
" Apa kami harus mengeluarkan mereka berdua?" tanya julia pada Zayin yang duduk bersama Adgar di kantor yayasan selepas rapat guru.
" Tidak perlu, bahkan mereka kalau bisa jangan diskors, itu hanya menguntungkan mereka lari dari masalah ini, saya ingin mereka menikmati rasa malu dan insecure seperti yang Ayu rasakan, Tante."
" Apa Tante sendiri yang akan menghukum mereka?"
" Tentu saja, Maslah bully ini membuat Tante sangsi kepada staf sekolah, Tante akan melakukan investigasi rahasia untuk menemukan mengapa bully ada di sekolah ini."
" Maaf, Tante nama sekolah ini tercemar."
" Itu resiko kelalaian kami, dan kamu benar diskors bukan jalan yang tepat untuk anak bermasalah, Tante akan membuat keputusan hukuman sosial bagi pelaku bully."
" Semua saya serahkan kepada Tante, yang saya minta pastikan mereka besok dan seterusnya untuk tetap masuk."
" Apa kamu akan masih menindaklanjuti rencana kamu?"
" Tentu, Tan. saya paling benci perempuan yang selalu menilai seseorang dari visualnya."
" Saya izinkan, tapi pastikan jangan melanggar hukum."
" Saya hanya membalas sesuai yang mereka lakukan, saya sudah punya rekaman kejahatan mereka."
" Saya tidak akan bertanya darimana atau bagaimana kamu mendapatkannya." sindir Julia.
Zayin terkekeh pelan," Tante tidak akan ingin tahu."
*****
Selepas subuh Hanna langsung memboyong Sandra ke villanya untuk bersembunyi dari kejaran Zayin yang sedang dalam mode menakutkan.
Hanna menaruh laptop ke atas meja kecil depan bangku yang diduduki Sandra di mobil SUV putih menuju puncak.
" Sepanjang jalan, dan waktu senggang Lo di villa Lo tonton rekaman Alfaska dari awal tragedi sampai akhirnya mereka saling membutuhkan, ups salah, Afa yang butuh mereka."
" Dulu gue sudah pernah nonton ." Ucap Sandra santai.
" Itu baru beberapa saja, ini di awal sampai akhir. Kalau habis ini Lo masih belegug kayak gini, fixed Lo memang titisan set4n berbentuk manusia." Dengkus Hanna.
Hanna memilih villa Birawa yang terletak di tempat terpencil namun asri di daerah puncak untuk menjadi tempat aman bagi Sandra.
" San."
" Apa?" Mata Sandra menonton isi laptop dengan seksama yang mana di sana terlihat Alfaska yang menangis meraung histeris bagai orang g1l4.
" Mereka, Zein, dan keluarganya. Bukan orang miskin seperti yang Lo pikir. Keluarga mereka orang terpandang dan berpengaruh di Banten dalam dunia kajian agama, tidak ada yang tidak mengenal Abuya KH. Ardani Romli." Hanna mulai membuka pembicaraan mengenai keluarga Mumtaz.
" Huh, bagaimana bisa?" Sandra merespon sepele berita tersebut.
" Aida, putri Abuya yang tersingkirkan, tetapi masalah mereka sudah selesai. Zahra cs menerima warisan dengan segudang kekayaan baik bergerak maupun tidak."
" Sebenarnya tanpa itupun dengan penghasilan Mumtaz sebagai seorang ahli komputer bisa membiayai kehidupan mewah mereka, andai mereka memilih hidup hedonis, tetapi mereka tidak menginginkannya."
" Berapa memang penghasilan dia?"
" Dua kali lipat dibanding penghasilan gabungan Afa, Bara dan Daniel."
Sandra mempause video, lalu memandang Hanna dengan tatapan tidak percaya.
" You're kidding me."
" Nope, Afa sendiri yang memberitahu rincian penghasilan Mumtaz."
" Tapi kenapa mereka memilih..."
" Hidup sederhana? Terlihat miskin di mata Lo dan nyonya besar Hartadraja." Retoriknya tajam.
" Itu semua ajaran Aida, sewaktu gue bertanya pada Aida mengapa tidak membangun rumah lebih besar? Jawabnya simpel, karena hanya segini yang kami perlukan dan butuhkan."
" Padahal mereka bisa membangun rumah dua kali lebih besar daripada rumah Lo."
