Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
244. Eksekusi ala Ibnu.


__ADS_3

Zahra yang telah mendengar kondisi gawat pasien itu tanpa membuang waktu mencuci tangan dan masuk ke ruang operasi dimana para suster sudah sedia dengan pakaian dan sarung tangan untuknya.


Terlihat Farhan dan beberapa dokter fokus ke pasien, namun semuanya menegang kala muncratan darah mengenai mereka. Suasana operasi sangat kacau dimana beberapa asisten berlarian mengerjakan tugasnya masing-masing.


Zahra bergegas mendekati mereka namun langkahnya terhenti saat dia melihat siapa yang menjadi pasiennya.


Tubuhnya kaku seketika, setia jantungnya terasa berhenti saat matanya menatap wajah pucat adiknya, adik kebanggaannya, pelindungnya.


" A...ada apa ini?" Lirihnya pelan.


" Dok, detak jantung pasien menurun." Seru perawat.


" Kita butuh darah lagi." Seru seorang dokter lain setelah melihat monitor.


" Ini dua kantong darah terakhir, prof. Bagian administrasi sedang menghubungi PMI." Ucap suster yang tengah memasangkan  kantong darah.


" Tidak sempat, kita butuh darah banyak sekarang. Buka pendonoran darah dalam rumah sakit saat ini juga." Seru Farhan sedikit menoleh, dia mendapati Zahra yang berdiri termangu syok.


" Prof, bisa tangani yang ini? Saya ke prof Zahra sebentar." Dokter yang berdiri di depan Farhan melirik ke arah Zahra lalu mengangguk.


" Zahra, hei..Zahra." Farhan melambai tangan di depan wajah Zahra.


" Prof, Kenapa... dia yang di sana?" Lirihnya serak terbata.


" Ra, bukan saatnya syok atau bertanya, kamu sudah tahu kondisinya kan?" Zahra mengangguk.


" Kami butuh kamu, dada dan lehernya terkena, dan tadi ada pendarahan. Bisa kami mengandalkan kamu untuk menyelamatkan adikmu?"


" Prof,ta..tapi sa..saya..." 


" Kamu tidak ingin adikmu meninggal di atas meja operasi kan?"


" Saya tidak ingin dia meninggal."


" Dan waktu terus berjalan." Farhan berbalik kembali ke meja operasi.


Zahra menutup matanya meredam segala emosi, dan saat dia membuka matanya, mimik wajahnya sudah berbeda dari yang tadi sendu. Kini wajahnya terlihat siap menghadapi apapun.


Satu asisten yang berdiri di samping Farhan bergeser memberi tempat untuk Zahra.


" Saya undang kamu ke sini kalau tidak salah kamu yang meneliti regenerasi organ bagian ini atas undangan who." Tunjuk Farhan kebagian dada yang mana masih terselip proyektil peluru." Farhan menoleh pada Zahra.


Zahra meliaht Farhan dan sedikit mengangguk, dia sudah mengambil alih bagian dalam yang dimaksud yang terletak dekat paru-paru.


" Di Indonesia sendiri prof Zahra dan dokter dari Surabaya yang menguasai ini. Beruntung saya menjadi bagian dari tindakan ini, saya bisa belajar langsung dari ahlinya." Tutur dokter tua di seberang mereka.


" Prof merendah. Saya dapat banyak ilmu dari anda, prof."


" Tapi kamu yang mengembangkannya melebihi ekspektasi orang lain, terima kasih sudah menyelamatkan pasien saya yang kronis waktu itu."


" Jangan sungkan, bangga saya bisa membantu anda." mata Zahra memperhatikan layar yang menampilkan letak peluru.


Mereka mengobrol sambil melakukan tindakan, terkadang hal ini dilakukan untuk meringankan ketegangan dalam operasi sekaligus mencari solusi dari tindakan. operasi Mumtaz ditangani oleh lima dokter ahli di bidangnya masing, dan empat dokter asisten dan beberapa perawat.




Para perawat yang berlarian dengan wajah tegang dari ruang operasi membuat anak Gaunzaga dan RaHasiYa saling lempar lihat, Adam menarik satu perawat lelaki.



" Ada apa?" 



