Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 130. Mencari...


__ADS_3

Navarro memijit pangkal hidungnya setelah menerima laporan dari anak buahnya yang mengabarkan kegagalan pengiriman senjatanya.


ia lantas menelpon seseorang," hallo."


" Hallo."


" Mengapa barang ku bisa tidak lolos? kau sudah menerima banyak dariku, tuan!"


" Sebenarnya semuanya sudah berjalan sesuai rencana, tetapi ada pihak yang membocorkan pada T.N.I. di sini saya tidak punya peran."


" Saya tidak menerima alasan, akan kau rasakan akibatnya."


" Tuan..."


klik!!


Navarro menutup sambungan telponnya.


" Semuanya tidak berguna."


Drrt!! drrt!!!


Navarro menghela nafas kasar saat melihat siapa yang menelponnya.


" Hallo."


" Bagaimana rasanya menjadi seorang pengecut? hah!"


Rahangnya mengetat," apa yang ingin kau bicarakan?"


" Sebentar lagi dunia akan tahu pengkhianatanmu."


" Tutup mulutmu, atau ku robek Jan.tung mu."


" Setelah apa yang terjadi, kau masih mengancam ku? hehehe, ini sedikit pembalasanku karena berani masuk ke situs ku. Sebaiknya kau cari dimana putrimu, Navarro. Los adios!!"


klik!!


Di seberang sana menutup sepihak sambungan telponnya.


" AARRGGHH... Bagaimana bisa jadi begini!!" pekiknya.


Navarro menelpon Eric meminta pertanggungjawabannya.


******


Eric menuruni tangga dengan langkah elegan dengan penampilan formal yang rapih sempurna, langkahnya menuju ruang makan terhenti saat melihat Sivia yang duduk santai diruang tengah dengan tabs ditangan.


Tanpa permisi, Eric merebut tabs tersebut.


" Kau ini, masih pagi sudah..." Ucapannya terhenti kala melihat berita yang sedang ditonton Sivia.


Buku jarinya mengepal sampai memutih, rahangnya mengeras, matanya memerah. Sivia yang melihat gestur Eric melipir menjauh.


Brakhh!!!!


Tabs itu hancur berserakan di lantai.


" Si.al!! damn it!!! Akan ku bu.nuh siapapun yang membocorkan informasi kepada mereka." Raung Eric.


Ia lantas menelpon Mateo, asistennya.


" Kenapa kamu tidak memberitahukan ku tentang apa yang terjadi semalam?" Tudingnya begitu sambungan telpon diangkat.


" Saya sudah menghubungi anda, tetapi tidak anda jawab. Saya sudah mengirim pesan di email dan Wa anda."


Eric menutup telponnya, tak berapa lama ponselnya bergetar, helaan nafas tak terelakkan saat dia lihat siapa yang menelponnya.


" Hallo."


" Kau,.... Gonzalez. Seharusnya aku tidak pernah mempercayaimu." Ucapan dengan kemarahan itu membuat jengah Eric.


" Berhenti memarahiku seakan-akan aku anak buah tolol mu itu, dan kau, jangan pernah membohongi ku. Putrimu tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia."


" Apa maksudmu?."


" Aku sudah mengecek kemanapun tidak ada nama putrimu yang masuk ke Indonesia dari Italia."


" Tunda mengenai putriku, sekarang yang kau lakukan adalah memberitahu media beberapa peja.bat yang melakukan tindakan kerah putih."


" Serius?"


" kini saatnya kita tunjukan siapa diri kita pada penjilat itu."


" Terserah."


klik!!


Eric sangat k soal akan kejadian hari ini, dia pikir hari ini adalah hari keberuntungannya, ternyata kesialannya belum juga berakhir.


Tatapannya beralih kepada Sivia yang hendak pergi, " berhenti kau di sana." Telunjuknya menunjuk lurus Sivia.


Sivia sontak berhenti. butuh pelampiasan kemarahannya, Eric mencengkram kerah belakang Sivia lalu menariknya.


" Kya... tolong...papa, apa salahku, kenapa kau bersikap kasar padaku." Sivia meronta-ronta memegangi kerah bajunya.


" DIAM!!"


" Papa, ini gak fair. Kalau kamu melampiaskan kemarahan mu padaku karena kesalahan orang lain."


Geram karena perlawanan Sivia, Eric mengangkat tangannya hendak menampar, Sivia memejamkan matanya saat tangan Eric hendak menyentuh pipinya


BUGH!!!


BUGH!!!


