Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 96. Peringatan.


__ADS_3

" Genks, sebelum nge-mall anter gue ke loker dulu ya, ada buku yang ketinggalan." Pinta Cassandra yang disanggupi oleh para sahabatnya saat meninggalkan ruang BEM yang diikuti para seniornya.


" Aaaaaakkhhh." Jeritan ketakutan dan wajah pucat Cassandra di depan lokernya membuat Jeno dan para temannya langsung berlari padanya tatkala melihat apa yang dilihat di dalam loker Casandra Jeno kemudian membalik badan lalu memeluk erat tubuh gemetar Casandra, lewat matanya Jeno mengkode para temannya agar mengamankan para bocil.


Bara dan Jeno menatap bangkai tikus dengan lumuran darah segar di loker Cassandra dengan ekspresi marah, Bara langsung mendatangi kampus begitu Jeno mengabari teror ini.


" Bang, lihat ini. Lihat bagian tangannya" Dewa mengarahkan laptopnya yang berisi rekaman cctv yang didapatnya dari ruang kontrol keamanan kampus, tertayang seorang perempuan berhoodie hitam panjang dengan rambut hitam legam sepanjang pinggang yang dilengkapi topi pantai menutupi sebagian wajahnya yang tidak cocok dikenakan ke kampus, bertato mawar hitam di sisi tangan sebelah kirinya menyelinap masuk gedung kedokteran dan menaruh bangkai tikus di loker Cassandra yang dibuka dengan kunci duplikat yang dititik fokuskan oleh Dewa.


" Thanks, Lo kirim ke petinggi RaHasiYa, dan minta mereka kumpul di RaHasiYa." Bara menganggukan kepala.


" Oke." Dewa langsung melaksanakan perintah Bara.


" Dimana para bocil sekarang?" 


" Ruang kuliah pintu 205." Jeno memasang police line agar TKP tidak dirusak.


" Bagaimana keadaan Cassandra?"


" Terakhir masih ketakutan, tapi Radit sedang menenangkan, sudah didatangkan dokter juga buat kasih obat penenang tadi dia panik dan ketakutan sekali."


Bara mengangguk-anggukan kepala. " thanks, amankan TKP gue susul bocil dulu." Bara melangkah meninggalkan Jeno yang mengangkat jempolnya.



Begitu pintu 205 dibuka oleh Bara para bocil yang masih menangis karena takut langsung menyerbu kepelukannya, tubuh besar nan tegap Bara sampai kewalahan menanggapinya.



" Bang, Lo harus tangkap orang yang jahati Cassy." Ujar Dista dengan wajah memohonnya meski raut ketakutannya masih tersisa, Bara hanya bisa mengangguk.



" Ini pada minggir dulu, Cassy-nya kejepit." Bara mencoba mengurai pelukan erat dari keempat bocil tersebut, yang langsung dipatuhi para bocil tersisa Cassandra yang masih sesenggukan didada bidang kekasihnya itu yang dibalas pelukan menenangkan penuh sayang oleh Bara sesekali embg cup pucuk kepalanya.



\*\*\*\*\*



Seusai pertemuan singkat tadi Zahra dan Zahira pamit, keduanya melangkah ke ruang inap yang ternyata diikuti oleh Hito dan para adiknya.



" Tante, kami pamit, ya." Mereka berdua mendekati Dewi dan Nadya, mencium punggung tangan mereka berdua.



" Ini hari Sabtu tumben kalian ada di sini?" Dewi bertanya heran.



" Tadi ada operasi darurat, pas mau istirahat dapat telpon dari Ibnu disuruh bergegas ke sini bilangannya ada penyusup ya kita langsung lari ke sini." Jelas Zahra sambil memeriksa ulang keadaan nenek secara seksama yang memang sudah stabil.



Tanpa sepengetahuannya Nenek memandanginya penuh arti.



Kalimat Zahra mengingatkan Mumtaz akan rasa tidak nyaman karena dia tidak tahu kakaknya sudah memiliki ponsel baru, sedangkan adik tanpa ikatan darahnya, Ibnu mengetahui itu.



" Yang, kamu sudah punya hp?" Hito mendekat padanya.



" Udah, belum lama." Zahra menegakkan tubuhnya berjalan mendekat dimana Zahira berdiri.



