
warning (18+)
" Sekilas berita hari ini, restauran gonza, restauran khusus masakan Italia hari ini resmi disegel pihak kepolisian karena kasus penyalahgunaan narkoba, bahwa restoran ini menjadikan narkoba berjenis ganja sebagai salah satu bahan masakannya, beberapa pengunjung langsung diperiksa untuk mendukung laporan ini, berikut daftar makan yang dicampur ganja." Stasiun Surya tv tengah menyiarkan berita yang menampilkan dokumen berisi daftar masakan campuran ganja yang mereka dapatkan dari Gata tv.
Kehebohan berita itu meluas ke seantero Nusantara beberapa cabang restauran Gonza yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia terpaksa ditutup atas demo warga.
Akibat berita ini nama Gonza restaurant sebagai salah satu restaurant penyaji masakan Italian untuk kalangan atas tercoreng namanya.
Eric memejamkan mata, ia berfikir keras darimana media mendapat data-data restaurantnya, pasti ada yang berkhianat padanya.
" Eric,... Bagiamana ini bisa terjadi?" Guadalupe memasuki ruangan Eric tergesa-gesa.
" Mama, diamlah. Biarkan aku berfikir."
" Eric, kau tidak bisa hanya bersantai-santai saja di sini sementara bisnis restoranmu diambang kebangkrutan."
" MAMA, DIAMLAH! Suaramu menggangguku!" Hardik Eric, muak akan kelakuan ibunya yang bertindak semaunya sendiri selama tinggal di Indonesia.
Iris mata Eric berfokus pada Guadalupe kala menyadari sesuatu," apa?" Tanya Guadalupe tidak menyukai tatapan menuduh dari manik mata Eric.
" Ini karena ulahmu."
" Apa yang kau bicarakan? Bagaimana bisa kau menuduhku?"
" Tentu saja aku bisa Mama, ini akibat kau mengganggu keluarga Hartadraja."
" Berhenti menuduhku, itu semua ide jalangmu! Dia menghasut ku untuk menculik dan memperkosa Cassandra Hartadraja."
" Dan kau, sang nyonya Gurman mengikuti hasutan recehnya? Yang benar saja, Mama!" Eric tidak mempercayai ucapan Mama-nya.
" Kau tidak mempercayai Mama mu?"
" Bagaimana aku percaya omongan kosongmu? Dia, jalangku, tidak punya otak untuk berfikir. Setelah dia mengecewakanku, aku menyumbat otaknya dengan berbagai drug, bahkan dia tidak tahu mana kanan-mana kiri, Mam."
Tok..tok...
" Masuk."
Asisten Eric memasuki ruangan dengan membawa amplop panjang coklat.
" Tuan, ada seseorang mengirim anda ini."
" Dari siapa?"
" Tidak ada identitas pengirimnya, tuan."
Eric membuka amplop tersebut, berisi foto-foto polaroid kebersamaan Tamara dengan Bara, dan sebuah flashdisk.
" Pasangkan." Titahnya pada asistennya.
Setelahnya dilaptopnya terpampang adegan ranjang Tamara dengan seseorang bertanggal yang berbeda dan dilakukan setiap hari selama tujuh hari.
" Damn it!" Umpatnya.
Sewaktu hendak menelpon Tamara ponselnya berbunyi dengan id caller Navarro.
Eric menggeram kesal, tapi dia tidak punya pilihan selain menjawabnya."
" Hallo."
" Kenapa kau bisa bertindak bodoh dengan bocornya data-data restoranmu, Gonzalez." Bentak Navarro.
" Jangan pernah membentakku tuan Navarro." Geramnya.
" Atau apa? Menghancurkan ku? Jangan menguji kesabaran ku."
" Tuan Navarro, kau tahu sendiri ini juga merupakan kerugian besar untukku."
" Maka segera beresi persoalan ini, kita tidak punya waktu lagi. Aku akan mengirim putriku ke Indonesia untuk membantumu, kau berhutang Budi padaku." Alfred menutup sambungan telponnya.
" Dari siapa?"
" Navarro."
" Eric, daripada kau menuduhku, apakah kau tidak curiga pada Tamara? Dia mungkin tidak pintar, tetapi jelas dia licik. Bahkan dia berani tidur dengan lelaki lain sementara hidup menumpang dengan mu." Hasut Guadalupe, dia sungguh kesal pada pelacur cilik itu.
