Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 6 maaf


__ADS_3

Pemberitaan putusnya hubungan Mumtaz dan Bella langsung tersebar seantero sekolah tidak saja membuat para murid heboh, tetapi juga guru turut berkomentar tentang putusnya hubungan itu. banyak yang menyambut suka cita atas putusnya hubungan ini. bahkan langsung menjadi tranding topik dimading dan group sekolah.


Sebenarnya awal hubungan terjalin tidaklah menarik perhatian publik. tapi kelancangan Bella menghina Mumtaz tiada hati. hubungan ini menjadi perhatian orang banyak. hal ini karena sikap Mumtaz yang selalu terkesan tenang menghadapi sikap arogan Bella.


di rooftop


" kenapa Lo Muy, jangan bilang Lo galau gara-gara putus sama tu nenek lampir? Jimmy semakin julid.


" kenapa dah Lo Jim tu mulut culas abis hari ini?" Daniel geregetan sama Jimmy.


" kenapa mulut lo komat kamit Jim?" tanya Ibnu melihat jengah Jimmy yang dari tadi mulutnya sibuk kayak baca mantra sambil matanya kicap kicep.


sambil duduk bersila kedua telapak tangan diatas paha Jimmy dengan khusyuk berucap tanpa suara " lagi baca alfatihah gw. sebagai wujud syukur gw Mumuy bebas dari makhluk jelek itu" ucap Jimmy dengan judesnya ditambah tatapan yang mendelik.


" ya ampun."


" astaga."


" lebay Lo jimot." ucap mereka serempak dengan jengah


******


kelas 11 IPa 2


ketika Mumtaz sampai depan pintu kelas, dia berdiri tegak dengan raut wajah kaget begitu juga dengan tiga sohibnya. bagaimana tidak, sesampainya mereka dikelas mereka disambut dengan suara teriakan gemuruh dan sobekan-sobekan kertas kecil dan sorak - Sorai ditambah siulan mulut membahana dari teman kelas


" congrats bro."


" selamat terbebas dari hama bro."


" jomblo lebih baik daripada pacaran sama dedemit bro." dan ucapan berupa selamat lainnya yang diucapkan temen sekelas sambil bersalaman satu persatu dengan sumringah. seperti mereka mendapat undian liburan ke luar negeri.


bagi teman sekelas Mumtaz bukan hanya temen sekelas biasa. banyak dari mereka yang sudah ditolong oleh Mumtaz dan para sohibnya dari kejahatan jalanan. memang disekolah dia bukan sosok populer, tapi diluar sekolah, banyak siswa dan siswi sudah merasakan pertolongan Mumtaz dan para sohib. entah dari begal, perampokan jalanan, keroyokan antar geng dan lain sejenisnya sehingga banyak murid yang secara diam-diam kagum padanya.


menghela nafas Mumtaz "sepertinya kalian bahagia. gw seneng kalo kalian seneng. sorry udah bikin kalian ga nyaman." ucap mumtaz santai.


yang denger, mereka jadi salah tingkah dipikir mereka udah bikin Mumtaz tersinggung. padahal mah emang gitu pembawaan si Mumtaz.


" sorry kalo terkesan nyelekit bagi Lo. tapi kita ga bisa nutupin kalo kita seneng Lo terbebas dari si cewek itu." ujar Adit sang ketua kelas yang bahkan ga mau sebut nama si cewek itu.


" santai bro. ya udahlah lanjut kebahagiaan kalian. ini guru belum masuk kenapa dah Dit?" Mumtaz mengalihkan pembicaraan.


" tadi pak Abun ngasih tugas cuma tiga soal Muy. katanya supaya kita ngehibur Lo yang lagi galau baru putus." sambung Dina nyerocos


" woy. bro Jimmy, gw sebagai kepala suku dengan berbaik hati gw udah pesen pizza sepuluh box plus minumannyabuat kita semua. baikkan gw ." bangga Adit sambil membusungkan dada. entah apa yang mesti dibanggakan.


" HAH.., kok gitu. gak bisa gak bisa. perjanjian gw traktir bakso dikantin yeee... jangan - Ngadi Lo bocah tengik!!" tolak Jimmy dengan sewot sambil tolak pinggang. kayak emak-emak gak kebagian sembako.


" bentar lagi pizza nya Dateng Jim. gak bisa cancel. udahlah bayar aja. jangan malu-maluin leluhur Lo Jim. btw makacih Jimmy zeyeng." ucap genit Bagas dengan mengedipkan mata


tok...tok...