" Kami kehabisan darah, pasien sangat membutuhkan darah. Kami akan mengadakan pendonoran darah dadakan." 



" Apa golongan darahnya?"



" O."Setelahnya perawat tersebut lari menyusul rekannya.



" Shitt, golongan darah yang lumayan susah."



Adam dan Leo tanpa komando menghubungi temannya yang memiliki darah yang sama dengan Mumtaz untuk segera berkumpul di rumah sakit untuk mendonorkan darah.



Hartadraja yang baru saja mendapat kabar baik atas kesuksesan operasi Adelia kini kembali cemas, saat mendengar kabar Mumtaz yang tertembak dan membutuhkan darah.



Mereka segera menghubungi para keluarga dan relasi untuk meminta kerelaan mendonorkan darah.



" kenapa bisa kacau begini?" Risau nyonya Sri.



" Nek, tenang. Lebih baik nenek istirahat bersama Eidel, Hito akan kembali ke gedung RaHasiYa."



" To, jangan biarkan si Navarro lolos kalau tidak bisa membnvhnya minimal dia lumpuh."



" Mama.." tegur Fatio.



" Pa, cucu buyut ku sedang dioperasi. Adgar sudah bercerita jasa Mumtaz atas pembebasan aku....hiks. kenapa orang baik itu bisa celaka? Kenapa?" 



" Kek, lebih baik bawa nenek ke kamar pribadi di ruang kerja Hito."



" Lebih baik begitu."



" Leon, kerahkan yang lain untuk melindungi keluarga saya."



" Siap, pak."



" Bar, katakan pada Heru aku ke RaHasiYa." Seru Hito yang diangguki Akbar. Hito melanjutkan niatnya.



" Bang, keluarga kita gak ada yang golongan darah O ya?" Bisik Adgar.



 "NanyYua..."Akbar membalas asal lalu melenggang pergi menyusul Fatio.



Sedangkan Aznan tengah menyusul Julia dan Dewi di Tangerang.



" Dih, gak pantes orang dingin sok gaul." Cibir Adgar sebal. 


__ADS_1


Hanya butuh 15 menit dari berita itu tersebar sudah berkumpul orang-orang memenuhi lobby rumah sakit untuk mendaftar mendonorkan darah, dari anak RaHasiYa, Gaunzaga, mahasiswi UAM, maupun universitas lain,  warga sekitar rumah Aida dan para relasi bisnisnya.



Kini situasi lobby bagai pasar yang menawarkan sembako murah, orang-orang hilir mudik mencari informasi. 



" Mohon ngantri....tolong yang belum diketahui golongan darahnya naik ke lantai dua." Seru bagian keamanan rumah sakit.



" Untuk yang sudah teridentifikasi golongan darahnya langsung saja ke lantai tiga."



Di lantai tiga telah banyak pula yang mengantri, meski rumah sakit telah membuka tiga bilik kamar guna pendonoran darah.



^^^^^^^^



Navarro terus mencoba menggerakkan tubuhnya, ia sangat bernafsu untuk segera melenyapkan Ibnu yang berdiri tenang di hadapannya namun laser itu itu seakan memenjarakannya, tubuhnya tidak bergerak seinci pun.



 " Berhenti mencoba melepaskan diri Navarro itu tidak akan berhasil, laser itu membekukan tubuhmu, dia sedang mengambil kekuatan organ tubuhmu, kau rasakan darahmu seakan terperas" Ucap Daniel.



Dengan kode matanya pad anak buahnya yang bergabung dneg Yuda di lantai sembilan laser itu padam, tubuh Navarro langsung ambruk jatuh karena lemah, napasnya tersengal-sengal pendek. Ia mencoba berdiri, namun gerakannya lunglai tubuhnya seakan tidak bertulang, sementara hanya matanya yang menatap tajam Ibnu.



" Ibnu, tanpa temanmu kau tidak mampu melakukan apapun, heh. Kemarin Mumtaz, sekarang Daniel. Pada akhirnya merekalah yang membalas kematian orang tuamu, bukan kau. Kau hanya anak lelaki tidak berguna, kau seorang pecundang."



