Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 80. Serangan Brotosedjo


__ADS_3

" Selamat untuk seluruh pihak terkait atas keberhasilan terselenggaranya Pema malam penutupan menjadi malam yang tak bisa terlupakan." ucap Yuda.


mata penghuni ruangan BEM terbagi dua antara melirik Daniel, dan Mumtaz.


" Muy, gue mewakili yang belum sempat turut belasungkawa, Lo dan keluarga tabah Niel." seru Romli.


" makasih, do,ain semoga Allah menerima segala amal baik mama." ujar Mumtaz tenang.


" Ammiinn." ucap serempak anak BEM.


" So, kamu sekarang single dong, boleh dipepet nih." ucap Riana tanpa simpati, sedangkan yang lain menatap malas tingkah Riana.


Sisilia, dan para sahabat menatap Riana penuh kebencian.


" A, aku gak mau ya punya ipar yang gak punya malu, apalagi udah bikin tuduh pake acara lapor polisi. Aku bilangin kak Ala nih." ucap frontal Tia.


Riana diam tak berkutik.


" Tenang, Aa masih waras, gak minat sama yang gak punya simpati, dan empati." ucap Mumtaz sambil menatap Sisilia teduh.


Para anggota BEM yang lain hanya bisa menonton saja.


" Ya udah sebagai imbalan kerja keras kalian, Alfa bakal traktir kalian. Ya, pesen makanan lewat online." seru Mumtaz yang mendapat pelototan dari Alfaska.


" HORREEEE... makasih Fa, semoga kalian samawa." ujar yang lain.


*****


BRAK!!!!


Gebrakan meja akibat luapan emosi dari Bram Brotosedjo yang melihat video dan foto kegembiraan sekelompok anak muda menyambut bersatunya dua sejoli yang sudah lama terpisah, dan lamaran Daniel pada tunangannya dari orang suruhannya.


" Kita tidak bisa melepas mereka setelah mereka membuat kita rugi besar." Geram Brotosedjo.


" Sudahlah Bram, kita hentikan sampai di sini berurusan dengan RaHasiYa. Kita fokus saja pada Hotel Paradise." Nasihat Pramono.


" Tidak bisa, dengan mereka menghancurkan Surga Duniawi hancur sudah bisnis kita, sebagian besar modal kita di tanam di sana. Kita hampir bangkrut."


" Hampir kan? Tapi belum bangkrut, kalau kita terus berurusan dengan mereka kita bisa hancur, apa yang terjadi dengan Aloya kita jadikan pelajaran." Ucap Alexander.


" Tapi gue tidak bisa."


" Ini juga yang terjadi dengan Aloya, keras kepala. Apa hasil dari kekeras kepalaan dia, binasa! Sampai sekarang kita tidak tahu dimana mereka, RaHasiYa benar-benar menyingkirkan mereka." Lagi, Pramono mencoba memberi pengertian kepada rekan bisnisnya itu.


" Pram, Lo gak mau gitu balas dendam karena mereka sudah menghancurkan perusahaan lo?"


" Gue udah coba, tetapi selalu gagal. Gue tahu mereka masih muda, tapi kemampuan mereka di atas kita, Bram."


" Beruntung perusahaan Lo masih utuh." Alexander mengingatkan.


" Heh, lagian jika perusahaan gue hancur pun bukan gue yang rugi, gue mau cerai dari Riska."


Para rekannya melotot," jangan sembarangan ambil keputusan, semua dana lo dari dia." peringat Alexander.


" Kann dia juga mau bangkrut." cibir Brotosedjo.


" Gue udah pernah ngerasain berurusan sama mereka dan itu cukup, sorry gue gak ikutan." Ujar Pramono.


" Gue juga mundur, masih mending gue masih di sisain satu perusahaan sama mereka." Imbuh Alexander.


" Heh, pengecut sekali kalian!!" Cemooh Brotosedjo.


" Terserah Lo mau ngomong apa, tapi kita gak mau hancur, gw masih punya anak, bini yang harus gue kasih empan."


" Ck, gede gombalan Lo." cibir Brotosedjo.


" Hahahaha..." mereka semua menertawakan kekonyolan sok bijak mereka.


Ceklek!!!


Tamara melenggang masuk ruangan tanpa permisi di bawah tatapan mesum para pria paruh baya yang berada di ruangan tersebut.


