
" Assalamualaikum." Salam Aryan diambang pintu, ia kembali ke pintu agar dua kakak-adik itu tidak mengetahui ia telah mencuri dengar moment mengharukan mereka.
Ibnu dan Khadafi melerai," wa'alaikumsalam." Mereka mencium tangan Aryan.
" Tumben sepi?" Padahal masih ada beberapa anak RaHasiYa yang berjaga bergiliran menjaga bergiliran rumah Aida.
" Yang lain di rumah Tante Edel, Ayu mendapat bully di sekolah."
Aryan tersentak kaget," bagaimana keadaan Ayu?"
" Baik, urusan juga sudah kelar."
" Pi, bisa masak?" Tanya Khadafi.
" Lumayanlah."
" Yang ada di sini semuanya gak bisa masak, Dafi mau masak tapi gak tahu mereka suka apa."
" Papi bantu, papi ganti baju dulu."
" Biar Inu aja, Pi. Papi istirahat."
" Papi bantu, Inu." Tegas Aryan, ia bertekad sejak kini ia yang akan memberi sesuatu dan menjadi sesuatu bagi dua saudara kandung yatim-piatu itu.
" Ya sudah, jangan ngegas. Inu bikinin teh anget dulu buat papi." Ibnu melangkah ke dapur.
" Emang papi terdengar ngegas?" Khadafi mengangguk tanpa sungkan.
" Bersihkan badan dulu, Pi. Supaya relaks." Seru Khadafi sebelum menyusul Ibnu ke dapur.
****
Usai shalat Maghrib Nando langsung menuju ruang kontrol, meretas sistem cctv villa yang ternyata memiliki sistem yang berbeda dengan CCTV produksi RaHasiYa lainnya.
" Sejak kapan RaHasiYa memiliki kamera cctv dengan tiga lapis lensa di titik yang berbeda? cukup menjadi jebakan batman." jari panjang Nando dengan luwes menari di atas keyboard komputer.
" Sedang apa?"
Suara Alfaska mengagetkan Nando yang sedang fokus dengan komputernya.
" Astagfirullah..." Tangannya mengusap dadanya.
Mata tajam Alfaska dapat menangkap lokasi yang sekarang sedang diamati oleh Nando.
" Ini villa Birawa, kan?"
" I..iya..." Jawab Nando dengan gugup.
" Kenapa kamu meretas villa? Bukankah sudah ada peraturan anak RaHasiYa tidak diperbolehkan meretas wilayah petinggi RaHasiYa?" Sambil bicara Alfaska mengirim pesan kepada Daniel untuk datang ke ruang kontrol.
" Maaf, ini urgent."
" Katakan?" Tangan Alfaska sudah bersedekap dada.
" Ada apa?" Tanya Daniel dari arah belakang mereka.
" Nando masuk ke sistem cctv villa Lo."
"Memang bisa? Itu salah satu produk keamanan terbaru yang dibuat Ibnu."
" Ini sedang usaha, bos."
" Sudah berapa lama?"
" Secara teknis dua sampai tiga jam-an."
" Dan belum berhasil" tebak Daniel.
" Ada apa?"
Nando mengusap tengkuknya menghilangkan kegugupannya.
" Sebenarnya hanya random saja ini terkait bang Zayin."
" Kenapa dia?"
" Bukankah bang Zayin bilang akan menghukum setiap orang yang melukai keluarganya? Bukankah saat ini nyonya Sandra menjadi salah satu pelakunya?" Nando mengajukan pertanyaan retorika dengan gusar.
Seketika udara ruangan meningkat tajam," kalau begitu teruskan, jika kamu merasa tidak mampu, jangan sungkan minta bantuan bang Ibnu."
" Siap, bos."
" Saat dipanggil buat makan malam harus hadir, jangan ngeyel." Seru Alfaska sambil melangkah ke luar ruangan bersama Daniel.
" Siap." Nando melanjutkan apa yang sudah dimulainya.
Cukup lama Nando berkutat dengan komputer, bahkan ia merasa putus asa dan hendak meminta bantuan Ibnu karena ia merasa dalam keadaan berlomba dengan waktu.
Dalam waktu lama dia mengenal Zayin, dia tahu Zayin tidak akan membuang satu detik pun terlewat dengan percuma.