Untuk sesaat Sivia mematung, dia meraba pipinya yang tidak merasakan apapun. Bola matanya melebar begitu melihat apa yang terjadi di depannya.


Kakaknya menduduki perut ayahnya sambil terus melayangkan ha.jaran sedemikian rupa wajah ayahnya bengep, namun kakaknya belum juga berhenti. 


Para pelayan dan kepala pelayan hanya bisa menonton.


" Ka... kakak..stop. Papa bisa mati." Sivia mencoba menarik-narik tangan Raul.


" Kemasi pakaianmu sekarang."


" A..apa?" Sivia bingung.


" Kemasi pakaianmu sekarang, kita pergi dari sini. CEPAT!!"


Sivia pun terbirit-birit lari takut untuk membantah.


Raul mencengkeram kerah kemeja Eric,


" Jangan pernah berani menyentuh keluarga ku lagi, masa jaya mu telah usai, pria tua!"


Setelah puas menyalurkan kemarahannya, Raul mengakhirinya dengan menen.dang perut Eric.


" Jangan lakukan apapun sebelum saya dan nona Sivia keluar dari rumah ini."


Kepala pelayan mengangguk patuh," baik, tuan." Kepalanya menunduk.


Berselang 15 menit Sivia telah siap dengan dua koper besarnya.


" Kak..." Cicit Sivia masih takut pada kakaknya.


Raul melirik Sivia ditengah fokusnya pada sebundel berkas ditangannya, ia menutup berkas tersebut lalu memerintah pelayan untuk membawa koper Sivia.


" Ayo."


" Kita mau kemana?"  Sivia berlari kecil menyamai langkah besar Raul.


" Jangan cerewet." Sivia hanya mendengkus.


****


" Beberapa Minggu lalu Adgar, sekarang kamu. Saya tidak merasa punya urusan pribadi dengan kalian? Dan hubungan bisnis kita adem ayem saja perasaan." 


Damar tertawa kecil menanggapi gerutuan pria tua di hadapannya.


" Sepertinya wanita simpanan mu menyimpan buronan di rumah yang kau sewa, Paman."


Ernest mengernyit bingung." Wanita yang mana?"


" Amara."


" Apa yang dia lakukan?"


" Menampung Tamara di rumahnya, dan aku ingin kau mengusirnya."


" Kenapa?"


" Paman pasti tahu kalau nenek diculik."


" Aku turut menyesal akan musibah  itu."


Damar mengangguk," terima kasih. Dan Tamara terlibat di dalamnya."


" Dan dia bersembunyi di rumah Amara guna kabur dari kalian?"


" Bisa jadi."


" Apa hubungan Amara dengan ja.lang itu?"


" Dia putrinya."


Mata Ernest terbeliak," kau sedang melucu."


" Tidak, saya serius."


" Apa yang terjadi padaku jika aku tidak mengusirnya."


" Paman akan berhadapan dengan RaHasiYa dan Gaunzaga sekaligus."


Ernest langsung melontarkan sumpah serapah. Ia menelpon anak buahnya untuk membereskan persoalan ini.


" Anggap semuanya selesai."


" Terima kasih, paman."


" No problem. Btw, ku pikir pertemuan ini membahas tentang Amara, mengingat dia mantan kamu."


Damar terkekeh," dia hanya aib masa lalu saya, pastikan saja dia tidak mendekati keluarga saya."


Ernest pun hanya mengangguk saja.


******


Brakh!!!


Amara terdorong ke belakang begitu pintu di dorong agar terbuka lebar oleh beberapa orang berbadan kekar.


" Mau apa kalian, kalian siapa?"


" Kami utusan tuan Ernest untuk mengusir wanita yang kau sembunyikan."


" Apa maksudmu?"


" Jangan bertele-tele, dimana dia? Atau kalian berdua yang akan keluar dari rumah ini sekarang juga, apa pilihanmu nyonya."


" Dia di sana." Tunjuknya pada satu kamar dekat dapur.


Satu orang mendobrak pintu kamar yang berhasil membangunkan Tamara dari tidur nyenyaknya.


" Ada apa...hekkkh." kata-katanya tidak bisa dilanjutkan, karena nafasnya tercekat akibat tarikan ditangannya yang kuat oleh tangan kekar.


Kopernya dibawa oleh yang lain.


Tamara masih linglung, bahkan nyawanya belum terkumpul sempurna.


" Ma, ada apa ini?"


" Kau harus pergi, tuanku tidak menyukaimu."


" Ma, kau tidak bisa mengusirku."