" UPS,...aku ganggu ya, om? Tamara bertanya dengan mimik siratan menggoda ke ketiganya.


" Hallo keponakan kesayangan uncle." Ucap Brotosedjo menarik Tamara ke atas pangkuannya.


Di balik meja kerjanya tanpa dicurigai oleh koleganya tangan Brotosedjo langsung menggerayangi paha mulus dan meremas bok*ng Tamara dengan bernafsu.


" Kenapa wajah para om pada tegang begitu, aku beneran ganggu meeting kalian?" Tamara merajuk sambil mempermainkan kancing atas Brotosedjo.


" Enggak sayang."


" Ya udah kita pamit dulu." Baik promono maupun Alexander beranjak meninggalkan ruangan dengan melempar senyum mesum pada Tamara.


Tepat Pramono membuka pintu asisten Brotosedjo masuk ruangan.


" Tuan, ada kabar, muatan besar sudah tiba. Tengah malam nanti kita operasi." Ucap sang asisten.


" Benarkah? Bilang pada mereka kita siap.


" Baik, pukul 24 tepat, Tuan."


" Hemmm," tangan Brotosedjo mengusir sang asisiten diiringi gerayangannya pada tubuh sexy Tamara yang matanya sudah melirik menggoda sang asisten.


" Ada apa, sayang?" Bisik Tamara sambil menjilati Teling Brotosedjo sensual.


" Aku sedang memikirkan cara membalas RaHasiYa." 


Tamara tersenyum," gampang, sini aku bisikin." Tamara sengaja menyentuh telinga Brotosedjo dengan lidahnya.


" Woow, fantastis sekali ide kamu, Yang." 


" Jadi kamu setuju?"


" Tentu, sekarang service aku dulu."


" Dengan senang hati." Tamara mulai beraksi dengan membuka kancing baju Brotosedjo.


*****


" Selamat pagi dunia..." Sapa Daniel lantang dengan sumringah  begitu memasuki lantai tujuh ruang konferensi.


Masih dengan senyum di bibirnya, dia mengambil duduk di sebelah Ibnu.


" Sumpah dari malam terakhir Pema gue bingung mesti gimana, satu sisi gue lihat Daniel beraura cerah secerah matahari yang terbit di negeri Jepang. Satu sisi lagi gue lihat Mumtaz dengan aura dingin sedingin udara beku di bagian ujung negara Rusia." Celoteh Alfaska.


Mumtaz memandangi Alfaska dengan malas.


" Nu, bibir gue cuma satu gue musti gimana, iya kali satu ujung nyengir, satu ujung lagi lesu." Alfaska memaksa Ibnu nimbrung meledek Mumtaz.


" Basi Lo Fa, kita langsung meeting ajak." Seru Mumtaz  bosan.


" Lo dulu Niel, yang lagi bahagia." Sarkas Mumtaz.


Daniel nyengir lebar tanpa sungkan.


" Gue menciptakan robot anjing pelacak sebagai pengganti anjing pelacak di wilayah konflik, banyak anjing pelacak yang gugur sewaktu penyisiran lokasi akibat ranjau, bom, atau peluru. Sedangkan regenerasi anjing pelacak tidaklah mudah, jadi untuk operasi militer, menyisir lokasi pertama yang diterjunkan adalah robot anjing." Buka Daniel 

__ADS_1


" Indera pelacaknya?" Tanya Ibnu.


" Sama seperti anjing asli, unggulnya  dia ditambah memori-memori lain seperti yang ada di robot yang lain."


" Daya tangkap?"


" Butuh tiga detik untuk menyimpan memori tentang target, dia juga dapat menggigit target sekencang anjing asli, air liur yang dia keluarkan menyimpan aliran listrik, jadi begitu tiga detik Terget terkena air liurnya, maka sang target akan kejang karena tersetrum."


" Uji coba?"


" Rencananya lusa gue mau uji coba bareng anjing TNI." Sejenak Daniel menatap Mumtaz dan Ibnu.


" Lo pengen ngomong sesuatu Niel?" Tanya Mumtaz tersenyum smirk.


Daniel mengedikan bahu," apa ada yang mau Lo omongin ke kita?"


