Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 43. awal pergerakan


__ADS_3

 Bandara Soekarno-Hatta


Zahra menunggu jemputan dengan duduk di atas koper besarnya sambil membaca modul penelitiannya di tabs


Tin,...tin,...


Zahra mengangkat kepalanya dari tabs. Membalas lambaian tangan Hito dari balik kemudi.


Setelah menyimpan koper dalam bagasi mereka menuju rumah Zahra.


" Kenapa gak langsung ke rumah sakit? Tanya Hito.


" Aku capek banget, masih jetlag pula. Kesana juga gak bakal bisa bantu-bantu." Jawab Zahra.


" Apa kamu di rumah sendiri?"


" Enggak, Ada Ziva dan Hira."


" Apa kamu sudah makan?


" Belum, kamu?" Hito menggeleng.


" Ishh, kebiasaan. Ini juga masih pakai baju formal, habis ngantor?


Hito tersenyum " cuma meeting."


" Hari libur masih aja dipake kerja, memang mau ngumpulin  kekayaan berapa banyak lagi?" Sindir Zahra


" Ngumpulin modal buat nikah." Iseng Hito


" Hah, kamu mau nikah? Kok baru bilang, sama siapa? Panik Zahra, entah mengapa terselip rasa nyeri di hatinya.


" Sama orang di samping aku." Lirik Hito.


"......."


Hito tersenyum melihat Zahra diam terpaku.


" Aishh, kamu mah. Padahal aku udah siap-siap buat frustasi tahu " sarkas Zahra.


Hito terkekeh sembari mengusap-usap puncak kepala Zahra.


" Segitunya, udah mulai bucin,hemm?!"


" Gimana gak bucin selama empat tahun ini aktif dimodusin terus."


" Hahahaha,.... Sadar ya lagi dimodusin."


" Banget, Udah intermezzonya. Kita makan dulu ya."


" Siap Nyonya Hartadraja." Meski menggombal tatapan Hito fokus ke depan karena sedang menyetir.


Zahra hanya tersenyum, Hito tertawa kecil " selamat datang di Indonesia."


" Terima kasih." Mereka meluncur ke tempat pecel lele langganan.


****


Surga Duniawi


Mumtaz, seseorang yang benci kehidupan malam, dan bersumpah tidak akan pernah menyentuhnya. Kini demi Jimmy dia rela masuk ke kawasan itu.


Daniel menatap kepergian mereka dengan nanar " andai waktu itu gue gak pengecut, Jimmy gak akan ngalamin ini semua." Bisik Daniel. Ibnu menepuk-nepuk pundak Daniel


" Waktu gak bisa diputar, tapi kita bisa membayarnya." Tegas Ibnu.


Interaksi emosi antar empat sahabat itu terekam dalam memori Radit. Dia di sini atas permintaan Mumtaz untuk memperhatikan Jimmy.


Mereka bertiga melangkah sesuai arahan Ibnu hasil dari tangkapan robot Daniel.


Sampailah mereka pada tempat yang banyak orang berkumpul.


Perempuan dan lelaki bersatu tanpa jarak. Ternyata tempat itu adalah tempat negosiasi para klien kelas menengah kebawah dengan sang tuan rumah mengenai pemilihan wanita panggilan dan penentuan harganya.


Bara menunjukan  kartu VVIP kepada para penjaga, mereka langsung di diarahkan ke sebuah tempat eksklusif dengan interior mewah menggoda


 Terdapat beberapa sofa besar ukuran single dan panjang.


" Silahkan masuk, dengan tuan..."


" Rudiansyah. Nama saya Rudiansyah. Ini rekan saya Berto, dan Immanuel." Ucap Bara membalas jabatan tangan Victor Rafael.


" Kenalkan saya Victor Rafael, dan ini rekan saya Rudi Aloya."menunjuk ke seseorang yang duduk dibalik meja besar dengan gaya berkuasa, menunjukan siapa penguasa kawasan ini.


Kulit sawo matang, wajah mesum dengan codet sepanjang pipi, sewaktu tertawa beberapa gigi palsu besi menambah kesan bengis dalam dirinya.