" Tentu bisa, daripada aku menjadi gembel gara-gara menampungmu."


" MAMA..." 


" Sudahlah, bawa dia pergi."


Mengabaikan kata-kata kotor dan teriakan Tamara, pria kekar itu menarik paksa Tamara lalu dimasukkannya kedalam mobil SUV berwarna putih.


 Sedan hitam mengikuti kepergian SUV tersebut.


Di daerah jembatan lima, Tamara diturunkan dengan hanya kopernya saja.


" Brengsek!!"


" Sial benar nasib ja.lang itu." Gumam seseorang dibalik kemudi sedan.


*****


"MUMTAZ... Mumtaz!!" Panggil Dewi panik sembari nyelonong masuk ke dalam rumah.


" Tante, ada apa?"


" Mana Mumtaz." Dewi mengabaikan pertanyaan Raja.


" Di belakang."


Dewi menarik tangan Raja," tunjukan dimana?"


Tok!! Tok!!


" Ada apa?" Tanya Daniel.


Raja didorong Dewi kesamping sampai dia terhuyung.


Daniel yang melihat tindakan Dewi memberi ruang Dewi untuk masuk ruangan.


" Muy." Panggil Daniel, Mumtaz yang duduk di sebelah Ibnu yang sedang mengamati area hutan hasil tangkapan drone menoleh.


" Tante." Mumtaz menghampiri Dewi.


" Bagaimana keadaan Zahra?"


" Duduk, Tan." Mumtaz menarik satu kursi untuk di duduki Dewi.


" Mum,

__ADS_1


 " Mereka baik-baik saja, Tante jangan khawatir."


" Kapan kalian akan membebaskan mereka?"


" Om Hito, bang Domin, dan bang Samud sedang dalam perjalanan menuju lokasi." Ucapan tenang dari Mumtaz berhasil menenangkan hati Dewi.


" Kamu gak benci kami, kan?"


" Enggak, Tante. Kalau saya benci Tante, siapa yang ngasih makan kami!!"


Dewi memukul lengan Mumtaz pelan.


" Kamu, bisa saja." Seulas senyum terpatri dari Dewi yang dibalas oleh Mumtaz.


" Ma, kita pulang yuk, mereka sedang sibuk." Suara Aznan dari arah pintu menginterupsi keakraban mereka.


*****


" Turun!!" Sri dan Zahra tersentak dari tidur mereka.


Zahra mengamati sekitar yang hanya terdiri dari pepohonan besar dan tinggi.


" Jalan!!" Penculik mendorong punggung Zahra dan Sri.


" Santai bung."


Langkah Sri semakin lama semakin memendek karena faktor kelelahan.


" Bisa kita istirahat?" Mohon Sri.


" Tidak!"


Jalan yang menanjak membuatmya tak lagi sanggup melangkah, ia memegangi kedua lututnya lalu mengambil nafas.


" Jalan!!" Karena tidak siap, Sri tersungkur akibat dorongan penculik.


" HEI..." Zahra berteriak nyalang.


" HEI..." balas penculik.


" Di kota mungkin wilayahmu, tetapi ini hutan apa yang bisa kau lakukan di sini, wanita?" Penculik itu tersenyum smirk.


" Akan ku buat kau menyesal menculik kami, idi.ot." Zahra mengucapkan itu tepat dimuka wajah penculik bertato.


Zahra memeriksa kaki Sri, begitu memijit pergelangan kaki kiri, Sri menjerit.


" Tahan, nek. Kaki nenek terkilir."


"  Aaawwsss." Pekiknya membahana hutan. Begitu Zahra memijit pusat sakitnya.


" Kalau kalian ingin cepat, gendong beliau. Kaki beliau terkilir." Sentak Zahra.


Tak mau membuang waktu, penculik menggendong Sri dipunggungnya.



Jeno dan Cs yang mengendarai trailnya menyusuri hutan mendengar sayup-sayup raungan teriakan kesakitan itu, lantas dia melajukan motornya lebih cepat diikuti para anak buahnya tepat dibelakangnya.



\*\*\*\*



Di dalam pesawat pribadi menuju palang.karaya, Hito masih menatap gambar bolpoin Zahra, dia ingin memantapkan hatinya bahwa kekasihnya baik-baik saja.



Hasil rapat membuahkan kesepakatan Gaunzaga yang akan terjun di lapangan, sementara petinggi RaHasiYa sebagai intelijen berdasarkan pengintaian drone tanpa awak mereka.



