Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
253. Tetap Melindungi.


__ADS_3

" Yud, yang lain mana?" tanya Jeno saat memasuki ruang keluarga dan dia tidak melihat tiga sahabat kental itu.


Yuda mengode ke arah atas tangga," gue khawatir dengan keadaan mereka, setelah mereka menbetahji tenaga mental Mumuy mereka lebih banyak menyendiri gak sih." Jeno membuka plastik yang berusia martabak yang ia bawa.


" Radit bilang mereka baik-baik saja, itu cukup buat gue."


" Woy, No. tumben Lo datang, Bara is it okay?" rahasia dan harus memasuki ruangan.


" Rizal sama Haikal masih bersama dia. habis dari mana Lo pada?"


" Rumah bang Heru, ada beberapa pengganggu to semua okay, Zayin turun tangan."


" Mereka belum juga keluar?" tanya Ragad pada Yuda sembari melirik ke tangga.


" Hmm."


Di kamar Ibnu, Alfaska dan Daniel berkumpul di balkon melihat langit malam dengan cangkir kopi mengebul.


" Mumuy sama siapa?" tanya Daniel.


" Rio." jawab Ibnu.


" Dan gue gak suka dengar ini." timpal Alfaska.


" Kenapa dia selalu nyuruh kita balik kalau dia bersama Rio? gak bisa istirahat kalau begitu." gerutu Alfaska yang dicueki para sahabatnya.


" Berhenti cemburu, Fa. biarkan Mumuy bebas." peringat Daniel.


" Tapi kenapa Rio? kenapa gak kita yang dia butuhin? kalau gak kita semua minimal salah satu diantara kita, gue adik ipar dia."


" Karena kita juga sakit bathinnya, Fa." jawab Ibnu yang membungkam mulut mereka semua.


Mereka terdiam, dalam hati mereka semua sedang marah tidak menerima sebab Mumtaz lebih memilih menghabiskan waktu bersama Rio ketimbang mereka setiap sesi pemeriksaan psikisnya.


" Kesalahan kita membebani dia, kita terlalu mementingkan diri sendiri, kita lupa dia seusia kita tapi kita bergantung padanya." renung Daniel mengingat masa kala dimana dirinya dan Alfaska hampir tidak bisa lepas dari Mumtaz.


" Kalau kita gak mengacaukan pertandingannya, dia mungkin sudah jadi atlet bela diri, Aaarrgghh...payah banget sih gue." teriak Alfaska mengusak rambutnya kesal terhadap dirinya sendiri.


" Gak juga, dia bertanding bukan untuk menjadi juara tapi mencari lawan tangguh, dan itu semua untuk lo berdua. dia yang bilang begitu sama gue." ungkap Ibnu saat Daniel dan Alfaska menatapnya tidak percaya.


" Kalian sadar gak, kalian manggil dia di saat-saat pertandingan krusial menang gugur, dan dia selalu mendatangi kalian tanpa menghiraukan pertandingan, itu bukti nyata. stop lihat gue dengan keraguan itu, gue ada dia sana, Niel." ucap Ibnu kesal dengan tatapan ragu mereka.


"Pantes sekarang dia lebih butuh Rio daripada kita, kita memang gak guna." lirih Daniel.


" Ck, bukan gitu konsepnya, Niel. memang baginya kalian paling berharga, dia selalu bilang kalau tidak ada kalian mungkin dia akan menyerah bertahan, dan gue gak engeh itu tentang gue. gue selalu mengira itu karena trauma akan keadaan Afa saat kami menemukan dia, bodohnya gue." kesal Ibnu, ia menyugar rambut hitamnya.


Tatapannya merenung ke masa lampau," Bayangkan jiwa dia yang hidup dengan ingatan pemerkosaan ibu gue, pembakaran bonyok gue, gimana gak gilanya dia. Andai gue gak hilang ingatan,... sementara dia harus mengalah menuntut perhatian ayah zein dan mama Aida karena kalian. Ya tuhan jika ada yang harus disalahkan itu otak dan kelemahan gue, bukan kalian." ucap Ibnu frustasi.


" Gue yang dengar saja berat banget bebannya apalagi dia yang merasakannya." keluh Daniel.


" Niel, kalau suatu hari nanti dimana Lo harus milih antara Mumtaz dan Sania, siapa yang Lo pilih?" tanya Ibnu tenang, namun memancarkan aura menegangkan bagi mereka berdua.


"Apa sih, Nu. gak lucu." omel Daniel.