" Kok gak ngasih tahu?" Hito menengadahkan tangan meminta ponsel Zahra di depan seluruh keluarganya tanpa sungkan. Zahra tanpa beban memberikan ponselnya pada Hito.



" Kamu gak nanya, aku-nya juga lupa. Sudahlah aku balik dulu, mau tidur. Aku tindakan dari subuh tadi." Mereka berdua berjalan ke arah pintu.



" STOP!" titah Mumtaz yang sedang menerima panggilan telpon dari ponselnya, Zahra dan zahira yang langsung menghentikan geraknya.



" Jangan ada yang keluar dari ruangan ini, kembali ke ruangan tunggu." Meski heran, mereka menuruti permintaan Mumtaz.



Melihat Ibnu dan Mumtaz yang langsung sibuk dengan masing-masing laptopnya, mereka saling pandang bingung. " Ada apa?" Akbar membuka suara.



Melalui laptop Ibnu, Mumtaz menayangkan kronologi peneroran terhadap Cassandra di kampus, seluruh keluarga Hartadraja terkejut, Julia sudah menangis histeris dalam pelukan Damian, sedangkan Adgar langsung mengirim pesan pada Zayin tentang kejadian ini dan memintanya agar langsung ke kampus.



" Saya dapat kiriman dari Dewa, untuk sementara titik fokus kita pada tato si pelaku. Saya sudah meminta Dewa untuk mencetaknya dan menyebarkan pada anak RaHasiYa untuk mencari penattonya, biasanya mereka punya daftar nama pelanggan dan jenis tatto-nya. Saya juga sudah mengirim ke email kalian gambar tato tersebut." Jelas Mumtaz menatap mereka satu-persatu.



" Bang, apa kamu gak bisa langsung masuk ke komputer mereka? kalau mencari manual satu persatu akan memakan waktu." seru Adgar frustasi.



" Sedang diusahakan, hanya saja masih banyak tempat tatto yang masih pake cara manual dengan tulis tangan." Terang Ibnu.



" Bagaimana keadaan Cassy?" Kini Julia sudah tenang, stelah Damian meyakinkannya bahwa mereka akan menangkap pelakunya.



" Sudah membaik, Bara bersama mereka. Radit sudah menenangkannya." Ibnu membuka cctv ruang 205 yang diisi oleh empat perempuan dan anak RaHasiYa, dimana Bara dengan telaten dan sabar mendampingi Cassandra yang sedang ditangani oleh Radit didampingi seorang dokter.



" Apa kita bisa ke sana?" Damian tak tega membiarkan putri tercintanya menderita sendri meski dia yakin Bara akan melindungi putrinya.



" Sebaiknya jangan, Zayin dan anak RaHasiYa sedang memeriksa TKP, jika kita bersama ke sana dikhawatirkan merusak TKP hingga bukti tidak valid. dan mengingat apa yang terjadi dengan Nyonya, sebaiknya keluarga Hartadraja untuk sementara menahan diri dan berada dibawah pengawasan keamanan."



" Telpon, boleh?" Julia sungguh mengkhawatirkan putrinya, Ibnu menghubungi Bara dengan ponselnya yang anti sadap dan anti lacak kecuali oleh petinggi RaHasiYa.



" **Hallo, ada apa Nu**?"


__ADS_1


" Bara, ini Tante. Bisa bicara dengan Cassy?" Julia langsung bicara begitu sambungan diangkat.



" **Tentu. Sayang, Mama ingin bicara dengan kamu. Kamu mau?" Cassandra mengangguk pelan**.



" **Hallo, Ma**?" salam Cassandra denah Sura lemahnya.



" Sayang, apa kamu baik-baik saja?"



" **Lebih baik, Ma. Ayin belum bolehin Cassy buat pulang**."



" Gak apa-apa, kamu dengerin mereka dulu ya?"



" **Hmm, Mama, bagaimana keadaannya**?



"  Baik, Mama lagi nemenin Nebuy."



" **Ma, jangan bilang-bilang papa ya, entar papa larang Cassy ke kampus sebentar lagi mau UAS**."



 Julia meringis bingung, pasalnya mereka semua sedang memandanginya lewat cctv yang disiarkan Mumtaz.



Damian memberi kode supaya Julia mengiyakan saja," iya, kamu kalau sudah beres urusannya langsung pulang ya!?" 