" Ya Tuhanku, bisa nggak sih itu empat orang jangan berpikir mulu, hasil pikirannya menyusahkan." Gerutunya tiada habis sejak 30 menit yang lalu.
Matanya membesar dan berbinar saat ia berhasil masuk ke sistem keamanan villa, dan saatnya dia mencari kode jaringan cctv yang memperlihatkan dimana Sandra berada.
Masing-masing kamera memiliki kode tersendiri sebagai jalan untuk membuka kode guna melihat tangkapan kamera itu sendiri.
" Anjr1t, ribet amat ini cctv." Itu merupakan umpatan yang kesekian dari Nando.
Beberapa menit kemudian matanya berbinar saat berhasil menangkap sosok Sandra yang terduduk di depan televisi besar sesekali mengusap ujung matanya dengan tissue.
" Do, makan." Teriak seseorang dari luar.
Nando melihat jam di atas meja menunjukan pukul 19.06 wib. Saat Nando menoleh ke pintu, gambar berkedip, dan kembali normal.
" Iya, gue ke sana. Tanggung." Balas teriaknya.
Tanpa menaruh curiga pada tangkapan layarnya, Nando segera mentransfer kerjaannya ke tabsnya, dia berniat mengawasi Sandra, meski dia tidak menyukainya, namun dia lakukan untuk Alfaska.
Setelah selesai Nando beranjak keruang makan sambil menenteng tabs tersebut dimana semua orang sudah berkumpul.
*****
Pada pukul 19.06 wib. seseorang berucap," done."
" Good." Ujar Zayin yang sedang bersiap memasuki villa Birawa.
" Gue kasih Lo waktu 5 menit buat nyeberang pekarangan, 15 menit buat eksekusi Sandra dan sedikit pertambahan waktu kalau Lo ingin berdrama dahulu." Seru Bayu.
" Lo kerajaannya apa, Will?" Tanya Zayin skeptis.
" Gue? Lo gak lihat badan model gue kotor habis muter ini villa." Sewot William.
" Ya santai, gue kan cuma nanya."
" Pertanyaan Lo itu seakan gue makan gaji buta tahu. Padahal dari sore kita nangkring di sini."
" Ya maaf kalau Lo tersungging."
" Tersinggung. Debat the end. Lo mulai dari...sekarang. move." Titah Bayu.
Zayin dengan santai, pasti, dan perlahan menaiki pagar samping villa, mengikuti arahan Bayu, dia dengan mudah bisa menerobos dan mendobrak jendela, dan melihat target yang duduk sambil sesenggukan menangis karena apa yang dia tonton di televisi.
*****
Saat makan sesekali Nando melirik tabsnya yang masih menampilkan gambar Sandra dengan posisi yang sama, makin lama perasaan Nando makin tidak baik.
Dia menaruh sendok dan mengangsurkan piring lebih jauh darinya, dia mengambil tabs, dan dengan seksama memperhatikan gambar tersebut dengan teliti.
Makin lama kejanggalan itu kian nyata, setelah dia mengamati, dan menemukannya, " sh1**, si4lan." Umpatnya.
Melupakan tatakram, Nando beranjak lalu berlari ke arah rumah belakang menghalau orang yang menghalangi jalannya.
Mumtaz dan para sahabat serta yang lain terlonjak karena terkejut, lantas mereka pun mengikuti Nando ke rumah belakang.
Di sana Nando sudah sibuk dengan komputernya.
" Ada apa?" Tanya Mumtaz dengan suara tenangnya.
Nando dan menggeleng," bang, maafkan saya." Suara Nando bergetar.
Merasa ada yang tidak baik, Ibnu menepuk pundak Nando, ujung matanya melihat apa yang tertampak dalam layar.
" Minggir." Titah Ibnu.
Tanpa perlawanan, Nando melipir ke belakang kursi yang diambil alih oleh Ibnu beserta komputernya.
Hanya butuh dua menit bagi Ibnu melihat apa yang terjadi diri ruang tengah villa tersebut.
Zayin sedang membenturkan lengan atas Sandra tanpa menghiraukan rintihan kesakitan dari wanita paruh baya tersebut.
Tubuh Ibnu menegang, Alfaska yang mengenali suara ibunya mendekat, melihat apa yang tersaji nafasnya tercekat, seketika dia lupa bagaimana cara bernafas, matanya memerah, menahan panasnya emosi.
