
"Aakkkrrkh.." Sandra memegang tangan Mumtaz yang menc3kiknya, mencoba melepas cengkraman tangan di lehernya, tapi itu tidak berpengaruh pada Mumtaz.
Wajah Sandra sudah memerah, mulutnya terbuka mencoba mengambil udara, nafasnya mulai sesak.
Mumtaz semakin meninggikan dorongan tangannya ke atas, tubuh Sandra semakin mengejang seiring kakinya semakin menjauh dari lantai.
Sandra memucat menandakan pasokan udara di tubunya menipis, namun Mumtaz tetap bergeming dengan cekalan tangan yang semakin erat dengan raut wajah tanpa ekspresi
Bara yang melihat itu beranjak berlari ingin menyelamatkan tantenya.
" Berhenti..." Kata Alfaska saat Bara memegang kenop pintu.
" Alfaska, demi Tuhan dia akan membvnvh ibumu." Teriak Bara.
" Kau benar... dia ibuku." Parau Alfaska.
Pandangannya tidak lepas dari layar di depannya. Sherly yang duduk di samping Alfaska sudah menangis tanpa suara karena bekapan kedua tangannya di mulutnya.
" Jadi hanya aku yang berhak mencegah tragedi itu, dan aku tidak berminat melakukannya." Suara dingin Alfaska kontras dengan air matanya yang bercucuran membasahi wajahnya.
Ibnu yang duduk di tidak jauh dari layar mengepalkan kedua tangan menahan gejolak emosinya ia terluka melihat Alfaska yang tidak berdaya.
Pancaran dari mata Alfaska kosong, hampa, tidak ada kehidupan di netranya, pundaknya terlihat turun seakan menampung banyak beban.
Bara tertegun mendengar suara Alfaska yang sarat kesedihan." Apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?" Bara kembali ke tempat mereka duduk bersama di ruang keluarga.
Ibnu mengganti video di layar dengan video perbuatan Sandra di rumah sakit kepada Zahra.
Bara, Sherly, serta Dista tersentak seketika, nafas Bara memburu setelah menontonnya.
" Bagaimana dia menjadi begitu jahat." lirih Bara.
Alfaska mengangguk," Saat ini yang aku rasakan melebihi rasa kecewa, untuk pertama kalinya aku merasa malu kepada Mumuy, kepada mereka semuanya. Apa memang sebaiknya aku mati saja?" Rintih Alfaska sembari memukuli dadanya yang terasa sakit melihat pilu di mata Mumtaz.
Daniel ingin memeluk sahabatnya yang terlihat kalah itu, namun Dista yang menangis dipelukannya tidak bisa dia abaikan.
BUGH...
Ibnu memukul bahu Alfaska, kemudian ia berjongkok di depan Alfaska membawa tubuh kuyu itu kedalam dekapannya. Membiarkannya menangis, menumpahkan emosinya yang sejak tadi ditahan sahabatnya itu.
Tidak ada kata yang diucapkan, hanya menawarkan kebersamaan yang dia mampu berikan untuk Alfaska bagi segala dukanya.
Alfaska membalas pelukan itu sangat erat, pelukan itu berlangsung lama dengan tangisan yang menggugu layaknya anak kecil.
" Maaf, maaffff..!!" Lirih Alfaska samar-samar.
" Hussshh,...kami menyayangimu, bagitupun Mumuy. Bagaimanapun dirimu." tegas Ibnu.
Aryan berdiri terpaku memandang putranya yang sedang menangis dengan penglihatan buram karena air mata, Teddy menepuk-nepuk pundaknya sebagai dukungan.
Sedangkan Hanna sudah menangis melihat empat anaknya yang berduka karena keadaan.
" Mengapa Sandra menjadi sosok yang menakutkan." Teddy merangkul Hanna membiarkan istrinya membasahi kemeja mahalnya.
" Le...pashh..." Lirih Sandra.
" Tidak, sebelum nafas mu berhenti." Desis Mumtaz.
Tubuh sandra mulai melemah," sa..ya...ibu...Alfa...ska." Sandra mencoba peruntungannya ditengah engahan nafasnya.
Senyum devil Mumtaz terbit di ujung bibirnya," akhirnya kata memalukan itu terucap dari mulut kotormu untuk memohon penundaan ajalmu."
Tidak ada belas kasih dari suaranya, dia sungguh berubah menjadi orang asing dimata Sandra.