" Kata Daniel dia punya hutan, hutan ya bukan taman!" Tekannya," yang dijadikan tempat latihan anak RaHasiYa, makanya RaHasiYa sekarang tidak hanya dikenal sebagi perusahaan digital, dan teknologi canggih, tetapi juga penyedia jasa keamanan."
" Dia juga memiliki beberapa perkebunan kelapa sawit, perusahaan memproduksi CPO, lahan penghasil gandum, dan masih banyak lagi. taraf dari bisnis ini sudah eksport."
Sandra tertegun mendengarnya." Punya dia sendiri?"
" Entahlah, Daniel terkesan merahasiakan bisnisnya diluar Birawa tekno."
" Belum lagi Zahra yang merupakan profesional ahli yang menjadi rebutan rumah sakit di banyak negara, 60% penghasilannya didedikasikan untuk pengobatan warga tidak mampu, karena berkali-kali Mumtaz menekankan pengeluaran kakaknya dia yang membiayainya selaku kepala keluarga."
" Zayin, selain sebagai abdi negara, juga membuka beberapa tempat les eksakta, khususnya matematika, menggratiskan bagi warga tidak mampu tanpa syarat. Selain itu dia termasuk salah satu anggota organisasi matematika internasional."
" Tia, yang sering Lo tuduh memoroti uang Afa, merupakan gadis yang dijamin keuangannya oleh ketiga kakaknya, dia tidak membutuhkan Afa hanya untuk menikmati kehidupan mewah.
" Gue tahu itu dari catatan punya Daniel, mereka mengorek kehidupan keluarga Aida dan keluarga saat mereka menghilang sewaktu Aida meninggal. Gue yakin informasi tentang mereka lebih dari itu, tapi Daniel enggan memberitahu gue."
" Apalagi sekarang Atma Madina bangkrut akibat ulah Lo, kita lihat apa mereka membuang Afa atau tidak."
" Untuk apa Lo beritahukan semua ini?"
" Lo salah milih lawan, Sis. Mereka punya kekayaan, kekuasaan, dan kekuatan, satu prinsip yang mereka pegang, selama itu makhluk, pantang untuk ditakuti. Lo kalau disentil mereka, dan mereka meladeni Lo, sudah m4ti masuk jurang Lo." Cemooh Hanna.
" Apa menurut Lo, Zayin akan melepaskan gue andai Afa memintanya?" Terbesit rasa khawatir dihatinya.
Hanna menggeleng," malam tadi Afa hampir mengamuk membalas kelakuan Lo, tapi keburu dicegah. Lo sudah menghilangkan ikatan Lo dengan satu-satunya putra Lo."
Sandra menghembuskan nafasnya yang terasa lelah.
" Sekarang susah sendiri kan Lo, makanya otak itu dipake bukan cuma buat jadi aksesoris organ tubuh doang." sewot Hanna.
Tring...
Hanna melihat pesan masuk yang menampilkan potongan video beberapa kelakuan Sandra terhadap keluarga Aida, dari pertama, hingga terakhir kemarin.
" Sh1**, San. Lo memang jahat." Gumam Hanna yang didengar Sandra.
Dari ujung matanya Sandra dapat melihat apa yang Hanna lihat.
Sisa perjalanan dilalui dalam keheningan, setelah menerima video itu Hanna mulai meragukan apakah keputusannya menyembunyikan Sandra tepat.
Setiba di lokasi hampir pukul 10 siang, Hanna langsung meminta asistennya
untuk menemani dan memenuhi kebutuhan Sandra selama di sana, ia bergegas balik karena hatinya tidak tenang.
Meninggalkan Sandra yang masih menonton video itu diruang keluarga dengan raut sendu.
*****
Begitu Mumtaz dan Ibnu merasa sudah baikan mereka merengek minta pulang yang terpaksa Zahra kabulkan karena kebisingan rengekan Mereka yang tiada akhir.
Di rumah mereka langsung menuju ruang kontrol, untuk membuka Cctv sekolah yang ternyata tidak berhasil.
__ADS_1
" Sial, pasti Ayin minta Nando untuk membolck sistem cctv itu." gerutu Daniel.
" Muy, ini bukan perkerjaan sulit buat Lo." ucap Alfaska.
" Tapi gue gak mau, kita sudah bersepakat, dia yang membalas apa yang terjadi saat ini." jawab Mumtaz tenang.
Sampai menjelang sore masih tidak ada kabar dari Ayunda, dan telpon ke Nando pun tidak dijawab, Mumtaz dan para sahabat yang berkumpul di ruang tamu terus merasa gelisah.
