Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 46. perang cinta.


__ADS_3

 Rumah Sakit Atma Madina


" Dr. Ziva, tunggu." Ziva yang melangkah terburu-buru berhenti menoleh melihat siapa yang memanggil


" Bisa kita bicara sebentar?"


" Maaf, sekarang saya ada tindakan, dokter... Anna."  Sebut Ziva melihat nametag di jas putih wanita itu.


" Ini penting."


" Tidak ada yang lebih penting dari menyelamatkan nyawa orang, dokter." Tegas Ziva.


" Dr. Ziva. Semua telah siap." Ujar asisten Reni." Dari arah lorong ruang operasi.


" Baik, Terima kasih, Sus." Tanpa pamit Ziva melangkah pergi meninggalkan dr. Anna Sanjaya yang menatap punggung Ziva dengan kesal.


Ketika Ziva dan Reni berjalan menuju ruang operasi mereka mengobrol


" Dokter kenal dr. Anna?"


" Tidak. Kamu tahu sendiri saya tidak punya waktu bertemu dengan banyak orang.


" Tapi, di rumah sakit ini berita tentang dokter dengan prof. Farhan telah menyebar."


" Berita tentang apa?


" Berita bahwa dokter dengan prof. Farhan sudah..." Mereka terus berbicara sampai masuk ruangan operasi.


*****


Club D'flowless


pukul 22.30 WIB


Club d'flowless merupakan club khusus kalangan konglomerat yang beranggotakan terbatas, hanya orang-orang yang sudah memesan tempat sebelumnya yang bisa masuk ke club ini.


" Kak, beneran kita masuk sini? Tanya Adinda ragu.


" Iya. Ini club khusus konglomerat, transaksi pada umumnya dollar." Ujar Erika


" Lo, kok tahu tempat ini?"


" Kadang klien bawa gue kesini."


" Udah ah jangan banyak tanya, Ini bakal jadi ladang baru buat kita."


Mereka memasuki ruang utama yang pencahayaan nya redup, sangat cocok untuk berbuat mesum.


Bahkan dance floor club di buat lebih intim karena diiringi musik lembut.


" Anjim, gue langsung *****, kak." Erika tertawa puas mendengarnya


Mata Adinda mengamati seluruh suasana club yang elegan dan mewah. Matanya fokus ke sepasang lelaki tua dan wanita muda sexy yang tak segan melakukan make out di tempat ramai, Adinda tersenyum miring licik kala dia mengenal siapa wanita itu.


" Gila, mereka gak sungkan lakuin blow job di sini." Adinda terkejut


" Di sini Lo telanjang juga gak ada yang tegur."


" Dia, siapa?"


" Dia Mega bintang sini, namanya Tanura. Dia yang termahal."


" Berapa?"


" Sepuluh ribu."


" Dollar?" Erika mengangguk.


" Ck...Itu mah murah."


" Per jam." Adinda tercengang


Adinda mengeluarkan ponsel dari totebagnya, dia mengambil beberapa foto wanita bernama Tanura.


" Kak, gue balik dulu, ada urusan."


" Gak langsung beroperasi aja Lo, dek?"


" Besok aja, see you." Adinda meninggalkan club Dengan bahagia.


 


Di sisi lain.


" Woy, Yan. Lo gak kemahalan nyangkut di sini?" Ledek Erros Al-Tairo


" Ngehina Lo. Gue di sini gak make, cuma hunting channel bisnis."


" Kalau si Mumtaz tahu, K.O, Lo."


" Dia tahu, sepanjang gue gak minum atau yang lainnya oke aja."


" Lo, di sini ngapain, om?"


" Ni, gue nemenin temen gue. Bisnisnya lagi kacau, dia di tipu partnernya."


" Kenapa gak minta tolong RaHasiYa?"


" Udah, dia bilang gak ada modal."


" Ck,...  Kalau dia temen Lo, berarti Dia temennya kak Edel Hartadraja?"


" Iya, mereka teman waktu kuliah di Amrik."


" Coba aja datang ke RaHasiYa. siapa tahu dibantu." Erros mengangguk, dia menoleh ke Dennis.


" Mau Lo coba?" Tanya Erros.


" Kenapa enggak, gue udah buntu." Jawab Dennis


" Btw, itu siapa bang, yang lagi blow job?" Mereka menatap sepasang sejoli itu.


" Tanura, Mega bintang sini.


