
Navarro berdiri di depan dinding kaca tengah menelpon seseorang, dari gesturnya yang tegap dan kaku memperlihatkan isi pembicaraan teramat serius.
" Jadi tuan Gurman, saya sarankan anda datang pada pertemuan ini, atau anda menyesal." Navarro menutup sambungan dengan kasar.
Navarro mengambil ponsel lain dari saku celananya, ia memutar-mutar ponsel tersebut menimbang untuk menelpon atau tidak, yang akhirnya dia memutuskan untuk menelpon.
Mencari kontak, siapa yang akan dia telpon, lalu memutuskan menelpon nama kontak Akbar.
" Hallo." Salamnya ketika sambungan itu dijawab.
" Berikan ponselmu kepada petinggi RaHasiYa, saya tahu mereka di sana."
Navarro tersenyum bangga atas kinerja anak buahnya yang mematai-matai pergerakan RaHasiYa.
" Hallo." Sapa Alfaska.
" Saya Navarro, beritahukan kepada keluarga Hartadraja untuk datang ke alamat yang akan saya beri jika masih ingin melihat nyonya Sri."
" Apa bukti kalau nyonya Sri bersama anda?"
" Kau meragukan saya?"
" Di negara, banyak orang yang ingin pansos dengan segala tingkah yang nyeleneh." Cibir Alfaska.
" Apa kamu stres karena saham mu? Sehingga nhomong ngawur?"
" Jadi benar kamu hanya menggertak, sebenarnya nyonya Sri tidak ada padamu." Suara Alfaska menyalurkan merendahkan padanya.
Navarro geram," kalau tidak percaya kalian datang saja, dan saya ingin barter."
" Saya tidak minat mengikuti permainan anda."
" Berikan Belinda padaku, kalau tidak kalian akan lihat kepala nyonya Sri di depan pintu mansion Hartadraja."
" Saya tidak tahu siapa yang Anda bicarakan."
" Seorang wanita yang kalian rampas dari kami saat memulangkan dia dari desa."
" Oh beliau, kalau saya tidak mau?"
" Maka ucapkan selamat tinggal kepada nyonya Sri, btw Ini perintah bukan permintaan." Navarro menutup sambungan dengan geram.
Navarro tidak langsung mengirim alamat itu, dia sengaja menundanya.
" Tuan, apa anda tidak merasa terlalu gegabah berurusan langsung dengan mereka?" Marco hanya memberi saran.
" Apa kamu meremehkan aku, Marco?"
" Tidak, saya tidak akan berani meremehkan anda."
" Harus ada yang memberi mereka pelajaran, dan itu saya. Siapkan mobilnya."
" Baik, tuan." Marco mengawal Navarro menuju kendaraannya yang sudah menunggu di lobby.
******
" Siapa yang nelpon, kek?" Raul muncul dari arah kamarnya.
" Alfred Navarro."
Raul bergeming untuk sesaat," untuk apa?"
" Entahlah, kita diminta harus datang ke alamat ini." Alejandro memperlihatkan isi pesan dari Navarro.
" Kita?" Heran Raul.
" Kita semua, termasuk Rodrigo."
" Kenapa kita masih di sini?"
" Rodrigo sedang keluar bertemu dengan Gaunzaga."
" Dia bisa menyusul."
Raul meminta para pengawalnya untuk menjaga keamanan mereka.
******
Seluruh anggota Hartadraja berkumpul dalam home theater, sengaja dilakukan agar efektif dan efisien dalam melindungi sekaligus bisa konsentrasi mencari keberadaan Sri.
Dilayar besar di hadapan merek sudah terpampang setiap sudut Jakarta, saat ini titik merah sedang di posisi di hotel Ritz-Carlton, tempat Navarro menginap.
Sejak kedatangan para anak RaHasiYa ke mansion Hartadraja mereka sudah berpencar dengan tugas masing-masing.
Ibnu dan Rio memasang perangkat komputer mereka, dan berselancar di dunia digital setelahnya, Daniel mensiagakan para robot buatanya di gedung RaHasiYa khawatir sewaktu-waktu diperlukan. Mumtaz sibuk dengan iPadnya sejak kedatangan dia di sana. Alfaska bertindak layaknya pemimpin pasukan memastikan semuanya siap melalui laptop Mumtaz.
