Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 22 publish pacaran


__ADS_3

" kak Ala, pulang sama aku ya " Bara beranjak mendekat ke kak Ala


dalam diamnya kak Ala menimbang, memperhatikan, mengamati, dan memutuskan


kak ala melihat ke arah Mumtaz, " kakak pulang bareng om Hito." dia tersenyum penuh misteri.


" kak...."


menyentuh lengan Mumtaz untuk meyakinkannya. " kakak bakal baik-baik saja."


beralih meraih lengan om Hito " ayo, "


om Hito tersenyum, dan mengangguk


melepas pegangan Zahra di lengannya berganti Hito meletak tangan Zahra di lekuk lengannya.


mereka turun dalam diam. begitu para wartawan melihat mereka, seribu pertanyaan langsung diajukan


" tuan Hito apa berita itu benar?"


" kalian berkencan? "


" sejak kapan kalian berkencan?"


" apa dalam waktu dekat akan ada pernikahan?"


para wartawan saling berebut mengajukan pertanyaan


om Hito mengangkat tangannya memberi tanda stop.


" Kami akan memberikan konfirmasi atas pertanyaan kalian."


" kami tid..."


" benar. kami berkencan." Zahra menyela om Hito. dengan pandangan lurus ke depan.


om Hito menoleh pada Zahra, memberi tatapan bertanya


" kami telah bersama untuk beberapa lama yang detailnya tidak bisa kami sebutkan."


" hubungan ini serius." tekan Zahra.


" baiklah cukup sampai disini. kami lelah. mau pulang. terimakasih."


mereka menerobos barisan wartawan dengan dikawal penjaga cafe'.


om Hito menempatkan Zahra dibelakang tubuhnya tanpa melepas pegangan pada lengan Zahra terus berjalan ke arah mobil om Hito.


*****


mengendarai mobilnya dengan laju sedang. om Hito berkali-kali melirik Zahra yang terus melihat keluar jendela mobil.


meremas pegangan stir " Zahra, mengenai yang di mall, saya minta maaf "


" gak ada yang harus dimaafkan. dengan itu kau sudah menjelaskan sikapmu pada keluarga saya."


Hito menggeleng tidak suka bahasa formal yang dipakai zahra " bukan seperti itu. aku dan dia bersepakat berteman. jadi, kami jalan sebagai teman."


Zahra tertawa mengejek " teman, kau tadi sudah melihat videonya. di bagian mana bahasa tubuh kalian menunjukan pertemanan."


" saya..."


" tidak ada pertemanan antara lelaki dan perempuan. apalagi dengan mantan yang ingin balikan,"


beralih menatap om Hito " kau pikir aku sebodoh yang kau kira."


" dengar, kau tidak perlu menahan diri untuk balikan. itu tidak ada urusannya dengan saya. itu keputusanmu. "


" bukan...bukan begitu...saya...minta maaf." lirih Hito.


" berhenti berucap maaf. kemarin sudah saya jelaskan kalau kau kembali padanya itu berarti kau tidak menyesali apa yang terjadi." ucap Zahra tajam


Hito menggeleng


" tidak seperti itu...saya sungguh..."


" lakukan apa yang ingin kau lakukan. kau dan saya hanya dua orang asing. Hito." Zahra menekankan kata terakhir


Hito yang mendengar Zahra memanggilnya tanpa panggilan om membuatnya tersinggung.


" Zahra..." Hito meminggir dan memberhentikan mobilnya.


" dengar, saya mohon dengarkan dulu" pinta Hito ketika Zahra membuka mulutnya


" saya minta maaf sudah melakukan kesalahan besar. saya pikir yang kamu maksud untuk tidak berpacaran dengannya lagi. jadi kalau berteman masih bisa." jelas Hito.


" kan saya kemarin bilang perlakuan dia masa lalu yang harus dihempaskan, berarti emang harus dikubur, dibuang, dilempar jauh. pokoknya di hapus dalam hidup kamu." Zahra menjelaskan panjang kali lebar sampai naik-turun nafasnya.


" ya bilang dong yang jelas jangan pake bahasa rumit gitu."


" rumit apaan segitu udah jelasnya." rutuk Zahra pelan yang masih bisa didengar Hito.


" jadi disini saya harus pilih kamu atau si Sivia, gitu?"


