
Sivia menatap nanar instastory dari Hito, dia tahu kisahnya dengan Hito sudah lama tamat, tetapi melihat sikap manis Hito pada Zahra yang tidak pernah dia rasakan memberikan efek nyeri disudut hatinya.
Brak!!
Sivia menonaktifkan ponselnya, ia menoleh dan melihat Guadalupe masuk ruangan, bola matanya memutar malas kala terlihat Tamara berlenggok dibelakang Guadalupe sambil memberi senyum miring culas padanya.
" Ini belum 30 menit berganti tahun, dan kalian ada di rumah. Wow, pasti pasar kalian anjlok ke lantai paling dasar." Telaknya sengit.
" Di media sosial sekarang lagi rame pertunangan Hito, dan Lo menyendiri di sini? Poor you are." Cibir Tamara.
" Sivia, apa nenek bisa minta bantuanmu?"
Suara lembut yang jarang Guadalupe berikan padanya membuat bulu kuduknya merinding.
" A..apa?" Sivia begitu gugup dengan senyuman yang Guadalupe berikan.
" Besok, kamu ajak nyonya Sri untuk berbelanja. Kamu bisa mengambil hatinya agar mempertahankan kamu dengan Hito."
Sesaat Sivia mencerna omongan Guadalupe," itu tidak mungkin, nek. Demi Zahra Hito membuang nama Hartadraja dibelakang namanya."
Guadalupe terdiam, " baiklah, kamu ajak saja nyonya Sri keluar."
" Mereka tidak akan membiarkan kami jalan hanya berdua."
" Kenapa?"
" Karena aku seorang Gonzalez."
" Kamu cari alasannya Sivia, kau tidak sebodoh itukan!?" Bentak Guadalupe habis kesabarannya.
Sivia terlonjak," apa yang sedang kau rencanakan? Berhentilah bertindak bodoh. Mereka sudah memperingatkan mu, nek."
Sivia sungguh gusar dengan tingkah neneknya.
" Diam, Sivia." Guadalupe menatap sinis Sivia.
" Apapun yang sedang kau rencanakan hanya akan lebih membahayakan kita, aku tidak tertarik terlibat didalamnya." Tolak Sivia.
" Sivia, jadilah cucu yang berguna untuk nenek."
" Tidak tertarik, tidak rugi bagiku dibuang olehmu."
Guadalupe menggeram, " kau harus ikuti perintah nenek, ini demi papamu."
" Tidak mau."
" Gue tidak berkeberatan memberitahu Eric kalau Lo masih berhubungan dengan Harry." Sahut Tamara.
Sivia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras," katakan saja, gue yakin Papa sudah mengetahuinya." Ucapnya mencoba santai.
Mata Tamara membola, ia tidak percaya ancamannya tidak mempan lagi. Ia melirik Guadalupe yang mendengkus marah.
Tanpa kata Guadalupe mendekati Sivia lalu menjam.bak rambutnya sambil menarik tubuh Sivia hingga ia terjatuh dan terantuk ujung runcing meja."
" Aduh...aaakh... tolong.." pekiknya histeris.
" TOLOONGGG..."
Raul yang baru masuk rumah terkejut adanya teriakan lantas berlari ke arah suara.
Ia membuka pintu dengan kasar, matanya membulat besar saat melihat Sivia diseret oleh dua perempuan beda generasi.
" APA-APAAN KALIAN INi." Mengambil langkah besar Raul melepaskan cengkeraman Kedua wanita itu dari tubuh Sivia.
Ia menghempaskan tubuh Tamara hingga terbentur lemari jati berkaca.
Prang!!!
Kaca itu pecah akibat hantaman keras dari beban berat. Tamara terjatuh didepannya sambil meringis, beberapa serpihan kaca tertancap di bagian wajah dan lengannya.
Raul begitu marah, tanpa sadar mendorong tubuh Guadalupe hingga terbentur lengan sofa yang terbuat dari kayu jati.
" Kau, berani sekali melukai adikku." Hardiknya pada mereka berdua.