" To, kita pasti membebaskan mereka." Samudera sangat tidak nyaman akan situasi hening di antara mereka.



" Lo lagi ngapain?" Tanya Samudera pada Dominiaz.



" Lagi mempelajari lokasi yang dikirim Ibnu."



" Kenapa gak bilang?"



" Gak nanya."



\*\*\*\*



Di dalam pesawat militer Airbus yang membawa mereka ke palang.karaya, Arvan dan pasukannya pun mengamati area hutan hasil tangkapan drone Lewat masing-masing tabsnya.



" Era digital bahkan hutan pun bukan hal yang sulit lagi untuk dilalui. Udah gak asik lagi." Keluh salah satu dari mereka.



" Yeah, teruslah bermimpi hutan itu layaknya jalan jenderal Sudirman." Sarkas Arvan.



"  Perhatikan. Operasi kita kali ini membebaskan dua perempuan dari para penculik, informasi penculik dapat dibaca di masing-masing tabs." sang komandan memberi arahan.



" Sedangkan korban, nyonya Sri Hartadraja, dan profesor Aulia Zahratul Kamilah. gambar keduanya pun dapat dilihat dari tabs."



" Para penculik dilengkapi senjata lengkap, dicurigai merupakan bagian sindikat internasional penjualan narkoba, dan senjata ilegal untuk wilayah Asia tenggara dan timur."



" Dari pelaku yang tertangkap, mereka memiliki senjata yang sama dengan pemberontak."



" Kalian bisa menembak mati para pelaku, selamatkan hidup-hidup sandera, operasi ini bersifat hitam." Tukas sang komandan.



Para prajurit yang terdiri dari sebelas personil fokus mempelajari informasi terkait penculikan.



Mereka akui kinerja intelijen RaHasiYa yang dinilai detil dan akurat.



" Tak heran mereka sehebat ini, ada Birawa di belakang mereka." Seru salah satu personil.




Para personil telah bersiaga dengan parasut mereka masing-masing.



\*\*\*\*\*



Zahra dan Sri duduk berselonjor di lantai dingin dalam tenda, keduanya sangat kelelahan.



" Nek, minta ke tolilet."



" Ngapain?"



" Main boneka."



" Ck, ngambekan."



Sri menoleh pada penjaga,



" Hei, dimana toilet?" Sri bertanya pada penjaga mereka.



" Di luar."



" Saya ingin pup."



" Bisakah ditahan?"



" Bagaimana kalau saya pup di baju kamu?"



" Saya lelah."



" Biar saya yang mengantarnya." Tawar Zahra.



" Baiklah." Penjaga tersebut membuka pintu tenda.



Dalam toilet Zahra mengeluarkan sesuatu benda kecil berbentuk bulat, lalu menyerahkannya kedalam saku training Sri.



" Ini apa?"



" Alat pelacak."



Sri menatap bingung Zahra.



" Nek, mumpung kita masih dekat dari hunian warga, salah satu diantara kita harus bebas, dan itu nenek."



" Bagaimana denganmu?"



" Aku akan baik-baik saja, asal nenek benar-benar pergi menjauh dari mereka, terus minta pertolongan untuk menghubungi anak RaHasiYa."



Zahra menyimpan kartu namanya yang sudah ditulisi nomor petinggi RaHasiYa dan Hito.



" Zahra..."



" Nek, ini harus dilakukan sebelum kita keluar dari Indonesia. hemm?"



Melihat permohonan dari iris mata Zahra mau tidak mau Sri mengangguk.



" Ayo kota keluar."



Cuaca cerah sangat membantu Jeno Cs dengan mengikuti jejak ban truk.


Trail mempermudah mereka menapaki Medan berlumpur nan licin sambil sesekali berhenti untuk menoreh tanda jalan di sisi setapak dilalui begitu mereka semakin masuk ke pelosok hutan.


Ragad, Jeno, Jarud, Derry, memarkirkan motor mereka beberapa meter dari segerombolan orang yang berkumpul sambil menenteng senjata.


Dengan kamera DSLR, Jarud memotret apa yang terjadi di depannya.


" Oke, kita sembunyikan dulu motornya, baru berpencar." Ujar Jeno.


" Ngapain?" Tanya Ragad.


" Main gaplek." Celetuk jarud. Sambil mendorong motor, lalu ditutupinya dengan dahan-dahan besar. Begitu dengan yang lain.


" Der, Lo pernah ke sini?" Tanya Jeno.


" Lewat hutan ini beberapa kali, tapi gue baru lihat yang ini."

