Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
176. Adios...


__ADS_3

Semua mata tertuju pada suara berat itu, saat suhu ruangan ber-AC itu terasa tinggi, khususnya bagi Guadalupe.


Tubuhnya mulai gemetar seiring Mumtaz mengikis jarak diantara mereka dengan tatapan tajam menusuk.


" Terima kasih om, kau menjaganya untukku." 


Tanpa basa-basi tangan Mumtaz langsung mencengkram leher Guadalupe, menekannya tepat dibagian pita suaranya. Ia menjauhkan tubuh tua itu dari kursi rodanya hanya dengan satu tangan.


Guadalupe tergagap, tangannya memegangi tangan Mumtaz berharap c3ngkr4man itu melonggar, tetapi itu tidak terjadi.


Pemandangan dimana Guadalupe terpengap-pengap bagai ikan terdampar adalah kesenangan tersendiri baginya, tidak mempedulikan wajah Guadalupe yang sudah memucat.


" Maaf, tuan Gurman. Saya ambil alih dia, ternyata anda terlalu lembek padanya hingga dia mampu melakukan apa yang telah terjadi malam ini." Ucapnya dingin.


Mumtaz mendekatkan wajah Guadalupe sejangkau tangannya.


Plak...plak....


Pipi kiri - kanan guadalupe memerah terkena t@mp@ran keras tangan besar Mumtaz, hingga sudut bibir wanita tua itu berdarah, dia hanya bisa meringis, tubuh tuanya tidak bisa melawan.


Semuanya tersentak saking terkejutnya, Sivia lah yang berani bicara. " Mumtaz, demi Tuhan, Mumtaz. Dia hanya orang tua tega sekali kau menamparnya." Hardik Sivia ceroboh.


Mata Mumtaz sektika menatap Sivia nyalang." Wanita yang kau sebut tua ini tega membvnvh perempuan yang ku panggil Mami."


" Aku tahu dia salah, tidak bisakah kau memaafkannya? Beri dia kesempatan..."


" Sivia, DIAMLAH. Tutup mulutmu." Bentak Rodrigo mengagetkan saudaronya itu.


Para pria, yang hafal seluk beluk dunia bawah tanah paham saat ini Mumtaz sedang mode memusnahkan tanpa peduli siapa targetnya, yang terpenting musuhnya take down.


" Kak, kita tidak bisa biarkan dia..."


" Drama...menyebalkan. kalau kau tidak ingin ku habisi nenekmu, sebagai gantinya, bagaimana jika ku habisi tunanganmu, bukankah dia mantan seorang pecandu sekaligus biang kerok putusnya hubungan dengan om hito? Saya punya beberapa video ranjang kalian, mau saya sebar lagi? Pilih pilihanmu, Sivia?" Ancam Mumtaz dingin.


Tubuh Sivia mematung membeku, wajahnya pucat. Mumtaz menyeringai devil melihatnya.


BUGH...


Satu tonjokan lurus tepat di hidung hasil operasi Guadalupe mengucurkan darah segarnya.


" Aaa..." Bahkan Guadalupe tidak sanggup mengeluarkan suaranya saking terhenyaknya.


BUGh...


BUGh....kreek...


Pergeseran tulang  dari dua pukulan kencang di rahang bagian kanannya mengakibatkan mulut Guadalupe tergeser miring ke samping kiri.


Mata Sivia dan Belinda sudah terpejam karena ngilu dan ngeri, sungguh lelaki yang biasanya berwajah teduh itu kini sangat menyeramkan. Terlebih Belinda, dia tidak menyangka lelaki yang selalu menawarkan ketenangan dann perlindungan selama di persembunyian RaHasiYa bisa sangat menyeramkan.


Brakh...prang...


Tanpa beban Mumtaz menghempaskan tubuh tua itu mengenai lemari kaca yang langsung jatuh tergeletak ke lantai tanpa daya.


Mata tajam hitam itu menatap Guadalupe dengan tatapan dingin.


" Kyaaa...." Jerit Belinda dan Sivia saling memeluk, Diego membawa mereka berdua ke belakang tubuhnya memberi perlindungan.


" Mama..." Pekik Belinda.


" Dia bukan ibumu, bukankah dalam dirimu hanya ada darah nyonya Esperanza dan tuan Alejandro?" Tanya retoris Mumtaz datar.


" Ta...tapi dia..."


" Dia yang menjadi penyebab ibumu bertubuh lemah di atas kursi." 