Guadalupe terperanjat tidak percaya sikap kasar cucunya.
Raul menggendong Sivia ala bridal meninggalkan ruangan menuju kamarnya mengabaikan luka menganga di pelipis Guadalupe
*****
******* dua orang beda jenis kelamin dalam mobil Mercedes-Benz hitam yang melaju menuju hotel usai meninggalkan pesta saling bersahutan.
" Yeah,... *****..I wanna cume." Eric menikmati layanan wanita muda berusia pertengahan 20-an yang sedang menghisap ala permen lollipop dibawahnya
" Ah,..****..comes deep..." Desah Eric, tangannya meremas dua benda kenyal rasa silikon yang mendapat cemoohan dalam hati Eric.
Mereka berjalan melewati lobby dengan pakaian yang sudah tidak beraturan dan tubuh saling melekat membuat para pengunjung risih.
Begitu pintu hotel tertutup Eric langsung melepas semua pakaian yang melekat ditubuhnya dan merobek semua pakaian dua wanita yang sudah menunggunya lalu langsung making out meski mereka masih diruang tamu dengan Eric yang bersandar pasrah menikmati buaian para wanitanya
Setelahnya Ia mencampurkan obat perangsang pada seteko air bening yang tersedia di atas meja lalu memberikannya pada para wanitanya.
" Malam ini akan menjadi malam menakjubkan sebelum besok bertemu denganmu Belinda-ku." gumamnya.
****
Pukul 03,45 WIB sementara kebanyakan orang masih terlelap, Guadalupe dan Tamara sudah matang dengan rencana mereka.
" Kamu pergi bersama mereka agar mereka tahu dimana keluarga Hartadraja kini berkumpul."
Meski kepalanya dan sebagian tubuhnya masih terasa nyeri akibat pecahan kaca, Tamara tidak punya kuasa untuk menolak perintah Guadalupe.
****
Pukul 06.00 WIB. Hito sudah duduk ganteng diruang tamu rumah Zahira.
" Ngapain subuh-subuh kesini?" Zahira tidak habis pikir pada Hito yang bertamu dipagi buta
" Mau nganter calon istri kerja, dan itu bukan kamu." Telaknya.
" Mengapa saya merasa bersyukur ya mendengarnya." Sarkas Zahira.
" Sepertinya ada yang ingin pensiun dini."
" Ara, kak Hito mau mecat gue." Adu Zahira begitu melihat Zahra masuk ke ruang tamu sembari membawa secangkir teh hangat.
" Benaran?"
" Jangan percaya dia, kamu hanya cukup percaya sama aku."
Hito menarik Zahra agar duduk disampingnya.
" selamat pagi, calon istri." Ucapnya lembut.
" Ya Allah, keluarkan aku dari dunia alay ala ABG ini." Ucap dramatis Zahra..
" Ck, ini normal ya, kamu aja yang terlalu sinis memandang dunia." tuding Hito.
" Dih, lupa ingatan dia, siapa yang tiga Minggu ini selalu mengeluh tuhan itu tidak adil hanya diabaikan sama mantannya." Zahira mengingatkan Hito akan frustasinya akibat selalu diabaikan Zahra karena kesalahan lisannya.
" Dih, siapa yang mantan?"
" Kalian, kemarin sempat putus kan?"
" Enggak, cuma berantem."
" Apa kalian tidak bisa akur?"
" Aku hanya mau akur sama kamu." jawab cepat Hito.
" Ini sarapan buat kita semua, taruh di piring." Zahira menerima dua bungkus papperbag berlogo restoran bintang lima.
" Begitu dong, sering-sering aja Ra bikin kak Hito norak gini."
Zahira melenggang masuk rumah disertai decakan dari Hito.
Zahra hanya tertawa pelan saja, " kamu gak pulang?"
" Enggak, baju aku di sini banyak."
Zahra mengernyit bertanya.
" Jangan salah paham, kesibukan kemarin membuat aku sering nginep di sini."
" Ra, aku kangen kamu."