" Semua alat komunikasi milik kita diparalelkan dan juga posisinya ke komputer lo, Nu." Titah Alfaska.
" Termasuk anak Gaunzaga agar gerakan kita bisa selaras." Tambah Mumtaz.
Derrt....derrrt...
" Hallo." Salam Akbar.
....…
" Ini orang pengen ngomong sama petinggi RaHasiYa." Akbar menyodorkan ponselnya.
" Loudspeak."ujar Bara tanpa suara.
" Sini..." Alfaska mengambil ponsel tersebut, matanya melirik Ibnu, saat Ibnu mengangguk, ia menjawab telpon tersebut.
Mumtaz melangkah ke meja Ibnu, ia pun sama sibuknya dengan ibnu memencet keyboard laptop, dan komputer.
Alfaska mengembalikan ponsel ke Akbar.
" Siapa Belinda?" Tanya Aznan.
" Anak dari Alejandro Gurman, ibu dari Raul dan Sivia." Jelas Mumtaz.
" Paman, bisa saya pinjem Adgarnya?" Pinta Mumtaz kepada Aznan.
" Silakan, gak dibawa pulang juga gak apa-apa." Celetuk Julia mendorong Adgar yang duduk disampingnya hingga jatuh dari sofa.
" Mama..." Omel Adgar mengusap kepalanya yang sakit terbentur lantai.
" Fa, Lo bisa ke RaHasiYa, buat topeng nyonya Sri pasang di tubuh Guadalupe terus Lo langsung ke tempat tujuan."
" Lo tahu? Dia belum ngirim alamatnya."
" Tahu." Mumtaz enggan memberitahukan kepadanya jika ia menyadap ponsel Navarro dan Sandra.
" Ini gimana rencananya?"
" Bisa kita komunikasi sambil bergerak? Lo sanggup atas permintaan gue?"
" Gampang, itu mah sepuluh menit juga jadi."
"Gak bisa kurang?"
" Gue usahakan."
" Soal Belinda, Bagaimana?"
" Iyakan. Bar, kirim pesan ke nomor tadi kita turuti maunya dia."
" Lah nanti Gonzalez ngamuk."
" Fa, bisa Lo gerak sekarang?" Mumtaz mulai kesal dengan keleletan Alfaska.
" Gar, kalau Lo udah selesai sama Afa, Lo dan Alex bawa Belinda no 2 ke lokasi."
" Move now, please!" Alfaska dengan wajah tenang, namun siaga memicu mereka cepat bergerak tanpa kata lagi."
" Bar, Lo instruksikan anak buah Lo memperlambat perjalanan Navarro.
" Darimana dia tahu nomor Akbar?" tanya Damian
" Dia menghacke ponsel nyonya, sepertinya dia memantau nyonya." Mumtaz memperlihatkan rekaman black box dari kendaraan Sri.
yang mana sejak kebebasannya dari penculik, kemanapun nyonya Sri keluar dari mansion dibuntuti oleh SUV hitam.
" Bisa kami minta earphone kalian?" Damian tahu dari beberapa kali kerjasama dengan mereka earphone mereka hanya bisa komunikasi antara mereka yang menggunakan earphone itu saja."
" Maaf, lupa membagikannya." Ibnu dengan sungkan mengeluarkan beberapa earphone yang sudah disediakan untuk keluarga Hartadraja.
" Kalau kalian ada informasi lebih lanjut, hanya menggunakan earphone ini untuk memberitahu kami."
__ADS_1
" Ini gimana cara menggunakannya?" Julia bingung akan beberapa tombol kecil yang ada di sana.
" Tinggal digunakan, udah disetting. Sekarang kita sedang parallel, volume bisa disesuaikan sendiri. Ada bacaan volume kok."
Titik merah dilayar sekarang bergerak, keluar dari area hotel, beberapa saat kemudian kendaraan itu diikuti oleh kendaraan lain sesuai instruksi Bara untuk mengganggu perjalanan Navarro.
" Dia baru ngirim alamatnya." Seru Akbar.
" Apa kalian akan menemui dia?" Mumtaz berbasa-basi.