Mumtaz mengawasi Jimmy yang tubuhnya mematung dengan tatapan kosong tak membalas uluran tangan dari Victor.


Mumtaz lah yang menyalami orang itu. " Maaf teman saya masih terpukau dengan tempat ini. Dia sudah lama tidak pergi menghibur diri." Alibi Mumtaz.


" Ooh pantas. Masih pemula, hemm.?" Mumtaz mengangguk.


" Baik duduklah. Dimanapun kalian nyaman." Tawar Victor


Mumtaz duduk disamping Jimmy. Satu tangannya berada dibalik punggung jimmy mengusap-usap menawarkan perlindungan.


" Ada yang bisa saya bantu?" Basa-basi Rudi. Tangannya memutar-mutari cerutu Kuba mahalnya


Jimmy langsung gemetar mendengar suara itu, suara sepuluh tahun lalu yang mentertawakannya dengan cemooh, dan meremehkan.


Terlintas lagi kejadian sepuluh tahun lalu dimana dengan tangan dan kaki terikat, Jimmy remaja tanggung dilecehkan dengan senonoh oleh Rudi.


Jimmy menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengenyahkan bayangan itu.


" Anda tidak apa-apa, tuan?" Tanya Victor.


" Tidak, tidak apa-apa." Suara Jimmy tercekat


" Saya tahu tempat ini dari rekomendasi partner bisnis saya dari luar. Mereka bilang kalian punya bintangnya di sini, saya ingin para bintang kalian." Bara mengalihkan pembicaraan


" Berapa budget yang kalian siapkan." Tanya Rudi.


" Tak terhingga. Saya ingin yang terbaik. Jika saya di tipu, tentu kalian tahu apa konsekuensinya." Tajam Bara melempar black card-nya ke atas meja.


Rudi dan Victor tertawa senang, Mereka pikir, mereka mendapat tangkapan besar.


Tawa itu, tawa yang selalu menghantui mimpinya. Tawa yang menjadikannya seperti sekarang ini. Jimmy mengepal tangan kuat sampai tangannya memutih


Rudi menelpon seseorang di seberang sana. tak lama muncul lah tiga wanita dengan berpakaian sangat minim yang tepatnya hanya menutupi ******** mereka saja.


" Ini Erika Pramono, seharga Rp 250 juta, semalam." Tutur Rudi ke wanita berambut panjang hitam legam.


" Ini mawar Alexander, seharga 320 juta semalam." Ke perempuan yang berdiri di tangah.


" Dan ini Mega bintangnya Adinda Aloya, seharga 500 juta semalam."


" Aloya?" Tanya Bara pura-pura.


Rudi mengangguk. " Dia memang Puteri saya, saya hanya menyalurkan bakat dia saja." 


" Kenapa harganya berbeda?


Rudi menyesap cerutunya dalam-dalam jelas dia bangga dengan bisnisnya " semakin tinggi harga, dijamin semakin puas pelayanan." Promo Rudi.


" Ooh, Saya mau semuanya." 


Mereka terperanjat. Mereka tak menyangka malam ini akan menjadi keberuntungan mereka."


" Kalian boleh bawa perempuan ini setelah melakukan transaksi."


" Saya ingin melihat KTP kalian untuk memastikan kalau kalian legal." Ucap Mumtaz


Mereka berdua saling pandang, lantas mengangguk. Victor memberikan KTP mereka.


Mumtaz melihat KTP tersebut dengan mensejajarkan lurus dengan kornea matanya, Dia memindai KTP-KTP  tersebut.


Di sebrang terdengar " bagus" ucap Ibnu.


Mumtaz kembali memberikan KTP tersebut kepada Victor.


Bara mengangguk, tangannya menunjuk kartu yang di atas meja. Victor mengambil dan memberikan kepada Rudi.

__ADS_1


" Transaksi berhasil, kalian temani klien ke kamar yang sudah di sediakan."


Bara mengambil tiga kunci kamar, mereka keluar dari ruangan itu diikuti tiga wanita bintang.


Mobil Van.