" Ini ada apa?" Jangan kayak gadis lagi gibahin gue, gue gak peka kalo pake kode-kodean." Kesal Alfaska


Daniel mendengkus," kata petinggi TNI, mereka dapat info dari anonymous, tapi valid, karena tak jauh dari laut teritorial Indonesia ada kapal yang muter-muter tak jelas, dan setelah di diperiksa dengan menggunakan robot pengintai mereka membawa barang haram berjumlah fantastis, cukup untuk melenyapkan dua generasi bangsa Indonesia." Terang Daniel.


" Ck, kita gak sengaja nguping kalau ada pengiriman itu." Seru Ibnu.


Daniel, dan Alfaska berdecak." Lo pikir Lo turunan hewan apa punya pendengaran setajam taring singa."


" Dimana Zayin sekarang?" Sindir Daniel.


" Tadi pagi dia buru-buru pergi ada darurat dari markas katanya." Jawab Alfaska.


" Hmmm." Mereka menganggukkan kepala paham.


" Sejak kapan kalian jadi informan TNI?" Tanya Alfaska ke Ibnu dan Mumtaz.


" Gak ada, itu kebetulan saja. Melirik kuantitas barang kirimannya, kita gak bisa biarin. ini pengiriman yang ke empat sejak dua bulan terakhir. Ditambah kalian tahu kan dia lagi galau, jadi dari pada pergi ke tempat berbahaya mending berselancar di cyber." Terang Ibnu.


" Lanjut ke yang lain bisa?" Tanya Mumtaz tidak nyaman tak ingin para sahabatnya membahas tentang hidupnya.


Mereka bertiga mengangguk, pasalnya mood Mumtaz mengkhawatirkan.


Alfaska maju sambil menenteng patung bagian kepala berajah dirinya..


" Gue menyebutnya face off, Lo tahu topeng di mission impossible kan?" Mereka mengangguk.


" Gue berhasil menciptakannya."


" Heh, kerennya dimana? Itu udah bisa dibuat dimana-mana?" Omel Daniel.


" Kerennya di lapisan topengnya, jika di film-film mereka butuh alat bantu terpisah untuk mengintip keadaan sekitar, namun di sini semuanya terdapat di topeng tersebut, dan anti terdeteksi, jadi ketika masuk ke lokasi lawan tidak ada yang tahu kalau kita sedang mengintai.


Alfaska memakai topeng tersebut, melangkah ke alat pemindai ruangan, maka tidak ada satu pun yang terlacak, sementara dilayar terlihat ruangan hasil tangkapan kamera dari topeng.


" Bahkan gue bisa lihat pakaian dalam Kalian." Alfaska melepas topeng seluruh wajah berbahan silikon, dan karet itu."


" Lanjut." Ucap Mumtaz.


" Giliran Lo ege." Dumel Alfaska.


Mumtaz menyikapi santai tingkah iparnya tersebut.


" Gue udah periksa semua tentang Aloya dan rekannya, untuk saat ini yang harus kita waspadai ada tiga, Pramono, Alexander, dan Bram Brotosedjo. Diantara ketiga orang tersebut Brotosedjo lah yang paling mirip Aloya, jiwa pembunuh, dan menghalalkan segala cara, jdi kita belum selesai."


" Karena itu Lo masih membiarkan keluarga Aloya?"


" Hmm, ada satu fakta yang belum kalian tahu tentang Tamara, dan Adinda."


" Ibnu yang akan menerangkan tentang mereka semua." Ibnu mendengkus karena Mumtaz kembali mode malas ngomong on


" Maybe gue bakal lama di Eropa, jadi kalian pelajari tentang semuanya."


" Online, ini juga bawa nama UAM."


" Ibnu, Lo tinggal?" Lagi, Daniel begitu penasaran.


" Udah bangkotan dia, ngapain ngintilin gue." Skeptis Mumtaz.


" Jangan lupa mampir ke Jerman." Seru Ibnu.


" Hmmm." Gumam Mumtaz lesu.


Para sahabat menatap Mumtaz resah, mereka sungguh tak menyukai cara tenang Mumtaz mengatasi masalahnya.


Tiba-tiba Mumtaz mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya, dan menghisapnya, mata para sahabat membulat besar dengan mulut terbuka. Terakhir mereka melihat Mumtaz merokok adalah ketika dia pergi dari rumah karena masalah Bella.