" **Iya, Ma. Ma udahan dulu ya, Ayin udah melototi Cassy, dia larang kita buat berhubungan dengan orang luar dulu. Dia memang menyebalkan**!"  Cassandra menekankan kata terkahir dengan cibiran pada Zayin yang balas sentilan kecil dari Zayin yang membuatnya meringis, membuat Damian sempat berang kalau dia tak ingat pemuda itu anggota TNI dengan segudang prestasinya.



" Dimana Guadalupe sekarang?" Fatio bertanya dengan suara datarnya.



" Tempat tahanan Gaunzaga." Sahut Alfaska.



" Baiklah kita kesana." Fatio beranjak, didikuti yang lain setelah pamit terlebih dahulu pada Nenek, Dewi, dan Nadya.



Dalam lift Zahra dan Zahira berdiri tak nyaman seakan mereka dikawal oleh tentara, karena aura tegang yang mengitari lift tersebut yang berasal dari para pria yang ada.


Begitu pintu lift terbuka, Zahra dan Zahira langsung keluar terkesan kabur yang mengundang kekehan geli dari oara pria.


" Kakak, mau ke ruangan." Jelas Zahra begitu tangannya dicekal Mumtaz yang bertanya kenapa tidak menuju ke kendaraanya.


" Mumuy anter." Yang langsung diangguki oleh Zahra karena aura ketegasan dari Mumtaz


Kenyataannya tidak hanya Mumtaz yang mengantar Zahra tapi Hito, Adgar, Akbar dan juga para adiknya. Sedangkan para pria Hartadraja lainnya sudah diantar ke tempat tujuan oleh Leo.


" Pak Hito." Panggil seorang wanita muda dengan jas putih khas dokter.


Hito dan yang lain menoleh," ini." Mutia menyodorkan secangkir kopi hitam panas padanya, alis Hito terangkat sebelah tanpa mengambil kopi tersebut.


" Ini buat bapak, saya sudah menyiapkannya." Ucap Mutia dengan senyum manisnya, mengabaikan tatapan intens dari para pria yang ada disekitarnya.


Merasa bukan urusannya Zahra dan Zahira melanjutkan langkah mereka yang diikuti para adiknya dan juga Hito yang mengabaikan upaya perhatian dari Mutia.


Kesal karena diacuhkan Mutia tanpa malu menghalangi langkah dua dokter tersebut.


" Aku ingat mbak kan dokter yang mengejek aku murahan, sekarang kok kesannya mbak yang murahan ya karena dikelilingi para pria di rumah sakit lagi, mau nenjadika rumah sakit ini rumah bordir, mbak?" Ejek Mutia dengan wajah polos nan lugunya tanpa merasa bersalah tak menyadari tensi udara meningkat disekitarnya.


Para staf rumah sakit ternganga tak percaya atas tindakan bodoh dokter muda itu, Hingga mereka tak ada yang berani bergerak sedikitpun.


Kedua alis Zahra terangkat," kepada siapa omongan kamu itu ditujukan?" Zahra bersedekap menampilkan gestur pongah sekaligus menekan.


Menolak rasa takut, meski hati sudah ciut, Mutia balas menantang, para pria hanya memperhatikan dengan gestur mengancam.


" Tentu pa...ekhm." Mutia berdehem membersihkan tenggorokannya menghilangkan kegugupannya." Pada kalian berdua, tentu saja." Sewot Mutia.


Para adik langsung mengambil posisi melindungi dua dokter tersebut, menatap tajam Mutia yang langsung mangap-mangap tanpa kata karena takut.


" Minta maaf, Nona..." Daniel yang biasa santun, tanpa sungkan menarik jas putih Mutia untuk melihat name tagnya." Mutia Wibowo. Sebelum kuhancurkan sesuatu yang belum kau mulai."  Ancamknya dingin.


" Si...siapa anda, saya tidak punya urusan dengan anda, tapi dengan mereka berdua yang sengaja sengaja telah menghina saya" Tunjuknya dengan telunjuk yang dipelintir oleh Daniel tanpa sesal.


" aAw..aaws..aws..."


" Jaga sikap anda, sekali lagi kau tidak sopan kupatahkan jarimu." Daniel melepas jari telunjuk tersebut, Mutia memegangi telunjuknya dn gan ringisan sakit


Para pria menatap Zahra meminta kepastian," Zayin." sahutnya pelan, para pria mengangguk-angguk paham.