Brian terbelalak kaget, benarkah itu Tanura yang dia kenal?, Tapi dia menggeleng mengingkari. Nama Tanura itu banyak, begitu pikirnya. namun tak ayal dia mengambil gambar wajah gadis itu.


****


Surga Duniawi


pukul 01.00 WIB


Adinda mengacak-acak kamarnya ketika mendapati file yang berisi foto foto Marya hilang di laptopnya, hanya ada tulisan " sorry, Adinda. gue hapus foto-foto ini, Samuel."


" Samuel, sialan Lo. karena ini Lo gak muncul lagi kesini. Lo datang, gue buat perhitungan sama Lo." geram Adinda


Seketika dia teringat foto aslinya " Samuel, Lo pikir Lo cerdas." dia mengambil tas yang dipakai untuk kuliah, tangannya mengubek-ubek isi tas ketika dia tak dapat menemukan apa yang dia cari, dia panik. dia keluarkan semua isi tas ke atas kasur, dan menghamburkannya ke seluruh permukaan kasur, tapi foto itu tetap tidak ada.


matanya melotot, dia Jambak rambutnya sambil menggelengkan kepalanya " tidak mungkin, tidak mungkiiiinnnn!!!" teriaknya frustasi


*****


Universitas Atma Madina


Gedung Fakultas Ekonomi.


" Woy, boss sejuta umat akhirnya masuk kuliah." Sindiran Jimmy untuk Bara yang terlihat anteng di pelataran gedung


" Ngapain kalian di sini?" Tanya Bara tumbenan sepupu dan para sohibnya menginjak fakultas ekonomi.


"  Mau nemuin si Zayin."


" Zayin, Zayin siapa?"


" Muzayyin Hasan, adiknya Mumtazul Yusuf. Calon adik iparnya Alfaska Atma Madina."


" Bang Jim," panggil Zayin. Zayin menghampiri Jimmy.


" Loh, Lo kuliah di sini?" Tanya Bara  melihat Zayin yang menenteng tas


" Iya."


" Kenapa ngambil ekonomi?


" Karena bidang yang lain gue udah pinter." Jawab sombong Zayin


" Bara," panggil Tamara.


" Apa?" 


" Kamu kemana aja? Susah amat dihubungi." Tamara mengibaskan rambutnya ke belakang


" Ada, sibuk gue. Skandal gue udah reda, jadi udah ngantor lagi."


" Ooh, gitu. Jadi skandal hilang, kamu cuekin aku karena udah gak butuh aku lagi." Sarkas Tamara.


Bara menatap Tamara " apa maksud Lo ngomong begitu? Kemarin juga gue biasa aja sama Lo." Bara tak senang.


" Eh, enggak begitu...aku pikir kita udah Deket, kemarin-kemarin kita sering keluar bareng."


" Kan Lo yang ngajak, bukan gue yang minta."


" Bara, aku harap kamu paham, kalau cuma aku yang ada buat kamu di kala kamu susah." Tekan Tamara


" Enggak juga, Gue juga susah gantiin dia di perusahaan. Cassy, pacarnya juga susah gak leluasa jalan bareng Bara paling mentok di apartemen Bara." Jimmy menekan kata pacar.

__ADS_1


Tamara menatap Jimmy tidak suka " kita pulang bareng yuk?" Tamara menghiraukan Jimmy.


" Enggak bisa, gue pulang bareng Cassy. Kangen gue sama dia." Raut Tamara memerah, tangannya terkepal.


" Kak Tamara, "panggil Adinda sok akrab.


" Apa?" Bentak Tamara keceplosan


 " Eh maaf, Aku ganggu ya?" Raut Adinda pura-pura tak enak hati.


" Teman Lo? Tanya Bara.


" Bukan. Mana ada. Kamu tahu sendiri aku gak dekat sama Maba."


" Aku pergi duluan ya, Bar. Nanti telpon aku." Tamara langsung meninggalkan mereka. Sedangkan Adinda masih berdiri dengan raut sedih.


Jimmy yang muak, menegur " ngapain Lo masih di sini?" 


Adinda yang terus menatap Zayin tersentak kaget " eh iya, kak. Aku pergi." Adinda mempercepat gerakannya guna menyusul Tamara.


Zayin yang memperhatikan mereka dengan diam terasa aneh " kalian udah damai sama Tanura?"


" Hah? Apa?" Mereka kaget serempak.


" Itu, teman Lo yang namanya Tamara bukannya dia Tanura? mereka terkejut


" Jangan ngasal deh Lo." Sergah Daniel


" Kagak, muka emang beda, tapi kebiasaan gak bisa berubah kan. Bodynya juga sama cuma lebih bohay."