" Mama,..."
" Eric, pikirkan ini, dia bisa bebas bolak-balik ke ruanganmu, memangnya kau tahu apa saja yang dia lakukan di ruangan ini selain membuka selangkangannya untukmu?"
Eric terdiam, sungguh dia tak bisa menerka siapa pengkhianat di perusahaannya.
*****
Senyum Tamara merekah kala melihat kekasih hatinya, ia sudah seminggu ini berkencan dengan Bara, Tamara terkikik saat mengingat dia yang memaksa berkencan, namun saat Bara tidak menolaknya ia sangat senang, kencan panas yang mereka lakukan di setiap penghujung hari bergulat di atas kasur apartemen Bara.
" Bara,..." Tanpa menghiraukan kehadiran Cassandra yang notabene pacar Bara yang duduk di sebelah kirinya, Tamara bergelayut manja memeluk tangan Bara menempelkan dadanya, ia duduk disamping kanan Bara lalu menempatkan tangan Bara di tengah antar kedua pahanya yang berbalut rok mini yang sengaja direnggangkan sejajar pinggang.
Raja melihatnya sambil tercengang," tahan air liur Loz, jatoh noh." Juan menengadahkan tangannya di bawah dagu Raja.
Rio lebih parah air minumnya kembali termuntahkan bagai air mancur karena gerakan seductif Tamara.
" Sial menang banyak si Bara." Umpatnya, Tamara hanya terkikik saja.
" Jangan begini, Tam. Gak nyaman." Alibi Bara mencoba melepas pegangan Tamara, tetapi Tamara malah lebih mengeratkan pegangannya, ia mengapit tangan Bara dengan pahanya.
" Bagaimana kalau di apart kamu? Kayak kemarin." Ucapnya ditelinga Bara, tapi bersuara yang masih didengar oleh orang sekitarnya.
Cassandra meremas tangan-nya yang berada dalam genggaman Bara, ibu jari Bara mengelus punggung tangannya, andai dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Bara dipastikan dia pasti ngambek parah.
" Eh Tante, Lo gak malu geleyotan kayak monyet sama pacar orang? Mana pacarnya di sini." Omel Tia.
" Siapa? Orang gempal itu?" Tamara melirik Cassandra dengan tatapan meremehkan, anggap aja maskot kampus. Orang Bara -nya udah gak mau, buktinya dia gak nolak gue cumbu Kemarin-kemarin." Tutur Tamara sambil mengibaskan rambut panjang indahnya
Wajah Cassandra memerah, Kuku Cassandra sudah musik kulit Bara, sebenarnya Bara ingin meringis namun dia tahan.
" Seriusly?" Dista menatap Bara tajam.
" Tamara, Lo ngerti apa yang dimaksud rahasia kan? Kita udah sepakati itu." Bara sungguh marah pada Tamara.
Tamara mengerucutkan bibir tipis nan sexy-nya," maaf, tapi aku gak terima dengan ucapan mereka seakan-akan aku pelakor."
" Emang Lo pelakor atau simpanan, , be.go, ." Umpat Dista tidak bisa menahan rasa .
" Gue udah eneg lihat tampang Lo jalan sama Abang gue yang ganteng tapi Oon."
Bara menghela nafas jengkel, ia memutar bola matanya malas. " Memalukan!" Umpatnya.
" Bara kok kamu diem aja kita dihina loh ini." UcapTamara melirik Bara yang masih santai ditempat.
" Gue udah bilang kan hidup Lo gak bakal tenang kalau hubungan sama gue, Lo harus terima resikonya." Bara santai tak mau ambil pusing.
" WOY, ini ada apaan dah?" Alfaska dan Daniel mendatangi meja Bara dan geng-nya.
" Ini si pela.cur ngerusak acar makan kita." Tanpa tendeng alih menyiram Tamara dengan es jeruknya.
Tamara memekik marah, wajahnya basah," aaaakhh."
" Bara..." Rengek Tamara manja.
Cassandra menutup wajah di bahu Bara menahan tawanya, Bara mengeratkan genggamannya ditangan Cassandra.
" Mau-maunya kamu jalan bareng orang gak tahu malu, Kak." Seloroh Cassandra.
" Hustt.." Bara menyentil pelan mulut Cassandra yang ditafsirkan Tamara sebagai pembelaan atas dirinya, makanya dia tersenyum jumawa.