" Ck, pecundang, pecundang. gak peduli gue dengan itu, tapi ini namanya kerjasama, seperti kau menggunakan Aloya dan lain untuk menguasai Indonesia. Demen amat ngucap pecundang, pecundang itu adalah dia udah kalah tapi sok-sokan masih ingin melawan, ngelawak Lo." decak Alfaska jengah.



" Tahu, b4cot." timpal Zayin.



BUGh...



Tiba-tiba semua orang dikagetkan dneg satu tendangan keras dari Zayin yang dilayangkan dengan santai mengenai rahangnya yang membuat  Navarro terjungkal terkapar terbaring dengan napas terengah-engah.



Sementara suara Ivanka yang menjerit seraya tangisan kesakitan akibat paksaan dimasuki terus-menerus bergema, kepalnya ditolehkan kesamping melihat pada ayahnya yang terlihat mengenaskan.



Aksi bia-dab Raul yang ditonton para undangan dan rasa malu cukup menjatuhkan menjatuhkan mentalnya.



" *please ampuni kami, hukum kami dengan yang lain..please hentikan ini, aaakhhh..pergi*..." Ivanka mencoba mendorong Raul yang yang tentunya tidak terpengaruh.



" Deborah, memohon juga pada kakak mu untuk dilepaskan, tapi kakak si-alanmu itu terus menyiksanya dan ayahmu mendukung kebo-dohan itu sampai kekasihku gila." ungkap Raul yang terus menghunuskan dirinya pada Ivanka.



seringai Raul ditujukan pada Navarro," lihat Navarro, keturunan yang membayar kontan perbuatanmu."



Tangan Navarro mengepal kuat," bvnvh aku, BVNVH AKU BANG-SAT." Suara amarah menggema di udara, dia kesal ketika situasi tidak bisa dia kendalikan.




" Mengembalikan Kekaisaran Romawi, *bullshit*, memilih Indonesia menjadi negara penaklukan pertama, memang menaklukan Indonesia berarti kau menaklukan Asia, tapi Lo harus baca sejarah tentang Indonesia sebelum Lo bertindak itu kode untuk bvnvh diri namanya, gob-lok kok dipelihara." Alfaska kesal bercampur gregetan.



Navarro mendudukkan dirinya, keluar darah dari bibir dan hidungnya akibat tendangan Zayin.



Netra matanya bergoyang, ia menggeleng Kana dan kir kepalanya berupaya menghilangkan pening, tatapannya kosong sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak." Hahahhahahaha....kalian pikir kalian bisa mengalahkan ku, aku ini tentara bagi kami lebih baik gugur di medan tempur daripada pulang dengan kekalahan."



" Mana, mana kursi kebesaranku, mana singgasana kerajaanku. Matunda ambilkan kursiku, HaHAHAHAHHAHA, ku hukum kalian semua." Bentak Navarro, ia terus meracau seakan ia adalah raja, kaisar penguasa penakluk dunia.



Matunda diam bergeming di tempatnya dia bersumpah bahkan jika pun dirinya disakiti Navarro dia tidak akan lagi membantu pria itu.



Semuanya Melihat bertanya pada Matunda tentang hal ganjil ini, " dia dalam keadaan delusi, egonya tidak menerima kenyataan hingga dia menenggelamkan dirinya kedalam khayalannya, dia membutuhkan obatnya." Matunda mengeluarkan satu tabung dari saku jasnya lalu melempar tabung itu ke lantai, pecahlah tabung itu.



" Itu obat terakhirnya." Tukas Matunda.



" Bukankah kau orang kepercayaan Navarro? Tanya salah satu mafia.



" Saya tidak pernah bekerja untuknya, tapi untuk RaHasiYa, bisa jadi satu diantara anak buah kalian adalah anak RaHasiYa." Ucapan Matunda membuat para penguasa bawah tanah itu gelisah. 



Sedangkan para ayah, dan yang lain diam memperhatikan tanpa ekspresi, namun tidak untuk Ibnu, dia membenci tawa itu. Tawa itu mengingatkannya pada kejadian 10 tahun yang lalu dimana awal dari penderitaannya dan adiknya.



Dengan menatap intens Navarro, Ibnu mendekatinya, matanya mengarah pada para tamu, " perhatikan ini, perhatikan baik-baik. " *This is one of my way to revenge my enemy*." Ucapnya pada para tamu.



