Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
205. Nasib Ergi


__ADS_3

Di sebuah kamar suite presidesial hotel.


Dua pria baya tengah duduk santai memandangi kota Jakarta di malam hari dengan segelas Champaign di masing-masing tangan sambil tertawa puas atas pencapaian mereka hari ini.


" Besok, kabar kematian Ergi akan mengguncang negeri ini."


" Apa anda yakin Ergi berhasil dilenyapkan?" tanya ketu4.


" Yakin sekali." jawab jendr4l


" Nanti siapa penggantinya?"


" Saya menyarankan sebuah nama, dan kali ini kalian harus mematuhinya." Tekan jendr4l.


" Siapa?"


" Arif Nugraha."


Ketua sedikit terkejut, " dia memang pemberani, berambisi pula, tapi dia idealis."


Jendr4l terkekeh mendengarnya." Semua orang yang masuk instansi ini memiliki idealisme yang mulia sebelum mereka merasakan nikmatnya kejayaan diatas rupiah dan kekuasaan. Sekarang lihatlah mereka, menyedihkan, mereka menjadi kacung dollar dan kekuasaan." 


" Bagaimana dengan cctv?"


" Saya bukan anak kemarin sore yang ceroboh soal seremeh itu. Kau sendiri bagaimana dengan Juna dan Agung, apa kau sudah mengatasinya?"


" Beres, kita akan mendesak fraksinya untuk memecat dia sebagai anggota d3w4n." Ucap percaya diri sang ketua.


Jendr4l  menaruh gelas ke atas meja kemudian berdiri merapihkan pakaian kebesarannya." Baiklah, saya harus pulang. Harus menyiapkan pakaian untuk besok melayat ke kediaman Ergi."


" Hahaha...tolong sampaikan salam duka saya pada keluarganya." Ucap ketu4 sarkasme.


*****


Tanpa sepengetahuan ketv4, selepas kunjungan Juna dari kamar hotelnya, Juna mengadakan pertemuan dadakan dengan para fraksi dan ketua p4rtai 10 teratas di lounge Al-Tair.


Juna menjelaskan situasi terkini dari rapat dadakan oleh presid3n, serta isi obrolan pertemuannya dengan ketua. Terjadi adu argumen dan balas komentar pedas diantar dua kubu bersebrangan tersebut.


" Kita punya kewajiban menjaga marwah lembaga ini, tapi anda dan pak Agung dengan entengnya menjatuhkannya demi meroket." Tuding salah satu ketua fraksi.


" Apa yang sudah kita lakukan untuk kesejahteraan rakyat, kita di sini dengan janji bahwa kita bisa mensejahterakan mereka, tapi lihatlah, hampir seratus anggota terlibat kejahatan kemanusiaan yang serius. Jadi siapa yang menjatuhkan Marwah lembaga ini sementara saya masih menjadi anggota lembaga ini." bela Juna tenang.


Mereka yang berseberangan wajahnya memerah menahan marah.


" Tapi akibatnya stabilitas keamanan rakyat pun tersenggol." Ujar yang lain.


" Itu efek dari tindakan teman anda yang merusak citra lembaga dan mengkhianati kepercayaan rakyat."


" Tapi kau tidak memperbaikinya." 


" Bagaimana bisa? Posisi saya hanya anggota bukan petinggi." Singgung Juna.


" Dan itu akan segera berakhir." celetuk yang lain.


" Saya pribadi tidak masalah dipecat dari senay4n, tapi ingat, dibelakang saya ada nama Birawa sebagai pendukung berat saya." Juna mencoba mengintimidasi para rekan dan seniornya.


" Tentunya tuan Birawa dan Atma Madina selaku rekan tidak terpisahkan tidak akan membiarkan rencana kalian berjalan mulus, dan ingat Daniel Birawa merupakan salah satu petinggi RaHasiYa." Tekan Juna.


" Apa kau sedang mengancam?" Tanya ketua fraksi pendukung pem3rint4h.


" Tidak, tapi kalian sadar kita masih diawasi oleh para pemuda. Sekali Bara Atma Madina mengatakan bergerak, seluruh pemuda di negara ini akan bersatu bertindak. Kita sudah lihat sepak terjangnya saat demo kemarin dimana kalian tidak berdaya.


" Belum ada sejarahnya sejak negeri ini berdiri penguasa bisa menang atas ideliasme para pemuda."