" terserah penafsiran kamu yang pasti saya dan wanita itu tidak akan ada dalam circle hidup yang sama."lirih Zahra lelah.


" buka pintunya." ucap Zahra menatap Hito.


" mau kemana? saya anter kamu." Hito bersiap menghidupkan mesin mobilnya. tapi membatalkannya.


" tidak perlu. saya dan kamu orang asing. sebaiknya kita kembali seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. saya capek." Zahra masih mencoba buka pintu mobil, namun tatap tidak bisa. Hito mengunci pintunya.


Hito menggeleng " daripada saya kehilangan kamu, lebih baik saya hapus dia dalam hidup saya."


" karena rasa bersalah." Zahra menatap lurus manik mata Hito


" karena saya menginginkannya. kejadian yang di mall tidak akan pernah terjadi lagi." Hito membalas tatapan Zahra.


" itu akan membuat mu menderita."


" tidak melebihi penderitaan kamu dan keluarga mu. "


hening....sejenak


" jangan persulit keadaan. toh kita tidak akan bertemu lagi. tidak ada alasan kita bertemu. saya sudah tidak bekerja di cafe' lagi." Zahra masih mencoba melepas diri dari Hito.


" tapi kita pacaran. kamu sendiri yang bilang ke wartawan itu." Hito tersenyum jahil.


diam sesaat. " ishh. ribet amat dah." jengah Zahra.


" he..he..hehehe.." Hito terkekeh pelan berhasil membuat Zahra tidak berkutik. dengan hati senang bagi Hito, melajukan mobilnya


******


Markas the aneh


sepulang dari cafe', mereka sepakat untuk memeriksa cctv cafe' mencari tahu alasan kak Zahra marah.


membutuhkan waktu lima menit bagi mereka untuk menemukan penyebabnya. seketika mereka memasang raut keruh.


" Muy, Kak Zahra tahu penyebab om Hito mabuk!" lirih Ibnu


" Sivia Gonzalez, wanita jahat penghasut pria.!" omel Jimmy.


" target pengawasan selanjutnya dia Nu." tutur Daniel yang diangguki Ibnu.


" retas, sadap dan awasi semua hal terkait Sivia." ujar Mumtaz tajam. diangguki semua orang.


mau uji coba biohacker kita?" usul Daniel.

__ADS_1


belum tuntas juga uji coba prototipenya. " Ibnu mengingatkan.


" udah tahap akhir. hanya sempurnain sana-sini. terus kita langsung aja ke manusianya." Jimmy menjawab.


" oke besok kita ke lab. "Mumtaz menutup perbincamh


*****


Apartemen Hito


melempar jas ke sofa dan laporan hasil penyelidikan dari informannya ke atas meja dan menggulung lengan baju sampai siku Hito menghempaskan dirinya ke sandaran sofa. hari yang cukup melelahkan.


sejak perkelahian Zahra dan Sivia. Hito menyewa informan untuk menyelidiki perbuatan Sivia satu tahun lalu


derrrt...deerrrt...


melihat siapa penelpon Hito menjauhkan ponselnya.


dia sendiri tak mengerti mengapa dia tak ingin melepas diri dari Zahra. membayangkan harus jauh dari Zahra begitu menyakitkan.


membuka amplop besar berwarna coklat dia membaca dan memperhatikan photo-photo yang ada didalamnya.


setelahnya hanya tawa ironis yang keluar dari mulut Hito.


" sial...kena prank lagi gw. wanita sialan." membanting keras dokumen itu ke atas meja.


menyandarkan seluruh tubuh ke sandaran sofa menutup mata dengan satu tangannya.


" kalo dia kelemahan gw, harus gw sendiri yang menghapus kelemahan gw." bathin Hito.


Hito merubah duduknya condong ke arah meja dengan melihat-lihat photo-photo hasil laporan itu dia menelpon seseorang.


" hallo, Win, besok kumpul kuy di apart Heru. gw ada kejutan buat Lo."


"......"


" oke ketemuan disana." Hito menutup sambungan telponnya


deerrrt....deeeerrrt....


melihat siapa yang menelpon. menghela nafas berat. dengan malas dia menjawab telpon itu.


" hallo iya Via ada apa?"