Ibnu menarik kerah jaket navarro untuk berdiri lalu tanpa tedeng aling-aling dalam satu gerakan ia mem-atahkan pergelangan kedua tangan Navarro," Kyaaaa...." Navarro berteriak kesakitan.



Jeritan itu tidak menghentikannya bertindak, menggunakan kakinya ia tendang bagian dalam lutut Navarro hingga berlutut, ia injak tulang keringnya lalu mematahkan pergelangan kakinya." AAAAAA....." kembali jeritan tersiksa meraung.



Ditengah teriakan kesakitan itu, Ibnu memegangi bahunya dan KREEEKK....KKREEKKK.....



" Uufh...." mereka meringis ngilu.



kedua tulang belikatnya kini menjadi korban selanjunya.



" AA...AAAAA....aaaa...." Navarro ambruk di atas lantai dengan masih melirih.


__ADS_1


Setelahnya Ibnu menarik sejumput rambut Navarro, berbicara di telinga Navarro, " Membvnvh, bukan gayaku. Menjadikan kau tidak berdaya itu keahlianku. Sudah ku katakan kau akan meminta ampun padaku untuk menghabisi nyawa ketimbang hidup bak sampah busuk. Seharusnya dari Maura kau belajar itu. Perempuan saja ku eksekusi tanpa hati apalagi kau, tua bangka." Ibnu menghentakkan keras wajah Navarro ke lantai hingga membentur keras pelipisnya terlalu mengeluarkan darah.



Para tamu undangan meringis ikut merasakan sakit melihat apa yang terjadi dengan Navarro, Ibnu menatap mereka satu persatu dengan mata elangnya." Saya harap dari ini kalian belajar, jangan pernah usik kedaulatan bangsa kami, dan milik kami, kalian akan berakhir mengenaskan seperti dirinya bahkan bisa lebih."



" Kita akhiri hari ini, mari semuanya keluar."



" *No*, itu tidak sebanding, Aa sekarang di meja operasi. Dia harus mendapatkan lebih dari ini." Zayin protes keberatan, dia tidak puas.



" Yin, kita keluar. Mumtaz ingin cara Ibnu yang bekerja." Kata Alfaska.



" Ta..tapi ...apa yang terjadi dengannya belum seberapa." 



" Ahmad Muzayyin Hasan, *just believe me*, Zayin." Saat mengatakan itu mimik Ibnu sangat dingin. Ucap Ibnu sebelum melangkah menuju pintu yang diikuti oleh yang lain. Alfaska dan Daniel dibantu Bara harus menarik paksa Zayin kelua yang menolak eksekusi Navarro berakhir.



Ibnu menunggui mereka di daun pintu, itu membingungkan semuanya, setelah semuanya Keluar, Ibnu mengeluarkan satu benda berbentuk bulat ia menarik pin lalu melempar benda itu ke depan Navarro Keluarlah asap yang berwarna merah Ibnu menutup pintu.



Di depan ruangan mereka bertemu Hito dengan pandangan was-was." Semuanya baik -baik saja kan?"



" Baik, Kenapa memangnya?" tanah balik Dominiaz. Hito menggeleng.



Mereka menyaksikan hukuman Navarro melalui layar televisi LED besar yang ada diluar ruangan.



Kepulan asap itu keluar dari cangkangnya hanya berlangsung hitungan detik namun efeknya efektif untuk mematikan pernapasan, asap itu mengakibatkan perban yang digunakannya mengelupas hingga kulitnya terluka melepuh dan darah keluar dari seluruh tubuhnya, membuat matanya perih kemerahan, merusak paru-paru hingga tenggorokan terasa perih terbakar.



Navarro yang dalam kondisi lemah tidak bisa menghindari asap tersebut sehingga dia menghirup hampir seluruh asap itu. Dialami keadaan sekarat, mulutnya mangap-mangap dengan urat leher menonjol kuat.



Para pengawas dan tamu undangan bisa melihat Navarro yang terbatuk-batuk, lalu mengerang pilu  kesakitan kemudian dengan suara  terbata-bata menyahut menyerah.