Semuanya terdiam merenungi ucapan Juna, memang apa yang dikatakan Juan benar adanya, namun mereka terikat kontrak politik dengan rekan yang lain. Kini mereka berdua dalam pilihan mengamankan kedudukan atau melakukan perubahan.


" Untuk terakhir, saya ingin kalian pertimbangkan. Bagaimana jika rekaman itu terdeteksi oleh akun misterius itu? Betapa tidak punya mukanya lembaga memiliki ketua yang ternyata ingin menyingkirkan orang yang pro rakyat dan kalian nikmati kemarahan rakyat yang ingin lembaga ini bubar." Tukas Juna dengan mimik tanpa beban.


*******


Di dalam lift menuju ruang intensif para penghuninya membisu, namun sejak turun dari mobil Daniel menatap intens Ibnu, ia menilai ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya tersebut.


" Kami membawa pak Ergi ke rumah sakit ini karena hanya di sini lah kami yakin pak Ergi aman." Ucap Berto pada petinggi RaHasiYa.


" Entah alasannya apa?" Sarkas Alfaska.


Tiba di lantai dua, mereka bahkan menunggui Zahra yang berganti pakaian. Lalu mendampinginya sampai ke ruangan yang dijaga ketat beberapa personil berseragam gelap dengan senjata komplit bertengger di tubuhnya.


Petinggi RaHasiYa yang mendampingi Zahra bereaksi santai. mereka hanya memastikan Zahra diperlakukan sebagaimana mestinya. Zahra yang mengenakan seragam khusus hendak memasuki ruangan intensif dimana Ergi diperiksa. Penjaga mencoba menahannya yang langsung dicegah oleh Berto.


" Beliau profesor Zahra diundang atas nama pak Timothy." Ucap Berto mengeluarkan surat tugas.


Penjaga lantas membukakan pintu membiarkan Zahra memasuki ruang steril tersebut setelah diperiksa terlebih dahulu sesuai prosedur keamanan.


Sedangkan Mumtaz dan yang lain sambil menunggu Zahra berkumpul di ruang kerja Mumtaz dengan komputer dan laptop yang menyala yang menampilkan bagian sudut mab3s polri dan seluruh sudut lantai dimana ruang kerja Ergi berada. Di sana mereka mendapati sosok yang seharusnya tidak ada berjalan masuk ke mab3s polr1.


Tok..tok...


Nando memasuki ruangan, " langsung lapor, Nan." Kata Mumtaz.


Nando menyalakan laptopnya, ia langsung masuk ke ruang kerja Ergi, di sana petinggi RaHasiYa dapat melihat jelas hasil tangkapan kamera bagaimana sang jendr4l mencampurkan beberapa tetes cairan ke dalam kopi Ergi, apa yan dilakukan jendral selama menunggu Ergi, perbincangannya dengan seseorang di telpon, Ergi tiba dan masuk ruangan, mereka mengobrol, Ergi yang meminum kopi hingga kecoa itu jatuh menjatuhkan cangkirnya dan tidak lama Ergi langsung mengalami kejang  mendapatkan pertolongan pertama dari ajudannya.


" Kepada siapa Lo kirim rekaman ini?" Tanya Daniel tenang


" Bang Rio."


" Good." Balas Alfaska.


" Suruh dia melakukan tugasnya seepik mungkin, sepertinya kematian senior mereka Broto hanya dianggap angin laut saja." Ucap Mumtaz penuh perhitungan.


Tok___tok____


" Masuk." Ucap Daniel yang melihat Mumtaz malas membuka mulutnya.


Timothy, Berto dan beberapa pria berpakaian kasual memasuki ruangan.


" Ada apa?" Tanya Alfaska setelah para tamu duduk di sofa yang ada. Berto sedikit kaget melihat Mumtaz duduk di kursi kerja yang ia pikir kursi itu milik Alfaska.


Timothy menghela nafas kasar, sebagian kepal tim cyber, ia merasa malu." Kami tidak bisa menemukan pelakunya, satu-satunya tersangka adalah OB yang membawakan kopi ke ruangan pak Ergi dan itu hampir tidak mungkin."


" Kenapa?" Tanya Ibnu.


" Sejak kepolisian mengusut kasus para d3w4n itu kami telah membentuk tim khusus keamanan bagi para petugas dari tingkat penyelidikan sampai petinggi kepolisian bahkan OB tersebut merupakan salah satu staf kami yang menyamar." Terang Timothy.