" Assalamualaikum." Nando memasuki ruangan terlihat sangat kacau.
" Sorry, bang. Gue lama, sumpah si Ayu kalau sudah di mall kayak orang norak yang belum pernah nge-mall." Gerutu Nando jengkel, sambil mengeluarkan laptop dari ranselnya.
" Kenapa Lo?" Tanya Daniel.
" Sepulang sekolah bang Zayin ngajak kita ke mall untuk merayakan keberanian Ayu atas temannya, tetapi dipertengahan dia malah meninggalkan kita dengan kartu debit unlimitednya, dan kalap lah adik Lo itu." terang Nando.
" Lo yang mematikan sistem cctv sekolah?" Tanya Alfaska.
Nando meringis, " sorry, atas permintaan bang Zayin. Gue sangat takut kepada kalian, tapi damage bang Zayin juga tidak bisa diabaikan." Ungkapnya penuh sesal.
Nando menayangkan rekaman hari ini di sekolah, para sahabat menyaksikannya secara khusu tanpa suara.
" Itu tangan Ayu, kenapa diperban?" Tanya Ibnu.
Sebelum menjawab Nando melepaskan nafasnya dengan berat enggan memberitahu mengingat sikap protektif mereka.
" Kemarin Jessica menyiram kuah soto panas padanya."
Semua pasang mata membola," apa? Jangan bilang di sekolah dia di-bully" tanya Daniel gusar.
" Hanya Jessica dan csnya yang selalu mengganggu dia, selama ini anak genk selalu bisa melindunginya, tetapi kemarin mereka kebanyakan dari mereka sibuk mempersiapkan olimpiade."
" Dan Lo gak bilang ke kita?" Suara dingin Mumtaz cukup membuat Nando tidak nyaman.
" Dilarang Ayu, dia bilang kalian sudah cukup sibuk dan dipusingkan dengan segudang urusan kalian, jadi dia tidak mau menambah beban kalian."
Semuanya menghela nafas dengan gusar merasa lalai melindungi adik bungsu mereka.
" Kini dimana dia?" Wajah Daniel sudah suram.
" Di rumah kak Eidelweis, disuruh kesini dia tidak mau. Tapi bang Zayin melarang dia pulang kalau om dan Tante belum pulang."
Wajah mereka berubah senang karena bangga saat melihat Ayu berani menghadapi si Jessica di kantin, dan tidak bersimpati SMA sekali kepada Mela yang berdiri mematung dengan pucat karena perkataan Zayin.
" Kalian pasti sudah tahu apa yang terjadi pada keduanya." Tanya Nando yang diangguki mereka.
" Hmm, gue pribadi masa bodo, gak tahu mantan gebetannya." Sarkas Alfaska dingin kepada Ibnu.
Saat ini, berita keduanya sedang viral dimasyarakat, julukan untk Jessica adalah g3rmo cilik, sedangkan untuk Mela adalah sudah J3l3k sad woman lagi.
" Iya, gue salah kejebak itu cewek." Rungut Ibnu tidak melepaskan pandangan dari gambar Ayunda.
" Gue pernah bilang, kalau Lo gak suka Ayu jangan PHP-in dia. Meski Lo sahabat gue, selaku kakak gue gak akan segan-segan menc4bik-c4bik lo" Sewot Daniel.
" Sorry, maaf, gak akan gue ulangi lagi." Ucap Ibnu menyesal.
" Cih, bohong. Dulu, pas Ayu protes, Lo pernah ngomong bakal jauhin itu cewek j3lek, tapi mana? Sedikit dirayu langsung meleyot Lo." tuding Alfaska tidak kalah sewot.
" Ayunda sudah meminta om Teddy untuk melakukan sesuatu kepada keluarga Jessica, dan dalam waktu satu jam berita mengenai kebangkrutan keluarganya sudah menyebar di media bisnis nasional." Terang Nando, memperlihatkan file yang berisi artikel terkait bisnis keluarga Jessica.
" Sekarang bagaimana suasana sekolah untuk Ayu?" Tanya Mumtaz.
" Kondusif, beberapa siswi yang kemari turut membullynya sudah meminta maaf, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Nando
Nando menggeleng," tidak ada, mereka tahu Ayu dalam perlindungan Genk BIBA."
Tanpa kata Mumtaz beranjak keluar rumah," mau kemana? Tanya Alfaska.