Setelah asap dari granat asap itu menghilang, situasi mengerikan bagi Navarro belumlah berakhir atap ruangan dibuka hingga Navarro langsung terpapar dengan sinar matahari di siang bolong. Rasa perih yang teramat sangat karena terbakar kembali dia rasakan.



" *No*,..hentikan..saya mengaku kalah..saya menyerah..." Namun tentu saja lirihan itu tidak ada yang memperdulikan.



Semuanya terdiam hening, mereka sungguh mengamati hukuman ala RaHasiYa.



Bagi RaHasiYa, cara penaklukan RaHasiYa bukan disesuaikan dengan kemampuan penerimaan target namun kepantasan yang harus target terima sesuai keinginan RaHasiYa.



" *Adios, sayonara*, Navarro." Tutur Ibnu tanpa beban tidak menyadari tatapan dalam Dominiaz padanya.



Cara pembalasan Ibnu persis sama dengan cara Mumtaz, mengakhiri musuh dengan tidak melenyapkan nyawanya tapi menjadikannya putus asa dalam hidupnya.



Wajah tanpa amarah bahkan terkesan dingin sebagai awal kemarahan dalam hatinya yang dilampiaskan dengan cara setahap demi setahap merusak mental dan fisik musuh, jelas Ibnu menajdikan Mumtaz gurunya, jelas Ibnu menjadikan Mumtaz sebagai panutannya, atau memang selama ini Ibnu menjadikan dirinya mengabdi pada Mumtaz untuk meng-copy kemampuannya.



Awal dia mengenal RaHasiYa, Dominiaz pikir Ibnu adalah asisten Mumtaz sebab dia melakukan apa yang diperintah Mumtaz tanpa bantahan, dia bagaikan robot dalam kontrol Mumtaz, baru belakangan dia menyadari pria pendiam dan terkesan bersembunyi ini adalah salah satu petinggi RaHasiYa setelah Mumtaz membiarkannya melakukan apa yang dia mau tanpa protes pun juga dari Alfaska dan Daniel yang terbilang dominan di RaHasiYa.



" Bar, Ibnu itu bagi kalian adalah seseorang,  kan ya?"



Bara yang berdiri di samping Dominiaz mengerutkan kening bingung maksud dari pertanyaan Dominiaz." Maksudnya?"



" Dia bukan asisten kamu, Mumtaz, Daniel, atau Alfa. Tetapi dia berdiri sama rata dengan kalian."



" Tentu saja, siapa yang berpikir dia asisten kami? Kalau ada, bodoh itu namanya. Memang dia selalu enggan menjadi pusat perhatian beda dengan Alfa yang haus perhatian dia mah caper tulen sejak lahir."



Dominiaz terkekeh miris, " Dia orang bodoh itu." Bathinnya.



" Bara, suruh anak buah Lo bawa si Alfred itu ke the baraz dibawah tontonan para penguasa bawah tanah hidupnya tergantung pada kondisi Mumtaz atau biarkan dia membusuk." Titah Ibnu bak bos.



Tanpa beban ibnu berjalan ke arah lift." Nu, mau kemana?" Tanya Alfaska.



" Rumah sakit"



" Gue ikut." Alfaska, Daniel dan Zayin serta para ayah masuk ke dalam kotak lift.



" Lo gak merasa terhina diperintah dia?"



" Lo kenapa sih aneh banget, ini bukan kali pertama dia ngebossy." Tutur Bara pada Dominiaz. Ia hendak menelpon Leo.



" Heran aja, gue belum terbiasa dia begini."



" Biasakan, dia sama posesifnya dengan Mumtaz saat melindungi orang-orang yang harus dilindungi. Dia itu sumber informasi perbuatan Mumtaz, tapi loyalitasnya terhadap Mumtaz naudzubillah sampai sekarang gue gak pernah dikasih tahu dimana Cassy berada."



" Kenapa Lo gak tanya gue, gue tahu."



" Seriusan? Bang, dimana dia?"



" Tapi gue gak mau ngasih tahu, gue gak mau berurusan dengan bang Damian."

__ADS_1



" Ck, asu lo, bang." Dominiaz, Hito, dan Samudra tertawa terbahak menikmati wajah merengut Bara...


__ADS_2