" Jangan alay." decak Zahra jengah.
Dua orang saling melempar candaan sambil melangkah ke dalam lobby rumah sakit tanpa menyadari tatapan para staf dan pengunjung
" Aku baru tahu kamu orangnya gelian."
" Aku baru tahu kamu orangnya jahil bin nyebelin." Dengkus Zahra.
Tadi sewaktu di mobil tanpa sengaja Hito menusuk ringan pinggang Zahra dengan telunjuknya berniat mengisenginya yang mendapat respon pekikan geli dari Zahra.
Dan itu terus berlanjut, Hito mendapat mainan baru.
" Stop, om. Geli."
" Apa kamu bilang, om? Usia kita cuma beda tujuh tahun." Hito semakin gencar menyerang pinggang Zahra yang terus dihalau Zahra dengan memegangi tangan Hito.
" Itu cukup tua untuk tingkah kekanakan kammu."
" Ini bukan kekanakan Ara, tapi kesenangan."
Zahra mendengkus, ia masih sibuk menghalau tangan Hito yang terus menargetkan pinggangnya.
" Hahaha, berhenti. Sumpah ini tuh geli banget."
" Panggil aku sayang baru aku berhenti."
" Idih enggak banget."
" Cepat panggil sayang." Tiba-tiba Hito menjepit kepala Zahra diketiaknya.
" Aduh, kak lepas. Sakit."
" Bilang dulu sayang."
" Males ih."
Hito masih belum membebaskan kepala Zahra meski mereka sudah berdiri di depan lift.
" Mesti gitu umbar kemesraan kalian?" Sarkas Zivara sebal.
" Ditonton orang tuh."
Orang-orang yang semula menaruh perhatian penuh pada mereka membubarkan diri dibawah tatapan mengintimidasi Hito.
Hito melepas Zahra, Zahra memperbaiki posisi berdirinya.
Zahra mengangkat tangannya yang terdapat cincin berlian seakan ingin memperbaiki hijabnya, tetapi posisi cincin tepat di hadapan wajah Zivara." Duh, sepertinya ada yang lagi panas."
Hito terkekeh geli melihat kelakuan Zahra.
Takk!!
Zivara menjitak kepala Zahra," kalau mau pamer langsung aja, jangan pura-pura begitu."
Berpura-pura kaget Zahra menutup mulutnya yang terbuka
__ADS_1
" Eh, kelihatan ya. Aduh gue sengaja banget ya."
Zivara mencebik.
" Ziv, cewek tu dikejar, biarkan dia mendekat, bukan ngejar."
" Gue diam, gue ditinggal kawin juga."
" Cari cowok yang lain."
Puk!!
Dari belakang Farhan memukul pelan kepala Zahra.
" Jangan nodai isi kepala calon kekasihku." Farhan menarik lembut Zivara.
" Hari gini masih calon pacar, gue dong calon istri." Celetuk Hito menyombong.
Farhan melirik sinis Hito yang tersenyum miring menyebalkan padanya.
Ting!!!
Mereka berempat memasuki lift khusus petinggi rumah sakit.
Meninggalkan para staf yang membicarakan mereka.
" Gue lihat prof. Zahra DNA Hito diselubungi Cakra aura pink pake love berterbangan gitu."
" Romantis banget, padahal cuma gelitikan doang."
" Tatapan pak Hito ke prof. Zahra Siti yang gak nahan banget."
" Lembut, ngelumer kayak coklat di cocho lava."
" Tapi kok mereka berempat tidak canggung satu sama lain ya!?"
" Kenapa dah?"
" Itu prof. Zahra mengambil pak Hito dari dr. Zivara kan?"
" Dih, salah. Dari awal emang oak Hito tuh cuma ngenotice prof. Zahra."
" Yang pasti ini kali pertama gue lihat prof. Zahra bercanda sama pak Hito."
" Iya ngegemesin banget enggak sih."
" Couple goals tapi gak alay ya."
Dan masih banyak lagi kasak-kusuk tentang atasan mereka.