" Satu-satunya yang tahu bahwa pak Ergi menerima tamu ganya ajudan yang menolongnya yang sekarang sedang dirawat karena terpapar racun itu."


" Cctv?" Tanya Daniel.


 "Cctv tidak menangkap apapun saat sekitaran waktu kejadian atau dengan kata lain saat itu cctv dimanipulasi. Kami tidak mendapatkan apapun."


" Ada orang yang kalian curigai?"


" Banyak, tapi itu hanya teori. Salah satunya petinggi kepolisian." Jawab pri berkos hitam.


" Apa yang kalian harapkan?" Tanya Mumtaz.


" Kami tahu hewan yang jatuh ke kopi pak Ergi bukan hewan sungguhan, kami sudah memeriksanya itu sebuah kamera..."


" Intinya." Potong Alfaska.


" Kamera tersebut dikunci dengan kode, masalahnya kami tidak bisa membuka sandi kamera tersebut."


" Apa yang kalian inginkan." Masih Mumtaz yang bertanya.


" Kami meminta bantuan kalian untuk membuka sandi tersebut, ini off the record."


" Kalian harus daftar menjadi klien RaHasiYa agar kami bantu." Ucap Alfaska.


" Untuk itu akan ada sedikit perdebatan diatas..." Jaba Timothy.


" Maka pecahkan sendiri." Jawabnya Alfaska sama sekali tidak membantu mereka.


Mereka menghembuskan nafas gusar. Mereka tahu tidak akan mudah meminta bantuan RaHasiYa.


" Mintalah langsung kepada presid3n, buat pertemuan presid3n dengan kami." Kata Mumtaz.


" Kami ragu mereka..."


" Coba saja, bilang kalian punya deal khusus denganku."


" Baiklah. Kami permisi."


" Nando ada laporan apa lagi?" 


" Gue semalaman mantau jendr4l itu." Nando mengetikkan sesuatu lalu muncul pergerakan mobil jendral yang keluar dari mabes.


" Saat jendral memasuki ruangan, gue udah minta andros dan anak buahnya untuk bersiaga mengikutinya.


" Dan sampailah mereka di hotel the Sultan. Saat gue periksa daftar tamu, di salah satu kamar suite presidential ada nama ketua sebagai tamunya.


" Dan akhirnya gue dapati ternyata pak Janu juga mendatangi kamar tersebut." Seiring Nando bicara layar laptop menyajikan rentetan rekamannya.


Mereka menatap Daniel yang menatap intens ibnu. Daniel yang menyadari dirinya yang menjadi fokus perhatian menatap balik mereka." Apa?"


" Lo jangan bikin gue takut." Ucap Alfaska.


" Apaan dah."


" Lo sedari tadi mandangin Inu mulu, kenapa? Belok Lo?"


Bugh____


Daniel melempar bantal sofa pada Alfaska, Mumtaz dan Ibnu menatap malas mereka berdua.


" Sembarangan."


" Ya__ terus kenapa Lo segitunya mandangin dia?"


" Nu, Lo habis c1pok4n ya?" Pertanyaan frontal itu mengagetkan Ibnu yang langsung gugup, namun mencoba bertahan biasa saja.

__ADS_1


Alfaska dan Mumtaz mengalihkan perhatian pada ibnu yang terlihat biasa saja, namun Mumtaz yang mengenalnya lebih baik melihat sikap lain dari Ibnu yang terkesan merasa terpojok.


" Hah? Mana ada 48 jam ini gue sama kalian aja ya." Elak Ibnu.


" Gue bukan orang bego, bibir Lo bengkak khas habis c1pok4n pake lidah." Cibir Daniel.


" Nu, sama siapa?" Tanya Alfaska curiga.


Ibnu melirik tipis Mumtaz yang masih menatapnya.


" Enggak ada, ngapain Lo juga sama resehnya."


" Kalau gak mau ngaku jangan balik fitnah. Cukup bilang enggak dan bukan urusan mereka. Kalau gue sih jangan kebablasan saja dosa ditanggung sendiri." Tegur Mumtaz penuh arti.


Ibnu mengalihkan pandangannya menghindari Mumtaz, ia merasa malu.


" Jadi benar Lo civm4n?" Alfaska memastikan karena ia ragu Ibnu bisa melakukan itu. Ibnu itu orang yang tidak banyak tingkah, tidak seperti dirinya.


" Fa, dia udah tua untuk Lo urusi, tinggal Lo cari siapa ceweknya terus kalian nikahi. Kalau Lo masih sayang dia." Kata Mumtaz yang bisa memahami ketidaknyamanan Ibnu.