Para orang tua dan sahabat lain yang melihat gestur dua sahabatnya, dan mendengar jeritan dari komputer turut mendekat.
Tiba-tiba suhu ruangan meningkat tajam, hanya bisa melihat Apa yang Zayin lakukan tanpa bersuara, semua pasang mata mengikuti setiap gerak Zayin dengan ringisan tertahan.
" No, lo pergi ke sana." Suara Mumtaz menghentakan semuanya.
" Rio, Lo bisa temani, dia dengan beberapa anak RaHasiYa."
Sepeninggal mereka berdua ruangan kembali senyap.
Sepanjang adegan di depannya Hanna menangis histeris, Teddy langsung memeluk istrinya memalingkan wajahnya dari komputer.
Sedangkan Aryan berdiri terpaku meneliti wajah Zayin yang tiada ekspresi saat melakukan semua kekej4m4nnya kepada wanita yang masih berstatus istrinya.
__ADS_1
Setelahnya, mereka masih terdiam, masih syok akan tindakan ekstrim Zayin.
Mumtaz mengepalkan kedua tangannya, ia memejamkan matanya menahan rasa bersalah.
" Maaf!" Ucapnya menundukkan kepala.
" Jangan ucapkan kata itu, itu balasan yang setimpal untuknya." ucap datar Alfaska, matanya masih memandangi komputer.
" Bagaimana bisa Zayin yang begitu dielukan oleh Ayu bisa setega itu? Aida tidak..."
" Hentikan bunda, jangan bawa-bawa Mama. Jangan buat masalah baru." Potong Daniel, ujung matanya melirik pada Mumtaz yang tangannya sedang digenggam erat oleh Ibnu.
Satu hal yang Daniel tidak suka, ia merasa menjadi orang asing jika keduanya saling memahami tanpa kata, ia cemburu! Sebagai saudara!
Hal itupun dirasakan oleh Alfaska yang melihat respon cepat Ibnu yang langsung berdiri disamping Mumtaz seakan siap menjadi benten saat mendengar perkataan bunda.
Sedangkan Bara, tangannya yang berada dalam saku jeans sudah terkepal menandakan dia kesal akan ucapan agresif bunda.
" Aniel, bunda tidak bermaksud mencela dia, tapi apa yang dia lakukan kepada..."
" Semuanya pasti ada alasannya, aku percaya adikku." Daniel tidak ingin bundanya menjadi Sandra kedua yang mengacaukan keluarga berharganya ini.
Alfaska berbalik badan, menatap mereka semua." sebagai Kakak, saya melarang siapa saja mengomentari atau berbicara selain yang baik-baik tentang Zayin."
Bunda terkejut akan reaksi Alfaska," Afa, bunda tahu Mami sudah banyak melakukan kesalahan, tetapi dia tidak patut diperlakukan seperti itu, dia tetap Ibu..."
" Ayah, bawa bunda ke kamarku, kita bicara di sana." Pinta Daniel.
" Kita tunggu konfirmasi langsung dari Zayin, agar tidak ada kesalahpahaman." Tukas Bara.
Hanna terdiam tidak bisa berkata akan reaksi tidak empati mereka terhadap keadaan Sandra, Teddy hanya bisa menggiring Hanna keluar dari ruangan.
Suasana ruangan masih tegang meski itu sudah berlangsung beberpa menit sejak Hanna pergi.
" Ini...ada apa? Kenapa semuanya berkumpul di sini?"
Suara lembut Ayu menghilangkan suasana tegang nan kaku diantara mereka.
Haikal yang berdiri paling belakang, mendorong pelan Ayu agar kembali keluar, " enggak ada apa-apa. Ayu mau apa ke sini, katanya gak mau kesini masih malu sama bang Ibnu." Haikal mengalihkan perhatian Ayunda dari dalam ruangan.
" Iya, sih. Tapi dari tadi aku telpon bang Ayin, tapi enggak diangkat."
Mereka berjalan kembali ke rumah depan meninggalkan ruang kontrol kembali sunyi.
" Atas nama Zayin, aku minta maaf!" Mumtaz membungkukkan badannya yang membuat semuanya terkejut, sedangkan Alfaska naik pitam.
BUGH!!! BUGH!!!