" Aa..." Zayin keluar dari tempat persembunyiannya mengamati kakaknya yang berdiri tegak dengan tubuh Sandra yang melayang dibawah satu tangan kakaknya.
Mumtaz tidak meresponnya ia masih menikmati reaksi kesakitan Sandra.
" A, lepaskan. Kematiannya tidak memberi manfaat apapun untuk kita. Yang terpenting sejak kini kita jauhi bang Alfa dan Tia darinya."
Mumtaz bergeming, rintihan Sandra lebih menarik ia dengar daripada bujukan tenang adiknya.
" Sejatinya bagi seorang Sandra tidak ada yang lebih menyakitikan selain kebencian putra kebanggaannya, dan kita dapatkan itu." Zayin mendekati kakaknya.
Tidak lama kemudian dengan ringan Mumtaz melempar tubuh Sandra jatuh tepat membentur kaki sofa yang terbuat dari jati berkualitas terbaik, dari kepalanya keluar darah.
Sandra mangap-mangap menghirup pasokan udara sebanyak mungkin. Dua bersaudara itu berdiri menyaksikannya tanpa keinginan untuk menolongnya.
" Sekarang kau tahu aku mampu melakukannya, sekali lagi kau hina keluarga ku, aku tidak jamin saat itu ada orang yang bisa menyelamatkan mu dariku." Peringat Mumtaz.
Tidak menghiraukan darah yang mengalir dari kepalanya, Sandra tertawa sinis pada keduanya, terutama Mumtaz.
Dia memperbaiki posisinya menjadi duduk, meski tubuhnya masih lemah.
" Jangan besar mulut, setelah ini kau yang akan hancur. Saya tahu kamu begitu mencintai Sisilia, bagaimana jika rekaman video kamu yang menyiksaku tersebar pada Elena, apa dia masih merestuimu?" Ancam Sandra.
Tangannya menggapai ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia menghubungi kepala keamanan rumah tangganya.
" Kirim video kejahatan yang dilakukan Mumtaz tadi kepada nyonya Pradapta." Titahnya.
Setelahnya tawa sumbang mengisi ruangan itu, hatinya kesal melihat Mumtaz yang tidak bereaksi atas ancamannya.
Tia yang mendengar semuanya dibalik pintu menangis tidak percaya akan perbuatan ibu mertuanya, ia merasa bodoh selama ini percaya jika Sandra menyayanginya.
Secepat kilat ia berlari kearah rumah Sherly, ia butuh teman bersandar, ia merasa begitu bersalah.
" Sejak bertemu Alfaska, Daniel, dan Bara banyak hal yang hilang dari hidupku, kehilangan satu hal terpenting lagi bagiku sudah biasa aku rasakan sakitnya, karena bagiku mereka masih yang terpenting." Ucapnya sebelum meninggalkan rumah itu.
Bagi Sandra yang belum mengenal Mumtaz ucapannya terkesan biasa saja, namun bagi keluarga dan para sahabatnya sangat tahu perkataan itu menyimpan penderitaan.
Alfaska sontak beranjak berlari menuju pintu yang dihadang oleh Aryan yang berdiri di depannya.
" Mau pergi kemana?" Tanya Aryan lembut.
" Aku harus pergi ke kediaman Pradapta, aku tidak bisa membiarkan dia hancur karena kehilangan Sisilia, Papi."
Aryan menepuk-nepuk pundak putranya yang terlihat sangat menderita.
" Setidaknya ganti pakaianmu, kamu kedinginan." Aryan menatap wajah pucat anaknya.
Alfaska menelisik pakaian yang mengering karena pendingin ruangan, tanpa kata dia dan sahabatnya pergi ke kamar Bara.
Tidak lama mereka berempat melintasi ruangan dengan berlari. Ia berhenti saat mendapati Tia yang hendak mengetuk pintu.
Dirinya terpaku berhadapan dengan Tia yang berurai air mata.
" Aa..." Tia menerjang tubuh suaminya memeluk pinggangnya erat.
Isak tangis istrinya tidak menghalangi niatnya, saat ini yang terpenting adalah kehidupan Mumtaz.
" Maafkan aku, sayang. Tapi aku harus segera pergi. Aku mencintaimu." Alfaska mengecup dalam kening Tia.
Mengalihkan pelukan Tia kepada Dista yang berjalan mendekati mereka saat mendengar suara sahabatnya itu. Dista menyambutnya hangat dengan mengangsurkan kedua tangannya.
" Ita,..."