" Lo gak marah?" 


" Emang dia ny1pok gue?"


" Ck, gak gitu, dia udah diluar batas ini."


" Menurut Lo sahabat lo itu belum pernah civm4n sama sepupu Lo?" Tunjuk Mumtaz pada Daniel.


" Dia mah nyosor, gue tiap ketemu Ita yang gue lihat perutnya udah buncit apa belum." Jawab Alfaska ngawur yang tidak dihiraukan Daniel.


Daniel diam sedang memikir ulang kebersaman ibnu bersama mereka selam 24 jam terakhir, sontak matanya melebar saat menyadari sesuatu. Ia menatap tajam Ibnu.


Bugh___


Daniel memukul lengan atas Ibnu.


" Lo apain adik gue?"


" Gak gue apa-apain." Ibnu dalam hati panik.


" Maksud gue sampai mana Lo bertindak?"


" Ini kenapa menjurus ke Ayu?" Alfaska belum melihat titik temu antar bibir bengkak Ibnu dengan Ayunda.


" Lo dengar apa kata Ayin sewaktu kita tiba di rumah, dia bilang Ayu udah tidur." Jelas Daniel ke Alfaska.


" ya...terus?"


" Lo nyelinap ke kamar gue?" Tuding Daniel.


" Mana sempat, kagak." Sanggah Ibnu.


" Niel, stop. Atau Lo nemuin sesuatu yang bikin Lo marah." Lerai Mumtaz yang melihat Daniel sudah marah.


" Dia ny1vm adik gue, kalau Ita yang di posisi itu gimana?"


" Lo pikir gue setuju nikahin Ita dengan tu orang cuma kerena mental dia? Kagak, karena gue lihat Afa terlalu sering skinship sama adik gue, gue risih dan gue nikahi mereka. Urusan beres." Balas Mumtaz tenang.


" Ini Lo tahu dari mana dia ny1vm Ayu? Ada bukti? Siapa tahu dia ny1pok salah satu anak RaHasiYa."


Bugh___


Kini Ibnu yang melempar bantal sofa pada Alfaska.


" Lo kenapa mukul gue, ini gue lagi bela Lo."


" Ya gak bikin gue hina juga, 4nying. Gue masih normal." Semprot Ibnu. Apa-apaan sahabatnya itu nuduh dia kelainan s3ksual.


" Ya___ bilang Lo ny1vm siapa?"


" Bukan urusan Lo."


" Jawab aja napa, Lo bukan cowok pengecut yang habis bertindak terus menghindar, kan?" Ibnu merasa kesal dengan tudingan Alfaska yang tidak benget itu.


" Lo apain adik gue?" Daniel kembali ke pertanyaan itu.


" Gak gue apa-apain, cuma Ampe yang Lo pikirin. Suer." Akhirnya secara tidak langsung dia mengakui, bukan karena pengecut, tapi karena malu.


" Jadi Lo ny1vm si itik itu?, Dia masih Unyil, Nu." Respon Alfaska sangat menyebalkan.


" Lo masuk kamar gue?" Tuding Daniel.


" Enggak, dia yang tidur di kamar gue."


"  Hah? Terus Lo manfaatin itu? Sumpah setannya pro." Ibnu menatap kesal Alfaska atas sindirannya.


" Lo nikahi dia." Kata Daniel.


" Kalau cukup umur."


" Lo tahu ia belum cukup umur, tapi lo berani c1vm dia, waras Lo?" Semprot Alfaska.


" Fa, bisa gak Lo jangan ngomporin gue mulu, gue bisa marah juga lo." Ibnu mulai tersulut.


" Lo pikir gue cowok apaan, sembarang nyentuh, itu karena Ayu, karena itu Ayu gue kalah dari godaan." 


Daniel yang kesal adik kecilnya disentuh secara s3ksual kembali menekan Ibnu." Lo nikahi dia. Dia anak baik..."


" Walaupun sering bertingkah menggodai Lo." Sarkas Alfaska, sindirannya ini membuat Daniel melototinya.


" Iya gue nikahi, kapan kalian siap gue nikahi dia."


" Ini baru teman gue." Alfaska menepuk pundak ibnu yang langsung ditepisnya.


Mereka ribut melupakan di sana ada Nando yang diam mematung karena kaget.