Alfaska meninjv wajah Mumtaz lalu menyeranganya" Lawan gue, b4ngs4t. kita sudah berjanji tidka ada kata maaf diantara saudara, tapi Lo..." bahkan saking sakit dadanya merasakan perasaan yang bercampur antara ibunya dan Zayin, Alfaska tidak bisa berkata.
" Kalau Lo benci gue, bilang. tapi jangan pernah berkata maaf! kalau tidak bersalah, Ayin tidka bersalah. Setiap kamu mengucapkan Kata itu hati aku sakit, Muy. sakit! aku gak suka." amuk Alfaska mengeluarkan unek-uneknya.
Aryan mendatangi Alfaska lalu memeluknya, ia merasa putranya butuh pijakan agar tetap bertahan.
" Berhenti mengucapkan kata itu, aku mohon!!" lirihnya membalas pelukan Aryan dengan erat.
Haikal masih menghibur Ayunda yang wajahnya terlihat bosan." Mau ngapain?"
" Minta anter ke pasar malam."
" Kan ada Dafi."
" Kalau cuma berdua, males. Nanti dikira pacaran."
" Ya bagus, dia ganteng. supaya yang kemarin ngatain kamu mingkem."
" Enggak gitu juga strateginya, masa tiap detik ganti. Gak elegan sekali."
" Yu, ayok katanya mau ke pasar malam." Ajak Khadafi dari ruang tamu.
" Kamu mau jalan sama aku?"
" Emang kenapa?"
" Aku lagi tenar loh."
" Ya bagus, jalan sama selebritis.", Ayunda berdecak sebal mendengar sindiran Khadafi
" Ayok ih, nanti keburu malem." Khadafi melebarkan jaket Ayunda agar dia mengenakannya.
Dengan bantuan Khadafi yang memegangi jaketnya Ayunda dengan mudah mengenakan jaket tersebut.
Setelahnya tangan Ayunda mengapit tangan khadafi yang tidak ditolaknya, mereka dengan saling lempar senyum keluar dari rumah mengabaikan keberadaan Haikal.
" Woy, salam. Di sini masih ada orang." Pekik Haikal kesal.
Di belakanganya Ibnu berdiri memperhatikan interaksi mesra antara adiknya dan ayunda untuk pertama kalinya dengan tatapan nanar.
" Sejak kapan mereka sedekat itu?" Gumam Ibnu yang didengar Rizal.
" Au ah, pusing." Ibnu meneruskan langkahnya ke ruang tamu.
Cklek...
Daniel berdiri dengan tangan dalam saku seakan menjaga jarak dari Ibunya, ia menatap ibunya yang masih menangis.
" Aniel,...kenapa semuanya menjadi seperti ini?"
" Mengapa bunda menyembunyikan Mami? Bunda tahu, itu sangat mengecewakan Ayin." Balik tnaya Daniel.
" Dia bilang pada akhir kaum konglomerat akan menyelamatkan sesama komunitasnya tidak peduli sejahat apa orang itu, dan sebaik apa yang enjadi korban."
" Kau tahu bunda apa yang paling mengecewakan, kau telah memberi garis batas antara kita dengan mereka, orang-orang yang telah menyelamatkan nyawa putramu untuk wanita tidak bertanggungjawab sekelas Mami. Dan aku tidak menyukainya!" Tekan Daniel.
Hanna tertegun, tidak menyangka reaksi anaknya yang berbalik menyerangnya.
" Dia sahabat bunda, tentu bunda harus menjaganya dari orang yang ingin mencelakainya."
" Dan itu naif, Bun. Kenapa bunda tidak menasihatinya sejak dulu alih-alih menyembunyikannya seperti pengecut. Nasihati dia menjadi ibu yang baik bagi Afa, bukan membawanya lari, itu sudah terlambat."
" Dan satu hal yang harus bunda catat, Zayin tidak mencelakainya, dia membayar tuntas apa yang dilakukan Mami pada keluarganya." Tukas Daniel.
" Daniel, kamu lebih membela keluarga ini?"
" BUNDA.", Bantah Daniel tidak bisa memahami cara berpikir bundanya.
" DANIEL!" Tegur Teddy tegas.
Daniel menghembuskan nafasnya yang terasa berat." Bunda, keluarga ini sama berartinya dengan kalian, bunda memang melahirkan ku, tapi nilai-nilai kehidupan aku dapatkan dari Mama Aida."
