey, ini ti..tidak..."


Tanpa aba-aba, Ibnu menyodorkan berkas itu pada Daud.


" Stop, pilihan ada ditangan kalian, kalian tanda tangani berkas atau saya laporkan dan sebar kelakuan kalian." 


" I...ini apa?" Tanya Daud.


" Berkas pernyataan kau mengembalikan apa yang menjadi hakku yang telah kau curi untuk kau berikan kepada p3l4curmu itu." Matanya menatap merendahkan pada Devi yang masih menghalangi dadanya dengan tumpukan pakaiannya, penampilannya yang berantakan memberitahukan pada mereka sejauh mana kegiatan mesum mereka.


Para tertuduh kembali terkejut, mereka tidak menyangka tindakan mereka diketahui oleh pihak lain.


" Tanda tangani." Ucap Reynan dingin.


" Re.. Rey... Kita bisa bicarakan dulu."


" Tanda tangani, atau dengan tanganku sendiri kau hancur." Ancam Reynan yang membuat Daud seketika memucat.


" Ragad, sebarkan foto yang kau dapatkan mereka bisa menjadi bintang p0rn* sebagai gantinya setelah dia kolaps." Pinta Reynan.


" Baik..."


" Oke, Daddy tanda tangani." Segera Daud dan Devi mentandatangani berkas tersebut.


Mimik Reynan tersenyum puas, berbanding terbalik dengan Daud dan Devi yang terlihat gusar." Tunggu gugatan cerai dari Mami." Ucap Reynan datar.


" Rey, i..ini tidak seserius itu." Kilah Daud.


" Bukan urusanku bagaimana hubungan kalian, bagiku kebahagiaan Mami yang terpenting."


" Rey,... Tante mohon untuk tidak memperbesar..."


Brughh...


" Awws..akkhhh..." Rintih mereka berdua ketika Reynan menendang kuat meja di depannya. Daud dan Devi memegangi kaki mereka yang terkepit meja, Reynan terus menekan meja menghimpit sofa.


" Diam lambe mu, b1tch. Dan jangan pernah berani kau tunjukan wajahmu dia depan ibuku lagi, satu-satunya pertemuan kalian hanya di pengadilan agama." Tunjuknya pada Daud.


Daniel menatap Devi " Lo di sini sedang mel4cur, di sekolah anak kalian sedang dipermalukan. Pantas saja anak kalian tidak berotak. Toh kalian juga tidak memilikinya." Ucapan menghina tersebut membuat Daud marah.


" Dan kau, tuan Wibisono. Ucapkan say goodbye pada usahamu, karena kini kau hanya seorang pengangguran."


Mereka berlalu dari rumah dengan santai, Daud menjambak rambut kuat-kuat, dia merasa frustasi karena kesal, marah, tapi tidak berdaya.


" Tenang, sayang. Aku akan menelpon pak Andre untuk membantu kita memenjarakan mereka." Hibur Devi sambil mengelus punggung Daud.


" Sebaiknya itu berhasil, atau kita berdua miskin." Ucap Daud lemah.


Devi langsung menelpon orang yang menurut dia bisa menolongnya. Sambungan telpon itu membuat seseorang di luar sana tersenyum.


" Tuhan maha baik, segala urusannya diberi jalan kemudahan." Gumamnya sambil mengotak atik iPadnya untuk meretas panggilan yang berupa VC tersebut.



Reynan menatap sendu ibunya yang memperhatikan foto suaminya sedang bercumbu dengan Devi.  Beberapa foto tidak senonoh itu membuat Rika menangis hebat, seakan melepas semua penderitaannya yang ia tanggung selama ini.



" Hiks...kebenaran ini memang adanya, maafkan Mami, sayang. Mami ingin berpisah dari ayahmu. Hiks."



Reynan membawa ibunya ke dalam pelukannya," itu yang harus Mami lakukan, kita bisa bahagia tanpa Daddy. Pasti!"



" Rey,... bagaimana dengan Mela dan..."



" Mami harus egois, mereka bukan urusan kita. Rey akan mengirim mereka ke rumah perempuan itu."



" Tante..." Suara pelan Mela menjeda obrolan mereka.



" Untung datang, sini Lo." Titah Reynan.



" Rey,..." Rika menahan putranya yang sedang diselimuti amarah.