" Tentu, kita semua." Tekan Dewi kepada para lelaki Hartadraja yang selalu menyuruh para wanitanya menunggui.
Melihat betapa tegasnya tatapan Dewi, Fatio dan Aznan mengangguk pasrah.
" Kapan kita berangkat?"
" Lima menit dari sekarang."
" Nu, Lo tetap di sini, awasi pergerakan mereka."
" Niel, robot Lo sudah nyampe lokasi, anjingnya juga."
Daniel mendekati meja Ibnu.
" Awas, Nu."
" Lo tinggal amati layar."
" Gue belum setting jenis operasionalnya, sama muka-muka mereka, banyak hal deh." Rungut Daniel, ibnu menyingkir tidak berani menginterupsi kegiatan Mumtaz yang terlihat lebih sibuk darinya.
******
Hito yang mendengar hilanganya nenek gelisah seketika, dia ingin ke rumah kakeknya, namun tidak bisa meninggalkan Zahra yang kini dia paham mengapa belum ada yang menjenguk zahra.
Beranjak keluar kamar, dia merasakan dan melihat pengamanan lebih siaga dan banyak di setiap sudut lantai.
" Ada yang bisa kami bantu, bang?" tanya anak Gaunzaga.
" Tidak ada, hanya sidak saja." kembali Hito ke dalam.
diamatinya Zahra yang sibuk dengan buku bacaannya atau pura-pura sibuk, selama dia menjaga Zahra, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
" Sayang, sungguh kamu akan mendiamkan ku? kaalu aku ada salah kita bicarakan."
Zahra menggeleng, sebenarnya dia ingin bertanya mengapa dirinya terlihat gusar, namun tidak sanggup berkata, dia ingin Hito menjauhinya.
Hito duduk di kursi samping brangkar, menggapai tangan Zahra yang langsung ditepisnya, Hito memejamkan mata menghalau rasa sakit dan frustasi, selalu begitu.
" Sayang, sejak kamu pulang, kamu tidak bicara apapun padaku, kenapa? marah padaku karena nenek kamu diculik lalu dil3c3hkan?"
Lagi, Zahra menggeleng. menghindari tatapan Hito.
" Sayang dengar, kalau kamu begini hanya ingin aku menjauh darimu, itu percuma. tapi kalau dengan menyakitiku bisa membuatmu lebih baik, lakukan, aku siap menjadi samsak hanya agar kamu kembali menjadi Zahra ku."
Tampak Zahra tersentak, dia menatap Hito, lalu menangis tersedu-sedu.
Hal ini terjadi berkali-kali, Hito sungguh hilang akal untuk membuka mulut Zahra, ia merasa sakit sekaligus marah setiap kali kekasihnya menangis.
Pada akhirnya hanya pelukan yang ia bisa berikan, memastikan Zahra memahami kalau dia selalu ada untuk dirinya.
*******
" Bun, masih lama gak masaknya? Ini keburu malam tahu." sarkas Zayin, dia selonjoran di atas sofa ruang tamu.
" Bentar lagi." Balas teriak Hanna dari dapur.
" Itu udah yang keenam, loh Bun, aku udah lapar banget." keluh Zayin, Teddy terkekeh mendengar Omelan Zayin.
" Yah, Ayu dimana?"
" Sekolah, habis sekolah diminta langsung kesini."
" Aku suruh ketua BIBA kawal Ayu ya." Zayin menelpon Andromeda, sang pimpin Genk BIBA.
" Hallo, bang..." Suara double yang didengar Zayin membuatnya melihat ke arah pintu yang mana Andromeda berdiri.
Zayin berdecak, ia memutus panggilan telponnya, sedangkan Teddy langsung menelpon putrinya yang tak kunjung dijawab.
" Ngapain ke sini?" Tanya Zayin ketus.
" Kan kita udah janjian ngadain les matematika, aku bawa teman yang sekarat dadakan kalau ada matematika."
" Kok udah pulang? Ini baru jam 10.30."
" Jamkos."
" Yah, gimana Ayu?"
" Ini lagi,....hallo, princess, kamu dimana?"
" Aku di rumah."
" Kok, di rumah ayah kan minta kamu ke rumah mama."