" Tidak bisa ku pungkiri dibanding Afa, dan Bara. Aku yang lebih beruntung karena kalian masih berperan aktif sebagai orang tua, tetapi kalian tidak bisa menampik ayah zein dan mama Aida yang selalu ada disaat kami butuh.
" Ada waktu dimana aku merasa runtuh, mereka saling bergantian menjaga kami, bahkan kak Ala tidak pernah bermain sepulang sekolah karena harus merawat kami sementara kalian sibuk kerja. Dan adakah mereka mengeluh?" Tatapan Daniel lurus menembus iris orang tuanya.
" Tidak! Bahkan mereka menyediakan kamar untuk kami supaya kami merasa tidak sendiri."
Teddy dan Hanna tertegun menyadari hal itu, Daniel meruap kedua tangan Hanna dan Teddy dalam satu tumpukan.
" Aku sama sekali tidak mengeluh dengan kesibukan kalian, sungguh. tapi karena kesibukan itu menempatkan mama Aida dengan beban yang lebih dalam mengurus kami. hargailah hal itu."
" Bunda, ayah. Kalian tahu kan betapa merasa bersalahnya aku pada Afa,
Jika saja ada salah satu usaha Afa menghabisi nyawanya berhasil, maka putra kebanggaanmu ini sudah tiada," Terdengar tarikan nafas tercekat dari Hanna.
" jadi please, jangan merubah pandangan kalian kepada mereka hanya karena satu tindakan yang kalian rasa berat, bandingkan dengan kesusahan mereka saat mengurus kami."
" Tapi Daniel, apa yang dilakukan Zayin itu..."
Daniel beranjak menjauh, menatap tajam Hanna yang terlihat kaget akan perubahan Daniel.
" Bunda, jika bunda tidak bisa menerima perbuatan Zayin, bunda bisa pergi dari sini, dan jangan pernah injakan kaki di sini lagi."
Hanna tercengang, dia terkejut." Daniel, kamu terlalu berlebih-lebihan." Ucap teddy.
" Tidak ada yang berlebihan untuk saudaraku, dan aku serius bunda, jika kamu tidak menyukai Zayin, kamu bisa pulang saat ini juga. Aku tidak ingin keluarga ini kembali mendapatkan perkataan yang memojokkan mereka."
Nando didudukan di kursi berhadapan dengan para bosnya.
" Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bara dengan aura yang mengintimidasi.
" Aku terlambat menyadari jika gambar yang tertayang yang kupikir *live* ternyata adalah rekaman yang terus berulang-ulang secara otomatis dalam waktu tujuh menitan sekali putar."
" Bagaimana dengan cctv luar villa? masa kamu tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka sedari tadi?"
" Bang, mereka sama jagonya dengan kalian, dan aku masih kesusahan masuk ke sistem cctv yang mana mereka punya kode tersendiri. Aku baru bisa buka lokasi Nyonya Sandra."
" Zayin tidak sendiri, *damn it*. kita gak tahu sama sekali tentang circle pertemanan Ayin." rungut Bara.
" Dan jangan coba-coba mencari tahu." peringat Mumtaz dingin.
__ADS_1
" Tidak akan, Nu?" Bara meminta penjelasan mengapa cctv villa Birawa diganti.
" Ayah yang minta, beliau bilang villa yang itu mau dijadikan gudang penyimpanan rahasia perusahaan yang ternyata di kota besar sudah tidak lagi efektif mengingat perang cyber semakin kencang."
" Lo gak tahu sama sekali tentang hal ini, Muy?"
" Tahulah, supaya gue tahu apa kelemahan sistem itu, gue pikir ini khusus bank atau kantor pertahanan negara."
" Memang untuk itu tapi kita buat khusus untuk ayah mengingat rahasia ayah berkaitan dengan alutsista dan teknologi lainnya." jelas Ibnu.
" Ini ada apa?" tanya Daniel sambil menuruni tangga.
" Gak serius, cuma interogasi Nando." jawab Bara.
" Bagiamana dengan bunda?" tanya Ibnu.
" Gak gimana-gimana, cuma syok mental aja dikit."
" Sekarang kita tinggal menunggu Zayin pulang." ucap Yuda.