Dan sekarang dia kembali melakukannya, tanda bathinnya mulai terusik dengan permasalahan yang ada.


Diam-diam Alfaska memotretnya dan mengirimkannya ke Sisilia, karena dia sungguh tidak tahu harus bagaimana menolong sahabatnya ini.


" Muy, kita boxing yuk." Tawar Ibnu, Mumtaz menggeleng.


" Kita harus hemat energi." Serunya sembari meninggalkan ruangan dengan rokok menyala di jemarinya.


Mereka hanya bisa mengikuti kemana Mumtaz melangkah tanpa diketahui oleh sang empu.


Sepanjang mereka melangkah keluar dari gedung, para karyawan terdiam tak bergerak melihat aura menegangkan dari para bosnya, aura kelam dari satu orang bosnya saja cukup mengerikan bagi mereka, apalagi ini berempat sekaligus.


*****


Sisilia membenamkan wajahnya dalam batal menangis histeris dengan memeluk ponsel berisi kiriman foto Mumtaz sedang merokok dari Alfaska di dadanya, ingin dia meminta maaf pada kekasih hatinya, namun ia tak percaya diri setelah mengecewakannya.


"Huaaa..hiks...haaa...hiks...heueheu...maaf, maafkan, Lia kak!" Lirih pedihnya.


Mommy  menempelkan keningnya ke pintubkamar tidur Sisilia sembari memejamkan mata penuh rasa bersalah.


" Maafkan mommy, nak. Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan pada anakku." Pilunya tak bisa disembunyikan lagi oleh mommy.


****


Sekelompok pasukan terdiri dari 12 orang dengan pakaian seragam serba hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan persenjataan komplit telah mengawasi selama delapan jam terakhir setiap pergerakan beberapa kapal yang yang patut dicurigai hilir mudik dari dan ke pulau berakit, sebuah pulau terluar perbatasan Indonesia-singapura termasuk bagian dari kota Batam, kepulauan Riau.


Zayin, William, dan Bayu menatap mereka penuh binaran memuja, bagi Zayin tidak ada yang lebih keren selain menatap pasukan elit satu ini.


Meski tak tahu siapa dibalik balutan masker hitam itu, tapi bagi Zayin mereka adalah sesuatu yang terindah. Gadis berpakaian sexy bebody goal tak ada apa-apanya dibanding anggota Denjaka yang berdiri dihadapannya. Menjadi anggota Denjaka adalah cita-citanya.


Drone pengangkut menurunkan beberapa robot serbu, dan pengintai ke ketiga kapal pengangkut yang dicurigai itu.


Hasil dari laporan robot pengintai berupa gambar denah lokasi objek target telah tersimpan.


Tepat pukul 24.00 setempat. Tiga kapal bermuatan besar berbendera mexico memasuki wilayah laut teritorial RI. Ketika semua kapal telah memasuki perairan RI, sembilan personil dari Denjaka dibagi menjadi tiga untuk mengatasi tiga kapal tersebut.


Berbekal hasil rekaman informasi dari para robot, Denjaka memasuki kapal yang berlayar dengan kecepatan pelan, langsung menuju lokasi, beberapa personil pendukung dari angkatan laut mengawasi di kapal patroli yang berjarak ratusan meter sambil bersiaga dengan senjata berlaras panjang jarak jauh.


Melalui kaca pembesar senjata  SPR 2 berkaliber 12,7mm × 99mm buatan pindad, Zayin mengawasi setiap pergerakan di kapal tersebut, dia memang bukan seorang sniper, namun kemampuan tembak jarak jauh di atas rata-rata para rekannya, serta ketangkasan dalam menggunakan teknologi Alutsista yang terbaru yang membuatnya tergabung dalam misi ini. 


"Dor..." Terdengar suara letusan tembakan dari salah satu kapal, atas bantuan drone tak berawak dengan cepat diketahui berasal dari kapal mana suara tersebut.


Hasil laporan dari Bayu yang mengamati pergerakan drone diketahui kapal no 2 yang melepaskan tembakan, Zayin langsung mengarahkan senjatanya,mengamati situasi lebih lanjut,


Dsing...jleb!! 

__ADS_1


Satu tembakan tepat mengenai kepala sang ******* yang bersembunyi dalam tong sedang menodongkan senjatanya pada salah satu personil Denjaka, dalam sekejap ******* itu meninggal.