" Yud, instruksikan Rio bawa  para temannya ke kamar, udah gue kirim denahnya." Instruksi Ibnu.


****


Kediaman Mumtaz.


" Zahra,..." Jerit dua wanita berlari merentangkan tangan mendekati Zahra dengan daster rumahan


Zahra tertawa atas sambutan para sohibnya.


" Kayak rumah sendiri aja kalian."


" Emang. Nyokap Lo udah jadiin kita sebagai pengganti posisi Lo." Cibir Hira."


" Eh, ada tuan muda Hartadraja. Cosplay supir pribadi, pak?" Ledek Ziva


" Hehe,...khusus Zahra, calon Nyonya muda Hartadraja." Jawab santai Hito


" Aowhs, udah official ni? Empat tahun tanpa status, kalau nikah udah punya satu anak, La." Seloroh Ziva


" Jangan banyak omong mood gue jelek, martabak gue tarik ni." Zahra mengangkat kantong plastik berisi martabak manis dan martabak telor


" Dih, baper, pms Lo?" Ziva merebut martabak ditangan Zahra.


" Kak, duduk dimana aja yang kakak mau." Tawar Hira. Hito mengangguk.


" Aku ke kamar dulu, bersih-bersih." Pamit Zahra.


" Aku angkut koper dulu." Hito kembali ke mobilnya.


****


Surga Duniawi


Sejak masuk kawasan ini teman-teman langsung melancarkan aksinya sesuai yang ditugaskan.


Mereka menaruh banyak kamera berbentuk bulat dan kotak ke setiap tempat sesuai arahan Yuda yang memang miliki denah seluruh wilayah yang sudah ditandai.


Untuk peledak, berukuran bulat dan lonjong mereka menempatkannya di seluruh wilayah dengan jarak setengah meter antar peledak.


" Selatan, selesai." Lapor Jeno. Dia menggandeng seorang wanita sexy yang tak berhenti menggerayanginya.


" Barat, selesai. Gue out sekarang, kalo gak, perjaka gue hilang." Lapor Haikal yang terus menghindari wanita panggilan yang terjebak obat perangsang


" Timur, selesai." Lapor Rio yang wajahnya selalu mendapat ciuman dari wanita sexy dipangkuan ya.


" Utara, selesai. Gue out sekarang, di sini bukan level gue." Ucap santai Adgar.


" Misi completed. Keluar kalian dari sana." Ucap Yuda ke semua orang.


****


Gedung RaHasiYa.


" Misi selesai. Kalian segera keluar, dan beristigfar. Ini titah Mumtaz." Tukas Yuda tak ambil pusing dengan protesan teman-temannya.


Mata Raja tak berkedip, berkali kali mulutnya mengeluarkan kata-kata memuja akan kemolekan tubuh para wanita panggilan itu."


" Tutup mulut Lo. Dari tadi ngiler mulu. Ja, ini hanya fatamorgana." Jengah Yuda terhadap juniornya ini.


" Bang, si Adgar bego, udah di depan mata malah dianggurin." Cerocos Raja.


" Selera Hartadraja tinggi, bukan sampah kayak gitu." Bela Akbar.


" Iya, saking tingginya seumur-umur jones." Ledek Yuda. Mereka berteman sejak SMP, jadi Yuda tahu pasti jika Akbar belum pernah pacaran.


" Gimana gak jones muka datar, tatapan tajam, ngomong irit. Para cewek butuh dimanjain, bang." Ledek Raja.


" Salah mereka gak ada yang menarik di mata gue." Sanggah Akbar


Yuda berdecak," soumbong amat, bang."


Dominiaz yang mengikuti operasi lapangan sedari awal terdiam. Dia sangat terpukau dengan kerja sama yang sangat sistematis dan apik yang dilakukan para pemuda ini.


" Kalian sering melakukan Misi beginian?" Penasaran Dominiaz.


" Mereka berempat, Mumtaz dan para sohibnya sering. Kita sekali-dua kali." Ucap Yuda.


" Kakak ingat tragedi penculikan bapak Birawa, kamu yang membebaskannya. Meski yang mendapat nama baik adalah polisi.