Informasi itu mengagetkan mereka, air muka mereka penuh pertanyaan.


" Apa...apa maksudmu?" Tanya Alejandro.


" Tepat sebulan pernikahan kalian, Guadalupe mencampurkan bahan pelemah otot tubuh di setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi nyonya Esperanza, yang pada akhirnya beliau sendiri mengetahuinya, demi keselamatan jiwanya nyonya Esperanza memilih menyingkir dari mansion anda untuk pindah ke villa. 


Dari sana nyonya Esperanza, mengamati setiap gerak-gerik nyonya baru ini, beruntung cinta anda pada sang nyonya besar menuntun anda untuk menghabiskan waktu bersamanya alih-alih bersama gvndik ini.


Dia yang membantu Eric untuk melarikan Belinda dengan harapan mereka memiliki keturunan sebagai penerus memimpin kartel, dia tidak puas dengan Rodrigo yang karakternya mirip seperti anda tuan, untuk Raul, dia berusaha keras menjadikan Raul hanya sebagai pecundang, bersyukurlah Raul dekat dengan bang Dominiaz yang menariknya dari kubangan drug.


Dia menimbun kekayaan kalian dalam bangkar bawah tanah mansion milik mereka di perbatasan dengan Amerika, untuk berjaga-jaga jika tuan mengetahui  pengkhianatan, mereka bisa kabur ke sana.


Melihat pengkhianatan Eric dan Guadalupe membuat nyonya merubah ahli waris dalam surat wasiat yang semula atas nama Eric menjadi atas nama kalian bertiga tanpa sepengetahuan anda. Untuk itu anda bisa tanyakan pada tuan Javier, selingkuhannya. Nyonya mengancamnya akan menyebarkan perselingkuhan itu ke media massa. Nyonya Esperanza berhasil memaksa Javier untuk menyembunyikan fakta ini.


Hal yang sangat dihindari oleh Javier, Javier mencintainya, tetapi resiko hukuman dari sekelas pemimpin kartel seperti anda membuatnya tetap waras untuk tidak berbuat bodoh lebih lanjut.


Bahkan javier lah yang selalu melaporkan perbuatan Guadalupe pada nyonya Esperanza. Jadi wanita keriput, kau take down!" Tukas Mumtaz pada tubuh lemah itu.


Suasana ruangan hening sepanjang Mumtaz berbicara, Wajah Alejandro dan yang lain sudah memerah menahan amarah. Sedangkan Belinda dan Sivia terperangah batapa j@h@t neneknya itu.


Smirk devil Mumtaz tersungging di bibirnya," bagaimana sedikit informasi dariku? Tenang, ada kabar gembira buat kalian. Mari kita make a deal..."


" Saya setuju apapun itu." Ucap Rodrigo sarat kekecewaan.


" Serahkan dia dan putranya padaku, akan ku beritahukan letak dan kata sandi bangkar tersebut, bahkan RaHasiYa akan memberi pengawalan pada kalian untuk memindahkan kekayaan itu."


Guadalupe menggeleng lemah," no, ka..mu ti..dak...boleh..."


" Wow, seriously? Kamu tidak berminat mengambil bagian?" Sarkas Raul, mengabaikan usaha Guadalupe. 


" Thanks, tapi apa yang ku miliki saat ini sudah lebih dari cukup untuk menghidupi seluruh keluargaku."


" Deal. Ku serahkan jiwanya pada mu." Tutur Alejandro dingin."


" No...pelase...Ale..." cicit Guadalupe parau.


Alejandro bergeming di tempat.


" Tenang, saya akan beri sedikit untuk kalian, kalau kalian ingin menghukumnya, tunggu gilirannya."


" Bagaimana kau tahu tentang itu semua?" Tanya Rodrigo.


Mumtaz mengedikan bahunya santai " Hanya kebiasaan, saya mengetahui itu sejak menemukan keterlibatan Eric dengan Brotosedjo dan Aloya. Tidak sulit bagi saya untuk mengetahui tentang kalian meski tuan Rodrigo sudah mengamankan informasi keluarga dengan sandi rumit, menurutnya! Seperti kata om Damian ket0l*lan penjahat saat ini adalah menggunakan teknologi dalam perbuatannya." Tekan Mumtaz pada Kata terakhir penuh ironi.


" Ma..maafkan aku, ka..sihani..lah wanita tua ini." Cicit Guadalupe dengan suara pelan.