Sang Denjaka mengangkat jari jempol tanda keadaan stabil.


Dalam hitungan 15 menit misi mereka selesai. Puluhan awak kapal bersenjata ditangkap.


Hasil dari investigasi diketahui mereka mengangkut senjata untuk mempersenjatai para kelompok pemberontak terhadap pemerintah guna mengganggu kedaulatan NKRI, sedangkan narkoba, dan minuman keras berkualitas tinggi memang ditujukan untuk pangsa pasar Indonesia di dunia gelap.


Ketika sedang merapihkan semua peralatan, salah satu anggota Denjaka dengan masih menggunakan penutup wajah mendatangi Zayin.


" Thanx bro, penyelamatan yang keren." Denjaka tersebut mengulurkan tangan untuk berjabat yang langsung disambut berjabat oleh Zayin dengan semangat.


" Siap, No problem, suatu kehormatan saya bekerjasama dengan kalian, kalian awesome." Ungkap Zayin dengan cengiran lebar sambil mengangkat kedua jempolnya.


" Tapi, kalau Abang maksa balas Budi, latih saya agar bisa jadi seperti kalian." Pintanya polos.


Para anggota pasukan Denjaka terkekeh geli dengan antusiasme juniornya ini


Plak!!!.


Sang komandan menggeplak kepala Zayin sebal.


" Jangan modus, mengabdi harus ikhlas." Serunya.


" Siap. Ini ikhlas, Dan. Tapi si Abang yang maksa." Fitnah Zayin secara gantle.


Berhasil membuat anggota Denjaka tersebut melongo akan keberanian propaganda alay Zayin.


" Heh. Jangan ngadi-ngadi." Tuduh komandan menendang tulang kering Zayin, namun dia halau dengan mengangkat kakinya, alhasil sang komandan menendang angin


" Nice refleks." Puji sang Denjaka.


" Siap. Off course, pokoke saya harus jadi kayak Abang."


" Heh, pacaran dulu baru jadi Denjaka." Ujar asal sang komandan.


" Dih, mana ngaruh. Maksa banget suruh saya pacaran si Andan ini." Memang urat takut Zayin sudah putus.


" Andan, Andan. Komandan. Ya situ sejak masuk sampai sekarang cuma ngana di angkatan ngana yang belum pacaran, malu ni pasukan."


" Siap. Ck, cewek tu cuma ngeribetin, Dan. Mending single. Bebas ngfly." Jawab ngawur Zayin.


Keributan antar komandan dan Zayin hanya menjadi hiburan semata bagi pasukan elit tersebut melepas ketegangan setelah misi tadi, tanpa Zayin sadari selama ini dia berlatih dengan pasukan Denjaka.


****


Pranggg!!! buuukkk!!


Sura pacahan, dan lemparan dari ruangan Brotosedjo cukup membuat para pengawal waspada.


" Sial, siapa yang berani bermain api denganku? Cari dari mana kebocoran infomasi tentang kiriman itu." Wajah Brotosedjo memerah karena naik pitam.


Dia mendapat telpon sebuah peringatan dari rekan bisnis haramnya di Mexico tentang kiriman senjata, narkoba, dan minuman keras ilegalnya yang disabotase oleh pasukan angkatan laut RI, karena kejadian ini mereka rugi ratusan milyar dollar.


Brotosedjo menelpon seseorang," eksekusi rencana kita besok, jangan sampai gagal." Setelah memutus sambungan telpon Brotosedjo tertawa terbahak-bahak membayangkan kemenangan di depan matanya.


" Selamat tinggal anak muda." 


****


Kemarahan Brotosedjo terekam dilayar sebuah ruangan salah satu petinggi RaHasiYa.


Mereka tersenyum smirk," langkahi dulu mayat putrimu sebelum kau meracuni generasi Indonesia." Ucap Daniel.


" Nu, saatnya kita naikkan level konflik." Seru Alfaska dengan semangat.


" Istirahat aja dulu. Kasian mereka engap banget kayaknya." Ujar Ibnu santai.


" Dronenya udah mengirim data?" Tanya Alfaska.


" Udah beres. Belum ada pihak yang berani konfirmasi siapa penitip senjata ilegal itu." Ucap Daniel.