Begitupun dengan lantai dua dimana ruang kerja Zahra berada.
" Jadi beneran mereka sudah bertunangan?"
" Iya kali tuan muda Hartadraja gabut pasang instastory kalau gak ada faktanya."
" prof. Selamat ya, pa. semoga langgeng sampai pelaminan." Ucap Suster Erni yang sudah *standby* di tempat jaganya.
" Ini ada apaan dah?" Zahra menaruh tas selempangnya disamping meja ruang kerjanya. sementara Hito duduk di sofa.
" Loh, apa dokter enggak tahu, pertunangan kalian sekarang sedang tranding."
" Kak, Kok mereka tahu?" Hito hanya menjawab dengan senyuman.
" Ada di instastory pak Hito." Erni menyodorkan ponselnya pada Zahra.
Zahra melototi Hito yang dibalas ucapan " I love you too, Hon."
" Ck, kamu itu. Kenapa enggak sekalian di touk tok."
" Ish,.."
" Dok, pj-nya."
Zahra menggeleng tidak habis pikir," sus, kita sedang libur, cepat cek pasien supaya cepat pulang."
" Ini semua data pasiennya dok." Erni menyerahkan clipboard pada Zahra lalu meninggalkan ruangan.
Drrt!!
" Hallo?" Hito menjawab sambungan telpon.
.....
" Iya, pa. Kita langsung kesana kalau urusan sudah selesai."
......
" Oke, aku tutup ya telponnya."
" Siapa?" Hito beranjak melangkah mendekati Zahra.
" Papa, mereka suruh aku ngajak kamu ke ruang Eidelweis minta penjelasan."
Hito menghadapkan penuh Zahra padanya, menangkup kedua tangan Zahra.
" dibalik pintu itu," Hito menunjuk pintu ruang kerja Zahra," apapun yang terjadi kita berbagi bersama."
Netra hitam Hito menatap iris jernih Zahra, " tentang perasaan masing-masing kita tidak perlu meragukannya, hanya percaya yang harus kita kembangkan. aku milik kamu, dan begitupun sebaliknya. Hmm?"
Zahra hanya bisa mengangguk, ia tidak sanggup berkata-kata.
" Cinta kamu, banget!" Hito mengecup kening Zahra begitu lama.
" Sayang aku ke Gata tv dulu, ada yang mau Domin bicarakan. nanti aku jemput."
Hito mengikuti Zahra menuju meja jaga perawat.
" Kita ketemu di cafe' D'lima aja ya."
" Artis Yunita semakin sexy aja ya, pantas si bos suka." Celetuk Mutia sengaja, berpura-pura tidak menyadari kehadiran Zahra dan Hito.
Staf dan beberapa dokter yang berkumpul di sana terbelalak kaget, Mutia masih tidak jera mengganggu Zahra setelah skorsing yang kemarin.
" Sus, tolong cek ulang pasien yang ada di sini." Pinta Zahra ke salah satu suster jaga mengabaikan omongan Mutia
" Selamat tahun baru, dan selamat atas pertunangannya ya, prof." Ucap dr. Anna yang mendatangi mereka dari arah ruang inap.
" Terima kasih., dok."
" Tapi pak Hito kan sekarang lagi sama Yunita, prof." Sela Mutia pada Anna.
" Hanya orang bodoh yang percaya gosip itu." Telak Anna, para staf dan dokter lain menahan tawa.
" Itu mereka sering keluar bareng, bahkan saat penghargaan Gata tv kemarin pak Hito datang bareng Yunita."
" Sayang, kalau aku cinta sama perempuan, aku umumkan dari mulut aku sendiri, bukan prasangka media." Hito menatap tajam Mutia.
Zahra mengusap lengan Hito menenangkan." Kak, tenang. Aku tahu kamu cinta aku. Cincin ini cuma ada di jari aku kan." Zahra mengangkat cincin berlian yang semalam disematkan padanya.
" Tentu, dan cuma kamu. Aku bukan penyuka wanita pansos."