" woy ada paan ni depan pintu? minggir orang ganteng mau lewat." teriak Rio yang berdiri dibelakang Mumtaz dan para sohib.


" Jim ni ada pizza atas nama Lo. gw baikkan nalangin Lo dulu. struknya masih nempel dikardus. bayar sekarang dengan kontan gak pake kredit." Rio menyerahkan tumpukan pizza ke tangan Jimmy dengan cengiran dan halus naik turun.


dengan semangat 45 Adit merebut pizza yang ada ditangan Jimmy. " ok ladys n gantleman ini saatnya show time selamatan Mumtaz dari fitnah dunia berupa wanita iblis" sadisnya ucapan Adit sang kepala suku. ajakan itu langsung disambut meriah dengan euforia berlebihan diiringi musik dari gebrakan meja dan hentakan kaki ala prajurit dan sorakan serta siulan ala cheerleaders.


" sorry bro. gw beneran gak nyangka bakal sadis kaya gini ending Lo Mum." sesal Rio yang menganggap temen-temennya gak peka terhadap kondisi Mumtaz.


" gw beneran gak maksud Mum. gw cuma disuruh anak-wnak buat ajak si Bella jalan makan bareng." lanjut Rio menghela nafas. bagaimanapun dia merasa bersalah atas perkataan Bella terhadap Mumtaz.


" its oke bro. gw santai kok. ternyata putus ma dia ga seseram yang gw pikir. bahkan gw plong. thanx atas bantuannya bro." ucap Mumtaz menenangkan. dia memang kurang dekat dengan Rio, tapi beberapa insiden diluar sekolah yang menjadikan mereka saling peduli.


beberapa kali Rio diselamatkan oleh Mumtaz dan sohibnya dari beberapa kejadian pengeroyokan antar geng. Rio adalah anggota geng yang dikepalai oleh Bara sang legenda tarung dijalanan.


" kuylah kita gabung. melow disini gak bakal kebagian pizza kita. mana rugi bandar gw." sungut Jimmy sok imut. yang diladenin dengan mimik muntah oleh para sohibnya.


********


" eh Bella, mana katanya Lo mau balikin duit Mumtaz yang udah Lo porotin. atau Lo cuma bisa ngebacot doang, tapi gak sanggup ngelakuin." tagih Jimmy sambil menadahkan tangan ke Bella dengan pongah dan kebencian yang gak ditutupin didepan penghuni kantin.


sudah seminggu ini Jimmy dibantu temen sekelas 11 IPa 2 menagih bahkan meneror Bella lewat segala sosmed perihal pngembalian uang Mumtaz. sungguh mereka sebegitu bencinya kepada Bella sang penghina pahlawan mereka padahal Mumtaz yang dirugikan biasa saja.


" cerewet Lo Jim. lagian Lo sama temen-temen Lo kerajinan amat minta tu duit. si Mumtaz aja gak ngurus." marah Bella


" dia mah orang baik. gak bakal nagih Lo. tapi Lo bukan orang baik dan gw benci sama Lo. udah jangan banyak ngebacot Lo. sini duitnya."


" ni duitnya. makan tu duit. nyesel gw pernah kenal sama tu orang. bilang sama temen Lo itu jangan pernah deketin gw lagi. muak gw sama dia."


*******


Rooftop


" dihh ke PD an. orang dianya aja udah santai aja pisah sama Lo. "ledek jimmy. sambil berlalu pergi dari meja Bella dengan santai sambil mengipasi wajah dengan amplop pemberian Bella.


" ini bro duit Lo." Jimmy menyerahkan amplop tersebut.


" anjir beneran Lo Jim nagih tu duit ke si Bella" Daniel menggeleng kepala tak percaya


" hooh. gw juga bakal nagih duit ke si Indah. kalo dia berani mempermainkan Lo Niel." enteng Jimmy.


" terus duitnya mau gw apain Jim" tanya Mumtaz


" ya Lo pakelah buat keluarga lo. gimana adik Lo udah bayar buat ujian belom?"


" kan udah minjem ke nyokap Lo Jim." tanya Ibnu.


" ya bayarlah hutangnya."


" aish receh juga mesti bayar Jim." sarkas Daniel.


" ishh terserahlah kalo gak mau bayar


itung-itung inves gw ke Tia ya Muy." sumringah Jimmy.


" sempet-sempetnya ni bocah modus. hedeuuh." dengus Daniel sambil mengggeplak kepala Jimmy.


" biarin ih terserah gw. sewot aja lo."