" Pergilah, aku akan menjaganya, nanti aku telpon cassy." Merasa istrinya sudah aman, setelah mengecup kening kedua bocil itu ia berlari ke mobil dimana Daniel, Ibnu, dan Bara sudah duduk di dalamnya.
\*\*\*\*\*\*\*
" Mam, kita makan duluan aja. Mam. Mereka pasti sedang menggoda para gadis." Rengek Sivia kepada Belinda yang mengusap surai panjang berwarna cokelat putrinya.
" Masa hujan deras begini mereka sempat menggoda."
" Justru hujan gini bujang lapuk itu semakin giat Mam."
" Gimana Dad, apa kita makan duluan?" Tanya Belinda kepada Diego.
Diego tersenyum kecil karena senang, istrinya sudah tidak segan memanggilnya dengan sebutan sayang.
" Paman...eh...maaf." Sivia masih belum terbiasa memanggil yang orang yang dia tahu asisten kakeknya dengan sebutan ayah.
Tadi pagi saat sebelum sarapan dirinya sangat syok begitu mereka memberitahu apa yang terjadi dengan Ibunya.
Puluhan tahun pria yang dia sebut ayah ternyata lelaki jahat yang sudah menculik Ibunya dari suami dan keluarganya hanya karena cinta gilanya kepada ibunya.
__ADS_1
Eric membawa paksa Belinda dan kedua anaknya ke Indonesia dengan ancaman dia akan membvnvh anak-anaknya jika tidak menurutinya, beruntung tiba Indonesia Jose yang diceritakan langsung oleh Alejandro akan perbuatan Eric langsung membawa Belinda saat Belinda baru keluar dari toilet bandara kemudian menyembunyikannya.
Jose memutus semua komunikasi dengan keluarga Alejandro sesuai perintah Alejandro, bahkan Alejandro tidak pernah tahu dimana Belinda tinggal selama ini tanpa membawa Raul dan Sivia kecil yang masih dalam kuasa Eric.
Eric yang kehilangan jejak Belinda, setelah satu tahun mencari tiada hasil membuat skenario bahwa Belinda meninggal di villa yang sengaja dia bakar.
Mayat seorang perempuan yang hangus kepada dua anak kecil itu Eric katakan sebagai jenazah ibu mereka yang sudah terpisah sejak kedatangan mereka di Indonesia.
Raul yang saat itu berusia 10 tahun percaya saja, saat usianya menginjak 16 tahun, dia melihat dokumen tentang kebakaran di villa itu di lemari dokumen Eric di ruang kerjanya.
Di dalam dokumen itu tertulis wanita yang meninggal bukanlah belinda melainkan salah satu pelayan villa.
Syok, pasti. Saat itu Raul bingung. Dia curi dokumen itu, secara rahasia dia mengumpulkan informasi kronologi kebakaran villa tersebut. Lagi-lagi dia menemukan fakta yang mencengangkan dari penjaga villa saat itu.
Bahwa tidak pernah ada wanita bule yang menetap di villa tersebut, villa itu sudah lama tidak dikunjungi, saat kebakaran di villa itu hanya terdapat satu pelayan wanita yang ditugasi secara mendadak untuk membersihkan villa karena Eric akan menginap.
Dengan bantuan teman kelasnya, Dominiaz, Raul melakukan investigasi ulang keberadaan Belinda.
Sampai lima tahun lalu dia akhirnya menemukan keberadaan belinda, namun dia takut untuk menemuinya. Takut Eric mengetahui keberadaan ibunya tersebut sehingga usahanya akan sia-sia.
Beruntung RaHasiYa turut membantu membebaskan belinda dan menyembunyikannya, dan akhirnya mereka kini berkumpul.
" Dad..." Ragu Sivia.
" Santai sayang. Panggil papa dengan apapun yang membuatmu nyaman." Kata Diego lembut.
Sivia mengangguk," aku hanya lupa kalau paman adalah ayahku, maafkan aku." Harry yang duduk di sampingnya mengelus punggung kekasihnya untuk menenangkannya.
" Padahal sebelum tragedi itu, kamu lengket sekali dengan ayahmu." Tutur Belinda.
" Benarkah?" Mata Sivia berbinar.
" Iya, sampai mama cemburu."
" Hahahaha, masa sih. Emang iya?" Canda Sivia.
" Senang amat, neng." Raul mengambil duduk di kursi sebelah Harry.
" Lama amat."
" Maaf, kami tadi jenguk Navarro dulu, dia sudah sadar " jawab Rodrigo yang duduk di samping Belinda.