" Kenyataan itu akan ada, Niel. dia tahu Lo selalu ngalah dan tidak berdaya jika sania sudah mulai berdrama, fakta Lo masih bersama dia saat ini itu buktinya, sedangkan Lo sudah berjanji pada Mumtaz untuk gak nyakitin Ita, tapi Lo gak bisa ngasih hukuman pada Sania." Daniel tertegun kaku menatap Ibnu yang menatap malam.


" Lo tahu?" cicit Daniel.


Ibnu menoleh pada Daniel yang duduk di samping kirinya " Tentang Lo yang masih ngebantu keluarga Sania? tentang Lo yang masih nge-treat Sania? gue tahu detail, karena Mumtaz membagikan gue apapun tentang Sania. Lo pikir kenapa kita berdua sekarang memperkuat diri Romli corp, dan Mahmud corp?"


Alfaska dan Daniel membelalak tegang, ucapan yang menyimpan penuh misteri yang sangat menakutkan bagi mereka membuat tubuh mereka merinding.


" Lo sendiri? siapa yang akan Lo pilih antar Ayu dan Mumtaz." tanya Daniel dengan tatapan muram.


" Gue suka Ayu sejak lama, kalian tahu sendiri berapa lama gue menahan diri mendekati Ayu sebelum bertindak. gue gak mungkin memelihara perasaan gue padanya kalau Mumuy gak menyukai Ayu. bagi gue gak ada yang lebih berharga ketimbang dia, itu saat gue hilang ingatan tentang bonyok, apalagi sekarang yang mana otak gue menyimpan segala memori pedih itu. beda dengan Lo, kan?" tuding Ibnu telak.


" Kalau Mumuy nyuruh Lo ninggalin Ayu saat ini juga? gue tahu sedalam apa perasaan Lo sama dia." tanya Alfaska.


" Tanpa mengurangi rasa cinta gue sama Ayu, detik itu juga gue akan meninggalkan Ayu, no debat. bahkan jika Mumuy ingin hidup gue, gue akan berikan. ini bukan hanya soal tragedi itu, tetapi setelah tragedi itu juga, Fa." lirih Ibnu matanya mulai mengaca.


Langit malam jadi pengalihan dia, saat otaknya memutar memori masa lalunya." hidup dalam tuduhan sebagai anak koruptor itu membvnvh jiwa, Fa. Mumuy yang memberi gue hidup, bahkan kalau dia ingin gue jadi anjink peliharaannya gue kasih diri gue, jadi saat dimana Mumtaz mengatakan dia kemungkinan akan meninggalkan RaHasiYa sebagai simbol solidaritas kami, gue tanpa protes menyetujuinya. dia kecewa sama Lo, Niel, dan ini bukan hanya tentang Ita, tapi diri Lo. berapa kali dia minta Lo ninggalin Sania? berapa kali Lo bilang menyanggupinya, namun kenyataanya Lo membohongi dia."


Tubuh Daniel saat ingin sungguh membeku, wajahnya pias, bagai tidak ada aliran darah yang merangsang motoriknya. Ibnu berdiri, tatapannya kini menajam, " paling lambat besok, kemungkinan dini hari nanti, Lo akan lihat kejatuhan keluarga Sania, meski Lo berstatus seorang Birawa, Lo gak punya jalan membantunya kecuali menghancurkan hidup seluruh keluarga Lo, dan nama Birawa tidak ada harganya. pikirkan tentang ayah dan bunda, Daniel. hentikan kebo-dohan Lo." setelah mengatakan itu Ibnu masuk ke kamar menyambar jaket kulitnya, dia butuh udara segar.


Jeno dna yang berada di ruangan tengah memperhatikan Ibnu yang menuruni tangga dengan raut tegang, dirinya mengikuti Ibnu yang mengambil kunci motor sportnya yang hampir tidak pernah Ibnu tunggangi.


" Gue yang bawa." Jeno mencegah Ibnu memasukan kunci motor ke lobangnya


" Gue butuh sendiri." sahut Ibnu tegas dengan rahang mengadu, jelas Ibnu tengah menahan emosi.


" Gue gak bakal ganggu Lo, tapi gue yang bawa motornya. Mumtaz yang memerintahkan kita untuk gak biarin Lo terpuruk sendiri." ucapan Jeno memancing sikap impulsif ibnu.


Ibnu turun dari motor, lalu menghajar Jeno, Jeno terkejut, namun dia tidak membalas. Ibnu melayangkan pukulan ke wajah Jeno lagi dan lagi, semua anak RaHasiYa yang berada di teras terkejut, mereka mendekat ingin melerai, namun kode mata Jeno yang mencegahnya.