" Cass, mending Lo pergi. Gue mau ajak Bara gue!" Tamara menarik tangan Bara untuk berdiri.
" Lo, kenapa sih Kak, punya sepupu selingkuh didiemin aja, sama cabe busuk murahan lagi!" Omel Dista.
" Ya emang kenapa? bagus itu, ada yang nampung Bara kalau Bara miskin." Sergah Alfaska setelah menyeruput juice jambu Tia.
" Apa maksud Lo? Hati-hati kalau ngebacot, Mana mungkin tuan muda Atma Madina bangkrut." Hardik Tamara.
" Dih, gak update. Dia dipecat dari perusahaan Atma Madina. Gue sekarang yang megang jabatan CEO." Terang Alfaska.
Tamara menatap Bara menyelidik," itu beneran, Yang?"
Bara mengangguk," kan kemarin gue udah bilang kalau gue bukan Bara yang dulu yang bisa belanjain Lo segalanya."
" Aku pikir kamu lagi ngeprank aku." Tamara melepas tangan Bara.
" Ngeprank apaan, Lo gak lihat kalau gue belakangan ini aktif kuliah."
" Iya sih, tapi aku pikir itu karena mau UAS."
" Terus kalau udah begini lo gak aku lagi sama gue?"
Pandangan mereka saling tertuju untuk beberapa lama," ekhem...ekhem..." Ada beleknya ga tuh di mata." Interupsi Cassandra panas.
" Gak, aku masih tetap mau sama kamu." Tamara kembali mengambil duduk disamping kanan Bara, menggenggam tangan Bara," kita berjuang bersama, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mencintaimu." Ujarnya tulus, dan Bara bisa melihat itu di manik mata Tamara.
Untuk berapa saat Bara tersesat dipancaran ketulusan Tamara sampai ia merasakan Cassandra menarik tangannya dalam genggaman Bara secara perlahan.
" Aku pergi!" Bisik Cassandra sedih, ia ragu Bara akan bertahan dari sandiwara ini, dan itu cukup meresahkan hatinya.
Tangannya mengepal erat, Bara hanya bisa menatap kepergian Cassandra yang diikuti para sahabatnya, dia tidak peduli pada tatapan galak yang diluncurkan Dista maupun Tia.
Dari ujung matanya, Tamara dapat melihat Akbar berjalan menuju arah meja ini, Tamara langsung belingsatan.
" Lo, kenapa?" Bara bingung melihat tingkah Tamara seperti menahan buang air.
" Gak apa-apa, kamu masih mau di sini atau atau ikut aku pulang?" Tanyanya berdiri sambil merapihkan penampilannya.
" Di sini aja."
" Oh, okey. Kalau begitu aku pulang dulu. !" Tamara mengecup kening Bara yang disambut mimik bosan oleh Bara sebelum melangkah pergi.
Tak lama Tamara pergi, Akbar mengambil duduk di salah satu kursi yang kosong, Bara tersenyum smirk kala menyadari tingkah Tamara.
" Kenapa Lo?" Tanya Akbar menyeruput es teh Adgar ia m ngambil duduk di tempat Tamara.
"Tadi Lo gak lihat si Tamara di sini?" Akbar menggeleng.
" Gue yakin dia pergi setelah lihat Lo, apa Nenek Lo masih menjodohkan Lo sama dia?" Akbar mengangguk.
" Dia mikirnya gue yang jadi CEO pengganti om Hito, karena Nebuy udah sesumbar sama dia."
" Gue yakin sih si Tamara mau mancing kalian berdua." Seru Rio.
__ADS_1
" Heeh, skenarionya duit dari Akbar buat hidupi Lo, Bar." Timpal Radit.
" Gila berasa gigolo gue." Umpat Bara.
" Emang ada tampang sih." Celetuk Alfaska yang dilempari kerupukn dari ketoprak Cassandra.
Bara mengerang saat mengingat Cassandra, ia beranjak," mau kemana Lo? Kapan kita lanjutin obrolan ambil alih Gonza restaurant? Akbar mencegah Bara pergi.
" Itu tergantung Mumtaz, gue mah cuma disuruh dia doang. Lo ada lihat Cassy?"
" Ada, kayaknya dia lagi nangis di toilet gedung ekonomi. Tadi gue lihat dia masuk ke gedung itu."
" Thanx, bro. Guys, gue cabut. Bidadari nangis."