Di penghujung fajar, setelah melaksanakan shalat subuh berita mengenai pak Ergi tersebar di seluruh platform berita online. Pun dengan media televisi dan cetak dalam hitungan menit tagar save Kapolri, kawal kasus senay4n, jangan sampai kendor polri memenuhi fyp seluruh sosial media.



Mereka mencurigai Anggita dew4nlah dibalik rencana pembvnvhan ini, tak ayal serangan kemarahan menyerbu pada sen4y4n. mereka menyebut senay4n orang udik psikopat.



\*\*\*\*\*



Sementara di rumah sakit semua pihak berkumpul di ruangan direktur rumah sakit untuk mendengarkan kondisi Ergi terkini.



" Akun tersebut sepertinya tidak pernah tidur ya?" Timothy mengomentari betapa cepatnya akun misterius itu mendapatkan kabar terkini.



" Coba anda selidiki dari tubuh instansi anda sendiri, siapa tahu pelakunya di sana." Ucap Ibnu.



" Orang-orang di instansi ini memang banyak terbukti tidak setia tetapi kami tidak mungkin membongkar seluruh kasus yang segitu menjatuhkan wibawa Instansi."



Mumtaz terkekeh." Memang apa yang anda harapkan dari pengkhianat?"



Suasana yang menegang membuat direktur tidak nyaman.



" Profesor Farhan yang akan menjelaskan." Seru direktur rumah sakit.



" Bapak Ergi telah terkontaminasi sianida dengan dosis tinggi yang mematikan dalam waktu singkat, beruntung beliau tidak terpapar banyak makanya kami bisa menyelamatkannya, namun masih butuh perawatan."



" Itu sesuai dengan hasil labfor kepolisian, kopi yang diminumnya mengandung hidrogen sianida berdosis tinggi. Jika racun ini masuk ke tubuh hanya butuh beberapa menit untuk menghentikan kerja jantung dan orang tersebut meninggal." Terang tim labfor polri.



" Lantas bagaimana selanjutnya?" Tanya Alfaska.



" Kami menitipkan pak Ergi di sini, berharap akun penyebar berita itu  merahasiakan keberadaan pak Ergi." Ucap Timothy.



" Kalian belum menemukannya?" Sarkas Alfaska yang menyiratkan ledekan.



" Bahkan B1N frustasi mengatasinya." Jawab Timothy santai tidak tersinggung.



" Siapa yang akan menjadi pelaksana tugas pak Ergi selama beliau dirawat?"



"  Kami mengusulkan kepada presid3n, Pak Arif."

__ADS_1



" Arif Nugraha?" Tanya Mumtaz memastikan.



 " Iya, pak Arif Nugraha."



Tanpa sepengetahuan yang lain bibir Mumtaz tersenyum tipis.



" Pak Alfa, pak pr3sid3n meminta waktu kalian guna memenuhi rapat hari ini pukul 11 nanti."



" Sampaikan aksi siap menghadiri rapat tersebut." Ujar daniel yang jengah akan sikap tidak jelas sahabatnya itu.



Merasa sudah tidak ada lagi yang dibahas, Mumtaz beranjak mengulurkan tangan pada Zahra." Kak, kita pulang." 



Zahra melirik tangan Mumtaz yang terulur padanya." Eh, tapi kakak..."



"Pulang, jangan dibiasakan bertugas secara totalitas, lagian untuk sementara semuanya sudah teratasi. Kakak istirahat, aku gak kau kakak tumbang lagi. Prof, anda tidak keberatan kan kak Zahra pulang?"Mumtaz bertanya pada Farhan.



"Memangnya dia bisa menolak permintaan pemegang saham? Heol." Bathin Farhan. Dia menggeleng.



" Pulang saja, Ra. Di sini ada saya. *I am single*, *i am happy*." Sarkas Farhan tersenyum hambar.



" Makanya cepat dihalalin, beraninya ngajak jalan, buat nikahi jiper. kayak saya dong berani bertindak halal." angkuh Alfaska yang ditatap malas oleh Farhan.



\*\*\*\*\*\*



Di rumah Aida.



Selepas kepergian petinggi RaHasiYa dan Zahra, Yuda langsung melakukan percakapan di group BEM se Indonesia akan apa yang terjadi.



Kini untuk sementara ketua BEM se-jabodetabek sudah berkumpul di rumah Aida, mereka sedang bersiap untuk mengadakan rapat baik online maupun offline. bila keadaan tidak membaik untuk keadilan BEM se Indonesia akan mengadakan rapat.