" Tumbenan Lo merhatiin cewek." Sarkas Ibnu.


" Enggak juga. waktu SMA, Raja maksa gue sama Juan merhatiin dia tiap Tanura lewat. katanya cara jalannya bak biola berjalan.


" Kebiasaan apa yang Lo maksud?" Ibnu tertarik


" Itu ngibasin rambut, sama jalannya. Lo punya alat yang mencocokan bahasa tubuh  atau apa gitu?"


Mereka diam, tertegun dengan analisa Zayin 


" Jangan bilang kalian enggak ngeh? Mereka menggeleng.


" Bang, Lo kan punya banyak..."


"  Habis kuliah kita rapat, hubungi Mumtaz."ucap datar Jimmy.


Ibnu mengirim pesan ke Mumtaz.


" Ajak Cassy enggak apa-apa, ya? Temannya juga di ajak, Gue kangen banget dia." Rayu Bara yang diangguki Jimmy.


 Fakultas farmasi


Sisilia tersenyum melihat Mumtaz duduk menunggunya di taman belakang fakultasnya, namun senyuman itu tak lama ketika melihat dengan siapa Mumtaz mengobrol di bangku tersebut. 


Riana, gadis dengan kerudung pink dan gamis biru muda terlihat ayu dan lembut, tersenyum manis di depan Mumtaz.


" Lo lihat, Mumtaz dan Riana dua orang yang siapapun melihatnya akan bilang mereka serasi. Mending Lo mundur." Sisilia menoleh ke belakang yang mana terlihat Divanya, teman Riana tersenyum licik.


" Jadi benar gosip yang mengatakan kalau kak Riana suka sama kak Mumtaz?" Sisilia sibuk dengan ponselnya.


" Iya, dan kerena Lo Mumtaz yang seharusnya jadian dengan Riana malah tergoda sama Lo. Dasar gadis murahan!" Hardik Divanya.


" Lo, dan para teman Lo hanya sekelompok gadis manja yang haus belaian lelaki, karena sering nemplok ke geng Mumtaz. Apalagi si Tia, nemplok sana-sini, pake jilbab, tapi gak punya malu." Divanya mengeluarkan segala emosinya.


Sisilia menyimpan ponselnya kedalam tas" Kak, sambut kemalangan Lo." Usai mengucapkan itu Sisilia berlalu dari Divanya yang tampak bingung.


 " Kak, maaf. Lama, ayo pulang." Sisilia duduk di samping Mumtaz. Mumtaz yang semula menghadap arah Riana, menoleh menyamping penuh menghadap Sisilia. Sisilia merasakan hangat di hatinya


" Kamu, udah selesai?" Sisilia mengangguk.


" Kamu, buru-buru gak?" Sisilia menggeleng.


" Kenapa diam aja?"


" Hehehe..., Senang." Ucap Sisilia tertawa kecil. Mumtaz terkekeh, mngusap kepala Sisilia.


" Kita ke tempat aku dulu ya. Tadi ada pesan dari Ibnu harus pada kumpul." Sisilia mengangguk semangat.


" Ijin dulu sama mommy kamu."


" Iya." Sisilia mengirim pesan ke mommy-nya


" Boleh selama bareng kakak." Sisilia menunjuk balasan dari mommy-nya


Mumtaz tersenyum " ayo." Mumtaz berjalan di samping Sisilia dia mengambil barang bawaan Sisilia. Mumtaz lupa akan keberadaan Riana yang terus menatapnya dengan geram.


" Kakak, tumbenan ngajak pulang bareng?"


Mumtaz diam sesaat " kangen kamu, dan seharusnya gitu kan."


" Kalau nurutin kegiatan kakak kita gak bakal ketemu-ketemu Sisilia, maaf ya."


Sisilia menggeleng " gak apa-apa." Memang sering terbesit dalam pikiran Sisilia jika Mumtaz tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya menjadikan Sisilia pacarnya, karena Mumtaz jarang menghubunginya dan mengajak pulang bareng.


***


Butik Sandra


" Mbak, bisa ke atas sebentar?" Tanya mami Sandra ke mama Aida


" Iya mbak." Mama mengikuti mamy ke lantai dua butik yang dijadikan tempat operasional butik.


" Oh iya mbak, saya sudah pelajari tawaran kontrak dari ibu Lusy, saya pikir mbak harus negosiasi ulang."


" Kenapa?"