" Mumtaz,...kenapa Atma Madina dan Birawa begitu mendengarkan seorang Mumtaz?"


" Kurang tahu, tapi bisa jadi eksistensi mereka karena Mumtaz." Ujar Yuda


" Empat tahun lalu Mumtaz dan Ibnu terpaksa membatalkan beasiswa mereka karena ambisi Jimmy yang ingin mendirikan RaHasiYa secara mandiri yang selama ini di bawah nama Atma Madina cyber." Ucap Akbar


Dominiaz mengangguk untuk ukuran perusahaan baru RaHasiYa memang termasuk perusahaan yang pesat kemajuannya.


" Sampai segitunya? Apa Tante Aida tidak marah? Penasaran Dominiaz


" Setahu saya tidak, mereka memang punya ikatan persahabatan yang aneh dengan berbeda karakter, tapi sampai sekarang masih jalan."


" Menurut gue, ikatan diantara mereka lebih dari persahabatan, tapi gue akui keanehan ikatan diantara mereka." Aku Akbar.


" Bagi mereka meretas kayak udah mainan. Aku juga pernah di tolong beberapa tahun lalu sewaktu ayah di tipu rekan bisnisnya, semua uang ayah dibawa lari orang itu, Hinga ayah nyaris bangkrut. Tapi tak butuh waktu lama dengan santai Ibnu bilang duit ayah sudah balik, ketika ayah mengecek ke bank, benar duitnya utuh masih dengan jumlah Yang sama." Cerita Yuda.


" Meski Jimmy dan Daniel yang berperan di muka, tetapi sesungguhnya pusat segala pergerakan RaHasiYa berada di tangan Mumtaz." Info Yuda


" Gue ingat, empat tahun lalu Hartadraja hampir batal kontrak dengan RaHasiYa karena Mumtaz mundur. Bagi mereka tidak ada Mumtaz, tidak ada bisnis." Lanjut Akbar.


" Segitu besarnya peran seorang Mumtaz." Tanggap Dominiaz


" Lo ingat gak Bar, waktu SMA, satu sekolah benci Bella, mantannya Mumtaz pas mereka putus." Tanya Yuda.


Akbar mengangguk " satu sekolah posesif terhadap Mumtaz, yang putus siapa, yang rese siapa"


" Bagi BIBA Mumtaz itu milik mereka. Bego aja sih orang yang berkonfrontasi sama Mumtaz." Ucap Raja


" Gak bakalan gue lupa peristiwa dia shalat ditengah-tengah dua lawan yang sedang emosi. Kereen sih itu." Tambah Raja


" Saya sepertinya pernah dengar cerita itu, siislia yang cerita." Terang Dominiaz kala para pemuda itu menatap bingung.


" Wajar sih kalau kakak pernah dengar, wong itu jadi viral." Kata Raja


" Gue inget, para preman geng motor yang mengeroyok Mumtaz berakhir ditangan Bara dan gengnya. Gue gak mau bayangin nasib akhir mereka." Yuda menimpali.


" Gue dengar bagi mereka yang punya bisnis, semua bisnisnya hancur. Bagi mereka yang tidak ada bisnis, tidak ada tempat yang mau nerima mereka selain dibawah kekuasaan Atma Madina dan Birawa. Mereka terjebak di sana. Itu pun atas desakan Mumtaz." Tukas Akbar


" Sebenarnya apa kerjaan bang Mumtaz itu? Tanya Raja


"  Dia, dan Ibnu seorang hacker, identitas mereka  sampai sekarang belum diketahui oleh hacker yang lain. Bahkan ada satu perusahaan cyber luar sampai sayembara membayar $ 2 juta untuk membongkar identitas mereka, dan dari tahun ke tahun terus bertambah bayaran itu." Info Yuda. Raja terbelalak mendengar info itu


" Lo kan sering kerja sama dengan mereka, masa Lo gak tahu identitas mereka." Penasaran Raja


Yuda menggeleng " mereka hanya ngasih tugas datanya udah matang atau setengah matang. Gue aja gak tahu kapan mereka beraksi." Jawab Yuda.