" Ke rumah kak Edel mengecek keadaan Ayunda."
Mereka semua pun turut beranjak, saat Ibnu hendak melangkah Daniel melarangnya." Nu, Lo jangan ikut. semua Lo penyebabnya."
Ibnu kembali duduk dengan raut muram, tidak habis akal, dengan menggunakan laptopnya dia masuk ke jaringan sistem cctv rumah Eidelweis, menghabiskan waktu dengan memperhatikan Ayunda, saking khusunya tidak menyadari saat Nando berlalu dari ruang itu menuju ruang kontrol Mumtaz di rumah belakang, hatinya resah memikirkan Zayin yang dalam aura berbeda, yaitu aura berbahaya.
****
Pukul 15.00 wib. Hanna memasuki ruang kerja Teddy atas permintaan suaminya, perasaan Hanna tidak enak.
" Assalamualaikum, sayang." Hana mencium pipi kiri dan kananTeddy.
" Wa, Alaikumsalam. Duduk sayang." Pinta Teddy sembari berjalan menuju sofa.
" Mas, ada apa?" Kegelisahan mulai meraba dirinya saat melihat raut wajahnya suaminya yang terlihat suram.
" Ternyata selama ini di sekolah Ayu mendapat perlakuan tidak menyenangkan." Teddy mulai pembicaraan.
" Maksudnya?" Tanya Hanna tidak mengerti.
Dengan pelan Teddy mengucapkannya." Dibully."
Mata Hanna melebar, dia menutup mulutnya yang ternganga syok, lalu menggeleng tidak percaya.
" Awalnya akupun tidak percaya, tetapi tadi saat Ayu meminta sesuatu yang tidak biasa padaku dan mendengar alasannya, aku meminta anak RaHasiYa untuk mencari informasi terkait keadaan Ayu disekolah, dan hasilnya ini."
" Tapi dia terlihat baik-baik saja, tubuhnya pun tidak ada luka." Suara Hanna tercekat.
" Bukan fisik, dia dilindungi genk BIBA, tapi bathin, mereka mengucapkan kata-kata kasar padanya baik lisan maupun tulisan lewat pesan atau gambar."
" Kamu ada buktinya?" Hanna masih tidak percaya.
" Pasti, dan aku mempertimbangkan untuk membawa ini ke jalur hukum.".
" Orang tua macam apa kita sampai tidak tahu kalau Ayu selama ini menderita? Apa kita terlalu mengabaikan dia?" Lirih Hanna.
Teddy merangkul Hanna," jangan bersedih, mulai saat ini kita perbaiki kesalahan kita."
" Bagaimana keadaannya?"
" Hari ini dia dilindungi Zayin, dan bersama Zayin dia terlihat baik-baik saja."
" Zayin?" Alis Hanna mengerut.
Teddy mengangguk, meski hatinya gusar.
" Selagi kamu menyembunyikan Sandra, Zayin menghabiskan waktunya menemani Ayu di sekolah, memastikan anak gadis kita aman." Sarkas Teddy.
Hanna tertegun," apa dia tahu apa yang aku lakukan?" Tanyanya resah.
" 90% dia tahu, dia seorang TNI terlatih, sekaligus mitra terdekat RaHasiYa. Bukan hal sulit baginya mengetahui apa yang kamu lakukan meski tanpa melibatkan RaHasiYa."
Hanna mematung beku, rasa khawatir mulai menyelimutinya.
__ADS_1
" Apa menurutmu apa yang aku lakukan salah?"
" Bagaimana menurutmu jika ada orang yang yang kamu anggap keluaraga menyembunyikan orang yang sudah menyakiti keluargamu?"
" Aku marah, dan pastinya kecewa." ucapnya sendu.
" Dan mungkin itu yang dirasakannya sekarang." Tukas Teddy.
Untuk beberapa saat ruangan senyap, " kita ke rumah Edel, Ayu ada di sana." Ucap Teddy setelah membaca pesan dari anak RaHasiYa.
Teddy mengulurkan tangan yang disambut Hanna dengan menggenggam balik tangan Teddy.
" Maaf, aku pasti membuatmu kesusahan." Paraunya.
Teddy mengecup kening Hanna." Jangan terlalu dipikirkan, nanti bersama kita menghadapi Zayin."
*****
Langit sudah gelap, mata Sandra sudah sembab karena menangis sepanjang waktu saat menonton video.