" Hello mam. Selalu cantik seperti bayanganku selama ini." Ucapnya sambil menatap Belinda.
" Mam, itu kata-kata ku." Celetuk Raul.
Bola mata Sivia memutar malas. Percayalah dua pewaris mafia itu sejak fajar berebut mama tercinta mereka itu.
Hingga pandangannya terfokus pada wanita yang berdiri di samping danau dibawah kucuran hujan lebat.
" Kak, itu Zahra. Sedang apa dia berdiri di samping danau?" Ucapan Sivia membuat atensi mereka kepada sosok yang mulai melangkah lebih mendekati danau.
" Dia tidak sedang mau turun ke danau itu kan!?" Jerit tertahan Sivia.
Dia beranjak hendak menyusul zahra yang langsung dicegah Raul.
" Biar kakak." Raul langsung melesat keluar restoran disusul Rodrigo karena melihat Zahra yang sudah berada dalam air danau.
" Zahra, profesor." Teriak Raul sambil berlari ceapt ke arahnya berharap Zahra menimpali, Namun itu tidak berhasil.
Zahra menulikan pendengarannya dari teriakan Sivia yang histeris memanggil namanya mengundang pengunjung lain melihat mereka.
Zahra menarik kembali tangannya yang ditahan Raul, kemampuan bela dirinya mempersulit Raul untuk menarik Zahra keluar dari air dingin itu. Zahra terus berontak melawan pergerakan Raul.
" Sial." Raul tidak berhenti mengumpat karena dia hampir kalah dari perlawanan Zahra.
Namun bantuan dari Rodrigo akhirnya menghentikan perlawanan itu. Dua tangan besar yang menahan tangannya di belakang punggungnya menghentikan gerakannya saat hendak melayangkan pukulan pada Raul.
" Pergi, kalian pergi. Biarkan saya mati." Racau Zahra.
Raul dan Rodrigo tersentak mendengar nada putus asa tersebut.
" Baik, setelah saya melapor kepada Mumtaz terlebih dahulu." Ucap Raul tenang.
" Jangan, jangan beritahu dia saya di sini."
" Kalau begitu Hito?'
" Tidaakkk, jangan dia. Ku mohon." Zahra menangis untuk sekian kalinya hari ini.
" Kalau begitu, kau yang membunuh kami ditangan mereka." Bisik Rodrigo ditelinga Zahra.
" Apa kamu tega memisahkan keluarga yang baru berkumpul?"
Sambil terus mengajak berbincang tanpa disadari oleh Zahra Rodrigo mendorongnya ke tepian danau.
Saat tiba di tepian, Zahra langsung duduk, " Aku tidak bisa menikahinya, meski aku sangat mencintainya." Saat ini Zahra tengah mencurahkan kegundahannya.
" Kalau begitu menikahlah denganku." Kata Raul.
Zahra tertawa hambar." Bahkan aku tidak berniat menikah, aku begitu menjijikan."
" Apa kamu sudah menunjukkan hal yang menjijikan itu kepada Hito?" Zahra menggeleng.
" Kalau begitu kamu picik, aku tidak dekat dengannya bahkan saat bertunangan dengan Sivia sekalipun. Tapi saat dia dengan mu, aku dapat melihat dia mencintaimu. Ada sinar lembut dan bangga yang selalu dia pancarkan untukmu, hanya kepadamu." tutur Raul lembut.
Perkataan itu sedikit menghangatkan hati Zahra yang tengah duka.
" Aku tidak tahu apa yang membuat kamu berpikir bahwa kamu menjijikan, tetapi jika ada wanita sepertimu yang beribu kali lipat lebih jelek dari kamu sekarang, aku tetap bersedia menikahinya." Lanjut Raul terlihat serius.
Entah mengapa Zahra kini merasa ringan " benarkah?" Raul mengangguk.
" Kalau kamu tidak percaya aku, tanyakan padanya, dia itu lelaki yang sulit jatuh cinta, tetapi aku tahu dia tertarik padamu." Tunjuknya pada Rodrigo.
"Heh, Raul Gonzalez. Sang Casanova."
Raul menyeringai sumringah" Kamu tahu aku? Itu suatu kebanggan."
" Tidak, tetapi salah satu teman dokterku mantan mu. Kamu meninggalkannya saat kamu sudah memerawaninya."
Zahra tiba-tiba berdiri, lalu menendang Raul.
" Awss..."
" Dan tidak mungkin aku menikahi seorang mafia seperti dia." Rodrigo mengangkat kedua alisnya geli .