__ADS_1


" Persiapkan bomnya." Titah Jeno.


" Bom?" Derry terkejut.


" Apa Lo pikir kita ngehadapin mereka pake bambu runcing?"


" Ya kagak juga." Derry memperlihatkan pistol, beberapa belati dan alat tajam lainnya dari dalam ranselnya.


" Ck, itu hanya untuk penjagaan, tapi untuk menghancurkan harus bom."


" Ini." Jeno memberi beberapa bola kecil pada Derry.


" Ini apa?"


" Bom."


Derry menatap takjub bola kecil tersebut.


" Caranya?"


" Tinggal lempar." Jawab Jarud.


" Kayak ngelempar petasan?"


" Heeh." Timpal Ragad.


" Oke kita buka peta."


Mereka berempat berbagi posisi dari empat arah angin.


Ditengah keseriusan membagi posisi, Jarud menangkap dua wanita yang berjalan ke arah sebuah toilet.


Untuk memastikan dia memotretnya dengan kamera.


" No, lihat. Ini kak Ara dan nyonya Sri." Dia menzoom gambar dua wanita tersebut meski gambarnya pecah, namun masih bisa menangkap ciri-ciri penting Zahra dan Sri.


Mereka berempat tertegun menatap gambar, mereka tidak menyangka akan menemukan Zahra dan Sri dengan mudah.


" Oke, kita berpencar. Der, Lo bisa lempar bom jika keadaan mendesak."


" Siap."


" Oke kita bergerak."


Mereka berempat berpencar sambil menyabet penghalang jalan berjalan menuju posisi yang sudah disepakati.



" Nek, nenek belum menjawab pertanyaan aku waktu di mobil."



" Pertanyaan apa?"



" Kenapa nenek tidak menyetujui aku dengan Hito, kalau nenek tidak membenciku."



" Karena masa lalu."



" Hah?"



" saya dengan kakek menikah karena dijodohkan, untuk tahun-tahun awal pernikahan Fatio tidak pernah menganggap saya ada, setelah diselidiki ternyata dia memiliki kekasih."



Tatapan nenek menerawang pada puluhan tahun lalu dimana perkawinan mereka sangat menyedihkan



" Sewaktu di Amerika hampir tiap hari Fatio pulang malam dengan alasan sibuk kuliah, saya nekat mencari tahu, disitulah saya tahu Fatio memiliki pacar." suaranya sendu.



" Tidak ingin terjebak dalam pernikahan yang konyol, saya berniat bertemu dengan pacarnya dan setelahnya meminta pisah dari Fatio."



" Tapi semuanya saya urungkan begitu tahu pacar Fatio hanya seorang pelayan club, dan berpindah dari pelukan satu pria ke pria lain. saya tahu Fatio sudah mengecewakan saya, tetapi saya tidak sudi menyerahkan Fatio pada perempuan nakal itu. Fatio terlalu baik untuk dia."



" Apakah wanita itu Guadalupe?" Sri mengangguk.



" Suatu hari dia mendatangi kediaman kami dengan aksesoris mewah dari atas kepala sampai kaki. dia mengatakan hal-hal yang menyakitkan bagi saya sebagai istri, tetapi saya tidak bisa membalasnya karena semua kata-katanya benar adanya. Meski saya yang dinikahi Fatio, tetapi dia yang dimanja Fatio bahkan apa yang ada di dirinya merupakan pemberian Fatio, sedangkan saya anting perak saya tidak pernah dibelikan."



" Dia tidak bisa kehilangan tambang emas untuk hidupnya dan akan memastikan Fatio menceraikan saya, dia mengatakan dia hamil anak Fatio. itu yang paling menyakitkan karena saat itu Fatio tidak pernah menyentuh saya."



" Lalu?"



" Sial bagi dia, ternyata Fatio mendengar satu hinaan dia pada saya dan pengakuannya dibalik pintu, tentu Fatio murka, dia menarik paksa Guadalupe keluar dari rumah kami."



" Nenek berpikir aku hanya ingin harta kak Hito?" tebak Zahra.



Sri menunduk," Maaf."



" Tidak, tidak. jangan minta maaf, jangan buat aku merasa bersalah, nek."



Sri mengambil satu tangan Zahra dia menepuk-nepuknya lembut.



" Zahra, terima kasih sudah mencintai cucuku, maaf sudah banyak menyakiti kamu dan keluarga kamu. jangan balaskan kejahatanku pada Hito, tetapi padaku saja."



Sri menangis tergugu," nek, pleaseee..."