Berulangkali dia memukul dadanya yang sesak, " Ya Allah. Apa aku masih bisa diselamatkan, memaafkan aku atas segala perbuatanku pada mereka." Lirihnya ditengah isak tangisannya.
Dia tidbaruk tahu betapa sulitnya Aida menjaga Alfaska yang sering mengamuk dan berteriak histeris tiba-tiba, namun beliau sabar melaluinya.
Dia baru tahu kalau ayah Zein dengan telaten memandikan dan menjaga kebersihan Alfaska yang seringkali membuang air kecil dan air besar sembarangan.
Dia Baru tahu kalau Mumtaz dan para saudaranya, serta Ibnu secara bergantian menjaga Alfaska, yang seringkali mencoba melukai diri sendiri.
Tangisnya pecah saat melihat berulang kali Alfaska berupaya menghabisi dirinya sendiri ditengah memanggil namanya.
Dapat dia rasakan rasa kesepian dan putus asa putranya pada pancaran matanya yang kosong.
" AFA, AFA ANAKKU." parau Sandra pilu ditengah sunyinya malam meski baru pukul delapan mencoba meringankan rasa bersalah dalam hatinya.
Tangisan pilu dari seorang ibu yang bersedih seharusnya mengundang simpati dari orang yang mendengarnya tetapi tidak bagi pemuda yang duduk di ambang jendela yang dia buka paksa, dengan satu kaki diangkat menopang satu tangannya yang memegang kusen sebelah kiri.
Tatapannya datar bahkan terkesan bosan melihat adegan uraian air mata yang menurutnya palsu.
Matanya telitinya mengamati ruangan setempat, seringainya muncul saat melihat cctv buatan RaHasiYa yang terpasang di empat pojok ruangan.
Setelah 15 menit, ia memutuskan mensegerakan tujuannya ke villa." Hallo, Nyonya."
Suara berat nan dingin membuat Sandra terlonjak kaget, matanya membeliak besar saat melihat siapa yang memanggilnya.
" Za...Zayin..." Suaranya pelan sarat akan ketakutan.
Zayin melompat dari jendela, melangkah pasti mendekati Sandra yang berdiri lalu mundur, mengambil kursi sebagai tameng diantara mereka, tubuhnya mulai tegang karena aura yang menyelimuti Zayin.
" Za...Zayin... darimana kau tahu aku di sini?"
Zayin menertawainya dengan merendahkan sang lawan bicara yang menurutnya telah mengajukan pertanyaan terbodoh yang pernah dia dengar.
" Kau lari ke ujung dunia sekalipun aku akan menemukannya, Nyonya. karena kau satu-satunya orang yang ingin ku akhiri kesombongannya." saat ini ekspresi culas terpasang dalam diri Zayin.
Ekspresi yang meresahkan bagi Sandra, saat mengingat peringatan mengenai karakter Zayin hatinya mulai ketat-ketir.
" Za...Zayin,... ma...maafkan sa...saya..."
Mata tajam, disertai senyuman devil menyertai wajah Zayin yang tegas menghujam menghakiminya.
" Sungguh menggelikan, hentikan dramamu."
" Zayin, saya menyesal. beri saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya, saya baru memahami kasih sayang kalian yang begitu besar untuk Afa." mulutnya berbicara, matanya mengeluarkan air mata tanpa henti.
Tepat berdiri di depan televisi besar, mata Zayin dapat menangkap apa yang sedang ditonton Sandra.
Tawa malas menggema memenuhi ruangan," pertama kali saya melihatmu, kau hanya meluangkan waktu 15 menit saat menjenguk putramu setelah dua minggu tragedi itu terjadi, kau meninggalkannya tergesa-gesa seolah-olah kau seorang profesional ternama meski dia terus menangis meraung memanggilmu yang kau abaikan, sejak saat itu saya tidak menyukaimu, dan terus tidak menyukaimu, dan tidak akan pernah menyukaimu." tegasnya mutlak.
Nada rendah dari suara datar itu memperlihatkan Zayin yang tidak tergugah akan ekspresi Sandra yang memohon ampunan.
" Zayin, saya mohon maafkan saya, saya bersedia bersujud di kakimu." Sandra berlutut, merendahkan diri, saat ini ia tidak memiliki ego sama sekali.
Zayin bergeming." Sampai berapa lama penyesalan palsumu bertahan, sebelum kau kembali beraksi menghina keluargaku, jadi sebelum itu terjadi, sebaiknya ku hancurkan harga dirimu."