__ADS_1


" Muy. coba itung berapa duit lo. gw pengen tahu seberapa begonya Lo diperalat tu nenek lampir? masih Jimmy dengan kejengkelannya.


setelah duit itu dihitung oleh mereka minus Mumtaz. mata mereka melotot dengan raut wajah kaget tak percaya.


" anjir sumpah speechless gw. dalam beberapa bulan Lo pacaran sama tu nenek lampir udah 36.575 ribu Lo habisin buat tu si nenek lampir Muy." Jimmy geleng kepala.


" kayak juga Lo Muy." sarkas Ibnu.


" tapi nyokap dan adik - kakak Lo susah payah buat bayaran sekolah Muy." timpal Daniel sendu


" gimana dengan Lo Niel. berapa duit Lo yang udah Lo kasih ke si Indah. secara Lo lebih bucin ditunjang dengan ke SULTAN an lo Niel." dengus Jimmy.


" diem Lo Jim. sekarang bukan soal gw. tapi si Mumuy." jengah Daniel bosen.


" gw juga ngerasa takjub. gak nyangka gw sebego itu." Mumtaz terkaget dengan kenyataan. dia merasa sebagai orang tolol.


" Muy. kalo lo bingung buat ngabisin duit ini. boleh gw minta 10 Ampe 15 juta? gw pengen merealisasikan penelitian kita Muy. semua teori udah komplit sekarang tiinggal prakteknya aja." ucap Ibnu.


saat ini Ibnu dan Mumtaz sedang fokus penelitian pencarian orang lewat tekstur tubuh lewat KTP dan hawa Panas tubuh objek selama 24 jam lewat sinyal elektromagnetik dan alat-alat lainnya. mereka sudah membuat prototipenya. sekarang mereka mencoba mengaktualisasikannya.


" Muy. Lo ga ada niat minta maaf terus balik ke rumah? sampe kapan Lo kabur begini?" Jimmy menegur Mumtaz.


" maksud gw. Lo pasti udah nyesel perihal si Bella. gw ga mau Lo nyesel juga perihal keluarga Lo Muy. kita tahu persis kalo Lo selama ini menderita Muy."


derrt...derrt...


hp Jimmy bergetar. dan melihat siapa penelponnya dia langsung menjawab sambungan pada sambungan ketiga


" hallo iya . ada apa, Ya?"


" siapa?" tanya Daniel tanpa suara. hanya menggerakkan bibirnya saja yang dijawab " Tia"


" ehh kak. ada Aa Mumuy ga disitu?"


" ada. ada apa ya?"


" tolong bilangin ke Aa Mumuy kalo mama masuk rumah sakit Atma Madina."


" HAH. kenapa? kok bisa?" mendengar perkataan diseberang Jimmy teriak kaget hingga duduk dalam sikap tegak siaga.


mendengar teriakan Jimy para sohib menatap intens Jimmy.


" untuk info lebih lanjut dirumah sakit aja ya. ini aku ngasih tahu juga. siapa tahu Aa Mumuy mau tahu. udah ya kak. aku tutup telponnya."


" kenapa Jim?"


" ada apa?"


" kenapa muka Lo tegang gitu Jim." tanya mereka serempak


dengan nanar Jimmy menatap langsung mata Mumtaz.


" Muy. mama Aida masuk rumah sakit." lirih Jimmy


mendengar itu itu Mumtaz disusul tiga sohib nya langsung berlari arah parkiran.


RUMAH SAKIT ATMA MADINA


Diruang kelas satu tiga bersaudara mengitari brangkar mama Aida yang belum bangun dari pingsannya. diiringi tangisan Tia yang sedari tadi tak berhenti dalam pelukan kakak kembarnya serta wajah sedih kakak Ala dan Aa Zayin.


pukul tujuh pagi tadi Tia menemukan mama Aida tergeletak tak bergerak didapur. dengan rasa takut dia membangunkan mama tapi tak ada pergerakan. segera Tia berteriak memanggil kakak-kakaknya. dengan terburu-buru dibantu tetangga mereka membawa mama Aida ke rumah sakit terdekat.


saat ini pukul 10.00. sudah tiga jam mama belum sadarkan diri. meski dokter mendiagnosis tak ada yang perlu dikhawatirkan. mama hanya kelelahan dan stres.. tubuhnya sudah tak menampung aktifitasnya mama yang lebih sibuk sepeninggal Mumtaz dari rumah.