" Ooh itu tadi Ayu gak kebawa HP-nya, hehehehe." Sembari menelpon Ayunda melangkah ke arah balkon, saat hendak membuka gorden tipisnya ia urungkan karena melihat mobil putih SUV yang terparkir tidak jauh dari luar perumahannya.
Meski ia terus bicara dengan ayahnya, Ayu bergerak dengan tenang, ia mengambil teropong yang dia letakan di laci paling bawah.
" Ada untungnya punya ini selain menstalk Abang Inu."
Mencari posisi aman, ia meneropong mobil SUV itu, terlihat pengemudi berperawakan asing dan temannya seperti mengintai rumahnya.
" Ayah, ini Ayu bukan mau bikin ayah cemas ya, tapi kayaknya di depan rumah ada orang yang memata-matai rumah kita dah, Ayu kirim gambarnya ya."
Ayu mengambil foto lalu mengirimnya ke Teddy.
Teddy yang langsung melihat gambar yang dikirim Ayu," ungsikan semuanya ke ruang kerja ayah."
" Jangan panik, bersikap tenang seolah gak ada apa-apa."
" Siap. Ayu tutup..."
" Jangan tutup."
Zayin yang melihat raut khawatir Teddy duduk tegak." Ada apa yah?"
" Ada orang mengintai rumah."
" Pasang earphone RaHasiYa, sebutkan ciri-cirinya, Ayin berangkat."
Hanya bermodalkan pisau lipat yang dia ambil di bufet paling bawah, Zayin menarik Andromeda untuk ikut dengannya.
" Raja, Juan, dan yang lain jaga mereka, gue pergi ke rumah ayah." Andromeda menggunakan motor sport Raja melaju cepat ke rumah ayah.
******
Ibnu yang mendengar ungkapan Zayin langsung mengalihkan layar ke rumah Teddy dan sekitarnya.
Sontak Daniel berdiri mengamati layar melupakan sopan santun di depan para orang tua Hartadraja.
Selanjutnya dengan mengamati layar mereka memberitahu keadaan dan mengarahkan Zayin.
Alih-alih berjalan lewat jalan raya seperti intruksi Daniel, Zayin menitah Andromeda menurunkan dia di taman, dan bertugas mengalihkan perhatian target.
Andromeda melakukan tugasnya dengan baik, mendapat kode dari Zayin dia langsung beraksi sebagai anak muda brengsek yang menggeret badan mobil dengan recehan lima ratus rupiah.
Marah, dan keluar mereka yang ternyata didalam mobil itu berisi empat orang.
Menyusup melewati taman yang rindang, meloncati pagar, lalu masuk dalam mobil, perlahan membuka pintu mobil dari belakang mereka yang mengerubuti Andromeda, bergerak secepat kilat Zayin melumpuhkan mereka dengan cara mematahkan leher, tangan, dan kaki mereka.
Andromeda yang melihatnya kicep takjub," WOW...WOW..impresif..."kagumnya sambil bertepuk tangan semangat.
" B saja. Terlalu eazy." Zayin membanggakan diri sendiri.
" Bocorkan ban mereka, lalu susul ke rumah Birawa. Mission completed!" Ucapnya, Zayin meneruskan langkahnya ke rumah Birawa.
Semua orang yang berada di theater home tanpa sadar bertepuk tangan gemuruh atas aksi Zayin, begitu juga Ibnu yang langsung mengirim pesan kepada Ayunda kalau dia sudah aman.
" Tuan, dan nyonya, saatnya kita berangkat ke tempat tujuan kita."
Hartadraja yang sesaat melupakan keadaaan mereka, kembali tegang menghadapi apa yang terjadi dengan Sri.
" Ibnu, Lo di sini. Amati keadaan sekitar."
" Gue gak bisa biarkan Lo kesana tanpa gue, untuk tugas itu ada Rio, atau Yuda."
Mumtaz mencondongkan badannya kepada Ibnu dengan tatapan langsung ke manik hitam Ibnu.
__ADS_1
" Amati, dan pelajari Navarro dan sekitarnya secara detil. Itu tugas Lo hari ini."