" Tapi mereka juga ahli di bidang robot dan segalanya yang berkaitan teknologi."


" Mereka cepat belajar. Mereka kan gaulannya sama Jimmy dan Daniel, duo jenius yang produknya diakui dunia. Pokoknya mereka saling transfer ilmu intinya." 


" Kenapa ngomongin mereka, gue mendadak cosplay jadi semut ya." Monolog Raja


" Lo anak sains dan teknologi kan, Lo pasti tahu tiap harinya  Jimmy dan Daniel ngabisin waktu di lab ketimbang di kelas dengerin teori." Raja mengangguk.


" Apa benar dia sedang menjalin hubungan istimewa dengan Sisilia?" Tanya Dominiaz.


" Bisa jadi, Gak ada yang tahu pasti. Selepas pacaran dengan Bella, Mumtaz tidak lagi aktif mendekati cewek, tapi selain tia hanya Sisilia  perempuan yang diijinkan Mumtaz untuk duduk disampingnya sewaktu di kantin." Ucap Yuda.


" Setiap di kantin Mumtaz akan duduk di bangku pojok menyisakan satu tempat kosong, Tia yang bara-bar akan memilih dekat dengan Dista yang biasanya akan berkonfrontasi dengan cewek lain." Ingatan Yuda melayang ke jaman SMA.


" Mumtaz akan menarik Sisilia untuk duduk disampingnya dan memesan makan buat Lia dan Tia." Sepanjang Yuda bicara Raja menyenggol-nyenggol kaki Yuda agar dia berhenti bicara, tapi Yuda tidak merespon.


" Sampai kuliah kebiasaan itu terus dilakukan. Banyak mahasiswi yang sebenarnya suka dengan Mumtaz, tapi tidak dia hiraukan." Akbar mengkode Yuda untuk berhenti, tapi Yuda tidak paham.


" Mumtaz hanya menaruh perhatian kepada empat wanita ini; Tia, Ita, Cassy, dan Lia. Mumtaz bukan tipikal cowok dingin, tapi dia termasuk cuek dengan hal yang tidak penting. Makanya para mahasiswi sangat penasaran dengan hubungan Mumtaz dengan empat wanita ini."

__ADS_1


Yuda terdiam, matanya membola kala sadar dia membuka rahasia pribadi Mumtaz yang sangat dia benci. Yuda panik, dia mengalihkan pembicaraan


" Ngomong-ngomong kampus, apa anda berkenan melanjutkan tradisi donasi untuk acara Pema? Tanya Yuda.


" Kamu Ketua BEM-nya, ya?" Tanya Dominiaz yangelihat kepanikan yuda, Yuda mengangguk.


" Saya undang kalian ke kediaman Pradapta. Kita bicarakan tentang itu di sana." Tawar Dominiaz.


***


Surga Duniawi


Alih-alih mereka menuju kamar, tempat yang minim pencahayaan memungkinkan mereka berganti dengan pemain cadangan, mereka langsung menuju pintu keluar.


Sesampainya mereka di halaman berumput dekat parkiran, Jimmy tak lama memuntahkan isi perutnya. Bayangan masa lalu dan berhadapan dengan kedua orang tersebut membuatnya mual dan muak tak tertahankan.


Daniel, Ibnu, dan Radit berlari mendekati Jimmy yang membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada dua lututnya dengan wajah pucat pias seperti tidak berdarah, Mumtaz  berdiri di belakangnya dengan memijit-mijit tengkuknya.


Sesudahnya Tubuh Jimmy dihujani keringat dingin, gemetar. Mumtaz memeluknya " kamu hebat, kamu kuat, kamu bisa menghadapinya."


Jimmy terisak parau dalam pelukan  Mumtaz tanpa sadar berucap " tolong jangan raba saya, tolong bebaskan kami, tolong jangan sentuh itu saya. Daniel lari, Daniel pergi." Ngigau Jimmy. Mumtaz mengetatkan pelukannya.


" Sshheeeshh, kamu gak apa-apa, kamu sudah bebas. kamu berhasil menghadapi dia, Kamu kuat Jimmy. Its okay, apa yang sudah terjadi, kamu tetap Jimmy terbaik kami." Bisik Mumtaz di telinga Jimmy.