" kak. gimana kita bayar deposit rumah sakit?" tanya Zayin. ditangannya sudah ada rincian keuangan deposit rumah sakit.


" duit Ayin udah habis buat bayar sekolah dan keperluan rumah sehari-hari." ucap pelan Zayin.


" Yon. gimana kalo kita ngehubungin om Hito buat ijin make duit yang udah beliau kirim?" jawab bingung kakak Ala. pasalnya uang penghasilan kerja di cafe dan ngajar les sudah dipake buat biaya kuliah.


" apa mama gak bakal marah kak?"


" ya gimana lagi. ga ada pilihan lain lagi Yin."


" kakak telpon om Heru. asistennya om Hito." kakak ala melangkah keluar kamar mengeluarkan hp dari tas selempangnya.


" A. Tia keluar bentar ya"


" mau kemana? jangan jauh-jauh."


" iya.bentaran doang". Tia pun meninggalkan ruangan tersebut.


******


Gedung Hartadraja


hari ini seperti hari-hari kemarin dan yang lainnya. Hito meleburkan dirinya dalam pekerjaan. pasca tragedi tabrakan. Hito enggan melirik warna kehidupan. dia membiasakan diri hidup dalam warna kelam. baginya sepertinya tidak adil jika dia menikmati hidup, sementara ada satu keluarga kehilangan kehidupannya. rasa menyesal. semuanya bermula dari rasa bersalah.


Menengadahkan kepala d Ngan terkulai lemas diatas sandaran kursi kebesaran sebagai CEO dari BRANS TV. Hito bertanya-tanya mengapa pihak keluarga korban tidak mengunakan uang yang rutin dia transfer ke rekening sesuai perjanjian. sengaja dia lakukan transfer itu lewat m-banking. guna mengetahui pemasukan dan pengeluaran. tapi sejak kali pertama dilakukan transaksi, tak pernah sekalipun penarikan dana dari rekening tujuan


derrrt...derrrt....


" hallo." Hito menjawab telpon tanpa melihat id penelpon.dengan kepala masih bersandar disandarkan kursi.


" Assalamu,alikum. bener ini no om Hito?" tanya penelpon dengan ragu.


" iya saya sendiri. ini siapa ya?" Hito berbicara sambil memijit kening karena terasa pening.


" ehm. maaf kalo saya ganggu. saya Aulia Zahra, putri dari Alm. bapak Zein."


mendengar perkataan diseberang Hito menegakkan badan dan duduk tegap. dia melihat id penelpon di layar hpnya.


" iya Zahra kenapa, ada yang bisa saya bantu?"


" eh. ehm gini om bisa luangkan waktu barang sebentar. ada yang ingin saya sampaikan."


" kamu dimana sekarang, kita bisa ketemuan."


" ehh. ga perlu sampe ketemuan om. takut mengganggu aktifitas om."

__ADS_1


" gak ganggu. saya samperin kamu. sekaatang kamu dimana?"


" kalo om maksa kita ketemuan dicafe seberang rumah sakit Atma Madina bisa om?"


" bisa. tentu bisa. tunggu saya. 30 menit lagi saya sampai." jangankan di cafe itu. diujung Jakarta paling ujung pun gw jabanin. bathin Hito.


" baiklah om saya tutup telponnya ya om. terimakasih sebelumnya."


Tut..


selepas menutup sambungan Hito langsung keluar ruangan. Heny. jadwal saya saat ini dipending dulu ya. saya mau keluar. belum tahu kapan balik kantor. ucap Hito sambil melangkah. menuju lift dia berpapasan dengan Heru.


" Ru. ikut saya sekarang." Heru yang hendak menuju ruangan langsung membelokan arah langkah ke arah Hito. tanpa bertanya dia mengikuti Hito masuk lift.


*********


Cafe seberang rumah sakit.


duduk dengan gelisah Zahra sudah 25 menit menunggu om Hito.


" maaf saya terlambat."


ujar suara bariton yang ada dihadapan Zahra.


Zahra mendongakkan kepal dengan gelengan kepala cepat. melihat dua lelaki yang berdiri dihadapannya dengan stelan kerja.


" gak om. saya yang duluan datang. silakan duduk om."


dengan memainkan jari-jati tangan dan menggigit bibir Zahra masih terdiam setelah 10 menit pesenan Hito dan Heru datang.


melihat kegugupan Zahra Heru berinisiatif memulai pembicaraan


" maaf apa ada yang bisa kami bantu?"


" eh maaf. saya melamun."


dengan menarik nafas Zahra " om. saya mau meminta ijin untuk menggunakan uang om." ujar Zahra pelan


" uang apa?" heran Hito.