******
Kini Hartadraja dan petinggi RaHasiYa dikelilingi para pengawal tiba di gedung bekas hotel yang terbengkalai, sesuai arahan pesan yang dikirim, mereka menuju lantai tiga.
Di sana telah ada Sri yang terduduk di kursi kayu dengan kedua tangan di belakang kursi, dan kedua kaki terikat di masing-masing kaki kursi dan mulut yang tertutup selotip hitam besar di depan Navarro dan para pengawalnya.
Tidak lama kemudian keluarga Gurman dan pengawal tiba di sana yang membuat bingung keluarga Hartadraja, tidak jauh berjarak Sandra Atma Madina turut hadir yang berhasil membuat bingung para tamu undangan.
" Mami,...." Kaget Bara, Daniel, dan Alfaska.
" Apa mami terlibat penculikan nyonya besar Hartadraja?" Pertanyaan yang condong menuduh dari Alfaska mengejutkan Sandra
" Tidak, tentu saja tidak. Mami kesini atas permintaan dia untuk konfirmasi kelanjutan kerja sama kami." Tunjuknya pada Navarro yang tersenyum smirk kepada mereka.
" Navarro, katakan ada apa ini?" Suara Sandra meninggi karena merasa ditipu.
" Hanya memberi pelajaran kepada RaHasiYa untuk tidak ikut campur urusan saya."
" Apa maksud mu?"
" Tanyakan kepada putramu."
Sandra menatap bertanya kepada Alfaska yang dijawab mengedikan bahu oleh putranya.
" Sebelum itu mana Belinda?" Keluarga Gurman terkejut akan permintaan Navarro.
" Jelaskan, Navarro." Bentak Alejandro.
" Ini untuk memberi pelajaran kepada cucumu, Raul untuk tidak mengacaukan urusanku dan ayahnya."
" Apa imbalannya jika kami menghadirkan nyonya Belinda?" Alfaska mencoba bernegosiasi.
" Kalian akan mendapatkan nyonya besar Hartadraja."
" Heh, apa jaminannya kau tidak menipu kami?"
" Kalian bisa menembak saya." Navarro merentangkan kedua tangannya seolah-olah menantang mereka.
" Tidak, jangan. Kau tidak bisa mati sebelum melaksanakan perjanjian bisnis kita, memasukan brand fashion ku ke pasar Italia." Sahut Sandra egois.
Semuanya terkaget akan keegoisan Sandra, Alfaska menggeram malu sekaligus kecewa.
" Hahahaha, saya suka anda, tetapi sayangnya bisnis anda tidak begitu menggiurkan bagi saya. Saya hanya ingin memastikan RaHasiYa dan Gurman menjauh dari urusan saya." Cemooh Navarro.
" Apa? Kau sudah mendapatkan saham ku?"
" Itu karena kau bodoh."
" Kau...." Sandra hendak menyerang Navarro, namun dicegah oleh Armando, pengawal pribadi Navarro.
Mumtaz melirik kepada Jeno memberi kode padanya untuk menjaga Sandra, dalam sekejap Jeno berada di belakang Sandra mencekal lengan Armando.
" Lepaskan atau tanganmu taruhannya." desis Jeno.
" Nyonya, untuk keamanan anda, sebaiknya anda mundur." Jeno memegangi lengan Sandra mengarahkan Sandra untuk mundur.
" Intermmezo sudah selesai, saatnya ke inti." Tiba-tiba Navarro menghentakkan kursi sehingga Sri terhenyak kesakitan.
Semuanya terkaget, terutama klan Hartadraja.
" Mama,"
" Nenek." Jerit mereka.
" Mana Belinda." Desisnya menekan.
" Alfaska, Mumtaz. Jangan berani-berani mempertaruhkan Ibuku." Teriak Raul dengan marah.
" Alex, keluarkan dia." Titah Alfaska terkesan mengabaikan Raul.
Alex dan Adgar memegangi Belinda yang terikat kedua tangannya dengan mulutnya dilakban hitam, Belinda bergerak memberontak sekuat tenaga ingin melepaskan diri, namun tidak bisa.
" Mumtaz, sekali lagi ku peringatkan untuk tidak menjadikan ibuku tumbal." Tekan Raul sarat peringatan.