" Ada beberapa kata yang ambigu kalau ditafsirkan memiliki arti banyak, takutnya di kemudian hari merugikan mbak. Saya sudah tandai beberapa Kata itu dan buat beberapa penafsirannya."


" Oh iya, Terima kasih ya."


Di lantai dua sudah ada Tante Sherly yang duduk di sofa.


Mama Aida tersenyum menghampiri " apa kabarnya, mbak?"


" Baik." Entah mengapa Tante terlihat tidak nyaman.


" Mbak, sebelumnya saya minta maaf. Saya ingin mengalihkan tanggung jawab butik ini dan semua yang berada di jakarta ke kakak saya jika saya sedang sibuk di luar."


Mama sekilas kaget " eh, iya gak apa-apa. Itu hak mbak, tapi boleh saya tahu alasannya? Apa kinerja saya buruk?"


" Bukan, bukan karena itu, ini murni saya ingin kak Sherly punya kegiatan di luar rumah."


" Ohh syukurlah kalau begitu, saya khawatir sudah mengecewakan mbak. Kapan mulai ambil alihnya?"


" Mulai besok, kalau mbak tidak keberatan."


Mama tertegun sesaat " tentu, tidak alasan saya keberatan. Justru saya ingin berterima kasih ke mbak yang sudah memberi saya kesempatan dalam dunia bisnis."


" Tapi saya masih butuh bimbingan dari mbak!" ujar Tante sherly


" Kalau bimbingan, langsung sama Sandra aja, mbak. Mbak Aida juga dibimbing sama aku, iya kan, mbak?"


" Iya, langsung sama mbak Sandra saja." Setelahnya mama terdiam tidak fokus lagi perihal obrolan lanjutannya.


****


Cafe d'lucky dekat rumah sakit Atma Madina


" Serius Lo ada gosip murahan begitu?" tanya Zahra.


Ziva mengangguk " gue dapat kabar dari suster Reni, terus gue juga udah tanya ke yang lain dan mereka bilang iya. bahkan mereka cerita yang lebih parah."


" Sumpah gak elit banget bersaingnya." ucap Zahira.


" ck... bersaing apaan, gue udah kibar bendera putih. amit-amit jadi pelakor." rutuk Ziva


" ck, udah lah biasain aja, Besok jangan lupa jam sepuluh di cafe' D'lima." Ucap Zahra


" Iya bawel amat. Lagian pagi banget janjiannya." Protes Ziva.


" Lo tahu siapa aja teman kak Hito?" Tanya Ziva


" Enggak, Udah sih siapa kek yang penting kalian gak jomblo. Gak enak hati kalo cuma gue yang punya pasangan." Jawab asal Zahra.


" Cih, soumbong." Cibir Ziva.


"Ra, Lo kenapa dah diam aja kalo kita lagi ngomongin pendamping?" Tanya Ziva.


" Heh, gue males sebenarnya kalau ngomongin pendamping, gue baru gagal tunangan. Sialnya mantan gue tetangga gue." 


" Hah? Serius Lo, kok gak bilang?"


" Ini bilang. Empat tahun lalu, cuma tiga bulanan doang."


" Itu tunangan atau bayar kreditan bentar amat." Sarkas Ziva


" Kenapa?" Tanya Zahra hati-hati


Hira menggeleng " entar gue cerita, sekarang masih sakit kalau ingat itu." Mereka mengangguk paham.


" Tapi Lo kan gak punya pacar, Ra!?" tanya Ziva.


" Dibilang entar juga ceritanya masih aja mancing. Lo kalo gue bahas perasaan Lo sama prof. Farhan, mau?" Tanya Zahra galak.


" Dih apaan sih nyerempet ke sana." Omel Ziva

__ADS_1


" Lagian Lo pake baper benaran ke prof, kita mah iseng doang, beliau kan idola sejuta peneliti." Ledek Zahra.


" Gue juga gak niat, tapi gimana kalau tingkah dia tuh ke gue beda, emang Lo gak ngerasa?" Ziva emosi


Zahra dan Zahira menggeleng " perasaan sama aja deh." Celetuk Zahra yang disetujui Zahira.


Ziva mendelik kesal, tiba-tiba seorang lelaki duduk di samping Ziva yang membuat mereka terlonjak kaget.


" Kalian, saya cariin dari tadi? Bisa gak, kalau lagi ngegibah hpnya  taro di atas meja." Ucap prof. Farhan yang menggeser piring Ziva yang masih penuh makanan ke hadapannya.


Mereka refleks memeriksa ponsel masing-masing yang terdapat beberapa panggilan dan pesan dari prof. Farhan.