" Tia, mama, kak Ala, Zayin, Daniel, Bara, dan yang lainnya bangga padamu." Bisik Mumtaz.


" Gue kotor, gue menjijikan. Dia,...dia nyentuh gue. Gue sampah." Jerit Jimmy dalam dekapan Mumtaz yang semakin Mumtaz eratkan.


" Muy, to,...tolong aku." Parau Jimmy.


" Tentu, semuanya telah berakhir." Ucap Mumtaz


Jimmy masih tersedu-sedu dalam dekapan Mumtaz " aku sayang kamu. Kamu keluarga aku, calon imam Tia." Ujar Mumtaz.


Daniel mematung tercengang mendengar lirihan Jimmy, Daniel menggeleng, air matanya jatuh. " Maaf, maafin gue, Fa. Gue gak bermaksud ninggalin lo sendiri,...maafin gue, Alfa." Lirih pilu Daniel dalam tangisannya. Ibnu memeluk Daniel.


" Andai gue gak biarin dia sendiri, andai gue gak lari, Alfa gak akan menderita begini. Maafin gue, Alfa."


" Kalo Lo gak lari, kita gak akan bisa nyelamatin Alfa, Niel. Alfa selamat karena Lo." Ucap Ibnu.


Radit terpaku menatap dua sahabat nya. Dia tidak tahu apa masalahnya, tapi yang dia tahu apapun itu, itu adalah hal besar yang sangat menyakitkan.


Radit mengambil alih Daniel dari Ibnu, memberi pelukan persahabatan.


" Lo dan Alfa baik-baik saja yang tidak baik adalah mereka. Lo sudah melakukan hal yang terbaik untuk Alfa. Kalau lo gak lari Alfa tidak akan selamat. Alfa butuh Lo, Alfa ada karena Lo." Radit menenangkan Daniel.


Rasa bersalah, dan menyesal adalah sumber awal keputusasaan. Dia tidak akan membiarkan sahabatnya merasakan itu lebih dalam lagi.


" Kita bangga sama Lo, Alfa berucap terima kasih sama Lo udah menyelamatkan dirinya. Lo harus memaafkan diri Lo. Gak ada alasan Lo harus menyesal. Apa yang Lo lakuin, karena itu apa yang terbaik harus Lo lakuin." Ucap Radit, Daniel mulai tenang.


Para sahabat yang berdiri melingkari mereka diam tertegun. Beberapa hari ini banyak sekali kejutan yang mereka dapatkan.


Bara diam berdiri seorang diri menyaksikan tangisan sepupu dan sahabatnya. Dia marah, sangat marah. Andai dia sekuat sekarang pada saat itu, mereka berdua tidak akan mengalami sakit bathin berkepanjangan


Ibnu merangkul pundak Bara " jangan mulai membenci diri sendiri, karena Lo gue dan Mumtaz menemukan mereka. Mungkin Lo saat itu belum sekuat sekarang, tapi posisi lo udah diisi Mumtaz."


" Gue belum ada kesempatan bilang sama lo, Mumtaz titip pesan, dia sudah melakukan apa yang ingin Lo kakukan. Anggap aja apa yang dia lakukan, itu Lo yang lakukan. Ini,..."


Ibnu memperlihatkan dua orang terkapar payah dengan wajah babak belur " kalo Lo teliti, gigi palsu tu orang bertambah dua, satu tangan Victor tidak berfungsi baik." Info ibnu


Bara terperangah menatap gambar usang dari ponsel Ibnu. " Mumtaz yang nyuruh gue ambil photo mereka buat ditunjukain ke kalian. Gue pikir sekarang ini waktunya."


Bara menatap Ibnu, Ibnu mengangguk. Bara menatap Mumtaz, Mumtaz yang merasa ditatap mengalihkan perhatiannya ke Bara, dia tersenyum.


 Bara menunduk, kedua tangannya berada dalam saku celana " terima kasih." Ucap Bara menatap Ibnu.