Mumtaz menyalakan benda nikotin dari sakunya." Terlambat, kau telah menjadikan saudaraku seorang yatim. Bahkan ini belum seberapa, kau begitu membanggakan diri sebagai nyonya dari kartel terbesar, saya tunjukan hukuman ala RaHasiYa. Kita bisa adu kesadisannya.


Show time, madame."


Ibnu memasuki ruangan membawa laptopnya yang terhubung dengan Valentino yang dipaksa bangun dari tidurnya yang diletakan di atas meja yang bisa dilihat oleh semua orang.


Mumtaz mengaktifkan mode terjemahan pada earpiece-nya begitupun dengan Damian, ibnu, dan Rio.


" Selamat datang, Valentino." Ucap Mumtaz terkesan lancang dengan tidak menggunakan kata 'tuan' pada pria yang berusia perkiraan 40-an tersebut.


Valentino untuk sesaat diam, mencoba mengenali lelaki yang mengganggu waktu istirahatnya.


" Aaa..hh, Mumtaz. Akhirnya kita bertatap muka." Seringainya culas.


" Yeah, finally. Sesuatu yang akan membuat mu menyesal berurusan dengan ku."


" Tidak akan, bagaimana keadaan Nyonya Atma Madina?" Tanyanya meledek.


Mumtaz masih memasang wajah tenang, tidak terganggu dengan sikap Valentino, yang akhirnya membuat Valentino tidak suka.


" Baik, beliau tenang." Jawabnya santai.


Mendengar jawaban Mumtaz, kedua tangan Valentino mengepal erat hingga buku tangannya memutih dan urat tangannya menonjol.


Tiba-tiba televisi LED berukuran besar itu berganti tayangan dengan menghadirkan keberadaan Eric dalam keadaan yang mengenaskan tanpa rupa, sungguh tidak satu tempat pun dalam tubuh Eric tanpa luka dengan kedua tangan dan kaki terikat ditengah kayu bara yang siap dinyalakan dalam bangunan luas bak lapangan sepak bola indoor.


Valentino terperangah tidak percaya, dan baru dia sadari seonggok daging yang tergeletak di lantai adalah Guadalupe, matanya menyorot Mumtaz dengan menilai.


" Tidak..." Jerit Sivia pada Diego, meratapi nasib pria yang pernah dia panggil papa.


Beda halnya dengan Belinda yang langsung ketakutan melihat wajah itu, tubuhnya merapat penuh saat Raul menariknya ke dalam pelukannya.


Raul mendudukan ibunya di atas sofa panjang, mengusap punggungnya menenangkan.


" Mama ta.. takut...Raul, Bagaimana jika dia kembali." Lirihnya, tubuhnya gemetaran karena traumatik.


" Shuu... semuanya telah berkahir, dia tidak akan bisa menyentuh mu lagi, mom." Bisik Raul.


" Dengarkan putra mu, Nyonya. Saya jamin dia tidak akan bisa menyakiti anda lagi, nyonya muda." Bulir bening mengalir dari pelupuk mata Mumtaz, melihat interaksi Raul dan Belinda.


Dia sungguh merindukan ibunya, duka itu masih ada, luka itu masih basah, situasi yang memaksanya terkesan baik-baik saja.


Ibnu tertegun melihat air mata itu, dadanya sesak saat menyadari ia kecolongan perihal perasaaan Mumtaz, merasa dirinya jahat tidak menyadari luka hati saudaranya ini. 


Di atas aura kuasanya, terlihat rasa kesepian yang sangat kuat menguar dari tubuh semampai itu.


Andai situasi tidak dalam genting seperti ini, ingin Belinda memeluk tubuh pemuda ini. Sungguh dia tahu bagaimana rasa kesepian itu bisa membunuh jiwa.

__ADS_1


" Mumtaz, to...long bebaskan putra saya." Lirih Guadalupe, tergeletak dengan darah yang mengalir dari kepalanya, hidung dan bibirnya..


" Dalam mimpimu, saya ingin mempersembahkan pertunjukan padamu."


" Panggang dia." Ujarnya pada anak buah di sana melalui earpieces-nya.


Eric yang sudah terikat seperti di tiang salib meraung kala api itu mulai membesar melahap bagian bawahnya.


Suasana seketika turut memanas, raut klan Gurman-Gonzalez tanpa ekspresi, hanya tangisan Guadalupe yang menjadi musik mengiringi pembakaran tubuh lemah itu.


Tubuh Eric mulai mengelupas  Karena suhu panas api, saat api itu mulai merambah membakar bagian paha Eric, Mumtaz menghentikannya.