Kini semua anak RaHasiYa hanya mampu melihat jeno yang sudah berbaring miring menutup wajah dari serangan Ibnu yang menggila.


" Kenapa? kenapa dia selalu ngawasin gue, kenapa dia gak bisa biarin gue sendiri. gue gak seberharga itu, baji-ngan. kenapa dia selalu ada di setiap aspek hidup gue, kenapa dia gak ngizinin gue bersama dia, kenapa dia memilih Rio ketimbang gue. kenapa?" Teriak Ibnu menen-dang-nendang perut Jeno yang sudah terkapar babak belur.


" IBNUUU..." Teriak Heru yang datang atas panggilan Ragad yang berlari karena khawatir akan kondisi Jeno.


Terakhir Ibnu menendang motor sport hitam yang terlihat masih baru tersebut yang seketika terguling.


Mata nyalangnya menangkap sosok Daniel yang berdiri diantar anak RaHasiYa," itu karena Lo, bang-sat. Lo khianati kami hanya karena perempuan penipu itu, keluar Lo dari rumah ini, ingat, gue dan Mumuy gak punya hutang budi sama Lo, jadi gue harap Lo tahu diri dengan menghilang dari kita." tegas Ibnu tidak terbantahkan.


Heru mendekatinya lalu memeluknya erat, Heru tidak bisa melihat Ibnu terluka lagi, apapun yang terjadi diantara sahabat ini, Heru hanya tidak bisa melihat Ibnu terpuruk lagi. Heru membawa Ibnu ke rumahnya.


" Bawa Jeno ke rumah sakit." titahnya, membubarkan kerumunan.

__ADS_1


Sesak, dada Daniel sesak sekali, lebih sakit ini daripada saat Dista mengabaikannya. Dunia Daniel hancur seketika, matanya melalang melihat sekitar, dia pikir sudah kiamat. dia sudah tidak punya dunia lagi.


Daniel terjatuh lemah di atas tanah sorot benci dari Ibnu menggelapkan kehidupannya, tapi dia sudah tidak punya kehidupan lagi setelah ucapan menyakitkan dari Ibnu tersebut.


Dia teringat saat Mumtaz mengha-jarnya, saat Zayin membuatnya keok, dia menyumpahi keto-lolannya, melupakan peristiwa saat Alfaska ditemukan di hutan belantara, menemukan Kak Ala di gunung. Mumtaz saja mampu, apalagi mencari jejak dirinya di darat yang beraspal licin ini, bagi Mumtaz itu hal yang kecil. Alfaska berdiri di sampingnya menatap Daniel dengan cemas.


Statusnya sebagai adik ipar Mumtaz yang menghalangi Alfaska menyentuh Daniel karena sebagai sahabat Mumtaz dan Ibnu, dia paham saat ini siapa yang menolong Daniel, dia pun akan dihabisinya tanpa sisa.


Denting ponsel Daniel yang tiada henti berbunyi selama lima menit terus menginterupsi kesunyian malam, Daniel mengambil ponsel dari saku celananya, nama Sania tertera di sana. Daniel melempar kencang ponsel berlogo apel belah keluaran terbaru itu.


" Keluarga Atmaja dinyatakan bangkrut, dan barusan ayahnya OTT KPK di salah satu cafe di daerah Kemang." ungkap Dewa dari arah belakang mereka dengan suara datar. Daniel dan Alfaska menatap padanya.


" Lo yang bikin mereka bangkrut?" tanya Alfaska.


" Bukan, itu dilakukan diluar RaHasiYa."


" Sudah berapa lama Mumuy tahu kelakuan gue?" tanya Daniel penuh kecemasan.


" Lo gak pernah diluar pantauan bang Mumuy, bang. dari pergerakannya dia cuma ngebiarin mereka menghabiskan duit mereka hingga terlilit hutang, baru melenyapkan mereka."


" Lo gak menemukan identitas peretasnya?"


" Enggak, gue gak tahu. tapi satu yang gue tahu, Lo menolong gadis itu, Birawa hancur. tuan Teddy sendiri yang mempersilakannya." Dewa berlalu dari sana.


Bibir Daniel merapat tipis, dia membenci dirinya yang tidak bisa tegas pada Sania.