Dari belakang mereka datang secara tergopoh-gopoh, beberapa staf kepegawaian rumah sakit, dan matanya membola mendapati Mutia berurusan dengan mereka yang sangat berpengaruh.


" Maaf, apa ada yang mengganggu anda, Tuan?"


" Singkirkan dia dari hadapan kak Zahra dan kak Zahira, pastikan dia melakukan permohonan maaf diseluruh platform rumah sakit Atma Madina karena telah menghina dua dokter kebanggaan Atma Madina sebagai gadis murahan atau karir kalian hancur." Tukas Alfaska mempersilakan Zahra untuk melanjutkan langkahnya.


Zahra tersenyum miring," lihat dulu lawanmu sebelum berakting. Kalian harus pastikan attitudenya sebelum dia kembali berpraktek di rumah sakit ini." staf kepegawaian mengangguk paham.


" Baik."


Zahra dan Zahira kembali melangkah ke tempat tujuan mereka meninggalkan Mutia dengan wajah pucat pasinya. Menatap staf kepegawaian dengan ragu.


" Jangan berani menyentuhku, atau kalian akan ku laporkan pada papaku." Ancam mutia yang mendapat cebikan dari staf rumah sakit yang menyaksikan adegan tadi.


" Laporan saja, saya yakin kamu yang akan terkena sanksi." Ucap kepala kepegawaian.


****


Ruangan segi empat yang keseluruhannya terbuat dari kaca dengan interior mewah serba merah maroon kombinasi gold berdesain klasik era Raja Louis XIV, seorang wanita tua bergerak mondar-mandir gelisah meski ruangan sejuk dari pendingin ruangan tidak mampu menghalau terikan matahari dari pantulan kaca.


Tubuhnya menoleh tatkala pintu terbuka menghadirkan seorang pria kesayangan sepanjang hidupnya.


Senyum senang langsung terukir dibarengi rentangan tangan mengundang," Fatio, Amor. Mi Amor." Langkah besarnya langsung dihentikan oleh tatapan tajam Fatio.


Pandangan bingung dari Guadalupe, tersemat ternyata Fatio tidak datang hanya seorang diri tapi dengan anggota keluarga lainnya dan petinggi RaHasiYa.


" Fatio, siapa mereka?"


" Keluargaku."

__ADS_1


Guadalupe langsung tertawa senang," Fatio, aku tak menyangka bahwa kau langsung memperkenalkan aku pada keluargamu." 


Guadalupe dengan percaya diri mendekati Fatio," selangkah kau mendekatinya, saya laporkan keberadaan anda pada suami anda tercinta, Alejandro Gurman." Ucapan tajam berasal dari Mumtaz menghadang tepat dimuka Guadalupe.


Seketika raut Guadalupe panik, dengan gugup dia berbalik lalu duduk elegan di sofa panjang besar nan mewah.


Fatio mengambil duduk di sofa single tepat diseberang Guadalupe.


" Mengapa kau ingin menyakiti istriku?" Tuduh Fatio langsung dibarengi pengamatan yang tajam.


" Apa yang kau katakan?" Guadalupe menyematkan rambut rapihnya ke belakang telinganya.


" Hari ini tanpa ijin kau ke ruangan dimana istriku dirawat."


" Aku hanya ingin menjenguknya, bagaimanpun kita teman lama."


" Kau tidak sedekat itu dengannya!?"


" Tapi aku dekat bahkan melebihi teman denganmu, hanya demi masa lalu." Ucapnya mengedikan bahu.


" Dengan mencoba membunuhnya? Hardik Fatio mulai kehilangan kesabaran.


" Alu tidak membunuhnya? Atas dasar apa kau memfitnahku?"


Mumtaz melempar beberapa foto  ketika Guadalupe hendak memotong selang oksigen, Guadalupe berusaha bersikap tenang, meski sudah terpojok.


" Kenapa kau usik istriku?" hardik Fatio geram.


" Karena seharusnya bukan dia yang menjadi istrimu, tetapi aku." teriak balasannya dengan menunjuk dirinya sendiri 


" Dia mengambil kamu dariku, aku yang menjadi pacarmu, tetapi kenapa dia yang menjadi istrimu? Kenapa wanita kampungan itu yang menjadi istrimu?" Jerit Guadalupe bertenaga sampai urat lehernya terlihat.