" Mi, semua harus tuntas sekarang, selama ini Rey mengikuti keinginan mami, tapi hasilnya zonk. " Rika melepas pegangan tangannya.



" Ada apa?" Langkah Mela terhenti kala Reynan berbicara hal yang menakutkan baginya.



" Lo dan si Jessica harus angkat kaki dari sini, Mami dan paman Lo mau cerai, jadi kalian tidak lagi pantas tinggal di sini."



" Tidak bisa, ini rumah Daddy." Tolak Jessica dari ambang pintu ruang tengah dengan rambut awut-awutan, seragam rusak dan kotor.



" Hmmpt..." Reynan menutup mulutnya melihat Jessica



" Mimpi Lo kejauhan, rumah mewah ini rumah nyokap gue, Bokap Lo gak sekaya yang Lo kira. Kemasi barang kalian sebelum gue bertindak brutal." Ancam Reynan bengis.



" Rey, hari ini mama aku datang, bisa kamu tunda dulu kepergian kami?" Mela memelas.



" Gak peduli, cepetan berkemas." Ucap Reynan galak.



Tatapan jahat Reynan membuat mereka tidak berkutik, sepanjang mereka tinggal di sini sejak dua tahun lalu, banyak hal mengerikan yang sudah dia lakukan kepada mereka berdua tanpa sepengetahuan kepala keluarga, Daud.



Bruakgh...


Reynan melempar koper dan tas besar milik Mela dan Jessica di teras yang terjatuh tepat di kaki Daud dan Devi.


" Rey, kamu tidak musti mengusir mereka dari rumah." Hardik Daud kesal.


Dia sebenarnya masih ingin datang ke rumahnya dengan alibi menjenguk anak dan keponakannya, tapi yang terjadi dua alasan itu kini ada di rumah simpanannya.


" Siapa Lo ngatur gue, mereka tidak ada hubungannya dengan gue. Bye, Mami sudah menunggu." Reynan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah laknat itu.


Plak..plak..


" Mas."


" Dad.."


" Om."


Teriak Devi, Mela, dan Jessica memegang pipi mereka yang perih, Devi terkaget.


" Berapa kali Daddy katakan jauhi Birawa. Devi, nasihati dia." Daud sangat kesal pada kekeras kepalan putrinya.


" Mas, kamu mau kemana?" Teriak Devi memandangi mobil Daud yang keluar dari halaman rumah.


******


Zayin terus mematikan panggilan masuk ke ponselnya, perhatiannya harus dia tujukan penuh pada rapat kali ini karena dihadiri oleh kepala staf dari tiga angkatan.


" Jadi, proyetil yang kalian dapatkan di Kalimantan sama dengan proyektil yang ditemukan oleh rekan angkatan darat di daerah Banten, Lampung, Madura, dan Sumatra." Ujar KASAL. 


" Tidak lama lagi panglima akan mengadakan rapat besar antar angkatan untuk membahas ini."


Mata KASAL melirik pada Zayin yang sesekali memainkan ponselnya.


" Zayin,..."


" Siap, laksamana." Refleks Zayin bersikap tegak.


" Kau, William, dan Bayu. Akan diikutsertakan beserta sembilan tentara lain dalam operasi gabungan ini."


" Siap." Jawab mereka serempak.


" Apa analisa awal kamu terkait hal ini?"


 Zayin mengetuk-ketuk telunjuknya di atas laporan tim AL dan AD." pengambilan kedaulatan, melihat dari laporan yang ada, kita tidak bisa mengabaikan personil terlatih dengan standar militer dari cara penanaman bom, dan senjata yang ada. tentu ini pasti dilakukan secara terorganisir, dan sistematik."


" Mereka memahami sejarah Indonesia dengan baik, mereka paham mengapa dulu Belanda tidak bisa memguasai Indonesia meski telah mendudukinya selama tiga setengah abad."


" Kini mereka akan terlebih dulu menguasai wilayah yang secara tradisional, dan agama yang kuat, karena kekuatan terbesar bangsa kita adalah kepemilikan terhadap wilayahnya masing-masing."


" Apa maksudmu bangsa Indonesia mengalami kemunduran nasionalisme?"