" To, tadi aku lihat berita kamu pacaran sama perempuan itu. itu gak bener kan To."


" sama siapa maksud Lo.?" pancing Hito meski dia tahu siapa yang dimaksud, tapi dia tidak suka Sivia menyebut Zahra dengan kata ganti 'perempuan'


" si Zahra. kalian gak pacaran kan."


tersenyum smirk " iya. itu benar."


" kok gitu sih. terus aku gimana. aku ga suka ya kamu pacaran sama dia."


" apa maksud Lo. gak peduli gw Lo suka atau gak. bukan urusan lo. "


" kok kamu kasar sih. kamu gak bisa kayak gini sama aku. besok aku ke apart kamu ya."


" terserah gw. gak. Lo gak boleh ke apart gw lagi. "


" To, kok gak boleh. "


" jangan banyak tanya. gw gak mau lo ke apart gw lagi."


klik....


Hito menutup sambungan telponnya. beranjak pergi ke kamar tidur untuk membersihkan diri tidak peduli ponselnya yang terus bergetar.


***


rumah Mama Aida


" Tia, Lo gak sedih ditinggal ke Korea ma temen Lo." tanya Zayin tiba-tiba


" sedih sih, tapi ya.. hidup itu harus memijakan kaki di bumi supaya tetap waras." Tia bersedih.


pasalnya tiga sohibnya udah dua hari liburan ke Korea dengan alasan nemenin Cassandra berobat. padahal Cassy ditemenin sama mamanya.


sebenarnya mereka mengajak Tia juga, tapi Tia menolak, meski biaya liburan itu ditanggung sama temennya. ajaran mamanya untuk tidak mengambil manfaat dari kebaikan orang tertanam kuat di dirinya


" jadi penasaran deh mukanya Cassy jadi kayak gimana balik dari Korea." lamunan Tia Travelling


" ya kayak Cassy sebelumnya. gak mungkin berubah jadi jenny black pink kan. kata kamu cuma ilangin bekas sayatan itu doang. " jawaban kak Zahra membuyarkan lamunan Tia.


mendelik sinis ke kak Zahra "iya juga sih, tapi gak usah rusak khayalan orang juga kali." ketus Tia.


mendapat jawaban ketus dari Tia kak Zahra mengkerut kan jidat bingung.


" apa salah ku?" kak Zahra menggerakkan mulutnya tanpa suara yang dibalas Kedokan bahu oleh Mumtaz dan Zayin.


" gak ngerti apa yang diliat om Hito sampe mau pacaran sama kak Ala ? "


" dih kepo. gak nyambung deh. " kak Ala risih diungkit perihal hubungannya dengan Hito.


pemandangan adu mulut antar kak Ala dan Tia perihal random selalu sukses mencairkan suasana dengan tawa. khususnya tawa mama Aida.


*****


perusahaan Hartadraja.


ruang CEO pusat.


jika pada umumnya penerus yang menjabat CEO dalam perusahaan keluarga adalah anak lelaki tertua, beda halnya dengan Hartadraja. penerus keluarga ditempatkan pada jabatan yang disesuaikan dengan kemampuannya.


pemangku jabatan CEO dialihkan kepada Hito Hartadraja, anak lelaki termuda, sedangkan Damar Hartadraja memangku jabatan direktur audit pusat. Tante Julia, direktur hubungan internal dan external perusahaan sebagai jembatan perusahaan dalam pengabdian masyarakat. dan si bungsu Aidelweis masih terbang bebas sesuka hati.


" jadi Atma Madina cyber tidak bersedia menjalin kerja sama. kata kamu pertemuan kemarin berjalan lancar." tanya papa Aznan.


" iya pa. Damar juga kurang paham kenapa mereka mundur dari kerja sama ini "


" padahal mereka menaungi para hacker terbaik Indonesia yang bersaing dengan hacker dunia."


" kita butuh mereka. hacker kita kewalahan dengan serangan retas yang bertubi-tubi. bahkan beberapa data base berhasil di bobol. untung yang bobol hacker yang beretika. tinggal tunggu imbalan apa yang mereka minta untuk menghancurkan data base kita." keluh om Damian.


memang sejak Mumtaz dan para sohib melepas diri membantu menjaga rahasia perusahaan dari hacker, Hartadraja corp membentuk tim khusus penanganan peretasan terhadap perusahaan, tapi sampai sekarang tim itu kurang efektif.