" Lo jangan musingin nasib ayah, bunda, dan Ayu. Atma Madina yang akan menanggung kesejahteraan mereka, cuma mereka, gak Lo. gue punya bini dan anak yang harus gue nafkahi, Niel." ucap Alfaska, Daniel mendengkus kesal.


Ponsel Daniel yang ternyata masih bisa nyala, lagi, membunyikan denting sambungan masuk.


" Angkat, minyak goreng jelantah kesayangan Lo lagi butuh Lo, pangeran berkuda busuk." Ledek Alfaska.


Daniel berdiri, wajahnya terlihat menderita." Gue memang Idi-ot, tapi gue masih sayang nyawa." Daniel berjalan memasuki rumah.


" Woy, mau kemana Lo? Inu nyuruh Lo keluar, kadal. ah elah nyusahin gue, Lo." teriak kesal Alfaska.


" Mending Inu ngeha-jar gue ampe koma daripada gue keluar dari sini." jawab Daniel santai menaiki tangga.


Nando dan Zahra memperhatikan langkah Daniel dari tempat yang berbeda, Zahra memilih tidak mencampuri pertikaian antar sahabat tersebut, baginya Mumtaz yang harus diprioritaskan.


Sedangkan Nando yang duduk dari ruang tengah memperhatikannya dengan sorot penuh makna hal itu tidak luput dari tatapan mata datar Dewa yang menaruh curiga peranan Nando dalam RaHasiYa lebih dari tukang cleaning service.


*******


" Done, Muy." seru Rio menekan enter.


" Tunggu berapa lama?"


" Dalam 30 menitan Atmaja milik Lo."


Rio terkejut, ia menatap Mumtaz intens." Lo bareng gue lama, gak usah sok kaget hanya karena gue tahu perusahaan keluarga Lo jadi rebutan om dan bokap Lo. kalian otw pengangguran, lantai siapa yang merawat nenek Lo kalau bukan kalian, dan di itu kalian butuh duit."


Rio mengangguk, " Kak Ala yang akan beli rumah nenek Lo, dan gak akan biarkan nyokap tiri Lo mengusik kalian lagi." Ungkap Mumtaz.


" Kak Ala?" Rio kini terkejut sungguhan.


"Hmm, dia juga bilang kalau Nyokap tiri Lo bikin ulah lagi, biar dia yang hadapi, kalian terlalu gentle untuk meladeni perempuan macam dia."


" Kalian terlalu berlebihan, gue dan Jeno masih bisa mengatasi ini."


" Dengan ngontrak dan melepaskan rumah itu? kalian sedang cosplay jadi badut? tapi sayang gak lucu. Lo punya teman konglomerat, manfaatin gue." Mumtaz mengambil dompet dari dalam nakas lalu melemparnya ke Rio yang duduk tidak jauh darinya.


" Ambil satu kartu, yang hitam juga boleh."


" Kami gak bangkrut."


" Buat jaga pencitraan kalian di depan bokap Lo yang ngatain kalian gak berguna."


" Ck, kalau gini kondisinya kayaknya gue bakal bikin tu perusahaan bangkrut beneran dah."


" Wujudin aja niat Lo."


" Itu jerih payah almarhum kakek."


" Bara yang beli, dia sudah memantau perusahaan kalian."


" Seriusan?"


" Hmm."


Ceklek...


Sisilia memasuki ruangan dengan menenteng papperbag besar berisi makanan yang dia beli saat Mumtaz menyuruhnya keluar karena ada kepentingan dengan Rio.


" Kak, Rio keluar gih, kalian terlalu lama berdua di ruangan tertutup dan itu menyeramkan."


" Apa maksud kamu?" Rio langsung ngegas.


" Tidak ada maksud apa-apa, kak Rio kan fuckboy."


Saat Rio menyadari maksud tersembunyi perkataan dari sisilia, Rio meradang." Maksud Lo gue belok gitu?"


" Bukan aku yang bilang ya, tapi aku cuma melindungi cowok kesayangan aku aja."


Mumtaz terkekeh sembari menerima sandwich beef dari Sisilia, mendengar itu, namun berbeda dengan Rio.


"Sil, kayaknya Lo terlalu lama bareng Tia dan Ita deh, otak Lo jadi julid gitu." dia menerima sandwich dari Sisilia.

__ADS_1


" Ini sudah malam, tidur. keluar ih, di luar ada bang adam. aku juga pengen berdua sama Kak Mumuy."


Rio beranjak ke arah pintu," Terus kenapa kamu bawa makanan kalau nyuruh kita tidur. kamu tidur dimana?" tanyanya saat tangannya memegang gagang pintu.