" Padamkan, dan angkut dia, beri dia pada Gaunzaga, pastikan kedua tangannya menjadi menu sarapan Labradornya Bara." Titahnya.


Sivia berlari duduk bersimpuh memegangi kaki Mumtaz.


" Tidak, Mumtaz. Saya mohon hentikan, kembalikan Papa pada kami." Raung Sivia berurai air mata.


Mumtaz hanya menatapnya datar." Kalau begitu kembalikan Mami pada Alfaska, kalau kau mampu mengembalikannya, saya kembalikan bajingan itu padamu. Kalau tidak, jangan uji kesabaran saya, karena saya akan berbuat sesuatu pada Harry." Ucapnya kejam tanpa belas kasih.


Sontak tubuh Sivia menegang, ia menjauh dari Mumtaz, bagaimanapun sayangnya dia pada Eric, dia tidak akan menukarnya dengan kehidupan kekasihnya.


" Sivia, kau tidak bisa lebih mementingkan dia daripada ayahmu." Seru Guadalupe susah payah dan pelan.


" Nenek, aku menyayangi putramu, tapi dia sudah membuat luka banyak dihatiku, dan Harry lah yang menyebutkan luka itu."


" B3deb@h, kau...aaaaa...kh." Teriaknya kala Mumtaz melempar puntung nikotin yang menyala itu ke punggung tangan Guadalupe, lalu menekan dan mengusak-kusaknya.


" Umurmu sudah uzur, lebih baik kau diam, dan perbanyak ibadah meminta penebusan dosa-dosamu."


Mumtaz mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya, mengarahkan pada Guadalupe.


Guadalupe tertawa senang melihat pisau itu." Kau pintar, bvnvh aku." Pintanya memohon.


" No, kasihan malaikat Izrail nganggur. Itu bukan gayaku, gayaku adalah,


Jleb...


Pisau itu menusuk leher Guadalupe mata Guadalupe membola sangat besar, mulutnya menganga ingin berteriak, namun tidak bisa. Ia syok dan yang lain pun demikian.


Begitu mudah dan santai Mumtaz melesatkan pisau itu mengarah pada sang korban, bibir itu tersenyum mengerikan, di netra mata itu tiada cahaya penghidupan.


" Aaaa...." Wajah para wanita itu berpaling dari Guadalupe. Tubuh mereka sangat gemetaran.


Valentino tertegun, ia menatap Mumtaz dengan banyak pikiran yang dibalas Mumtaz dengan seringai menantang.


" How?... What do  you think about all of this? Still wanna try with other things? With my pleasure, I have something for you."


Ibnu mengganti tayangan layar LED dengan menampilkan sebuah mansion berwarna bata, kamera itu memperlihatkan ruang demi ruang hingga masuk ke sebuah kamar tidur yang menampilkan bocah perempuan berusia 3 tahunan.


Wajah Valentino sudah mengeras tegang, senyuman di bibir Mumtaz semakin membesar.


" Apa yang harus saya lakukan dengan bidadari kecilmu ini, Valentino?"


" Kau sentuh dia, seluruh keluarga mu tanggungannya." Ucapnya tanpa mengenakan giginya yang bergeletuk.


" Sebelum kau sentuh keluargaku, seluruh keluargamu sudah dalam kuburan." Ancam Mumtaz.


" Seharusnya kau berhenti ketika jenazah saudarimu kau terima, tetapi kesombongan, membuat kalian 1d10t."


" Kau bunuh Angela, bagaimana saya bisa berdiam diri saja?


" Dan kau bunuh Nyonya Atma Madina, kau pikir saya akan berdiam diri saja?" Tantang Mumtaz dengan tatapan bengisnya.


" Kalau tidak boleh dia, Bagaimana dengan Alfred junior? Haruskah dia?"


Seketika gambar berganti dengan kamar tidur yang berwarna biru dihiasi lukisan angkasa diseluruh ruangan tersebut.


" Jangan kau sentuh dia, akan ku bunuh kau saat ini juga." Amuk Valentino di atas kursinya, wajahnya merah padam.


" Lakukan apa yang ku minta." Mumtaz mengabaikan Valentino.


" Sure." Jawab lelaki di balik kamera tersebut.


Dua pri berpakaian hitam dengan wajah ditutupi topeng mendekati lelaki berusia sekitaran 10 tahunan.


Satu pria memegang leher, dan wajah, satunya memegang tangan lelaki cilik tersebut.