" uang yang dikirim oleh om Hito tiap bulannya itu."


" oh itu. itu kan memang hak kalian. jadi kalo mau pake. pake aja." Hito berbicara dengan bahas informal untuk mencairkan suasana yang canggung.


" eehh. iya sih, tapi kayaknya tidak pantas saja saya menggunakan uang itu. gak nyaman om."


" kalo boleh tahu untuk apa uang itu" hati-hati Hito bertanya.


" hmmm." Zahra enggane menjawab pertanyaan tersebut. dengan terpaksa dia memberitahukan apa yang terjadi. karena memang dia sudah buntu.


menghela nafas Hito berucap " jangan sungkan untuk menggunakan uang itu saya ikhlas. jadi untuk kedepannya gunakan saja uang itu yam tanpa harus menunggu hal-hal yang darurat." tegasnya.


" terimakasih om. atas kebaikannya."


" jangan sungkan. terus gimana keadaan Tante Aida?"


" Alhamdulillah biak om. harus banyak istirahat aja."


" Alhamdulillah kalo begitu."


********


dengan nafas terengah empat pemuda berlari menuju kamar inap. didepan kamar melihat kakak Ala. duduk dengan tatapan kosong dan raut muka lelah. mereka langsung menghampiri.


" kak. gimana keadaan mama?" tangis Mumtaz tertahan dengan mata yang tidak bisa ditahan agar jangan keluar


menengok kesamping kakak Ala merentangkan tangan guna memeluk Mumtaz. kakak ala tahu persis kekhawatiran Mumtaz. karena selama ini mama dan Mumtaz memiliki ikatan bathin yang paling kuat dibanding yang lainnya.


dengan memeluk Mumtaz kak zahra berucap menenangkan


" Alhamdulillah sudah mendingan."


" kenapa sampai mama masuk rumah sakit." lirih Mumtaz. maka keluarlah cerita dari awal sampai saat ini beserta penyebab mama masuk rumah sakit.


mendengarpenuturan kakak Ala tangis Mumtaz pecah dengan rasa menyesal dan bersalah. dia jatuh tersungkur. para sohib yang melihat itu mereka ikut menangis.


mereka tahu pasti betapa menderitanya Mumtaz selam masa kaburnya dia dari rumah. hampir setiap Mumtaz kata ' maaf" selalu keluar dari mulutnya. dan mereka tahu untuk siapa maaf itu.


" maaf kak. maafkan Mumtaz kak." dengan duduk bersimpuh Mumtaz menundukkan kepala dihadapan kak Zahra.


" bukan salah kamu. A. kamu gak salah. dan gak ada salah. yang salah. sebagai anak tertua gagal menjadi penopang keluarga membantu mama. maafin kakak ya, A udah ngasih beban berat dipundak Aa." lirih kak Ala tercekat


mumtaz menggelengkan kepala cepat dan menatap kak Zahra.


" enggak kak. kakak gak ada salah. ini salah aku. aku anak lelaki yang seharusnya melindungi keluarga." tekan Mumtaz.


" Aa Mumuy." mumtaz menengok kan kepala mengarah panggilan dari belakangnya.


Tia langsung berlari memeluk Mumtaz. dia menangis keras dalam pelukan Mumtaz.


" udah dek. semua bakal baik-baik saja. maafkan Aa ya." mumtaz melerai pelukan.


" Aa masuk dulu ya. mau lihat mama." mumtaz mengusap air mata Tia.


" hemmm. iya."


masuk ruangan. didalam kamar hanya ada Zayin yang menunggu mama.


pandangan mama dan Mumtaz bertemu. dengan agak berlari Mumtaz bersimpuh dilantai dihadapan mama Aida.


dengan mengangkat kepalan kedua tangan yang bertaut Mumtaz menangis lirih


" maaf ma. maafkan Mumtaz. ma. mumtaz udah jadi anak durhaka. Mumtaz mohon maaf mama atas semua perbuatan Mumtaz ma." dengan kepala yang ditundukan sampai ke dada.


" A. bangun. apa yang sudah terjadi, sudah terjadi. itu bukan salah Aa." ucap mama lemah


" maafkan mama yang sudah gagal menjadi orang tua. maafkan mama yang gak mengerti Aa. maafkan mama ya, A." mama menangis.


Zayin yang melihat semua adegan luka hati itu hanya bisa termenung dengan menghela nafas berat.

__ADS_1


__ADS_2