\*\*\*\*\*\*\*\*
Zayin berjalan santai ke arah tenda yang didirikan dua sahabatnya di kebun tidak jauh dari villa seolah tidak melakukan hal yang memilukan.
Senyumnya tersungging ramah dari bibinya saat berpapasan dengan penduduk setempat.
" Lama Lo, cuma nyebrang halaman sepetak butuh waktu hampir satu jam." Omel Bayu yang sedang memanggang daging di atas bara.
" Kan kudu hati-hati, Atut ada ular." Ucap Zayin bergidig sok ketakutan.
" Lebay Lo." Sungut William yang duduk bersantai di atas bangku lipat.
" Btw, kayaknya kalian betah tinggal di sini." Sarkas Zayin melihat sikap santai keduanya.
" Lebih baik daripada terakhir kita nguntit." Kata Bayu menyuapi Zayin daging yang baru matang.
" Sampai kapan kita di sini?" Tanya William ditengah kunyahannya.
" Tunggulah bentar lagi, mereka pasti ngirim orang buat kesini." Zayin duduk di kursi lipat yang disediakan untuknya.
" Untuk apa? Mubadzir kan ya." Ucap William.
Zayin mengangkat bahunya," perasaan protektif akut mereka saja." Mata Zayin menatap api unggun dengan tatapan menerawang karena seuatu.
" Tolong...tolong..." Dari arah villa terdengar jeritan panik dari suara wanita yang berhambur keluar ke pos satpam.
" Sepertinya mereka sudah menemukan target Lo." Kata Bayu.
" Hmm." Gumamnya sambil meneguk cola dari kalengnya.
" Kalau kalian kena sanksi akibat dari ini limpahkan semuanya ke gue, jangan sok solider. Paham!?" Ujar Zayin menatap tajam keduanya.
" Ck, gak bakal ketahuan, kecuali Lo payah saat masuk sana." Ledek William.
" Dilarang mengabaikan hal yang tidak terduga." Ucpa Bayu, selanjutnya hanya obrolan ringan yang terjadi seakan mereka sedang berkemah di musim panas saat akhir Januari.
" Selang satu jam setengah terdengar deru beberapa motor memasuki villa.
" Saatnya cabut." Seru Zayin di atas motornya yang sudah diduduki sejak 10 menit yang lalu.
" Yo,...sampai ketemu lagi." William menutup kaca helmnya lalu melajukan motornya dikegelapan malam.
Saat belokan jalan, seakan slow motion, motor Zayin berpapasan dengan motor terakhir RaHasiYa, melalui sela full face helm yang tidak tertutup pandangannya beradu dengan milik Jeno dan Rio yang hendak ke villa tak jauh di belakang mereka.
Kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan lokasi.
\*\*\*\*
Pukul 01.20 wib.
Zayin memarkirkan motornya di halaman rumah, sambil bersiul masuk ke rumah, dan langkah kakinya terhenti kala melihat hampir seluruh penghuni rumah masih terjaga dan duduk di ruang tamu.
Semua pandangan mata menatapnya," sepertinya kalian menungguku? *so sweet*." sindirnya sambil tersenyum smirk. Zayin berjalan ke meja makan untuk mengambil satu kursi.
Meletakkannya ditengah-tengah mereka kemudian duduk di atasnya, bersilang kaki dengan kedua tangan dilipat di dada.
Matanya memandangi satu persatu orang itu dengan berani menyimpan suatu tantangan, aura tegang tidka bisa dielakkan.
" Kalian pasti ingin mendengar penjelasan mengapa aku melakukan itu padanya?"
" Iya, kau benar. Maukah kau jelaskan?" tanya Bara hati-hati berusaha tidak menyinggung perasaannya.
Zayin masih menatap mereka, " tidak masalah, asalkan ini bukan hanya formalitas semata. aku ingin memastikan tidak ada satupun diantara isi kepala kalian yang sudah mengambil kesimpulan."
" Sebelum bertanya lebih lanjut, tunggu sebentar ada hal yang ingin aku ambil."
Zayin naik ke lantai dua dimana kamarnya berada, tidak lama dia membawa satu kardus yang terlihat berat dan ditaruh di atas meja menyingkirkan semua piring dan gelas yang sebelumnya mengisi meja.
Mereka semua menatap kardus itu bak menyimpan harta Karun....
__ADS_1