Tanpa segan, lelaki itu mencabut kuku telunjuk bocah yang sedang tertidur pulas itu.


" Kyaaaa...kh..hiks..." Tubuh cilik itu mengejang karena terkejut dan kesakitan.


" Stop!" Dua lelaki itu berhenti memegangi bocah itu, mereka menjauhi ranjang, kembali ke belakang kamera.


" Valentino, ini hanya DP. Sekali lagi kau dekati, dan usik orang-orangku, ku ratakan seluruh keluarga, kekayaan, dan kebanggaan mu dengan tanah. CAMKAN ITU!"


" Kau pikir saya peduli tentangmu?"


" No, you don't, so do I, I do never care about your family."


" Gentleman, lanjutkan apa yang tadi belum tuntas."


Dua lelaki itu kembali ke ranjang bocah itu, tanpa jeda waktu mereka terus mencabuti satu persatu kuku-kuku kedua tangan bocah itu tidak menghiraukan teriakan dan tangisannya.


Di lain tempat Valentino sedang meraung bak kerasukan harimau  kelaparan sepanjang melihat apa yang terjadi dengan putra kebanggaannya.


" Frederico." Valentino memanggil asistennya.


" Apa informasi mu mengenai Mumtaz sudah tepat? Mengapa saya hanya mengetahui hanya Bara Atma Madina yang harus diwaspadai perihal kekejamannya, tidak dengan dia."


" Maaf, tuan. Informasi yang saya dapatkan berasal dari Mateo, asisten ayah anda."


" Jadi kau tidak menyelidikinya langsung? Karena kecerobohanmu, putraku menderita, keluargaku terancam."


" Baik, akan saya selidik kembali."


" Shitt, sial.. sial..." Di layar televisinya tergambar jelas putranya menangis meringkuk dengan kedua tangan berdarah.


" Valentino, kau bukan tandingan ku, bahkan ayahmu yang sedang berbaring antara hidup dan matipun belum tentu bisa mengalahkan ku." Ucap Mumtaz menatap lurus manik Valentino diseberang sana.


" Adios..." Tukas Mumtaz mematikan sambungan, menyisakan Valentino yang terus berteriak-teriak saking marahnya.


Seluruh pria di ruangan itu memperhatikan Mumtaz dan Ibnu dengan penilaian baru, khususnya Rodrigo. Sungguh selama ini mereka terkecoh."


" Mumtaz...apa kau baik-baik saja?" Tanya Belinda lembut.


" Tentu, selama kalian tidak menyakiti orang yang ku lindungi."


" Saya pastikan mereka tidak akan, mereka mencintaiku, dan Mama."


" Terima kasih, Madame." Mumtaz menghampiri dan mencium punggung tangan Belinda dengan khidmat.


" Tentu, anakku. Segala kebaikan untukmu, dan para sahabat mu."


" Baiklah tuan-tuan, kini waktunya kami permisi. Terima kasih atas waktunya."


Saat di lobby, mereka berhenti sejenak, Mumtaz ingin memastikan sesuatu.


" Bagaimana dengan Andre?"


" Tidak lama lagi nanti waktunya untuk dia." Seru Rio sumringah.


****


Andre bersenandung riang mengenakan pakaian seusai melepas hasratnya bersama Devi di hotel.


" Sayang, apa kamu harus pulang?" rengek Devi yang hanya berbalut selimut putih


" Harus, sayang. istriku sudah mulai curiga karena aku terlalu sering pulang terlambat."


" Sabar ya, yang terpenting apa yang kamu ingin sudah terwujud."


Devi menyeringai senang." aku senang banget pas lihat berita tadi, aku yakin lepas ini Birawa dan Atma Madina tidak akan berani ganggu aku lagi."


" Pastinya, aku pergi." Andre mengambil kunci mobilnya setelah mengecup kening Devi.


begitu tubuh Andre menghilang dibalik pintu, ponsel Devi ramai akan notifikasi. matanya membeliak dengan apa yang dia lihat.


Beberapa video ranjangnya dengan beberapa pejabat dan petinggi lembaga.


pada lebaran akhirnya si pengirim menuliskan pesan" Apa yang kau lihat sekarang, sedang dilihat juga oleh jutaan warga neg@ra ini!🤤"


" Beruntung, tidak ada dengan pak Andre." gumamnya menghela nafas.