" Tidak, tentang itu jangan diragukan, tetapi isu agama dan ras mengakibatkan satu sama lain dari kita saling curiga yang menjadi celah bagi haters atas kedaulatan kita untuk menyusupkan idelogi mereka, jangan lupakan metode ini pernah dipakai oleh Jepang saat menduduki kita dengan gerakan tiga (A)nya." Tukas Zayin.


" Will, apa pendapatmu?" Tanya KASAL.


" Pendapat Zayin tidak bisa diabaikan, bisa jadi untuk saat ini mereka menargetkan Kalimantan hanya sebagai pemancing perpecahan mengingat rencana kepindahan ibu kota ke sana mendapat beberapa kontra, keamanan adalah salah satu faktor yang diperdebatkan."


" Kamu, Bayu."


" Siap, laksamana."


" Kalimantan, dan sumatera dua kepulauan besar di Indonesia, jika serangan ke sana dapat berhasil, maka akan mengguncang dalam negeri, sikap skeptis warga pada pemerintah semakin besar."


" Banten, Lampung. Tentu tempat strategis untuk memindahkan akomodasi antar pulau tanpa deteksi karena tempatnya yang di ujung."


" Madura, salah satu suku yang terkenal dengan keberanian, loyalitas, keteguhan akan pendiriannya, dan ketegasannya, menguasai mindset mereka menguntungkan bagi pelaku untuk merekayasa konflik dalam negeri."


Sang laksamana menganggukkan kepalanya seakan setuju pendapat mereka.


" Kalian seperti telah melakukan penyelidikan atas kasus ini?" Sindir sang laksamana.


" Kami hanya sangat bersemangat." Jawab Zayin santai.


" Apa RaHasiYa mengatakan sesuatu, Zayin?"


" Mereka hanya berbicara pada atasan sekelas Anda bukan pada kami yang cuma pelaku lapangan." Zayin menjawab dengan kalem.


" Hahaha, sulit sekali menjebak kamu."


" Baiklah, sekarang kita dengarkan kesimpulan dari KASAD, dan KSAU."


KASAD pun berdiri di depan podium dengan proyektor yang menyala.


****


Jeno dan Rio menoleh ke arah beberapa pasang kaki yang berlari kearahnya, Alfaska, Aryan, dan para sahabat datang hampir bersamaan dengan Zahra dan klan Hartadraja.


" Bagaimana keadaan Mami?" Tanya Alfaska dengan raut khawatirnya, tangannya menggenggam erat tangan Tia yang meringis kesakitan namun tidak disadari oleh Alfaska.


Jeno yang melihat itu, merenggangkan genggaman itu.


" Masih dalam pemeriksaan, ini pemeriksaan yang keempat kalinya mereka masuk dengan tergesa-gesa setiap kalinya." Jelas Jeno.


" Kabar terakhir?" Bara bertanya.


" Stabil, untuk kondisi beliau."


Cklek...


Beberapa lelaki berpakaian scrub keluar dari ruang ICU


" Apa tuan Aryan sudah datang?" Tanya salah satu dokter.


" Saya di sini." Aryan melangkah maju mendekati para dokter itu.


" Tuan, pasien ingin bertemu anda. Bicaralah secara perlahan-lahan."


" Tentu." Aryan memasuki ICU setelah mengenakan APD steril ruangan.

__ADS_1


" Professor Zahra, bisa kita bicara?" Pinta kepala tim.


Dirinya menatap Mumtaz dan Hito minta izin, yang diangguki oleh keduanya. " Tentu." 


Hito menekan genggamannya menyalurkan penenangan dan dukungan padanya.



Aryan memandang istrinya yang tertidur dengan peralatan medis disekitarnya.



" Sayang..." Suara lembut Aryan memancing mata Sandra menoleh padanya.



Perlahan air mata Sandra berurai dari pelupuk matanya," Pa..Pi.." lirihan kecil dari Sandra membuat hati Aryan pilu.



Perlahan Aryan mengusap punggung tangan Sandra yang sepanjang kedua tangannya dibalut kain putih.



" Maaf, sebagai suami aku tidak mampu melindungimu." Ucap Aryan lirih diiringi derai air mata.



Kepala Sandra menggeleng tipis." Please..jangan..menyalahkan..dirimu, ini..murni..salahku." lirihnya lemah.