Mereka hanya bisa menyengir lima jari.


" Bapak ih, beli sendiri. Kayak orang susah aja. Saya belum kenyang." Protes Ziva yang makanannya dimakan Farhan.


" Ini. kamu beli lagi, saya lapar banget." Farhan menyodorkan dompetnya ke Ziva.


" Saya beli yang mahal ya?" 


" Terserah, kamu bawa dompetnya juga gak apa-apa, tapi sisihkan buat saya beli bensin." 


" Serius? Saya ambil ni?" Ancam Ziva, Farhan mengangguk, dan menyuapi Ziva, refleks Ziva menerima suapan tersebut.


Dua sahabatnya ternganga melihat apa yang terjadi di depan mereka.


" Bapak, ini serius? Saya ambil ni." Ziva mengeluarkan lima lembar seratus ribuan dari dompet Farhan dan memberikannya ke Farhan yang diterima oleh Farhan dengan santai.


" Ambil aja, jangan lupa tiap hari sisihkan buat bensin saya, taruh aja di kantor saya uangnya." Farhan masih sibuk makan dan menyuapi Ziva sampai habis, dan meminum minuman Ziva sampai tandas


" Bapak itu minuman saya, ih, kayak gak ada yang ngurus amat sih katanya udah punya isteri." omel Ziva.


" Sekalian, kan dompet saya ada di kamu. Kalian cepat makannya, terus ke kantor saya." Farhan mengecup pucuk kepala Ziva sebelum berlalu.


Mata dua sahabat membulat terkejut, mereka tidak siap dengan apa yang mereka lihat.


" Prof. Farhan kesambet Raffi Ahmad atau Vicky Prasetyo, kok so sweet amat."


" Nah kan, kalian juga baper. Itu, tingkah manis itu yang dia lakukan ke gue setelah kalian hijrah ke luar ninggalin gue sendiri di sini, gimana gue gak baper. pas gue tembak, beliau malah nolak gue, dua bulan kemudian beliau nikah. Gimana gue gak frustasi?" Ucap Ziva lirih.


Zahra dan Zahira menatap Ziva menyesal karena mereka tidak ada kala Ziva butuh mereka.


" Lo tahu siapa isterinya?" Ziva menggeleng. " Gak lama mereka nikah, Gue Konsul ke psikiater." Luka yang coba dia sembuhkan, tapi masih terasa perihnya.


" Berani balik kesini karena kita bakal berkumpul, gue pikir gue udah bisa move on, tapi ternyata belum, diperparah sikap beliau yang kembali manis ke gue." air mata Ziva luruh


" Kita gak bisa diam melihat profesor kebanggan kita cosplay menjadi Vicky Prasetyo, kita harus selidiki!" Ujar Zahra


" Emang Lo masih punya waktu buat begituan?" Tanya Zahira


Zahra menggeleng " bukan gue, tapi Mumtaz. Kalau beliau mempermainkan Lo, kita berhenti jadi asisten penelitiannya, lagian itu orang demen banget penelitian, heran." Kesal Zahra.


Ziva melongo mendengar usul Zahra


Zahra memotret KTP Farhan yang dia ambil dari dompet Farhan.


Tanpa mereka sadari sejak tadi mereka diperhatikan oleh seseorang yang saat ini sedang menahan marah.


****


Perjalanan Menuju Gedung RaHasiYa


Jalan menuju gedung RaHasiYa macet merayap karena ada perbaikan jalan, dan waktu makan siang. Mumtaz melihat sosok Sisilia lewat kaca spion, Mumtaz mengernyit kala mendapati tatapan kosong Sisilia dan juga terlihat kegerahan karena wajahnya yang putih berubah merah. Mumtaz menepikan motornya di kedai es kelapa.


" Kenapa berhenti, kak? tanya Sisilia


Mumtaz melepas helm dari kepala Sisilia " istirahat dulu, panas banget."


" mau?" tunjuk Mumtaz ke es kelapa, Sisilia mengangguk.


" Bu, es kelapanya dua." Mumtaz mengajak Sisilia masuk ke dalam kedai es kelapa.


" kamu kegerahan banget ya? apa aku pesenin taxi online aja? tawar Mumtaz


" enggak usah, gak apa-apa. ini cuma...,"


" belum terbiasa?" sela Mumtaz


" maaf, menyusahkan kamu. Lain kali gak perlu memaksakan diri."


" Aku gak terpaksa, aku senang malah." sergah Sisilia.