" kamu tahu tentang kami?" Tanya Rodrigo.
" Ibnu yang memberitahuku semua tentang kalian. Aku turut senang kalian sudah bertemu dengan ibu kalian yang amat cantik itu. Sayangi beliau." Ucapnya syahdu di kalimat terakhir matanya kembali menangis. Ia rindu mamanya.
__ADS_1
" MAMAAAA...,AYAAAHHH,...Ala kangen kaliaannn...datanglah.. Ala butuh kalian...huhuhu..."
Raul dan Rodrigo memperhatikannya dalam diam, mereka biarkan Zahra menjerit sepuasnya mengabaikan perhatian dari pengunjung lainnya.
Langit gelap dengan air terus turun seperti paham akan luka hati Zahra, seseorang yang selalu terlihat tenang dan wibawa ternyata juga seorang wanita yang memiliki sisi lemah.
Langkah Sivia yang membawa payung untuk mereka terhenti ditengah jalan, riak wajahnya berubah sendu, dia tahu rasanya kesepian, membutuhkan sosok orang tua namun tiada di tempat.
" Zahra,..." Lirihnya.
Zahra berbalik, menghadap dua lelaki yang masih setia menemaninya.
" Jadi aku harus bagaimana?"
" Datang padanya tunjukan padanya sisi menjijikan kamu, kalau dia menolak datang padaku, detik itu juga aku akan menikahimu." Jawab Raul dengan mimik serius.
" Kamu bukan muslim."
" Aku atheis, dan aku bisa mualaf." Balas Raul.
" Tapi kamu sang Casanova, mantan temanku pula. Tidak, terima kasih."
" Ya, terima nasib." Ucapnya santai.
" Bagaimana dengan ku?" Tanya Rodrigo.
" Seorang mafia?"
" Bisa alih profesi. Fyi, aku juga seorang dosen komputer di Meksiko sana."
" Tapi bukan seorang muslim."
" Aku atheis, tapi demi kamu aku rela menjadi mualaf." Raut Rodrigo yang tenang menggoyahkan kegalauan Zahra.
" Tapi aku cintanya kepada Hito." Ucapnya lesu.
" Kita bersedia menjadi lapis kedua jika dia melepasmu." Tutur Rodrigo tegas.
Zahra tersenyum lembut, meski netranya masih memancarkan kesedihan.
" Terima kasih, aku akan tanyakan kepada Hito." Zahra berlalu dari sana meninggalkan dua pria gagah itu.
" Jadi begini rasanya menjadi pelampiasan, gak enak banget ya." Gumam raul.
" Makan berhenti mempermainkan wanita, btw. Ponsel kamu jatuh." Rodrigo kembali ke restoran, merangkul Sivia yang termenung di sana.
Raul memungut ponselnya mahalnya yang sudah mati total. Mau mengumpat, dia enggan. Berasa tidak ikhlas menolong kakak dari orang yang berjasa menolong ibunya.
\*\*\*\*\*
Empat pemuda kini duduk bersimpuh di lantai ruang tengah di depan Elena yang duduk di sofa panjang berserta Sisilia, dan Gama yang masih memegangi ponselnya setelah melihat rekaman Sandra di rumah sakit dan perbuatan Mumtaz di kediaman Sandra yang membuat mereka terguncang.
Entah video yang mana yang lebih mengagetkan mereka, namun melihat empat pemuda yang menurutnya hebat di depannya itu Elena terenyuh.
Dominiaz berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka.
Alfaska yang duduk paling depan diantara keempatnya. " Tante, saya tahu Tante kecewa padanya, tapi Mumtaz bukan orang jahat." Isaknya.
" Mumtaz sangat mencintai Sisilia, dia akan menderita jika Tante memisahkan mereka." Timpal Daniel.
Elena masih diam, mencoba mencerna apa yang terjadi kini.
" Tante, jangan ragukan moralnya, Mumtaz yang terbaik untuk putri tercintamu." Disusul Ibnu.
" Sebagai seorang Italia yang paham harga diri, saya yakin Tante memaklumi perbuatan Mumtaz. Saya mohon jangan membencinya." Bara pun turut menunduk kepalanya beserta yang lain.
" Saya mohon, Tante. Jangan sakiti dia, Ini semua salah saya, pinta apapun padaku, seluruh milikku kan kuserahkan asal Tante tidak menyakitinya dengan memisahkan mereka." Alfaska sampai bersujud di kaki Elena mengharap ampunan Elena.