" Di sinilah."


Rio kembali berbalik ke tengah ruangan," kok balik lagi?"


" Aku gak akan biarin kalian tidur sekamar tanpa orang ketiga."


" Kak Mumuy gak bakalan ngapa-ngapain aku."


" Off course, tapi gak ada yang jamin kamu gak bakal ngapa-ngapain Mumtaz."


" Kak Rio apa-apaan sih, apa maksudnya?" teriak Sisilia


"Kamu keturunan Italia yang hot, bersahabat dengan Ita, pasti kamu bakal merayu Mumtaz yang polos ini untuk ***-***." ucap Rio berdrama.


" KAK RIOOO..." wajah sisilia sudah memerah.


" Memang kamu sudah paham apa itu ***-***?" goda Rio.


Mumtaz tergelak, " HAHAHAHA...." Sisilia melototinya.


Mumtaz menarik sisilia mendekat padanya, mendudukannya merapat dengannya di atas brankar tanpa sungkan ada Rio di sana." Yo, berhenti godain dia, mau dia Italia hot, Meksiko sexy, Amerika bi-nal, tapi gue Banten tulen, bisalah jaga iman."


"Kak Mumuy." sentak Sisilia spontan.


" Ya udah gue keluar, pintu jangan dikunci, tiap dua jam sekali gue nengok kalian." peringat Rio sembari berjalan kearah pintu.


" Kamu makan juga, kamu kurusan." Mumtaz menyuapi sandwichnya pada Sisilia.


" Urusan dengan kak Rio udah beres?"


" Sudah. habisin sandwich ini lalu kita tidur."


" Aku masukin makanan ke kulkas dulu." Sisilia turun dari ranjang.


" kamu beli banyak?" Sisilia mengangguk, sengaja beli sandwich biar bisa langsung dimakan.


Setelahnya dia kembali menaiki brankar Mumtaz, menerima sandwich yang disodorkan padanya sembari mengobrol ringan hingga habis.


" Aku pindah ke ranjang sebelah ya?"


" Jangan, di sini aja. aku pengen meluk kamu."


" Gak mau, nanti yang difitnah ngegoda kamu, aku."


" Ck, gak bakalan. sini bobo jangan banyak protes." Mumtaz menarik sisilia berbaring berbantalkan lengannya.


" Udah Isya belum?" tanah Mumtaz.


" Udah, tadi mampir ke mushalla dulu sebelum ke sini. kakak?"


" Nanti sekalian tahajudan."


" Kakak masih recovery lho, ubah pola hidup kakak."


" Iya, tapi emang waktu bangun tuh jam segitu, tadi sebelum kamu kemari aku sempat tidur."


" Aku dengar, kak Jeno babak belur sama kak Ibnu."


Mumtaz melirik Sisilia," udah sampe ke telinga kamu? cepet amat. netizen kalah."


Sisilia menumbuk dada Mumtaz," aduh, sakit, Yang." Mumtaz berpura-pura meringis.


" Bisa serahin urusan Sania padaku? gak semua kakak yang urus."


" Biar Daniel, dia memang bo-doh, tapi dia gak punya cita-cita jadi anak durhaka dengan membuat orang tuanya menderita."


" Kalau iya, gimana?"


" Afa gak akan menelantarkan mereka, ikatan diantara mereka kuat."


" Seperti kakak dan kak Ibnu?"


Mumtaz diam merenung," mungkin, aku gak pernah menakarnya."


" Kakak rela kehilangan kak Daniel? kalian sudah lama bersama, banyak cerita sedih, dan pilu dilewati."


" Semuanya tiada yang abadi, sayang. jangan berharap lebih dari yang seharusnya. Usaha, jalani, dan terima. hanya sampai situ kemampuan kita."


Sisilia menatap hangat Mumtaz, ia bersyukur tidak menyerah akan perasaanya pada lelaki berkulit sawo ini yang tengah menutup matanya.


"Kak,..."


"Hmm."


" Love you."


Mata Mumtaz terbuka, ia menunduk sedikit menatap Sisilia, tersenyum kecil padanya," love you more, than you know."


Mumtaz membawa Sisilia ke dalam rengkuhannya," bobo, udah jam satu." mengecup kening Sisilia sebelum mengistirahatkan dirinya...


KISAH Daniel, Rio,dan Jeno bakal dibuat terpisah...


jangan lupa tinggalkan jejak seperti biasa..love you All...

__ADS_1


__ADS_2