" Berulang-kali kamu mengingatkan aku untuk merubah sikap, tapi aku tidak mendengarkan mu." Nafasnya terengah-engah, dia lelah walau hanya untuk sedikit kata itu.



" Pi,...makasih sudah..membatalkan gugatan..talakmu..."



" Kamu sudah mendapat kabar itu?"



" Hemm.. bagaimana respon Afa mendengarnya?"



" Aku belum mengatakannya." Raut Wajah Sandra berubah sendu.



" Dia sedang disibukkan dengan urusan Ibnu dan Ayu."



" A..ada apa.. dengan mereka?"



" Bukan hal penting. Hanya urusan percintaan kaula muda."



Wajah sayu itu tersenyum tipis, kemudian senyum itu diganti mimik sendu." Mereka pasti membenciku. Terlebih Afa." Suaranya memelan Seiring isakan mendayu.



" Tidak, mereka anak-anak yang baik. Perihal Afa, mungkin dia marah, tetapi itu tidak lama. Dia ada di luar."



Sontak mata Sandra berbinar," benarkah?" 



" Iya, sama yang lain juga, bahkan keluarga Hartadraja ada di sini."



Kini wajah Sandra bercampur antara senang, takut, dan khawatir. Tiba-tiba Sandra terisak dari *bedside* monitor terlihat tekanan darah dan detak jantungnya meningkat, sedangkan denyut nadinya melemah, dilanjut tubuhnya kejang-kejang. 



Paramedis penjaga dengan sigap melakukan tindakan.



" Maaf, tuan. Sebaiknya anda keluar, biarkan kami memeriksa pasien.



aryan terkejut, ia panik." Ada apa dengan istri saya?"



" Tuan, tinggalkan ruangan, agar kami bisa mencari tahu." Satu orang dokter menarik tubuh Aryan.



" Ta..."



Zahra menekan tangan Aryan." Papi,...biar kami berusaha." Suara lembut nan tegas Zahra menggiring Aryan keluar ruangan.



Saat Zahra hendak kembali masuk, Aryan memegang tangannya." Tolong, selamatkan dia." Parai Aryan dengan mata berlinang bulir bening.



Zahra memberi senyum memenangkan." Kami pasti berusaha yang terbaik." Ucapnya sebelum menghilang dibalik pintu.



Blam...



Aryan melangkah gontai ke kerumunan orang-orang yang menunggu.



" Pi,..ada apa?" Tanya Alfaska memapah ayahnya ke kursi penunggu.




Sementara yang lain mengkhawatirkan keadaan Sandra, Mumtaz sibuk dengan iPadnya sesekali bibirnya mengulum senyum.



Setelah menghabiskan dua jam pemeriksaan, Zahra keluar ruangan dengan air muka tidak bisa ditebak.



Bara langsung mendekatinya." Kak, bagaimana dengan Mami?"



" Apa Zayin sudah datang?" Mereka menggeleng sebagai jawaban.



" Muy, suruh Zayin cepat kemari." Zahra menatap dalam pada Mumtaz.



" Sudah ditelpon dari tadi, tapi direject." Jawab Mumtaz.



" Lewat pesan." 



" Dia sedang rapat."



" Minta keluar duluan, mami ingin bertemu dengannya."



" Sudah, dia bilang belum bisa. Lagi pas intinya."



" Ck, pastikan dia langsung kemari." Dengkus Zahra menghampiri Hito yang menyodorkan air mineral padanya.



" Bar, Mami ingin bertemu kamu." wajah Alfaska berubah mendung.



" Apa mami tidak mau ketemu Afa, kak?"



" Bukan begitu, mami ada perlu sama Bara." Zahra menenangkan.



Bahu Alfaska ditepuk Bara sebelum ia memasuki ruangan.



Mata Sandra menatap sayu Bara yang terlihat lelah." Bara, Mami...berterima kasih kamu menjadi pelindung bagi Afa ketika Mami bersikap bodoh."



bara menggeleng, ia tidak sanggup berkata melihat keadaan tantenya.



" Tidak perlu, dia memang adikku, hiks."



" Bar, terkait perusahaan, Mami..."hati Sandra sakit mengingat tindakannya.



" Its okey, Mi. kita akan berjuang kembali."



" Bar, Jika Mami pergi,..."



" Mi, jangan katakan itu..."