" Gue yakin dia lagi termehek-mehek,, mana si Tamara ngomong soal apartemen lagi." Imbuh Radit.
Bara berdecak," si Andi yang enak gue yang sial!" Bara berlari diiringi tawa puas untuk Bara.
" Pergi." Titah Bara pada para sahabat Cassandra, begitu menutup saluran telpon Tia. Begitu sampai di toilet
" Lo jangan macem-macem, Bang. Ini kampus." Dista memperingati.
" Iya, tenang."
" Lagian kenapa Lo gak tinggalin dia sih kalau memang kakak mau sama si Tamara." Omel Tia.
" Para bocil diam, kalian gak tahu apa-apa."
" Makanya kasih tahu, Cassy tiap hari nangis ngelihat kelakuan kakak seminggu ini." Lanjut Sisilia.
" Ngomong aja sama pacar kamu, suruh dia cepat lakukan tugasnya. Udah kalian pergi sana. Cassy pulang bareng Kakak."
Mau tidak mau para sahabatnya itu meninggalkan Cassandra dengan Bara.
Sepuluh menit yang dibutuhkan Cassandra untuk menenangkan diri, ia terkaget begitu melihat Bara yang menunggunya.
" Udah?" Bara menatapnya lembut.
" Kamu beneran tidur sama dia?" Cassandra mencuci tangan di wastafel.
" Kita lanjut obrolin ini di mobil oke?" Bara mengambil tangannya lalu menggenggamnya sepanjang menuju area parkiran mobil.
" Gimana, apa benar kamu tidur bareng dia?" Tanya Cassandra begitu Bara menutup pintu bagian penumpang.
Bara menutup tirai penghubung antar sopir dan kursi penumpang agar mendapat privasi.
". Kamu masih nanya begitu padahal tiap malam aku selalu pulang ke kamu. Buat hapusin apa yang dilakukan dia ke aku dengan sentuhan kamu." Bara menatap tegas.
" Ta...tapi dia meyakinkan sekali ngomongnya."
" Sayang, jam berapa aku ke tempat kamu?"
" Sebelas malam."
" Itu setiap diakhir aku jalan sama dia. Kalau aku mau \*\*\*-\*\*\* sama dia itu paling banter sampai subuh, sayang."
" Jadi..." Cicitnya mulai ragu atas kesimpulan dia sendiri.
" Tapi Tamara bilang..."
Bara langsung menarik tengkuk Cassandra, awalnya hanya kecu.pan namun obat lain berubah menjadi lum.atan--\*\*\*\*\*.an dalam dan menggebu.
" Mhmmh, enghh." Cassandra balas menarik tengkuk Bara memperdalam perpaduan kulit keny.al mereka, mereka saling menguasai, Bara menarik Cassandra ke atas pang.kuannya menghadapkan Cassandra pada dirinya tanpa melepas pagutannya.
Ia mengelus punggung Cassandra dengan intens," kenapa pakai celana sih, mhmm. Mhmm!" Protesnya kesal disela cium.an itu.
Bara lebih menarik tubuh Cassandra agar lebih mendesak pada tubuhnya hingga bisa dirasakan olehnya dada lembut Casandra mengadu dengan tubuh bidangnya, Bara lebih mempererat pelukannya, Hingga ia dapat melihat daging lembut menyembul dari balik kemeja Cassandra.
Tak dapat menahan lagi, ia meraupnya daging itu begitu pas di kepalan tangannya.
" Aaahmm, kakh." Cassandra mengigit bibir bawahnya menahan suara yang berlomba untuk keluar karena nikmat atas ulah tangan Bara yang memutar-mutari benda sensitifnya.
" Auh shh, Kak. Hentikanh, nanti terdengar oleh yang lain."
" Mhmm, tidak akan. Ini kedap suara." bisiknya dengan suara berat yang terendam oleh bela.han Bagian sensitif nan padat Cassandra.
Bara sedikit meng.hisap kulit mulus itu," Cassy, aku mau lebih, aahh." Kini kedua tangannya yang aktif memu.tari benda lembut nan sintal itu.
" Aakhh, kak." Cassandra memainkan rambut Bara, dia hanya menerima keni.kmatan ini.
Bara menyudahi aksinya dengan nafas terengah-engah, ia kembali pada bibir Cassandra. \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* habis-habisan benda kenyal itu sampai Cassandra kewalahan.