Mumtaz memandang Sisilia dalam, dan tersenyum.


******


Gedung RaHasiYa


Mumtaz memasuki gedung berjalan santai berdampingan dengan Sisilia yang mendapat tatapan terkejut dari para karyawannya, pasalnya sang bos mereka yang ini paling irit berbicara tentang wanita, dan baru ini bos mereka ada yang mengajak wanita ke perusahaan.


Menunggu lift turun, Mumtaz dan Sisilia menjadi pusat perhatian, para karyawan tak segan memandangi mereka. Risih di pandangi Sisilia merapat bersembunyi ke tubuh Mumtaz.


Kala pintu lift terbuka Mumtaz menarik Sisilia masuk dan menghalangi Sisilia dari para karyawan laki-laki.


" Takut amat pacarnya diambil, boss." Ucap Dewa sang hacker lapis dua.


" Iya, secara kalian kayak lebah kelaparan."


" Siapa namanya, bos?" Tanya Regi.


" Nyonya Mumtaz."


" WOOOOW.." teriak mereka serempak


" Permisi, saya keluar di sini." Mumtaz menarik Sisilia ke depan tubuhnya, dan menghalau para karyawan yang ingin melihat jelas wajah Sisilia.


" Cih, pelit." Ucap Dewa.


" Saya dengar, Dewa." Ucap Mumtaz sebelum pintu lift tertutup


" Mati gue."


Ruang Kerja Mumtaz


Ruang kerja Mumtaz terdapat di lantai dua gedung, masing-masing bos memiliki satu lantai untuk menjadi ruang kerjanya.


" Kamu duduk di sini!" Mumtaz menuntun Sisilia ke kursi kebesaran Mumtaz.


Sisilia bersemu merah, sedangkan Mumtaz duduk di kursi di seberang meja.


" Kenapa ruangan kakak di lantai bawah? biasanya bis itu ruangannya paling atas?" tanya Sisilia


" ribet dan lama, kalau di bawah enak. jalan dikit nyampe."


" Kak, sama kak Domin disuruh main ke rumah." ucap Sisilia


" Ada apa?" 


" Enggak tahu, mungkin disuruh cepat ngelamar aku?" Sisilia tersenyum sembari menaik-turunkan alisnya


Mumtaz tertawa kecil " emang udah siap dilamar?"


" Siap 24 jam dalam sehari, buka tujuh hari dalam seminggu."


Mumtaz tertawa terbahak, " tunggu aku mapan dulu ya, aku masih banyak tanggungan keluarga."


" hah, lama dong. Keburu perasaan kakak berubah." rengek Sisilia


" Kenapa ngomong kayak gitu?"  Mumtaz menatap tajam


Sisilia mengedikan bahu," kak, apa kamu pernah suka sama kak Riana?


Mumtaz menatap Sisilia lekat " enggak, kenapa?"


" enggak apa-apa, Banyak orang bilang kalian serasi."


Mumtaz diam memandangi Sisilia dengan tatapan dalam.


" Enggak ngaruh buat aku, dia hanya teman di BEM. Gak lebih."


" Jadi ini yang bikin tatapan kamu kosong sedari tadi?"


" Hah, apa sih, enggak lah."


" Kamu takut aku berubah rasa?"


Sisilia mengangguk. Mumtaz mendekati Sisilia, dia putar kursi yang di duduki Sisilia ke menghadapnya, berjongkok dengan bertumpu satu kaki di depan Sisilia


" Aku belum bisa nikahi kamu sekarang, tapi semoga ini bisa jadi  DP dulu." Mumtaz mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya


menarik tangan Sisilia dia memakaikan gelang emas rantai kecil dengan hiasan lumba-lumba dan bintang di tangan Sisilia, " maaf, baru bisa beli yang murah. lain kali pasti bisa beliin yang lebih bagus. semoga suka."


Sisilia terpaku diam, matanya basah haru, " Aaa..., suka banget. jadi pengen peluk kakak."


Mumtaz tertawa " pegangan tangan aja dulu ya." Mumtaz mencium punggung tangan Sisilia


Menengadah menatap Sisilia " Sayang banget sama kamu." ucap dalam Mumtaz.


Air mata Sisilia tak bisa berhenti, meski Sisilia mencoba untuk menahannya dibawah tatapan dalam Mumtaz.


Sisilia memukul-mukul tangan Mumtaz gemas, Mumtaz mengeratkan genggamannya


BRAK!!!...


 

__ADS_1


 


__ADS_2