" Maaf, bang. Kita bisa meraih keduanya kelak." Sahut Mumtaz tenang.
" Woow, ku puji kepercayaandiri mu, mari kita buktikan siapa yang akan menang."
" Kalau saya sih terserah, yang pasti kami akan mendapatkan keduanya dari Lo." Ucap Alfaska dengan gestur angkuhnya.
Navarro yang terpancing, geram." Baiklah, bari saya Belinda dan akan ku beri nyonya Sri."
Alfaska menggoyangkan telunjuknya tanda menolak." No..no..no... berbarengan setiap langkahnya berbarengan."
" Stop, b*tch." bentak Adgar yang bosan dengan pemberontakan Belinda.
" ADGARR.." gelegar Raul, ibunya mendapat panggilan kotor itu.
" Tuan Alfaska, jangan. Dia seorang Navarro, orang paling licik yang pernah kami tahu, segala omongannya tidak dapat dipercaya." Seru Rodrigo.
"Tuan-tuan, kami harap kalian percaya kepada kami." Ucap Alfaska tegas, sebagai pemimpin RaHasiYa.
" Baiklah, berbarengan, lepaskan dia." Titah Navarro kepada Armando melirik kepada Sri.
Setelahnya kini Sri berdiri di depan Navarro bergaris lurus dengan Belinda yang berdiri di depan Alfaska.
" Dalam hitungan ketiga disetiap langkahnya." Atur Alfaska.
" Dalam kehitungan ketiga." Disetujui oleh Navarro.
" Satu...dua...tiga..." Dua wanita itu melangkah satu langkah lebar seakan tidak sabar sampai di tempat tujuan.
" Satu...dua...tiga..." Lagi, satu langkah selebar mungkin.
" Satu....dua...tiga..." Belinda bukannya berjalan, dia malah berlari.
Melihat itu, perhatian semuanya teralihkan Navarro menarik kembali Sri, lalu menemb4k Belinda dibagian dada dengan tiga kali tembakan.
Dor....dor....dor...
Bola mata Belinda melebar, langkahnya terhenti, dia syok dan yang lainnya pun demikian. Kemudian Belinda terjatuh tersungkur tepat di hadapan Navarro.
" MAMA..."
" BELINDA..."
Teriak keluarga Gurman berlari memangku kepala Belinda yang sudah tidak bernafas dengan mata terbuka.
" MAMA...." pekik Raul dan Rodrigo pilu menangisi kematian Belinda.
Alfaska menatap Navarro tajam," kau ingkar janji."
" So...." Ledek Navarro culas.
" Ini bukan yang pertama aku ingkar, ibumu sudah ku tipu, sebaiknya tadi kalian mendengarkan mereka." Liriknya kepada Gurman yang masih menangisi Belinda.
Raul beranjak, lalu berjalan ke arah Alfaska dengan men0d0ngkan pistol menempel di kepala Alfaska." ALFASKA...." wajah Raul memerah.
Mumtaz berdiri di depan Alfaska memindahkan pistol tersebut ke kepalanya." Bunuh aku, ibumu tanggung jawabku, setelah semuanya selesai." Ujarnya tenang.
Netra hitam Mumtaz menembus kemarahan manik coklat Raul.
" Sampai drama ini selesai kamu bisa membunuhku, dan arahkan pistol mu dimanapun mau mu padaku." Tekannya meyakinkan.
" Navarro, kau sungguh mengecewakan." ucap Bara.
" Yeah, whatever. Sekarang serahkan Angelica."
" Siapa dia."
" Jangan berlakon kepadaku, RaHasiYa. Aku tahu kalian yang menculik Angelica ku."
" Dan aku tidak akan menyerahkannya." Alfaska menatapnya malas.
" Kalau begitu kalian akan mendapati kepala nyonya Sri, dia kan mati kehabisan darah." Navarro tanpa ragu men3mb4k pinggang Sri.
" AAAAAKKGGHH..."
Sri terhentak, Navarro melepasnya, ambruklah Sri ke lantai kotor itu
" SAYANG...."
" MAMA..."
" NENEK..." Teriak serempak Hartadraja.
__ADS_1
Para lelaki Hartadraja mengelilingi Sri, sedangkan para wanita berangkulan karena syok....