" Makanya buruan kasih klarifikasi." Farhan ikut nimbrung.
Hito menghadap ke Mutia," saya tahu kamu menargetkan saya untuk menjadi kekasih kamu, tapi kamu terlalu gegabah dan tidak tahu diri."
Kembali Hito menghampiri Zahra meninggalkan Mutia yang sudah memerah malu wajahnya.
" Aku pergi." Hito mengelus kepala Zahra sebelum masuk kedalam lift.
" Aakh, pak Hito ternyata bisa bucin juga."
" Ya Allah untuk pertama kalinya saya lihat tuan muda Hartadraja begitu lembut."
Dan terus ucapan kekaguman para staf wanita bersahutan, Zahra hanya melenggang pergi melakukan tugasnya.
Hito menatap sekelompok pencari berita lewat kaca mobilnya yang berwarna gelap begitu dia sampai di pelataran gedung Gata tv.
" Yan, apa mereka berkumpul untuk saya?" Tanyanya kepada wakil asistennya, Yanto.
" Saya kira begitu."
" Apa pertunangan saya begitu mengagetkan? Bukankah mereka tahu saya dengan Zahra sudah berhubungan lama."
__ADS_1
" Saya kira ini ada hubungannya dengan gosip nona Zahra merebut anda dari Yunita."
hito terkejut," berita apa-apaan itu?" suaranya mengeras.
" Dimana Heru sekarang?"
" Kemungkinan sudah menunggu di dalam gedung."
" Mari kita selesaikan ini."
Yanto bergegas keluar dari balik kemudinya, lalu membuka pintu bagian Hito.
Begitu Hito menampakan diri, para pemburu berita langsung menggerumunginya.
" Selamat pagi pak Hito."
" Pagi, cepat tanyakan apa yang ingin kalian ketahui, jangan sampai memberi saya pertanyaan bodoh."
Semua wartawan kicep dengan suara bariton nan datar dari Hito.
" Selamat atas pertunangan bapak, kenapa bapak tidak memberi konfirmasi resmi?" Penanya perempuan langsung to the point.
Pengalaman beberapa kali mewawancarainya membuat dia paham Hito bukan orang yang mau berbasa-basi.
" Sebelumnya terima kasih atas ucapannya, saya kira instastory saya itu sudah merupakan konfirmasi resmi kami."
" Jadi m berita itu benar" Hito memandang malas kepada penanya yang sepertinya masih pemula.
" Kalau tidak ada..."
" Bagaimana dengan Yunita?" Potong wartawan lain.
" Siapa dia? Kenapa saya harus peduli padanya?"
" Bukankah belakangan ini kalian santer diberitakan punya hubungan?"
Hito menoleh ke samping kanan, dan melihat Yunita melintas bersama manajernya.
" Itu bukan orangnya?" Hito menunjuk Yunita.
" Bawa dia kemari dalam satu menit." Yanto bergegas menarik Yunita yang terkejut, manajernya hendak menilak namun urung saat melihat dengan siapa mereka berurusan.
Yunita dengan kikuk pasrah digeret ke hadapan wartawan.
Mencoba tenang, Yunita memberi senyum manisnya pada Hito" kak Hito.."
" Saya kira kita tidak cukup dekat hingga memberimu hak memanggil saya kakak." Potong Hito langsung.
Yunita tersenyum miris, wajahnya memerah karena malu.
" Saya pikir, saya sudah memberitahu siapa wanita yang saya cintai, dan sampai sekarang masih nama itu yang terpatri dihati saya, dan akan selalu nama itu yang akan ada sampai kematian menjemput kami. Nama itu masih Aulia Zahratul Kamilah!"
Semua orang terdiam, karena ketegasan Hito, tatapan tajam matanya yang membuat mereka tidak berkutik.
" Untuk gosip murahan yang kalian sebar, kalian tanyakan langsung padanya. Untuk selanjutnya jika masih ada yang berani menyebar berita hoax lagi tentang saya atau calon istri saya, akan saya tuntut."