" Mami minta kamu tetap di samping Afa apapun keadaannya."



" Mi...,"



" Mami bangga padamu, hiks..."



" Mi, beristirahatlah." Bara sudah tidak sanggup lagi.



" Kalau kalian ingin bertemu, satu-satu, jangan lama-lama. Jika kondisinya tetap stabil, nanti malam beliau bisa dipindahkan ke rumah sakit Atma Madina." Ujar Zahra duduk disebelah Hito.



" Fa, kamu dulu yang masuk." Ujar Aryan.



" Afa, bareng Tia saja." Koreksi Zahra.



" Kamu istirahat dulu, sayang." Hito menggenggam tangan Zahra.



\*\*\*\*\*\*

__ADS_1



Jari tangan Sandra hanya bisa bergerak ringan walau hanya untuk sekedar menggapai.



Tangan Alfaska menyambut gerakan itu secara pelan-pelan." Mi.." suara Alfaska yang sarat kecemasan mengulik rasa sesak di dada Sandra karena rasa menyesal.



" Tia sayang.."



" Iya, Mam." jawab Tia menggenggam erat tangan Alfaska.



" Mami minta maaf atas segalanya."



Tia hanya sanggup mengangguk, ia menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya.



" Lupakan, Mi. kita memulai lembaran baru. hmm?!"



" Sandra tersenyum tipis." makasih." bisiknya.



" Mami sayang kalian."



" Mam, kami tahu, kami juga sayang mami. cepat sembuh, kita kembali bersama." ujar Alfaska tercekat.



" Demi kamu, Mami pasti sembuh."



" Apa Zayin ikut dengan kalian?" suara Sandra begitu lemah.



" Tidak Mi, apa mami Perlu seuatu?" tanya Tia.



Sandra menggeleng," Mami hanya mau minta maaf padanya."



" Mami gak benci A Ayin?" suara Tia bergetar.



" Fa, kamu jangan marah padanya, jangan membencinya." sorot mata Sandra menerawang sedih pada kejadian beberapa jam lalu.



" Dia nyata adanya mencintai mu, seperti mencintai saudara kandungnya.



Alfaska berjongkok mencium kening ibunya yang ditiru oleh Tia." kami mencintai mu, Mi. sembuh ya..."



Setelah Alfaska, klan Hartadraja, dan Mumtaz menemuinya.



" Fa, Kakak balik ke Jakarta duluan ya, ada tindakan." Zahra mengusap lengan Alfaska.



" Hmm, makasih Kak."



\*\*\*\*\*\*



Begitu rapat usai Zayin langsung membuka ponselnya banyak panggilan dan pesan masuk dari Mumtaz dan para sahabatnya.



" Ck, jauh amat ke Bogor." Gerutunya.



" Kenapa Yin?" William bertanya sambil mengenakan helmnya, ia duduk di atas motor sportnya.



" Will, anter gue ke Bogor lah. Nyonya Atma Madina pengen ketemu."



Sesaat Wiiliam termenung," mungkin mau laporin elu."



" Bodo amat, gue gak bisa cuek, gue masih mikirin perasaan bang Afa."



" Dia gak komen apapun perihal ini ke elo?"



" Mau komen apa? Toh semua sudah terjadi."



" Mau enggak Lo anter gua?" 



" Iya, iya. Naik."



Derrt...



" Ck, ini lagi gue lupa." Dengkus Zayin membaca pesan dari Adelia.



" Kenapa lagi, dah?"



" Gue kemarin lupa bawa Adelia ke pasar malam, sekarang dia marah-marah dan minta malam ini ngajak dia ke sana.



William terkekeh geli mendengarnya."  Ngadepin \*\*\*\*\*\*\* paling depan, ngadepin balita keok."



" Ck, terus aja Lo ledek gue, karma datang nyaho Lo. Berangkat." Zayin menepuk pundak William.



" Bay, kita duluan."pamit Zayin pada Bayu yang baru keluar dari gedung."



" Wii,...jangan pergi..." Ucapannya tidak diteruskan karena ia hanya bicara pada angin, William sungguh mengebut mengejar waktu agar Zayin bisa mengantar Adelia ke pasar malam.



Zayin dan Sandra saling menatap dengan raut berbeda, Sandra dengan tatapan penyesalan, Zayin dengan mimik datarnya.