" KARENA AKU MENCINTAINYA."


" BOHONG, aku tahu kau bohong. Kau mencintaiku hanya aku yang kau cintai. Dia hanya gadis kampung yang dijodohkan oleh orang tuamu, kau dipaksa menikahinya karena ancaman orang tuamu."


" Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, percayai apa yang kau pikirkan, tetapi aku lelaki yang tak mungkin menikahi seorang gadis tanpa perasaan selain aku menyayanginya."


" Lalu bagaimana denganku? Satu tahun kita menjalin kasih bahkan kau menghamiliku."


Terdengar tarikan nafas kaget dari keluarga Hartadraja," heh, menghamilimu? Bahkan menyentuhmu saja aku tidak pernah." Cemooh Fatio.


" Kau pikir aku tidak tahu siapa yang ku tiduri dimalam kau mencampur obat perangsang dalam minumanku sewaktu pesta liburan musim panas kampus? Istriku, aku menidurinya. Aku tahan gai.rahku sampai kutemui istriku, sedangkan yang menidurimu adalah  Javier, partner in crime mu." Lanjut Fatio.


Guadalupe menggeleng tak ingin percaya," tidak, itu tidak mungkin."


" Terserah kalau kau tidak percaya, tapi itu kenyataanya. Setelah aku meminum minuman sialan itu, Javier mendatangiku dan memberitahukan semua rencana busukmu yang ingin menjebakku untuk menghamilimu, dia mahasiswa miskin yang sialnya jatuh hati pada wanita ja.lang sepertimu yang bersedia menggantikan ku setelah aku membayarnya sebesar  $200, angka yang cukup tinggi kala itu. Bahkan dia yang membantuku untuk mendapatkan taxi agar aku bisa cepat melampiaskan efek dari obat sia,lan itu." Rahang Fatio mengeras, tangannya mengepal mengingat kejadian itu.


" Kau hanya memanipulasiku dan ingin lari dari tanggung jawabmu. Aku punya buktinya kalau kau meniduriku?"


" Benarkah? Tunjukan padaku. Kau pikir mengapa istriku begitu tenang sewaktu kau mendatangi kami dengan perut besar memintaku bertanggung jawab atas anak yang kau kandung 66 tahun yang lalu? Karena dia tahu itu bukan anakku, dia tahu kau Hanya mantanku yang tidak terima aku putuskan sehingga nekat menjebakku, yang terpenting dia tahu malam itu aku tidur dengannya."Jelas Fatio panjang lebar.


Ekspresi tenang nan santai yang ditunjukan Fatio mampu membuat Gaudalupe meragu.


Selanjutnya tangannya mengepal hingga memutih, matanya melotot, rahangnya beradu hingga berbunyi gemeletuk," kau akan merasakan pembalasanku karena sudah menghinaku."


" Aku tidak pernah menghinamu, kau sendiri yang menghina egomu dengan segala akal busukmu."


" Itu aku lakukan karena aku mencintaimu."


" Tapi aku tidak, dan aku tidak peduli perasaanmu."


Penolakan terang-terangan itu berhasil memicu amarah dalam hati Guadalupe.


" Tenangkan dirimu, Nyonya. Minumlah ini." Alfaska menyodorkan segelas besar air mineral kehadapan langsung wajah Guadalupe, keluarga Hartadraja mengerutkan kening heran melihat Alfaska sang tuan muda Atma Madina mau repot-repot memberikan lawannya minuman.


Tanpa curiga Guadalupe langsung menenggak habis minuman itu, yang mengundang senyum smirk tipis di bibir Alfaska.


Dua menit setelah air itu tandas, bermunculan kata demi kata dilayar besar di ruangan Alfaska yang secara otomatis membuat database sendiri bernama Guadalupe minds disamping database bernama Brotosedjo minds yang langsung tersimpan di pusat server RaHasiYa.


" Apa karena itu kau meneror cucuku?" Fatio masih menelisik ekspresi Guadalupe yang bingung.


" Meneror cucumu? Untuk apa? Aku hanya membenci istrimu, dimana aku menjadi istrimu aku akan mencintai seluruh keturunanmu."