" Hah..hah!" Bara mengusap bibir basah itu dengan ibu jarinya.
" Selalu manis." Bisiknya sambil meng.ecupnya beberapa kali.
" Gimana?"
" Apa?" Cassandra susah untuk berfikir ditengah kabut Kenikmatan.
" Aku baru nyium kamu doang loh, berapa lama itu?."
"....."
" Jadi gak mungkin cuma sampai dibawah jam sebelas kalau aku tidur sama Tamara. Paham?" Cassandra mengangguk pasrah.
Ia masih duduk dipangkuan Bara, mengusap wajah Bara," maaf, pasti kamu terbebani kerena perasaan aku."
" Cass, kita harus lakukan ini untuk keselamatan kamu." Ujar Bara masih mengelus punggung Cassandra.
" Iya, aku tahu. Tapi tetap aja sakit melihat interaksi kalian."
__ADS_1
" Aku bisa apa kalau kamu sendiri gak bisa mengendalikan perasaan kamu." Bara merasa lelah karena sifat cemburu Cassandra.
" Maaf."
" Percaya sama aku."
" Hmm." Bisiknya sebelum Bara kembali menyatukan bibir mereka dalam kecapan nikmat.
\*\*\*\*\*
Hito mengejar Zahra yang berlalu begitu cepat selepas memeriksa Dewi, ia berlari masuk lift yang pintunya hampir tertutup.
Hito membalik tubuhnya menghadap Zahra yang terjebak diantara Hito dan dinding lift.
" Dimana kamu tinggal?"
" Di rumah lah."
" Jangan bohong, setiap hari aku ke rumah kamu, tapi kamu tidak ada."
" Untuk apa?"
Hito menatap Zahra intens.
" Ara, aku minta maaf atas perkataan ku tempo hari."
" Aku sudah melupakannya, bisakah kita bertindak layaknya bos dan pegawai? Seperti di orang asing?" Sarksanya, Hito memejamkan kedua matanya.
Ia mengukung Zahra, kedua tangannya berada di samping kiri dan kanan Zahra, mengecup kening Zahra dalam.
Iris matanya menatap Zahra, yang ditatap salah tingkah karena begitu dekat jarak wajah mereka." Aku sudah mendapat hukuman atas perkataan *childish* aku, ini sulit bagiku." Ucapnya pelan penuh penyesalan.
" Hito, jangan begini. Ini yang terbaik buat kita, selama ini tanpa kita sadari kita saling menyakiti satu sama lain."
Hito menggeleng cepat dan tegas," enggak kita, cuma aku. Ra, kembali padaku? Di sini sakit." Tunjuknya ke dadanya, dapat Zahra lihat permohonan di manik Hito.
Zahra menunduk, menggeleng pelan." Maaf, aku gak bisa. Aku...aku gak bisa..." Lirihnya pecah, ia menangis.
Hito memegangi rahang Zahra, menyatukan kening mereka," kembali *please*...kamu milik aku, aku janji memperlakukan kamu lebih baik."
Mereka saling pandang," mari kita menikah! Izinkan aku menunjukan cinta aku ke kamu."
Zahra tergugu, ia ingin menerima, namun rasa sakit yang kemarin masih ada. Perlahan Zahra melepas pegangan tangan Hito di wajahnya.
" Aku mencintaimu, tapi sepertinya itu tidak cukup untuk kita. Kita sudahi saja ya!?"
Ting!!!
Zahra langsung berlari begitu pintu lift terbuka, Hito hanya bisa terdiam bahunya lurih merasa kalah, hatinya begitu sakit, sangat sakit."
Zahra melepas lelahnya, ia melepas Sling bag-nya begitu saja ke atas sofa, lalu menjatuhkan diri di sofa panjang.
" Apa aku harus mengundurkan diri saja dari rumah sakit? Suasana ini gak nyaman untuk aku." Gumamnya.
Zahra beranjak menuju kamarnya, ia langsung membuka laptop, membuat surat pengunduran diri.
****
" Lo kenapa, Muy?" Tanya Ibnu melihat Mumtaz tersenyum sambil mengamati ruang kerja Eric, melempar beberapa dokumen yang berisi tentang Gonza restaurant dan G&N restaurant ke atas meja kerja Mumtaz.
" Gak ada apa-apa."
Ibnu menatap Mumtaz lama," kenapa Lo begitu terobsesi dengan mereka, pertama Aloya, sekarang Gonzalez!?"