Setelahnya Hito meninggalkan para wartawan yang langsung menyerbu Yunita.
" Apa salah kami sehingga kalian memutus kontrak kerja kami." Yunita menatap surat pemutusan kontrak sepihak oleh Gata tv dengannya tanpa konfirmasi sebelumnya.
" Anda dengan semua kehadiran anda di acara bincang-bincang infotainment telah menggiring opini masyarakat memiliki hubungan dengan tuan Hito dan itu cukup mengusik kinerja yang lain."
Heru menampilkan beberapa potongan rekaman acara yang mengundang dirinya.
" Tapi itu sudah saya konfirmasi."
" Setelah tadi tuan kami turun tangan langsung, dan itu sudah sangat amat terlambat."
Yunita ciut mendapat tatapan tajam Heru.
" Tapi ini konyol, masa hanya..."
" Konyol, apa kamu pikir kami badut yang sedang melakukan pertunjukan?" Rahang Heru mengeras.
" Maaf tuan Heru, bukan itu maksud artis kami." Seru manajer Yunita.
" Urusan kita sampai disini pak manajer, Pastikan artis anda tidak lagi menyebut tuan kami."
Heru meninggalkan ruangan, setelahnya terdengar raungan teriakan dari dalam ruangan.
" Bang, ini tidak bisa dibiarkan, hanya ini kerjaan aku, m setelah stasiun tv lain memutus kontrak mereka." Erang Yunita.
" Apa gue bilang, jangan gegabah memainkan peran dengan pak Hito, beliau bukan hidung belang yang suka selang.kangan Lo." Hardik manajernya yang muak dengan sikap artisnya yang tidak bisa diberitahu.
" Bang, bawa gue ke hadapan pak Hito."
Manajernya menatap tidak percaya Yunita," Lo pikir Lo siapa yang bisa bertemu dengan seorang Hito?"
" Bang, jangan banyak komen. Lo lakuin aja tugas Lo, sisanya biar gue yang urus."
" Pergi, gue cabut dari Lo. Gue masih sayang nyawa gue."
Manajernya meninggalkan Yunita sendiri.
*****
Cassandra menatap cengo siaran berita infotainment.
" TIA...." pekik Cassandra mengundang para sahabatnya keluar dari kamar dengan muka bantal mereka.
" Ada apa sih, Cas." Protes Mayang.
" Gue mau bikin si Tia malu dengan ucapannya kemarin pada kak Ala."
Tia mematung menonton klarifikasi Hito, Dista menyodorkan ponselnya pada Tia.
" Gue mau nyumbang teror malu buat Lo." Terpampang instastory Hito disana.
Tia menegang," gue mau kasih info buat Lo, sebenarnya om gue selama ini sering melamar kak Ala, tetapi kak Ala selalu menolaknya. Jadi omongan Lo om Hito yang meninggalkan dia itu salah besar." Cassandra menekankan pada dua kata terakhir.
" Kak ala tidak mau menerima pinangan om karena sayang sama nenek, dia gak mau hubungan om dengan nenek memburuk karenanya."
" Dan perkataan gue yang itu salah kan, nenek tidak menyetujui kak Ala." Ucap Tia retoris.
" Gak benar semuanya, faktanya nenek sudah menyetujui mereka."
Cassandra menatap lurus manik Tia yang terkejut
" Keluarga gue sangat mencintai Kak Ala, begitupun sebaliknya tanpa atau dengan ikatan pernikahan. Tapi Lo, apa yang udah Lo berikan pada kak Afa selain rasa kesakitan dan malu baginya?"
Tia Tersentak akan ucapan pedas Cassandra.
" Sudah berapa kali Ita memperingati Lo untuk berubah, tapi Lo abai. Lo begitu yakinnya kak Afa cinta lo, tapi Lo lupa suatu hari perasaan orang bisa berubah apalagi dengan sumpah kotor Lo buat kak Ala."
" Itu bukan sumpah, gue hanya sedang marah, dan Lo tahu gue nyesel banget."