" Yin,..."


" Tante, mending istirahat. daripada minta maaf pada saya." Zayin paling tidak suka orang yang lebih tua darinya meminta maaf padanya walau ia membencinya.


Perkataan itu menyesakan baginya, wajah Sandra lebih layu." Kamu,.."


Cup...


Zayin mencium kening Sandra dengan lembut, membuat Sandra tertegun." aku, yang harus meminta maaf padamu, tapi itupun harus aku lakukan." bisiknya.


" Aku tidak membencimu, tapi aku ingin menghilangkan kesombonganku. maaf membuat anda kesakitan."


Sandra menggeleng pelan, air matanya lirih untuk sekian kalinya hari ini.


" Mengapa kamu dan saudaramu begitu baik, Mami sidah jahat pada kalian...hiks."


Dengan pelan nan lembut Zayin menyeka air mata itu.


" Bukan Tante yang jahat, tidak ada ibu yang jahat, istirahatlah."


Sekali lagi Zayin mengecup kening Sandra yang berefek besar bagi perasaan Sandra, kecupan itu mengangkat segala perasaan bersalahnya, Sandra tersenyum lembut padanya.


" Pastikan Tante sehat kembali, menembus waktu bersama kita."


" Adelia pasti bahagia bersamamu." goda Sandra.


" Ck, Tante tahu hal itu? dan jangan ikut-ikutan yang lain jodohin aku sama itik itu." Zayin merengut.


" hahaha,...dai pasti merepotkanmu."


" Pastinya, kita bisa mengobrol banyak kalau Tante sudah sehat. Aku harus pergi, Adel minta diantar ke pasar malam."


Sandra mengangguk kecil." jangan membuatnya bersedih, dia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik."


" Tidak akan, aku diciptakan untuk melindunginya. ini rahasia kita, hmm."


" Romantisnya..."


Zayin mengerang sebal, " Aku pergi, Tante istirahat. kasian kakak yang ahrus mengoperasi pasiennya kalau pasiennya tidak dalam kondisi baik."


Sandra tersenyum senang mendengarnya." hmm."


*****


Ceklek....


Guadalupe yang terbaring lemah di atas brankar menoleh saat Mateo masuk ke ruangannya.


" Bagaimana?"


" Professor Zahra menolak mengobati anda, dan juga tuan Navarro, nyonya." Lapor Mateo.


Mata Guadalupe menatap Mateo garang. " lakukan sesuatu padanya, dia terlalu sombong."


" Nyonya, tuan Gurman tidak akan menyukainya."


" Pers3t4n, mereka terlalu penakut...."


" Stop it, grand ma." Rodrigo membuka gorden jendela kamar inap neneknya.


" Hentikan semuanya selagi mereka memberimu nafas."


" Tidka Sudi, nenek harus mendapatkan sesuatu di sini, kalau kalian tidak mau membantu nenek, setidaknya jangan menghalangi nenek."


Rodrigo menggeleng tidak habis pikir, dia melempar map coklat pada Guadalupe.


" Ini apa?"


" Pengajuan cerai dari kakek untukmu, kakek memutuskan melepasmu daripada kartelnya hancur karena ulahmu.


Guadalupe terkejut, matanya membesar." dia tidak bisa melakukan ini padaku?" bentaknya, luka tembakannya berdenyut nyeri, ia meringis.


" Beliau seorang kepala Gurman, bebas melakukan apapun yang beliau mau."


" Rodri,...kau akan kehilangan kartel itu kalau dia menceraikan nenek.


Rodrigo mendekati brankar dengan wajah serius," kau dan aku dua hal yang berbeda, dia sangat mencintaiku, dan aku tidak akan mengkhianatinya."


" Mateo, mari kita pergi dari sini." titah Rodrigo tegas.


Sepeninggal Rodrigo, Guadalupe mengambil ponselnya menghubungi seseorang yang dengan sukarela bersedia melakukan apa yang dia inginkan.


******


" itu ambulance nya, tuan." kata petugas penunggu mobil.


Lelaki hitam berperawakan besar dengan topi hitam menutupi setengah wajahnya melonggarkan ****** ban ambulance yang dipersiapkan membawa Sandra ke Jakarta...

__ADS_1


__ADS_2