" Siapa bilang? Biasa aja gue mah."
" Muy, beneran Lo gak mau bagi-bagi gue?"
" Nu, ribuan kali gue udah bilang apa yang gue lakuin ada semua di dokumen yang gue kasih ke laptop lo, Lo tinggal buka file-nya aja."
" Gue juga udah selesai itu buka file kalau Lo ga ganti sandi tiap sepuluh menit sekali, setiap gue Meleng, itu sandi berubah, gue oleng dikit, berubah, gue melengos bentar berubah. Sadis Lo." dumel Ibnu kesal.
" Usahalah, percuma jadi petinggi RaHasiYa kalau segitu aja K.O."
Ibnu meringis memegang dadanya secara dramatis," serasa gak ada harga dirinya gue."
Mumtaz terkekeh geli, karena ke-alay-an sohibnya.
Kini Ibnu memandang Mumtaz dengan serius.
" Muy, Lo berhadapan dengan orang berbahaya, Lo udah menyentuh pemerintahan, mereka bisa menghancurkan kita."
Mumtaz mengangguk, " Tidak, sebelum kita yang menghancurkan mereka." Saat mengucapkan itu roman muka Mumtaz sangat dingin.
Ibnu menghela nafas kasar," kapan ini akan berakhir?"
Mumtaz menatap Ibnu intens," saat Lo bisa akhiri masa berkabung Lo."
Seketika tubuh Ibnu menegang, ia tahu apa maksud perkataan Mumtaz," itu impossible."
Mumtaz menggeleng," tidak ada yang mustahil, gue akan membuktikannya."
" Bonyok gue gak akan hidup lagi, pelakunya sudah dihukum. Semuanya selesai."
" Yakini aja apa yang tidak Lo percayai."
" Muy, mereka sekarang orang-orang berkuasa, tak tersentuh. Yang ada Lo yang terbakar."
" Selama Pancasila masih menjadi ideologi bangsa, UUD '45 masih menjadi konsitusi kita. Itu akan terjadi."
Ibnu sungguh frustasi menghadapi sohib satunya ini," Muy, mereka akan membunuh Lo "
" Mereka bahkan belum mendekati gue, tapi gue sudah menjadi bayangan mereka "
Ibnu menatap Mumtaz tegang," hentikan."
" Tidak, setelah sedekat ini."
" MUHAMMAD MUMTAZUL YUSUF." Bentak Ibnu.
Mumtaz bergeming dengan tatapan datarnya, dia mengutak-atik laptopnya.
Terpampang seorang wanita bule Eropa muda berambut hitam, cantik, dengan tubuh tinggi langsing, turun dari pesawat pribadi di Halim perdana kusuma.
" Lo jangan gegabah masuk ke area AURI." Ibnu memperingati Mumtaz.
" Lo tahu siapa gue."
" Siapa dia."
" Tumbal menuju kesuksesan gue."
Di layar terpampang, wanita itu memasuki mobil sedan hitam elegan Rolls-Royce, begitu wanita itu duduk, dia langsung dibekap oleh lelaki yang duduk di kursi penumpang samping sopir lalu pingsan.
Kedua mata Ibnu membeliak, ia menatap Mumtaz ngeri karena ekspresi Mumtaz yang dingin, namun tersenyum devil.
" Mumtaz." Lirih Ibnu takut.
Mumtaz menatap Ibnu," gue sudah tidak bisa mundur, setelah mengorbankan nyokap DNA banyak hal, hanya maju pilihan gue."
Ibnu ambruk, dia berlutut, memohon pada Mumtaz," gue mohon berhenti, gu minta maaf." Dia mulai terisak.
Mumtaz menatapnya sinis, ia beranjak berdiri di hadapan Ibnu," daripada Lo membuang waktu untuk menangis, lebih baik Lo buka dokumen yang sudah gue kasih sebelum waktunya terlambat."
Saat Mumtaz hendak melangkah, Ibnu memgangi satu kaki Mumtaz layaknya anak kecil," gue mohon berhenti sampai sini, gue yang nuntasin." janji Ibnu.
" Gue tunggu di garis finish." Mumtaz terus melangkah keluar ruangan kerjanya, menghiraukan teriakan Ibnu yang menyuruhnya berhenti...
**see you next part.
__ADS_1
makasih bagi readers yang masih baca cerita ini. kasih like n komen positifnya ya**....