Di sebuah rumah mewah, di dalam kamar tidur wanita paruh baya menatap ponselnya sambil berurai air mata, video syur suaminya dengan wanita yang dia kenal baik disalah satu kumpulan arisannya. tanggal dan jam yang tercantum dalam video itu tertanggal saat ini, dan beberapa waktu lalu.

__ADS_1



Video itu dikirim dengan caption," *Anda menunggu dengan setia, dia melupakan mu karena yang lain*!"



Ceklek...



" Sayang, kamu belum tidur?"



DUGh...prakkk...



Andra tersentak saat ponsel bergambar Apple digigit itu mengenai kening dan jatuh di kakinya.



" Aa..ws. Sayang, ada apa?" dia meraba jenjangnya yang sedikit benjol akibat lemparan kuat dari istrinya.



Dan lebih kaget saat melihat istrinya menangis.



" Kau lihat sendiri apa yang ada di ponsel itu." bentaknya.



Meski malas, ia tetap mengambil ponsel itu. kini kedua mata ini terbelalak, wajah yang semula menampilkan raut senang kini berubah panik.



" Sa..sayang... dengarkan aku dulu..ini..."



" PERGI, KELUAR KAU DARI RUMAH INI." teriaknya nyalang.



" Sayang,...ku mohon dengarkan aku dulu, ini tidak seperti apa yang kau duga."



" Aku tidak peduli, apapun alasanmu, sekarang kau pergi dari rumah ini atau aku panggil ayahku untuk menghancurkan karir cemerlang mu itu."



Gertakan yang cukup telak bagi Andre yang mana karirnya menanjak tidak lepas dari campur tangan ayah mertuanya seorang perwira tinggi berpangkat kom\*s@ris jender@l.



Perlahan-lahan ia keluar dari kamar, menutup rapat pintunya, dari arah dalam terdengar pintu itu dikunci.



Andre mengusap kasar wajahnya," Siapa yang berani melakukan ini padaku?"



Tring....



Andre membuka pesan yang masuk ke ponselnya.



" *Jangan bertanya siapa yang melakukannya, tetapi bertanyalah pada dirimu mengapa kamu melakukan apa yang terjadi malam ini*?"



" Ya, karena nikmat lah!!" gerutunya merujuk pada kegiatannua dengan Devi, tidak menyadari kesalahan fatalnya.



Tring...



Kini bola matanya melebar saat dia mengenali sosokk wanita dalam video yang sedang menikmati surga duniawi dengan beberapa lelaki di dalam club.



" Nikmatnya tubuh m\*ntok dari putrimu ini, jangan harapkan dia pulang malam ini, karena dia sedang dig@gahi!"



" Aargkh... siapa kau?" bantak Andre pada ponselnya, lantas iapun menelpon nomor pengirim itu yang tidak ada jawabannya.



\*\*\*\*\*



" Bagaimana, Yo?" tanya ibnu di pelataran masjid selepas shalat subuh menunggu mumtaz yang sedang berzikir.



" *Done*."



Mata Rio menatap ke langit yang masih menyajikan satu bintang.



" Nu, malam ini benar-benar mengagetkan gue, gue gak nyangka kalau Mumuy bisa sesadis itu."



" Sorry, kalau itu buat Lo terganggu, sepanjang gue kenal dia, malam ini kegagalan gue menahan amarah dia sejak kami kelas 9."



Rio menoleh bertanya pada Ibnu," dulu, ada tetangga yang merupakan preman pasar menghina gue perihal isu bokap, dengan sekali tebas dia pot\*Ng lidah preman itu menggunakan pisau sang preman. gue masih ingat dia ngomong apa."



" *Lebih baik Lo tidak berlidah daripada ucapanmu menyakiti yang lain!" murkanya*.



" Sejak saat itu gue mulai bergelut dengan berbagai ilmu bela diri selain pencak silat mengikuti keahliannya. agar jika ada masalah bukan dia yang turun tangan, tapi gue. Malam ini pengecualian."



Rio mengangguk, seolah paham akan satu hal yang baru." Itulah mengapa dia selalu berusaha tenang, karena dia sadar iblis dalam tubuhnya."



" Hmm...."



" Guys, bisa minggir, kita harus ke rumah sakit, menjaga kak Ala." ucapnya saat mengenakan sepatunya.



" Sure, Muy." panggil Ibnu.



" Hmm?"



" Ini Afa, bisa Lo gak terlalu keras padanya?"



Mumtaz menatap Ibnu." memang Lo pikir gue akan melakukan apa?"...

__ADS_1


__ADS_2