" Itu tidak menghilangkan rasa kecewa yang dirasa para adik kak Ala." Timpal Dista.
" Lantas apa yang harus gue lakuin untuk menebus kesalahan gue?" Lirih Tia.
" Jauhi kak Ala, biar dia menikmati masa indahnya tunangan. Nikmati saja karma Lo." Tukas Dista sebal.
Tia membeku, rasa tidak nyaman menyerangnya.
" Tia, Lo harus hati-hati. Mantan mertua lo punya rencana menarik Lo balik padanya." Dista meninggalkan ruang tamu yang berantakan akibat pesta semalam.
Tia menenangkan detak jantungnya yang refleks berdetak cepat ketika Dista membahas mantan ibu mertuanya.
*****
" Ma, ini bagus." Tunjuk Eidelweis pada cincin berbatu berlian besar berwarna merah delima.
" Edel, kita sedang mencari cincin buat calon kakak iparmu, bukan buat kamu." Tegur nenek.
"Iya aku tahu, mana mau nenek peduli pada apa yang aku mau, bagi nenek aku hanya cucu yang membuat aib bagi keluarga."
Air muka Eidelweis berubah sendu, ia menahan tangisnya.
Sri hanya menatap cucunya serba salah, dia bukan bermaksud demikian.
Eidelweis keluar dari toko perhiasan menuju toko perlengkapan bayi.
" Del, ini terlalu dini membeli perlengkapan bayi." Sri dan Dewi mendatangi toko tersebut.
" Bukan mau beli juga hanya melihat-lihat buat nanti diminta kado sama yang lain."
" Ini." Sri menaruh kotak perhiasan berbentuk persegi panjang ditelapak tangan Eidelweis.
" Apa?"
" Buka saja, sayang. Kurangi adu debat sama nenek." Dewi mengajak Eidelweis duduk di sofa yang tersedia di toko.
" Awas aja kalau isinya kosong." Sri berdecak akan sikap skeptis cucunya.
" Dikira nenek konglomerat KW ngasih kotaknya doang."
Mata Eidelweis terbuka sangat lebar dengan mulut menganga besar melihat satu set perhiasan bertahtakan berlian merah delima yan tadi dia taksir.
" Nek,..." Lirih Eidelweis haru.
" Jangan pernah katakan nenek tidak peduli padamu, nenek memang banyak menyakitimu, tapi apa kamu tidak bisa melihat nenek sangat menyesal." Setitik bulir bening nampak dimata Sri.
" Maaf, maafkan Edel." Eidelweis berlari kedalam pelukan nenek.
Yang dibalas nenek dengan rengkuhan hangatnya.
" Ingat selalu, kamu itu tetap menjadi cucu menyebalkan kesayangan nenek." Sentak pelan.
Eidelweis tertawa senang." Nenek juga tetap menjadi Oma menyebalkan yang terbaik."
" Kamu ini." Nenek memukul sayang lengan Eidelweis.
" Lagian kamu pinter banget ajimumpungnya, punya kamu lebih mahal daripada punya Zahra padahal yang tunangan Hito.
" Hehehe ini kemauan bayi."
" Ya Allah hamba mohon bayi ini jangan genit kayak Adel dan Crystal." Ujar Sri berlebihan..
Mereka serempak tertawa.
" Ayo kita pulang." Ajak Dewi.
" Kalian duluan aja, Edel mau ke cafe' D'lima dulu."
" Kalau gitu kita mampir ke sana." Nenek memutuskan yang lain hanya bisa mengikutinya.
****
" Makasih ya Ra." Zahra memberi helm pada Zahira.
" Sans aja, sorry gak bisa nemenin. Gue balik dulu ya."
" Hmm, hati-hati."
Baru dua langkah Zahra memasuki pelataran cafe' terdengar teriakan.
" TOLONG...TOLONG..."
__ADS_1
Terlihat dua wanita beda usia meronta ditengah desakan dan dorongan dalam kungkungan empat pria berbadan tegap.
Mata Zahra membola besar begitu tahu siap yang mereka tarik,...