" aku udah usah mencoba segala lobi, tapi masih belum berhasil. entah apa yang merubah pikiran mereka." papar Damar


" coba saja minta Akbar buat ngomong ke mereka. sepertinya mereka mendengarkan Akbar. ingat, bantuan mereka terhadap Hartadraja corp atas permintaan Akbar. kak." usul Hito.


" entar aku ngomong sama Akbar. dia lagi sibuk megang dua anak cabang."


" papa gak nyangka Akbar berperan penting penyelamatan Hartadraja." tutur kakek Aznan.


" Mar, si Akbar itu terlalu pendiam. mukanya juga terlalu datar. berpuluh-puluh kali lipat dari kamu. papa gak bisa baca jalan pikirannya." keluh kakek Aznan.


" jangan kan papa, Damar sendiri kewalahan ngadepin diamnya dia." papa Damar lesu menghadapai anak sulungnya yang tak bisa ditebak.


papa Aznan menepuk jidatnya.


" hampir lupa. Hito, kamu disuruh pulang ke rumah sama mama kamu. kamu kok gak bilang pacaran sama Zahra."


Damar, Damian, mengalihkan perhatian ke Hito yang dijawab Hito dengan mengedikan bahu.


" iya insyaAllah lusa pulang. masih banyak kerjaan."


" sekalian bawa Zahra nya." papa Aznan beranjak pergi keluar ruangan Hito


" pa..." Hito hendak menolak

__ADS_1


" itu titah mama kamu. kalau mau nolak bilang sendiri." ucap papa Aznan sembari berjalan ke pintu.


tinggal mereka bertiga diruangan itu.


" beneran kamu pacaran sama Zahra?" penasaran kak Damar.


Hito diam, tidak tahu harus menjawab apa. dia sendiri bingung status mereka saat ini.


" gw entar mampir ke rumah mama. Lo juga. Yan daripada dirumah sendiri." tutur damar yang mendapat anggukan dari Damian. sedangkan Hito mendelik sinis ke arah mereka


*****


" Ru, sore ini gw, Zahra sama Erwin mau ke apart Lo." ucap Hito santai.


" ngapain." sewot Heru berniat menolak.


pasalnya kalau mereka kumpul pasti berakhir apartemennya berantakan


" gw mau tuntasin masalah Sivia. eneg gw Sama ulah dia."


" serius?" Heru sudah tahu masalah yang terjadi di cafe' D'lima. dia sendiri sedari awal kemunculan kembali Sivia kurang menyukainya.


" heeh. jadi boleh ya."


" sip. sekalian bawa makanan sendiri ya." ujar heru. Hito mencibir.


****


kampus Atma Madina


Hito berdiri bersedekap bersandarkan diri disamping mobilnya. tiga perempuan mendekatinya dengan tawa ceria


" maaf lama. tumben mau jemput aku ada apa ya?"


tanya Zahra ketika berdiri dihadapan Hito.


" enggak. kita mampir ke apart Heru dulu yuk." ajak Hito sembari membuka pintu bagian kemudi.


" enggak. ngapain. aku ini perempuan. ngapain mampir ke tempat cowok. perempuan sendiri lagi." tolak Zahra.


" ajak aja mereka." seru Hito yang memang sudah mengenal teman-teman Zahra itu.


" masuk dulu entar dijelasin." sela Hito ketika Zahra membuka mulut.


" selain kamu, ada Erwin juga kok. sekalian Sivia juga." Hito mengendarai mobilnya pelan


mendengar nama itu dengan cepat Zahra geleng kepala.


" aku mau langsung beresin masalah dia. ambil amplop coklat di situ" tunjuk Hito ke dashboard.


Zahra menurutinya " buka dan liat."


Zahra masih mengikuti instruksi Hito.


bola mata Zahra seketika membulat lebar. Hito yang sudah tahu Zahra paham. mengangguk


" iya aku mau bikin Sivia tercyduk didepan kita. aku bosen denger rengekan dia maksa diijinin ke apart aku mulu."


" kalian ikut ya. gw males, tapi gak bisa lewatin ini." Zahra berbalik badan ke bangku penumpang. memberi isi amplop itu ke mereka. para sohib mengangguk.