" Dalam mimpimu. Jauhi keluargaku atau ku hancurkan seluruh keturunanmu."


" Hahahaha, lucu. Kau pikir kau bisa menyentuh suamiku? Kau jelas tak tahu siapa dia. Aku memang tak mencintainya, tapi aku bisa memanfaatkannya untuk mendapatkanmu karena dia sangat mencintaiku sampai dia percaya anak lelaki lain adalah anaknya. Hahaha." Tawanya yang menyebalkan membahana diruang segi empat ini.


Semua mata memandanginya marah," kau yang tidak tahu berapa besar kekuasaan ku, menyingkirkan dari hidupku selagi aku membiarkanmu hidup." Fatio merapihkan jasnya sebelum melangkah meninggalkan ruangan itu.


" Bebaskan dia, dan awasi dia." Titah Hito pada leo sebelum menyusul Fatio.


Tersisa Mumtaz yang menatap tajam Guadalupe di ruangan itu." Pergilah kau ke negaramu selagi aku mengasihanimu." Seru Mumtaz datar.


" Sepertinya kau mengenalku, dan kau pasti tahu kalau aku tidak bisa dipaksa."


" Aku tidak memaksamu, hanya memperingatkan mu supaya kau bisa menikmati masa tuamu dengan nyaman.


" Kau pikir kau siapa bisa mengacamku, anak muda. heh." Guadalupe tersenyum meremehkan.


" Aku bisa menjadi apapun yang kau inginkan termasuk malaikat pencabut nyawa mu jika kau tidak mengindahkan peringatanku."


Guadalupe berdiri tepat di depan wajah Mumtaz, meradang marah." Malaikat mautku? Bahkan bisa kupastikan kematianmu dan seluruh rakyat Indonesia berada dalam genggaman tanganku. Jika aku mau saat ini juga Sinolan Jaquino bisa memerangi indonesia dengan mudah."


" Lakukan, aku menantangmu. Hanya karena kalian bisa menguasai Meksiko kalian pikir Bisa menguasai Indonesia? Ku sarankan hilangkan pikiran itu atau kau mati di tiang gantung pusat kota Meksiko." Ancaman itu diucapkan Mumtaz dengan tenang, namun mengintimidasi. Setelah mengatakan itu Mumtaz meninggalkan ruangan tanpa mengetahui Fatio yang kembali mendengar semua itu.


" Kau dengar itu, Guadalupe. Pergilah, aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah lagi." 


Guadalupe, wanita cantik pujaan setiap pria di masanya mengabaikan penolakan Fatio yang berhasil dia dapatkan dengan susah payah di masa lalunya.


" Aku yang akan mengembalikan cinta mu padaku, dan satu-satunya jalan kau kembali padaku hanya kematian istrimu dan itu segera terjadi." Gumamnya tersenyum devil melangkah meninggalkan ruangan mewah tersebut.


Tanpa dia sadari setiap perkataannya terdengar oleh Alejandro Gurman yang sedang naik pitam, di belahan benua Amerika sana.


" Periksa DNA Rodrigo, berikan hasilnya padaku secepat mungkin. Aku akan membunuhmu jika kau terbukti mengkhianatiku." monolog Gurman.


****


Pukul 19.00 WIB. petinggi RaHasiYa sudah berkumpul dalam ruangan Ibnu atas permintaan Zayin.


" Ada apa? bukannya pertemuan kita pukul delapan nanti." Alfaska menyeka mulutnya dengan tisue seusai makan malam.


Zayin melempar beberapa amplop berlogo empat instansi pemerintah, mereka berempat mengernyit bertanya.


" Mereka meminta janji temu dengan kalian, Aku harap kalian meluangkan waktu."


" Di sini atau tidak sama sekali." tawar Daniel.


" Baiklah, kapan?"


" Lusa, sesudah shalat subuh."


" Ck, kenapa tidak sekalian dini hari." sindir Zayin.


" Karena kami sedang beristirahat."


" Senangnya masih bisa tidur nyaman ditengah negara diambang kehancuran." sarkas Zayin.


" Kenapa? menyesal menjadi tentara?" ledek Alfaska.


" Never."

__ADS_1


" Bos, keluarga Hartadraja telah berkumpul dilantai sembilan." interupsi Dewa melalui interkom.


Lima pemuda tersebut beranjak menemui klien mereka...


__ADS_2