Zayin menyingkirkan kursi itu, melemparnya kencang hingga mengenai dinding yang mengakibatkan kursi itu rusak berkeping.
Ia lantas menarik kerah blues Sandra dan memojokkannya ke tembok, tanpa memperdulikan Sandra yang merasa tercekik.
" Sudah berulangkali kami memperingatimu untuk tidak menyakiti keluargaku, tapi tidak kau hiraukan, maka hari ini ku tunjukan apa yang akan kau terima kalau kau mengabaikan peringatan kami."
Dengan santai dia melepas cengkeramannya, lalu Sandra jatuh dengan gerakan gravitasi cepat hingga mengakibatkan hantaman keras di tulang ekornya saat luruh di lantai, kakinya gemeteran tidak mampu menopang tubuhnya.
Sandra meringis ngilu, tanpa memberi waktu untuk meringankan kesakitannya, Zayin kembali menarik Sandra untuk berdiri, satu lengannya menekan leher Sandra, satu lagi mencengkram lengan atas, sambil menatap Sandra ia sengaja dalam satu gerakan membenturkan sekaligus menarik tulang lengan hingga tulang itu bergeser posisi dengan ditandai bunyi,
Krek...
" Aaawwsss..." pekik Sandra kesakitan.
Tulang itu retak, namun itu lantas tidak menyurutkan upaya lanjutan Zayin, ia masih terus membenturkanny ke tembok, menulikan diri dari rintihan tersiksa Sandra.
Setelah dirasa tulang itu patah sesuai yang dia inginkan, tangannya turun mencengkram pergelangan tangan, terus menekan dan menekan terus, lalu ditempelkan membentang di tembok untuk dia hujami dengan t0n-jokan di pergelangannua dengan tangan besarnya, terus dan terus, sepanjang puk-vlan itu jeritan Sandra terus menggema, Sandra dapat merasakan bagaimana pergelangannya r3muk.
" Za...Zayin..." lirih sangau Sandra.
" shut up, keep your mouth.." tiitahnya tegas, Sandra langsung bungkam dia sudah tidak punya tenaga untuk melawan.
Selanjutnya buku jarinya diraup dan kemudian ditekan hingga berbunyi kretekan dari tulang kelima jarinya terdengar saling bersusulan, setelah dilepas jari itu gontai luruh sufmdah tidak bisa digerakkan.
Hal itu dia lakukan pada kedua tangan Sandra," Sekarang sudah tidak ada lagi tangan yang bisa menggambar, kau sudah tidak bisa lagi menjadi penjahit baju, sesuatu yang kau banggakan hingga membuang anakmu." Ucapnya disertai tawa smirk.
Setelahnya ia menjauhkan kedua tangan-nya dari Sandra yang langsung luruh dengan kedua tangan yang tidak bisa berfungsi sama sekali.
Sandra tidak bisa merasakan apapun dari kedua tangannya, matanya menatap Zayin dengan penilaian baru. tidak ada rasa penyesalan dari wajah Zayin, hanya datar.
" Tidakkah kau merasa jahat telah melakukan ini semua pada seorang wanita? seorang ibu?" tanya Sandra lemah yang tergolek di tembok.
" Tidak, wanita seperti mu yang menjadikan kaum hawa dipandang jahat."
" Bagaimana jika ibumu yang berada di posisi saya?"
" Itu tidak akan terjadi, karena ibuku bukan wanita egois yang menelantarkan anaknya hanya untuk obsesi pribadi dirinya."
" Kenapa kau tidak membvnvhku?"
" Untuk apa? yang ku inginkan hanya kehancuran mu, bukan kematian mu." Desisnya tajam
Zayin memperhatikan penampilan Sandra yang kacau." lain kali jangan pernah menghina orang."
Zayin menjauh dari sana wajahnya menghadap kamera cctv, sebelah matanya mengerling jenaka," adios." kata yang terucap sebelum dia keluar dari villa tersebut lewat jendela.
Beberapa pasangan mata dengan riak wajah berbeda menyaksikan sik4an itu, tanpa bisa mencegahnya, karena mereka melihat itu dari komputer mereka.
__ADS_1
" Maaf!" ucap Mumtaz tidka melepas pandangannya dari komputer
" Jangan ucapkan kata itu, itu balasnya yang setimpal untuknya." ucap datar Alfaska, matanya masih memandangi ibunya yang masih tergeletak di ruang keluarga itu....