" itu diluar kewenangan kita bukan sih!?" Tanya Ibnu.


" Eh, Paijo. Apa yang kita lakukan ini juga diluar kewenangan kita, inget kita ngelakuain kerjaannya BIN deh kayaknya. Baik banget kita." Omel Alfaska.


****


Pukul 10.00 WIB. Daniel dan ayah Teddy hari ini menuju markas TNI guna uji coba robot anjing pelacak, dipertengahan jalan sang sopir mencurigai dua mobil Van hitam mengikuti mereka dari sejak mereka keluar dari gerbang rumah.


" Tuan, sepertinya kita dibuntuti mereka." Sang sopir mengarahkan spion dalam mobil ke kedua mobil di belakang mereka.


Daniel menekan tombol darurat di ponselnya, dan memasang earphone produksi RaHasiYa dan membuka saluran paralel menghubungi para sahabatnya.


Ibrahim, Fatih, dan Mumtaz sedang boarding time kala mendapat sinyal darurat dari ponselnya, dia memasang earphone bersaluran paralel di telinganya, terdengar percakapan diantara mereka.


" Dua mobil hitam Van membuntuti gue selagi menuju markas TNI." Lapor Daniel.


" Jeno, dan anak buahnya otw tempat Lo, ponsel Lo tetap nyala ok." Ucap Ibnu.


Ia meninggalkan secangkir susunya, mengambil kunci motornya bergegas menjemput Yuda.


" Gue udah kirim drone ke tempat Lo. Lo Masuk tol, Niel." Alfaska yang sudah berada di gedung RaHasiYa bertindak.


" shitt, satu mobil menjegal kita di jalan tol. Sepertinya mereka mensabotase laju tol karena jalanan kosong. Gue keluar, lawan mereka, karena ayah bersama gue."


" Niel, ambil satu orang temukan tanda identitas mereka. Kirim ke kita." Seru Mumtaz yang sudah duduk di tempatnya.


" Oke, anak buah Jeno telah sampai, dan bantu gue. Mereka ambil ketua timnya. Nu, gue kirim gambar tato mereka."  Daniel menekan satu lutut sisi rahang sang ketua.


" Bran, tangani dia." Titah Daniel kepada ketua pasukan gank yang menolongnya, dia beranjak menuju mobilnya.


" Pak, bawa ayah ke gedung RaHas.."


" S*al.  Berdasarkan tato yang Daniel kirim mereka menyerbu bersamaan ke beberapa titik. Niel, Lo langsung ke RaHasiYa."  Ujar Ibnu setelah beberapa saat mendapat gambar tatto identitas kelompok penyerang tersebut.


" Maksud Lo?" Tanya Alfaska berlari menuju lift yang mengantarkannya ke lantai sembilan.


" Gue di lantai sembilan. Buka semua lokasi daerah Jakarta. Nu, buka lokasi target mereka." Pinta Alfaska.


" Oh men. Mereka menuju ke butik Sandra, kediaman Pradapta, kediaman Birawa, dan kediaman mama Aida." Lapor Ibnu.


" Oke, gue pencar semua anak buah  ke lokasi tersebut." Jeno telah bergabung dengan mereka.


" Gue hubungi bang Dominiaz." Ucap Mumtaz.


" Muy, gak bakal sempat. Bang Dominiaz, dan om Gama di gedung Gata tv, sedangkan penyerang sudah mendekati area kediaman Pradapta. Lokasi Pradapta paling terdekat ke bandara." Balas Ibnu.


Mumtaz terdiam, hanya sejenak." Bang, Tih. Gue harus turun, kediaman Pradapta diserang orang, nanti gue susul." Ucap Mumtaz cepat.


Dia berlari menuruni tangga pesawat, dengan gesit berlari menuju tempat parkir dimana motornya berada.


" Siapa saja yang berada di kediaman Pradapta?" Tanya Mumtaz sembari mengendarai motornya.


" Para asisten, Tante Elena, dan Sisilia." Balas Ibnu hati-hati.


Mumtaz mengeratkan pegangannya di stang motornya, dia tambah kecepatan laju motornya...

__ADS_1


**jadi raeder aktif LIKE, KOMEN, VOTE, DAN KASIH HADIAH YA....


ENJOY IT**....


__ADS_2