" Pastikan bekas pakainya dibereskan kembali." Ujar Romli mengawasi para pemuda menggeser perabotan ke sisi tembok.



" Rom, Lo siapa?" tanya ketua BEM kampus sebelah.



" Mandor Lo. itu anak buah Lo main game mulu." tunjuk Romli pada sekelompok pemuda yang duduk di pojokan.



" Gak, kita lagi menghidupkan komentar di fyp sosmed mengenai pak Ergi." sanggah salah satu dari mereka.



Ramainya suasana di lantai bawah terbilang berbalik dengan Sisilia. selam petinggi RaHasiYa pergi dia diharuskan menempati kamar Mumtaz dan dilarang keluar, karena kamar itu paling aman di rumah Aida.



" Assalamualaikum." Salam Alfaska yang masuk rumah bersama yang lain.



Zahra mengabaikan keramaian rumahnya oleh para pemuda karena sudah terbiasa, ia langsung melangkah ke kamarnya diikuti yang lain, sedangkan Mumtaz mencari Yuda yang sedang berdiskusi dengan beberapa ketua BEM lainnya di ruang makan.



" Yud, jam 11 nanti kita ketemuan dengan presid3n. Kalian buatlah kesepakatan apa saja yang kita kehendaki kita tidak bisa membiarkan intermezzo ini berlarut-larut." kata Mumtaz yang kemudian langsung berbalik berjalan ke arah tangga.



Tok\_\_\_tok\_\_\_\_



Cklek\_\_\_



Di depan pintu sudah ada Rizal yang membawakan sarapan untuk Sisilia.



" Masuk, kak. ada kabar dari kak Mumuy?"



Rizal menaruh dua piring uduk buatan ibunya di atas meja depan sofa." Belum, kami tidak terbiasa menghubungi mereka saat mereka kerja, kami hanya menunggu mereka yang menghubungi kami."



" Gak apa-apa kita sarapan bareng? ini disuruh Mumuy."



Sisilia menggeleng tidak keberatan, ia beranjak duduk di sofa tunggal.." apa Ayu sudah sarapan?"



" Sudah. Zayin yang nyiapin."



" Apa Kakak tahu apa yang sebenarnya terjadi? ini seperti labirin, tidak ujungnya."



" Tidak, kalau kita bertanya, mereka hanya menjawab ketidaktahuan kami adalah keselamatan kami. padahal kami ingin membantu." gesture Romli berubah melow.



cklek\_\_\_\_



Sejenak Mumtaz berdiri diambang pintu, matanya menatap Sisilia yang berjengkit kaget begitupun dengan Rizal yang segera berdiri dan menjauh dari sofa.



Mumtaz berjalan masuk ke dalam seirinh matanya tidak melepas dari wajah teduh Sisilia, dalam diamnya Mumtaz menarik Sisilia kedalam dekapannya dan mengabaikan kehadiran Rizal yang secara perlahan berbalik badan keluar kamar, lalu menutup pintunya.



Mumtaz menghirup wangi khas Sisilia." Kak?"



" Sebentar saja, biarkan aku menghirup energi ku." Ucapnya di ceruk leher Sisilia yang merasa geli.



Sisilia membalas dengan mengusap lembut punggung lebar itu di baliknya air muka Sisilia berubah sendu, entah mengapa dia merasakan beban yang berat dari tubuh yang biasa menampilkan aura tenang ini.



" Aku takut, bagaimana jika aku gagal?" kata Mumtaz tidak jelas terhalang redaman rambut Sisilia namun masih bisa ketangkep pendengaran Sisilia.



" Maka jangan terburu-buru, pastikan di semua sisi jelas solusinya." balas Sisilia menenangkan



" Hmm." Mumtaz semakin mengeratkan pelukannya.



\*\*\*\*\*



Di lain tempat, masih mengenakan *bathrobe* hotelnya seseorang itu meremas kuat ponselnya setelah membaca komentar para netizen yang menyalahkan lembaga yang dipimpinnya.



" Toni, kau memang sudah tua bangka yang seharusnya sudah ku buang. mungkin saat ini saatnya aku membuangmu." monolog ketu4 menatap kota jakarta di pagi hari melalui dinding kacanya.

__ADS_1



Sedangkan orang yang diumpatinya masih nyenyak di antara berlahan buah d4d4 sintal seorang p3l4cvr berusia 20 tahunan yang sedang memotret diri mereka dengan ponselnya.....


__ADS_2