***


Kediaman Mumtaz


Hito duduk disamping Zahra dengan mempermainkan ujung jari-jari tangan Zahra.


" Kak, Lo udah tahu belum kalau Sabtu depan kita bakal ngedate." Ucap Ziva.


Zahra menatap mereka berdua kaget, Hito menatap intens Zahra, dia mengangguk.


" La, gue sama kak Hito mau dijodohin, tapi gue tolak. Gue udah bilang sama papa kalau kak Hito pacar lo. Papa bilang datang aja ke pertwmuan itu untuk menghormati nenek Sri." Jelas Ziva.


" Terima kasih sudah menjelaskan. Rencananya besok saya mau ke rumah kamu untuk meminta maaf, tidak bisa melanjutkan rencana ini." Tutur Hito.


" Bagaimana dengan Sivia?" Tanya Zahra.


" Masih mengekor nenek, karena aku terus-terusan tolak dia mungkin nenek cari kandidat lain."


" Kita ketemuan aja ya, aku ajak Zahra." Usul Ziva.


Hito mengangguk " entar aku ajak teman aku juga."


" Hira ikut juga ya!?" Usul Zahra.


" Ogah. Jadi lilin." Sahut Hira.


" Ikut aja. Aku ajak dua teman aku." Ucap Hito. Yang masih anteng memainkan jari-jari tangan Zahra.


Pembuatan Hito itu menarik perhatian Ziva dan Hira.


" Kak, kakak sebenarnya pengen megang tangan Zahra kan, ya!?" Tanya Hira.


Hito mengangguk " iya, tapi takut. Kalau gak ingat Zahra ahli beberapa bela diri udah aku cium-cium ini tangan, kangen banget soalnya." Aku Hito tak tahu malu sambil menatap Zahra.


" Hahahaha,...resiko suka cewek mental macan." Ledek Hira.


" Uucucucuwiw. Sok cuwit banget cih, jadi tergoda rebut Kak Hito dari Ala." Goda Ziva.


Hito menggeleng " gak akan bisa. Aku udah jatuh sama Ara." Hito masih menatap Zahra, sementara Zahra menunduk


"AAAAAaaaws, jadi baper neng, akang!" Jerit Ziva.


Tiba-tiba Zahra menggigit tangan Hito "aaa,..." Jerit tertahan Hito.


" Dih lebay, pelan doang padahal." Bela Zahra.


Hito menggenggam tangan Zahra " sini aku balik gigit, pelan apanya, lihat ni bekasnya dalam banget." Hito menunjuk bekas gigitan Zahra yang cukup dalam.


" Dih, modus padahal cuma pengen megang." Hira menunjuk tangan Zahra yang berada dalam genggaman Hito.


"HAHAHAhaha,...." Tawa mereka serempak


***


Surga Duniawi.


Mereka berada dalam mobil yang diparkir beberapa meter dari kawasan target, menunggu Jimmy tenang.


Seusai Jimmy tenang, Ibnu berucap " Jim, kira-kira apa yang membuat Lo sedikit bisa membaik?"


" Kalau gue bisa ledakan satu atau dua bagian dari tempat itu. Tegas Jimmy.


" Permintaan Lo terkabulkan." Mumtaz memberi sebuah benda yang ternyata remote dari peledak itu.


" Lo tekan acak aja." Ucap santai Mumtaz.


Jimmy memandang Mumtaz, dan semua temannya, mereka mengangguk


Jimmy menekan angka 10 dan 13, maka


BOOOOMMM


JEDUAAR!!!!


ledakan besar dengan api menggunung disertai asap pekat terlihat dari kawasan Surga Duniawi


Para sohib terlonjak kaget melihat apa yang terjadi. Mereka bergidik ngeri.


Tak lama terdengar teriak dan orang berhamburan takut akan ledakan itu.


Mobil Van itu bergerak meninggalkan lokasi


" Bagaimana perasaan Lo." Tanya Rizal.


" Better ." Ucap Jimmy.

__ADS_1


" Nu," kata Mumtaz 


" Clear. Mereka berulah, kita habisi." Ucap tenang Ibnu.


__ADS_2