" Ra..."



" Nek, maukah nenek merestui aku dengan kak Hito? dia sudah ngebet banget buat nikahin aku, tapi aku gak bisa kalau nenek belum merestui kami."



Sri terkekeh," dasar gombal, itu cincin berlian sudah di jari manis kamu."



" Kasihan aja ngelamar terus."



" Soumbong!"



Sri menatap serius Zahra," menikahlah dengannya, berbahagialah kalian berdua."



" Ooh nenek, terima kasih. *I love you full*." Zahra memeluk erat Sri dengan haru.



Duar!!! duarr!!



Suasana haru mereka dirusak oleh ledakan besar dari luar.



Zahra merangkul Sri menenangkan yang mana tubuh Sri sudah gemetar ketakutan.



Sambil membuka jalan, empat orang terus mendekat dari posisi mereka masing-masing butuh waktu dua jam bagi mereka di posisi aman, namun bisa menangkap semua pergerakan lawan.


Jeno mengeluarkan drone kecil tanpa awak memantau keadaan kamp di hadapannya.


Tiba-tiba terdengar suara runtutan tembakan, Jeno menarik drone tersebut.


Dari arah berlarinya para penculik dia tahu orang yang terkena masalah adalah Derry.


Jeno, Ragad, dan Jarud lantas segera mengambil tindakan.


Ragad mengeluarkan drone pembawa bom lalu menerbangkannya  ke dalam area kamp.


Ragad mengarahkan drone tersebut pada beberapa tenda yang sering dikunjungi oleh beberapa kawanan penculik lalu menjatuhkan beberapa bola kecil, terakhir drone itu menjatuhkan beberapa bola lagi tepat di tengah lapangan.


Derry merutuki dirinya yang gegabah bergerak terlalu dekat ditambah dia menginjak beberapa ranting yang akhirnya memicu curiga para penjaga.


Dalam keadaan panik, dia hanya bisa berdiri di tempat sementara dari tempatnya dia bisa melihat beberapa orang berlari ke arahnya.


"Lari, bodoh. Kenapa diam bae." Jarud menarik tangan Derry.


Derry tersentak dia pun mengikuti langkah lari Jarud.


Para kawanan penculik melihat mereka berdua, lantas mengejarnya sambil berteriak-teriak meminta bala bantuan para rekan lainnya.


Dibelakang mereka semakin banyak orang yang mengejar mereka.


Duar!!! Duarrr!!


Para prajurit yang sudah berada di hutan langsung bergerak begitu mendengar suara ledakan.


Dengan perlengkapan senjata lengkap siaga mereka menyisir hutan dengan langkah fokus.




Penculik bertatto memasuki tenda dimana Zahra dan Sri berada.



" Berdiri, kita pergi."



" Tidak mau. kau lihat anak buahku sudah menemukan kalian, matilah kalian." Zahra mendamprat penculik.



" Diam! cepat bangun." mereka berdua tetap bergeming, kesal akan tingkah dua sanderanya ini penculik bertatto itu memanggul Sri dan menyeret Zahra.



" Adududuh, aduh. woy sakit." pekik Zahra.



" Berdiri."



" Iya, lepas dulu." penculik melepas tangan Zahra, kemudian Zahra beranjak meninggalkan dia. penculik hanya menghela nafas kasar.



ketika di luar tenda dapat dilihat para kawanan penculik berlarian, ada yang mengejar penyusup, menyembunyikan barang berharga mereka dalam penyamaran kayu, dan menjaga kamp.



Beberapa penculik kabur menjaga Zahra dan Sri lewat jalan rahasia, sedangkan yang lain masih mencari kawanan Jeno dan mengamankan kamp mereka.



Dalam perjalanan, Zahra memutar otak bagaimana cara agar Sri bisa lari.



Dor!!! dor!!!



Suara tembakan yang begitu dekat semakin membuat suasana mencekam



penculik bertato menurunkan Sri untuk bertiarap, sementara mereka sibuk melawan pihak penembak.



Satu tindakan bodoh dari penculik, hal ini dimanfaatkan Zahra dan Sri untuk kabur.



Zahra menuntun Sri untuk berlari, kaki Sri yang terkilir memperlambat gerak mereka.



Di saat mereka terlalu fokus untuk kabur, tiba-tiba ada tangan mencengkeram tangan Zahra.


__ADS_1


" Kau, ternyata lebih menyebalkan." desis penculik, Zahra dan Sri mematung. Mereka tertangkap kembali...


__ADS_2