Sisilia yang duduk ditengah kedua orang tuanya memandang sendu wajah mumtaz di ponsel ibunya. Tangisnya tidak berhenti sejak dia menonton video itu.
Hatinya begitu perih melihat kesedihan kekasihnya, ingin dia pergi dan mencari dimana kekasihnya kini berada, namun belum bisa.
Tadi keempat pemuda yang sudah dianggap kakaknya itu menerobos pintu rumah dan langsung menuju ruang tengah dimana Elena sedang berdiskusi dengan Gama dan dirinya terkait video kiriman dari Sandra.
Ibnu langsung menyodorkan video yang terjadi di rumah sakit kepada mereka. Mereka bahkan langsung duduk bersimpuh sempurna di lantai.
Gama memandangi Elena sebelum berkata," bagi saya Mumtaz masih lelaki yang baik, dan masih calon menantu yang terbaik."
Seketika Sisilia menggenggam tangan ayahnya menyalurkan rasa terima kasih akan kepercayaan ayahnya kepada pria pilihannya.
Elena menghadap Sisilia," Lia, sayang. Apa kamu menerima Mumtaz yang beremosi seperti ini?" Tanya Elena lembut.
Dengan tegas Sisilia mengangguk kuat," aku pernah melihatnya lebih kacau dari ini, mommy. Tapi dia tidak pernah melukai ku, dia memilih pergi menjauh dariku daripada melukaiku walau pada akhirnya dia akan meminta maaf padaku karena mengabaikan ku. Dia sangat menghormati ku, dia masih tempat bersandar ternyaman setelah kalian." Ungkap Sisilia.
Elena beranjak dari sofa menuju empat sahabat itu, ia mengangkat tubuh Alfaska yang masih bersujud.
Elena mengusap air mata Alfaska yang masih terus turun." Terima kasih kalian begitu menyayanginya, tentu mommy terkejut dengan kiriman video dari nyonya Atma Madina, tetapi itu tidak mengubah rasa sayangku padanya. Mommy yakin ada alasan dibalik itu, dan setelah mengetahuinya, mommy bangga padanya."
Empat sahabat itu terkejut akan perkataan Elena, mereka menatapnya tidak percaya padanya.
" Tan... Tante..." Suara serak Alfaska menggugah hati Elena.
" Suaramu habis, apa seharian ini kamu terus menangisinya?" Bagai balita Alfaska mengangguk.
Ia menubruk Elena, memeluknya erat," terima kasih..terima kasih. Aku pastikan putrimu bahagia bersamanya." Ucapnya teredam dalam pelukannya.
Elena tesenyum, membalas pelukan tubuh yang terasa kesepian itu.
Dominiaz yang menyaksikan peristiwa mengharukan itu menghela nafas beratnya, ia berbalik badan keluar dari ruangan itu.
Dia tidak heran mengapa Mumtaz yang orang biasa bisa mendapatkan sahabat konglomerat yang loyal, saat menolongnya dulu dari kecelakaan mobil, Mumtaz tidak memikirkan keselamatan dirinya untuk mengeluarkan dia dari kendaraan yang sudah mengeluarkan api.
Pandangannya bertubrukan dengan keluarga Birawa, Hartadraja, Argadinata, Gurawa, Santoso, Alatas, bahkan Husain ada di sini.
" Apa kalian di sini untuk Mumtaz?"
" Iya." kakek Fatio mewakili mereka.
Dominiaz tersenyum lembut," mereka ada di ruang tengah, maaf saya tidak bisa bergabung masih harus bantu Hito mencari Zahra."
" Tentu, kami tidak akan keberatan." Ucap Aryan.
Dewi menghadap Dominiaz," tolong temukan dia, bujuk dia untuk menikahi Hito, bukan denganmu." Pinta tulus Dewi
Dominiaz tertawa kecil," aku gak janji, Tan. Bagaimana kalau Zahra-nya kukuh tidak mau bersama Hito!"? Kelakarnya.
Dewi memukul pelan bahu Dominiaz, " kebiri aja dia ma." Celetuk Julia.
" Aku harus pergi, sebelum taring kak Julia keluar semua."seloroh Dominiaz, dia berlari melepas diri dari amukan Julia.
" Kya..... tolong..Ibnu... bangun..." Pekikan Elena membuat semuanya bergegas menuju ruang tengah.
__ADS_1
Di sana mereka melihat Ibnu yang pingsan di atas pangkuan Daniel yang menatapnya cemas...