" beli makanan dulu di mini market ya." Hito menepikan mobilnya depan mini market.


raut tiga perempuan itu langsung sumringah kayak anak balita.


mereka mengambil semua yang mereka inginkan. sungguh pintar memanfaatkan situasi


*****


mereka memasuki unit Heru tanpa permisi. Hito sang kepala pasukan menerobos masuk tanpa ijin.


emang gak apa-apa? masuk gitu aja? " tanya ragu Zahra. Hito menggeleng.


" ini tempat aku dulu waktu SMA. waktu aku kuliah diluar, Heru menempatinya. pas aku balik aku beli apart baru."


" berarti ini punya kamu dong. terus kenapa kamu minta ijin mau kesini?"


Heru mengangguk-angguk " iya ya. ini kan tempat aku kenapa dia keberatan aku kesini?" Hito bingung sendiri.


" baru sadar Lo ini apart Lo." sarkas Heru. yang mendapat delikan tajam dari Hito.


tiga perempuan langsung memasang raut sinis ketika mendapati Erwin di ruangan tamu itu.


" kenapa kalian keliatan sinis gitu ngeliat Erwin?" tanya Heru.


" emang kita harus ngasih tatapan apa ke si pengkhianat?" sewot Ziva.


" pengkhianat?" bingung Hito.


" iya. apa namanya kalo bukan pengkhianat bersama kala susah, dibuang kala sukses." kesal Ziva.


" Zahra sendiri yang ngundurin diri ya. saya gak pecat dia." Erwin tak terima


" setelah Lo potong gaji dia karena suruhan nenek lampir. awas aja kalo ceweknya berkualitas rendah. " ancam Zahira.


" dulu waktu cafe' mau bangkrut Zahra masih bertahan kerja disana, dan mendatangkan pelanggan dengan mengajak temen-temen lesnya. ditambah bukannya Zahra ya yang memperkenalkan dia dengan Mumtaz dan kawan-kawan nya." sindir Zahira.


" sekarang cafe' sudah sukses dia tendang Zahra seenak udel dia. cuma karena cewek jelek.cuih!" panas hati Ziva.


Erwin yang disinggung hanya terdiam menyesal.


Heru, dan Hito yang menarik Zahra ke dapur untuk menyiapkan segala bawaan mereka. meninggalkan Erwin yang mendapat ceramah dari dua temen Zahra.


" kenapa kesini? ngehindar ya? takut?" ledek Zahra. mendekatkan diri untuk melihat wajah hito


" bukan takut, cuma cari aman." saut Hito santai berbalik badan ke Zahra.


" laki-laki yang cerdas menghindar sewaktu perempuan mode senggol bacok on


Zahra memutar bola matanya malas berdecak tak percaya.


Hito terkekeh pelan


Ting nong...


Heru membuka pintu yang didepannya sudah ada Sivia yang tersenyum sumringah.


menerabas masuk menyingkirkan badan Heru " Hito mana?" kenapa Lo yang buka pintu?" sombong Sivia.


terus melangkah sehingga bersitatap dengan Erwin yang duduk di sofa single. memutar perhatian ke setiap orang yang berada disana


Hito duduk disamping Zahra yang tengah ribut memperebutkan makanan. dia tertegun dan gugup tapi langsung menetralkan raut mukanya.


" Hito..apa maksud kamu manggil aku kesini? kamu bilang mau ketemuan sama aku, tapi kenapa ada perempuan itu?" cecar Sivia tak suka. menunjuk Zahra.


" dih ngegas. duduk dulu Via." tawar Heru.


" gak. Hito ayo kita pergi aja dari sini. ke tempat lain aja." percaya diri Sivia.


mendengar desisan tawa mengejek dari Ziva, Sivia melotot tak suka.


" biasa aja tu mata. copot tau rasa Lo." tiba-tiba Ziva judes.


" siapa Lo? gw kenal Lo? "


" gw yang kenal Lo. cewek pansos gagal." ledek Ziva. membuat yang lain menatap bingung....


^^^^^^terimakasih masih ngikuti.ceritanya^^^^^^


^^^jangan lupa apresiasi positifnya ya...^^^

__ADS_1


^^^taufan kamilah, 19, Juni, 2021^^^


__ADS_2